Lembar Halaman Ini Pada Aslinya Memang Tidak Ada
6 INTERAKSI EKSPLOITATIF ANTAR STAKEHOLDER KEGIATAN PENANGKAPAN IKAN
6.3 HASIL PENELITIAN
6.3.3 Identifikasi nelayan terhadap dirinya maupun pihak lain
Di dalam workshop : Program Pengembangan Kewirausahaan dan Pembentukan Koperasi Ata Matuna Pulau Barrang Lompo yang diselenggarakan oleh Lembaga Maritim Nusantara dan Forum Mitra Bahari diperoleh informasi tentang cara pandang atau identifikasi nelayan terhadap dirinya maupun para pihak lainnya secara emic. Tempat workshop adalah Marine Station Universitas Hasannuddin yang terletak di Pulau Barrang Lompo pada tgl 6 – 7 Agustus 2005 dengan moderator Pak Darwin, seorang guru SD. Adapun peserta lebih dari 50 orang, tetapi tidak ada satu pun Punggawa Pa’es yang turut hadir.
Ada beberapa kesimpulan yang diperoleh dari workshop yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan ini, yakni : 1) identifikasi nelayan terhadap dirinya dan Punggawa, 2) identifikasi nelayan terhadap usaha-usaha yang bisa dikembangkan melalui koperasi Ata Matuna dan 3) identifikasi nelayan terhadap masalah-masalah yang dihadapinya sebagaimana tertera pada tabel di bawah ini rangkuman hasil workshopnya.
Nelayan melihat dirinya sebagai pihak yang hanya punya pengetahuan dan ketrampilan dalam kerja kenelayanan. Pihak Punggawa dianggap sebagai superior, karena punya modal, jaringan pemasaran, etos kerja yang tinggi. Tidak mengherankan menurut nelayan bahwa Punggawa memperoleh pendapatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan Sawi.
Pengetahuan jaringan pemasaran ikan dikuasai oleh para Punggawa, sehingga harga ikan hasil tangkapan nelayan menjadi rendah. Hal ini dianggap sebagai masalah besar, menurut nelayan, yang menjadi kendala hingga kini mereka tidak bisa sejahtera. Para nelayan berharapkan koperasi bisa menjadi alat yang memecah monopoli pemasaran, dalam arti bisa memasarkan hasil laut nelayan dengan harga yang lebih bagus. Adapun rincian workshop pembentukan koperasi tersebut adalah sebagai dideskripsikan di bawah ini.
Diawali dengan pengantar dari moderator tentang pentingnya koperasi dalam mengembangkan kewirausahaan di masyarakat Pulau Barrang Lompo. Masyarakat di pulau ini belum terbiasa untuk kerjasama. Lebih sering terjadi pertengkaran bila ada kerjasama antar penduduk. Penduduk biasa sendiri-sendiri dalam bekerja. Buktinya cukup banyak. Dulu di pulau ini pernah dibentuk
Tabel 6 Rumusan nelayan tentang karakteristik wirausahawan, bidang usaha koperasi kenelayanan, dan peran koperasi dalam perdagangan komoditi perikanan
Wirausahawan (pedagang, pawarung, souvenir, Punggawa)
a. bercirikan 1.etos kerja = keberanian, kerja keras, hemat, disiplin, berdasarkan target
b. pengetahuan = skill, ketrampilan, pengalaman
c. pasar, komoditi/usaha yang dipilih d. relasi/jaringan
e. modal&perencanaan keuangan 1 Aspek Kewirausahaan
Pekerja (Sawi, pegawai dll)
Hanya punya pengetahuan, skill, ketrampilan dan pengalaman
2 Bidang usaha koperasi kenelayanan
Kelompok usaha barang-barang produksi : a. jual-beli komoditi perikanan/kelautan b. warung serba ada (sembako)
c. kebutuhan alat tangkap nelayan d. depot air minum
e. home industry hasil laut f. dan lain-lain
Kelompok usaha jasa : a. simpan pinjam
b. pembayaran listrik/air minum c. kredit kepemilikan mesin kapal d. dan lain-lain
3 Contoh permasalahan : usaha perikanan
Jual beli komoditi perikanan : Mata rantai pemasaran hasil laut
1. nelayan Æ Punggawa Pulau Æ Punggawa Darat Æ TPI (Punggawa Lelang) Æ Papalele/ Pagandeng Æ konsumen
2. nelayanÆPunggawaPulauÆPunggawa DaratÆ TPI (ponggawa lelang) Æ Pasar tradisional/moderenÆkonsumen 3. nelayanÆPunggawaPulauÆPunggawa
DaratÆeksportirÆkonsumen
4. koperasi dapat menjembatani antara produksi/tangkapan nelayan ke Ponggawa/eksportir atau konsumen
koperasi tetapi kocar kacir alias gagal. Uangnya entah kemana. Koperasi hanya ada namanya, tidak ada kegiatannya. Sebelum dilanjutkan lebih jauh, moderator mempersilahkan penduduk menyampaikan harapan-harapannya atau usul-usulnya.
