V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4. Identifikasi Faktor Eksternal Pengrajin Tempe
Faktor eksternal pengrajin tempe yang berhubungan dengan kompetensi dalam penelitian ini adalah: (1) peluang pasar, (2) bahan baku, (3) modal,
(4) tenaga kerja, dan (5) kebijakan pemerintah. Secara umum faktor eksternal termasuk dalam kategori cukup, kecuali faktor tenaga kerja termasuk dalam kategori berkompeten. Kelima faktor tersebut masing-masing memiliki karateristik yang disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8 Identifikasi faktor eksternal pengrajin tempe
No Faktor Eksternal
Rataan Kisaran Kategori Persen * (%) 1. Peluang pasar Skor 29,3 (cukup) Skor 21 – 41 kurang (skor ≤ 25) cukup (skor 25,1– 30) besar (skor 30,1 – 35) sangat besar (skor > 35)
23,1 43,6 25,6 7,7 2. Bahan baku Skor 22,0 (cukup) Skor 18 – 34 kurang (skor ≤ 22) cukup (skor 22,1 – 26) tersedia (skor 26,1 – 31) sangat tersedia (skor > 31)
23,1 48,7 23,1 5,1 3. Modal Skor 6,9 (cukup) Skor 4 -12 kurang (skor ≤ 6) cukup (skor 6,1 – 8) kuat (skor 8,1 – 10) kangat kuat ( > 10) 43,7 48,6 5,1 2,6 4. Tenaga kerja Skor 11,0 (berkompe ten) Skor 5 - 14
kurang berkompeten (skor ≤ 7,25) cukup berkompeten (skor 7,26-9,5) berkompeten (skor 9,6-11,75) sangat berkompeten (skor > 11,75)
7,7 31,3 53,3 7,7 5. Kebijakan pemerintah Skor 4,5 (kurang setuju) Skor 2 - 8
tidak setuju (skor ≤ 3,5) kurang setuju (skor 3,6-5,0) setuju (skor 5,1-6,5) sangat setuju (skor > 6,5)
2,6 61,5 28,2 7,7 Keterangan: n = 39 * persen dari jumlah responden
5.4.1. Peluang Pasar
Peluang pasar rata-rata termasuk dalam kategori cukup (43,6%), sedangkan yang termasuk dalam kategori berpeluang besar sebanyak 25,6%. Data tersebut menunjukkan bahwa pasar tempe masih terbuka, walaupun peluangnya tidak besar. Potensi pasar dapat ditingkatkan dengan memproduksi tempe mutu super atau diversifikasi produk, seperti keripik tempe dan formula tempe.
Mendapatkan peluang pasar bagi pengrajin tempe tidak mudah, yang menjadi kendala adalah tidak memiliki teknologi yang dapat meningkatkan nilai
tambah dari produk tempe atau mengurangi biaya produksi. Harga kedelai dan bahan bakar yang terus naik, dan menurunnya daya beli masyarakat, menjadikan pengrajin tidak aktif mencari peluang pasar.
Berdasarkan pendapat Zimmerer (Suryana, 2003) dapat diketahui bahwa peluang pasar tidak dapat diperoleh pengrajin tempe apabila (1) tidak aktif mencari peluang pasar, (2) tidak memiliki teknologi tepat guna yang menjadikan usaha atau hasil produksi mempunyai nilai kompetitif, dan (3) tidak mempunyai strategi dalam memasarkan tempe.
5.4.2. Bahan Baku
Ketersediaan kedelai sebagai bahan baku tempe secara umum termasuk dalam kategori cukup (48,7%), berdasarkan jumlah, mutu, dan waktu sesuai kebutuhan. Dengan harga berfluktuasi setiap saat secara tajam.
Kelancaran produksi dapat terjamin apabila pengrajin tempe berupaya menjaga ketersediaan dan kesinambungan kedelai dengan cara tidak bergantung hanya kepada satu pemasok. Selain kepada KOPTI, pengrajin membina hubungan baik dengan pedagang kedelai yang banyak terdapat di Pasar Induk Cianjur. Menurut Meredith, dkk (2005) untuk menjamin proses produksi berjalan lancar, pengusaha harus memelihara hubungan baik dengan para pemasok, dan harus mampu membeli bahan dalam jumlah yang cukup, sehingga proses produksi terjamin kesinambungannya.
5.4.3. Modal
Pada umumnya permodalan usaha kecil masih lemah, modal yang dikelola biasanya adalah milik pribadi atau keluarga. Bagi pengrajin usaha kecil untuk memperoleh tambahan modal melalui lembaga keuangan seperti bank bukan sesuatu yang mudah. Selama ini usaha kecil dituntut untuk memenuhi
kriteria layak bank (bankable), yakni mengharuskan usaha kecil memiliki
kelayakan usaha sesuai kriteria perbankan. Di sisi lain tidak semua pengrajin tempe menginginkan memperoleh bantuan modal, menurut Alma (2006) terdapat pengusaha yang tidak mau berhutang, karena takut hutang tersebut menjadi beban hidup.
