• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Identifikasi Jenis Palmae dan Bambu

Hasil penelitian keragaman jenis palmae dan bambu yang telah dilakukan di Kecamatan Lumban Julu pada kawasan KPHL Model Unit XIV, Tobasa disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Spesies Palmae dan Bambu di Kecamatan Lumban Julu Pada Kawasan KPHL Model Unit XIV, Tobasa

No. Sub Famili Nama Ilmiah (Scientific Name)

Nama Lokal (Lokal Name) Jumlah Individu Ketinggian (Mdpl) 1300 1400

1. Caryotoideae Arenga Pinnata Merr. Bagot 54 48

2. Graminae Dendrocalamus asper Backer Bulu Bolon 42 22

3. Bambusoideae Bambusa vulgaris Schrad. Bambu Kuning 6 0

4. Lepidocaryhoideae

Khortalasia echinometra Becc. Hotang Mallo 90 27

Calamus javensis Blume Hotang Cacing 3 3

Calamus manan Miquel Hotang Manau 230 8

Calamus ornatus Blume Hotang Sulfi 42 0

Calamus scipionum Loureiro Hotang Buar-Buar 165 4

Salacca zalacca Gaertn. Salak 33 0

Total 665 112 Inventarisasi palmae yang dilakukan di lokasi penelitian diperoleh hasil sebanyak 777 individu palmae dan bambu yang terdiri dari 4 sub famili dengan 6 genus diantaranya adalah Calamus (4 spesies), Arenga (1 spesies), Dendrocalamus (1 spesies), Bambusa (1 spesies), Khortalasia (1 spesies) dan

Salacca (1 spesies) secara lengkap disajikan pada Tabel 1. Kegiatan identifikasi dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan kemudian dilanjutkan dengan pemberian nama dan taksonomi tumbuhan. Beberapa jenis spesies memiliki ciri- ciri fisik yang hampir sama. Namun, tumbuhan tersebut merupakan spesies yang berbeda. Karakteristik suatu spesies beraneka ragam baik bentuk, struktur, morfologi dan anatominya yang beragam. Persentase jenis yang didapat disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Persentase Jumlah Jenis Palmae dan Bambu di Kecamatan Lumban Julu Pada Kawasan KPHL Model Unit XIV, Toba Samosir

Berdasarkan Gambar 4, dapat dilihat bahwa persentase jenis yang mendominasi adalah jenis Calamus Scipionum sebesar 31 %. Hal ini disebabkan karena Calamus scipionum Lour. merupakan jenis palmae yang memiliki ukuran yang besar dibanding jenis rotan lain dan penyebarannya merata di Sumatera Utara. Hal ini sesuai pernyataan Kalima (2005) yang menyatakan bahwa perawakan Calamus scipionum Loureiro berumpun, memanjat sampai tinggi mencapai panjang 50 m atau lebih. Persebaran Calamus scipionum Loureiro terdapat di Sumatera dan Kalimantan.

Identifikasi tumbuhan palmae dan bambu ini diperoleh dengan cara mengidentifikasi morfologi dari tumbuhan tersebut seperti daun, biji, bunga, buah dan akar. Identifikasi suatu jenis berdasarkan ciri-ciri morfologi dan taksonomi di Kecamatan Lumban Julu yang terdapat pada kawasan KPHL Model Unit XIV, Tobasa adalah sebagai berikut:

13% 9% 1% . 13% 1% 22% 6% 31% 4% Arenga Pinnata Dendrocalamus asper Bambusa vulgaris Khortalasia echinometra Calamus javensis Calamus manan Calamus ornatus Calamus scipionum Salacca zalacca

1. Bagot (Arenga Pinnata Merr.)

(a) (b)

Gambar 5. Aren (Arenga Pinnata Merr.): (a) Perawakan, (b) Buah

Perawakan:Arenga Pinnata merupakan jenis tanaman tahunan, berukuran besar, tinggi hingga 12 m, diameter setinggi dada (DBH) hingga 60 cm. Aren dapat tumbuh mencapai tinggi dengan diameter batang sampai 65 cm dan tinggi 15 m bahkan mencapai 20 m dengan tajuk daun yang menjulang di atas batang.

