• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

3.3. I NFORMAN P ENELITIAN

Menurut Alwasilah (2017:102) meskipun menggunakan pendekatan kualitatif, penentuan sampel diperlukan, karena sampel bukan hanya menerapkan jumlah manusianya saja, tetapi juga dalam latar belakang (setting), kejadian dan proses. Karena penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif, pemilihan informan akan dilakukan secara purposive sampling atau criterion-based selection.

Populasi dalam penelitian ini adalah petani muda yang melakukan wirausaha pertanian kopi di desa Tanjungbarus, kecamatan Barusjahe. Pemilihan informan dilakukan dengan mengindentifikasi petani-petani muda dengan kriteria sebagai berikut:

1. Belum berulangtahun yang ke-40 tahun saat dilakukan wawancara 2. Memiliki kebun kopi sendiri

3. Berasal dari keluarga petani (orangtua petani)

4. Melakukan pemrosesan kopi sendiri baik dari gelondong ke gabah basah, atau dari gelondong ke gabah basah lalu gabah kering atau melakukan proses pasca panen lainnya seperti natural, honey ataupun winey disamping pola semi atau full-wash yang biasa dilakukan di kabupaten Karo.

Kelompok ini disebut sebagai informan kunci pertama. Dalam penelitian ini, informan kunci pertama adalah Agultaripa Meliala (31 tahun), Yanuar Barus (22 tahun), Ari Ersada Bangun (22 tahun) dan Jack Sembiring (19 tahun). Keempat narasumber kunci tersebut dipilih karena mereka memiliki kesamaan ketertarikan dalam wirausaha kopi. Mereka juga pernah membentuk komunitas pemuda dan kopi yang menggabungkan pertanian kopi, proses pasca panen dan ekowisata.

Komunitas ini awalnya beranggotakan 30 orang petani pemuda berusia 19-25 tahun. Sayangnya komunitas tidak berjalan sesuai harapan. Namun demikian, keempat narasumber utama tersebut tetap konsisten dalam memperkuat diri mereka dalam budidaya dan paska panen kopi.

Profil informan kunci pertama:

1. Agultaripa Meliala, 31 tahun

Agultaripa Meliala adalah anak petani yang kemudian sempat kuliah di Medan sampai tahun 2014. Di tahun 2015 dia kembali ke Tanjung Barus dan mengelola kebun jeruk dan beberapa tanaman kopi bersama dengan orangtuanya.

Beliau pertama kali mengenal cara penyeduhan kopi yang berbeda di Biji Hitam di tahun 2016 lewat Andreas Meliala.

Sejak saat itu, Agultaripa mulai mempelajari dan mencari tahu tentang proses paska panen kopi dan pemasaran. Dia juga mulai mengajak pemuda-pemuda yang ada di desa dan gerejanya untuk ikut terlibat dalam paska panen kopi.

Agultaripa mulai mendirikan komunitas antara lain Deleng Barus Sekitar yang mengajak pemuda-pemuda di desa untuk melihat potensi kopi yang ada dan menggabungkannya dengan beberapa wirausaha potensial lainnya, seperti agrowisata dan café di desa.

Sejak 2017, Agultaripa mulai konsisten melakukan paska panen sendiri dan menjual kopinya khususnya ke Biji Hitam di Berastagi dan Sapo Kahowa. Dia juga melakukan experiment paska panen kopi seperti natural, wine dan honey di samping wash dan semi wash. Selain ke Biji Hitam, dia juga mulai menyuplai ke café Omerta di Medan dan ke Cronbean, roaster di Tangerang Selatan. Proses paska panen yang dilakukan dipelajari dari rekan-rekan yang sudah memulai dan otodidak dan dia juga pernah mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di Dolok Sanggul.

