SUMBER PENCIPTAAN SENI
B. Objek Material
1) Imaji Bentuk Artistik Bersifat Visual
Sumber penciptaan seni juga dapat berupa imajinasi terhadap bentuk-bentuk artstik yang bersifat visual. Salah satu contoh konkrit karya seni yang dicipta berdasarkan imaji bentuk artistik yang bersifat visual adalah musik, karya Aloysius Suwardi, berjudul Swara Gentha. Suwardi sebelum mencipta Swara Gentha terlebih dahulu mencipta seperangkat instrumen yang ia gunakan sebagai medium ekspresi Swara Gentha. Seperangkat instrumen yang ia cipta itu disebut Gamelan Gentha. Objek penciptaan gamelan gentha adalah imajinasi yang berkembang dalam pemikiran Suwardi berupa imaji bentuk artistik terhadap gamelan Kyai Genthana, yaitu gamelan warisan masa lalu, yang kini tersimpan di Karaton Surakarta.
Suwardi menggunakan imajinasinya terhadap bentuk artistik gamelan Kyai Genthana sebagai objek epistemologis. Bagus (2005: 734) menyatakan objek epistemologis adalah segala hal yang diketahui (melalui persepsi, melalui pemahaman nalar atau melalui khayalan) dan dialami (melalui persentuhan indera) entah benar (mengandung kebenaran) atau tidak benar (mengandung ketidakbenaran) dalam rangka untuk berkarya. Berikut adalah wujud Gamelan Gentha, hasil rekayasa instrumen yang dilakukan Suwardi, dan digunakan untuk mencipta komposisi musik Swara Gentha.
Gambar. 4.3
Gamelan Gentha dimainkan dalam General Rehearshal untuk karya Swara Gentha Pada tanggal 13 Juni 2007 di KIT Tropentheater, Amsterdam.
144
(Gambar: Koleksi American Gamelan Instiute)
Gamelan Gentha karya Suwardi ini terdiri dari beberapa instrumen, yang tiap instrumen masing-masing diberikan nama. Untuk lebih jelas, berikut ini adalah instrumen-instrumen yang ada pada Gamelan Gentha karya Suwardi.
Gambar. 4.4 Instrumen Klinthing
Gambar di atas ini adalah instrumen Klinthing. Instrumen tersebut terdiri dari gentha-gentha kecil yang dirakit. Setiap dua gentha dalam satu nada yang sama dirakit dalam satu kesatuan, sehingga dalam satu instrumen terdiri dari 14 rakitan gentha kecil. Instrumen ini didimainkan dengan cara digerakkan seperti cara memainkan angklung. Instrumen Klinthing berbeda dengan instrumen di bawah ini.
Gambar. 4.5
145
Instrumen Klunthung
Instrumen di atas diberi nama Klunthung, terdiri dari beberapa buah gentha yang digantung. Masing-masing gentha dilaras atau diatur tinggi rendah bunyi nadanya, sesuai dengan urutan nada dalam laras slendro (pentatonis). Cara memainkan instrumen ini adalah dengan cara dipukul menggunakan alat pukul yang bersifat lembut, seperti tabuh instrumen slenthem6. Berikut ini adalah instrumen yang lain.
Gambar. 4.6 Instrumen Klonthong
Instrumen di atas bernama Klonthong, terdiri dari beberapa buah gentha yang dirakit secara berjajar. Masing-masing gentha dilaras atau diatur tinggi rendah bunyi nadanya, sesuai dengan urutan nada dalam laras slendro. Tiap nada atau tiap gentha diberi resonansi agar memiliki efek bunyi yang menarik. Cara memainkan instrumen ini adalah dengan cara dipukul dan lobang resonansi diolah dengan membuka dan menutupnya pada saat dipukul.
Sekali lagi, Suwardi dalam mencipta instrumen-instrumen gamelan gentha versinya sendiri menggunakan imaji terhadap bentuk artistik gamelan Kyai Genthana sebagai objek epistemologis. Pengertian objek epistemologis yang dimaksudkan dalam penciptaan gamelan gentha adalah entitas dunia luar yang tersaji di depan kesadaran, yang dipahami dan dikhayalkan, dan wujud pemahaman dan khayalan itu digunakan sebagai dasar untuk membangun
6 Instrumen Slenthem adalah instrumen yang dilihat dari bentuk organologisnya merupakan keluarga gendér. Terdiri dari serangkaian bilah perunggu yang nada-nadanya terdiri dari satu oktaf. Masing-masing bilah mengekspresikan satu nada. Ada enam bilah atau enam nada dalam instrumen Slenthem berlaras slendro, dan ada tujuh bilah atau nada dalam instrumen Slenthem berlaras pelog.
146 gamelan gentha, wujud ciptaan dalam berkarya. Suwardi (2007a: 1) dalam makalah yang dipresentasikan dalam IGFA Conference menerangkan asal-usul epistemologis gamelan gentha yang dibuatnya dengan Gamelan Kyai Genthana. Katanya, “the idea of making the new orchestra was, in fact, inspired by the gamelan Genthana in the Palace of Surakarta”, gagasan penciptaan orkestra baru terilhami dari gamelan Genthana di Keraton Surakarta. Berikut adalah gambar-gambar mengenai ensembel gamelan Kyai Genthana yang menjadi sumber imajinasi Aloysius Suwardi.
Gambar. 4,7
Salah Satu Instrumen Gamelan Kyai Genthana
Diduga Berfungsi Sebagai Instrumen Garap Untuk Menggarap Melodi Foto Koleksi R.Ng. Projopangrawit
Gambar. 4.8
Salah Satu Instrumen Gamelan Kyai Genthana Diduga Berfungsi Sebagai Instrumen Garap
Foto Koleksi R.Ng. Projopangrawit
147
Gambar. 4.9
Salah Satu Instrumen Gamelan Kyai Genthana Diduga Berfungsi Sebagai Instrumen Garap
Foto Koleksi R.Ng. Projopangrawit
Gambar. 4.10
Salah Satu Instrumen Gamelan Kyai Genthana Diduga Berfungsi Sebagai Instrumen Garap
Foto Koleksi R.Ng. Projopangrawit
Gambar. 4.11
Salah Satu Instrumen Gamelan Kyai Genthana Diduga Berfungsi Sebagai Instrumen Balungan
Foto Koleksi R.Ng. Projopangrawit
148
Gambar. 4.12
Salah Satu Instrumen Gamelan Kyai Genthana Diduga Berfungsi Sebagai Instrumen Balungan
Foto Koleksi R.Ng. Projopangrawit
Fungsi instrumen-instrumen di atas diduga untuk mengelaborasi aktualitas melodi. Instrumen lain yang bertugas untuk menjadi penanda bangunan struktur ekspresi musikal sebagaimana terjadi dalam musik karawitan adalah instrumen yang diduga berfungsi seperti instrumen kenong dan instrumen yang diduga berfungsi sebagai gong pada gamelan konvensional. Dua instrumen yang diduga sebagai instrumen struktural itu adalah sebagai berikut.
Gambar. 4.13
Salah Satu Instrumen Gamelan Kyai Genthana Diduga Berfungsi Sebagai Instrumen Struktural Setara Instrumen Kenong Pada Gamelan Konvensional
Foto Koleksi R.Ng. Projopangrawit
149
Gambar. 4.14
Salah Satu Instrumen Gamelan Kyai Genthana Diduga Berfungsi Sebagai Instrumen Struktural Setara Instrumen Gong Pada Gamelan Konvensional
Foto Koleksi R.Ng. Projopangrawit
Berdasarkan gambar-gambar di atas dapat dipahami bahwa perangkat Gamelan Kyai Genthana adalah seperangkat instrumen gamelan yang terdiri dari (1) dua buah instrumen rakitan tabung-tabung perunggu berbentuk bulat yang terbelah di bagian tengah, (2) dua buah instrumen berbentuk bundar pipih dengan salah satu sisi terbuka, (3) sebuah instrumen rakitan dari beberapa tabung perunggu berbentuk pipih dan bolong di bagia bawah, (4) sebuah instrumen rakitan yang terdiri dari beberapa tabung perunggu berbentuk bundar pipih dengan salah satu sisi terbuka, digabung dengan tabung-tabung perunggu berbentuk balok, (5) sebuah instrumen perunggu berbentuk bulat panjang, yang ditengahnya berongga yang patut diduga berfungsi sebagai instrumen struktural setara kenong, dan (4) sebuah gentha besar yang digantung dengan diberi resonansi guci di bawahnya yang patut diduga berfungsi sebagai instrumen struktural setara gong.
Ada dua macam informasi mengenai asal-usul gamelan tersebut.
Konon, gamelan Kyai Genthana adalah hadiah dari Raja Thailand kepada Raja Surakarta pada tahun 1930-an. Informasi lain menyatakan bahwa gamelan tersebut merupakan hasil karya pengrajin gamelan lokal, orang-orang Jawa.
Nama gamelan Kyai Genthana diberikan oleh para pengrawit Jawa. Kata
150
“genthana” berhubungan dengan kata dari bahasa Jawa, “gentha”, artinya
‘lonceng’ (Kartomi 2002: 45-6). Pada generasi Suwardi, gamelan ini tidak pernah dimainkan, karena pengrawit gamelan istana pada umumnya sudah tidak memahami garap asli dari musik gamelan Kyai Genthana. Dari beberapa informan, hanya ada sedikit orang yang dapat memainkan orkestra ini. Ada tiga nama yang mereka sebut, yang kebetulan orang-orang tersebut telah meninggal dunia, yaitu Pontjopangrawit, Martopangrawit, dan Mlojowidodo. Sayangnya, ketiganya tidak mewariskan pengetahuan dan keahliannya kepada generasi yang lebih muda. Akibatnya, tidak ada seorangpun yang mengetahui garap atau permainan gamelan Kyai Genthana. Hingga saat ini, wujud ekspresi musikal dan bagaimana teknik memainkan insrumen gamelan Kyai Genthana berikut rancang bangun orkestrasinya tidak cukup diketahui secara jelas.
Sebagaian alat musik itu tersimpan di Balai Bang (nama bangunan tempat penyimpanan gamelan) dan beberapa yang lain hilang entah ke mana.
Informasi tersebut memberikan ilham pada Suwardi untuk mencipta satu orkestra gentha baru dengan instrumen baru, karakter bunyi yang baru dan tentu saja komposisi yang juga baru. Jadi, gamelan gentha karya Suwardi adalah rekonstruksi imajinatif gamelan gentha bernama Kyai Genthana.
Uniknya, ia mengaku bahwa pada saat berkarya mencipta instrumen gamelan gentha, ia belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri gamelan Kyai Genthana itu. Kepada Sinar Harapan ia mengatakan bahwa ia hanya menciptakan alat musik ini berdasarkan bentuk yang dijelaskan oleh orang yang pernah melihat gamelan Kyai Genthana di karaton (Simatupang, 2001).
Jadi, berdasarkan pengalaman Suwardi, bentuk dan kualitas artistik serta keadaan dan kekuatan yang ada di dalam imajinasi, pikiran, dan angan-angan berupa gambaran objek mengenai bentuk-bentuk indah atau bentuk-bentuk menyenangkan yang berguna sebagai penanda karakter suatu karya seni dapat menjadi sumber bagi penciptaan karya seni.