Batang: memiliki batang yang lurus dan tinggi. Berdasarkan sifat internal dan eksternalnya, tipe batang Arenga pinnata termasuk ke dalam jenis pohon. Menurut Mulyani (2006), struktur umum yang dimiliki pada batang, pada bagian luar terdapat epidermis yang ditutupi oleh bahan lemak alam yang sangat tahan air (kutin). Lapisan kutin disebut dengan kutikula. Pada Arenga pinnata, kutikulanya cukup tebal, bersifat kedap air dan gas (impermeabel).

Daun: palmately atau pinnately membentuk tajuk dari batang kokoh yang tidak bercabang, berpelepah, dan berserat dengan batangnya yang menunjang. Daun

pinnate, hingga 8 m panjang, anak daun divaricate, panjangnya 1 m atau lebih, jumlahnya 100 atau lebih pada masing-masing sisi, dasar daun 2 auriculate, ujung daun lobes, dan kadang-kadang bergerigi, permukaan atas hijau berdaging, bagian bawah putih dan bertepung. Aren mempunyai tajuk (kumpulan daun) yang

rimbun. Daun muda selalu berdiri tegak di pucuk batang, daun muda yang masih tergulung lunak seperti kertas. Pelepah daun melebar di bagian pangkal dan menyempit ke arah pucuk. Susunan anak daun pada pelepah seperti duri-duri sirip ikan, sehingga daun aren disebut bersirip. Oleh karena pada ujungnya tidak berpasangan lagi daun aren disebut bersirip ganjil (Ramadani et al., 2008).

Pelepah daun: Pada bagian pangkal pelepah daun diselimuti oleh ijuk yang berwarna hitam kelam. Pada bagian atasnya berkumpul suatu massa yang mirip kapas yang berwarna cokelat, sangat halus dan mudah terbakar.

Bunga: bunga jantan dan betina berpisah, besar, tangkai perbungaan muncul dari batang, panjangnya 1-1,5 m. Bunga berbentuk tandan dengan malai bunga yang menggantung. Bunga tersebut tumbuh pada ketiak-ketiak pelepah atau ruas-ruas batang bekas tempat tumbuh pelepah (Ramadani et al., 2008).

Buah: buah tumbuh bergelantungan pada tandan yang bercabang dengan panjang sekitar 90 cm. Untuk yang pertumbuhannya baik, bisa terdapat 4-5 tandan buah. Buah Arenga pinnata termasuk buah buni, bentuknya bulat, secara rapat berkumpul sepanjang tangkai perbungaan, berwarna hijau, buah masak warna kuning (Ramadani et al., 2008).

Ekologis: umumnya tumbuh jauh di daerah pedalaman khususnya di daerah- daerah perbukitan yang lembab dan tumbuh secara individu maupun secara berkelompok (Alam dan Suhartati, 2000). Heyne (1950) melaporkan bahwa tanaman aren sering tumbuh mulai dari permukaan laut sampai ketinggian 1.300 mdpl.

2. Bulu Bolon (Dendrocalamus asper Backer)

(a) (b)

Gambar 6. Bulu Bolon (Dendrocalamus asper Backer): (a) Batang, (b) Daun

Perawakan: berumpun dan terdiri dari sejumlah batang (buluh) yang tumbuh secara bertahap, dari mulai rebung, batang muda dan sudah dewasa pada umur 3-4 tahun. Dendrocalamus asper tergolong keluarga Graminceae (rumput-rumputan).

Akar Rimpang: terdapat dibawah tanah membentuk sistem percabangan, dimana dari ciri percabangan tersebut dapat dibedakan asal kelompok bambu tersebut. Bagian pangkal akar ripangnya lebih sempit dari pada bagian ujungnya dan setiap ruas mempunyai kuncup dan akar. Kuncup pada akar rimpang ini akan berkembang menjadi rebung yang kemudian memanjat dan akhirnya menghasilkan buluh (Widjaja, 2001).

Batang: batang berbentuk silindris, berbuku-buku, beruas-ruas berongga, berdinding keras, pada setiap buku terdapat mata tunas atau cabang. Batang- batang muncul dari akar-akar rimpang yang menjalar dibawah lantai. Batang- batang yang sudah tua keras dan umumnya berongga, berbetuk silinder memanjang dan terbagi dalam ruas-ruas. Tinggi tanaman bambu sekitar 0,3 m sampai 30 m. Diameter batangnya 0,25-25 cm dan ketebalan dindingnya sampai 25 mm. Pada bagian tanaman terdapat organ-organ daun yang menyelimuti batang

yang disebut dengan pelepah batang. Biasanya pada batang yang sudah tua pelepah batangnya mudah gugur. Pada ujung pelepah batang terdapat perpanjangan tambahan yang berbetuk segi tiga dan disebut subang yang biasanya gugur lebih dulu (Widjaja, 2001).

