• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Identitas Petani Responden

Musholla/Langgar sebanyak 32. Sedangkan untuk tempat ibadah lainnya seperti Gereja Kristen, Katolik dan Protestan, Wihara dan Pura tidak ada di Kecamatan Kayu Aro. Hal ini menunjukkan bahwa di Kecamatan Kayu Aro masyarakatnya memeluk Islam.

4.2 Identitas Petani Responden

Tabel 7. Frekuensi dan Presentase Berdasarkan Kelompok Usia di Kecamatan Kayu Aro, Tahun 2022

Kelompok Usia (Tahun) Frekuensi (Orang) Persentase (%)

25-30 10 13,3

31-36 16 21,4

37-42 19 25,3

43-48 15 20,0

49-54 12 16,0

55-60 3 4,0

Jumlah 75 100,0

Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2022

Tabel 7 menunjukkan bahwa umur petani responden di daerah penelitian berkisar antara 25 sampai 60 tahun. Kelompok umur terbesar berkisar antara 37 sampai 42 tahun sebanyak 25,3 %, sedangkan kelompok umur terendah berkisar antara 55 sampai 60 tahun dengan sebanyak 4 %. Menurut BPS (2021) menjelaskan bahwa usia produktif di Indonesia berada diantara rentang 15 tahun sampai 65 tahun, sehingga di daerah penelitian petani responden masih dalam usia produktif. Pada usia produktif petani diharapkan dapat meningkatkan produksi usahatani kentang di daerah penelitian dan juga diharapkan dalam penggunaan tenaga kerja pada usia produktif dapat menurunkan risiko dan mencegah kesalahan teknis dalam kegiatan budidaya usahatani kentang.

4.2.3 Jumlah Anggota Keluarga

Banyaknya anggota keluarga menyebabkan banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi, hal ini akan mendorong petani untuk bekerja lebih giat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, selain itu anggota keluarga juga dapat dijadikan sebagai sumber

tenaga kerja, teruatama bagi anggota keluarga berada pada usia produktif. Jumlah anggota keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah banyaknya anggota keluarga yang berada dalam rumah tangga petani yang terdiri ayah, ibu dan anak yang masih menjadi tanggungan kepala keluarga. Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dikaitkan dengan jumlah penggunaan (sumbangan) tenaga kerja terhadap kegiatan produksi usahatani. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin banyak pula tenaga kerja yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi usahatani sehingga produktivitas akan lebih tinggi, dan demikian juga sebaliknya. Jumlah anggota keluarga petani kentang di daerah penelitian dapat dilihat Tabel 8.

Tabel 8. Frekuensi dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga di Daerah Penelitian, Tahun 2022

Jumlah Tanggungan Keluarga (Orang)

Frekuensi (Orang) Persentase (%)

2 2 2,67

3 16 21,33

4 35 46,67

5 17 22,67

6 5 6,67

Jumlah 75 100,0

Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2022

Tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar petani sampel berada sebesar 46,67 % tergolong ke dalam kelompok tanggungan keluarga sebanyak empat orang dan yang paling rendah berada pada kelompok dengan tanggungan keluarga sebanyak dua orang sebesar 2,67 %. Anggota keluarga merupakan modal tenaga kerja dalam keluarga. Hal ini sesuai dengan pendapat Hernanto (1996) yang menyatakan bahwa jumlah anggota keluarga sangat berpengaruh dalam pengelolaan suatu kegiatan ekonomi, khususnya terhadap kegiatan ekonomi pada usahatani petani tersebut.

Jumlah rumah tangga yang dimaksud adalah banyaknya jumlah anggota keluarga yang terdapat dalam rumah tangga petani tersebut. Di daerah penelitian tenaga kerja yang dalam proses usahatani kentang adalah tenaga kerja dalam keluarga dan luar keluarga.

