• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII STIMULAN PNPM MP DAN PENGELOLAAN PNPM MP

7.3 Ikhtisar

Tingkat bantuan dana program dan tingkat kemudahan sistem alokasi dana PNPM MP merupakan bagian dari stimulan program PNPM MP yang diduga berhubungan dengan tingkat akses, kontrol, partisipasi, perkembangan usaha dan pendapatan Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP. Disimpulkan bahwa tingkat bantuan dana dan kemudahan sistem alokasi dana program seragam. Dengan demikian tidak dapat dilakukan analisis hubungan antara variabel input dengan variabel tingkat akses, kontrol, partisipasi, perkembangan usaha dan pendapatan peserta PNPM MP baik laki-laki maupun perempuan. Begitu pula dengan frekuensi kunjungan fasiliator yang seluruhnya tergolong tinggi. Setiap fasilitator rutin mengunjungi dan mendampingi setiap proses atau tahapan program PNPM MP.

Sebagaimana tertulis dalam PTO PNPM MP jumlah dana yang diterima oleh anggota SPKP harus merata, namun berdasarkan kasus di Desa Kemang, ditemukan bahwa terdapat dua orang anggota yang meminjam pinjaman ganda sebesar Rp 2.000.000,-, hal ini dikarenakan terdapat anggota yang tidak meminjam sehingga mengalokasikannya kepada anggota lain. Selain itu, terdapat pula dua anggota SPKP yang hanya menerima pinjaman sebesar Rp 500.000,-karena anggota SPKP merasa keberatan dalam membayar angsuran sehingga jumlah pinjaman yang diterima, dibagi separuhnya kepada anggota keluarga atau kerabatnya.

BAB VIII

ANALISIS GENDER DALAM PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERDESAAN

(PNPM MP) DI DESA KEMANG

Sebagaimana telah dikemukakan di depan, fokus pada studi evaluasi PNPM MP ini adalah untuk menelaah keberhasilan program tersebut berdasarkan perspektif gender, khususnya dari aspek keluaran PNPM MP pada tingkat individu dan rumahtangga peserta PNPM MP. Sehubungan dengan itu, bab ini mendeskripsikan hubungan antara sejumlah variabel pengaruh dan terpengaruh sebagaimana disajikan pada Gambar 1 serta mengemukakan hasil uji dan analisis statistik atas sejumlah hipotesis yang dikembangkan atas hubungan antar variabel tersebut di kalangan para peserta PNPM MP di Desa Kemang yang dibedakan menurut kategori stimulan yang mereka terima, yaitu Peserta Sosial Dasar (Peserta PNPM Laki-laki) dan Peserta SPKP (Peserta PNPM Perempuan).

8.1 Hubungan Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Akses dan Kontrol Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP terhadap Komponen PNPM MP

Karakteristik sumberdaya individu Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP diduga berhubungan positif dengan Tingkat Akses dan Tingkat Kontrol Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP terhadap komponen PNPM MP (perencanaan dan pelaksanaan). Adapun yang termasuk ke dalam karakteristk sumberdaya individu pada penelitian ini terdiri dari (1) Tingkat Pendidikan Formal (X4), dan (2) Status Bekerja (X5).

Data berkenaan dengan dua variabel bebas (pengaruh) pada karakteristik sumberdaya individu Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Hubungan Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Akses dan Tingkat Kontrol Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan, Tahun 2011 (dalam persen)

Karakteristik Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total 1. Tingkat Pendidikan Formal (X4)

Rendah 23,33 3,33 53,33 80,00 36,67 16,67 33,33 86,67

Sedang 6,67 0,00 6,67 13,33 6,67 3,33 3,33 13,33

Tinggi 3,33 0,00 3,33 6,67 0,00 0,00 0,00 0,00

Total 33,33 3,33 63,33 100,00 43,33 20,00 36,67 100,00 2. Status Bekerja (X5)

Rendah 0,00 0,00 0,00 0,00 33,33 6,67 30,00 70,00

Sedang 31,75 28,57 25,40 85,71 10,00 13,33 6,67 30,00

Tinggi 4,76 4,76 4,76 14,29 0,00 0,00 0,00 0,00

Total 36,51 33,33 30,16 100,00 43,33 20,00 36,67 100,00 Tingkat Kontrol

Peserta Sosial Dasar (Y2)

