Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta
e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Kegiatan merancang suatu program pembelajaran pada bidang vokasi perlu diperhatikan sejumlah persyaratan diantaranya persyaratan tugas, peserta didik, tempat kerja, dan organisasi. Analisis tugas merupakan suatu kegiatan untuk menentukan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas pada suatu jabatan kerja yang dapat diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap seberapa besar pengaruh penerapan program pembelajaran menggunakan desain analisis tugas terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada kompetensi perawatan dan perbaikan sepeda motor. Penelitian ini bersifat Quasi Experiment dengan rancangan penelitian pretest-postest control group design. Teknik analisis data menggunakan uji t dan analisis variansi satu arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar kelompok siswa yang diajar dengan program pembelajaran melalui analisis tugas secara signifikan lebih tinggi dari yang diajar dengan program pembelajaran konvensional. Temuan ini didasarkan atas hasil perhitungan dengan uji t, diperoleh thitung sebesar 3,6, sedangkan ttabel dengan α=0.05sebesar 1,697 yang terdapat pengaruh
yang signifikan penerapan program pembelajaran melalui analisis tugas terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Temuan ini didasarkan atas hasil analisis variansi diperoleh F hitung = 11,21 sedangkan Ftabel = 3,98 sehingga Fhitung > Ftabel.
Kata Kunci : Desain Pembelajaran, Analisis Tugas
1. PENDAHULUAN
Salah satu agenda pemerintah dalam reposisi pendidikan kejuruan adalah re-engineering (menata ulang) sistem pendidikan dan pelatihan (diklat) kejuruan dengan membentuk diklat yang permeable dan fleksibel. Dengan terbentuknya sistem ini memberikan peluang dikembangkannya diklat keterampilan di berbagai bidang termasuk bidang otomotif baik melalui diklat formal maupun non formal.
Peran sekolah kejuruan sangat penting dalam mengemban misi menghasilkan tenaga kerja yang profesional agar siap memasuki lapangan kerja. Pemilihan metode analisis tugas dalam mengembangkan pembelajaran teknik mekanik otomotif dikarenakan alasan empiris dan praktis. Alasan empiris yaitu analisis tugas memiliki keistimewaan yaitu hasil analisis tugas dapat merumuskan tampilan sasaran (performance goal), merupakan kompetensi yang harus dimiliki siswa, dan lebih mendekati idealisme kurikulum yang relevan dengan dunia kerja. Sedangkan alasan praktis yaitu sebagai acuan-acuan teori dan praktis yang terintegrasi melalui suatu rekonstruksi secara induktif untuk dapat mengungkapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) lebih operasional (Wakhinuddin, 2002).
Permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada bagaimana penerapan program pembelajaran melalui
analisis tugas untuk kompetensi perawatan dan perbaikan sepeda motor dapat meningkatkan hasil belajar kognitif dan psikomotor siswa sekolah menengah kejuruan.
Perencanaan pembelajaran adalah suatu rancangan yang disusun secara logis dan sistematis untuk meningkatkan hasil pengajaran (Soekartawi, 1995). Menurut Kemp (1994) yang pertama dan paling penting dalam merancang pembelajaran adalah suatu kegiatan berpikir dengan memastikan bahwa suatu rancangan pembelajaran cocok untuk program yang akan dilaksanakan.
Desain program pembelajaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rancangan program pembelajaran untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Sesuai dengan arti tersebut dapat dikatakan bahwa desain program pembelajaran sama pengertiannya dengan rencana kegiatan belajar mengajar atau disebut juga dengan rencana program pembelajaran (Seels & Richey, 1994).
Pendidikan teknik tidak terlepas dari proses penyesuaian antara peserta didik dengan jabatan kerja dalam dunia usaha/dunia industri. Jenjang dan kualifikasi tiap jabatan pekerjaan cenderung mempunyai sistem pendidikan tertentu pula. Menurut Gagne (1978:100) analisis tugas dibagi atas tiga tipe yaitu; (1) analisis proses informasi, ialah suatu analisis yang diperlukan untuk mengidentifikasi informasi dan perilaku untuk
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 23 mencapai tujuan pembelajaran. (2)
Analisis/klasifikasi tugas, ialah analisis pembelajaran untuk menentukan kategori belajar. (3) analisis tugas, ialah analisis untuk mengetahui prasyarat belajar (prereqiusites) dan menyusun urutan pembelajaran.
