• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Ketentuan Ruang Terbuka Hijau oleh

BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Implementasi Ketentuan Ruang Terbuka Hijau oleh

Salah satu misi Tata Ruang Kota Surakarta adalah mengembalikan dan memanfaatkan kawasan lindung secara benar serta menciptakan penghijauan sebagai paru-paru kota. Pasal 29 Undang-Undang Penataan Ruang mengharuskan setiap wilayah memiliki ruang terbuka hijau sejumlah 30 % dari luas wilayah masing-masing daerah. Presentase 30% disini 10% merupakan RTH privat dan 20% merupakan RTH publik. Keberadaan ruang terbuka hijau menjadi penting sebagai penangkal dampak buruk pemanasan global. Selain sebagai ruang publik, juga dapat dimanfaatkan untuk daerah resapan air dan konservasi lingkungan.

Sesuai dengan ketentuan pasal 29 Undang-Undang Penataan ruang tersebut Kota Solo berupaya menambah luasan ruang terbuka hijau, salah satu diantaranya dengan taman kota. Proses menambah luasan ruang terbuka hijau ini dilakukan secara bertahap. Pada tahun 2011 ini, ruang terbuka hijau di Solo baru mencapai sekitar 18,8%. Masih terkesan jauh dari angka ideal sebesar 30 %. Namun angka sebesar 18,8 % untuk ukuran kota Surakarta dengan luas 44,06 km2 sudah cukup banyak. Untuk meningkatkan luasan Ruang Terbuka Hijau, Pemerintah kota Surakarta memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk dijadikan taman kota. Dalam kaitannya dengan penataan ruang terbuka hijau juga diungkapkan oleh Hiroshi

Takeda dalam tulisannya sebagai berikut ”State lands were inventoried and turned into a city park. For example the manufacture of city parks along the riverbanks through planting and greening movement along the river for environmental preservation”. Tanah-tanah Negara diinventarisasi dan dijadikan taman kota. Misalnya pembuatan taman kota di sepanjang bantaran sungai melalui gerakan menanam dan penghijauan di bantaran kali untuk pelestarian lingkungan (Hiroshi Takeda, 2004; 2).

Alasan dipilihnya bantaran sungai sebagai lahan yang digunakan menjadi taman kota dikarenakan bantaran sungai seharusnya bukan sebagai tempat hunian, melainkan untuk lokasi penghijauan mengingat luas wilayah Kota Surakarta tidak terlalu luas. Hunian-hunian liar yang sebelumnya berada di bantaran sungai telah direlokasi sebelumnya guna pembuatan taman kota sebagai wujud memperluas ruang terbuka hijau. Dalam lima tahun mendatang, pembangunan kota Solo akan dirancang dengan menyatukan nilai budaya dengan lingkungan yang diistilahkan dengan konsep Eco-Cultural (Eco-Budaya) sebagai salah satu contoh riilnya adalah hutan kota di sepanjang sungai yang ada.

No Jenis Luas (Ha) Presentase

1 Taman Kota 9,59 0,22 2 Lapangan 63,25 1,44 3 Turus jalan 214,55 4,87 4 Pemakaman 68,76 1,56 5 Sempadan Sungai 77,61 1,76 6 Kebun Binatang 15,67 0,36 7 Sawah 142,81 3,24 8 Tegalan 133,24 3,03 9 Tanah kosong 77,23 1,75 Jumlah 802,71 18,23

Pemenuhan target 30% ruang terbuka hijau diatas sekiranya menjadi dasar pijakan untuk pembangunan taman-taman di Kota Solo. Presentase 30% disini 10% merupakan RTH privat dan 20% merupakan RTH publik. Yang dimaksud RTH Privat adalah RTH berupa ruang terbuka (halaman) yang harus dibuat/ disediakan oleh masyarakat yang membuat bangunan. Persyaratan luasnya harus disesuaikan dengan ukuran luas bangunan yang akan didirikan ini sudah ada ketentuan pengaturannya. Ketentuan ini harus dipenuhi untuk memperoleh Ijin Mendirikan Bangunan (Samsudi, 2010: 9). Adapun untuk mencapai target 30 % RTH pemerintah kota mengupayakannya dengan melindungi kelestarian RTH yang telah ada agar tidak beralih fungsi dan melakukan konservasi terhadap kawasan yang berpotensi untuk RTH yang disalahgunakan seperti halnya bantaran sungai. Upaya itu dilakukan untuk perlindungan dan pemulihan lahan agar sesuai dengan peruntukannya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Pasal 14 ayat (1), Pemerintah daerah memiliki kewenangan pula dalam menjalankan fungsi pemerintahan khususnya untuk pelaksanaan kebijakan pembangunan kota. Wewenang pemerintah daerah kabupaten atau kota dalam penyelenggaraan penataan ruang meliputi:

