• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Penyajian Data

4.3.1 Idealized Policy (Kebijakan Ideal)

Aspek Idealized policy (kebijakan ideal) berkenaan dengan idealitas suatu kebijakan yang dilaksanakan oleh kelompok sasaran. Pelaksanaan kebijakan publik yang mengkaitkan kelompok sasaran dalam pelaksanaannya, diperlukan suatu komunikasi antara perumus kebijakan dengan kelompok sasaran, sehingga kelompok sasaran termotivasi untuk ikut melaksanakan kebijakan tersebut. Dalam kebijakan Pos Pembinaan Terpadu Usia Lanjut (Posbindu Usila) di wilayah kerja Puskesmas Singandaru, perumus kebijakannya yaitu Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Seksi Gizi Lanjut Usia Dinas Kesehatan Kota Serang dan bidang bina kesehatan masyarakat lanjut usia di Puskesmas Singandaru, sedangkan kelompok sasarannya adalah masyarakat berusia lanjut di atas 60 tahun.

Motivasi pada kelompok sasaran untuk ikut serta dalam melaksanakan kebijakan tersebut tentunya harus disertakan dengan isi kebijakan yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh kelompok sasaran. kesesuaian isi kebijakan dengan apa yang dibutuhkan oleh kelompok sasaran tercermin dalam respon/tanggapan kelompok sasaran terhadap pelaksanaan kebijakan tersebut. Kebijakan publik yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran dan mendapatkan respon yang baik termasuk dalam suatu kebijakan yang ideal.

Dalam pelaksanaan kebijakan Pos pembinaan Terpadu Usia Lanjut (Posbindu Usila), Puskesmas Singandaru telah melakukan upaya mensosialisasikan kebijakan tersebut kepada kelompok sasaran dengan tujuan agar kelompok sasaran mengetahui kebijakan Posbindu Usila dan termotivasi untuk ikut melaksanakan kebijakan tersebut. Seperti yang diungakapan oleh I1-1:

“Awalnya saya yang mengajukan, sebelumnya saya telah mendengar ada

Posbindu Usila karena di tiap pertemuan di Puskesmas membahas tentang Posbindu, pada saat itu saya belum tertarik. Ketika saya tahu Posbindu Usila untuk lansia dan banyak lansia di sini yang meminta ada pemeriksaan kesehatan untuk Lansia, saya mengajukan pembentukan

Posbindu ke Kepala Puskesmas.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I1-1 dapat diketahui bahwa Puskesmas Singandaru telah berupaya mensosialisasikan kebijakan Posbindu Usila melalui pertemuan rutin dengan kader Posyandu Balita, dengan harapan kader Posyandu Balita yang menghadiri pertemuan tersebut mengetahui isi Kebijakan Posbindu Usila dan termotivasi untuk membentuk Posbindu Usila di lingkungannya. Sosialiasi kebijakan merupakan komunikasi yang dilakukan dengan tujuan untuk memperkenalkan suatu kebijakan agar kelompok sasaran memiliki pengetahuan terkait kebijakan Pos Pembinaan Terpadu Usila Lanjut (Posbindu Usila).

Upaya sosialisasi yang dilakukan Puskesmas Singandaru berhasil memotivasi kelompok sasaran untuk mendirikan Posbindu Usila sehingga kebijakan Posbindu Usila dapat dilaksanakan di lingkungan kelompok sasaran. Selain itu, informasi tentang kebijakan Posbindu Usila yang telah tersebar di masyarakat berdampak pada adanya keinginan masyarakat khususnya yang berusia lanjut untuk mengadakan kebijakan Posbindu Usila di likungannya, seperti yang diungkapkan oleh I1-3:

“Awalnya masyarakat yang mengusulkan ingin ada pemeriksaan kesehatan untuk lansia. Lalu kader mengusulkan keinginan masyarakat ke Puskesmas melalui pertemuan antar kader dan pihak Puskesmas di Puskesmas Singandaru. Setelah itu Puskesmas menerima usulan saya dan

