PENGENALAN DASAR PENELITIAN
C. Ilmu, Penelitian dan Kebenaran
Ilmu adalah suatu pengetahuan yang sistematis dan terorganisir dan penelitian adalah suatu penyelidikan yang hati-hati serta teratur dan terus menerus untuk memecahkan suatu masalah. Selanjutnya berfikir refliktif adalah sebagai suatu proses memecahkan sesuatu dalam menghadapi kesulitan. Sekarang, timbul pertanyaan, bagaimana hubungan antara ilmu, penelitian dan berpikir refliktif ?
Pertama-tama kita lihat hubungan antara ilmu dengan penelitian. Ilmu dan penelitian mempunyai hubungan yang sangat erat. Menurut Almack, hubungan antara ilmu dengan penelitian adalah seperti hasil dan proses. Penelitian adalah proses sedangkan hasilnya adalah ilmu.13
Tetapi Whitney berpendapat bahwa ilmu dan penelitian itu adalah sama-sama proses, sehingga ilmu dan penelitian adalah proses yang sama-sama. Hasil dari proses adalah kebenaran (truth).14 Bagaimana pula hubungan antara berpikir, penelitian dan ilmu? Konsep berpikir, ilmu dan penelitian juga sama. Berpikir seperti halnya dengan ilmu, juga merupakan proses untuk mencari kebenaran. Proses berpikir adalah refleksi yang hati-hati dan teratur.
Perlu juga disinggung bahwa kebenaran yang diperoleh melalui penelitian terhadap fenomena yang fana adalah sesuatu kebenaran yang telah ditemukan melalui proses ilmiah. Sebaliknya, banyak juga kebenaran terhadap fenomena yang fana diterima tidak melalui proses penelitian. Umumnya suatu kebenaran ilmiah dapat diterima dikarenakan oleh tiga hal, yaitu: 1). Adanya koheren; 2). Adanya koresponden; dan 3). Pragmatis.15
Suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misalnya suatu pernyataan bahwa si Badu akan mati dapat dipercaya, karena pernyataan tersebut koheren dengan pernyataan bahwa semua orang akan mati. Dasar lain untuk kebenran adalah koresponden yang diprkarsai oleh Betnard Russel (1872-1970). Suatu pernyataan dianggap benar, jika materi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berhubungan atau mempunyai korespondensi dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya,
14 Ibid., h. 15
pernyataan bahwa ibu kota Propinsi Daerah Istimewa Aceh adalah Banda Aceh adalah benar karena pernyataan tersebut mempunyai korespondensi dengan lokasi atau faktualitas bahwa Banda Aceh memang ibukota Propinsi Aceh. Sifat kebenaran yang diperoleh dalam proses berpikir secara ilmiah umumnya mempunyai sifat koheren dan koresnponden. Berpikir secara deduktif adalah menggunakan sifat koherendalam menentukan kebenaran, sedangkan berpikir secara induktif, peneliti menggunakan sifat koresponden dalam menentukan kebenaran.
Kebenaran lain dipercaya karena adanya sifat pragmatis. Dengan perkataan lain, pernyataan dipercaya benar karena pernyataan tersebut mempunyai sifat fungsional dalam kehidupan praktis. Suatu pernyataan atau suatu kesimpulan dianggap benar jika pernyataan tersebut mempunyai sifat pragmatis dalam kehidupan sehari-hari. Teori kebenaran dengan sifat prgamatis ini dikembangkan oleh Ch.s. Pierce (1839-1914) dan dianut oleh banyak ahli seperti: John Dewey (1859-1952), C.H.Mead (1863-1931). Secara pragmatis, orang percaya kepada agama, karena agama bersifat fungsional dalam memberikan pegangan dan aturan hhidup padda manusia.
Selain kebenaran ditemukan dalam proses ilmiah, terdapat pula kebenaran ditemukan dengan non ilmiah, seperti:
a. Penemuan kebenaran secara kebetulan
b. Penemuan kebenaran secara common sense (akal sehat) c. Penemuan kebenaran melalui wahyu
d. Penemuan kebenaran secara intuitif e. Penemuan kebenaran secara trial dan error f. Penemuan kebenaran melalui spekulasi g. Penemuan kebenaran karena kewibawaan.16
Di bawah ini akan dijelaskan secara satu persatu tentang proses non ilmiah dalam menemukan kebenaran, yaitu :
a. Penemuan Kebenaran Secara Kebetulan.
Penemuan kebenaran secara kebetulan tidak lain adalah karena takdir Allah Swt. Walaupun penemuan kebenaran bukanlah kebenaran yang ditemukan secara ilmiah, tetapi banyak penemuan tersebut telah menggoncangkan dunia ilmu pengetahuan. Misalnya, penemuan kristal urease oleh Dr. J.S.Summers adalah secara kebetulan saja di tahun 1926. Pada suatu hari Summer sedang bekerja dengan ekstrak aceton. Karena ia ingin bermain tennis, maka ekstrak aceton tersebut disimpannya di dalam kulkas dan ia bergegas pergi ke lapangan tennis. Keesokan harinya, ketika ia ingin meneruskan percobaan dengan ekstrak aceton yang disimpannya di dalam kulkas, dilihatnya telah timbul kristal-kristal baru pada ekstrak aceton tersebut. Kemudian, ternyata bahwa kristal-kristal tersebut adalah enzim urease yang amat berguna bagi manusia.
b. Penemuan dengan cara akal sehat (Common Sense)
Common Sense merupakan serangkaian konsep atau bagan konseptual yang memuaskan untuk digunakan secara praktis. Akal sehat dapat menghasilkan kebenaran dan dapat pula menyesatkan. Misalnya,
di abad ke 19 dengan akal sehat orang percaya bahwa hukuman untuk anak didik merupakan alat utama dalam pendidikan. Kemudian ternyata pendapat tersebut tidak benar. Hasil penelitian dalam bidang psikologi dan pendidikan menunjukkan bahwa alat yang baik bagi pendidikan bukan hukuman tetapi ganjaran. Karena kebenaran yang diperoleh
common sense sangat dipengaruhi oleh kepentingan yang menggunakannya, maka sering orang mempersempit pengamatan kepada hal-hal yang bersifat negatif saja. Karena itu, common sense dapat menjurus kepada prasangka.
c. Penemuan Kebenaran secara Wahyu
Kebenaran yang didaarkan kepada wahyu merupakan kebenaran mutlak, jika wahyu datangnya dari Allah melalui Rasul dan Nabi. Kebenaran yang diterima sebagai wahyu bukanlah disebabkan oleh hasil usaha penalaran manusia secara aktif. Wahyu diturunkan Allah kepada Rasul dan Nabi. Tetapi kebenaran yang dibawakan melalui wahyu yang merupakan kebenaran asasi.
d. Penemuan Kebenaran secara Intuitif
Kebenaran dapat pula diperoleh berdasarkan intuisi. Kebebnaran dengan intuisi dapat diperoleh secara cepat sekali melalui proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berpikir, ataupun melalui suatu renungan. Kebenaran yang diperoleh secara intuitif sukar dipercaya, karena kebenaran ini tidak menggunakan langkah-langkah yang sistematis untuk memperolehnya.
e. Penemuan Kebenaran Melalui Trial dan Error
Bekerja secara trial dan error adalah melakukan sesuatu secara aktif dengan mengulang-ngulang pekerjaan tersebut berkali-kali dengan menukar-nukar cara dan materi. Pengulangan tersebut tanpa dituntun oleh suatu petunjuk yang jelas sampai seseorang menemukan sesuatu. Penemuan dengan trial dan error memakan waktu yang lama, memerlukan biaya yang tinggi dan selalu dalam keadaan meraba-raba. Penemuan dengan cara trial dan error tidak dikategorikan sebagai penemuan ilmiah.
Istilah trial dan error mula-mula hanya digunakan dalam ilmu jiwa. Kemudian penggunaan istilah ini telah menyebar ke segala bidang ilmu.
f. Penemuan Kebanaran Melalui Spekulasi
Penemuan kebenaran secara spekulasi sedikit lebih tinggi tarafnya dari penemuan melalui trial dan error. Jika dalam penemuan secara trial dan error peneliti tidak mempunyai panduan sama sekali, maka dalam penemuan secara spekulasi seseorang dibimbing oleh suatu pertimbangan, walaupun pertimbangan tersebut kurang dipikirkan secara masak-masak tetapi dikerjakan dalam suasana penuh resiko. Penemuan kebenaran dengan spekulasi memerlukan pandangan yang tajam walaupun penuh spekulatif. Cara menemukan kebenaran dengan spekulatif juga tidak dianggap sebagai penemuan kebenaran secara ilmiah.
g. Penemuan Kebenaran Karena Wibawa
Kebenaran ada kalanya diterima karena kewibawaan seseorang. Pendapat dari seseorang ilmuwan yang berbobot tinggi ataupun yang mempunyai otorita dalam suatu bidang ilmu dan mempunyai banyak pengalaman sering diterima begitu saja tanpa perlu diuji kebenaran tersebut terlebih dahulu. Kebenaran tersebut diterima karena wibawa saja. Ada kalanya kebenaran karena kewibawaan didasarkan pada logika saja. Kewibawaaan seorang pemimpin politik dapat menghasilkan suatu kebenaran yang diteima oleh masyarakat. Kebenaran karena wibawa dianggap suatu kebenaran yang diperoleh tanpa prosedur ilmiah.