Rebung: tunas atau batang-batang muda yang baru muncul dari permukaan dasar rumpun dan rhizome disebut rebung. Rebung tumbuh dari kuncup akar rimpang didalam tanah atau dari pangkal buluh yang tua. Rebung dapat dibedakan untuk membedakan jenis dari bambu karena menunjukkan ciri khas warna pada ujungnya dan bulu-bulu yang terdapat pada pelepahnya. Bulu pelepah rebung umumnya hitam, tetapi ada pula yang coklat.

Tipe Pertumbuhan: simpodial (clump type) dan monopodial (running type). Pada tipe simpodial tunas baru keluar dari ujung rimpang. Sistem percabangan rhizomnya di dalam tanah cenderung mengumpul dan tumbuh membentuk rumpun. Bambu tipe simpodial tersebar di daerah tropik, seperti yang terdapat di Indonesia dan Malaysia. Pada bambu tipe monopodial tunas bambu keluar dari buku-buku rimpang dan tidak membentuk rumpun. Batang dalam satu rumpun menyebar sehingga tampak seperti tegakan pohon yang terpisah-pisah.

Pelepah Buluh: menempel pada setiap ruas, yang terdiri atas daun pelepah buluh, kuping pelepah buluh dan ligulanya terdapat antara sambungan antara pelepah daun daun pelepah buluh. Pelepah buluh sangat penting fungsinya yaitu buluh ketika masih muda. Ketika buluh tumbuh dewasa dan tinggi, pada beberapa jenis bambu pelepahnya luruh, tetapi pada jenis lain ada pula yang pelepahnya tetap menempel pada buluh tersebut.

Helai Daun dan Pelepah Daun: mempunyai tipe pertulangan yang sejajar seperti rumput, dan setiap daun mempunyai tulang daun utama yang menonjol. Daunnya biasanya lebar, tetapi ada juga yang kecil dan sempit. Helai daun dihubungkan dengan pelepah oleh tangkai daun yang mungkin panjang atau pendek. Pelepah dilengkapi dengan kuping pelepah daun dan juga ligula. Kuping pelepah daun umumnya besar tetapi ada juga yang kecil atau tidak tampak. (Widjaja, 2001).

Ekologis: pertumbuhan setiap tanaman tidak terlepas dari pengaruh kondisi lingkungannya. Lingkungan yang sesuai dengan tanaman ini adalah yang bersuhu sekitar 8,8-36oC.

3. Bambu Kuning (Bambusa vulgaris Schrad.)

Gambar 7. Perawakan Bambu Kuning (Bambusa vulgaris Schrad.)

Perawakan: Bambu Kuning (Bambusa vulgaris Schrad.) berumpun tegak. Tinggi mencapai 10 - 20 m dan berdiameter 4 - 10 cm.

Batang: permukaan batang hijau mengkilap, kuning, atau kuning bergaris-garis hijau; internodus berjarak 20-45 cm, permukaan batang berambut hitam dan

dilapisi lilin putih ketika muda dan berangsur-angsur menjadi halus tak berambut dan mengkilap. Selubung rumpun berbentuk segitiga lebar.

Daun: tunggal, berseling, berpelepah, lanset, ujung meruncing, tepi rata, dan pangkal membulat. Panjang mencapai 15 – 27 cm, lebar 2 – 3 cm, pertulangan sejajar, hijau.

Bunga: majemuk dan bentuk malai terdapat di batang. Biasanya berwarna ungu kehitaman.

Akar: akarnya serabut. Berwarna putih kotor.

Ekologis: dijumpai tumbuh pada ketinggian 1200 mdpl. Tumbuh baik di daerah dataran rendah dengan kondisi kelembapan udara dan tipe tanah yang luas.

4. Hotang Mallo (Khortalasia echinometra Becc.)

(a) (b)

Gambar 8. Hotang Mallo (Khortalasia echinometra Becc.): (a) Batang, (b) Daun

Perawakan: Korthalsia echinometra Becc. tumbuh secara berumpun, memanjat dan bercabang pada kanopi hutan sampai 30 m tingginya. Tumbuhan bersifat hermaprodit.