Pak Harijo sebagai penanya pertama mengatakan : Koperasi itu penting. Tapi susah mengurusnya. Harus bagus pengurus-pengurus yang dipilih nanti. Itu syaratnya, jika koperasi tidak mau mati lagi. Persepsi peserta, menurut hemat penulis, melihat bahwa manajemen koperasi sangat rumit, sehingga diperlukan orang yang pandai dan trampil
Penanya kedua Daeng Tata yang panjang lebar membahas tentang perkoperasian dan trauma kegagalan membangun koperasi yang dialami oleh masyarakat pulau ini : Undang-undang nomer 5 tahun 92 tentang perkoperasian perlu kita jadikan pegangan. Masyarakat kita masih dihantui fenomena koperasi yang lalu. Itu perlunya pelatihan koperasi, terutama untuk pengurus.
Adapun yang menarik adalah pendapat penanya ketiga yakni Daeng Ince : Pengurus yang dipilih nanti harus yang punya kemampuan mengembangkan Ata Matuna, bukan hanya pandai bicara. Kemampuan bicara bukan yang terutama jadi kriteria pengurus, harus orang mampu yang dipilih sebagai pengurus. Disini terlihat bahwa banyak tokoh masyarakat yang dipilih jadi pengurus sebelum- sebelumnya adalah orang-orang yang pandai bicara.
Pak Harijo menimpali tentang kegagalan membangun koperasi di masa lalu : Saya tidak tahu bagaimana masa depan Pulau Barrang Lompo, bukannya pesimis. Saya mengusahakan sosialisasi dengan banyak pihak sebagai pembuka. Entah kenapa pengurus-pengurus sebelumnya selalu gagal mengembangkan koperasi.
Pak Rojai menyambung pendapat pak Harijo : Supaya terhindar dari kegagalan-kegagalan seperti sebelumnya, langsung saja sekarang susun struktur organisasinya
Moderator menjawab secara singkat saja semua harapan tersebut dan meminta Pak Ariefuddin sebagai motivator koperasi untuk memulai ceramahnya sekaligus merespon harapan-harapan dari peserta.
(beliau diminta oleh Dinas Kelautan dan Perikanan kotamadya Makassar untuk memotivasi penduduk agar mau mengembangkan koperasi yang diharapkan kelak bisa mengurangi pula kenelayanan destruktif).
Syarat berdirinya koperasi itu adalah adanya kepentingan ekonomi yang sama. Co berarti bersama dan operation berarti berusaha. Koperasi artinya usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Sehingga koperasi merupakan suatu badan usaha sekaligus perkumpulan orang. Ini penting. Koperasi bekerja bersama-sama, bergotong royong, bukan sendiri-sendiri seperti sekarang ini. Gotong artinya dikerjakan bersama dan royong artinya dinikmati bersama. Di koperasi kita belajar bekerjasama.
Koperasi minimal 20 orang, dan anggota punya hak khusus. “Sing kama ji” jangan disamakan antara anggota koperasi dan bukan anggota koperasi. Nilai- nilai yang mendasari koperasi adalah : kebersamaan, menolong diri sendiri, kejujuran, keadilan, demokratis. Prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh dalam menjalankan koperasi : keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka, pengelolaan demokratis, SHU dibagi adil sesuai jasa, kerjasama antar koperasi dan usaha lain, kemandirian, serta balas jasa terbatas.
