PENDEKATAN BIOLOGIS
DARI KERABAT, SAHABAT SAMPAI PACAR Kerabat
23 Ibid hlm 13
• Faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap .Bagaimana sikap seseorang terhadap objek sikap akan dipengaruhi oleh pengalaman langsung orang yang bersangkutan denga objek sikap tersebut.
• Faktor kerangka acuan.Bila kerangka acuan tidak sesuai dengan objek sikap, maka orang akan mempunyai sikap yang negatif terhadap objek sikap tersebut.
• Faktor komunikasi sosial .Komunikasi sosial yang berwujud informasi dari seseorang kepada orang lain dapat menyebabkan perubahan sikap yang ada pada diri orang yang bersangkutan
Daftar pustaka
SIKAP DAN PRASANGKA 2 A. Meningkatkan Prasangka perilaku dari Sika
Prasangngka berasal dari kata pra yang berati sebelum, dan sangka yang berarti dugaan, pendapat yang didasarkan atas prasangka hati,
syak, kesangsian, dan keraguan. Sehingga dapat diambil pengertian prasangka adalah anggapan dan pendapat yang kurang menyenangkan atau penilaian negatif yang tidak rasional, yang ditujukan pada suatu individu atau kelompok tertentu( yang menjadi ob-jek prasangka), sebelum mengetahui, menyakskan, menyelidiki obob-jek-obob-jek prasangka tersebut. Prasangka juga dapat dikatakan sebagai attitude-attitude sosial negatif, yang ditunjukan pada individu atau golongan lain dalam hal ini mempengaruhi tingkah laku golongan individu yang berpasangan tersebut.
Ada beberapa bentuk prasangka, yaitu:
• Antikolisis: berupa gosip atau humor yang dimaksudkan untuk mengejek atau menyindir orang-orang yang menjadi objek prasangka.
• Avoidance: jika prasangka intens maka individu yang berpasangan akan menghindari objek pasangan. Misalnya: menghindari kontak mata. Dalam hal ini tidak membahayakan objek prasangka, hanya merasa tidak nyaman jika berhubungan dengan objek prasangka.
• Diskriminasi: individu yang berprasangka membuat perbedaan yang tegas dalam memperlakukan kelompok orang-orang yang disukainya dan orang-orang yang tidak disukainya ke dalam komunitas tertentu. Misal: pekerjaan, perumahan, sekolah, komunitas lain yang hanya untuk ingroup-nya saja.
• Serangan fisik: dalam kondisi emosi fisik yang sangat tinggi orang-orang yang memiliki prasangka bisa melakukan serangan atau kekerasan fisik, baik langsung atau pun tidak langsung.
• Pembantaian : jika prasangka sudah mencapai tingkat yang paling tinggi maka muncullah dorongan untuk melakukan pembantaian terhadap anggota outgroup. Mis-alnya: konflik agama di Maluku.
TRA (Theory Of Reasoned Action), adalah teori perilaku kesehatan yang mengguna-kan pendekatan psikologi sosial untuk melihat determinan dari perilaku sehat yang dikembangkan oleh Azen dan Fishbein menjelang tahun 1970-an. Menurut teori ini, kehendak atau niat seseorang untuk menampilkan sesuatu perilaku tertentu berkaitan erat dengan tingkah laku aktual itu sendiri. Ada dua asumsi pokok yang menjadi dasar teori ini yaitu:
Bahwa perilaku ada dalam kendali si pelaku Bahwa manusia adalah makhluk rasional
Menurut teori ini, kehendak atau niat seseorang untuk menampilkan sesuatu perilaku tertentu berkaitan erat dengan tingkah laku aktual itu sendiri.
Ada dua asumsi pokok yang menjadi dasar teori ini yaitu: Bahwa perilaku ada dalam kendali si pelaku
Bahwa manusia adalah makhluk rasional TRA dijelaskan dalam rumus berikut:
BI= A+SN
Keterangan:
BI= Behaviorat (dorongan untuk melakukan sesuatu) A= Attitude (sikap)
SN= Subjective Norm (norma subjektif)
Ini berarti dorongan seseorang untuk melakukan sesuatu dipengaruhi oleh sikap sese-orang mengenai perilaku (tertentu) dan norma subjektif yang dianutnya. Pada akhirnya, dua hal ini yang akan memunculkan motivasi.
Sikap itu sendiri adalah keyakinan mengenai konsekuensi melakukan suatu perilaku yang diperkuat oleh penilaian seseorang itu mengenai konsekuensinya.
Norma Subjektif adalah persepsi seseorang tentang apa yang orang-orang (penting) dis-ekitarnya pikirkan mengenai apa yang harus (atau tidak boleh) dia lakukan.
C. Terbentuknya Sikap
Sikap dapat didefinisikan sebagai kesiapan pada seseorang untuk bertindak secara tert-entu terhadap hal-hal terttert-entu.
Menurut para ahli mendefinisikann sikap yaitu:
Stephen dan Timothy mendefinisikan Sikap (attitude) adalah pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek, individu, atau peri-stiwa.
Menurut Ramdhani, sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri, atau cara mer-asakan, jalan pikiran, dan perilaku.
Menurut Kotler dan Armstrong, sikap adalah “Evaluasi,perasaan, dan kecenderungan dari individu terhadap suatu obyek yang relatif konsisten”. Sikap menempatkan orang dalam kerangka pemikiran mengenai menyukai atau tidak menyukai sesuatu, mengenai mendekati atau menjauhinya.