Batang: jumlah batang berkisar antara 30-50 m, tiap rumpun hidup pada tanah kering datar sampai berbukit pada hutan primer ataupun sekunder tua. Panjang

batang dapat mencapai 30 m atau lebih, batang tanpa pelepah berwarna merah tua, pelepah berwarna coklat, berduri dan menggelembung dan sering menjadi sarang semut. Diameter batang berkisar antara 0,8-1,6 m, panjang ruas berkisar antara 12-15cm.

Daun: Panjang daun berkisar antara 1,5-1,8 m, petioles antara 10-15 cm, cirrus 50-70 cm, anak daun berjumlah antara 20-35 helai tiap sisi rakis, berukuran 30- 40x2-3cm, bagian bawah berwarna abu-abu, bagian atas berwarna hijau tua.

Pelepah daun: pelepah daun warna hijau mengkilap; ditutupi oleh okrea yang menggelembung atau bentuk tonjolan kasar, berukuran panjang 9 cm dan lebar 6 cm, ditutupi duri warna hitam, rapat dan panjangnya 4-5 cm.

Anak daun: permukaan bawah anak daun berwarna putih seperti kapur, jumlah anak daun 10-36 pasang melekat di kanan-kiri rakis, tersusun menyirip teratur, bentuk anak daun garis atau mendekati lanset, ujung anak daun lancip, anak daun berukuran 25-31 cm x 2-5 cm.

Ekologis: tumbuh pada hutan dataran rendah. Ditemukan pada ketinggian 150 mdpl (Kalima dan Jasni, 2007).

5. Rotan Cacing (Calamus javensis Blume)

(a) (b)

Perawakan: berumpun, memanjat, tinggi sampai 15 m, diameter batang dengan pelepah sampai 5 mm (tanpa pelepah sampai 3 mm). Panjang ruas sampai 25 cm. Persebaran Calamus javensis Blume di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Daun: panjang daun sampai 50 cm; pelepah daun hijau muda, ketika muda berwarna hijau kemerahan, berduri segitiga pipih, duri hijau kekuningan, panjang duri 0,3-0,5 cm. Tidak bertangkai daun atau sangat pendek, terdiri atas 5 helaian daun di tiap sisi rakis daun, berbentuk bulat memanjang, tipis, agak keriput, helaian daun paling pangkal biasanya memeluk batang. Panjang flagellum/cemeti sampai 75 cm.

Perbungaan: panjang hingga 1 m terdiri dari 2-5 bagian perbungaan. Biasanya panjang mencapai 20 cm.

Buah: bulat telur sampai bulat, sisik berwarna putih kehijauan pucat. Biji bulat telur sampai bulat, berukuran 12 x 8 mm. Jenis ini juga ditemukan di hutan Berau, Kalimantan Timur (Kalima dan Setyawati, 2003).

6. Hotang Manau (Calamus manan Miquel)

(c)

Gambar 10. Rotan Manau (Calamus manan Miquel): (a) Batang, (b) Daun Muda, (c) Perawakan

Perawakan: tunggal, memanjat, tinggi sampai 100 m. Diameter batang dengan pelepah sampai 66-80 mm (tanpa pelepah sampai 3-80 mm), panjang ruas 18-35 cm. Persebaran rotan manau (Calamus manan Miquel) terdapat di Sumatera dan Kalimantan (Jasni et al., 2007).

Pelepah daun: berwarna hijau tua, berduri bentuk segitiga, tersusun sangat rapat dalam kelompok-kelompok yang tersebar acak, di antara duri terdapat lapisan lilin tipis yang berlimpah. Berduri tunggal tersusun tersebar.Okrea tidak jelas.

Daun: bersulur sampai sekitar 8,5 m panjangnya (termasuk tangkai 12 cm dan sulur 3 m panjangnya). Helaian anak daun 47 di tiap sisi rakis daun, tersusun menyirip teratur, bentuk anak daun lanset, ukuran anak daun 43-53 x 7,5 cm.

Buah: masak bentuk bulat telur, berukuran 28x20 mm, sisik buah warna kekuningan. Biji bulat telur,berukuran 18x12 mm.

Ekologis: merupakan jenis yang tumbuh di hutan dataran rendah terutama dekat lereng yang curam dengan kisaran ketinggian antara 500-1000 mdpl, paling melimpah pada ketinggian 50-600 mdpl, pada lahan kering. Semai ditemukan melimpah di hutan perbukitan.

7. Hotang Sulfi (Calamus ornatus Blume)

(a) (b)

(c)

Gambar 11. Hotang Sulfi (Calamus ornatus Blume): (a) Perawakan, (b) Batang, (c) Daun

Perawakan: memiliki sifat tumbuh merumpun secara masif, memanjat. Tingginya mencapai panjang 50 m atau lebih.

Batang: panjang batang tua dapat mencapai 60 m atau lebih, diameter batang tanpa pelepah antara 2-5 cm, sedang panjang ruas antara 30-35 cm, warna batang tua tanpa pelepah hijau kotor, sedang bila tertutup pelepah atau serasah berwarna kekuningan. Diameter batang dengan pelepah 3-7 m, mempunyai flagellum (duri kait yang berhadapan dengan tangkai daun), berukuran 10 m atau lebih.

Daun: panjang daun dapat mencapai 4-5 m. Anak daun berjumlah 20-30 helai tiap sisi rakis, dengan ukuran 50-80 x 5-8 cm.

Buah: berwarna merah, berukuran 3x2 cm, dapat dimakan, berparuh pendek, tertutup dalam 15 baris vertikal sisik cokelat kuning sampai hitam kusam, sedikit lebih muda pada bagian pangkal. Biji elipsoid 2x0,8 cm, agak menyudut dengan alur pada muka samping yang memipih, terbalut dengan sarkotesta masam, endosperma homogen.

Ekologis: ditemukan soliter secara alam dihutan sekunder tua atau primer sampai 1000 m. Tidak dijumpai di rawa gambut atau tanah puncak bukit yang tidak subur (Jasni et al., 2012).

8. Hotang Buar-Buar (Calamus scipionum Loureiro)

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 12. Hotang Buar-Buar (Calamus scipionum Loureiro): (a) Perawakan, (b) Batang, (c) Daun, (d) Buah

Perawakan: memiliki sifat tumbuh merumpun, memanjat sampai tinggi mencapai panjang 50 m atau lebih. Persebaran Calamus scipionum Loureiro di Sumatera dan Kalimantan (Kalima, 2005).

Batang: diameter batang dengan pelepah 35-50 mm (tanpa pelepah 25-30 mm). Ruas panjang, biasanya sampai 50 cm. Buku-buku menonjol dan membengkak pada satu titik, sepanjang 10 mm atau lebih lebih sepanjang kelilingnya, pembengkakan timbul memanjang dari antar buku, jarak antar buku sangat panjang kadang sampai melebihi 1 m. Permukaan batang coklat muda sampai coklat tua di seluruh panjangnya, atau dengan bercak-bercak coklat. Batang rotan ini tidak silindris.

Daun: daunnya berkuncir. Panjangnya mencapai 2 m.

Pelepah daun: berwarna hijau tua, berduri bentuk segitiga, tersusun jarang,

berwarna hijau kekuningan, bagian pangkal berwarna hitam, panjang sampai 5 cm. Panjang flagellum sampai 7 m, berduri hitam. Panjang daun sampai 2 m,

panjang tangkai sampai 30 cm, helaian anak daun 25 di tiap sisi rakis daun, tersusun menyirip teratur, bentuk linier sampai bulat memanjang, bagian ujung anak daun berambut hitam.

Buah: masak berbentuk bulat telur, berukuran 14x9 mm. Berparuh sangat pendek, ditutupi dengan sisik warna hijau kusam sekitar 14-15 berbaris secara vertikal.

Biji: berbentuk bulat telur, sekitar 10x4 mm dengan ceruk yang bertebaran. Daun semai dengan 4 pinak daun yang tampak seperti kipas (Kalima, 2005).

Ekologi: merupakan tanaman yang tumbuh di dataran rendah yang tersebar luas dan terdapat di atas ketinggian 200 m. Tanaman ini menyukai tanah yang lebih baik seperti tanah aluvial. Tanaman ini sering terdapat di hutan sekunder (Dransfield dan Manokaran, 1996).