Kemp (1994) menyatakan bahwa analisis tugas ialah suatu kegiatan untuk menentukan materi apa dan bagaimana cara mempelajarinya. Melalui analisis tugas akan diperoleh pengetahuan untuk memperoleh suatu keterampilan. Kemudian menurut Reigeluth (1980) melalui analisis tugas akan diperoleh urutan pembelajaran yang logis dan sistematis, artinya guru akan mengajarkan topik- topik secara hirarkis dan saling berhubungan. Pengorganisasian isi materi pembelajaran melalui analisis tugas akan mengarahkan siswa kepada upaya penguasaan keterampilan dan menemukan sendiri cara belajarnya.
Pemindahalihan konsep otomotif dari teknologi otomotif ke dalam pembelajaran mekanik otomotif dengan menggunakan analisis tugas akan menghasilkan susunan sistem berpikir dalam suatu prosedur yang menjadi landasan pelaksanaan pembelajaran. Seorang guru atau instruktur yang akan mengembangkan program pembelajaran mata diklatnya dengan menggunakan metode analisis tugas dapat mengikuti prosedur kerja seperti pada gambar berikut:
Gambar 1. Langkah-langkah dalam Mengembangkan Program Pembelajaran dengan Analisis Tugas
(Wakhinuddin, 2002:298)
Analisis tugas merupakan suatu proses penjabaran tugas menjadi bagian-bagian atau unsur tugas belajar yang disusun ke dalam suatu organisasi (struktur) yang bagian-bagiannya berhubungan satu sama lain. Menurut Davies (1991) tujuan akhir dari analisis tugas adalah untuk menetapkan suatu kriteria tingkah laku yang dapat dikerjakan oleh siswa dalam belajar. Menurut Kemp (1994) bahwa dengan analisis tugas akan diperoleh suatu pengalaman tentang bagaimana melakukan suatu keterampilan. Pemahaman siswa terhadap suatu tugas dapat menentukan prosedur yang perlu dilakukan oleh siswa, karena melalui prosedur yang ditentukan menumbuhkan pemahaman siswa terhadap tujuan- tujuan belajar, isi pembelajaran dan proses belajar.
Bloom (1982:108) menyatakan bahwa pada suatu kegiatan pembelajaran para siswa sarat dengan tugas-tugas belajar (learning task) dalam bidang kognitif, afektif dan psikomotor. Gambaran kondisi ini ditunjukkan seperti pada gambar berikut:
Gambar 2: Kondisi Perilaku Awal dan Akhir dalam Belajar
Sumber: Bloom (1982:108)
Human Characteristics and School Learning
Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa seseorang yang belajar harus mengalami proses pembelajaran dengan tugas-tugas belajar sehingga kondisi atau tingkah lakunya berbeda dari kondisi sebelumnya. Pentingnya analisis tugas dalam proses pembelajaran dikemukakan oleh Gagne (1978:105) yaitu “learning task is of particular importance to instructional design, because it is the means of identifying prerequesites of what is to be learned. Thus one is able to progress from target objectives to enablin objectives”. Dari kutipan tersebut jelas bahwa analisis tugas adalah bagian yang sangat penting dalam desain pembelajaran, sebab analisis tugas dapat menentukan prasyarat belajar yang harus dipelajari siswa. Dengan demikian dapat dikembangkan dari tujuan umum ke tujuan khusus.
Seels dan Glasgow (1998:32) menambahkan bahwa analisis kebutuhan mendahului analisis tugas, dan analisis tugas mendahului analisis instruksional. Analisis ini termasuk di dalamnya adalah proses pengumpulan informasi untuk tujuan khusus, analisis data, dan pengambilan keputusan berdasarkan pada data. Pengumpulan data dan proses analisis berangkat hal yang umum ke yang khusus. Ini dimulai dari langkah analisis kebutuhan Mengidentifikasi dan
menguraikan pekerjaan
Mengidentifikasi prasyarat siswa
Mengidentifikasi dan menganalisis kompetensi siswa
Mengurutkan tugas dan tujuan Mengembangkan tes kompetensi Pengembangan paket pembelajaran Implementasi dan manajemen program Analisis Okupasi Pengembangan Pembelajaran Tugas-tugas belajar Proses pembelajaran Tingkat dan tipe keberhasilan Nilai-nilai belajar Perubahan sikap Perilaku awal kognitif Sikap awal
PEND-04
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 24 pembelajaran yang merupakan jawaban dari
pertanyaan khusus tentang masalah apa yang terjadi pada kegiatan pembelajaran. Setelah hal ini jelas, maka dilanjutkan dengan analisis tugas yang merupakan jawaban dari pertanyaan khusus tentang pekerjaan atau isi pembelajaran. Akhirnya, dilakukan langkah analisis pembelajaran yang merupakan jawaban pertanyaan tentang kompetensi siswa yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja yang harus diajarkan.