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I1-3 dapat diketahui bahwa warga berusia lanjut yang telah mengetahui adanya pemeriksaan kesehatan untuk Lansia menyampaikan keinginannya untuk diadakan pelayanan kesehatan tersebut di lingkungan tempat tinggalnya kepada kader Posyandu balita, lalu kader Posyandu Balita menyampaikannya kembali kepada pihak Puskesmas Singandaru. Awal pembentukan Posbindu Usila di lingkungan kelompok sasaran merupakan keinginan kelompok sasaran bukan hasil mobilisasi pemerintah, karena kebijakan Posbindu Usila adalah kebijakan yang terbentuk dalam Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat (UKBM) di mana pelaksanaan kebijakan tersebut dilakukan oleh, dari dan untuk masyarakat itu sendiri. Maka dari itu tidak ada unsur paksaan dari pemerintah untuk membentuk Posbindu Usila, akan tetapi berdasarkan atas keinginan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. seperti yang diungkapkan oleh I2:

“Puskesmas tidak meminta masyarakat bentuk Posbindu. Awal

pembentukan Posbindu, masyarakat yang meminta mendirikan Posbindu ke Puskesmas, cara mengajukan pendirian Posbindu yaitu dengan mengajukan ke bidan desa lalu bidan desa menyampaikannya ke

Puskesmas.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I2 dapat diketahui bahwa Pembentukan Posbindu Usila merupakan permintaan dari kelompok sasaran bukan Puskesmas Singandaru. Cara mengajukan permintaan pembentukan Posbindu Usila yaitu menyampaikannya kepada Bidan desa yang kemudian disampaikan kembali ke Pihak Puskesmas. Berbagai macam upaya yang dilakukan kader untuk menyampaikan pengajuan pembentukan Posbindu Usila,

selain melalui bidan desa, kader menyampaikannya langsung ke Kepala Puskesmas Singandaru ataupun melalui pertemuan antar kader dengan bidang bina kesehatan masyarakat di Puskesmas Singandaru. Walaupun melalui cara yang berbeda-beda, tetap pesan tersebut tersampaikan sehingga pengajuan dapat dikabulkan. Bahkan ada Posbidu yang terbentuk dari suatu organisasi yang sudah ada sebelumnya, seperti yang diungkapkan oleh I1-5:

“Ini organisasi Persatuan Purnawirawan dan Warakauri TNI dan POLRI

(PEPABRI). Sepertinya begini, pengajuan dilakukan Puskesmas ke sini karena seharusnya kegiatan apapun mengajukannya ke sini lalu disetujui, disepakati oleh ketua organisasi lalu terlaksanalah Posbindu.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I1-5 dapat diketahui bahwa Posbindu Usila PEPABRI adalah Posbindu yang terbentuk dari suatu organisasi Persatuan Purnawirawan dan Warakauri TNI dan POLRI (PEPABRI). Puskesmas Singandaru yang mensosialisasikan kebijakan Posbindu Usila serta mengajukannya ke Kepala organisasi tersebut karena diharuskan mengikuti alur birokrasi dalam organisasi. Organisasi Posbindu memang tidak hanya terbentuk oleh masyarakat setempat saja, tetapi bisa dibentuk oleh suatu organisasi yang sudah ada. Anggota yang hadir dalam organisasi PEPABRI adalah perkumpulan para istri ataupun janda dari pensiunan TNI POLRI Kabupaten Serang. Lokasi organisasi ini berada di Kelurahan Lontar Baru yang berarti masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Singandaru. Hal ini membuktikan bahwa sosialisasi terkait adanya kebijakan Posbindu Usila telah sampai pada organisasi tersebut, sehingga adanya kesepakatan antara pihak Puskesmas Singandaru dengan ketua organisasi

PEPABRI untuk melaksanakan kebijakan Posbindu di dalam kegiatan Organisasi PEPABRI.

