BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
Implementasi menurut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas agar dapat membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan sistem dan menghlangkan birokrasi yang tumpangg tindih. ( Mulyasa, 2005:13).
Mulyasa, (2005:58) mengatakan bahwa:
Manajemen adalah serangkaian kegiatan merencanakan, mengngorganisasikan, memotivasi, mengendalikan dan mengembangkan segala upaya di dalam mengatur dan mendayagunakn sumber daya manusian, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan organisasi
Aplikasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah-sekolah pun telah digiring kearah realitas yang sesungguhnya. Ketika Manajemen Berbasis Sekolah diterpkan sangat potensial terjadi penggina Manajemen Berbasis Sekolah mengalami aneka persoalan, misalnya sebagai berikut : 1 Ketidak siapan pejabat yang membawahi sekolah untuk melimpahkan
atau mendevolusi kewenangan.
2 Ketidak siapa kepala sekolah dan guru untuk mengembang tugas baru.
3 Sikap otonom sekolah yang lemah.
4 Struktur organisasi yang masih kabur.
5 Ketidak siapan masyarakat menerima yang lebih dari pada biasanya.
6 Beban kerja kepala sekolah dan guru yang terlalu berat.
7 Beban geru akan bertambah
8 Efektifitas pengelolaan sekolah yang belum baik 9 Efisiensi pengelolah sekolah yang tidak memadai 10 Kebingungan akan peran dan tanggung jawab.
Guru bagi pihak-pihak yang berkepentingan peningkatan hasil belajar siswa merupakan salah satu isu esensial dalam praktek Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Pencapaian tujuan ini tidak sepunuhnya bergantung kepada
guru, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah siswa. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan restrukturisasi hubungan antara dinas, diknas kabupaten/kota dan sekolah khususnya dalam hal delegasi kekuasaan, kewenangan, dan akuntalibitas di sekolah. Oleh karena itu, komunikasih sekolah harus kompaten penerima pelimpahan tugas dan tanggung jawab yang selama ini berada ditengah instensi yang membawakannya.
C. Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian pembelajaran
Pembelajaran suatu yang dilakukan oleh siswa, dibuat untuk siswa.
membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Isjoni ( 2009: 11)
Dalam proses pembelajaran ada pihak-pihak yang terlibat yaitu:
pendidik ( perorangan atau kelompok ) serta peserta didik ( perorangan, kelompok,dan komunitas) yang beringteraksi edikatif satu dengan yang lainnya.
Guru sebagai pendidik, pengarah kegiatan belajar kepada siswa mempunyai peran yang sangat strategi dalam mengubah tingkah laku dan pola pikir siswa.didepan para siswa guru adalah orang yang memiliki otoritas, bukan saja otoritas dalam bidang akademis melainkan juga dalam bidang non akademis. Guru dipandang oaring yang harus dituruti dan ditiru.
Pengaruh guru terhadap siswa sangat besar, untuk itu guru sebagai pengajar adalah seseorang yang berprofesi untuk mengelolah kegiatan pembelajaran
yang lebih efektif dan efisien haruslah menekan profesinya secara baik sehingga siswa yang ia bimbing dapat berprestasi.
a. Proses Pebelajaran
Manajemen bahwa teori pembelajaran adalah preskriptif dan teori-teori belajar adalah deskriptif. Preskriptif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, dan deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah memberikan proses belajar. Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan di antara variable-variabel yang menentukan hasil belajar atau bagaimna seseorang belajar. Teori pembelajaran menaruh perhatian, bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar dapat memudahkan belajar.
Bruner dalam Asry Budingsih ( 2005 : 170 )
Pandangan tentang istilah pembelajaran terus menerus perkembangandan mengalami kemajuan. Tingkat kemajuan itu dapat kita lihat dari uaraian sebagai berikut:
a. Pembelajaran maksudnya sama dengan kegiatan belajar.
Kegiatan ini dilakukan oleh guru dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Kegiatan guru adalah yang paling aktif, paling menonjol, dan paling menentukan. Pembelaran sama dengan perbuatan mengajar.
b. Pembelajaran adalah interaksi belajar dan mengajar.
Pembelajaran berlangsung sebagai suatu proses saling mempengaruhi antara guru dan siswa. Diantara keduanya terdapat hubungan komunikasi. Guru mengajar di suatu pihak dan siswa belajar dilain pihak. Keduanya menunjukkan aktivitas yang seimbang hanya berbeda peranmnannya saja.
Proses pembelajaran itu berlangsung dsalam situasi pembelajaran di dalamnya terdapat komponen atau faktor –faktor, yakni:
Tujuan pembelajaran, siswa yang belajar, guru yang mengajar, metode mengajar, alat bantu mengajar, penilaian, situasi pengajaran.
Menurut Suryosubroto ( 2002 )
Didalam proses pembelajaran itu, semua komponen tersebut bergerak sekali gus dalam suatu rangkaian yang terarah dalam rangka membawah pertumbuhan siswa ketujuan yang di inginkan. Jadi, dapat dikatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu pola yang didalamnya tersusun suatu prosedur yang direncanakn.
Proses pembelajaran adalah proses pendidikan setiap kegiatan setiap kegiatan pembelajaran adalah untuk mencapai tujuan pendidikan ( Omar Halik, 2004 : 55 ). Pengertian pembelajaran sesungguhnya lebih luas dari pada hanya sebagai suatu proses atau prosedur belaka, pembelajaran adalah system yang luas, yang mengandung banyak aspek, diantara:
a). Proses guru.
b). Perkembangan dan pertumbuhan siswa sebagai organisme yang sedang berkembang.
c). Tujuan dari pendidikan dan pengajaran yang berpengaruh pada filsafat hidup masyarakat.
d). Program pendidikan atau kurikulum sekolah.
e). Perencanaan pengajaran.
f). Hubungan dengan masyarakat pada umumnya dan hubungan lembaga-lenbaga pada khusunya.
b. Prinsip-prinsip Pembelajaran
Prinsip guru adalah asas atau aturan pokok, dimana seorang guru sebagai motivation untuk merangsang daya dorong pribadi siswa dalam melaksanakan sesuatu jabatan karir, fungsional dan professional yang berkompten ( cakap, mampu, dan wewnang ) dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat atau pemerintah untuk melaksanakan tugas. E. Mulyasa, ( 2007 :57 )
Mengingat tugas yang berat itu guru yang mengajar didepan kelas harus mempunyai prinsip-prinsip, dan harus dilaksanakan seefektif mungkin agar guru tidak asal mengajar. Adapun prinsip-prinsip guru dalam mengajar sebagai berikut:
Pengajaran hendaknya menarik minat, Partisipasi murid dalam kegiatan belajar mengajar, Prinsip pengulangan, Perbedaan individu, Kematangan murid, Prinsip kegmbiraan, Prinsip mengajar murid belajar, Ketersediaan alat-alat. Ahmad Tafsir ( 2005 : 23 )
Guru yang menggunakan prinsip-prinsip dapat menetapkan pembelajaran yang sesuai sehingga mampu mencapai tujuan yang diinginkan, oleh karena itu,guru di tuntut untuk memiliki seperangkat keterampilan teknik mengajar disamping menguasai ilmu atau bahan yang di ajarkan. Guru sebagai pembimbing member tekanan, member bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalah yang di hadapinya.
2. Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Secara umum pendidikan diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadianya sesuai dengan nilai-nilai dan budaya masyarakat.
Dengan demikian, bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya pasti berlangsung suatu proses pendidikan, sehingga sering dikatakan bahwa pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia.
Para pakar berbeda pendapat dalam menginterpretasikan pendidikan.