Pada diagram di bawah ini akan diuraikan pengembangan sistem perencanaan pembelajaran (Instructional System Design) dengan analisis tugas (Seels & Glasgow Model, 1998:33).
Gambar 3: Langkah-langkah Pengembangan Desain Pembelajaran berdasarkan
Analisis Tugas
(Sumber: Seels & Glasgow, 1998:33)
Pada gambar 4 di atas, terlihat bagaimana ketiga jenis analisis saling berhubungan satu sama lain. Ketiga konsep di atas dapat diuraikan secara jelas titik permulaannya dan titik akhirnya. Analisis tugas dimulai ketika analisis kebutuhan telah lengkap. Pengumpulan data dalam analisis kebutuhan akan disesuaikan berikutnya pada analisis tugas. Pada mulanya, fakta-fakta yang diperoleh dari analisis kebutuhan menunjukkan bahwa pembelajaran membutuhkan fakta yang sesungguhnya dari permasalahan atau kebutuhan yang ada. Namun data ini masih bersifat umum dan luas sehingga perlu dilakukan analisis tugas. Proses ini terus dilanjutkan sampai perencana memutuskan bahwa data telah tercukupi dan siap digunakan sebagai dasar dalam memulai perencanaan pembelajaran.
2. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau. Siswa yang diteliti adalah siswa kelas II Mesin Otomotif tahun pelajaran 2006-2007 semester I. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan program pembelajaran pada kompetensi perawatan dan perbaikan sepeda motor pada siswa kelas II Mesin Otomotif pada lokasi penelitian. Program pembelajaran yang diterapkan adalah program pembelajaran berdasarkan analisis tugas yang diterapkan pada kelas perlakuan (eksperimen) dan program pembelajaran konvensional pada kelas kontrol. Tujuan penerapan program pembelajaran tersebut adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar baik secara kognitif maupun psikomotor pada kedua kelas yang diberikan perlakuan berbeda.
Penelitian ini dilakukan guna mengungkap pengaruh penerapan program pembelajaran melalui analisis tugas belajar terhadap hasil belajar siswa SMK Negeri 1 Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan-Riau. Penelitian ini bersifat Quasi Experiment. Jalaludin (1998:50) menjelaskan bahwa quasi experiment merupakan sebuah penelitian yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan yang dapat diperoleh melalui eksperimen yang sebenarnya, tetapi tidak memungkinkan untuk mengontrol semua variabel- variabel yang mempengaruhi variabel terikat.
Pada penelitian ini peneliti mencoba mengubah pembelajaran biasa (konvensional) yang dilaksanakan menjadi pembelajaran menggunakan analisis tugas. Penelitian ini dilaksanakan terhadap dua kelas sampel dengan memberikan pretest dan posttest. Rancangan penelitian yang digunakan adalah dalam bentuk Pretest-Posttest Control Group Design dengan menggunakan variabel bebas dan satu variabel terikat. Variabel bebas adalah program pembelajaran berdasarkan analisis tugas belajar dan pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional. Sedangkan variabel terikat yaitu hasil belajar koginitif dan hasil belajar psikomotor pada kompetensi perawatan dan perbaikan sepeda motor. Tabel 1: Rancangan Penelitian
Sumber: Jallaludin (1998:42) Keterangan :
X : perlakuan yang akan diberikan pada kelas eksperimen yaitu pembelajaran menggunakan analisis tugas, sementara kelas kontrol pembelajaran secara konvensional.
T1 : tes kemampuan awal T2 : tes akhir hasil belajar
Kelas Pretes Treatment Post tes
Eksperimen T1 X T2 Kontrol T1 T2 Analysis What is the problem ? How do we solve it ? What is the job ? What must be learned ? Start Needs Analysis Task Analysis Instructional Analysis Design Development Implementation Evaluation End
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 25 Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah tes hasil belajar. Suatu tes hasil belajar dikatakan valid, bila tes tersebut dapat mengukur sampel representatif dari materi pelajaran yang diberikan dan perubahan perilaku yang diharapkan terjadi pada siswa. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, penyusunan dan pemilihan butir-butir soal tes hendaknya berdasarkan pada kisi-kisi soal. Kisi- kisi soal disusun berpedoman pada kurikulum dan indikator yang sesuai dengan standar kompetensi pembelajaran motor otomotif.