1. Pengaturan, pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang wilayah kabupaten/ kota dan kawasan strategis kabupaten atau kota:

2. Pelaksanaan penataan ruang wilayah kabupaten atau kota;

3. Pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis kabupaten atau kota; 4. Kerjasama penataan ruang antara kabupaten atau kota.

Dinas Tata Ruang Kota Surakarta sesuai tugas pokok dan fungsinya sebagai perencana, pengawas dan pengendali dalam pembangunan kota, sebagai kepanjangan tangan kebijakan Pemerintah Kota Surakarta dalam penataan kota. Dalam tugasnya sebagai pengawas, Dinas Tata Kota mengawasi bangunan- bangunan yang tidak ber IMB serta mengalami perubahan fungsi lahan.

Berdasarkan SK Walikota Nomor 9 Tahun 2004 tentang Pedoman Uraian Tugas Dinas Tata Kota Surakarta disebutkan Dinas Tata Kota mempunyai tugas:

1. Menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Tata Kota

2. Mengendalikan segala bentuk pertumbuhan dan perkembangan bangunan di Surakarta.

3. Mengendalikan segala pemanfaatan Tata Ruang Kota sesuai RUTRK Surakarta 4. Mewujudkan Kota Surakarta yang nyaman

Terdapat beberapa pihak yang bertanggungjawab terhadap penataan kota yaitu: a. Badan Lingkungan Hidup yang lebih menitikberatkan pada penataan

kawasan lindung termasuk didalamnya bantaran sungai

b. Dinas Pekerjaan Umum yang lebih menitikberatkan pada infrastruktur jalan dan drainase

c. Dinas Tata Ruang Kota sebagaimana telah dijelaskan penulis diatas sebagai pengembangan fungsi Badan Lingkungan Hidup

d. Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang lebih menitikberatkan pada tekhnis pelaksanaan dan pemeliharaan taman-taman kota

Menurut hasil wawancara dengan Bp Dandy Yoga E, S.T.,M.T. staf Tata Guna Lahan bid pemanfaatan ruang DTRK menyatakan bahwa “implementasi serta penambahan luasan ruang terbuka hijau pada hakikatnya bertujuan mengembalikan citra kota Solo sebagai Kota Berseri dengan cara:

1. mengembalikan kawasan-kawasan strategis kota (beautifikasi kota) dengan cara tamanisasi, city walk atau ruang publik;

2. mengembalikan fungsi kawasan yang selama ini dijadikan hunian tanpa izin sebagaimana fungsi semula (sempadan sungai, status hak atas tanah dan sempadan rel kereta api).

3. penataan ruang kota yang berkarakter Surakarta (City Branded)”

Rencana Strategis Dinas Tata Ruang Kota Tahun 2011-2015 merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan mengacu pada Rencana Kerja Pemerintah, memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan Daerah, rencana kerja, dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh

dengan mendorong partisipasi pemerintah diharapkan aktif untuk mampu mendorong masyarakat berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan.

Salah satu dorongan pemerintah untuk mewujudkan partisipasi pembangunan dari masyarakat dilaksanakan dengan Musyawarah Rencana Pembangunan (MUSRENBANG).

Pasal 5 Undang Undang RI Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional menyatakan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan penjabaran visi, misi dan program kepala daerah yang berpedoman kepada RPJP Daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. RPJMD tersebut, antara lain memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Batasan mengenai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. RPJMD juga sering disebut sebagai agenda pembangunan karena menyatu dengan agenda pemerintah yang akan dilaksanakan oleh Kepala Daerah selama menjadi pimpinan pemerintahan. Visi pembangunan jangka panjang menjadi koridor pemberi arah dan batasan pembangunan daerah jangka panjang yang dapat dijabarkan dalam periode pembangunan yang lebih pendek.

