HASIL DAN PEMBAHASAN
($) I PDRB Kondisi Akses
Pangan 2005 1.192,26 0,36 Cukup Tinggi 2006 1.335,21 0,43 Cukup Tinggi 2007 1.491,22 0,17 Tinggi 2008 1.769,82 0,23 Tinggi 2009 1.934,84 0,26 Tinggi 2010 2.235,45 0,01 Sangat tinggi
kategori cukup tinggi. Jumlah ini meningkat pada tahun 2006 menjadi 1.335,21 $, tetapi kondisi akses pangan masih berada pada kategori cukup tinggi. Mulai tahun 2007 kondisi akses pangan Sumatera Utara masuk kedalam kategori tinggi dengan produk domestik regional bruto per kapita atas harga berlaku sebesar 1.491,22 $. Pertambahan jumlah produk domestik regional bruto per kapita atas dasar harga berlaku terus terjadi pada tahun 2008 dan 2009 yang kondisi akses pangannya tetap dalam kategori tinggi dan tahun 2010 menjadi tahun dengan kondisi akses pangan yang sangat tinggi (prioritas 6) dengan produk domestik regional bruto per kapita atas harga berlaku tetinggi yakni sebesar 2.235,45 $. Hal ini berarti daya beli masyarakat untuk memperoleh pangan sudah baik, dikarenakan pendapatan per kapita yang terus meningkat dari tahun ketahun.
Akses Sosial
Pendidikan dan kemiskinan saling terkait satu sama lain. Tingkat pendidikan yang rendah sering kita jumpai melekat pada penduduk yang kurang beruntung perekonomiannya (miskin secara materi/ekonomi). Rendahnya pendidikan yang dimiliki oleh penduduk miskin ini membuat mereka kurang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai, sehingga menghambat mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
Ketidakmampuan menyelesaikan pendidikan dasar dapat dikatakan sebagai akibat dari kemiskinan. Ini mencerminkan bahwa seseorang harus meninggalkan bangku sekolah karena berbagai alasan. Isu kemiskinan dan ketidakmampuan untuk memenuhi biaya pendidikan merupakan alasan utama seseorang tidak menyelesaikan pendidikan.
Pendidikan juga merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi akses pangan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin besar kesempatannya untuk memperoleh pekerjaan/pendapatan yang lebih baik, sehingga semakin tinggi pula kemampuan daya belinya (semakin tinggi aksesnya terhadap pangan). Persentase penduduk yang tidak tamat sekolah dasar digunakan untuk menggambarkan kondisi akses pangan dari aspek sosial. Persentase penduduk yang tidak tamat sekolah dasar Sumatera Utara tahun 2005-2010 dan kondisi akses pangannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Sumber : Diolah dari lampiran 7
Dari tabel diatas dapat dilihat kondisi akses pangan Sumatera Utara tahun 2005-2010 dilihat dari aspek sosial secara umum berada pada kategori tinggi atau prioritas 5 dengan presentase penduduk yang tidak tamat sekolah dasar bernilai sebesar 10% - 20%, hanya pada tahun 2007 yang berada pada kategori sangat tinggi, dengan presentase penduduk yang tidak tamat sekolah dasar adalah sebesar 9.04 % (< 10%). Hal ini menggambarkan akses pangan Sumatera Utara pada tahun 2005-2010 sudah baik, hal ini dapat dilihat dari persentase penduduk yang tidak tamat sekolah dasar tiidak lebih dari 30 persen.
Dari uraian diatas dapat diperoleh kondisi akses pangan di Sumatera Utara sejak tahun 2005 – 2010 sebagai berikut :
Tabel 16. Indeks Komposit Akses Pangan Sumatera Utara Tahun 2005 - 2010
Tahun IK ITTSD IPDRB Ikomposit
2005 0.69 0,17 0,36 0,41 2006 0.81 0,19 0,43 0,48 2007 0.76 0,14 0,17 0,36 2008 0.75 0,17 0,23 0,38 2009 0.73 0,23 0,26 0,41 2010 0.70 0,22 0,01 0,31
Pada tahun 2005 – 2009 indeks komposit akses pangan Sumatera Utara berada pada rentang 0,32 - ≤ 0,48. Hal ini berarti kondisi akses pangan Sumatera Utara pada tahun 2005 – 2009 berada pada kategori cukup rendah sampai cukup tinggi, kategori cukup rendah terjadi pada tahun 2006, dan pada tahun 2010 indeks komposit akses pangan Sumatera Utara adalah sebesar 0,31 atau masuk dalam kategori tinggi (prioritas 5). Dengan demikian, hipotesis 1 akses pangan di Sumatera Utara baik, diterima.