Tingkat Kontrol Peserta SPKP (Y2) Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total 1. Tingkat Pendidikan Formal (X4)

Rendah 26,67 30,00 23,33 80,00 56,67 10,00 20,00 86,67

Sedang 6,67 3,33 3,33 13,33 6,67 6,67 0,00 13,33

Tinggi 3,33 0,00 3,33 6,67 0,00 0,00 0,00 0,00

Total 36,67 33,33 30,00 100,00 63,33 16,67 20,00 100,00 2. Status Bekerja (X5)

Rendah 0,00 0,00 0,00 0,00 46,67 3,33 20,00 70,00

Sedang 33,33 30,00 26,67 90,00 16,67 13,33 0,00 30,00

Tinggi 3,33 3,33 3,33 10,00 0,00 0,00 0,00 0,00

Total 36,67 33,33 30,00 100,00 63,33 16,67 20,00 100,00 Sebagaimana terlihat pada Tabel 13, diketahui bahwa secara umum Tingkat Pendidikan Formal Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP tergolong kategori rendah. Menurut kategori stimulannya, Tingkat Pendidikan Formal Peserta SPKP yang tergolong kategori rendah tersebut sebanyak 87 persen, atau tujuh persen lebih tinggi dibandingkan dengan Peserta Sosial Dasar. Kondisi ini tampaknya tidak jauh berbeda dibanding kondisi pendidikan penduduk Desa Kemang pada umumnya. Dalam hal Status Bekerja mereka, terdapat perbedaan diantara kedua kategori peserta tersebut, yakni bahwa pada Peserta Sosial Dasar mayoritas ada pada kategori sedang (86 persen), sementara pada Peserta SPKP

ada pada kategori rendah (70 persen). Hal ini dimungkinkan karena sebagaimana dikemukakan pada profil rumahtangga peserta PNPM MP, mayoritas Peserta Sosial Dasar bekerja sebagai petani pemilik dan penggarap (40 persen) yang status bekerjanya bekerja sendiri, sementara mayoritas Peserta SPKP meskipun bekerja di sektor pertanian, namun Status Bekerja mereka tergolong pekerja keluarga.

Meskipun mayoritas Tingkat Pendidikan Formal kedua kategori peserta PNPM MP keduanya tergolong rendah, namun Tingkat Akses terhadap komponen PNPM MP diantara kedua kategori peserta tersebut menunjukkan perbedaan, tercermin dari data dimana mayoritas Peserta Sosial Dasar memiliki Tingkat Akses terhadap PNPM MP yang tergolong tinggi (67 persen), sementara di kalangan Peserta SPKP mereka yang tergolong tinggi tersebut sekitar 26 persen lebih rendah dibanding Peserta Sosial Dasar, dan bahwa Tingkat Akses mayoritas Peserta SPKP ada pada kategori rendah (43 persen). Di pihak lain, diketahui bahwa meski tidak seorangpun mayoritas Peserta Sosial Dasar yang berstatus kerja rendah, ternyata sekitar 37 persen diantara mereka memiliki Tingkat Akses terhadap PNPM MP yang rendah. Sebaliknya di kalangan Peserta SPKP, meskipun mayoritas berstatus bekerja rendah, namun diantara mereka ditemukan yang memiliki Akses terhadap PNPM MP tergolong tinggi sekitar 37 persen, atau tujuh persen lebih tinggi dibanding dengan Peserta Sosial Dasar.

Perbedaan Tingkat Akses pada kedua kategori peserta diduga berhubungan dengan fakta bahwa Peserta Sosial Dasar mayoritas Tingkat Aksesnya tinggi karena mereka merupakan tokoh masyarakat seperti ketua RT, RW dan Kepala Dusun yang ada di Desa Kemang yang diwajibkan hadir dalam setiap tahapan program, sementara peserta SPKP mayoritas merupakan ibu rumahtangga yang hanya berperan sebagai anggota dalam kelompoknya dan tidak merasa berkewajiban unuk hadir dalam setiap tahapan program, sehingga keikutsertaan mereka sebatas kegiatan simpan pinjam saja. Adapun Tingkat Akses yang tinggi merupakan mereka yang berperan sebagai ketua, sekretaris dan bendahara dalam kelompok SPKP.