Perbedaanya tak lain hanya terletak pada sudut pandang, antara mereka ada yang mendefinisikan dengan Peristilahan bahasa, keberadaan dan hakekat kehidupan manusia di dunia ini,dan ada pula yang melihat dari segi proses kegiatan yang dilakukan dalam penyelenggaraan pendidikan. Tetapi semua pendapat itu bertemu dalam pandangan bahwa pendidikan adalah suatu proses mempersiapkan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efesien.
Oleh karena itu, pendidikan benar-benar merupakan latihan fisik, mental dan moral bagi individu-individu supaya mereka menjadi manusia yang berbudaya. Sehingga mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia dan menjadi warga Negara yang berguna. Inilah yang kelihatannya merupakan pandangan yang kebanyakan dipegang oleh para ahli pendidikan terkemuka sepanjang zaman. John Dewey tokoh pendidikan terkemukan menyatakan bahwa :
Pendidikan Agama Islam sebagai proses bimbingan ( pimpinan, tuntunan, usulan) oleh subjek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran,perasaan, kemauan, intuisi dan lain sebagainya) dan raga objek didik dengan bahan-bahan materi tertentu dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai ajaran islam”. M.Arifin (2006 : 7)
Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan jasmani dan rohani menurut Agama Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan,melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam ( Nur Uhbiyati, 2003:11)
Pendidikan Agama islam ialah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadiaan yang utama. Ahmad Tafsir (2005 : 5)
Defenisi tersebut mengandung empat masalah pokok yakni 1) Usaha mengembangkan fitrah manusia, ajaran islam dan manusia yang makmur dan bahagia. 2) Usaha mengembngkan kegiatan yang harus dilakukan dalam Pendidikan agama Islam. 3) Fitrah manusia merupakan objek yang harus dikembangkan. 4) Ajaran islam merupakan ilmu dan nilai yang hendak ditransformasikan dan diharapkan bisa terkarakter dalam pengembangan fitrah manusia. Sedangkan kehidupan manusia yang makmur dan bahagia merupakan tujuan atas dikembangkannya fitrah manusia dengan ajaran Islam tersebut. Fitrah yang dimaksudkan adalah potensi dasar manusia yang dibawa sejak lahir, di antaranya : intelek, social, susila, seni, ekonomi, kemajuan, keadilan, kemerdekaan persamaan, agama, politik dan sebagainya. Potensi tersebut terpendam dalam diri manusia tidak akan
berfungsi lagi kehidupanya jika tidak dikembangkan. Mengembangkan berarti menjadikan potensi-potensi tersebut lebih sempurna.
Pengertian ini mengindikasikan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan penindahan nilai-nilai dari sumber-sumber nilai Islam yakni al qur‟an sunnah dan ijtihad. Nilai-nilai itulah diusahakan pendidikan Islam untuk di pindahkan dari suatu generasi kepada generasi selanjutnya, sehingga terjadi kesinambungan ajaran-ajaran Islam di tengah masyarakat.
Dari keterangan di atas tepat sekali bila Pendidikan Agama Islam di rumuskan sebagai proses penyiapan generasi muda untuk menjadi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.
Pendidkan Agama Islam adalah suatu proses pembentukan kepribadian individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam. Melalui proses pendidikan seperti itu, individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi supaya ia mampu menunaikan fungsinya sebagai khalifa dimuka bumi ini dan berhasil mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kepribadian utama di sini dimaksudkan sebagai kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang di dalamnya terkarakter nilai-nilai Islam. Nilai-nilai ini akan muncul setiap saat sewaktu mereka berfikir, bersikap dan berperilaku.
Melakukan bimbingan berarti membutuhkan kesadaran bagi pembimbing serta di dalam dirinya mengkarakter jiwa pribadi muslim sejati.