Dalam pembentukan Posbindu Usila juga terdapat persyaratan yang wajib dimiliki kelompok sasaran agar kebijakan terlaksana dengan optimal. Maksud dari optimal adalah pelaksanaan Posbindu yang terlaksanakan dengan baik yang sesuai dengan kebutuhan Lansia dan didukung dengan kuantitas tenaga kesehatan yang cukup. Maka dari itu jumlah Posbindu Usila yang terbentuk perlu disesuaikan dengan kondisi jumlah tenaga kesehatan yang tersedia di Puskesmas Singandaru, seperti yang diungkapkan oleh I2:

“Setelah mengajukan pembentukan Posbindu, lalu dilihat kelompok

sasaran di mana saja yang jumlah sasarannya mencukupi, apabila sedikit berarti tidak perlu dibentuk Posbindu, mengingat Puskesmas Singandaru juga kekurangan SDM”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I2 dapat diketahui bahwa pengajuan pembentukan posbindu tidak dapat dikabulkan begitu saja oleh bagian bina kesehatan masyarakat Puskesmas Singandaru. Maka dalam pengajuan pembentukan Posbindu Usila ada beberapa syarat yang perlu dimiliki kelompok sasaran yaitu terkait dengan jumlah sasaran yang ada, seperti yang diungkapkan oleh I3:

“Bisa atau tidak dibentuk Posbindu tergantung dari jumlah lansianya, Posbindu tidak jauh berbeda dengan Posyandu, kalau Posyandu bisa dibentuk apabila ada 100 balita sama halnya dengan Posbindu, bisa dibentuk apabila ada 100 lansia. Permasalahannya adalah usia lansia dimulai dari umur 45 tahun, sedangkan umur 45-58 sebenarnya adalah orang yang masih bekerja, jadi otomatis sebenarnya sasaran yang masuk

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I3 dapat diketahui bahwa persyaratan yang perlu dimiliki kelompok sasaran untuk membentuk Posbindu Usila adalah memiliki 100 lansia yang berusia 58 tahun ke atas. Namun berdasarkan data yang peneliti temukan pada laporan kegiatan Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Singandaru, ketiga wilayah yang di bawahi Puskesmas Singandaru yaitu Kelurahan Lontar baru, Kelurahan Kagungan dan Kelurahan Kota Baru, hanya memiliki 5 (lima) Posbindu Usila yaitu 3 (tiga) Posbindu Usila di Kelurahan Lontar Baru dan 2 (dua) Posbindu di Kelurahan Kagungan. Kelurahan Kota baru tidak memiliki satu pun Posbindu Usila.

Berdasarkan monografi Kelurahan Kota Baru tahun 2014, jumlah penduduk di atas usia 50 tahun sebanyak 1.020 orang atau sebesar 15% dari total penduduk sebanyak 6.813 orang. Hal ini berarti Kota baru memenuhi persyaratan untuk membentuk Posbindu Usila. Akan tetapi, pengajuan Kota Baru untuk mengadakan Posbindu Usila tidak dapat dikabulkan oleh Puskesmas Singandaru, seperti yang diungkapkan oleh I2:

“Warga Kelurahan Kota Baru sudah mengajukan permohonan membentuk

Pobindu Usila di wilayahnya, namun pengajuan tersebut tidak dapat dikabulkan Puskesmas karena jumlah tenaga pelaksana Posbindu dari Puskesmas tidak mencukupi. Saya bekerja sebagai perawat dan biasa bekerja di bagian poli umum, selain itu saya juga bekerja ke lapangan

untuk Posbindu.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I2 dapat diketahui bahwa pengajuan pembentukan Posbindu Usila dari Kelompok sasaran di Kota Baru tidak dapat dikabulkan karena kuantitas tenaga kesehatan untuk Posbindu Usila yang kurang. Kelomopok sasaran termotivasi untuk membentuk Posbindu Usila

karena kebijakan Posbindu dinilai sesuai dengan kebutuhan akan pelayanan kesehatan untuk warga lansia. Dengan demikian Lansia di kelurahan Kota Baru tidak terpenuhi oleh pelayanan kesehatan yang dapat diperoleh di Posbindu Usila.