Kondisi tersebut di atas tampaknya juga berlangsung dalam hal Tingkat Kontrol terhadap PNPM MP. Di kalangan Peserta Sosial Dasar, meskipun

mayoritas diantara mereka berpendidikan rendah dan berstatus bekerja yang tergolong sedang, namun dijumpai adanya mereka yang Tingkat Kontrolnya terhadap PNPM MP tergolong tinggi, dengan persentase sebesar 30 persen atau 10 persen lebih tinggi dibanding Peserta SPKP. Sebaliknya, terdapat kecenderungan dimana rendahnya Tingkat Pendidikan dan Status Bekerja di kalangan Peserta SPKP menjadikan Tingkat Kontrol mereka terhadap PNPM MP juga rendah. Hal ini didukung oleh fakta bahwa pada proses pengambilan keputusan khususnya dalam menentukan besaran dana ditentukan oleh pihak pengelola PNPM MP.

Berdasar penjelasan di atas, penelitian ini tidak menemukan adanya hubungan yang positif antara Tingkat Pendidikan Formal dan Status Bekerja dengan Tingkat Akses dan Tingkat Kontrol kedua kategori peserta PNPM MP di Desa Kemang. Hal ini didukung oleh hasil uji korelasi rank Spearman (Lampiran 5) dimana nilai korelasi dan tingkat signifikannya tergolong tidak nyata. Pada Peserta Sosial Dasar hubungan antara Tingkat Pendidikan Formal dengan Tingkat Akses dan Tingkat Kontrol mereka terhadap PNPM MP berturut-turut adalah rs

=-0,153 pada taraf α=0,2 dan rs= -0,60 pada taraf α=0,38. Adapun di kalangan Peserta SPKP, hasil uji statistik hubungan antara Pendidikan Formal dengan Tingkat Akses adalah rs=-0,079 pada taraf α=0,34, sementara dengan Tingkat Kontrolnya adalah rs = 0,026 pada taraf α=0,445. Dengan demikian, merujuk pada Purnaningsih (2006), tidak terdapat hubungan nyata antara variabel karakteristik sumberdaya individu dengan Tingkat Akses dan Kontrol baik pada Peserta Sosial Dasar maupun Peserta SPKP.

8.2 Hubungan Antara Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP

Diduga terdapat hubungan positif antara Tingkat Pendidikan Formal (X4) dan Status Bekerja (X5) dengan Tingkat Partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP terhadap komponen PNPM MP (Y3). Tingkat pasrtisipasi ini dilihat dari keikutsertaan Peserta PNPM MP baik Peserta Sosial Dasar maupun Peserta SPKP yang dinilai dari peranannya dalam kelembagaan-kelembagan yang ada pada PNPM MP Desa Kemang. Nilai rendah menunjukkan partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP dalam kelembagaan PNPM MP (Tim Pengelola

Kegiatan, Tim Penulis Usulan, Simpan Pinjam Kelompok Perempuan) sebagai anggota, nilai sedang berarti Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP berperan sebagai sekretaris atau bendahara, selanjutnya nilai tinggi merupakan mereka yang menjadi ketua dalam kelembagaan. Tabel 14 memperlihatkan Tingkat Partisipasi kedua kategori penerima stimulan PNPM MP di Desa Kemang yaitu Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP dalam PNPM MP menurut Tingkat Pendidikan Formal dan Status Bekerja.

Tabel 14 Hubungan Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP di Desa Kemang, Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total 1. Tingkat Pendidikan Formal (X4)

Rendah 80,00 0,00 0,00 80,00 66,67 10,00 10,00 86,67

Sedang 10,00 0,00 3,33 13,33 10,00 0,00 3,33 13,33

Tinggi 6,67 0,00 0,00 6,67 0,00 0,00 0,00 0,00

Total 96,67 0,00 3,33 100,00 76,67 10,00 13,33 100,00 2. Status Bekerja (X5)

Rendah 0,00 0,00 0,00 70,00 56,67 3,33 10,00 70,00

Sedang 66,67 0,00 3,33 70,00 20,00 6,67 3,33 30,00

Tinggi 30,00 0,00 0,00 30,00 0,00 0,00 0,00 0,00

Total 96,67 0,00 0,00 100,00 76,67 10,00 13,33 100,00

Tabel 14 memperlihatkan bahwa lebih dari separuhnya peserta PNPM MP baik Peserta Sosial Dasar maupun Peserta SPKP memiliki Tingkat Partisipasi rendah, yakni sekitar 80 persen, hal ini berarti mayoritas Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP berperan sebagai anggota. Secara administratif, pelaksanaan PNPM MP Desa Kemang dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan prasayarat yang ada dimana setiap tahapan program diikuti sekurang-kurangnya 40 persen dari peserta merupakan Peserta SPKP. Begitu pula dengan tingkat partisipasi dalam kelembagaan dimana setiap kelembagaan PNPM MP -kecuali SPKP-, keanggotaan dipilih dengan mempertimbangkan proporsi peserta laki-laki dan perempuan. Seperti dalam kelembagaan TPK dan TPU dimana ketua dari

masing-masing kelembagaan tersebut merupakan laki-laki, adapun sekretaris dan bendaharanya adalah perempuan.

Berdasar data pada Tabel 14, terlihat pula bahwa pada Peserta Sosial Dasar terdapat kecenderungan dimana mayoritas diantara mereka berpendidikan rendah, maka mayoritas mereka juga rendah dalam hal Tingkat Partisipasinya dalam PNPM MP. Dengan perkataan lain, ada kecenderungan hubungan positif antara tingkat pendidikan dengan tingkat partisipasi Peserta Sosial Dasar. Hal ini didukung oleh hasil uji statistik (Lampiran 5), dengan nilai rs= 0,339 pada taraf α=0,05. Fakta bahwa status bekerja mayoritas Peserta Sosial Dasar tergolong sedang namun mayoritas Tingkat Partisipasinya dalam PNPM MP tergolong rendah; menjadikan hasil uji statistik hubungan kedua variabel tersebut tidak nyata (rs=-62 pada taraf 0,373).

Pada Peserta SPKP, juga terdapat kecenderungan dimana karena mayoritas mereka berpendidikan formal dan berstatus bekerja rendah maka Tingkat Partisipasinya dalam PNPM MP juga rendah. Namun demikian, kecenderungan tersebut berbeda dengan hasil uji statistik, sebagaimana terlihat pada Lampiran 5, pada Peserta SPKP tersebut berturut-turut sebesar rs=0,038 pada taraf α=0,420 dan rs 0,125 pada taraf 0,3 untuk hubungan antara Tingkat Pendidikan Formal dan Status Bekerja dengan Tingkat Partisipasi mereka dalam PNPM MP.

Berdasar penjelasan di atas dan merujuk pada pendapat Purnaningsih (2006), hanya Tingkat Pendidikan Formal yang berhubungan nyata dengan tingkat partisipasi dalam PNPM MP, itupun hanya di kalangan Peserta Sosial Dasar.

Sementara Status Bekerja tidak berhubungan nyata dengan Tingkat Partisipasi, baik pada Peserta Sosial Dasar maupun Peserta SPKP.

8.3 Hubungan Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Perkembangan Usaha Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP

Salah satu indikator analisis manfaat yang diperoleh peserta dari PNPM MP dapat dilihat dari Tingkat Perkembangan Usaha mereka. Merujuk pada hipotesis, sebagaimana dikemukakan sebelumnya, diduga terdapat hubungan positif antara Tingkat Pendidikan Formal (X4) dan Status Bekerja (X5) dengan Tingkat Perkembangan Usaha Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP (Y4).

Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan tersebut, dilakukan analisis terhadap data yang disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15 Hubungan Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Perkembangan Usaha Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP di Desa Kemang, Tahun 2011 (dalam persen)

Karakteristik

Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total 1. Tingkat Pendidikan Formal (X4)

Rendah 6,67 6,67 66,67 80,00 23,33 0,00 63,33 86,67

Sedang 3,33 6,67 3,33 13,33 3,33 6,67 3,33 13,33

Tinggi 3,33 0,00 3,33 6,67 0,00 0,00 0,00 0,00

Total 13,33 13,33 73,33 100,00 26,67 6,67 66,67 100,00 2. Status Bekerja (X5)

Rendah 0,00 0,00 0,00 0,00 23,33 3,33 43,33 70,00

Sedang 10,00 13,33 66,67 90,00 3,33 3,33 23,33 30,00

Tinggi 3,33 0,00 6,67 10,00 0,00 0,00 0,00 0,00

Total 13,33 13,33 73,33 100,00 26,67 6,67 66,67 100,00 Sebagian besar Peserta PNPM MP mengaku, bahwa usaha yang mereka kelola semakin berkembang setelah menerima stimulan PNPM MP, khususnya pembangunan infrastruktur jalan dan SPKP. Sebagaimana terlihat pada Tabel 20 di atas, bahwa mayoritas Tingkat Perkembangan Usaha Peserta Sosial dasar dan Peserta SPKP mayoritas tergolong kategori tinggi, yakni berturut-turut 73 persen dan 66 persen. Terdapat kecenderungan pada kedua kategori peserta dimana meski mayoritas Tingkat Pendidikan Formalnya tergolong kategori rendah namun mayoritas tergolong tinggi dalam hal Tingkat Perkembangan Usaha kedua kategori peserta. Hal ini berhubungan dengan fakta sebagaimana telah dikemukakan pada Bab Profil Rumahtangga bahwa mayoritas Peserta PNPM MP bekerja di sektor pertanian (55 persen) dimana pekerjaan tersebut bukan pekerjaan yang mensyaratkan tingkat pendidikan yang tinggi.

Jenis usaha lain yang berkembang di desa ini adalah usaha warung yang sebagian besar dikelola oleh Peserta SPKP. Sebagian besar Peserta SPKP merasa terbantu oleh adanya bantuan dana berupa tambahan modal dari SPKP, seperti pada usaha warung yang dikelola oleh Ibu A. Pada awalnya Ibu A hanya menjual

dagangan berupa makanan ringan, namun setelah mendapatkan pinjaman, Ibu A dapat menambahkan barang dagangan berupa mainan anak-anak dan sejumlah barang dagangan lainnya.

Namun demikian, tidak semua peserta dapat merasakan manfaat stimulan PNPM MP, khususnya Peserta SPKP dalam kaitannya dengan perkembangan usaha, seperti yang ditunjukkan pada tabel di atas. Terdapat sekitar 26 persen Peserta SPKP yang tergolong kategori rendah dalam hal Tingkat Perkembangan Usaha, adalah mereka yang tidak menggunakan dana pinjaman untuk mengembangkan usaha ataupun membuat usaha baru melainkan digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

Data pada tabel di atas diperkuat dengan hasil uji statistik (Lampiran 5) yakni terdapat hubungan negatif antara Tingkat Pendidikan Formal dengan Tingkat Perkembangan Usaha pada kedua kategori peserta dengan nilai rs=-0,437 pada taraf α=0,05 untuk Peserta Sosial Dasar, sementara pada Peserta SPKP diperoleh rs=-0,246 pada taraf α=0,10. Adapun pada variabel Status Bekerja, menunjukkan perbedaan antara kedua kategori peserta dimana hubungan negatif hanya ditemukan pada Peserta Sosial Dasar dengan nilai rs=0,083 pada taraf α=0,3, berbeda dengan Peserta SPKP dengan nilai rs=0,255 pada taraf α=0,2.

Namun demikian, merujuk pada Purnaningsih (2006) hubungan nyata hanya ditemukan pada Tingkat Pendidikan Formal dengan Tingkat Perkembangan Usaha Peserta Sosial Dasar.

