IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Identitas Petani Responden
No Sarana dan Prasarana Jumlah (buah) 1 Sarana Pendidikan
Perpustakaan Desa
Gedung Sekolah PAUD
Gedung Sekolah TK
PAMI
Gedung SD/Sederajat
Gedung Sekolah SMP/Sederajat
Gedung Sekolah SMA/Sederajat
1 2 1 31
3 1 1 2 Prasarana Air bersih
Sumur Desa 6
3 Sarana Pemerintahan
Kantor Desa 1
4 Prasarana Ibadah
Masjid
Langgar
2 7 5 Prasarana Olahraga
Lapangan Sepak Bola
Lapangan Volly
Lapangan Sepak Takraw
1 1 1 6 Prasarana Kesehatan
Puskesmas
Posyandu
Polindes
MCK
1 2 1 3
Sumber Data RKP Desa Selat, 2022
4.2.1.Umur Petani
Umur merupakan faktor intern yang penting karena berpengaruh terhadap kemampuan fisik petani dalam mengelola usahatani dan umur akan mempengaruhi kemampuan fisik dan cara berpikir seseorang. Secara umum dapat di katakan bahwa semakin tua umur seseorang semakin rendah kemampuan fisik, berpikir dan produktivitas kerjanya. Demikian juga sebaliknya, dengan umur yang masih muda dan sehat fisik akan memiliki kemampuan fisik, cara berpikir nya lebih maju dalam mengadopsi inovasi baru dan produktivitas kerja yang tinggi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa umur petani padi sawah di Desa Selat yang dijadikan sebagai responden berkisar dari usia 31-65 tahun. Kategori umur terendah yaitu pada usia 31 dan tertinggi pada usia 65 tahun. Berikut distribusi petani responden berdasarkan umur di Desa Selat pada tabel berikut.
Tabel 10. Distribusi Frekuensi dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Umur di Daerah Penelitian Tahun 2022
Umur (Tahun) Frekuensi (Orang) Persentase (%)
31-35 4 5,8
36-40 12 17,4
41-45 10 14,5
46-50 8 11,6
51-55 14 20,3
56-60 15 21,7
61-65 6 8,7
Jumlah 69 100
Sumber : Hasil Olahan Data Primer Tahun, 2022
Tabel 10 menunjukan bahwa persentase tertinggi petani yang bertahan mengusahakan padi sawah berada pada kelompok 51-60 tahun yaitu sebesar 42%.
Sedangkan persentase umur petani yang bertahan mengusahakan padi sawah terendah 31-35 tahun yaitu sebesar 5,8%. Melakukan kegitan usahatani padi
sawah memerlukan tenaga yang masih kuat. Keadaan ini menunjukan bahwa di daerah penelitian jumlah umur petani yang produktif tergolong rendah.
Usia dari tenaga kerja adalah usia produktif bagi setiap individu. Usia bagi tenaga kerja berada diantaran 20 sampai 40 tahun, usia ini dianggap sangat produktif bagi tenaga kerja karena apabila usia dibawah 20 tahun rata-rata individu masih belum memiliki kematangan skill yang cukup selain itu juga masih dalam proses pendidikan. Sedangkan pada usia diatas 40 tahun mulai terjadi penurunan kemampuan fisik individu (Menurut Susantum (2000) dalam Pramdika (2019)).
4.2.2.Jumlah Anggota Keluarga Responden
Jumlah anggota keluarga dalam penelititan ini adalah semua orang yang tinggal bersama dengan petani sampel yaitu keluarga petani yang masih dinafkahi atau masih menjadi tanggungan hidup petani sampel, anggota keluarga tidak harus istri dan anak kandung saja. hasil penelitian menunjukan jumlah anggota keluarga petani di Desa Selat cukup bervariasi namun sebagian besar petani hanya memiliki jumlah anggota keluarga sebanyak 3 sampai 4 orang dimana dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Distribusi Frekuensi dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga di Daerah Penelitian Tahun 2022
Jumlah Anggota Keluarga Frekuensi (Orang) Persentase (%)
1-2 4 5,8
3-4 36 52,2
5-6 25 36,2
7-8 4 5,8
Jumlah 69 100
Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2022
Tabel 11 menunjukan jumlah anggota keluarga petani yang bertahan mengusahakan usahatani padi sawah terbanyak pada anggota keluarga yang berjumlah 3 sampai 4 orang yaitu sebanyak 36 orang atau 52,2%. Menurut Hernanto (1998), jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap pengelolaan kegiatan usahatani, petani yang memiliki jumlah anggota keluarga yang besar akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan mendorong petani untuk berkerja lebih giat meningkatkan hasil usahataninya demi kesejahteraan anggota keluarga.
4.2.3.Luas Lahan
Luas lahan usahatani adalah luas lahan yang dimiliki oleh petani serta keluarganya yang dinyatakan dalam satuan hektar. Maksudnya luas lahan yang di kelola petani responden sendiri dan keluarganya dalam kegiatan usahatani padi sawah. Semakin luas lahan yang diusahakan oleh petani maka garapan untuk memperoleh produksi dan produktifitas usahatani padi sawah akan semakin tinggi, dengan demikian petani berharap pendapatan akan semakin besar dengan memperluas usahataninya tersebut. Untuk status kepemilihan lahan yaitu lahan yang digunakan oleh petani Desa Selat untuk usahatani padi sawah merupakan lahan milik sendiri dan dimana petani memiliki lahan tersebut sudah sejak lama.
Menurut Soekartawi (2005), semakin banyak luas lahan yang di usahakan oleh petani garapan untuk memperoleh produksi dan produktifitas usahatani padi sawah akan semakin tinggi, dengan demikian petani berharap pendapatan akan semakin besar dengan memperluas usahataninya tersebut. Berdasarkan data yang di peroleh bahwa luas lahan yang dimiliki petani responden di daerah peneliti kategori luas lahan tertinggi 1 Ha sedangkan kategori luas lahan terendah kurang
dari 0,5 Ha. Untuk lebih jelasnya mengenai luas lahan yang dimiliki oleh petani sampel di Desa Selat dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Distribusi Frekuensi dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan di Daerah Penelitian Tahun 2022 Luas Lahan (Ha) Frekuensi (orang) Persentase (%)
< 0,5 21 30,4
0,5 – 0,9 32 46,4
1,0 – 1,4 15 21,8
1,5 – 2,0 1 1,4
Jumlah 69 100
Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2022
Tabel 12 Menunjukan bahwa petani yang memiliki tingkat luas lahan tertinggi dalam bertahan usahatani padi sawah 0,5 – 0,9 Ha dengan persentase 46,4%. Sedangkan petani yang memiliki tingkat luas lahan terendah dalam bertahan usahatani padi sawah 1,5 – 2,0 Ha dengan persentase 1,4%. Petani memiliki luas lahan yang relatif luas maka akan lebih mudah menerapkan inovasi dari pada yang memiliki lahan yang sempit. Luas lahan sangat mempengaruhi petani dalam berusaha tani, dengan harapan luas lahan yang cukup luas akan memperoleh hasil produktifitas yang tinggi.
4.2.4.Pendidikan
Pendidikan adalah hal yang paling penting sebagai dasar dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan pada umumnya berpengaruh pada cara berpikir petani yang akan melaksanakan kegiatan usahataninya, diharapkan semakin tinggi tingkat pendidikan petani akan diikuti pula oleh pola pikir yang semakin rasional. Petani yang lebih lama mendapatkan pendidikan formalnya besar kemungkinan akan lebih mudah menerima pembaharuan serta perubahan dalam cara berusahatani. Hal ini sejalan dengan pendapat (Soekartawi, 2005) mengemukakan bahwa mereka yang berpendidikan tinggi adalah relatif lebih
cepat dalam melaksanakan adopsi inovasi. Begitu pula sebaliknya mereka yang berpendidikan rendah sulit untuk melaksanakan adopsi inovasi dengan cepat.
Tingkat pendidikan petani sampel dalam penelitian ini adalah jenjang pendidikan formal yang pernah diikuti oleh petani. Distribusi frekuensi dan persentase petani sampel berdasarkan tingkat pendidikan formal di daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Distribusi Frekuensi dan Presentase Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Daerah Penelitian Tahun 2022
Tingkat Pendidikan Frekuensi (Orang) Persentase (%)
SD 42 60,9
SMP/sederajat 8 11,6
SMA/sederajat 19 27,5
Jumlah 69 100
Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2022
Tabel 13 diatas menunjukan bahwa tingkat pendidikan petani sampel di daerah penelitian yang paling dominan mengenyam pendidikan tingkat SD/Sederajat sebanyak 42 orang atau sebesar 60,9% dari total petani sampel.
Artinya petani memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah paling banyak dalam bertahan mengusahakan usahatani padi sawah. Namun hal ini tidak menghalangi petani responden yang merupakan tamatan SD/Sederajat untuk bertahan mengusahakan usahatani padi sawah dalam memenuhi kebutuhan beras keluarga dan mengelolah usahatani padi sawah petani Desa Selat sudah diajarkan dan dibiasakan oleh orang tua mereka untuk turun ke sawah sewaktu mereka kecil.