• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI)

Dalam dokumen Konsep-konsep keguruan dalam pendidikan islam (Halaman 131-134)

Kode Etik Dan Organisasi Profesi Keguruan dalam Pendidikan

E. Organisasi Profesi Keguruan

3. Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI)

Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) didirikan di Malang pada tanggal 17 Desember 1975. Organisasi profesi kependidikan yang bersifat keilmuan dan profesioal ini berhasrat memberikan sumbangan dan ikut serta secara lebih nyata dan positif dalam menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai guru pembimbing. Organisasi ini merupakan himpunan para petugas bimbingan se Indonesia dan bertujuan mengembangkan serta memajukan bimbingan sebagai ilmu dan profesi dalam rangka peningkatan mutu layanannya.

Secara rinci tujuan didirikannya Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) adalah sebagai berikut ini.

a. Menghimpun para petugas di bidang bimbingan dalam wadah organisasi. b. Mengidentifikasi dan mengiventarisasi tenaga ahli, keahlian dan

keterampilan, teknik, alat dan fasilitas yang telah dikembangkan di Indonesia di bidang bimbingan, dengan demikian dimungkinkan pemanfaatan tenaga ahli dan keahlian tersebut dengan sebaik-baiknya. c. Meningatkan mutu profesi bimbingan, dalam hal ini meliputi peningkatan

profesi dan tenaga ahli, tenaga pelaksana, ilmu bimbingan sebagai disiplin, maupun program layanan bimbingan (Anggaran Rumah Tangga IPBI, 1975).

Untuk menopang pencapaian tujuan tersebut dicanangkan empat kegiatan, yaitu:

a. Pengembangan ilmu dalam bimbingan dan konseling; b. Peningkatan layanan bimbingan dan konseling;

c. Pembinaan hubungan dengan organisasi profesi dan lembaga-lembaga lin, baik dalam maupun luar negeri; dan

d. Pembinaan sarana (Anggaran Rumah Tangga IPBI, 1975).

Kegiatan pertama dijabarkan kembali dalam anggaran rumah tangga (ART IPBI, 1975) sebagai berikut ini.

a. Penerbitan, mencakup: buletin Ikatan Petugas Bmbingan Indonesia dan brosur atau penerbitan lain.

b. Pengembangan alat-alat bimbingan dan penyebarannya. c. Pengembangan teknik-teknik bimbingan dan penyebarannya. d. Penelitian di bidang bimbingan.

e. Penataran, seminar, lokakarya, simposium, dan kegiatan-kegiatan lain yang sejenis.

f. Kegiatan-kegiatan lain untuk memajukan dan mengembangkan bimbingan.

119

F. Penutup

Sebagai tenaga profesional, guru dituntut untuk selalu mengembangkan diri sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Untuk itu dalam melaksanakan tugasnya guru harus memiliki etika. Etika merupakan bentuk kontributif dari sikap yang ditunjukan oleh guru kepada anak didiknya. Jika Moral dan Etika buruk, maka buruk juga sikap guru dimata anak didiknya, dan terkadang anak didik menjadikan panutan didalam kehidupan sehari-hari mereka. Untuk mencapai moral dan etika yang baik kepada siswa, sudah selayaknya sebagai calon guru yang profesional, mampu mengkonstruksi kembali perencanaan pendidikan yang akan dilakukan kepada anak didik. Untuk mendapatkan apresiasi yang baik dari anak didik, maka terlebih dahulu guru membenahi moral dan etika mereka dihadapan anak didik dan bukan menjadikan moral sebagai topeng. Karena jika moral dan etika hanya dijadikan sebagai topeng, maka suatu saat moral buruk akan kembali dan merusak tatanan sebelumnya sehingga menjadikan topeng baik menjadi topeng buruk.