Jika di hubungkan dengan Islam, dilihat dari segi individual, Pendidikan Agama Islam merupakan proses pengembangan potensi-potensi manusia yang di landasi oleh nilai-nilai ajaran Islam. Proses pengembangan potensi di arahkan untuk menciptakan manusia yang selalu beribadah kepada Allah Swt.
Dari segi masyarakat, Pendidkan Agama Islam merupakan proses transpormasi unsur-unsur pokok peradaban mungkin dari generasi ke generasi supaya identitas umat tetap terpelihara dan bisa berkembang secara sempurna. Sebab tampa adanya transformasi, maka identitas umat Islam akan luntur, bahkan mengalami disentegrasi dan tersingkir dari peraturan dinamika peradaban umat lain.
Dari segi individu dan masyarakat, Pendidikan Agama Islam merupakan proses pengembangan fitrah manusia, yaitu interaksi antara fitrah sebagai potensi yang melengkapi manusia sejak lahir dan fitrah sebagai agama yang menjadi tampuk tegaknya peradaban Islam. Suatu sisi fitrah dikembangkan dari dalam diri manusia sendiri, dan disisi lain ditransformasikan dari generasi ke generasi secara berkelanjutan.
Dari berbagai pengertian Pendidikan Agama Islam di atas, maka dapat dinyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu proses penggalian, pembentukan, pendayahgunaan, dan pengembangan pikir, zikir, dan kreasi manusia melalui pengajaran, bimbingan, latihan dan pengabdian yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam, sehingga terbentuk pribadi muslim sejati,
mampu mengontrol, mengatur dan merekayasa kehidupan dengan penuh rasa tanggung jawab untuk semata-mata beribadah kepada Allah Swt.
b. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Islam adalah ajaran yang menyeluruh dan terpadu. Ia mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik dalam urusan-urusan keduniaan maupun hal-hal yang menyangkut keakhiratan. Pendidikan adalah bagian adalah bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam secara keseluruhan, ia merupakan bagian yang terpadu dari aspek-aspek ajaran Islam.
Dasar Pendidikan Agama Islam identik dengan dasar ajaran Islam Hadist. Kemudia dasar tadi dikembangkan dalam ijma yang diakui, ijtihad, dan tafsir yang benar dalam bentuk hasil pemikiran yang menyeluruh dan terpadu tentang jagad raya, manusia, masyarakat, dan bangsa, pengetahuan manusia dan akhlak, dengan merujuk kepada kedua sumber ( alqur‟an dan Hadist) sebagai sumber utama.
Tujuan pendidikan merupakan faktor yang sangat penting, karena merupakan arah yang hendak dituju oleh pendidikan itu. Demikian pula halnya dengan Pendidikan Agama Islam, yang tercakup mata pelajaran akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
Tujuan pendidikan secara formal diartikan sebagai rumusan kualifikasi, pengetahuan, kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh anak didik setelah selesai suatu pelajaran di sekolah, karena tujuan berfungsi mengarahkan, mengontrol dan memudahkan evaluasi suatu aktivitas sebab tujuan pendidikan itu adalah identik dengan tujuan hidup manusia.
Tujuan Pendidikan Agama peneliti sesuaikan dengan tujuan Pendidikan Agama di lembaga-lembaga pendidikan formal dan peneliti membagi tujuan Pendidikan Agama itu menjadi dua bagian dengan uraian sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah untuk mencapai kwalitas yang disebutkan oleh al-Qur'an dan hadits sedangkan fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan umum Pendidikan Agama bertugas untuk membimbing dan mengarahkan anak didik supaya menjadi muslim yang beriman teguh sebagai refleksi dari keimanan yang telah dibina oleh penanaman
pengetahuan agama yang harus dicerminkan dengan akhlak yang mulia
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.( Kementarian Agama RI. 2011: 862)
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus Pendidikan Agama adalah tujuan yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan jenjang pendidikan yang dilaluinya, sehingga setiap tujuan Pendidikan Agama pada setiap jenjang sekolah mempunyai tujuan yang berbeda-beda, seperti tujuan Pendidikan Agama di sekolah dasar berbeda dengan tujuan Pendidikan Agama di SMP, SMA dan berbeda pula dengan tujuan Pendidikan Agama di perguruan tinggi.