Setelah soal tes hasil belajar disusun, maka perlu dinilai validitas butir soal tersebut dengan menentukan indeks kesukaran, daya beda dan reliabilitas soal. Indeks kesukaran, daya beda dan reliabilitas soal dapat diukur dengan menggunakan uji coba instrumen pada kelas lain yang memiliki kemampuan hampir sama dengan kelas sampel.
Data penelitian ini dikumpulkan dengan tes hasil belajar. Tes ini terdiri dari dua macam yaitu:
(1) Tes awal, dilakukan dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal siswa terhadap bahan yang akan diajarkan. Tes awal ini dilakukan oleh guru bidang studi motor otomotif sebelum dilakukan program pembelajaran. Tes awal dilakukan sebanyak satu kali yang dilakukan kepada kedua kelompok penelitian ini. Kegunaan dari tes awal adalah sebagai patokan untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran motor otomotif setelah mempelajari program pembelajaran.
(2) Tes akhir dilakukan setelah menyelesaikan seluruh program pembelajaran. Tes akhir dilakukan untuk mendapatkan data hasil belajar dari penerapan program pembelajaran berdasarkan analisis tugas. Tes yang diberikan dalam bentuk tes soal untuk hasil belajar kognitif, sedangkan untuk hasil belajar psikomotor dilakukan tes praktikum.
Untuk menguji hipotesis yang diajukan, digunakan teknik analisis data yang pengolahannya dilakukan secara manual dengan bantuan kalkulator dan program komputer Microsoft Office Excel 2003. Sebelum pengujian hipotesis dilakukan pengujian persyaratan analisis yaitu uji normalitas dengan uji Lilliefors dan homogenitas data penelitian dengan uji Bartlett. Sedangkan untuk menguji hipotesis dilakukan dengan uji-t, dan analisis variasi (ANAVA) satu arah dilakukan untuk melihat pengaruh program pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar siswa (Sudjana, 1996).
3. HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Skor tes awal, tes akhir dan hasil belajar psikomotor yang diperoleh siswa dari hasil penerapan program pembelajaran yang berbeda, terlebih dahulu diuji normalitas datanya. Pengujian tersebut dilakukan dengan uji Liliefors pada taraf
05 , 0
=
α . Tabel di bawah ini memperlihatkan hasil uji normalitas data.
Tabel 2: Hasil Uji Normalitas Data Hasil Penelitian Uji homogenitas dilakukan untuk menguji kesamaan data yang diperoleh berupa nilai tes awal, tes akhir dan nilai hasil belajar psikomotor menggunakan Uji Bartlett (B). Berdasarkan uji Bartlett (B) tersebut lalu dihitung harga Chi-Kuadrat (
χ
2). Dari hasil perhitungan diperolehχ
2 untuk tes awal, tes akhir hasil belajar kognitif dan tes akhir hasil belajar psikomotor. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:Tabel 3: Hasil Uji Homogenitas Data Hasil Penelitian
Dari tabel 3 di atas terlihat bahwa untuk hasil tes awal dan tes akhir hasil belajar kognitif pada kedua kelas adalah homogen. Hal ini berarti memenuhi persyaratan untuk dapat dilakukan Analisis Variansi (Anava) pada data hasil tes kognitif karena data tersebut berdistribusi normal dan homogen. Sedangkan pada hasil belajar psikomotor data tidak homogen, sehingga tidak dapat dilakukan pengujian.
Kelas Tes N Nilai Lo Nilai L
Tabel
Ket.