Pengurus koperasi dipilih berdasarkan kriteria “es te em je” (STMJ). S = sempat, orang yang menjadi pengurus harus punya waktu cukup untuk koperasi, kalau yang sibuk-sibuk jangan. T = tahu, orang tersebut harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan tentang koperasi, sehingga bisa mengembangkan koperasi. M = mau, orang itu harus punya kemauan kuat atau motivasi untuk bekerja demi kemajuan koperasi. J = jujur, ini kunci dari semua-semuanya. Umumnya koperasi bangkrut karena pengurusnya tidak jujur.
Pesan yang disampaikan oleh pembicara pertama ini menekankan bahwa :
1) orang pulau ini belum biasa kerjasama, dan koperasi menjadi wahana berlatih kerjasama,
2) Masih kurangnya pengetahuan tentang koperasi di masyarakat pulau ini
3) Tiadanya kejujuran seringkali sebagai penyebab bangkrutnya usaha koperasi
Selanjutnya peserta workshop ini dilatih tentang pernik-pernik koperasi seperti jenis-jenis usaha di daerah pesisir, peluang permodalan dan juga manajemen kewirausahaan. Pelatihan-pelatihan ini sangat teknis sifatnya dan disampaikan oleh Pak Asrul dan Pak Nasruddin selama dua hari.
Pada hari kedua peserta diminta untuk bersama-sama merumuskan beberapa hal penting yang juga berkaitan dengan tema disertasi kami. Hasil perumusan yang dilakukan oleh nelayan sendiri dengan dipandu oleh trainer sebagaimana yang tertera pada tabel di bawah ini. Perumusan ini tentang tiga hal. Pertama, bagaimana penduduk merumuskan potensi kewirausahaan yang ada di masyarakat pulau ini, yang dibagi antara dua lapisan masyarakat, yakni kelompok yang sudah terbiasa wirausaha (ponggawa, pawarung, pedagang, penjual souvenir) dan kelompok yang hanya mempunyai pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan (para Sawi, pegawai dll.). Kedua, bagaimana penduduk melihat potensi usaha apa yang bisa dikembangkan oleh koperasi, yang dibagi atas 2 kelompok usaha, yakni kelompok usaha barang-barang produksi dan kelompok usaha jasa. Ketiga, penduduk diminta merumuskan masalah kenelayanan yang paling penting, dan mereka melihat rantai pemasaran hasil laut yang membuat nelayan pada posisi dieksploitasi. Koperasi diharapkan bisa menyeimbangkan posisi antar stakeholder yang terlibat dalam matarantai pemasaran.
6.4 Pembahasan
Eksploitasi juga terjadi pada hubungan patron client (lihat Li Causi, 1981 ; Noel, 1990; Putra, 1996 dan Scott, 1992) sebagaimana yang terjadi di masyarakat Pulau Barrang Lompo. Hubungan kerja yang berdasarkan hutang (debt working relationship) terjadi antara nelayan dengan Punggawa Pulau. Mata rantai berikutnya adalah Punggawa Pulau dengan Punggawa Darat, dan terakhir antara Punggawa Darat dengan Punggawa Lelang. Punggawa Pulau(pemilik modal uang) yang membiayai operasi penangkapan ikan (res). Ia bertindak sebagai pembeli monopsoni hasil tangkapan nelayan dengan harga sepihak. Rantai berikutnya pembeli monopsoni oleh Punggawa Darat dan selanjutnya adalah Punggawa lelang (TPI) Pembeli monopsoni dengan harga rendah ini terjadi
diduga karena aliran modal dari Ponggawa dan juga aliran material bom dari Ponggawa di atasnya.