2. Yanuar Barus, 22 tahun

Yanuar Barus menyelesaikan pendidikan kejuruan di Kabanjahe. Setelah menyelesaikan pendidikannya dia memilih untuk tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi, tetapi bertani bersama orangtuanya. Ayahnya kemudian menyerahkan kebun kopi sebanyak 200 pohon kopi untuk dikelola sendiri. Sejak itu, Yanuar Barus mengelola perkebunan kopinya. Perkebunan kopinya berada di perbatasan hutan Deleng Barus. Saat bergabung dengan komunitas yang dibentuk Agultaripa, dia berencana untuk menggabungkan perkebunan kopinya dengan ekowisata.

3. Ari Ersada Bangun, 22 tahun

Ari Ersada saat ini sedang kuliah di fakultasi Ilmu Sosial di universitas di Kabanjahe. Ari Ersada sudah memulai pertanian kopi bersama dengan orangtuanya sejak dia di sekolah lanjutan atas. Setelah dia kuliah, ayahnya menyerahkan

tanaman kopi sebanyak 400 pohon, khususnya tanaman kopi yang berada di lahan yang terjal. Saat ini, Ari Ersada mengurus tanamannya setelah selesai kegiatan kuliah. Ari Ersada bergabung dalam komunitas yang didirikan untuk belajar lebih jauh tentang paska panen kopi.

4. Jack Sembiring, 19 tahun

Jack Sembiring adalah salah satu anggota komunitas Deleng Barus Sekitar.

Meskipun dia anak petani kopi, tetapi dia tidak terlibat banyak dalam pertanian kopi dibandingkan ketiga rekan satu komunitasnya. Jack kuliah di Fakultas Ilmu Teknologi di Kabanjahe dan bercita-cita untuk menjadi ahli teknologi. Dia tidak tertarik dalam pertanian kopi, tetapi dia tertarik untuk terlibat dalam pemasaran kopi, karena pemasaran tersebut membutuhkan ilmu komputer yang dia pelajari di kampus.

Informan kunci kedua adalah para penyangrai dan/atau kedai kopi (café) di wilayah Karo:

1. Andreas Meliala, salah satu pemilik Sapo Kahowa di Kabanjahe sebagai informan kunci kedua. Andreas Meliala membeli kopi dari Tanjung Barus dan beberapa kali membawa kopi Tanjung Barus dalam kontes kopi. Beliau juga pernah berencana mendirikan koperasi kopi di Tanjung Barus. Andreas Meliala adalah salah satu pengolah kopi pertama di Karo yang juga mengenalkan petani muda dengan meminum kopi yang mereka tanam sendiri.

2. Andika, salah satu pemilik café Biji Hitam di Berastagi dipilih sebagai salah satu informan kunci kedua karena café Biji Hitam sudah membeli dan memberikan label sendiri untuk Kopi Tanjung Barus dan sudah berinteraksi dengan Agultaripa sejak 2016.

3. Elvran Surbakti, Ketua Koperasi Jumaraja di Berastagi. Elvran memulai koperasi Jumaraja di tahun 2018. Meski tergolong koperasi baru, namun koperasi yang dibangun konsisten dalam hal kualitas kopi dan sudah dikenal Dinas Koperasi dan Dinas Lingkungan Hidup. Beberapa kali koperasi ini mendapatkan bantuan dari pemerintah. Selain itu, koperasi terkenal membeli kopi dengan harga mahal, tetapi dengan kualitas yang terjamin. Beberapa kali, koperasi ini dikontak oleh petani dari desa lain untuk mereka bisa menjual kopinya ke koperasi ini. Sayangnya, kualitas mereka masih belum mengikuti standard yang diterapkan oleh Koperasi Jumaraja.

Informan tambahan adalah pemangku kepentingan lainnya. Dalam penelitian ini, informan tambahan adalah Dinas Pertanian, Perkebunan (Kabid Kelembagaan – Eka Martinus), Dinas Ketenagakerjaan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Kabid UKM), Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Kecamatan Barusjahe , Jansen Sembiring dan Wika Siregar, jurnalis yang banyak meliput tentang pertanian di Karo dan Starbucks Farmer Training Support Center (Surip Mawardi) di Karo.