Gambar II.4. Permasalahan Danau Rawapening
2.3. KONDISI DAN PERMASALAHAN KELEMBAGAAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, beberapa persoalan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan Rawapening bersifat multidimensional. Beberapa permasalahan di bidang manajemen kelembagaan antara lain:
a. Adanya pergeseran sistem pemerintahan yang menuntut kesiapan stakeholder untuk mengelola kawasan Rawapening dengan baik. b. kebijakan otonomi daerah yang menekankan pada batas administrasi,
sementara pengelolaan Kawasan Rawapening tidak sama dengan batas administrasi sehingga menghambat pengelolaan apalagi ada undang-undang otonomi daerah.
II - 19
c. Kelembagaan dan koordinasi dalam rangka menangani pengelolaan sumberdaya air belum berjalan secara optimal, peran kelembagaan yang ada (Rembug Rawapening) belum mantap, akibatnya setiap benefecieries bertindak bebas tanpa ada peraturan yang mengatur setiap aktifitas baik di daerah tangkapan air maupun inti danau Rawapening, yang cenderung menimbulkan konfllik.
d. Kegiatan-kegiatan pembangunan yang selama ini dilakukan masih menggunakan pendekatan kebijakan topdown approach dan bersifat sektoral serta kedaerahan. Oleh karena itu, perlu ada koordinasi antara bottom up dan top-down opproach
e. Masih adanya ego sektoral dan kepentingan sehingga menimbulkan potensi konflik yang tinggi.
f. Belum terciptanya pengelolaan sumberdaya air dengan menggunakan pendekatan regional,
g. Belum tersedianya data base pengelolaan lingkungan hidup yang mengintegrasikan antara teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dengan sistem informasi geografi yang lebih akurat.
h. Belum tersosialisasinya misi pelayanan pemerintah kepada masyarakat,
i. Kurang optimalnya komitmen masing-masing stakeholder yang terus menerus mengupayakan pelestarian Rawapening
j. Tidak tegaknya pengaturan air oleh pintu air (PLTA) Tuntang menimbulkan konflik antara petani lahan pasang surut rawa (kabupaten Sernarang) dengan petani hilir (terutama Kabupaten Grobogan)
k. Tidak ada pengaturan penambangan gambut di Rawapening yang memberikan keuntungan besar bagi pengusahanya.
l. Belum dimilikinya grand design mengakibatkan arah action plan tidak jelas bagi dinas/ instansi yang terkait, sehingga program-program yang dijalankan bersifat sektoral yang mengakibatkan overlapping program dan pemborosan.
Berdasarkan persoalan tersebut diatas maka Permasalahan kelembagaan, dapat dibagi menjadi 2, yaitu kelembagaan baik formal
II - 20
maupun informal dan belum adanya grand design. Belum optimalnya kelembagaan yang ada baik formal maupun informal mengakibatkan belum optimalnya proses kebijakan pengelolaan air yang mantap, ditambah belum adanya peraturan yang mengatur setiap aktivitas baik di daerah tangkapan maupun pada inti danau sehinga memicu timbulnya konflik. Peran kelembagaan informal berupa kearifan lokal merupakan potensi kekuatan masih dapat lebih ditingkatkan. Nilai Ngepen dan
Wening telah ditinggalkan baik oleh masyarakat di sekitar Danau Rawapening maupun oleh negara.
Belum dimilikinya grand desain menyebabkan arah action plan
tidak jelas bagi dinas/instansi yang terkait, sehingga program-program yang dijalankan bersifat sektoral yang mengakibatkan overlapping
program, kerancuan kewenangan dan tanggungjawab program dan pemborosan.
Diperlukan kerjasama dan partisipasi aktif dari sfakeholder lainnya terutama masyarakat yang berada di Kawasan Rawapening. Hal ini perlu ada dukungan kerjasama yang baik antara berbagai stakeholder yang ada serta di dukung dengan dana yang memadai, di samping itu pedoman penanganan kawasan Rawapening yang terpadu dan operasional sangat diperlukan.
2.4. Kondisi dan permasalahan kemasyarakatan
Sesungguhnya masyarakat Jawa Tengah khususnya di sekitar danau Rawapening telah memiliki falsafah/ kearifan budaya dalam menyikapi proses pemberdayaan masyarakat. Falsafah tersebut hingga kini masih tetap lestari dan melekat dalam sanubari masyarakat Jawa Tengah. Memberdayakan masyarakat dengan pola yang sudah dikenal masyarakat adalah inti dari proses pelaksanaan program ini.
Dalam falsafah jawa masyarakat disebut dengan " Brayat " atau keluarga. Setiap anggota keluarga, baik anak-anak, orang tua, pegawai, swasta, petani dan lain-lain, diakui eksistensi dan diberi peran sesuai kemampuannya. Pengejawantahan falsafah tersebut adalah tidak akan ada
II - 21
pemisahan atau perbedaan menurut kelompok atau status di dalam masyarakat. Perbedaan - perbedaan yang ada dikelola dan diharapkan mampu menunjang tujuan program yaitu masyarakat mampu saling belajar dan membangkitkan potensi dirinya dalam mencapai tujuannya.
Meskipun secara kultural peran Pemerintah dan pemrakarsa, memiliki peran penting, tetapi titik berat perannya lebih bersifat "Tut Wuri Handayani" dan masyarakatlah yang menjadi subyek kegiatan ini.
Pada prinsipnya pelaksanaan program penyelamatan Rawapening dilakukan dengan melibatkan segenap potensi masyarakat yang ada. Mekanisme pelaksanaan adalah memfasilitasi masyarakat untuk mampu melaksanakan tujuan program secara mandiri dan berkelanjutan. Pemberian fasilitas dimaksudkan untuk menjembatani masyarakat langsung dengan konsumen produk yang dihasilkan oleh masyarakat.
Dalam UU nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) dinyatakan bahwa tujuan pemberdayaan masyarakat adalah meningkatkan keberdayaan masyarakat melalui penguatan lembagaan dan organisasi masyarakat setempat, penanggulangan kemiskinan, dan perlindungan sosial masyarakat, peningkatan keswadayaan masyarakat luas guna membantu masyarakat untuk meningkatkan ekonomi.
Visi pemberdayaan masyarakat adalah peningkatan kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi dinamis yang memungkinkan masyarakat mampu membanguan diri dan lingkungannya berdasarkan potensi, kebutuhan aspirasi dan wewenangan yang ada pada masyarakat sendiri dengan difasilitasi oleh pemerintah dan seluruh stakholders pemberdayaan masyarakat.
Misi Pemberdayaan masyarakat adalah mengembangkan kemampuan dan kemandirian masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan, agar secara bertahap masyarakat mampu membangun diri dan lingkungan secara mandiri melalui : Peningkatan keswadayaan masyarakat, pemantapan nilai-nilai budaya masyarakat, pengembangan usaha ekonomi masyarakat, peningkatan pemanfatan sumberdaya alam yang berwawasan lingkungan, peningkatan pemanfaatan teknologi tepat guna sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
II - 22
Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat adalah mengembangkan kemandirian masyarakat dalam seluruh aspek kehidupannya, melalui pemberdayaan masyarakat dalam aspek ekonomi, sosial-budaya, politik dan lingkungan hidup. Strategi Pemberdayaan Masyarakat adalah : pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, pengembangan aspirasi dan partisipasi masyarakat, pengorganisasian dan pelembangaan masyarakat, pemberdayaan masyarakat perkotaan dan perdesaan, berpihak pada pengembangan ekonomi rakyat, pendekatan lintas sektor dan program, mendayagunakan teknologi tepat guna sesuai kebutuhan masyarakat.
III - 1