Selain kekurangan tenaga kesehatan di Puskesmas Singandaru, tenaga kesehatan yang bertugas di Posbindu pun memiliki tugas rangkap baik bertugas di Puskesmas juga bertugas untuk Posbindu Usila. Tenaga kesehatan yang sebaiknya bertugas di Posbindu Usila adalah dokter dan perawat. Namun berdasarkan profil Puskesmas Singandaru Tahun 2014, jumlah dokter umum yang ada di Puskesmas hanya ada 2 (dua) orang sedangkan perawat berjumlah 6 (enam) orang. Dokter dan perawat tersebut medapatkan pembagian tugasnya masing-masing. Dokter bertugas di Puskesmas, sedangkan perawat lainnya bertugas di Puskesmas maupun di Posyandu Balita.

Jumlah Posyandu balita lebih banyak dibandingkan dengan Posbindu Usila, ada 30 (tiga puluh) Posyandu Balita yang tersebar di tiga wilayah yaitu Lontar Baru, Kagungan dan Kota baru. Posyandu balita dilaksanakan rutin 1 (satu) bulan sekali di masing-masing Poyandu. Maka dari itu cukup sulit untuk mencari teman yang bisa membantu melaksanakan pemeriksaan kesehatan di Posbindu Usila, seperti yang diungkapkan oleh I2:

“Berhubung dokternya pada sibuk di Puskesmas jadi saya sendiri yang turun ke Posbindu. Karena kesibukan dokter dan perawat lain juga membuat saya tidak enak untuk meminta bantuannya. Perawat lain sudah memiliki jadwalnya sendiri di Posyandu. Apabila ada perawat atau bidan yang tidak sibuk, mereka membantu saya. Kebetulan sekarang ada mahasiswa Akper (Akadem Keperawatan) yang sedang magang, jadi bisa

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I2 dapat diketahui bahwa dokter dan perawat yang ada di Puskesmas Singandaru telah memiliki jadwal bertugas masing-masing sehingga membuat pelaksana bina kesehatan masyarakat bagian Lansia merasa tidak enak meminta bantuan dari mereka. Hanya ketika ada tenaga kesehatan lain yang tidak sibuk atau mahasiswa akademik keperawatan yang sedang magang di Puskesmas Singandaru yang dapat membantu pelaksana bina kesehatan bagian Lansia dalam memberikan pelayanan kesehatan di Posbindu Usila. Pelaksana bidang bina kesehatan masyarakat bagian lanjut usia yang bertugas sebagai tenaga kesehatan di Posbindu Usila hanya berjumlah satu orang saja. Kekurangan dokter dan perawat di Puskesmas Singandaru berdampak pada tidak meratanya kebijakan Posbindu Usila. Padahal Kebijakan Posbindu merupakan kebijakan yang dibutuhkan oleh warga berusia lanjut karena memenuhi kebutuhan akan kesehatan Lanjut Usia, seperti yang diungkapkan oleh I1-1:

“Posbindu memenuhi kebutuhan kesehatan Lansia. Dengan adanya Posbindu Usila membantu lansia yang biasa mengeluh sakit kepala. Maka dari itu banyak Lansia yang datang karena mereka menderita sakit. Lansia yang tidak mengeluh sakit juga datang untuk sekedar mengetahui berat badan atau naik turunnya tensi darah untuk mencegah darah tinggi dengan mengatur asupan makannya. Kadangkala mereka menanyakan penyakit yang didertia dari keluhan yang dirasakan. Selain itu Posbindu juga dekat

dari rumah warga.”

