BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.6. Identifikasi Variabel
- Berat badan - Tinggi badan
- Indeks massa tubuh - Lingkar kepala 2. Variabel Dependen :
- Axial length
- Anterior chamber depth - Lens thickness
- Miopia
- Hipermetropia - Astigmatisma 3.7. Bahan dan Alat
1. Alat tulis (Kertas, pulpen) 2. Snellen chart ® Damos 3. Trial and error
4. Biometri ® Tomey AL-100 (Akurasi ± 0,1 mm) 5. Senter ® GEA
6. Loop ® Optivisor 5 D 7. Funduskopi direct ® Neitz 8. Timbangan badan ® GEA
9. Meteran ukur ® OneMed 10. Stadiometer ® GEA 11. Alcohol Swabs ® OneMed 12. Tetes mata Pantocain 0,5 % 13. Tetes mata Antibiotik (Ofloxacin)
14. Kurva pertumbuhan BB, TB dan indeks massa tubuh dengan grafik CDC dan kurva lingkar kepala dengan grafik Nellhaus
3.8. Cara Kerja
1. Penjelasan kepada pasien yang memenuhi kriteria inklusi mengenai cara-cara pemeriksaan dan tujuan pemeriksaan yang akan dilakukan.
2. Pencatatan identitas semua pasien yang memenuhi kriteria inklusi.
3. Dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh kemudian plotting kurva ke grafik CDC dan lingkar kepala kemudian plotting kurva ke grafik Nellhaus.
4. Dilakukan pemeriksaan segmen anterior dan segmen posterior.
5. Dilakukan pemeriksaan visus dengan snellen chart dan pemeriksaan kelainan refraksi subjektif dengan trial and error.
6. Dilakukan pengukuran axial length, anterior chamber depth dan lens thickness dengan menggunakan biometri Tomey AL-100 (sebelumnya diberi tetes mata pantocain 0,5 %). Setelah pengukuran diberi tetes mata antibiotik.
7. Dilakukan analisa data.
3.9. Alur Penelitian
3.10. Rencana Pengolahan dan Analisa Data
1. Untuk menggambarkan variabel-variabel penelitian, disajikan dalam bentuk tabulasi data dan kemudian dideskripsikan.
2. Untuk melihat pengaruh antropometri terhadap biometri okular menggunakan uji Chi Square. Jika tidak ditemukan Expected Count <5, jika ada digunakan uji Exact Fisher.
3. Untuk melihat pengaruh antropometri terhadap kelainan refraksi menggunakan uji Chi Square. Jika tidak ditemukan Expected Count <5, jika ada digunakan uji Exact Fisher.
Analisa Data
Anak penderita talasemia β mayor
- Pemeriksaan visus
- Pemeriksaan kelainan refraksi subjektif - Pemeriksaan biometri
Pemeriksaan segmen anterior dan segmen posterior Pemeriksaan Antropometri
3.11. Pertimbangan Etika
Usulan penelitian ini terlebih dahulu disetujui oleh Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini kemudian diajukan untuk disetujui oleh rapat komite etika PPKRM Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3.12. Personalia Penelitian Peneliti : Elyani Rahman.
3.13. Biaya Penelitian Tahap Persiapan
1. Usulan Judul (30 lembar (@ 150) X 60 set Rp. 270.000,- 2. Proposal Penelitian (36 lembar (@ 150) X 60 set Rp. 324.000,- Tahap Penelitian
3. Biaya administrasi Komite Etik Penelitian FK-USU Rp. 500.000,-
4. Baterai Funduskopi Rp. 30.000,-
5. Biaya Pengolahan data statistik Rp. 1.000.000,- 6. Kertas, fotocopy dan tinta printer Rp. 600.000,- 7. Biaya kue/air minum (aqua) presentasi Rp. 600.000,- 8. Biaya Souvenir (60 buah x @ 30.000) Rp. 1.800.000,-
9. Biaya tak terduga Rp. 500.000,-
Tahap Hasil Penelitian
10. Kertas, fotocopy dan tinta printer Rp. 600.000,- 11. Biaya kue / air minum (aqua) presentasi Rp. 600.000,- 12. Biaya survenir ( 40 buah x @ 30.000) Rp. 1.200.000,- 13. Biaya tak terduga Rp. 500.000,-
TOTAL Rp. 8.524.000,
BAB 4 HASIL
Penelitian ini bersifat observasional dengan metode pengumpulan data secara cross sectional yang dilakukan di Ruangan One Day Care Thalassemia Departemen Ilmu Kesehatan Anak dan Poliklinik Mata Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Subjek penelitian adalah penderita anak talasemia β mayor dengan jumlah 44 anak. Data di peroleh sejak bulan Februari 2019 sampai dengan April 2019. Pada sampel ini dilakukan pemeriksaan antropometri (meliputi : berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, indeks massa tubuh), Pemeriksaan biometri (meliputi : axial length, anterior chamber depth, lens thickness) dan pemeriksaan kelainan refraksi subjektif dengan trial and error. Berdasarkan subjek penelitian dapat diperoleh data sebagai berikut:
Tabel.4.1. Karakteristik Subjek Penelitian Pada Anak Talasemia β Mayor
Karakteristik Demografi Jumlah (n)
Visus Mata Kanan (VOD)
- 6/3.8 – 6/7.5 5 11.3%
- 6/9.5 – 6/19 38 86.4%
- 6/24 – 6/48 1 2.3%
Visus Mata Kiri (VOS)
- 6/3.8 – 6/7.5 7 15.9%
- 6/9.5 – 6/19 36 81.8%
- 6/24 – 6/48 1 2.3%
Diagnosa Mata Kanan
- Emetropia 5 11.3%
- Miopia 28 63.7%
- Hipermetropia 3 6.8%
- Astigmatisma 8 18.2%
Diagnosa Mata Kiri
- Emetropia 7 15.9%
- Miopia 23 52.3%
- Hipermetropia 2 4.5%
- Astigmatisma 12 27.3%
Pada tabel 4.1. Diatas menjelaskan bahwa subjek penelitian yang berusia 6 tahun - 11 tahun dijumpai sebanyak 23 orang (52.3%), subjek dengan usia 12 tahun – 18 tahun sebanyak 21 orang (47.7%). Subjek penelitian dengan jenis kelamin laki laki dijumpai sebanyak 23 orang subjek (52.3%) dan subjek jenis kelamin perempuan sebanyak 21 orang (47.7%). Subjek penelitian dengan suku jawa dijumpai sebanyak 30 orang (68.2%), suku aceh dijumpai sebanyak 4 orang (9.1%), suku minang dijumpai sebanyak 3 orang (6.7%), suku melayu dijumpai sebanyak 1 orang (2 .3%), suku tionghwa dijumpai sebanyak 1 orang (2.3%), suku karo dijumpai sebanyak 3 orang (6.8%), suku mandailing dijumpai sebanyak 1 orang (2.3%), suku sunda dijumpai sebanyak 1 orang (2.3%).
Subjek penelitian dengan visus mata kanan dijumpai : visus 6/3.8 – 6/7.5 (normal vision) sebanyak 5 mata (11.3%), visus 6/9.5 – 6/19 (mild vision loss) sebanyak 38 mata (86.4%), visus 6/24 – 6/48 (moderate vision loss) sebanyak 1 mata (2.3%). Subjek penelitian dengan visus mata kiri dijumpai : visus 6/3.8 – 6/7.5 (normal vision) sebanyak 7 mata (15.9%), visus 6/9.5 – 6/19 (mild vision loss) sebanyak 36 mata (81.8%), visus 6/24 – 6/48 (moderate vision loss) sebanyak 1 mata (2.3%).
Subjek penelitian dengan diagnosis emetropia mata kanan dijumpai sebanyak 5 mata (11.3%), miopia dijumpai sebanyak 28 mata (63.7%), hipermetropia dijumpai sebanyak 3 mata (6.8%), astigmatisma dijumpai sebanyak 8 mata (18.2 %). Subjek penelitian dengan diagnosis emetropia mata kiri dijumpai sebanyak 7 mata (15.9%), miopia dijumpai sebanyak 23 mata (52.3%), hipermetropia dijumpai sebanyak 2 mata (4.5%), astigmatisma dijumpai sebanyak 12 mata (27.3 %).
Tabel 4.2. Hubungan Antropometri Terhadap Axial Length Mata Kanan Dan Mata Kiri Pada Anak Talasemia β Mayor
Antropometri sebanyak 7 orang (70.0%) dan berat badan yang normal dengan axial length mata kanan yang tidak normal sebanyak 3 orang (30.0%). Sedangkan berat badan yang tidak normal dengan axial length mata kanan yang normal sebanyak 16 orang (47.1%) dan berat badan tidak normal dengan axial length mata kanan yang tidak normal sebanyak 18 orang (52.9%). Subjek penelitian yang memiliki berat badan yang normal dengan axial length mata kiri yang normal sebanyak 8 orang (80.0%) dan berat badan yang normal dengan axial length mata kiri yang tidak normal sebanyak 2 orang (20.0%). Sedangkan berat badan yang tidak normal dengan axial length mata kiri yang normal sebanyak 16 orang (47.1%) dan berat badan tidak normal dengan axial length mata kiri yang tidak normal sebanyak 18 orang (52.9%). Dari hasil Uji Exact Fisher, berat badan tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap axial length pada mata kanan (p = 0.175) dan axial length pada mata kiri (p = 0.083).
Subjek penelitian yang memiliki tinggi badan yang normal dengan axial length mata kanan yang normal sebanyak 8 orang (100.0%) dan tinggi badan yang normal dengan axial length mata kanan yang tidak normal sebanyak 0 orang
(.0%). Sedangkan tinggi badan yang tidak normal dengan axial length mata kanan yang normal sebanyak 15 orang (41.7%) dan tinggi badan tidak normal dengan axial length mata kanan yang tidak normal sebanyak 21 orang (58.3%). Subjek penelitian yang memiliki tinggi badan yang normal dengan axial length mata kiri yang normal sebanyak 7 orang (87.5%) dan tinggi badan yang normal dengan axial length mata kiri yang tidak normal sebanyak 1 orang (12.5%). Sedangkan tinggi badan yang tidak normal dengan axial length mata kiri yang normal sebanyak 17 orang (47.2%) dan tinggi badan tidak normal dengan axial length mata kiri yang tidak normal sebanyak 19 orang (52.8%). Dari hasil Uji Exact Fisher, tinggi badan menunjukan hubungan yang signifikan terhadap axial length pada mata kanan (p = 0.004) dan axial length pada mata kiri (p = 0.043).
Subjek penelitian yang memiliki lingkar kepala yang normal dengan axial length mata kanan yang normal sebanyak 22 orang (52.4%) dan lingkar kepala yang normal dengan axial length mata kanan yang tidak normal sebanyak 20 orang (47.6%). Sedangkan lingkar kepala yang tidak normal dengan axial length mata kanan yang normal sebanyak 1 orang (50.0%) dan lingkar kepala tidak normal dengan axial length mata kanan yang tidak normal sebanyak 1 orang (50.0%). Subjek penelitian yang memiliki lingkar kepala yang normal dengan axial length mata kiri yang normal sebanyak 23 orang (54.8%) dan lingkar kepala yang normal dengan axial length mata kiri yang tidak normal sebanyak 19 orang (45.2%). Sedangkan lingkar kepala yang tidak normal dengan axial length mata kiri yang normal sebanyak 1 orang (50.0%) dan lingkar kepala tidak normal dengan axial length mata kiri yang tidak normal sebanyak 1 orang (50.0%). Dari hasil Uji Exact Fisher, lingkar kepala tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap axial length pada mata kanan (p = 1.000) dan axial length pada mata kiri (p = 1.000).
Subjek penelitian yang memiliki indeks massa tubuh yang normal dengan axial length mata kanan yang normal sebanyak 16 orang (66.7%) dan indeks massa tubuh yang normal dengan axial length mata kanan yang tidak normal sebanyak 8 orang (33.3%). Sedangkan indeks massa tubuh yang tidak normal dengan axial length mata kanan yang normal sebanyak 7 orang (35.0%) dan indeks massa tubuh tidak normal dengan axial length mata kanan yang tidak
normal sebanyak 13 orang (65.0%). Subjek penelitian yang memiliki indeks massa tubuh yang normal dengan axial length mata kiri yang normal sebanyak 14 orang (58.3%) dan indeks massa tubuh yang normal dengan axial length mata kiri yang tidak normal sebanyak 10 orang (41.7%). Sedangkan indeks massa tubuh yang tidak normal dengan axial length mata kiri yang normal sebanyak 10 orang (50.0%) dan indeks massa tubuh kepala tidak normal dengan axial length mata kiri yang tidak normal sebanyak 10 orang (50.0%). Dari hasil Uji Chi Square, indeks massa tubuh tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap axial length pada mata kanan (p = 0.073) dan axial length pada mata kiri (p = 0.580).
Tabel 4.3. Hubungan Antropometri terhadap Anterior Chamber Depth Mata Kanan Dan Mata Kiri Pada Anak Talasemia β Mayor
Antropometri anterior chamber depth mata kanan yang tidak normal sebanyak 8 orang (80.0%).
Sedangkan berat badan yang tidak normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang normal sebanyak 4 orang (11.8%) dan berat badan tidak normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang tidak normal sebanyak 30 orang (88.2%). Subjek penelitian yang memiliki berat badan yang normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang normal sebanyak 5 orang (50.0%) dan
berat badan yang normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang tidak normal sebanyak 5 orang (50.0%). Sedangkan berat badan yang tidak normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang normal sebanyak 6 orang (17.6%) dan berat badan tidak normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang tidak normal sebanyak 28 orang (82.4%). Dari hasil Uji Exact Fisher, berat badan tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap anterior chamber depth pada mata kanan (p = 0.606) dan axial length pada mata kiri (p = 0.085).
Subjek penelitian yang memiliki tinggi badan yang normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang normal sebanyak 1 orang (12.5%) dan tinggi badan yang normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang tidak normal sebanyak 7 orang (87.5%). Sedangkan tinggi badan yang tidak normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang normal sebanyak 5 orang (13.9%) dan tinggi badan tidak normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang tidak normal sebanyak 31 orang (86.1%). Subjek penelitian yang memiliki tinggi badan yang normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang normal sebanyak 5 orang (62.5%) dan tinggi badan yang normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang tidak normal sebanyak 3 orang (37.5%).
Sedangkan tinggi badan yang tidak normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang normal sebanyak 6 orang (16.7%) dan tinggi badan tidak normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang tidak normal sebanyak 30 orang (83.3%).
Dari hasil Uji Exact Fisher, tinggi badan menunjukan hubungan yang signifikan terhadap anterior chamber depth pada mata kanan (p = 0.027) dan anterior chamber depth pada mata kiri (p = 0.016).
Subjek penelitian yang memiliki lingkar kepala yang normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang normal sebanyak 5 orang (11.9%) dan lingkar kepala yang normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang tidak normal sebanyak 37 orang (88.1%). Sedangkan lingkar kepala yang tidak normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang normal sebanyak 1 orang (50.0%) dan lingkar kepala tidak normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang tidak normal sebanyak 1 orang (50.0%). Subjek penelitian yang memiliki lingkar kepala yang normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang normal sebanyak 10 orang (23.8%) dan lingkar kepala yang normal dengan
anterior chamber depth mata kiri yang tidak normal sebanyak 32 orang (76.2%).
Sedangkan lingkar kepala yang tidak normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang normal sebanyak 1 orang (50.0%) dan lingkar kepala tidak normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang tidak normal sebanyak 1 orang (50.0%). Dari hasil Uji Exact Fisher, lingkar kepala tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap anterior chamber depth pada mata kanan (p = 0.257) dan anterior chamber depth pada mata kiri (p = 0.442).
Subjek penelitian yang memiliki indeks massa tubuh yang normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang normal sebanyak 4 orang (16.7%) dan indeks massa tubuh yang normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang tidak normal sebanyak 20 orang (83.3%). Sedangkan indeks massa tubuh yang tidak normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang normal sebanyak 2 orang (10.0%) dan indeks massa tubuh tidak normal dengan anterior chamber depth mata kanan yang tidak normal sebanyak 18 orang (90.0%). Subjek penelitian yang memiliki indeks massa tubuh yang normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang normal sebanyak 8 orang (33.3%) dan indeks massa tubuh yang normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang tidak normal sebanyak 16 orang (66.7%). Sedangkan indeks massa tubuh yang tidak normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang normal sebanyak 3 orang (15.0%) dan indeks massa tubuh kepala tidak normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang tidak normal sebanyak 17 orang (85.0%). Dari hasil Uji Exact Fisher, indeks massa tubuh tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap anterior chamber depth pada mata kanan (p = 0.673) dan anterior chamber depth pada mata kiri (p = 0.264).
Tabel 4.4 Hubungan Antropometri terhadap Lens Thickness Mata Kanan Dan Mata Kiri Pada Anak Talasemia β Mayor
Antropometri memiliki berat badan yang normal dengan lens thickness mata kanan yang normal sebanyak 1 orang (10.0%) dan berat badan yang normal dengan lens thickness mata kanan yang tidak normal sebanyak 9 orang (90.0%). Sedangkan berat badan yang tidak normal dengan lens thickness mata kanan yang normal sebanyak 8 orang (23.5%) dan berat badan tidak normal dengan lens thickness mata kanan yang tidak normal sebanyak 26 orang (76.5%). Subjek penelitian yang memiliki berat badan yang normal dengan lens thickness mata kiri yang normal sebanyak 4 orang (40.0%) dan berat badan yang normal dengan lens thickness mata kiri yang tidak normal sebanyak 6 orang (60.0%). Sedangkan berat badan yang tidak normal dengan lens thickness mata kiri yang normal sebanyak 7 orang (20.6%) dan berat badan tidak normal dengan lens thickness mata kiri yang tidak normal sebanyak 27 orang (79.4%). Dari hasil Uji Exact Fisher, berat badan tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap lens thickness pada mata kanan (p = 0.659) dan lens thickness pada mata kiri (p = 0.237).
Subjek penelitian yang memiliki tinggi badan yang normal dengan lens thickness mata kanan yang normal sebanyak 0 orang (0%) dan tinggi badan yang normal dengan lens thickness mata kanan yang tidak normal sebanyak 8 orang (100.0%). Sedangkan tinggi badan yang tidak normal dengan lens thickness mata
kanan yang normal sebanyak 9 orang (25.0%) dan tinggi badan tidak normal dengan lens thickness mata kanan yang tidak normal sebanyak 27 orang (75.0%).
Subjek penelitian yang memiliki tinggi badan yang normal dengan lens thickness mata kiri yang normal sebanyak 1 orang (12.5%) dan tinggi badan yang normal dengan lens thickness mata kiri yang tidak normal sebanyak 7 orang (87.5%).
Sedangkan tinggi badan yang tidak normal dengan lens thickness mata kiri yang normal sebanyak 10 orang (27.8%) dan tinggi badan tidak normal dengan a lens thickness mata kiri yang tidak normal sebanyak 26 orang (72.2%). Dari hasil Uji Exact Fisher, tinggi badan tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap lens thickness pada mata kanan (p = 0.142) dan lens thickness pada mata kiri (p = 0.656).
Subjek penelitian yang memiliki lingkar kepala yang normal dengan lens thickness mata kanan yang normal sebanyak 8 orang (19.0%) dan lingkar kepala yang normal dengan lens thickness mata kanan yang tidak normal sebanyak 34 orang (81.0%). Sedangkan lingkar kepala yang tidak normal dengan lens thickness mata kanan yang normal sebanyak 1 orang (50.0%) dan lingkar kepala tidak normal dengan lens thickness mata kanan yang tidak normal sebanyak 1 orang (50.0%). Subjek penelitian yang memiliki lingkar kepala yang normal dengan lens thickness mata kiri yang normal sebanyak 10 orang (23.8%) dan lingkar kepala yang normal dengan anterior chamber depth mata kiri yang tidak normal sebanyak 32 orang (76.2%). Sedangkan lingkar kepala yang tidak normal dengan lens thickness mata kiri yang normal sebanyak 1 orang (50.0%) dan lingkar kepala tidak normal dengan lens thickness mata kiri yang tidak normal sebanyak 1 orang (50.0%). Dari hasil Uji Exact Fisher, lingkar kepala tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap lens thickness pada mata kanan (p = 0.371) dan lens thickness pada mata kiri (p = 0.442).
Subjek penelitian yang memiliki indeks massa tubuh yang normal dengan lens thickness mata kanan yang normal sebanyak 5 orang (20.8%) dan indeks massa tubuh yang normal dengan lens thickness mata kanan yang tidak normal sebanyak 19 orang (79.2%). Sedangkan indeks massa tubuh yang tidak normal dengan lens thickness mata kanan yang normal sebanyak 4 orang (20.0%) dan indeks massa tubuh tidak normal dengan lens thickness mata kanan yang tidak
normal sebanyak 16 orang (80.0%). Subjek penelitian yang memiliki indeks massa tubuh yang normal dengan lens thickness mata kiri yang normal sebanyak 8 orang (33.3%) dan indeks massa tubuh yang normal dengan lens thickness mata kiri yang tidak normal sebanyak 16 orang (66.7%). Sedangkan indeks massa tubuh yang tidak normal dengan lens thickness mata kiri yang normal sebanyak 3 orang (15.0%) dan indeks massa tubuh kepala tidak normal dengan lens thickness mata kiri yang tidak normal sebanyak 17 orang (85.0%). Dari hasil Uji Exact Fisher, indeks massa tubuh tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap lens thickness pada mata kanan (p = 0.477) dan lens thickness pada mata kiri (p = 0.294).
Tabel 4.5 Hubungan Antropometri terhadap Miopia Mata Kanan Dan Mata Kiri Pada Anak Talasemia β Mayor
Pada Tabel 4.5. diatas menjelaskan bahwa subjek penelitian yang memiliki berat badan yang normal dengan diagnosa miopia mata kanan sebanyak 8 orang (80.0%) dan berat badan yang normal tanpa disertai miopia mata kanan sebanyak 2 orang (20.0%). Sedangkan berat badan yang tidak normal dengan diagnosa miopia mata kanan sebanyak 16 orang (47.1%) dan berat badan tidak normal tanpa disertai miopia mata kanan sebanyak 18 orang (52.9%). Subjek penelitian yang memiliki berat badan yang normal dengan diagnosa miopia mata kiri sebanyak 9 orang (90.0%) dan berat badan yang normal tanpa disertai miopia
mata kiri sebanyak 1 orang (10.0%). Sedangkan berat badan yang tidak normal dengan diagnosa miopia mata kiri sebanyak 11 orang (32.3%) dan berat badan tidak normal tanpa disertai miopia mata kiri sebanyak 23 orang (67.7%). Dari hasil Uji Exact Fisher, berat badan tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap miopia pada mata kanan (p = 0.083) dan hipermetropi pada mata kiri (p = 0.073).
Subjek penelitian yang memiliki tinggi badan yang normal dengan diagnosa miopia mata kanan sebanyak 5 orang (62.5%) dan tinggi badan yang normal tanpa disertai miopia mata kanan sebanyak 3 orang (37.5%). Sedangkan tinggi badan yang tidak normal dengan diagnosa miopia mata kanan sebanyak 19 orang (52.8%) dan tinggi badan tidak normal tanpa disertai miopia mata kanan sebanyak 17 orang (47.2%). Subjek penelitian yang memiliki tinggi badan yang normal dengan diagnosa miopia mata kiri sebanyak 5 orang (62.5%) dan tinggi badan yang normal tanpa disertai miopia mata kiri sebanyak 3 orang (37.5%).
Sedangkan tinggi badan yang tidak normal dengan diagnosa miopia mata kiri sebanyak 15 orang (41.6%) dan tinggi badan tidak normal tanpa disertai miopia mata kiri sebanyak 21 orang (58.4%). Dari hasil Uji Exact Fisher, tinggi badan tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap miopia pada mata kanan (p = 0.710) dan hipermetropi pada mata kiri (p = 0.440).
Subjek penelitian yang memiliki lingkar kepala yang normal dengan diagnosa miopia mata kanan sebanyak 23 orang (54.8%) dan lingkar kepala yang normal tanpa disertai miopia mata kanan sebanyak 19 orang (45.2%). Sedangkan lingkar kepala yang tidak normal dengan diagnosa miopia mata kanan sebanyak 1 orang (50.0%) dan lingkar kepala tidak normal tanpa disertai miopia mata kanan sebanyak 1 orang (50.0%). Subjek penelitian yang memiliki lingkar kepala yang normal dengan diagnosa miopia mata kiri sebanyak 19 orang (45.2%) dan lingkar kepala yang normal tanpa disertai miopia mata kiri sebanyak 23 orang (54.8%).
Sedangkan lingkar kepala yang tidak normal dengan diagnosa miopia mata kiri sebanyak 1 orang (50.0%) dan lingkar kepala tidak normal tanpa disertai miopia mata kiri sebanyak 1 orang (50.0%). Dari hasil Uji Exact Fisher, lingkar kepala tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap miopia pada mata kanan (p = 1.000) dan hipermetropi pada mata kiri (p = 1.000).
Subjek penelitian yang memiliki indeks massa tubuh yang normal dengan diagnosa miopia mata kanan sebanyak 15 orang (62.5%) dan indeks massa tubuh yang normal tanpa disertai miopia mata kanan sebanyak 9 orang (37.5%).
Sedangkan indeks massa tubuh yang tidak normal dengan diagnosa miopia mata kanan sebanyak 9 orang (45.0%) dan indeks massa tubuh tidak normal tanpa disertai miopia mata kanan sebanyak 11 orang (55.0%). Subjek penelitian yang memiliki indeks massa tubuh yang normal dengan diagnosa miopia mata kiri sebanyak 12 orang (50.0%) dan indeks massa tubuh yang normal tanpa disertai miopia mata kiri sebanyak 12 orang (50.0%). Sedangkan indeks massa tubuh yang tidak normal dengan diagnosa miopia mata kiri sebanyak 8 orang (40.0%) dan indeks massa tubuh tidak normal tanpa disertai miopia mata kiri sebanyak 12 orang (60.0%). Dari hasil Uji Chi Square, indeks massa tubuh tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap miopia pada mata kanan (p = 0.246) dan hipermetropi pada mata kiri (p = 0.606).
Tabel 4.6. Hubungan Antropometri Terhadap Hipermetropia Mata Kanan Dan Mata Kiri Pada Anak Talasemia β Mayor
Antropometri memiliki berat badan yang normal dengan diagnosa hipermetropia mata kanan
Antropometri memiliki berat badan yang normal dengan diagnosa hipermetropia mata kanan