Menurut Muchlas, sikap (attitudes) ialah sesuatu yang kompleks, yang dapat didefin-isikan sebagai pernyatan-pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, atau penilaian mengenaiobjek, manusia, atau peristiwa-peristiwa.
Sikap dapat terbentuk atau berubah melalui empat cara, yaitu:
1. Adopsi
Kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus me-nerus, lama kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri individu dan mempen-garuhidan terbentuknyasuatu sikap. Misalnya: seseorang yang sejak lahir sampai ia dewasa tinggal dilingkungan yang fanatik islam, ia akan mempunyai sikap negatif ter-hadap daging babi.
2. Deferensiasi
Dengan berkembangannya intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan ber-tambahnya usia, maka ada hal-hal yang tadinya dianggap sejenis , sekarang dipandang tersendiri lepas dari jenisnya. Terhadap objek tersebut dapat terbentuk sikao tersendiri pula. Misalnya: seorang anak kecil yang mula-mula takut kepada tiap orang dewas yang
bukan ibunya, tetapi lama kelamaan dapat membeda-mbeadakan antara, ayah, paman, bibi, kakak yang disukainya dengan orang yang asing yang tidak disukainya.
3. Integrasi
Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tertentu, sehinggaakhirnya terbentuk sikap menge-nai hal tersebut. Misalnya seseorang di desa sering mendengar kehidupan kota, ia pun sering mebaca surat kabar yang diterbitkan di kota, kawan-kawan yang datang dari kota membawa barang-barang yang bagus dari kota dan bercerita tentang keindahan kota. Setelah beberapa waktu, maka dalam diri orang dewasa itu timbul sikap positif terhadap kota dan hal-hal yang berhubungan dengan kota, sehingga akhirnya ia terdorong untuk pergi ke kota.
4. Trauma
Trauma adalah pengalaman yangtiba-tiba, mengejutkan yang menimbulkan kesan men-dalam pada jiwaorang yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman yang traumatis juga menyebabkan terbentuknya sikap. Misalnya, orang yang sekali jatuh dari sepedah montor, bisa jadi selamanya tidak suka lagi naik sepeda motor.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tebentuknya sikap, diantaranya yaitu: a. Faktor Intern.
Yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri seseorang yang bersangkutan sendiri, sep-erti selektivitas. Kita tidak dapat menangkap seluruh rangsang dari luar melalui persepsi dari kita, oleh karena itu kita harus memilih rangsang-rangsang mana yang akan kita dekati dan mana yang harus dijalani. Pilihan ini ditentukan oleh motif-motif dan ke-cendrungankecendrungan dalam diri kita. Karena harus memilih inilah kita menyusun sikap positif terhadap satu hal dan membentuk sikap negatif terhadap hal lain. Faktor interen ini misalnya:
• Pengalaman Pribadi Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut mem-bentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis yang akan membentuk sikap positif dan sikap negatif. Pembentukan
tang-gapan terhadap obyek merupakan proses kompleks dalam diri individu yang melibat-kan individu yang bersangkutan, situasi di mana tanggapan itu terbentuk, dan ciri-ciri obyektif yang dimiliki oleh stimulus. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat.
• . Pengaruh Faktor Emosional Terkadang suatu bentuk sikap merupakan perny-ataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengali-han bentuk mekanisme pertapengali-hanan ego. Sikap ini dapat merupakan sikap yang semen-tara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang. Akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang dapat bertahan lama.
b. Faktor Ekstern
Selain faktor-faktor yang terdapat dalam dirisendiri, maka pembentukan sikap ditentu-kan pula oleh faktorfaktor yang berada di luar, yaitu:
- Sifat objek yang dijadikan sasaran sikap. - Kewibawaan orang yang mengemukakan sikap.
- Sifat orang-orang atau kelompokyang mendukungsikap tersebut. - Media komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan sikap. - Situasi pada saat sikap itu dibentuk.
Contoh dari faktor eksteren ini misalnya:
1. Pengaruh orang lain yang dianggap penting orang lain di sekitar kita mer-upakan salah satu di antara komponen sosial yang ikut mempengaruhi si-kap kita. Seseorang yang kita anggap penting akan banyak mempen-garuhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Orang-orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami, dan lain-lain. 2. Pengaruh Kebudayaan Kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap pemben-tukan sikap kita terutama kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan. Kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaan pula-lah yang
mem-beri corak pengalaman-pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakatnya. Hanya kepribadian individu yang telah mapan dan kuatlah yang dapat memudarkan dominansi kebudayaan dalam pembentukan sikap individual.
3. Media Massa Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Sebagai tugas pokoknya dalam menyampaikan informasi, me-dia massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kog-nitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, bila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah sikap. Walaupun pengaruh media massa tidak sebesar pengaruh interaksi individual secara langsung, namun dalam pros-es pembentukan dan perubahan sikap, peranan media massa tidak kecil artinya. 4. Lembaga Pendidikan Dan Lembaga Agama Kedua lembaga di atas, mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan pusat keagamaan serta ajarannya.
PRASANGKA
( Arti Prasangka, Sumber Prasangka dan Cara
Mengata-si Prasangka )
PRASANGKA