8.4 Hubungan Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Pendapatan Usaha Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP

Analisis manfaat PNPM MP berikutnya dapat dilihat dari Tingkat Pendapatan Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP (Y5) yang diduga dipengaruhi oleh Tingkat Pendidikan Formal (X4) dan Status Bekerja (X5). Sebagaimana telah dijelaskan di atas, sebagian besar peserta PNPM MP mengaku kegiatan usahanya semakin berkembang. Sehubungan dengan hal itu, diduga hal ini akan berdampak pada peningkatan pendapatan peserta. Berikut ini data berkenaan Tingkat Pendapatan Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP menurut Tingkat Pendidikan Formal dan Status Bekerja yang disajikan ke dalam Tabel 16.

Tabel 16 Hubungan Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Pendapatan Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP di Desa Kemang, Tahun 2011 (dalam persen)

Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total 1. Tingkat Pendidikan Formal (X4)

Rendah 13,79 13,79 51,72 79,31 6,67 23,33 56,67 86,67

Sedang 0,00 0,00 13,79 13,79 0,00 0,00 13,33 13,33

Tinggi 0,00 0,00 6,90 6,90 0,00 0,00 0,00 0,00

Total 13,79 13,79 72,41 100,00 6,67 23,33 70,00 100,00 2. Status Bekerja (X5)

Rendah 0,00 0,00 0,00 0,00 6,67 16,67 46,67 70,00

Sedang 13,79 10,34 65,52 89,66 0,00 6,67 23,33 30,00

Tinggi 0,00 3,45 6,90 10,34 0,00 0,00 0,00 0,00

Total 13,79 13,79 72,41 100,00 6,67 23,33 70,00 100,00

Berdasarkan data pada Tabel 16, diketahui bahwa mayoritas Tingkat Pendapatan Peserta PNPM MP tergolong kategori tinggi, yakni sekitar 70 persen.

Pada tabel terlihat pula bahwa terdapat kecenderungan dimana mayoritas Peserta PNPM MP pada kedua kategori stimulan yang Tingkat Pendidikan Formalnya tergolong kategori rendah ternyata menunjukkan Tingkat Pendapatan yang tergolong tinggi. Hal tersebut dimungkinkan karena sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa sekitar 47 persen dari total kedua kategori peserta memiliki lahan pertanian yang tergolong luas (lebih dari 0,5 hektar lahan).

Di pihak lain, pengelola PNPM lebih mengutamakan syarat peserta yang memiliki usaha, tidak mempertimbangkan aspek pendidikan mereka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan formal tidak menentukan besarnya tingkat pendapatan Peserta PNPM MP. Hal tersebut didukung data hasil uji korelasi rank Spearman (Lampiran 5) dimana Tingkat Pendidikan Formal berhubungan negatif dengan Tingkat Pendapatan Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP denga nilai rs berturut-turut -0,296 dan -0,254 pada taraf α masing-masing 0,1. Sementara pada Status Bekerja, diperoleh rs berturut-turut -0,017 dan 0,131 pada taraf α 0,4 dan 0,2. Dengan demikian, merujuk pada Purnaningsih (2006), tidak ditemukan adanya hubungan nyata antara Tingkat Pendidikan Formal dan Status Bekerja dengan Tingkat Pendapatan kedua kategori peserta.

8.5 Hubungan Antara Karakteristik Sumberdaya Rumahtangga dengan Akses dan Kontrol Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP

Sub bab ini akan menyajikan data dan informasi berkenaan dengan hubungan antara peubah Jumlah Anggota Rumahtangga (X6) dan Status Kategori Rumahtangga (X7) dengan Tingkat Akses dan Kontrol Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP dalam PNPM MP. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 17.