9. Salak (Salacca zalacca Gaertn.)

(a) (b)

Gambar 13. Salak (Salacca zalacca Gaertn.): (a) Perawakan, (b) Daun

Perawakan: berbentuk perdu atau hampir tidak be

melata dan beranak banyak. Tumbuh menjadi rumpun yang rapat dan kuat.

Batang: menjalar di bawah atau di atas tanah. Membent

bercabang dengan diameter 10-

daunnya majemuk menyirip, seperti daun kelapa, panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan oleh karena lapisan lilin di sisi bawahnya. Anak daun menyirip, pangkal membulat, ujung runcing, tepi rata dan tangkai pendek.

Bunga: kebanyakan berumah dua (dioesis), karangan tongkol majemuk yang muncul di ketiak daun, bertangkai, mula-mula tertutup oleh seludang, yang belakangan mengering dan mengurai menjadi serupa serabut. Tongkol bunga jantan 50–100 cm panjangnya, terdiri atas 4-12 bulir masing-masing panjangnya antara 7–15 cm, dengan banyak bunga kemerahan terletak di ketiak sisik-sisik yang tersusun rapat. Tongkol bunga betina 20–30 cm, bertangkai panjang, terdiri atas 1-3 bulir yang panjangnya mencapai 10 cm.

tipe buah berbentuk segitiga agak bulat atau bulat telur terbalik, runcing di pangkalnya dan membulat di ujungnya, panjang 2,5–10 cm, terbungkus oleh sisik- sisik berwarna kuning coklat sampai coklat merah mengkilap yang tersusun seperti masing sisik. Dinding buah tengah (sarkotesta) tebal berdaging, kuning krem sampai keputihan; berasa manis, kehitaman, keras, panjangnya sekitar 2–3 cm.

Berdasarkan hasil yang diperoleh terdapat 6 genus diantaranya adalah

Calamus, Arenga, Dendrocalamus, Bambusa, Khortalasia dan Salacca dengan total 9 jenis. Jumlah spesies palmae dan bambu di lokasi penelitian hampir sama dengan hasil penelitian Rustiami (2002) yang melaporkan bahwa jumlah spesies palmae di gunung Kerinci dan gunung Tujuh Taman Nasional Kerinci Seblat ditemukan sebanyak 7 jenis palmae pada ketinggian 1800 mdpl dengan jenis-jenis palmae yang diperoleh adalah Caryota aequatorialis, Pinanga latisecta, Salacca sumatrana, Daemonorops didymophylla, Calamus pilosellus dan Calamus exilis. Jenis yang dominan pada kawasan ini adalah Daemonorops dan Calamus. Pada

kawasan KPHL Model Unit XIV, Kecamatan Lumban Julu tergolong hutan sekunder yang berada dalam kawasan lindung.

Hasil penelitian Siregar (2007) di Gunung Sinabung, Kab Karo, Sumatera Utara yaitu diperoleh sebanyak 8 jenis palmae pada ketinggian 1400-2450 mdpl dengan jenis-jenis palmae yang diperoleh adalah Arenga sp., Caryota sp.,

Iguanura geonomaeformis, Calamus tumidus Furt., Calamus Palustris Griff.,

Calamus scipionum Lour. Daemonorops sp1., Daemonorops sp2. Sedangkan jenis yang juga dijumpai pada lokasi penelitian adalah Calamus scipionum Lour.

Pengelompokan jenis-jenis palmae lazimnya didasarkan atas persamaan ciri-ciri karakteristik morfologi organ tanaman, yaitu: akar, batang, daun, bunga, buah, dan alat-alat tambahan. Penentuan yang paling spesifik pada jenis palmae dan bambu berdasarkan tipe batangnya serta pemberian nama daerah yang dipengaruhi oleh tempat tumbuh dan bahasa daerah dimana jenis tersebut tumbuh seperti yang digunakan oleh masyarakat di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Nama Lokal yang Digunakan Masyarakat di Sekitar Kecamatan Lumban Julu pada Kawasan KPHL Model Unit XIV, Tobasa

No. Nama Dagang (Trade Name) Nama Ilmiah (Scientific Name) Nama Lokal (Lokal Name) Sifat Tumbuh

1. Aren Arenga Pinnata Merr. Bagot Tunggal

2. Bambu Betung Dendrocalamus asper Backer Bulu Bolon Berumpun 3. Bambu Kuning Bambusa vulgaris Schrad. Bambu Kuning Berumpun 4. Rotan Udang Khortalasia echinometra Becc. Hotang Mallo Berumpun 5. Rotan Lilin Calamus javensis Blume Hotang Cacing Berumpun 6. Rotan Manau Calamus manan Miquel Hotang Manau Berumpun 7. Rotan Lambang Calamus ornatus Blume Hotang Sulfi Berumpun 8. Rotan Semambu Calamus scipionum Loureiro Hotang Buar-Buar Berumpun 9. Salak Salacca zalacca Gaertn. Salak Berumpun

Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa pengembangan identifikasi nama daerah yang meluas mencerminkan arti sosial suatu jenis. Spesies-spesies palmae dan bambu yang luas persebarannya dapat diacu dengan banyak nama. Di tempat

desa-desa atau orang-orang dengan kelompok bahasa yang berlainan dan tinggal berdekatan satu sama lain, beberapa nama bahkan dapat digunakan untuk spesies lokal. Telah timbul kerancuan yang serius dari penggunaan yang tidak kritis dari nama-nama daerah. Mogea (2002) mengatakan bahwa nama lokal sangat tidak akurat dan bahkan menyesatkan apabila dilakukan konversi langsung dari nama lokal ke nama botani tanpa mengidentifikasi material herbarium yang dimaksud. Identifikasi berlaku untuk semua spesies dalam mendapatkan ketepatan nama botani/ilmiah. Sementara hasil pengamatan sifat morfologi atau karakteristik 9 spesies palmae dan bambu tersebut, terdapat delapan spesies yang sifat tumbuhnya berumpun, sedangkan satu spesies bersifat soliter (berbatang tunggal).

Identifikasi jenis Calamus, Khortalasia dan Salacca dapat dilakukan dengan mengamati jumlah batang pada setiap rumpun, sistem perakaran, bentuk dan jenis alat pemanjat, serta bentuk dan perkembangan daun, bunga dan buah. Pada Dendrocalamus dan Bambusa ditentukan berdasarkan pada karakter morfologi bunga dan pelepah buluh. Untuk karakter morfologi vegetatif lainnya, seperti tipe rimpang, rebung, buluh, percabangan, pelepah buluh dan daun juga dapat dijadikan dasar dalam membedakan jenis-jenis bambu (Widjaja, 2001). Sementara untuk Arenga tipe batangnya berbeda dengan jenis lain karena menyerupai pohon. Penentuan jenis dengan penerapan sifat morfologi saja kadang-kadang menemui kelemahan, begitu juga dengan identifikasi berdasarkan nama daerah sehingga penempatan suatu takson dalam klasifikasi diragukan.

Berdasarkan hasil interview guide dengan masyarakat di lokasi penelitian diperoleh bahwa hampir semua masyarakat mengetahui jenis palmae yang disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Jenis Palmae dan Bambu dalam Penggunaan dan Pemanfaatan Oleh Masyarakat di Kecamatan Lumban Julu yang terdapat pada Kawasan KPHL Model Unit XIV, Tobasa

No. Nama Ilmiah (Scientific Name)

Nama Lokal (Lokal Name)

Penggunaan Pemanfaatan Ya Tidak

1. Arenga Pinnata Merr. Bagot  Kolang-kaling, tuak, sapu

2. Dendrocalamus asper Backer Bulu Bolon  Meriam , tiang penyangga

3. Bambusa vulgaris Schrad. Bambu Kuning  Kurang dimanfaatkan

4. Khortalasia echinometra Becc. Hotang Mallo  Sapu, penyekat dinding

5. Calamus javensis Blume Hotang Cacing  Kurang dimanfaatkan

6. Calamus manan Miquel Hotang Manau  Kursi, meja, rak

7. Calamus ornatus Blume Hotang Sulfi  Sangkar burung, pemukul

tilam

8. Calamus scipionum Loureiro Hotang Buar-Buar  Sapu, pemukul tilam,

tampi beras

9. Salacca zalacca Gaertn. Salak  Buahnya dapat

dikonsumsi

Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa masyarakat mengganggap bahwa palmae dan bambu merupakan jenis yang mampu menghasilkan uang untuk kehidupan masyarakat setempat apabila dijual dan juga dapat dimanfaatkan sebagai perabot rumah tangga bahkan sumber makanan. Pengetahuan ini diperoleh secara turun temurun yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Dokumen terkait