Berdasakan hasil wawancara peneliti dengan I1-1 terkait kesesuaian kebijakan Posbindu Usila dalam memenuhi kebutuhan akan kesehatan Lansia, dapat diketahui bahwa keberadaan Posbindu sangat berarti bagi Lansia untuk kesehatan Lansia baik yang menderita sakit ataupun hanya sekedar memeriksakan

kesehatannya. Pemeriksaan kesehatan berupa cek gula darah, kolesterol, asam urat dan tensi darah serta adanya konsultasi kesehatan lansia dan pemberian resep obat yang ada pada pelayanan kesehatan di Posbindu Usila merupakan manfaat yang didapatkan sasaran untuk memenuhi kebutuhan akan kesehatan mereka. Mengingat lansia rentan terhadap penyakit tidak menular seperti darah tinggi, diabetes, kolesterol dan asam urat maka dari itu perlu rutin mengontrol kesehatan mereka, seperti yang diungkapkan oleh I1-2:

“Sudah cukup memenuhi kebutuhan Lansia. Kesehatan kebutuhan utama Lansia. Banyak permasalahan yang kompleks pada Lansia. Maka dari itu perlu setiap bulannya mengontrol kesehatan, terutama seperti tensi darah. Dari pada pergi jauh ke rumah sakit dan Puskesmas untuk kontrol kesehatan, di Posbindu lebih dekat. Terutama untuk cek darah. Di tempat lain lama mengantri, di Posbindu juga bisa periksa gula darah, kolesterol, asam urat. Walaupun hasilnya tidak akurat 100%, setidaknya dari hasil pemeriksaan kita mendapatkan perhatian untuk bisa rubah pola

makannya.”

Hal yang sama juga diuangkap oleh I4-5:

“Iya memenuhi,apabila saya merasa sakit dan kebetulan ada Posbindu saya

berobat ke Posbindu untuk periksa penyakit kolesterol.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I1-2 dan I4-5 terkait kesesuaian isi kebijakan posbindu dalam memenuhi kebutuhan Lansia, dapat diketahui bahwa penyakit tidak menular seperti asam urat, kolesterol dan gula darah yang lazim diderita oleh Lansia dapat terkontrol dengan rutin melakukan pemeriksaan di Posbindu Usila. Sehingga lansia dapat merubah pola makannya untuk mecegah penyakit tersebut agar tidak semakin parah. Selain itu dalam pelaksanaan Posbindu Usila, Lansia dapat menyampaikan keluhan-keluhan yang mengganggu kesehatannya.

Manusia yang usianya semakin menua, organ tubuhnya akan semakin melemah dan tidak berfungsi dengan baik seperti saat usianya masih muda. Maka dari itu tidak jarang apabila lansia mengeluhkan adanya rasa nyeri ditubuhnya yang membuat lansia merasa tidak nyaman. Keberadaan Posbindu Lansia memberikan manfaat pada Lansia untuk memberikan pelayanan kesehatan secara rutin setiap satu bulan sekali dan dekat dengan lingkungan masyarakat, seperti yang diungkapkan oleh I1-4:

“Sudah memenuhi kebutuhan Lansia. Ada pemeriksaan tensi darah, kolesterol dan diabet. Posbindu itu pelayanan kesehatan untuk para lanjut usia jadi memudahkan Lansia agar tidak pergi terlalu jauh ke Puskesmas

atau ke rumah sakit, dan memudahkan Lansia untuk berobat.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I1-4 dapat diketahui bahwa Lokasi Posbindu Usila yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal sasaran membantu lanjut usia mendapatkan pelayanan kesehatan. Lokasi Posbindu yang dekat dengan tempat tinggal Lansia memudahkan Lansia untuk menjangkau tempat tersebut karena lanjut usia memiliki keterbatasan fisik untuk mencapai lokasi yang tidak dekat. Manfaat lain dengan mengikuti Posbindu Usila selain dapat memeriksa kesehatan dan lokasi yang dekat, dari hasil pemeriksaan dan konsultasi kesehatan dengan tenaga kesehatan lansia dapat mengatur pola makan dan asupan makanan mereka. Maka dari itu lansia dapat memelihara kesehatan mereka sendiri, seperti yang diungkapkan oleh I1-3:

“Usia sudah tua sering terkena penyakit, jadi apabila ikut Posbindu bisa periksa kesehatan dan mengontrol makanannya.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I1-3 dapat diketahui bahwa pola makan Lansia dapat terkontrol dengan mengikuti Posbindu Usila. Posbindu Usila memang sangat bermanfaat sekali bagi warga yang berusia lanjut untuk dapat memperoleh hidup yang sehat karena dari hasil pemeriksaan serta konsultasi kesehatan dengan tenaga kesehatan, Lansia dapat mengurangi asupan makanan yang tidak baik bagi kesehatannya. Dengan memiliki hidup yang sehat, Lansia bisa menjalankan aktivitasnya dengan madiri dan berdaya guna. Kebijakan Posbindu Usila di keluarkan pemerintah karena mengatasi dampak dari keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan, seperti yang diungkapkan oleh I3:

“Pembangunan kesehatan itu salah satu tujuannya adalah umur harapan hidup. Semakin baik pembangunan kesehatan berarti umur harapan hidupnya semakin panjang. Lansia itu yang berumur 45 tahun ke atas, tapi yang perlu mendapat perhatian adalah yang berumur renta yang terutama masuk Posbindu yaitu berumur 60 tahun atau 70 tahun. Supaya Lansia memiliki kualitas hidup yang lebih baik, otomatis kita harus perhatikan.

Itu sebabnya ada kebijakan tentang program lansia.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I3 dapat diketahui bahwa kebijakan Posbindu Usila dikeluarkan pemerintah sebagai tindakan lanjut dari keberhasilan dalam meningkatkan angka harapan hidup masyarakat dengan tujuan meciptakan kualitas hidup yang lebih sehat bagi lanjut usia. Meningkatnya umur harapan hidup masyarakat berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk yang berusia lanjut. Masyarakat yang berusia lanjut rentan terkena penyakit tidak menular serta memiliki keterbatasan fisik karena fungsi tubuh mereka yang berkurang mengakibatkan melemahnya tenaga yang mereka miliki. Maka dari itu perlu ada kebijakan di bidang kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan terdekat bagi lanjut usia melalui kebijakan Posbindu Usila. Posbindu Usila

merupakan kebijakan derivat atau turunan dari suatu kebijakan. Kebijakan Posbindu Usila adalah kebijakan yang terwujud dari program lanjut Usia yang terwujud lagi dari Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2004 tentang pelaksanaan upaya peningkatan kesejahteraan lanjut usia.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kebijakan yang ideal adalah kebijakan yang sesuai dengan keinginan atau kebutuhan sasaran. Kebijakan yang memenuhi kebutuhan sasaran akan tercermin dari tanggapan sasaran terhadap keberadaan Posbindu Usila. Kebijakan Posbindu Usila mendapatkan respon yang baik dari sasaran, seperti yang diungkapkan oleh I4-2:

“Posbindu itu penting sekali. Saya sudah tidak kuat pergi ke Puskesmas.

Kalau mau minta antar ke Puskesmas ke keponakan saya merasa tidak enak karena mereka sudah pada bekerja, saya takut merepotkan mereka. sebelumnya saya biasa ke klinik atau tidak ke Puskesmas, tapi ketika ada Posbindu alhamdulillah saya bisa berobat dan kontrol kolesterol.

Lokasinya juga dekat, jadi tidak usah pergi jauh ke Puskesmas lagi.”