Beberapa nelayan mengemukakan bentuk interaksi eksploitasi sosial dalam kalimatnya sebagai berikut : - ”Nelayan disini sangat terikat dengan pengusaha. Kita tahu harga di Ujung Pandang 35 ribu, sementara pengusaha bikin harga seenaknya misal hanya 24 ribu. Kita tidak bisa protes karena perbekalan kita dari mereka”(Ar, bukan nama sebenarnya, Punggawa pa’es). Ungkapan yang lain : ”Harga ikan di pulau bisa 2 kali lipat dibandingkan harga di kota karena nelayan menjual ikan di kota dan para Pa ba’lu juku membeli ikan-ikan tersebut dan menjualnya di pulau. Jenis ikan-ikan tembang yang per basket (keranjang kecil) di kota Rp 5000, di pulau bisa Rp 10 ribu” (Hari, bukan nama sebenarnya, penduduk PBL)
Adapun oknum penegak hukum (pemilik modal hukum) mempunyai hubungan kerja semu dengan nelayan (pseudo working relationship) yang memungkinkan nelayan membeli material bom ikan melalui perdagangan ilegal material bom ikan dan memungkinkan nelayan melakukan operasi penangkapan ikan dengan cara DF. Ia melakukan pemungutan ‘uang polisi’ terhadap nelayan yang melakukan DF. -”Kasihan para pelanggar, mereka korban saja. Sudah tiap kali beri uang untuk polisi, tertangkap dan para polisi itu tidak melindungi tapi menyuruh nelayan untuk membayar uang sogokan lagi yang nantinya dibagi-bagi antara mereka.” (Kasubdin Penangkapan ikan DKP Makassar). -”detonator itu darimana kalau bukan dari polisi. Itu susahnya” (idem). Nelayan juga mengemukakan bagaimana menderitanya mereka harus selalu membayar ‘uang polisi’, sebagai berikut : “Sakit hati saya, hasil belum dibagi sudah harus nyetor dulu ke polisi. 1 juta sedikitnya harus keluar, belum ongkosnya. Kita yang keluar keringat dapat sedikit” (Bakh, bukan nama sebenarnya, tentang kepahitannya kerja pa’es). Sementara itu nelayan Pa’es lain mengemukakan besar rata-rata ‘uang polisi yang harus dibayar nelayan sebagai berikut : Kalau sekarang nelayan nyetor ke polisi sekitar 2 juta, kalau lagi dapat sedikit ikan yah sekitar 1 juta-an. Dulu tahun 1999 hanya sekitar 250 ribu-an . setelah ada pos polisi perairan yang berkantor di dermaga sejak 3 bulan yang lalu maka nelayan nyetor ke kantor itu, tidak berkeliaran ke rumah-rumah(Rud, bukan nama sebenarnya, nelayan Pa’es).
Terlihat bahwa ada perbedaan-perbedaan kepentingan yang mewarnai langgengnya kerja nelayan Pa’es. Pemanfaat perikanan berkepentingan untuk bisa leluasa menggunakan bom ikan agar memperoleh hasil tangkap yang banyak, sedangkan penegak hukum maupun pengelola perikanan berharap bisa memperoleh keuntungan dari adanya sistem kenelayanan tersebut. Kepentingan- kepentingan yang dipunyai para pihak terhadap nelayan memberikan kecenderungan sebagai bentuk eksploitasi sosial.
7.1Pengantar
Jika bab sebelumnya tentang interaksi eksploitasi, maka pada bab ini akan diperjelas tentang perbedaan pendapat dari para pihak yang menimbulkan ”kesulitan lebih” untuk memecahkan masalah kenelayanan destruktif. Masing-masing pihak bersikukuh dengan kebenaran cara pandangnya dan menganggap pihak lain bersalah, tidak bisa diatur, tidak mau mengikuti cara yang benar, bodoh, perusak, dan lain-lain. Sikap semacam ini sebenarnya sudah dicermati oleh kalangan ilmuwan sosial, khususnya para antropolog, sebagai penyebab kegagalan berbagai program pembangunan. Kegagalan memahami alasan seseorang memilih sikap tertentu adalah salah satu faktor penghambat dalam penentuan langkah-langkah kompromi untuk mencari solusi untuk kelancaran pembangunan (Appell, 1973; D’Andrade, 1995).
