• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDEOLOGI DAN KEPEMIMPINAN DALAM GERAKAN TAN

MENCAPAI TUJUANNYA Erpan Faryad

IDEOLOGI DAN KEPEMIMPINAN DALAM GERAKAN TAN

Salah satu fundamen penting dalam membangun kekuatan kaum tani adalah ideologi gerakan tani. Pemikir dan pemimpin terpenting dalam masalah ini adalah Mao Tje-tung,1 pendiri negara Tiongkok

modern. Mao berpandangan bahwa kaum tani terutama lapisan tani miskin merupakan kekuatan pokok perubahan atau revolusi. Dia menegaskan, “Tanpa tani miskin tidak akan ada revolusi. Menyangkal mereka berarti menyangkal revolusi. Memukul mereka berarti memukul revolusi. Arah umum revolusi mereka selamanya tidak salah.” (Mao Tje-tung, 1967: 40). Pandangan yang dianut oleh Mao Tje-tung ini kemudian terbukti tepat ketika dia memimpin gerakan revolusioner di Tiongkok yang bertumpukan pada kekuatan kaum tani miskin sebagai lapisan tani dengan massa terluas dan mempunyai sikap revolusioner bersama-sama dengan kekuatan proletariat yang lain dan lalu membangun Tiongkok Baru.

Belajar dari pengalaman Tiongkok ini, banyak gerakan- gerakan pembebasan nasional dari sejumlah negeri di mana kaum tani masih merupakan mayoritas penduduk, menimba inspirasi. Artinya, mau tidak mau, suka tidak suka, memang gerakan tani di mana pun penuh dengan nuansa ideologis, yang dikaitkan dengan perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat atau revolusi. Dari sini dapat ditarik pandangan bahwa gerakan tani yang efektif dan kuat hanya akan mungkin terjadi bila dia terkait atau bahkan

dipimpin oleh kepemimpinan politik yang lebih luas atau partai politik yang mempunyai pandangan hendak merubah susunan masyarakat secara radikal.

Kepemimpinan politik inilah yang memberikan panduan agar gerakan-gerakan tani untuk pendudukan tanah tidak semata- mata merebut tanah-tanah dari musuh-musuhnya, namun juga menegaskan arah selanjutnya dari perebutan itu adalah mengubah corak produksi yang sebelumnya individual menjadi corak produksi yang kolektif. Hanya melalui cara inilah perebutan tanah yang merupakan alat produksi terpenting dalam dunia pertanian yang banyak kita saksikan di Indonesia hari ini dapat dimenangkan oleh kaum tani guna mencapai tujuan keadilan agraria. Tidak ada cara lain.

Dengan demikian, gerakan pendudukan tanah yang dilakukan petani dihadapkan pada sejumlah tantangan penting yakni bagaimana mengorganisasikan kaum tani ke dalam serikat tani, bagaimana memukul kekuatan tuan tanah di bidang politik dan ekonomi, sehingga bisa membangun kebudayaan yang ilmiah di pedesaan.

Kaum tani Indonesia pasca reformasi 1998 sudah berhasil menunjukkan kebangkitannya melalui gerakan-gerakan pendudukan tanah. Namun sebagaimana contoh studi kasus Tanah Cieceng memperlihatkan, gerakan tani yang terjadi tidak berhasil mengubah corak produksi yang ada dan bahkan menyerahkan kepemimpinan organisasi pada tingkat lokal kepada kelas-kelas yang sebenarnya tidak berkepentingan terhadap perubahan nasib petani, yakni para bandar (kayu albasia). Nasib petani yang dimaksudkan di sini adalah nasib tani miskin, yang merupakan mayoritas penduduk pedesaan. Sehingga relasi produksi yang terjadi seperti ditunjukkan dalam studi itu adalah para petani menjadi penanam

semata (outgrower) di mana beban dan biaya produksi lebih banyak ditanggung oleh mereka, dan menjadi pemasok bahan mentah untuk kepentingan pabrik kayu PT BKL. Jelas ini bukan tujuan pendirian awal SPP saat memimpin gemuruh perebutan tanah beberapa tahun belakangan ini.