Kontrol Tes Awal (Kognitif) 36 0,1128 0,886 Normal Tes Akhir (Kognitif) 36 0,1458 0,886 Normal Tes Akhir (Psikomotor) 36 0,1961 0,886 Normal Eksperi men Tes Awal (Kognitif) 36 0,1113 0,886 Normal Tes Akhir (Kognitif) 36 0,1350 0,886 Normal Tes Akhir (Psikomotor) 36 0,0802 0,886 Normal
Hasil Tes Bartlett (B) 2
χ
hitung 2χ
tabel Keterangan Tes awal (Kognitif) 133,93 0,092 3,84 Homogen Tes akhir (Kognitif) 117,76 0,25 3,84 Homogen Tes akhir Psikomotor 90,3 11,5 3,84 Tidak HomogenPEND-04
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 26 Sesuai dengan hipotesis yang diuji, penelitian ini
menggunakan dua macam analisis yaitu: a. Uji – t
Uji – t dilakukan untuk menguji apakah hasil belajar siswa dengan penerapan analisis tugas lebih tinggi dari kelompok siswa dengan pembelajaran konvensional dengan taraf signifikansi (
α
= 0,05). Hasil uji – t dapat dilihat pada lampiran, dan hasil perhitungan dirangku m pada tabel 4 berikut ini:Tabel 4: Hasil Uji – t
Kelas t hitung t tabel Kesimpulan Analisis Tugas
dengan Konvensional 1,88 1,69 thitung > ttabel
b. Analisis Variansi (ANAVA)
Analisis variansi digunakan untuk mengetahui pengaruh hasil belajar siswa dengan pembelajaran konvensional dan dengan desain analisis tugas belajar. Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan teknik Analisis Variansi (ANAVA) satu jalan dengan taraf signifiansi (
α
= 0,05). Adapun hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5: Hasil Analisis Variansi Satu Arah (ANAVA)Hasil belajar siswa yang diajar dengan desain pembelajaran berdasarkan analisis tugas lebih tinggi daripada yang diajar dengan metode konvensional.
H0 :
µB
=µA
H1 :µB
>µA
Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji – t dengan taraf signifikansi α=0.05, harga t hitung dibandingkan dengan harga ttabel. Rangkuman hasil perhitungan uji hipotesis pertama dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 6: Rangkuman Perhitungan Uji Hipotesis
Berdasarkan tabel 6 di atas, diperoleh thitung sebesar 3,6, sedangkan ttabel dengan
α=0.05
sebesar 1,697. Hal ini berarti thitung lebih besar dari ttabel. Dengan demikian hipotesis nol (H0) ditolak selanjutnya hipotesis penelitian (H1) yang menyatakan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan desain pembelajaran berdasarkan analisis tugas lebih tinggi daripada yang diajar dengan metode konvensional “diterima”.Temuan ini diperkuat dengan hasil analisis variansi (ANAVA) diperoleh F hitung = 11,21 sedangkan Ftabel = 3,98 sehingga Fhitung > Ftabel yang dapat dimaknai bahwa hasil belajar kognitif siswa yang diajar dengan desain pembelajaran analisis tugas berbeda dengan yang diajar dengan konvensional. Jadi ada pengaruh positif yang signifikan dari penerapan desain pembelajaran analisis tugas terhadap hasil belajar motor otomotif siswa.
Sebelum diberikan perlakuan pembelajaran dengan desain analisis tugas, hasil tes awal (kognitif) antara siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen tidak berbeda secara signifikan dalam pengetahuan sepeda motor. Hal ini dapat dilihat berdasarkan nilai rata-rata hasil tes awal kelas kontrol 48,89 dan kelas eksperimen 48,33. Sedangkan hasil Analisis Variansi (ANAVA) untuk tes awal diperoleh Fhitung (0,067) < F tabel (3,98). Dengan demikian dapat dimaknai bahwa kemampuan awal antara siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen tidak berbeda secara signifikan. Tidak terdapat perbedaan kemampuan awal tersebut sesuai dengan keadaan sampel yang diambil dari kedua kelas II MO1 (kelas Eksperimen) dan kelas II MO2 (kelas kontrol) yang memiliki nilai rata-rata kelas sama pada pelajaran motor otomotif.
Setelah dilakukan pembelajaran yang berbeda pada materi perawatan dan perbaikan sepeda motor kedua kelas tersebut ternyata terjadi peningkatan hasil belajar kognitif siswa pada aspek pengetahuan, pemahaman dan aplikasi/penerapan. Namun demikian terdapat perbedaan dilihat dari nilai rata- rata kelas kontrol (program pembelajaran konvensional) sebesar 76,62, sedangkan kelas eksperimen (program pembelajaran analisis tugas) nilai rata-rata sebesar 78,10. Analisis data hasil belajar kognitif sebagai dampak program pembelajaran dengan Analisis Variansi (ANAVA)
Metode Pembelajaran
Eksperimen Konvensional
Hasil belajar dari tes akhir
N = 36
X
1 = 78,10 S2 1 = 52,24 N = 36X
2 = 72,62 S2 2 = 44,02 thitung 3,56 ttabel (0.95) (34) 1,697 Sumber Variansi Jumlah Kuadrat (JK) dk Mean Kuadra t (MK) F Hitu ng F Tab el Antar Kelompok (a) 539,80 1 539,80 11,21 3,98 Dalam Kelompok (d) 3369,39 70 48,13 Total (t) 3909 71Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 27 satu jalur menunjukkan perbedaan yang signifikan
dimana F hitung (11,21) > Ftabel (3,98). Sedangkan hasil uji t menunjukkan bahwa nilai hasil belajar kognitif program pembelajaran berdasarkan analisis tugas lebih tinggi dari nilai siswa dengan program konvensional, dimana hasil uji thitung (3,6) > ttabel (1,69).