Faktor kognitif, yaitu bagaimana seseorang memahami lingkungannya dan bertingkah laku sesuai dengan pengertian yang dimilikinya, menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian para ilmuwan sosial. Kemudian muncul konsep emic view dan etic view. Emic diartikan sebagai cara pandang komunitas lokal terhadap lingkungannya atau permasalahan yang dihadapinya, sedangkan etic adalah cara pandang ’orang luar’ terhadap komunitas lokal itu dan permasalahan yang dihadapi oleh komunitas lokal tersebut. Seringkali emic dan etic menghasilkan persepsi yang berbeda. Perbedaan itu timbul disebabkan oleh berbagai hal, seperti keterbatasan pengetahuan pihak luar terhadap aspek-aspek yang dipahami oleh komunitas lokal, perbedaan kepentingan dan perbedaan latar belakang budaya.
Jika pihak lain akan melakukan pembangunan di suatu tempat, mereka perlu memahami pengertian yang dimiliki oleh komunitas lokal. Pada saat muncul perbedaan kepentingan, kompromi harus segera dilakukan dengan baik tanpa pemaksaan. Pemaksaan kepentingan sepihak hanya akan menimbulkan resistansi (penolakan) yang besar terhadap usaha pembangunan. Terakhir, masalah perbedaan budaya seyogianya didekati dengan tidak mengutamakan
budaya sendiri. Dalam hal ini, pemahaman terhadap kategori-kategori budaya suatu masyarakat menjadi sangat penting.
Salah satu pertanyaan penting dalam destructive fishing adalah apakah menangkap ikan dengan menggunakan bom adalah kesalahan besar? Bagi penegak hukum, kegiatan menangkap ikan dengan bom adalah tindak pidana dengan sanksi masuk penjara, sedangkan bagi pengelola perikanan, kegiatan tersebut tergolong ilegal (karena di Provinsi Sulawesi Selatan sedang dilakukan pemberantasan illegal logging bersamaan dengan operasi penangkapan nelayan pengguna bom ikan). Sementara itu, bagi nelayan, kegiatan itu merupakan pelanggaran saja, bukan suatu kejahatan. Dalam perspektif budaya nelayan, mencuri adalah suatu kejahatan, mengkonsumsi minuman keras dan pergi ke tempat pelacuran adalah kenakalan yang tingkatnya lebih buruk dibandingkan dengan pelanggaran penggunaan bom ikan. Penggunaan teknologi destruktif untuk menangkap ikan lebih bertujuan untuk mencari nafkah bagi keluarga, karena itu dianggap bernilai lebih baik.
7.2Metodologi
Metode utama yang dipakai untuk mengidentifikasi persepsi setiap kelompok masyarakat adalah focus group discussion (FGD) dan wawancara mendalam (in-depth interview). FGD secara intensif diterapkan dalam sebuah pertemuan di Paotere, salah satu TPI di kota Makassar yang dihadiri oleh penegak hukum, pelaku destructive fishing, dan pengelola perikanan di kota Makassar lokal. Dalam pertemuan tersebut, peneliti tidak mengajukan pertanyaan apa pun, kegiatan penelitian difokuskan untuk memperhatikan substansi diskusi dan respons setiap peserta.
Beberapa hari sebelum pertemuan tersebut, peneliti berdiskusi dengan penyelenggara, yakni Pak Baddu, Kasubdit Pengawasan DKP kotamadya Makassar. Oleh karena dia akan jadi moderator pada pertemuan Paotere, peneliti menitipkan beberapa topik yang akan menarik perhatian nelayan dalam diskusi tersebut. Pertemuan Paotere ini dalam rangka sosialisasi UU Perikanan no 31 tahun 2004 dan juga keprihatinan pemerintah terhadap merebaknya kenelayanan destruktif, khususnya bom ikan yang sering dikaitkan dengan ancaman teroris.
Peneliti diundang oleh pihak DKP kodya Makassar karena diketahui sedang melakukan riset tentang topik nelayan pengguna teknologi destruktif.
Indepth interview dilakukan untuk menggali (probing) informasi atau pendapat dari responden secara lebih mendalam dan rinci. Topik wawancara adalah pendapat mereka tentang praktek penggunaan teknologi destruktif, informasi tentang perdagangan ilegal material bom ikan, dan perilaku pihak- pihak lain dengan siapa mereka berinteraksi (seperti penegak hukum, pengelola perikanan dan para pesaing mereka).
7.3Hasil Penelitian : Pertemuan Para Pihak di Paotere
Pada tanggal 14 September 2005 sebuah pertemuan diselenggarakan di kantor DKP Kodya Makassar bidang Pengawasan yang terletak di sebelah tempat pelelangan ikan (TPI) Paotere. Peserta pertemuan tersebut adalah: (1) para punggawa Pa’es dari seluruh wilayah kodya Makassar, (2) Ketua Binamitra Poltabes Makassar, (3) wakil dari Polresta Pelabuhan Paotere, (4) Wakil Kepala Polsek, (5) Camat Ujung Tanah, dan (6) Tim Penyuluh DKP Kodya Makassar.
Ada beberapa kesimpulan yang menarik yang berkaitan dengan tema penelitian ini, yaitu : 1) ternyata terdapat perbedaan pendapat antar para pihak yang terkait dengan penggunaan bom ikan sebagai alat tangkap, 2) hubungan kerja yang semu (pseudo working relationship) antara nelayan dengan oknum polisi dalam penggunaan bom ikan dalam usaha kenelayanan destruktif, dan 3) belum adanya solusi yang jelas dan pihak nelayan cenderung sebagai satu-satunya pihak yang dipersalahkan. Adapunuraian selengkapnya tentang pertemuan di Paotere adalah sebagai yang dipaparkan di bawah ini.
Acara dibuka oleh Pak Camat Ujung Tanah dengan ucapan terima kasih atas kehadiran para undangan. Singkatnya, beliau mengharapkan pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk perbaikan lingkungan hidup guna masa depan anak-cucu. Praktek penggunaan teknologi destruktif menurut beliau sudah seharusnya dihentikan. Pada pembukaan pertemuan ini beliau sangat mengecam penggunaan teknologi destruktif baik bom maupun bius sebagai alat tangkap.
Pembicara berikutnya adalah Wakil dari Polresta Pelabuhan yang berbicara kurang lebih sebagai berikut :
”Saya menyampaikan permohonan maaf dari bapak Kapolresta Pelabuhan atas ketidakhadiran beliau dalam pertemuan ini. Sesungguhnya beliau ingin sekali hadir dalam pertemuan penting ini, tapi karena supporter PSM membludak di pelabuhan,...kami kira bapak-bapak maklum apa yang mungkin terjadi. Karena itu bapak Kapolresta langsung memimpin sendiri di lapangan. Saya sungguh berterimakasih dan kagum atas perhatian bapak-bapak sekalian. Yang diundang 70 orang, tapi yang datang ada 90 orang....ini luar biasa. Saya berharap pertemuan ini akan menghasilkan kesepakatan untuk perbaikan lingkungan laut yang sudah rusak karena praktek penggunaan bom ikan”.
Kalimat-kalimat yang dikemukakannya menunjukkan bahwa pembicara mengecam kenelayanan destruktif dan mengharapkan adanya perubahan perilaku. Optimismenya muncul ketika melihat bahwa yang hadir lebih banyak dibandingkan yang diundang, yang mayoritas adalah Punggawa yang terlibat dalam usaha kenelayanan destruktif. Selama ini tidak mudah mengundang para Punggawa Pa’es untuk berkumpul seperti ini. Biasanya hanya segelintir Punggawa hadir atau diwakilkan kepada Sawinya (awak kapal). Respon yang positif ini diduga karena gencarnya penangkapan pengguna bom ikan maupun pedagang material bom ikan bersamaan dengan berlangsungnya penelitian ini.