Catatan lainnya adalah mengenai komoditas pertanian dan rekonsentrasi penguasaan tanah. Cukup aneh jika melihat komoditas yang ditanam di Cieceng dalam enam tahun terakhir adalah kayu albasia dan jabon, karena tanaman yang ditanam sebelumnya adalah tanaman pisang. Perubahan komoditas ini tentu saja merubah beban biaya produksi yang harus ditanggung petani dan masalah-masalah bertahan hidup bagi petani dalam periode sejak menanam kayu hingga memanennya yang diperkirakan butuh waktu minimal 4 tahun untuk menghasilkan kualitas kayu albasia yang baik untuk ukuran pasokan ke pabrik kayu. Meskipun kapol dikatakan dapat membantu, namun posisi petani di sini adalah pemasok kapol (bahan mentah) untuk industri minyak atsiri. Dan terjadinya rekonsentrasi penguasaan tanah di tangan segelintir orang di Cieceng jelas merupakan kesalahan besar yang memerlukan koreksi besar dari organisasi, karena menyimpang dari tujuan perebutan tanah.

Koreksi di bidang organisasi yang harus segera dilakukan adalah mendudukkan kembali peran dan kepemimpinan tani miskin di dalam organisasi tingkat lokal. Tani miskin atau kelas semi-proletariat2 pedesaan adalah orang yang penghidupannya

di kalangan kaum tani paling susah dan karenanya sangat mendambakan perubahan yang radikal. Dalam pandangan Mao Tje- tung, mereka (tani miskin) membutuhkan revolusi untuk mengubah keadaan sekarang. Karena jumlahnya mayoritas dalam masyarakat tani dan paling revolusioner, maka tani miskin mempunyai hak

untuk memimpin dalam serikat tani (Mao Tje-tung, 1967:40).

KESIMPULAN

Pembetulan yang harus dilakukan di Cieceng pertama-tama adalah koreksi di bidang organisasi. Merujuk pada watak kelasnya yang revolusioner dan jumlahnya yang banyak, maka hak memimpin organisasi tani pada tingkat lokal ada pada kelas yang dinamakan tani miskin. Di dalam sejarah perjuangan kaum tani yang pernah ada, terutama merujuk pada pengalaman Mao Tje-tung ketika memimpin revolusi Tiongkok, di bawah kepemimpinan tani miskin, organisasi tani akan jauh lebih maju di dalam merumuskan langkah-langkah ekonomi dan politik pasca perebutan tanah.

Perebutan tanah yang ada seperti telah ditunjukkan dalam hasil studi kasus tanah Cieceng memperlihatkan bahwa arah gerakan perebutan tanah yang semula dimaksudkan untuk mewujudkan keadilan agraria bagi kaum tani ternyata dapat melenceng ke arah yang berlawananan, yakni terjadinya rekonsentrasi penguasaan tanah. Hal ini seperti telah dijelaskan karena kepemimpinan organisasi tani tidak terletak pada kelas yang tepat untuk memimpin perjuangan kaum tani.

Kepemimpinan organisasi tani tidak boleh mengandalkan pada ketokohan masyarakat, ketokohan agama ataupun kemampuan ekonominya, namun harus berdasarkan watak kelasnya yang revolusioner dan jumlahnya yang luas di pedesaan, yaitu kelas tani miskin. Yakinlah, di bawah kepemimpinan kelas tani miskin, organisasi tani akan maju melesat menggempur musuh-musuh kaum tani dan mengubah corak produksi yang merupakan dasar dari pengubahan masyarakat.

Catatan Belakang

1 Mao Tje-tung, “Laporan tentang Penjelidikan Gerakan Tani di Hunan,” dalam

Pilihan Karja Mao Tje-tung Djilid I. Peking: Pustaka Bahasa Asing, 1967.

2 Mao Tje-tung, “Analisa Klas-klas dalam Masjarakat Tiongkok,” dalam Pilihan

PENDAHULUAN

Perubahan politik di Indonesia pada tahun 1998 banyak menimbulkan harapan terbukanya peluang penyelesaian permasalahan agraria yang tampak mengalami jalan buntu dan menjadi ruang yang dipenuhi dengan kekerasan saat berkuasanya pemerintahan orde baru. Harapan akan perubahan dalam kebijakan agraria pun meningkat, sampai akhirnya muncul TAP MPR no. IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Walaupun demikian, ketetapan tersebut tak serta merta melancarkan jalan menuju dijalankannya Reforma agraria di Indonesia, bahkan telah menimbulkan banyak perdebatan, salah satunya adalah karena TAP MPR No. IX/2001 dianggap sebagai jalan masuk agenda neoliberal yang akan mengintensifkan kerja kapital. Namun bagi beberapa pihak ketetapan MPR ini membuka peluang untuk memasukkan isu reforma agraria kedalam arus kebijakan pemerintah, khususnya untuk memberikan peluang bagi pengambil kebijakan untuk membuat berbagai peraturan yang bersifat operasional berdasarkan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan oleh Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) 1960.1

REDISTRIBUSI LAHAN DI CIPARI,