Dampak Pertambahan Penduduk, Akses pangan dan Usaha Pengentasan Kemiskinan Terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Sumatera Utara.
Pada penelitian ini setelah dilakukan analisis dari data yang diperoleh melalui SPSS ver 17.0 for Windows dengan variable independent (X) yang meliputi variabel jumlah penduduk, indeks komposit akses pangan, variabel RTS penerima program raskin, dan jumlah penduduk miskin sebagai variable dependent (Y). Setelah dilakukan analisis regresi linier berganda maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:
Dari persamaan di atas dijelaskan besar pengaruh jumlah penduduk, indeks komposit akses pangan, dan RTS penerima program Raskin terhadap jumlah penduduk miskin. Nilai konstanta sebesar 10.210.000 merupakan titik potong regresi dengan sumbu tegak Y. Koefisien regresi jumlah penduduk - 0,734 menyatakan bahwa setiap kenaikan jumlah penduduk sebesar 1000 jiwa maka akan menurunkan jumlah penduduk miskin sebesar 734 jiwa. Hal ini berarti kenaikan jumlah penduduk akan menurunkan jumlah penduduk miskin, hal ini didukung oleh teori Kuznest yang menyatakan terdapatnya permintaan sangat besar dalam penduduk yang tumbuh. Terdapat lebih banyak pembeli untuk produk yang dihasilkan, sehingga secara alamiah produksi makin tumbuh dan makin banyak orang bekerja, dengan demikian kemiskinan terhapus.
Koefisien regresi indeks komposit akses pangan 853.186,804 menyatakan bahwa setiap kenaikan range indeks komposit akses pangan sebesar 0,1 maka akan menaikkan jumlah penduduk miskin sebesar 853.186,804 jiwa. Hal ini berarti ketika range indeks komposit akses pangan bertambah mendekati 1 maka kondisi akses pangan akan semakin rendah, menurunnya akses pangan yang merupakan salah satu pilar dari ketahan pangan akan menyebabkan jumlah penduduk miskin bertambah.
Koefisien regresi RTS penerima program Raskin 0,666 menyatakan bahwa setiap kenaikan RTS penerima program Raskin sebesar 1000 KK maka akan menaikkan jumlah penduduk miskin sebesar 666 jiwa. Hal ini menggambarkan kenaikan jumlah RTS penerima program Raskin akan menaikan jumlah penduduk miskin.
Koefisien determinasi (R square) dari hasil analisis adalah sebesar 0,986 atau 98,6 %, yang berarti 98,6 % variasi jumlah penduduk miskin dapat dijelaskan oleh variabel jumlah penduduk, indeks komposit pangan, dan RTS penerima program Raskin. Sedangkan sisanya sebesar 1,4 % dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.
Sedangkan setelah dilakukan perhitungan korelasi product moment yang mana untuk mengetahui masing - masing variabel mempunyai korelasi arah dari kedua variabel yaitu variabel X dan variabel Y. Dari hasil analisis diperoleh korelasi antara jumlah penduduk miskin dengan jumlah penduduk sebesar -0,85 dengan tingkat signifikansi 0,027. Koefisien korelasi sebesar -0,85 berarti kedua variabel berkorelasi sangat kuat. Koefisien korelasi bertanda negatif berarti apabila jumlah penduduk naik maka jumlah penduduk miskin berkurang, Tingkat signifikansi 0,027 < 0,05, berarti ada korelasi yang nyata antara jumlah penduduk dengan jumlah penduduk miskin.
Korelasi antara jumlah penduduk miskin dengan indeks komposit akses pangan sebesar 0,687 dengan tingkat signifikansi 0,066. Koefisien korelasi sebesar 0.687 berarti kedua variable kuat. Koefisien korelasi bertanda positif berarti apabila nilai indeks komposit akses pangan naik maka jumlah penduduk miskin juga ikut naik. Tingkat signifikansi 0,066 > 0,05, berarti terdapat korelasi yang tidak nyata antara indeks komposit akses pangan dengan jumlah penduduk miskin.
Korelasi antara jumlah penduduk miskin dengan RTS penerima program Raskin sebesar -0,180 dengan tingkat signifikansi 0,366. Koefisien korelasi sebesar -0,180 berarti kedua variable lemah. Koefisien korelasi bertanda negatif
berarti apabila jumlah RTS penerima program raskin naik maka jumlah penduduk miskin akan turun. Tingkat signifikansi 0,366 > 0,05, berarti terdapat korelasi yang tidak nyata antara RTS penerima program raskin dengan jumlah penduduk miskin.
Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis pengaruh variabel bebas yang terdiri dari : Jumlah penduduk (X1), Indeks komposit akses pangan (X2), dan RTS penerima program Raskin (X3) terhadap variable terikat : Jumlah penduduk miskin secara bersama – sama menggunakan uji F (F test atau ANOVA).
Keputusan dan kesimpulan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara simultan dapat ditentukan dengan kriteria uji hipotesa sebagai berikut :
H0 : b1 = b2 = b3 = 0 , secara simultan variabel bebas (jumlah penduduk, indeks komposit akses pangan dan RTS penerima program Raskin) tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (jumlah penduduk miskin)
H1 : b1≠ b2 ≠ b3 ≠ 0 , secara simultan variabel bebas (jumlah penduduk, indeks
komposit akses pangan dan RTS penerima program Raskin) berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (jumlah penduduk miskin)
Hasil hipotesis menggunakan uji F simultan menunjukkan nilai Fhitung adalah sebesar 47.717 sedangkan Ftabel = F 0,05 : 3, 2 = 19,16 . Karena nilai Fhitung > Ftabel (47,717 > 19,16) dengan signifkansi sebesar 0,021 < 0,05 maka H1 diterima atau H0 tidak diterima, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa
jumlah penduduk, indeks komposit akses pangan, dan RTS penerima program Raskin secara bersama berpengaruh nyata terhadap jumlah penduduk miskin.
Uji Parsial (uji t)
Untuk menguji signifikansi variabel bebas (jumlah penduduk, indeks komposit akses pangan, dan RTS penerima program Raskin) secara parsial mempangaruhi variabel terikat (jumlah penduduk miskin) digunakan uji t (t test). Keputusan dan kesimpulan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara simultan dapat ditentukan dengan kriteria uji hipotesa sebagai berikut : a. Uji pengaruh koefisien regresi veriabel bebas jumlah penduduk (X1) terhadap
variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y) sebagai berikut :
H0 : b1 = 0 , jumlah penduduk (X1) secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y)
H1 : b1 ≠ 0 , jumlah penduduk (X1) secara parsial berpengaruh nyata terhadap variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y)
Hasil uji t menunjukkan nilai t-hitung adalah sebesar -8,234 sedangkan t-tabel dengan signifikansi 5% uji dua arah adalah 4,30265. Karena nilai t-hitung > t-tabel (8,234 > 4,30265) dengan signifkansi sebesar 0,007 < 0,05 maka H1 diterima atau H0 tidak diterima, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa secara parsial varibel bebas jumlah penduduk (X1) berpengaruh nyata terhadap variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y). Hal ini disebabkan pertumbuhan penduduk merupakan stimulus pertumbuhan ekonomi yang akan mengakibatkan berkurangnya jumlah penduduk miskin.
b. Uji pengaruh koefisien regresi veriabel bebas indeks komposit akses pangan (X2) terhadap variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y) sebagai berikut : H0 : b2 = 0 , indeks komposit akses pangan (X2) secara parsial tidak
berpengaruh nyata terhadap variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y)
H1 : b2 ≠ 0 , jumlah penduduk (X1) secara parsial berpengaruh nyata terhadap variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y)
Hasil uji t menunjukkan nilai t-hitung adalah sebesar 2,366 sedangkan t-tabel dengan signifikansi 5% uji dua arah adalah 4,30265. Karena nilai t-hitung < t-tabel (2,366 < 4,30265) dengan signifkansi sebesar 0,071 > 0,05 maka H0 diterima atau H1 tidak diterima, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa secara parsial varibel bebas indeks komposit akses pangan (X2) tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y). Hal ini disebabkan karena akses pangan hanyalah salah satu dari empat pilar ketahan pangan, jika keempat pilar ketahanan pangan telah tercapai dan menciptakan ketahanan pangan yang baik, barulah hal tersebut akan mengurangi jumlah penduduk miskin. Sehingga akses pangan saja belum berpengaruh terhadap penurunan jumlah penduduk miskin.
c. Uji pengaruh koefisien regresi veriabel bebas RTS penerima program Raskin (X3) terhadap variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y) sebagai berikut : H0 : b1 = 0 , RTS penerima program Raskin (X3) secara parsial tidak
berpengaruh nyata terhadap variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y)
H1 : b1 ≠ 0 , RTS penerima program Raskin (X3) secara parsial berpengaruh nyata terhadap variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y)
Hasil uji t menunjukkan nilai t-hitung adalah sebesar 4,750 sedangkan t-tabel dengan signifikansi 5% uji dua arah adalah 4,30265. Karena nilai t-hitung > t-tabel (8,234 > 4,30265) dengan signifkansi sebesar 0,021 < 0,05 maka H1 diterima atau H0 tidak diterima, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa secara parsial varibel bebas RTS penerima program Raskin (X3) berpengaruh nyata terhadap variabel terikat jumlah penduduk miskin (Y). Secara parsial jumlah RTS penerima program raskin akan berpengaruh nyata terhadap jumlah penduduk miskin. Bertambahnya jumlah RTS penerima program raskin akan mengakibatkan meningkatnya jumlah peduduk miskin, begitu juga dengan penurunan jumlah RTS penerima program Raskin akan mengakibatkan penurunan jumlah penduduk miskin.
Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinieritas
Dari hasil analisis di perleh nilai variance inflation factor (VIF) ketiga veriabel adalah 2,899 untuk jumlah penduduk, 1,459 untuk indeks komposit akses pangan dan 2,539 untuk RTS penerima program raskin. VIF ketiga variable berada pada > 0,10 atau < 10. Hal ini berarti tidak terjadi multikolinieritas.
Uji Autokolerasi
Dari analisis diketahui nilai Durbin Watson adalah sebesar 1,954 (-2 > DW< +2). Hal ini berarti tidak terjadi Autokorelasi pada persamaan.
Pada grafik scatterplotada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Hal ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini
Berdasarkan uji asumsi klasik maka hasil persamaan regresi dapat diterima dan hipotesis 2, Jumlah penduduk, Akses Pangan, dan Program Beras untuk keluarga Miskin (RASKIN) berpengaruh nyata terhadap jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara diterima.
Implementasi Kebijakan
Kebijakan Kependudukan dan Kesejahteraan
Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, pemerintah telah menjalankan program Keluarga Berencana (KB), namun program ini dirasa belum dapat menanggulagi masalah pertumbuhan penduduk yang kita hadapi di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. Pertumbuhan penduduk ini dapat menjadi stimulus kemajuan ekonomi Sumatera Utara, seperti yang telah dijelaskan pada subbab sebelumnya menurut Kuznets dalam penduduk yang
tumbuh, terdapat permintaan sangat besar, terdapat lebih banyak pembeli untuk produk yang dihasilkan, sehingga secara alamiah produksi makin tumbuh dan makin banyak orang bekerja, dengan demikian kemiskinan terhapus. Tekanan karena pertumbuhan penduduk pada sumber daya yang terbatas pada saat tertentu di suatu daerah tertentu menjadi daya dorong paling besar terhadap inovasi teknologi dan peningkatan produksi.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat berkaitan dengan masalah kependudukan adalah sebagai berikut :
1. Penciptaan perangkat hukum yang menjamin tumbuh dan berkembang- nya usaha/investasi.
2. Penyederhanaan birokrasi dalam perizinan usaha.
Pembangunan/menyediakan fasilitas umum (jalan, telepon) sehingga dapat mendorong kegiatan ekonomi.
3. Optimalisasi peranan BUMN dalam kegiatan perekonomian, sehingga dapat lebih banyak menyerap tenaga kerja.
4. Penyempurnaan dan Perluasan Cakupan Program Pembangunan Berbasis Masyarakat seperti : Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan PNPM Perdesaan, Penanggulangan Kemiskinan Perkotan (PNPM Perkotaan) 5. Penyediaan program pelatihan bagi para pengajar dan pencari kerja
Upaya peningkatan kesejahteraan ini tidak dapat berjalan jika tidak dibarengi dengan peningkatan mutu pendidikan, meskipun persentase pendidikan penduduk yang tidak tamat sekolah dasar di sumatera utara kurang dari 15 persen , tetapi masalah ini juga bepengaruh terhadap keesejahteraan masyarakat dan perlu
upaya untuk menurunkani lagi persentasenya. Upaya yang dpat dilakukan untuk mengatasi tingkat pendidikan yang rendah adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan kualitas tenaga pengajar (guru dan dosen) di lembaga pendidikan milik pemerintah.
2. Penyediaan fasilitas pendidikan yang lebih lengkap dan merata di semua daerah.
3. Penciptaan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja
Kebijakan Pangan
Dalam memenuhi kebutuhan pangan , diperlukan kebijakan yang dapat mengatasi masalah ketersediaan pangan pokok. Kebijakan tersebut antara lain sebagai berikut :
1.Kualitas SDM atau tingkat pendidikan/keterampilan petani harus ditingkatkan, termasuk tingkat penguasaan teknologi dan informasi. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan produksivitas dan kualitas produk.
2.Kebijakan pemerintah mengenai perkreditan harus memprioritaskan sektor pertanian, dan untuk mendukung kebijakan tersebut harus ada komitmen yang besar dari sektor perbankan.
3.Perbaikan basis kelompok - kelompok petani pada setiap areal sentra produksi termasuk pemberdayaan jaringan - jaringan kerja antara sentra - sentra tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk memperbaiki komunikasi antar petani pada masing - masing sentra, sehingga mereka bisa menangani dengan cepat dan baik berbagai hal yang menyangkut tentang sistem produksi, manajemen usaha tani, penenganan pascapanen, dan potensi pemasaran.
4.Pembangunan dan perbaikan sarana dan prasarana , seperti jalan desa, gudang - gudang tempat penyimpanan gabah/beras, pabrik - pabrik produksi beras, pusat - pusat informasi, irigasi, penerangan, listrik, telekomunikasi.
5.Pengembangan teknologi tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas, tetapi juga untuk mengatasi keterbatasan tanah dan pengembangan teknologi biologis-kimiawi. Untuk tujuan ini harus ada kerja sama yang erat antara petani (pihak produsen) dengan lembaga – lembaga penelitian dan pengembangan dan perguruan – perguruan tinggi, baik dari pemerintah maupun swasta. Departemen pertanian juga harus kembali aktif melakukan penelitian dan pengembangan misalnya, mengembangkan bibit yang dapat ditanam diladang, bukan hanya persawahan yang memerlukan banyak air
Kebijakan mengenai ketergantungan beras sebagai pangan pokok telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah Sumatera Utara,yaitu Program Manggadong, program Manggadong adalah program diversifikasi makanan yang dibuat oleh Pemerintah Sumatera Utara untuk mengurangi konsumsi beras.
Upaya yang dapat dilakukan agar diversifikasi konsumsi pangan bisa tercapai adalah sebagai berikut :
1.Program penanaman pangan yang beraneka ragam. Ketersediaan aneka jenis bahan pangan baik berupa sumber enersi maupun sumber gizi lainnya seperti protein, lemak, vitamin dan mineral, dalam bentuk bahan mentah atau olahan akan menjamin terpenuhinya kebutuhan konsumsi pangan secara berkelanjutan. 2.Pengembangan teknologi pengolahan pangan juga diperlukan.
Beranekaragamnya pangan yang tersedia terutama ditentukan oleh produksi pangan dan perkembangan teknologi pengolahan pangan, yang dapat
menghasilkan berbagai produk pangan olahan berbasis padi - padian, umbi- umbian, hasil ternak, ikan, buah dan sayur dan hasil pangan lainnya dengan mutu terjamin.
3.Meningkatkan daya beli masyarakat. Salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan diversifikasi adalah kemiskinan.
Kebijakan Raskin
Agar tujuan utama program Raskin untuk menguragi beban pengeluaran para Rumah Tangga Penerima Manfaat dalam memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan akses masyarakat miskin dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok dapat tercapai, upaya pemenuhan “Enam Tepat” atau Tepat sasaran Penerima Manfaat, Tepat Jumlah, Tepat Harga, Tepat Waktu, Tepat Administrasi, dan Tepat Kualitas sebagai indikator keberhasilan program Raskin perlu di tingkatkan lagi, upaya tersebut adalah dengan meningkatkan pengawasan dalam pelaksanaan distribusi raskin ke Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat, agar tidak ditemukan lagi masalah-masalah seperti kualitas beras yang kurang baik dalam penyaluran, jumlah beras yang diterima tidak sesuai dengan yang sudah di tentukan.