Tujuan suatu profesi menyusun kode etik adalah untuk menjunjung tinggi martabat profesi, menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota, meningkatkan pengabdian anggota profesi, dan meningkatkan mutu profesi dan mutu organisasi profesi. Penetapan kode etik tidak boleh dilakukan secara perorangan, tetapi harus dilakukan oleh organisasi yang berwenang sesuai dengan profesinya. Segala hal yang terkait dengan profesi guru tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia (UURI) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Daftar Pustaka

Al-Abrasyi, Athiyyah, 1975. al-Tarbiyah al-Islamiyah Wa Falasifatuha, Mesir: al-Halabi.

Al-Ghazali, Al-Imam Abi Hamid Muhammad ibn Muhammmad, tt. Ihya Ulum

Al-din, Beirut: Dar Al-Ma‘rifah.

Al-Zarnuji, Syeikh, tt. Ta‟limul Muta‟allim, Semarang: Pustaka Alawiyah. Asari, Hasan, 2008. Etika Akademis Dalam Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana. Depdiknas, 2013. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama.

Getteng, Abd. Rahman, 2012. Menuju Guru Profesional dan BerEtika, Yogyakarta: Graha Guru.

Hartoko, Dick, 2002. Kamus Populer Filsafat, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

120

p

Huda, Misbahul, 1999. ”Profil dan Etika Pendidik dalam Pandangan Pemikir

Pendidikan Islam Klasik”, Religia, vol. II, No. 2, Oktober/ 1999.

Ibn Jama‘ah, 2008. Tazkirat al-Sami‟ wal-Mutakallim, Editor: Muhammad Mahdi al-‗Ajmi, Beirut: Dar al-Basyar al-Islami.

Lillie, William, 1996. An Introduction to Ethics, New York : Barnes and Noble.

Mudlofir, Ali, 2012. Pendidik Profesional Konsep Strategi, Aplikasi dalam

Peningkatan Mutu Mutu Pendidikan Indonesia, Jakarta: PT

Rajagrafindo Persada.

Nata, Abudin, 2009. Akhlak Tasawuf, Jakarta: Rajawali Press.

Rahmaniyah, Istighfarotur, 2010. Pendidikan Etika Konsep Jiwa dan Etika

Prespektif Ibnu Maskawaih, Malang: Aditya Media.

Rusman, 2011. Model-Model Pembelajaran, Mengembangkan Profesionalisme

Guru, Jakarta: Rajawali Press.

Saondi, Ondi dan Aris Suherman, 2012. Etika Profesi Keguruan, Bandung: Replika Adi Tama.

Suparlan, 2005. Menjadi Guru Efektif, Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2005. Sutarsih, Cicih, 2012. Etika Profesi, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan

Islam Kementerian Agama RI.

Syukur, Suparman, 2004. Etika Religius, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tantowi, Ahmad, 2009. Pendidikan Islam di Era Transformasi Global, Semarang: Pustaka Rizki Putra.

Uno, Hamzah B., 2012. Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan Reformasi

121 eningkatan kualitas pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun, bila dilihat dari sisi proses, guru merupakan faktor penting yang ikut menentukan kualitas pendidikan di samping faktor lain seperti peserta didik, kurikulum, sarana dan prasarana dan sebagainya. Guru memiliki peran yang strategis dalam bidang pendidikan, bahkan sumber pendidikan lain yang memadai seringkali kurang berarti apabila tidak didukung oleh keberadaan guru yang berkualitas. Dengan kata lain, guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan. Dengan demikian, peningkatan kualitas pendidikan berkaitan erat dengan peningkatan kinerja guru. Urgensitas peningkatan kinerja guru tentu terkait erat dengan tugas pendidik yang diembannya. Dari sini dapat dipahami bahwa guru yang memiliki kinerja tinggi akan dapat mengelola pembelajaran secara optimal dan akan sampai pada hasil maksimal, begitu pula sebaliknya.

Kualitas kinerja guru dinyatakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu: kompetensi

P

Kinerja dan Peningkatan

Dalam dokumen Konsep-konsep keguruan dalam pendidikan islam (Halaman 131-134)