Potensi pemanfaatan lahan di Perkotaan Ende sebagai Ruang Terbuka Hijau sangat besar. Prosentase lahan terbangun dan tak terbangun mencapai 36%:64%. Berdasarkan ketersediaan lahan tersebut, diarahkan untuk perencanaan Ruang Terbuka Hijau yang terbagi atas Ruang Terbuka Hijau publik dan Ruang Terbuka Hijau privat. Hasil analisa mengarahkan pembagian lahan untuk Ruang Terbuka Hijau sebesar 20% dari total luas lahan wilayah perencanaan. Ruang Terbuka Hijau publik akan direncanakan pada beberapa lokasi yang tersebar di seluruh Kecamatan Perkotaan Ende berupa jalur hijau, taman dan hutan kota.
c. Kawasan Permukiman Khusus
Permukiman pada kawasan khusus, meliputi :
Kawasan permukiman yang timbul akibat perkembangan infrastruktur di kawasan perkotaan Ende akibat pengembangan industri;
Permukiman yang timbul akibat kegiatan sentra ekonomi;
Permukiman di sekitar pintu Perkotaan Ende diarahkan untuk permukiman dengan intensitas tinggi, memiliki kegiatan utama perumahan, perdagangan- jasa dan industri. Untuk menghindari kepadatan lalu-lintas yang tinggi di kawasan ini, maka diperlukan penataan kawasan dengan menghindari perkembangan linier; serta
Permukiman yang timbul akibat kegiatan sentra ekonomi/produksi dan perindustrian, diarahkan pengembangannya sebagai bagian dari pengembangan kawasan industri, mengingat dengan terserapnya tenaga kerja untuk industri yang cukup besar membawa konsekuensi diperlukannya permukiman bagi tenaga kerja tersebut yang dekat dengan lokasi kerjanya.
Permukiman Transmigrasi
Kegiatan permukiman transmigrasi dikembangkan untuk mendukung kegiatan ekonomi produksi dibidang pertanian. Dalam upaya mendukung terciptanya lingkungan perumahan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka kawasan budidaya juga dialokasikan untuk mendukung permukiman yaitu:
Kawasan permukiman meliputi kawasan yang didominasi oleh lingkungan hunian dengan fungsi utama sebagai tempat tinggal.
Kawasan permukiman transmigrasi dan atau permukiman baru merupakan kawasan yang diarahkan pada kawasan marginal untuk hunian transmigran atau pemukim baru, memiliki luas tertentu dan lahan usaha produksi pertanian yang bersifat terpusat.
Untuk kawasan permukiman di Kabupaten Ende sudah dibangun wilayah transmigrasi yang terletak di Kecamatan Wewaria dengan luas ± 500 Ha, akan tetapi setelah dilakukan pengukuran terjadi perubahan menjadi 203.31 Ha hal ini dikarenakan dari tanah yang digunakan juga terdapat tanah milik masyarakat
RPIJM KABUPATEN ENDE
III - 91
setempat. Saat ini jumlah rumah yang ada yaitu sekitar 200 KK dan sudah ditempati. Untuk permukiman perkotaan terdapat di tiap pusat kota, sedangkan permukiman pedesaan terdapat di Desa Wewaria Dusun - Kopanda II, Desa Aimuri – Dusun Aekole dengan jumlah 100 rumah dengan luas 300 Ha. Kabupaten Ende memiliki program Wilayah Pengembangan Transmigrasi (RWPT) yang belokasi di Maukaro . Dalam pengembangan WPT Maukaro juga harus mengacu pada kriteria yang ditetapkan dalam pengembangan ketransmigrasian sesuai Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: Kep.231/Men/2002 tentang Kriteria Usulan Program Penyiapan Permukiman, Perpindahan dan Penempatan serta Pemberdayaan Masyarakat Binaan dalam Penyelenggaraan Ketransmigrasian.
Rencana Pengembangan Transmigrasi dalam bentuk Unit Pengembangan Transmigrasi untuk Kabupaten Ende tersebar pada wilayah berikut :
UPT Detubara Kec. Maurole
UPT Kolikopa / Dataran Ogo Kec. Maukaro
UPT Wolumuku Kec. Detukeli
UPT Niosangga Kec. Detukeli
UPT Ngumbelaka / Peibenga Kec. Kelimutu
UPT Wajokalo Kec. Kota Waru
UPT Tiwusora Kec. Kota Baru
Berdasarkan karakteristik permukiman yang ada di Kabupaten Ende, maka secara umum Rencana pengelolaan kawasan permukiman meliputi :
a. Secara umum kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan harus dapat menjadi tempat hunian yang aman, nyaman dan produktif, serta didukung oleh sarana dan prasarana permukiman;
b. Setiap kawasan permukiman dilengkapi dengan sarana dan prasarana permukiman sesuai hirarki dan tingkat pelayanan masing-masing;
c. Permukiman perdesaan sebagai hunian berbasis agraris, dikembangkan dengan memanfaatkan lahan pertanian, halaman rumah, dan lahan kurang produktif sebagai basis kegiatan usaha;
d. Permukiman perdesaan yang berlokasi di pegunungan dikembangkan dengan berbasis perkebunan dan agrowisata, disertai pengolahan hasil. Permukiman perdesaan yang berlokasi di dataran rendah, basis pengembangannya adalah pertanian tanaman pangan dan perikanan darat, serta pengolahan hasil pertanian. Selanjutnya perdesaan di kawasan pesisir dikembangkan pada basis ekonomi perikanan dan pengolahan hasil ikan;
e. Permukiman perkotaan diarahkan pada penyediaan hunian yang layak dan dilayani oleh sarana dan prasarana permukiman yang memadai;
f. Perkotaan besar dan menengah penyediaan permukiman yang disediakan oleh pengembang dan masyarakat, perbaikan kualitas permukiman dan pengembangan perumahan secara vertikal;
RPIJM KABUPATEN ENDE
III - 92
g. Membentuk cluster-cluster permukiman untuk menghindari penumpukan dan penyatuan antar kawasan permukiman, dan diantara cluster permukiman disediakan ruang terbuka hijau;
h. Pengembangan permukiman perkotaan kecil dilakukan melalui pembentukan pusat pelayanan kecamatan; serta
i. Pengembangan permukiman kawasan khusus seperti penyediaan tempat peristirahatan pada kawasan pariwisata, kawasan permukiman baru sebagai akibat perkembangan infrastruktur, kegiatan sentra ekonomi, sekitar kawasan industri, dilakukan dengan tetap memegang kaidah lingkungan hidup dan bersesuaian dengan rencana tata ruang.
2. Ruang Peruntukan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Pengertian Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota menurut UU No. 26 Tahun 2007 adalah area memanjang atau jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Pembagian RTH kawasan perkotaan terdiri dari RTH publik dan RTH privat. RTH publik merupakan RTH yang dimiliki oleh kota/kawasan perkotaan yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Yang termasuk RTH publik adalah taman kota, taman pemakaman umum, dan jalur hijau sepanjang jalan, sungai, dan pantai. Sedangkan yang termasuk RTH privat adalah kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan.
Proporsi RTH kawasan perkotaan di wilayah Kabupaten Ende adalah paling sedikit 30 % dari luas kawasan perkotaan, yang diisi oleh tanaman baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja di tanam. Pembagian RTH ini terdiri dari RTH publik paling sedikit 20 % dan RTH privat 10 %. Distribusi RTH kawasan perkotaan disesuaikan dengan sebaran penduduk dan hierarki pelayanan dengan memperhatikan rencana struktur dan pola ruang wilayah.
Proporsi 30 % merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem /kawasan perkotaan, baik keseimbangan sistem hidrologi dan sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lain, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota/ kawasan perkotaan. Adapun beberapa Kecamatan yang termasuk kawasan perkotaan dan harus memenuhi proporsi 30% dari luas wilayahnya.
RPIJM KABUPATEN ENDE
III - 93