Pada hasil belajar psikomotor yang diperoleh dari nilai praktikum siswa yang berbeda antara siswa kelas kontrol (program konvensional) dengan kelas eksperimen (program analisis tugas). Hal ini diketahui dari nilai rata-rata praktikum kelas kontrol sebesar 73,61, sedangkan nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 77,64. Dari hasil uji t diperoleh bahwa nilai thitumg (3,9) > ttabel (1,69). Hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa hasil belajar praktikum (psikomotor) yang diperoleh siswa kelas eksperimen jauh berbeda lebih tinggi dari hasil praktikum kelas kontrol.
Terjadinya perbedaan hasil belajar kognitif dan psikomotor pada kedua kelas tersebut dapat disebabkan oleh adanya faktor internal dan eksternal. Faktor internal siswa menyangkut dengan kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran, sedangkan faktor eksternal dipengaruhi oleh program pembelajaran yang diterapkan pada masing-masing kelas tersebut. Penerapan program pembelajaran berdasarkan analisis tugas membuat siswa memperoleh gambaran umum tentang materi, dan juga mendapatkan kesempatan untuk saling memberi gagasan dalam diskusi, serta dapat mengungkapkan masalah secara bersama-sama.
Temuan penelitian ini sejalan dengan pendapat Gagne (1985) yang menyatakan bahwa proses belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Kombinasi kedua faktor tersebut akan membentuk kreativitas. Program pembelajaran berdasarkan analisis tugas dapat membentuk kreativitas, memperbaiki sikap siswa dalam belajar, mengarahkan kegiatan mental dan melibatkan siswa secara aktif dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam program pembelajaran tersebut.
Beberapa keterbatasan penelitian dapat dijelaskan dalam uraian berikut:
(1) Penelitian ini baru mengungkap pengaruh program pembelajaran berdasarkan analisis tugas terhadap hasil belajar kognitif, sedangkan pada hasil belajar praktikum (psikomotor) belum terbukti dipengaruhi oleh program pembelajaran analisis tugas karena data yang diperoleh tidak homogen dikarenakan tidak adanya tes awal kemampuan psikomotor siswa, sehingga tidak diketahui kemampuan awal psikomotor masing- masing kelas.
(2) Penelitian ini terbatas oleh waktu penelitian yang relatif singkat yaitu lima kali pertemuan untuk 5 materi kompetensi perawatan dan perbaikan sepeda motor, sehingga untuk mendapatkan data
yang lebih kompleks terkait topik penelitian ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
4. PENUTUP
Berdasarkan temuan penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
(1) Hasil belajar kelompok siswa yang diajar dengan program pembelajaran berdasarkan analisis tugas secara signifikan lebih tinggi dari kelompok siswa yang diajar dengan program pembelajaran konvensional. Temuan ini didasarkan atas hasil perhitungan dengan uji t, diperoleh thitung sebesar 3,6, sedangkan ttabel dengan α=0.05 sebesar 1,697. Hal ini berarti thitung lebih besar dari ttabel. Dengan demikian hipotesis nol (H0) ditolak selanjutnya hipotesis penelitian (H1) yang menyatakan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan desain pembelajaran berdasarkan analisis tugas lebih tinggi dari yang diajar dengan program konvensional “diterima”.
(2) Terdapat pengaruh yang signifikan penerapan program pembelajaran berdasarkan analisis tugas terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Temuan ini didasarkan atas hasil analisis variansi (ANAVA) diperoleh F hitung = 11,21 sedangkan Ftabel = 3,98 sehingga Fhitung > Ftabel yang dapat dimaknai bahwa hasil belajar kognitif siswa yang diajar dengan desain pembelajaran analisis tugas berbeda dengan yang diajar dengan konvensional. Jadi ada pengaruh positif yang signifikan dari penerapan desain pembelajaran berdasarkan analisis tugas terhadap hasil belajar siswa pada kompetensi perawatan dan perbaikan sepeda motor.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka diajukan saran-saran sebagai berikut: