BAB III PANCASILA SECARA KONTEKSTUAL
B. Ide/Pemikiran
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia memiliki rekam jejak yang jelas dalam proses perumusannya. Pancasila tidak muncul begitu saja secara tiba-tiba. Dia melalui berbagai fase yang mempengaruhi kelahiran pemikirannya. Dan sebagai sebuah pemikiran, Pancasila tidak bisa dilepaskan dari pemikir yang menelurkan ide tersebut.442 Tidak bisa dipungkiri, bahwa Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merupakan kristalisasi ide-ide cemerlang the founding father yang ditawarkan pada persidangan BPUPKI kemudian diramu dan diracik kembali oleh Panitia Sembilan sampai pada akhirnya difinalisasi melalui persidangan pertama PPKI pada 18 Agustus 1945. Proses perumusan Pancasila tersebut membuktikan, bahwa kelahiran dasar negara ini bersumber dari ide atau pemikiran kolektif bangsa dengan didasari luas dan dalamnya pengetahuan the founding father. Pancasila sebagai manifestasi ide/pemikiran the founding father, bukan hanya mencakup satu aspek saja melainkan meliputi segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, keagamaan, dan lain sebagainya.
Tanpa ide/pemikiran pendiri bangsa, mustahil Pancasila lahir sebagai ideologi komperhensif dan integral yang meliputi berbagai
442 Wildan Sena Utama, “Ulasan Buku - Pancasila: Sebuah Monumen atau Leitstar Dinamis”, Lembaran Sejarah, Vol. 11, No. 1, (April, 2014), hlm. 101.
154 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
bidang kehidupan manusia. Artinya kelahiran Pancasila tidak mungkin bisa dilepaskan dari ide pencentusnya yang memiliki keyakinan, pengalaman, dan pengetahuan luas, sehingga mampu secara obyektif melihat, memahami, dan menggambarkan, serta merangkum secara sistematis segala bidang kehidupan yang ada dilingkungan sekitarnya. Adapun ideologi secara umum adalah sekumpulan ide atau keyakinan yang menyeluruh dan sistematis dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan keagamaan.443
Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa Pancasila sebagai dasar negara visioner yang integral pada hakekatnya bersumber dari buah ide/pemikiran luhur dan perenungan jiwa mendalam the founding father dimaksudkan meliputi segala bidang kehidupan. Jika ditinjau dari segi prosesnya, maka untuk sampai pada perumusan final Pancasila sebagaimana disahkan pada sidang pertama PPKI tidak lah sederhana. Beragam ide/pemikiran konstruktif disumbangkan pendiri bangsa agar mampu merumuskan ideologi yang benar-benar sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Melalui proses yang cukup alot dan dramatis, pergulatan ide/pemikiran ideologis the founding father yang berkelindan dengan kepribadian bangsa Indonesia pada gilirannya berhasil melahirkan Pancasila. Pancasila sendiri digali dan dikembangkan oleh para pendiri bangsa melalui proses pengamatan, pembahasan, dan konsensus yang cermat berdasarkan nilai-nilai yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia.444 Belum banyak orang yang mampu memahami dan mengambil makna utuh dari buah ide/pemikiran pendiri bangsa dalam proses perumusan sampai dengan disahkan/diposisikannya Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Proses perumusan Pancasila
443 Daffa Alfikri, Pancasila Sebagai ideologi Negara, https://www.
kompasiana.com/daffaalfikri4706/5daae4150d82300bdf7db9e2/pancasila-sebagai-ideologi-negara, (Selasa, 21 April 2020, 12:37).
444 Septiana Dwiputri Maharani , “Indeks Ketahanan Pancasila “, Jurnal Ketahanan Nasional, Vol. 25, No. 2, (Agustus, 2019), hlm. 285.
gambarkan dinamika politik yang berkembang pada waktu itu dan luasnya cakrawala pemikiran pendiri bangsa yang diliputi jiwa kebersamaan atas dasar nasionalisme yang tinggi, sehingga mampu menelorkan konsensus ideologis. Para pendiri bangsa dengan pengalaman hidupnya yang kaya dan perenungan jiwa yang mendalam, kemudian berhasil melahirkan ide/pemikiran luhur yang terkristalisasi menjadi sebuah kesepakatan ideologis bernama Pancasila. Dengan begitu, Pancasila bukanlah ideologi yang lahir dari ide/pemikiran serampangan pendiri bangsa yang bersifat transaksional untuk memperoleh keuntungan politik. Jadi sebagai dasar filsafat Negara Republik Indonesia, Pancasila bukannya suatu kompensasi politik, akan tetapi buah hasil perenungan jiwa yang dalam, buah hasil penyelidikan cipta yang teratur dan saksama diatas basis pengetahuan dan pengalaman yang luas yang tidak begitu saja diciptai oleh setiap orang.445 Kalau dipahamkan yang demikian itu, maka Pancasila bukannya suatu konsepsi politis, akan tetapi buah hasil perenungan jiwa yang dalam, buah hasil penyelidikan cipta yang teratur dan saksama di atas basis pengetahuan dan pengalaman yang luas, yang tidak begitu saja dapat dicapai oleh saban orang.446
Jadi secara personal, pendiri bangsa yang menggali dan merumuskan Pancasila bukanlah orang-orang sembarangan yang awam dan tidak paham dengan seluk beluk urusan kenegaraan, terutama menyangkut dasar negara. Ditinjau dari latarbelakang kehidupannya, the founding father adalah orang-orang hebat yang terpilih dan terketuk nuraninya untuk merepresentasikan/mewakili masyarakat didaerahnya masing-masing. Berkat kredibilitas
445 Nur Wasiah Adiwiyono, Kedudukan Dan Kelembagaan Badan Pembinaan Pancasila Dalam Sistem Pemerintahan (Analisis Yuridis Undang-Undang Nomor39 Tahun Tahun 2008 dan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018, Konsentrasi Kelembagaan Negara Prodi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, UIN Syarif Hidayattulah, 2018, hlm. 12.
446 Notonagoro, Pancasila Dasar..., hlm. 10.
156 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
ketokohannya itulah mereka dipandang memiliki kapasitas mumpuni ditingkat nasional dibandingkan dengan rekan lain di daerahnya. Mereka putra bangsa Indonesia terpilih dari berbagai etnis, agama, daerah, dan suku bangsa yang bertemu dalam lingkungan akademik di kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Bandung, Surabaya dan bahkan di negeri Belanda.447 Perhatikan saja dari tingkat pendidikannya, bahwa sebagian besar the founding father yang merupakan anggota BPUPKI, Panitia Sembilan, dan PPKI adalah orang-orang intelek atau berpendidikan tinggi. Bahkan beberapa diantaranya sudah menyandang gelar akademis profesor.
Pada umumnya mereka berasal dari golongan bangsawan yang mempunyai peluang dan kesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri. Sisanya adalah tokoh-tokoh intelektual bangsa yang berhasil merampungkan pendidikannya di dalam negeri, yaitu sekolah-sekolah yang sengaja didirikan penjajah sebagai bentuk politik balas budi kepada bangsa Indonesia. Berbanding lurus dengan pernyataan tersebut, bahwa sebagian besar pendiri bangsa Indonesia yang duduk di BPUPKI tersebut, mempunyai pengalaman pendidikan ...negara barat, baik mengikutinya secara langsung di negara-negara Eropa Barat (khususnya Belanda) maupun mengikutinya melalui pendidikan lanjutan atas dan pendidikan tinggi yang diselenggarakan pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia sejak beberapa dasa warsa sebelumnya.448
447 Effendi Wahyono, “Aktualisasi Nilai-Nilai Pergerakan Kebangsaan Dalam Pendidikan Karakter Bangsa”, Disajikan pada Seminar Pendidikan
“Aktualisasi Nilai-nilai Perjuangan Kebangsaan dalam Implementasi Pendidikan Karakter Bangsa” Universitas Airlangga, Surabaya, 29 April 2014.
448 Thomas P. Pureklolon, Komunikasi Politik, https://books.google.co.id/books?id=BMdGDwAAQBAJ&pg=PA68&lpg=PA68&d q=Pendiri+negara+adalah+rang+berpendidikan&source=bl&ots=XV_V9pmZXt&s ig=ACfU3U2m44HVSbjQYnOGhJWDJ9At8MKtFQ&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiO
hKCt-f3oAhXYZSsKHS2KAiYQ6AEwAHoECAkQAQ#v=onepage&q=Pendiri%20negara%
20adalah%20rang%20berpendidikan&f=false, (Kamis, 23 April 2020, 14:53).
Melalui pendidikan itulah timbul ide/pemikiran the founding father bagaimana pentingnya kemerdekaan bagi bangsa terjajah, seperti Indonesia. Kesadaran tersebut lambat laun semakin mengetuk pintu hatinya untuk bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsanya. Terbelesit dalam ide/pemikiran the founding father yang merasa tidak rela bila bangsanya diperlakukan sewenang-wenang dan ditindas dengan kejam oleh penjajah. Kondisi memperihatinkan itu, mendorong pendiri bangsa untuk tidak berpangku tangan dan berdiam diri menyaksikan penderitaan bangsanya sendiri.
Maka dari itu, sebelum lebih jauh lagi melangkah dan membahas Pancasila sebagai sebuah ide/pemikiran filosofis pendiri bangsa, ada baiknya sepintas lalu kita singgung bagaimana sejarah perjalanan hidup the founding father. Mengingat pengalaman hidup pendiri bangsa pastinya ikut berkontribusi dan mewarnai ide/pemikirannya dalam upaya merumuskan Pancasila. Artinya riwayat hidup tokoh bangsa baik pendidikan maupun perjalanan karir politiknya tentu berpengaruh signifikan terhadap ide/
pemikiran, sikap, dan perilakunya dalam merespon lingkungannya, terutama saat menggali, merumuskan, dan mengesahkan dasar negara bagi Indonesia merdeka. Pembahasan pertama ialah tentang pendidikan the founding father yang memicu/melatarbelakangi munculnya ide/pemikiran konstruktif-progresif untuk melepaskan atau membebaskan bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajah asing. Disinilah pendidikan memainkan peran utama, baik dalam merangsang maupun mendorong lahirnya ide-ide dan pemikiran luhur pendiri bangsa untuk memperjuangkan kemerdekaannya.
Melalui pendidikan itu, the founding father mampu melihat secara objektif realitas bangsa Indonesia yang hidup penuh kesengsaraan dan penderitaan. Pendidikannya itulah yang mengarahkan dan mewarnai sikap the founding father dalam memandang arti penting kemerdekaan bagi sebuah bangsa berdaulat. Dalam hal ini, latar belakang pendidikan tokoh-tokoh bangsa sangat mempengaruhi
158 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
pola pikir, tingkah laku, dan pemahamannya tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.449 Di samping pendidikan, pengalaman hidup the founding father dalam berorganisasi juga ikut membentuk dan membangkitkan kesadaran kolektifnya untuk bahu-membahu berjuang bersama sebagai satu bangsa, yaitu Indonesia.
Dari pendidikan dan pergaulan yang mereka peroleh, lahirlah kesadaran, bahwa mereka adalah satu kesatuan bangsa yang selama ini terjajah. Mereka juga menyadari, bahwa kemiskinan dan kebodohan rakyat Indonesia terjadi karena berbagai macam eksploitasi yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial. Sebagai wujud kesadaran tersebut, mereka mendirikan organisasi kepemudaan seperti Boedi Oetomo yang kemudian diikuti organisasi bersifat kedaerahan, misalnya Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, Jong Ambon, dan lain-lain, hingga mengerucut menjadi organisasi kebangsaan yang bernama Indonesia, seperti Perhimpunan Indonesia di Belanda, Indonesische Studieclub di Surabaya, Komite Persatuan Indonesia, Partai Nasional Indonesia yang didirikan oleh Sukarno, Partij Indonesia Raya, dan sebagainya. Dari situlah lahir kesadaran pentingnya berkebangsaan dan persatuan kebangsaan untuk mewujudkan Indonesia merdeka. 450 Harus dipahami bahwa Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merupakan hasil pemikiran manusia yang sistematis dan dituangkan kembali dalam satu rumusan kalimat yang bermakna integral. Pancasila mengandung satu pemikiran yang bermakna untuk dijadikan dasar, azas, pedoman hidup, dan kehidupan bersama dalam negara Indonesia merdeka. Sebagai suatu hasil dari
449 Ilyas, “Islam dan Kebangsaan: Pergumulan dalam BPUPKI, PPKI, dan Piagam Jakarta”, Buletin Al-Turas, Vol. 26, No. 1, (January, 2020), hlm. 21.
450 Effendi Wahyono, “Aktualisasi Nilai-Nilai Pergerakan...”, tanpa hlm.
pemikiran, maka Pancasila tidak bisa dilepaskan dari penggalinya, yaitu Soekarno.451 Meskipun secara historis Pancasila lahir dari usaha kolektif pendiri bangsa Indonesia, tetapi telah diakui luas, bahwa Soekarno melalui ide/pemikiran intelektualnya telah berhasil menggali dan menemukan (penamaan) Pancasila untuk pertama kalinya. Apalagi sudah dikenal publik, bahwa pencetus ide/pemikiran ideologis bernama Pancasila secara konseptual adalah Soekarno pada 1 Juni 1945 melalu pidatonya. Pribadi Soekarno sedikit tidaknya bisa digunakan sebagai referensi atau acuan minimal untuk memahami bagaimana ide/pemikiran cemerlang pendiri bangsa lahir dan terkristalisasi menjadi sebuah ideologi bernama Pancasila. Apalagi dalam perspektif sejarah, Soekarno memiliki andil yang tidak kecil dalam menggali dan mencetuskan ide/pemikiran Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, mengikuti perjalanan hidup dan mengenal kepribadian atau karakter Soekarno maupun tokoh bangsa lainnya sedikit tidaknya dapat membantu kita dalam memahami arah pemikirannya tentang Pancasila. Jika dicermati secara saksama, maka ide/pemikiran pendiri bangsa tentang Pancasila pada hakekatnya dilandasi perjuangan politik untuk mencapai kemerdekaan Indonesia yang kekal dan abadi. Apalagi bila ditelusuri lebih jauh ide/pemikiran ideologis Soekarno tentang pergerakan politik Indonesia mulai terbentuk saat tinggal di rumah Tjokroaminoto pada usia belasan tahun. Disana dia bersinggungan dengan berbagai pemikiran para intelektual Indonesia dari bermacam latar belakang mulai dari islamis, nasionalis sampai marxis. Di sinilah berbagai pemikiran itu berdialog, berkelindan, dan mengendap dalam pikirannya dalam membaca fenomena-fenonema sosial politik masa itu.452 Pada level pemikiran dan
451 Tenri Woja, Bung Karno Dan Gagasan-Gagasannya, https://www.kompasiana.com/subadrabhagawadgita/552bd7436ea83411378b 4577/bung-karno-dan-gagasangagasannya, (Minggu, 03 Mei 2020, 14:43).
452 Wildan Sena Utama, “Ulasan Buku...”, hlm. 102.
160 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
ideologi, tulisan-tulisan Soekarno sejak 1926 hingga awal 1960-an dengan jelas dipenuhi argumen-argumen humanistik yang tidak saja kuat tetapi juga konsisten. Pemikiran Soekarno juga banyak dipengaruhi para pemikir dan pemimpin diberbagai belahan dunia.
Tetapi Soekarno lalu menegaskan, bahwa Pancasila tidaklah sama dengan ideologi bangsa lain, termasuk kapitalisme dan komunisme.
Bukan hanya Soekarno, tetapi secara keseluruhan pendiri bangsa kita merupakan orang-orang yang tercerahkan hati dan pikirannya. Para spiritualis sejati yang tidak lagi terpisah-pisah dan terkotak-kotak oleh perbedaan fisik. Pada hakekatnya pendiri bangsa tetap mengakui dan menghargai adanya perbedaan sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Justru the founding father mampu melihat integrasi kuat dibalik perbedaan yang ada. Untuk mencapai integrasi yang kuat, jalan yang ditempuh pendiri bangsa adalah dengan menyatukan persepsi, orientasi, dan tujuan perjuangan.
Pendiri bangsa sangat menyadari, bahwa ratusan tahun Indonesia berada ditelapak kaki penjajah dikarenakan adanya separatisme perjuangan yang dilandasi oleh perbedaan orientasi dan tujuan.
Kerasnya perjuangan dalam merebut kemerdekaan itulah yang menggembleng jiwa dan pemikiran para pendahulu kita. Mereka yakin, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak mungkin diperoleh tanpa didasari oleh semangat maupun cita-cita yang jujur, tulus, dan ikhlas. Terlebih lagi hanya dengan pemikiran yang luhur itulah persatuan seluruh bangsa Indonesia dapat digalang, dibangkitkan dan dikokohkan. Tidak disangsikan lagi, bahwa karakter luhur pendiri bangsa berperan dalam mempersatukan berbagai perbedaan yang ada saat itu. Dengan landasan kepribadiannya itu, para pendahulu mampu melahirkan ide/pemikiran cemerlang dan visioner dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Wajar bila ide/pemikiran tersebut memperoleh sambutan yang begitu hangat dari bangsa Indonesia. Mengalirnya dukungan luas bangsa Indonesia terhadap perjuangan the founding father dalam merebut kemerdekaan, juga tidak terlepas dari ide/pemikiran cemerlang
yang dilahirkannya. Di samping itu, bangsa Indonesia menyadari, bahwa pemimpinnya ini merupakan orang-orang yang memiliki kepribadian luhur yang ide/pemikiran, sikap, dan perilakunya patut digugu atau ditiru.
Konsistensi kepribadian luhur ini kembali teruji saat pendiri bangsa tergabung dalam badan BPUPKI yang bertugas menyelidiki kesiapan Indonesia merdeka. Adapun ide/pemikiran awal yang muncul ketika sidang pertama BPUPKI dikemas dalam bentuk pertanyaan filosofis oleh DR. Radjiman Widiodiningrat.
Pertanyaan filosofis yang dilontarkan Ketua BPUPKI tersebut berbunyi ―atas dasar apa negara merdeka ini hendak didirikan‖?
Spontan saja pertanyaan tersebut memperoleh sambutan dan tanggapan hangat dari tokoh bangsa lain dengan ide/pemikiran ideologisnya. Beragam ide/pemikiran konstruktif terkait dasar negara bagi Indonesia merdeka telah dikemukakan oleh peserta sidang BPUPKI pada periode 29 Mei sampai 1 Juni 1945.
Sayangnya dengan banyak ide/pemikiran dasar negara yang ditawarkan tokoh bangsa dalam sidang pertama BPUPKI, ternyata berimplikasi pada lahirnya pandangan yang berbeda pula. Faktanya ide/pemikiran pendiri bangsa yang berbeda telah melahirkan prinsip yang berbeda dan sangat sulit didekatkan, apalagi dipertemukan. Sehingga sidang pertama BPUPKI yang berupaya menggali ide/pemikiran peserta terkait permasalahan dasar negara bagi Indonesia merdeka belumlah menghasilkan titik temu. Pada hakekatnya pemikiran fundamental yang sempat muncul, mengemuka, dan menggeliat dalam sidang pertama BPUPKI, yaitu apakah negara yang akan didirikan didasarkan pada syariat Islam ataukah netral dari urusan agama. Dua ide/pemikiran besar mengenai dasar negara bagi Indonesia merdeka bukan hanya sekedar berbeda, melainkan saling bertolak belakang. Hingga BPUPKI mengakhiri masa sidang pertamanya (reses), tampaknya memang belum ada ide/pemikiran yang benar-benar mampu menjembatani jurang ideologis diantara tokoh bangsa. Untuk
162 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
memecahkan permasalahan tersebut, lahirlah sebuah ide/pemikiran untuk membentuk Panitia Kecil yang bertugas menyerap berbagai aspirasi ideologis yang disampaikan peserta sidang pertama BPUPKI. Tujuan utama dibentuknya Panitia Kecil (Panitia Sembilan) adalah untuk menemukan modus vivendi dari perbedaan ide/pemikiran dasar negara the founding father tersebut. Intinya Panitia Sembilan berperan mencari resolusi kebangsaan untuk mendamaikan perbedaan ide/pemikiran ideologis yang muncul saat sidang pertama BPUPKI. Apalagi sejak awal ide/pemikiran dasar negara yang diajukan tokoh bangsa dalam sidang pertama BPUPKI berbeda. Disadari atau tidak, untuk mencari dan menemukan konsensus diantara pandangan ideologis yang berbeda prinsip itu bukanlah perkara yang gampang. Diperlukan ide/pemikiran ideologis yang cemerlang dan visioner dari the founding father, sehingga dapat diterima dan disepakati seluruh anggota Panitia Sembilan. Benar saja, bahwa perbedaan ide/pemikiran ideologis, tidak hanya terjadi pada sidang pertama BPUPKI. Karena konflik ide/pemikiran ideologis ini pun mendera dan melebar dalam tubuh Panitia Sembilan. Hampir-hampir Panitia Sembilan sudah kehilangan pegangan dalam menjalankan tugasnya, karena tidak ada lagi jalan yang dapat ditempuh untuk menghentikan dan menyelesaikan pertikaian ide/pemikiran ideologis tersebut. Dengan alasan stabilitas keamanan Indonesia masih guncang akibat berkecamuknya peperangan, perdebatan ide/pemikiran ideologis the founding father pun mulai mereda dan dihentikan. Wajar bila Piagam Djakarta yang secara filosofis memuat pemikiran ideologis bernuansakan syariat Islam sementara waktu bisa disepakati anggota Panitia Sembilan. Tidak selesai sampai disitu, ide/pemikiran dasar negara yang tertuang dalam Piagam Djakarta secara aklamasi juga disetujui dan disahkan dalam sidang kedua BPUPKI.
Menjadi suatu kewajaran, apabila menjelang sidang pertama PPKI pada 18 Agustus 1945 paradigma ide/pemikiran
ideologis yang mengusung isu hubungan antara agama dengan negara kembali mencuat. Dengan hadirnya Opsir Kaigun Jepang sebagai utusan masyarakat Indonesia Timur yang membawa pesan ide/pemikiran majemuk, telah mengubah mindset ideologis tokoh bangsa Moh. Hatta dalam memandang dasar negara bagi Indonesia merdeka. Ancaman masyarakat Indonesia bagian Timur untuk tidak ikut serta bergabung dengan negara yang akan didirikan memaksa Moh. Hatta berpikir ulang. Terlintas dalam benak Beliau, betapa sulitnya menggalang dan membangkitkan semangat persatuan diantara bangsa yang beraneka ragam. Artinya persatuan bangsa yang selama ini dibangun dengan susah payah akan retak bila saja ide/pemikiran dasar negara sebagaimana konsepsi Panitia Sembilan tetap dipaksakan untuk diberlakukan. Memperhatikan kondisi dilematis tersebut, munculah ide/pemikiran konstruktif Moh. Hatta untuk mengadakan pendekatan politik dengan mengajak tokoh-tokoh Islam merundingkan kembali dasar negara yang akan disahkan PPKI. Meskipun pada awalnya pemikiran yang disampaikan Moh. Hatta untuk bernegosiasi ulang terkait dasar negara mendapat sambutan yang dingin dari tokoh Islam.
Pemikiran Moh. Hatta yang memuat alasan rasional pentingnya pembahasan atau pembicaraan kembali mengenai dasar negara berkali-kali ditolak dan dibantah golongan muslim dengan dalih Piagam Djakarta merupakan hasil kesepakatan Panitia Sembilan yang mewakili dua golongan yang berbeda pandangan.
Namun dengan didasari pemikiran yang tulus dan suci tokoh bangsa dari golongan muslim pun akhirnya bersedia mengadakan perundingan kembali guna menemukan konsensus atas tuntutan masyarakat Indonesia bagian timur. Pembicaraan informal dikalangan tokoh bangsa yang terbilang sangat singkat itu pada gilirannya berhasil menelorkan sebuah konsensus baru yang pandang mampu menjembatani dan mengakomodir pemikiran ideologis seluruh rakyat Indonesia yang beranekaragam. Meskipun kesepakatan tokoh bangsa yang dibuat dibawah meja itu
164 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
merupakan hasil lobi-lobi politik Moh. Hatta dengan golongan muslim, kenyataannya bisa diterima, disepakati, dan disahkan dalam sidang pertama PPKI. Mencermati sidang BPUPKI hingga PPKI dapat dikatakan, bahwa ide/pemikiran ideologis yang dikemukakan tokoh bangsa tidak dapat dilepaskan dari karakter dan pertimbangan rasional atas kontektualitas Indonesia yang majemuk.
Ide/pemikiran yang digunakan sebagai kerangka pertimbangan itu merupakan cerminan kepribadian tokoh bangsa yang bukan hanya cerdas secara intelektual tetapi juga cerdas secara sosial dan emosional. Kepribadian luhur the founding father inilah yang kental mewarnai dan menghiasi perumusan dasar negara Pancasila.
Kepribadian mantap the founding father diperoleh dari hasil tempaan situasi dan kondisi Indonesia sebagai bangsa terjajah.
Kepakaan pendiri bangsa dalam memandang kontekstualitas kehidupan berbangsa dan bernegara mengantarkan mereka pada pemikiran tertinggi menyangkut kondisi sosiologis bangsa Indonesia yang majemuk. Kemajemukan inilah yang menjadi kerangka dasar ide/pemikiran pendiri bangsa dalam menggali, merumuskan, dan menetapkan fondasi bagi kehidupan bernegara.
Dalam ide/pemikiran pendiri bangsa, bahwa negara merdeka baru bisa berdiri kokoh dan kuat haruslah dibangun atas dasar spiritualitas universal dengan berlandaskan pada cinta kasih tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Lebih lanjut ide/pemikiran arif dan bijaksana the founding father telah berhasil membangkitkan kesadaran mengenai realitas bangsa Indonesia yang sejak dahulu kala sudah hidup berdampingan secara damai dalam keanekaragaman. The founding father berpikir, bahwa tidak mungkin bangsa Indonesia yang majemuk ini bisa hidup dengan damai sebagai satu negara, apabila dasar yang hendak digunakan bertumpu pada ide-ide atau pemikiran sempit yang mengutamakan golongan tertentu.
Artinya yang terbelesit dalam pemikiran pertama the founding father adalah bagaimana menggali, merumuskan, dan
menetapkan sebuah dasar negara yang sungguh-sungguh mampu mencerminkan kemajemukan masyarakat Indonesia. Karena hanya dengan kerangka ide/pemikiran seperti itu, rumusan ideologi yang
menetapkan sebuah dasar negara yang sungguh-sungguh mampu mencerminkan kemajemukan masyarakat Indonesia. Karena hanya dengan kerangka ide/pemikiran seperti itu, rumusan ideologi yang