4.2.4 Tingkat Pendidikan

Pengetahuan intelektual seseorang dapat mempengaruhi oleh tingkat Pendidikan formal. Pendidikan adalah hal yang mendasar untuk seseorang dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk berusaha. Petani yang memilki Pendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan yang luas dan akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk menerima inovasi terbaru. Secara umum mata pencaharian penduduk di daerah penelitian adalah berusahatani, sehingga pendidikan sangat penting dalam keputusan petani untuk menentukan besaran input produksi dan macam input yang digunakan dalam berusahatani. Adapun tingkat pendidikan petani dapat dilihat Tabel 9.

Tabel 9. Frekuensi dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Daerah Penelitian, Tahun 2022

Tingkat Pendidikan Jumlah Petani (Orang) Persentase (%)

Tidak Tamat SD 9 12,00

SD 23 30.67

SMP 23 30,67

SMA 20 26,66

Jumlah 75 100,0

Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2022

Tabel 9 menujukkan bahwa tidak semua petani menyelesaikan pendidikan formal, sebanyak 9 petani responden atau sekitar 12 % tidak tamat Sekolah Dasar.

Sebanyak 23 petani responden atau sekitar 30,67 % menempuh Pendidikan hingga jenjang Sekolah Dasar, 23 petani responden atau sekitar 30,67 % menempuh hingga

jenjang Sekolah Menengah Pertama dan 20 petani responden atau sekitar 26,66 % menempuh Pendidikan hingga Sekolah Menengah Atas. Menurut Hernanto dalam Pebri (2021), tingkat pendidikan akan mempengaruhi pola fikir, menerima dan mencoba hal baru. Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi tentu akan lebih berhati-hati dalam menentukan untuk menerima ataupun menolak suatu inovasi. Petani menjadi lebih terbuka dalam penerapan kemajuan teknologi yang bisa membantu kemudahan dibidang pelaksanaan teknis usahataninya.

4.2.5 Pengalaman Berusahatani

Pengalaman usahatani merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam berusahatani. Petani yang sudah lama berusahatani memiliki tingkat pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang tinggi dalam menjalankan usahatani. Pengalaman berusahatani yang baik dimaksud adalah lamanya petani responden mengusahakan usahatani kentang. Adapun distribusi pengalaman berusahatani petani responden di daerah penelitian dapat dilihat Tabel 10.

Tabel 10. Frekuensi dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Berusahatani di Daerah Penelitian, Tahun 2022.

Pengalaman Berusahatani (tahun)

Jumlah Petani

Frekuensi (Orang) Persentase (%)

3-8 11 14,66

9-13 13 17,33

14-19 17 22,66

20-25 18 24,00

26-31 8 10,66

32-37 5 6,66

38-43 3 4,00

Jumlah 75 100,0

Sumber : Hasil Olahan Data Primer, 2022

Tabel 10 menunjukkan bahwa pengalaman usahatani petani di daerah penelitian terendah 4 tahun dan yang terlama 44. Pengalaman berusahatani terbanyak di daerah penelitian yaitu 20 sampai 25 tahun sebesar 24 %. Rata-rata petani di daerah penelitian memiliki pengalaman berusahatani selama 18-20 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa petani di daerah penelitian telah cukup memiliki pengalaman dalam melakukan usahatani kentang sehingga cenderung memahami kondisi usahataninya dalam mengambil keputusan. Hal ini sejalan dengan Hernanto (1996), bahwa pengalaman berusahatani termasuk faktor yang paling menentukan keberhasilan suatu usaha karena bermanfaat agar digunakan dalam pertimbangan usaha dan pengambilan keputusan pada proses produksi, pengelolaan dan pemasaran hasil usahatani. Pengalaman petani dapat mengembangkan kegiatan usahataninya di masa mendatang karena semakin lama bekerja seseorang diharapkan akan lebih baik dalam melaksanakan usahataninya.

4.3 Gambaran Umum Budidaya Usahatani Kentang di daerah Penelitian

Dokumen terkait