Hanya saja disampaikan olah Bp Dandy Yoga E, S.T.,M.T. bahwa ketika forum seperti MUSRENBANG, masyarakat belum mampu untuk memberikan partisipasinya secara maksimal. Seperti halnya perencanaan yang diusulkan masyarakat hanya ditujukan untuk wilayah sektoral (kampung, kalurahan) saja semisal usulan taman kecil dikampung atau kelurahan tertentu. Itupun untuk memenuhi kebutuhan warga ditingkatan RT/RW/Kelurahan saja. Adapun untuk wilayah kota masyarakat kecenderungan yang ada belum dapat untuk menyampaikan aspirasinya, dikarenakan keterbatasan pemahaman dan pengetahuan warga masyarakat mengenai haknya untuk berperan serta

dalam pembangunan kota secara menyeluruh tidak hanya sektoral RT/RW/kelurahan saja.

Pemerintah Kota sendiri diawal perencanaan pembangunan taman kota belum memiliki konsep mengenai bentuk peran serta masyarakat dalam rangka penjagaan dan pelestarian taman kota dan ini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah Kota Surakarta untuk merumuskan konsep pelibatan maupun peran serta masyarakat menjaga sarana taman kota sebagai aset masyarakat. Sehingga masyarakat merasa memiliki dan peduli untuk menjaga dan melestarikan.

Pembangunan wilayah Kota tentunya harus mendasarkan kepada Undang- Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang yang didalamnya mengatur mengenai ketentuan pelaksanaan Tata Ruang Wilayah Kota. Demikian pula Kota Solo dalam pembangunan bebarapa ruang publik selama ini tentu wajib mengacu kepada regulasi tersebut. Salah satu acuan penting dalam regulasi penataan ruang tersebut mensyaratkan bahwa pembangunan kota haruslah mengikutsertakan peran masyarakat atau lebih dikenal dengan sebutan “pembangunan yang partisipatif”. UU Penataan ruang menyebutkan bahwa dalam hal perencanaan sampai dengan evaluasi penataan ruang harus melibatkan peran serta masyarakat. Sebagaimana jelas termaktub dalam Pasal 55 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5)

UU Penataan Ruang. Pasal ini menekankan pentingnya pengawasan penataan ruang disetiap wilayah di Indonesia, termasuk didalamnya dikawasan Kota seperti halnya Kota Surakarta. Namun partisipasi dalam pelaksanaan harus tetap dikawal oleh Pemkot Surakarta selaku pemerintah daerah yang berwenang.

Beberapa peran yang diharapkan dimiliki oleh masyarakat diantaranya:

1. Membuka diri terhadap pembelajaran dari pihak luar, terutama yang terkait dengan rencana tata ruang wilayah, pengawasan dan pemanfaatan ruang:

2. Mampu mengidentifikasi persoalan lingkungannya sendiri, peluang-peluang dan mengelola kawasan budidaya dan kawasan lindung:

3. Mampu mengorganisasi diri dan mendukung pengembangan wadah lokal atau forum masyarakat sebagai tempat masyarakat mengambil sikap atau keputusan. 4. Berperan aktif dalam kegiatan yang melibatkan masyarakat baik berupa pemberian masukan, pengajuan keberatan, penyelenggaraan konsultasi, penyusunan program bersama pemerintah atau berpartisipasi dalam proses mediasi.

Maksud perencanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surakarta adalah mewujudkan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat kota dan lingkungan hidup perkotaan. Aspek Penataan Ruang Kota salah satunya meliputi pengendalian pemanfaatan ruang, banyak tanah yang seharusnya digunakan ruang terbuka hijau berubah fungsi menjadi permukiman kumuh. Pemerintah Kota Surakarta melalui perangkat pemerintahannya dalam Peraturan Daerah Kota Surakarta nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2011-2031 mengatur beberapa ketentuan untuk mengendalikan adanya penyalahgunaan fungsi ruang tersebut yaitu:

1. Ketentuan umum Peraturan Zonasi

Peraturan zonasi merupakan ketentuan yang mengatur pemanfaatan ruang dan unsur-unsur pengendalian yang disusun untuk setiap zona peruntukan sesuai dengan rencana rinci tata ruang.

2. Ketentuan Insentif dan Disinsentif

Rencana Tata Ruang Wilayah harus dapat ditaati oleh semua pihak. Untuk itu, dalam implementasinya pemerintah kota Surakarta harus menerapkannya dengan bijaksana. Pemerintah memiliki tindakan yaitu insentif dan disinsentif. Misalnya, apabila ada pihak mendirikan kawasan industri pada zona industri yang artinya memanfaatkan ruang sesuai peruntukannya akan diberikan insentif misalnya keringanan pajak namun apabila pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan rencananya, maka pemerintah akan membebankan

disinsentif yaitu pembebanan pajak. Sebagaimana tertera dalam Undang- Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dalam Pasal 28 disebutkan mengenai arahan insentif dan disinsentif yaitu:

a. Arahan insentif berupa :

1) Keringanan pajak, pemberian kompensasi, subsidi silang, imbalan, sewa ruang;

2) Pembangunan serta pengadaan infrastruktur; 3) Kemudahan prosedur perizinan;

4) Pemberian penghargaan kepada masyarakat, swasta atau pemerintah daerah. b. Arahan disinsentif berupa:

1) Pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan ruang;

2) Pembatasan penyediaan infrastruktur; 3) pengenaan kompensasi;

4) penalti. 3. Arahan sanksi

a. Jenis Pelanggaran :

1) Tidak sesuai rencana tata ruang yang telah ditetapkan

2) Tidak memanfaatkan ruang sesuai dengan ijin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang

3) Tidak mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan ijin pemanfaatan ruang

4) Tidak memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum b. Jenis Sanksi

1) peringatan tertulis

2) penghentian sementara kegiatan

4) penutupan lokasi

5) pencabutan ijin, pembatalan ijin 6) pembongkaran bangunan 7) pemulihan fungsi ruang 8) denda administratif

Hasil dari implementasi ketentuan penyediaan ruang terbuka hijau sesuai Pasal 29 Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang adalah : 1. Taman Balekambang

Merupakan taman terbesar di tengah kota yang terletak di belakang Stadion Manahan yang dalam kurun waktu beberapa tahun lalu merupakan tanah milik Mangkunegaran kemudian diserahkan kepada Pemkot untuk dikelola dan ditetapkan dengan hak pakai. Keberadaan taman Balekambang dulunya kurang mendapatkan perhatian Pemerintah setempat. Tahun 2007 Walikota Solo Joko Widodo melalui Dinas Tata Ruang Kota mulai menata kawasan tersebut selaku Dinas yang berwenang sebagai perencana, pengawas dan pengendali dalam pembangunan kota.

Sebelumnya taman Balekambang dijadikan hunian liar para pemain ketoprak (paguyuban wayang orang), oleh karena itu langkah awalnya adalah merelokasi hunian liar ke daerah Bayan, Kadipiro. Tentunya dengan memberikan sejumlah kompensasi semacam biaya transportasi. Setelah beberapa kali dilakukan negosiasi yang sifatnya win-win solution akhirnya proses relokasi dapat berjalan lancar. Taman Balekambang yang dulunya kumuh berganti dengan gedung kesenian, panggung terbuka dan lokasi outbound. Saat ini taman Balekambang menjadi ikon baru kota Solo sebagai ruang terbuka hijau. Taman Balekambang menjadi contoh riil bahwa taman ini diminati banyak pengunjung. Inilah wujud nyata kesuksesan Pemerintah Kota Surakarta dalam menambah luasan ruang terbuka hijau.

Merupakan taman kota yang terletak di pusat kota, di taman kota ini terdapat di Monumen Perjuangan 45. Kondisinya yang nyaman dengan banyaknya pepohonan dan ruang terbuka yang cukup memadai untuk kegiatan olah raga di pagi hari oleh warga kota. Letaknya yang strategis karena dekat dengan Mangkunegaran, Pasar legi, stasiun Balapan, dan kawasan pendidikan menjadikan keberadaan taman kota ini menjadi vital (http;//smartlandscape.solopos.com//pembenahanPKL : diakses tanggal 13 april 2012)

Beberapa tahun yang lalu monumen yang dikelilingi taman ini berubah menjadi kawasan perdagangan PKL yang lebih dikenal dengan Pasar Klitikan, sehingga manfaat ruang publik menjadi tereliminasi. Keberadaan PKL di Taman Banjarsari membuat taman tersebut kehilangan fungsinya sebagai ruang terbuka hijau. Proses relokasi yang cukup menemui banyak kendala dan alot, pada akhirnya para PKL berhasil dipindahkan ke lokasi baru yaitu Pasar Notoharjo setelah Walikota Solo Joko Widodo melakukan pendekatan yang telaten dengan jamuan makan hingga 54 kali. Dengan berbagai pendekatan persuasif, Pemkot Surakarta mampu menghadirkan kembali ruang terbuka hijau tanpa penggusuran paksa. Kira-kira pada tahun 2005-2006 relokasi se ju mla h 989 PKL menjadi solusi pemerintah daerah untuk mengembalikan fungsi monumen 45 sebagai ruang terbuka hijau sekaligus kawasan bersejarah.

3. Taman Tirtonadi

Taman yang terletak di depan terminal tirtonadi ini direvitalisasi Pemerintah Kota sekitar tahun 2008, dikembalikan fungsinya sebagai taman kota. Sebelum dilakukan penataan kawasan Taman Tirtonadi banyak digunakan sebagai sarana yang kurang positif. Prostitusi di pinggir Kali Anyar, aksi premanisme, ruwetnya keadaan terminal Tirtonadi, banyaknya pedagang liar, membuat fungsi Taman Partinah buatan Mangkunegoro VII itu terhapus.

Saat ini bantaran Sungai Kalianyar menjadi ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik menambah estetika kota Surakarta. Terdapat beberapa tanaman langka seperti lerak dan adem ayem ati, sebagai wujud melestarikan flora.

4. Taman Sekartaji

Taman berhias aneka topeng yang terletak dipinggiran Kali Anyar, Jebres, atau perempatan Rumah Sakit dr. Oen Kandang sapi ini merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Kota Surakarta mengembalikan kawasan bantaran sebagai lahan hijau terbuka. Taman yang pada mulanya tidak terawat dan mengandung resiko bencana yang tinggi pada akhirnya disulap menjadi sebuah tempat multifungsi yang tentunya memiliki manfaat bagi warga Surakarta. Namun di taman ini belum tersedia fasilitas bagi difabel, mengingat letaknya berdekatan dengan kantor YPAC sehingga sering dimanfaatkan para binaan YPAC. Diperlukan fasilitas khusus untuk warga masyarakat different ability (diffabel). Bahkan persoalan fasilitas untuk diffabel juga belum terdapat di taman kota yang lain.

5. City Walk (Srawung Warga)

City walk terletak di koridor sebelah kanan sepanjang jalan Slamet Riyadi. Sebuah Pedestrian yang tentu hanya boleh dilewati bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda. Jalur ini menjadi public space yang dilengkapi tempat duduk cantik yang berfungsi sebagai tempat singgah untuk beristirahat, menikmati kesejukan dan keindahan bunga, jogging atau berolahraga. Bagi yang punya laptop bisa juga merasakan koneksi internet melalui titik-titik

hotspot sepanjang City Walk.

Dasar hukum keberadaan city walk adalah Pasal 5 Peraturan Daerah Kota Surakarta nomor 8 Tahun 1993 tentang Rencana Umum Tata Ruang Kotamadya Daerah Tingkat II Surakarta Tahun 1993-2013 dijelaskan bahwa : ”RUTRK Surakarta dimaksudkan untuk memberikan arahan bagi penataan

ruang kota secara makro sehingga dapat dijadikan dasar bagi pembentukan perangkat-perangkat lunak lain serta sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan kota guna mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan kehidupan dan penghidupan masyarakat kota dalam mencapai kesejahteraan sesuai dengan aspirasi warga kota di dalam Kotamadya khususnya di wilayah perkotaan Surakarta pada umumnya”.

6. Monumen Patung Mayor Ahmadi

Monumen Patung Mayor Ahmadi yang terletak di Proliman Banjarsari diresmikan tanggal 7 Agustus 2010. Pemilihan tanggal disesuaikan dengan nilai filosofis, yakni pada tanggal itu pernah terjadi serangan umum. Sebelumnya di kawasan ini dipadati para Pedagang Kaki Lima, sekitar 20 PKL berhasil direlokasi dengan kesepakatan Pemkot telah memberikan sejumlah uang sebagai kompensasi atas kepindahan mereka. (http://harianjoglosemar.com).Pendirian monumen ini sebagai wujud keseriusan Pemkot Surakarta meningkatkan luasan ruang terbuka hijau.

7. Kawasan Ngarsopuro

Jalan sepanjang 500 meter. tepatnya di Jalan Diponegoro, menjadi ikon ruang publik baru di Surakarta. Kawasan itu juga menjadi salah satu lokasi pementasan seni budaya, seperti wayang, ketoprak, juga musik. Ngarsopuro sebagai kawasan cagar budaya merupakan contoh kawasan yang dirombak menjadi ruang terbuka publik yang nyaman. Toko-toko di kanan-kiri jalan berganti menjadi trotoar untuk pejalan kaki. Untuk itu, penghuni semula dipindah ke gedung baru yang dibangun di ujung jalan. Kawasan ini ramai dikunjungi saat sabtu malam dikarenakan adanya night market.

Taman kota harapannya dapat dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan yang positif oleh masyarakat, baik untuk sarana olah raga, rekreasi maupun sekedar untuk tempat nongkrong dan ngobrol masyarakat. Manfaat sosial keberadaan taman kota disamping manfaat

ekologis dan estetika diharapkan diperoleh masyarakat. Hal diatas adalah idealita yang diharapkan hanya saja saat ini realitasnya berbeda. Taman Kota kalau dimanfaatkan dengan baik tentunya hal tersebut sesuai dengan harapan dari pemerintah namun kalau sebaliknya justru menjadi masalah baru bagi pemerintah. Tidak dipungkiri bahwa pemanfaatan taman kota selama ini barangkali tidak sesuai dengan tujuan semula, seperti halnya taman kota yang dijadikan tempat mangkal PSK, tempat mesum, tempat mabuk maupun tempat berjudi. Dalam pengamatan penulis beberapa hal menjadi catatan adalah taman kota belum dimanfaatkan secara maksimal baik oleh pemerintah kota maupun masyarakat. Belum ada data yang mencatat aktifitas apa saja yang dilakukan warga termasuk dalam memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Sehingga catatan rigit mengenai pemanfaatan taman kota belum tersedia.

Berikut ini penulis paparkan hasil pengamatan dan wawancara penulis terhadap pemanfaatan ruang terbuka hijau

Tabel II

Pemanfaatan Taman Kota oleh Masyarakat

Taman Fasilitas Aktifitas Masyarakat

Taman Balekambang Tempat duduk, Parkir, Arena pertunjukan (teater), Gedung Ketoprak (Pagelaran), Danau, Mushola, Hotspot, Kolam air besar, Kolam air, Berbagai macam tumbuh-tumbuhan rindang, peliharaan rusa, angsa

Olah Raga, Berdiskusi, Bersepeda, Jalan- jalan, Out Bond, Event-event masyarakat/Pemerintah Kota

Taman Sekartaji Taman memanjang dibibir sungai, Bersepeda, Jalan- Jalan, Beristirahat, Memancing, Refresing, Refresing teman2 dari YPAC

Tirtonadi Air mancur, Parkir, Hotspot, Lampu Penerangan

Tempat pangkalan ojek, pangkalan becak, refreshing keluarga Taman Monumen 45 Pagar besi yang mengelilingi

taman. Tempat duduk, permainan anak-anak.

Olah raga, bermain anak- anak, jalan-jalan, berjualan, event peringatan hari bersejarah, refreshing keluarga

i

C. Faktor faktor yang Menghambat Pelaksanaan Serta Solusi yang

Dokumen terkait