Pembicara berikutnya Kepala Bina Mitra Poltabes Makassar sebagai berikut :
”Kapoltabes (Kepala Polisi Kota Besar) Makassar oleh karena harus hadir pada teleconference bersama Kapolri, sehingga tidak bisa ikut dalam pertemuan ini. Kesempatan lain akan berusaha untuk hadir. Beliau menitip pesan akan pentingnya pertama, pengelolaan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Kedua, Interaksi antar manusia dengan lingkungan agar dijaga, supaya kebutuhan manusia tetap bisa disediakan oleh alam. Semua kebutuhan hidup kita berasal dari alam. Disebutkan dalam surat Al Qishos ayat 74 : ’janganlah kamu merusak lingkungan’.
Habitat merupakan tempat organisma hidup. Namun kualitas hidup antar habitat berbeda. Sebabnya, kerusakan atau pencemaran akan sebabkan habitat tidak bisa berkembang dengan normal. Kita mengenal dua jenis sumberdaya alam. Renewable, sumberdaya alam yang bisa diperbaharui, seperti tumbuhan
dan mahluk lain. Unrenewable, sumberdaya alam yang tidak bisa diperbaharui, seperti batu bara dan minyak. Problemnya bagaimana mengelola lingkungan hidup agar bisa dimanfaatkan sampai anak cucu. Kita harus memperhitungkan dampak kegiatan yang kita lakukan. Sering kita dengar istilah pembangunan berkelanjutan yang berarti pembangunan tanpa merusak lingkungan.
Ketiga, masalah peningkatan hidup generasi sekarang dan penerusnya. Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 telah mengamanatkan kepada kita agar menggunakan semua sumberdaya yang ada, kekayaan alam yang ada untuk kemakmuran rakyat pada masa sekarang tapi juga untuk masa yang akan datang.
Sekarang sudah ada Undang-undang 31 tahun 2004 yang mengatakan bahwa pelaku perusakan lingkungan akan dipidana penjara 10 tahun atau didenda 100 miliar. Jadi, hukumannya berat sekali. Saya berharap tidak ada bapak-bapak yang kena sanksi pelanggaran yang mahaberat ini.
Semua warga negara mempunyai hak dan kewajiban melestarikan lingkungan hidup. Allah mengamanahkan alam ini untuk anak cucu. ’Akibat ulah kita sendiri alam hancur, apa kita tidak malu terhadap anak cucu?’
Rencana Pak Wali, pulau-pulau di sekitar kodya Makassar akan dijadikan obyek pariwisata, diantaranya wisata memancing. ’Bagaimana kalau sudah tidak ada ikan yang dipancing?’
Di dalam Al Quran juga sudah disebutkan ’taatilah pemimpinmu dan pemerintah sejauh tidak melanggar ajaran Allah’. Pemerintah sudah menyerukan agar kita menghentikan perusakan lingkungan, utamanya laut. Lautnya rusak, bapak-bapak akan kesulitan sendiri memenuhi kebutuhan hidup. Lebih-lebih kita tidak perhatikan nasib anak cucu. Alangkah ironisnya bila kita mementingkan diri sendiri, tidak peduli nasib anak cucu kita”.
Hal yang menarik dari ucapannya adalah menekankan tentang relevansi antara konservasi dengan kepercayaan (agama). Pembicara mengingatkan masyarakat bahwa ajaran agama juga menegaskan tentang perlunya konservasi alam dan larangan merusak alam. Pembicara menegaskan bahwa sifat sumberdaya perikanan dapat pulih, tetapi proses pemulihannya dalam jangka panjang. Penggunaan bom ikan yang merusak sumber daya laut diartikan pula sebagai melanggar ajaran agama.
Pembicara juga menegaskan tentang regulasi yang kini makin ketat dengan sanksi yang berat bagi nelayan yang melanggarnya (khususnya UU no 31 tahun 2004). Himbauannya agar nelayan tidak lagi melanggar. Banyak cara untuk memanfaatkan sumberdaya laut seperti pariwisata.
Setelah itu Kasubdit Pengawasan DKP (Drs. H. Baddu Uddin) dan Soejarwo SH (penyidik perikanan) menyampaikan buah pikirannya sebagai berikut :
Alam ini bukan untuk siapa-siapa tapi untuk memenuhi kebutuhan kita dan