Seperti disajikan pada Tabel 8, bahwa modal rata-rata yang dimiliki pengrajin tempe termasuk dalam kategori cukup (48,6%), dengan demikian sebagian besar pengrajin tempe tidak memiliki masalah dengan modal.
Tingginya persentase pengrajin tempe yang tidak mempunyai kendala dengan modal, bukan berarti pengrajin tidak membutuhkan tambahan modal, tetapi lebih pada pertimbangan:
• Penambahan kapasitas produksi pada saat ini belum menguntungkan, karena harga kedelai yang terus berfluktuasi, sedangkan harga tempe sulit dinaikan.
• Proses untuk memperoleh kredit masih dirasakan tidak sederhana.
• Kurang tersedia informasi fasilitas perbankan yang mudah dan murah. Menurut Dani dan Triyono (1994), masih banyak usaha kecil menghadapi kendala dalam memperoleh fasilitas modal yang disediakan lembaga perbankan, disebabkan: (1) tidak memiliki informasi yang cukup tentang fasilitas modal yang tersedia, (2) kendala memenuhi persyaratan teknis dan administrasi yang ditetapkan lembaga keuangan terutama perbankan dan (3) tidak dapat membuat proposal dengan baik.
5.4.4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan partner bagi pengrajin tempe, oleh karena itu tidak boleh terjadi pertentangan kepentingan antara pekerja dengan pengrajin sebagai pemilik usaha, sebab mereka saling membantu dan membutuhkan dalam menghasilan tempe (Alma, 2006)
Kompetensi rata-rata tenaga kerja pada industri tempe, termasuk dalam kategori berkompeten. Kompetensi yang dimiliki tenaga kerja dalam penelitian ini adalah kemampuan atau kecakapan yang dimiliki dalam bentuk (1) pengetahuan, (2) sikap, dan (3) keterampilan dalam bidang produksi.
Tenaga kerja yang termasuk dalam kategori cukup dan kurang mencapai 39%; hal ini disebabkan tenaga kerja yang sudah menguasai cara membuat tempe, umumnya akan berhenti untuk mencoba membuka usaha sendiri. Dengan demikian pengrajin tempe harus mencari tenaga kerja pengganti yang tentunya harus mengajarkan kembali.
Memiliki tenaga kerja yang mau mencurahkan kemampuannya secara total harus diciptakan, dikondisikan dan diajarkan oleh pemilik usaha. Kebebasan dan wewenang perlu diberikan kepada tenaga kerja agar termotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Keterlibatan tenaga kerja secara menyeluruh, akan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggungjawab, serta mendorong keinginan untuk meningkatkan kompetensi.
Menurut Suardi (2004) proses pembelajaran dapat dilakukan dengan cara memberdayakan dan memberi kesempatan kepada tenaga kerja untuk merencanakan, menerapkan dan mengendalikan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Namun demikian setiap orang mempunyai hak untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Pengrajin sebagai pimpinan usaha tidak dapat menahan tenaga kerjanya yang ingin mandiri.
5.4.5. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah rata-rata termasuk dalam kategori kurang setuju. Unsur-unsur yang menjadi kebijakan pemerintah adalah penghapusan subsidi harga kedelai dan ketergantungan pada kedelai impor.
Kebijakan pemerintah tentang penghapusan subsidi harga kedelai di tengah naiknya harga BBM dan menurunnya daya beli masyarakat, sulit dipahami oleh pengrajin tempe. Penghapusan subsidi kedelai telah memicu kenaikan harga kedelai sampai 110%. Kebijakan pemerintah mengimpor kedelai untuk menutupi kebutuhan dalam negeri, tidak disertai peningkatan produksi kedelai lokal (Astuti, 2008).
Harga kedelai yang berfluktuasi setiap hari merupakan beban berat bagi industri tempe. Kondisi ini menjadi semakin sulit karena terbatasnya pasokan kedelai lokal yang diharapkan bisa mengganti penggunaan kedelai impor.
Menurut Mulyo (2008) sejak awal tahun 1990, produksi kacang kedelai lokal terus menurun sampai hilang dari pasar, hal ini disebabkan masuknya kedelai impor hingga mencapai 80%. Pada saat ini harga 1 kg kedelai mencapai Rp 8.000, sedangkan harga normal Rp 3.500 - Rp 4.000. Tingginya kenaikan harga kedelai menyebabkan bertambahnya biaya produksi, sehingga pengrajin tempe dengan modal terbatas yang pada umumnya hanya dapat membeli kedelai sekitar 25 kg, menghentikan usahanya. Menurut Mustofa (2008) lonjakan kenaikan harga kedelai yang terjadi sejak bulan Nopember 2007, mengakibatkan industri tempe yang menggunakan kedelai kurang dari 25 kg tidak mampu lagi berproduksi.