Hal yang sama juga diungkapkan oleh I4-6:

“Bagus, dengan adanya Posbindu Lansia dapat berobat. Yang saya lihat banyak Lansia yang mengeluhkan nyeri di lutut karena penyakit asam urat. Maka dari itu Lansia perlu berobat.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I4-2 dan I4-6 terkait tanggapan sasaran tentang keberadaan Posbindu Usila, dapat diketahui bahwa keberadaan Posbidu Usila dirasakan manfaatnya oleh Lansia seperti lokasi yang dekat dan terpenuhinya pelayanan kesehatan yang dibutuhkan untuk mencegah penyakit yang diderita agar tidak menjadi lebih buruk. Lokasi Posbindu yang dekat, mempermudah lansia yang memiliki keterbatasan fisik untuk mencapai tempat tersebut serta bisa pergi untuk memeriksakan kesehatan mereka tanpa harus

diantar oleh keluarganya. Selain itu manfaat mengikuti Posbindu juga dirasakan oleh Lansia, seperti yang diungkapkan oleh I4-4:

“Dengan ada Posbindu saya bisa tahu naik turunya kolesterol saya, bisa

dapat obat, terus kalau sudah tahu kolesterol saya naik berarti saya tidak boleh makan gorengan, kalau darah tinggi berarti tidak boleh makan yang asin-asin.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I4-4 dapat diketahui bahwa hasil pemeriksaan kesehatan yang diketahui oleh Lansia pada saat mengikuti Posbindu Usila, membuat Lansia mengontrol asupan makannya agar tidak memperburuk penyakit yang dideritanya. Pada pelaksanaan kebijakan Posbindu Usila, selain dapat memeriksa kesehatan lansia, lansia pun mendapat arahan dari tenaga kesehatan terkait larangan untuk memakan makanan yang dapat mengganggu kesehatannya. Tanggapan yang baik terkait keberadaan Posbindu Usila dari sasaran juga dapat dirasakan oleh pelaksana bidang bina kesehatan masyarakat bagian lanjut usia, seperti yang diungkapkan oleh I2:

“Tanggapanya baik, mereka menunggu saya datang apabila saya telat datang. Biasanya saya datang jam 10 pagi, saya telat jadi datang jam 11 siang. Ketika telat datang, saya kira mereka sudah pada pulang, tapi ternyata mereka masih menunggu saya karena mereka juga butuh untuk

memeriksa kesehatannya.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I2 terkait menilai respon kelompok sasaran terhadap kebijakan Posbidu Usila, dapat diketahui bahwa antusias kelompok sasaran yaitu masyarakat yang berusia lanjut begitu baik dalam mengikuti Posbindu Usila. Hal ini dikarenakan atas kebutuhan mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang dekat dan dan didapatkan secara rutin untuk mengontrol kesehatan mereka. Kegiatan yang ada pada kebijakan Posbindu

tidak hanya terkait dengan pemeriksaan kesehatan, namun ada kegiatan lain yang bermanfaat bagi kesehatan mereka, seperti yang diungkapkan oleh I3:

“Kegiatan kesehatan di Posbindu itu kegiatannya ada pemeriksaan kesehatan dan ada senam lansia. Senam lansia berbeda dengan senam biasanya karena gerakannya juga ringan dan bisa diikuti lansia. Asalkan lansia itu memiliki aktivitas dan bisa bergerak tidak hanya berdiam di rumah saja.”

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan I3 dapat diketahui bahwa kegiatan lainnya di Posbindu Usila selain pemeriksaan kesehatan adalah senam lanjut usia, di mana dalam senam tersebut meperagakan gerakan senam yang ringan yang dapat diikuti lanjut usia dengan tujuan memberikan aktivitas ringan pada Lansia. Lansia tidak memiliki banyak aktivitas seperti aktivitas yang biasa dilakukan penduduk berusia produktif sehingga membuat lansia tersebut kurang bergerak dan akan melemahkan tubuh mereka. Lansia memerlukan suatu aktivitas ringan yang membuat tubuh mereka selalu bergerak. Maka dari itu Dinas

Dokumen terkait