Tabel 17 Hubungan Karakeristik Rumahtangga dengan Tingkat Akses dan Tingkat Kontrol Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan, Tahun 2011 (dalam persen)

Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total 1. Jumlah ART yang Bekerja (X6)

Rendah 16,67 3,33 10,00 30,00 10,00 10,00 13,33 33,33 Sedang 16,67 0,00 46,67 63,33 30,00 10,00 20,00 60,00

Tinggi 0,00 0,00 6,67 6,67 3,33 0,00 3,33 6,67

Total 33,33 3,33 63,33 100,00 43,33 20,00 36,67 100,00 2. Status Kategori Rumahtangga (X7)

Tidak

Miskin 13,33 3,33 36,67 53,33 33,33 13,33 20,00 66,67 Miskin 16,67 0,00 26,67 43,33 10,00 6,67 13,33 30,00 Sangat

Miskin 3,33 0,00 0,00 3,33 0,00 0,00 3,33 3,33

Total 33,33 3,33 63,33 100,00 43,33 20,00 36,67 100,00 Tingkat Kontrol

Peserta Sosial Dasar (Y2)

Tingkat Kontrol Peserta SPKP (Y2)

Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total 1. Jumlah ART yang Bekerja (X6)

Rendah 16,67 6,67 6,67 30,00 16,67 10,00 6,67 33,33

Sedang 16,67 23,33 23,33 63,33 43,33 6,67 10,00 60,00

Tinggi 3,33 3,33 0,00 6,67 3,33 0,00 3,33 6,67

Total 36,67 33,33 30,00 100,00 63,33 16,67 20,00 100,00 2. Status Kategori Rumahtangga (X7)

Tidak

Miskin 13,33 16,67 23,33 53,33 43,33 10,00 13,33 66,67

Miskin 20,00 16,67 6,67 43,33 16,67 6,67 6,67 30,00

Sangat

Miskin 3,33 0,00 0,00 3,33 3,33 0,00 0,00 3,33

Total 36,67 33,33 30,00 100,00 63,33 16,67 20,00 100,00

Pada Tabel 17 diketahui bahwa mayoritas jumlah ART yang bekerja tergolong kategori sedang (60 persen), artinya sebagian besar rumahtangga terdiri dari suami dan istri yang bekerja. Dalam hal status kategori rumahtangga, diketahui bahwa Peserta PNPM MP lebih dari separuhnya merupakan rumahtangga tidak miskin, adapun persentase rumahtangga Peserta SPKP yang tergolong kategori tidak miskin sekitar enam persen lebih tinggi dibandingkan dengan Peserta Sosial Dasar.

Meski para pengelola PNPM MP di Desa Kemang telah menetapkan sejumlah kriteria rumahtangga miskin (Lampiran 3), namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar rumahtangga yang terlibat bukan merupakan rumahtangga miskin. Hal ini berhubungan dengan fakta bahwa khusus pada stimulan SPKP selain anggotanya disyaratkan merupakan RTM, calon anggota juga harus memiliki kegiatan usaha. Sementara sebagian besar dari RTM merupakan mereka yang tidak memiliki lahan dan tidak memiliki usaha.

Disamping itu, mereka yang tergolong kategori miskin juga pada umumnya merupakan kelompok usia bukan produktif (lanjut usia) sehingga dianggap tidak dapat menjalankan maupun mengembangkan usaha.

Berdasarkan data hasil uji korelasi rank Spearman (Lampiran 5) terdapat hubungan yang negatif dan nyata antata Jumlah ART yang Bekerja pada Rumahtangga Peserta Sosial Dasar dengan Tingkat Akses Peserta Sosial Dasar dengan nilai rs=-0,252 pada taraf α=0,05. Sementara pada Peserta SPKP tidak ditemukan adanya hubungan antara Jumlah ART yang Bekerja dengan Tingkat Akses Peserta SPKP. Adapun Status Kategori Rumahtangga kedua peserta tidak menunjukkan adanya hubungan nyata dengan Tingkat Akses peserta terhadap PNPM MP. Selanjutnya dalam hal Tingkat Kontrol peserta terhadap PNPM MP, hubungan nyata hanya ditemukan pada variabel Status Kategori Rumahtangga, itupun pada Peserta Sosial Dasar dimana Status Kategori Rumahtangga berhubungan negatif dengan Tingkat Kontrol Peserta Sosial Dasar dengan nilai rs=-0,352 pada taraf α=0,05.

8.6 Hubungan Antara Karakteristik Sumberdaya Rumahtangga dengan Tingkat Partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP

Diduga terdapat hubungan positif antara Variabel Karakteristik Sumberdaya Rumahtangga yang terdiri dari Jumlah ART yang Bekerja (X6) dan Status Kategori Rumahtangga (X7) dengan Tingkat Partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP dalam PNPM MP (Y3). Tabel 18 menyajikan data berkenaan Tingkat Partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP dalam PNPM MP menurut Karakteristik Sumberdaya Rumahtangga.

Tabel 18 Hubungan Karakteristik Sumberdaya Rumahtangga dengan Tingkat Partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP di Desa Kemang,

Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total 1. Jumlah ART yang Bekerja (X6)

Rendah 26,67 0,00 3,33 30,00 23,33 3,33 6,67 33,33

Sedang 63,33 0,00 0,00 63,33 46,67 6,67 6,67 60,00

Tinggi 6,67 0,00 0,00 6,67 6,67 0,00 0,00 6,67

Total 96,67 0,00 3,33 100,00 76,67 10,00 13,33 100,00 2. Status Kategori Rumahtangga (X7)

Tidak

Miskin 35,56 0,00 0,00 35,56 46,67 10,00 10,00 66,67

Miskin 53,33 0,00 4,44 57,78 26,67 0,00 3,33 30,00

Sangat

Miskin 6,67 0,00 0,00 6,67 3,33 0,00 0,00 3,33

Total 95,56 0,00 4,44 100,00 76,67 10,00 13,33 100,00 Sebagaimana terlihat pada Tabel 18 mayoritas Tingkat Partisipasi Peserta PNPM MP ada pada kategori rendah dengan persentase Peserta Sosial Dasar 20 persen lebih tinggi dibandingkan Peserta SPKP. Adapun pada Tingkat Partisipasi Peserta Sosial Dasar tidak satupun ditemukan mereka yang Tingkat Partisipasinya tergolong kategori sedang yang berarti tidak ada Peserta Sosial Dasar yang berstatus sebagai sekretaris atau bendahara. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada kelembagaan yang ada hanya pada TPK yang sekretarisnya merupakan laki-laki yakni Sdr. ZG, sementara pada TPU dan SPKP sekretaris dan bendahara merupakan perempuan. Tingkat Partisipasi yang rendah

juga terlihat pada kelompok SPKP, sebagaimana diketahui bahwa dalam setiap kelompok SPKP terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Anggoa, namun hal ini tampaknya hanya sebagai formalitas saja karena yang berperan dalam kelompok hanyalah Ketua, yang selain bertugas mengoordinasikan anggota, ketua juga berperan dalam mengumpulkan angsuran anggota per bulan serta mengurus segala sesuatu yang sifatnya admintratif seperti pembukuan keuangan yang seharusnya diakukan oleh sekretaris dan bendahara.

Berdasar data pada tabel di atas, terlihat pada Peserta Sosial Dasar terdapat kecenderungan dimana mayoritas diantara mereka yang Jumlah ART Bekerjanya mayoritas tergolong sedang, maka mayoritas mereka rendah dalam hal Tingkat Partisipasinya dalam PNPM MP, begitu pula halnya pada Peserta SPKP.

Dengan perkataan lain ada kecenderungan hubungan negatif antara Jumlah ART yang Bekerja dengan Tingkat Partisipasi kedua kategori peserta. Hal ini didukung oleh hasil uji statistik (Lampiran 5), dengan nilai rs= -0,226 pada taraf α=0,10 pada Peserta Sosial dasar dan nilai rs=-0,156 pada taraf α=0,20. Adapun pada Status Kategori rumahtangga dimana pada Peserta Sosial Dasar terdapat

Dengan perkataan lain ada kecenderungan hubungan negatif antara Jumlah ART yang Bekerja dengan Tingkat Partisipasi kedua kategori peserta. Hal ini didukung oleh hasil uji statistik (Lampiran 5), dengan nilai rs= -0,226 pada taraf α=0,10 pada Peserta Sosial dasar dan nilai rs=-0,156 pada taraf α=0,20. Adapun pada Status Kategori rumahtangga dimana pada Peserta Sosial Dasar terdapat