Tujuan khusus Pendidikan Agama Islam seperti di SLTP adalah untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut serta meningkatkan tata cara membaca al-Qur‟an dan tajwid sampai kepada tata cara menerapkan hukum bacaan mad dan wakaf.
Membiasakan perilaku terpuji seperti qanaah dan tasawuh dan menjawukan diri dari perilaku tercela seperti ananiah, hasad, ghadab dan namimah serta memahami dan meneladani tata cara mandi wajib dan shalat-shalat wajib maupun shalat sunnat. Menurut Riyanto, (2006:160)
Tujuan lain untuk menjadikan anak didik agar menjadi pemeluk agama yang aktif dan menjadi masyarakat atau warga negara yang baik dimana keduanya itu terpadu untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan merupakan suatu hakekat, sehingga setiap pemeluk agama yang aktif secara otomatis akan menjadi warga negara yang baik, terciptalah warga negara yang pancasila dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Secara rinci di jelaskan tujuan akhir pendidikan Islam adalah : (1) Pembinaan akhlak; (2) Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat; (3) Penguasaan ilmu; (4) Ketrampilan bekerja dalam masyarakat.
Sedangkan fungsi pengajaran Agama Islam adalah untuk menanamkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt, serta membiasakan siswa berakhlak mulia.
Dasar pendidikan agama di indonesia erat kaitannya dengan dasar pendidikan Nasional yang menjadi landasan terlaksananya pendidikan bagi bangsa indonesia. Karena Pendidikan gama Islam merupakan bagian yang ikut berperan dalam tercapainya tujuan pendidikan Nasional.
Dasar ideal pendidikan Islam sudah jelas dan tegas yaitu firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Kalau pendidikan di ibaratkan bangunan maka isi Al-qur‟an dan Haditslah yang menjadi fundamennya. Alqur‟an adalah sumber kebenaran dalam Islam, kebenaran yang sudah tidak dapat di ragukan lagi.
Sedangkan sunnah Rasulullah SAW yang dijadikan landasan Pendidikan Agama Islam adalah berupa perkataan, perbuatan atau
pengakuan Rasullullah SAW dalam bentuk isyarat. Bentuk isyarat ini adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh sahabat atau orang lain dan Rasullullah membiarkan saja dan terus berlangsung.
Dari uraian di atas makin jelaslah bahwa yang menjadi sumber pendidikan adalah Al-Qur‟an dan Sunnah yang didalamnya banyak disebutkan ayat atau hadits yang mewajibkan Pendidikan Agama Islam untuk dilaksanakan. Sesui firman Allah Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 71:
sesungguhnya ia akan bahagia sebenar-benar bahagia” ( Kementarian Agama RI. 2011: 666)
Ayat tersebut tegas sekali mengatakan bahwa apabila manusia telah mengatur seluruh aspek kehidupannya (Termasuk pendidikannya) dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, maka akan bahagialah hidupnya dengan sebenar-benarnya bahagia baik didunia maupun di akhirat.
33 A. Jenis Penelitian
Jika ditinjau dari segi tujuan, maka jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian Eksploratife yang akan menemukan fenomena-fenomena baru dalam lokasi penelitian dan bersifat survey. Data-data yang telah terkumpul akan di analisis secara Deskriftif Kualitatif bentuk analisis ini merupakan bentuk analisis yang memadukan antara analisis kulitatif dan deskriftif statistik.
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini di SMP Negeri 2 Manuju Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa dengan obyek analisis penelitian ini adalah Guru dan Staf tata Usaha di SMP Negei 2 Manuju Kecamatan Manuju Kabupaten Gowas.
C. Variabel Penelitian
Variabel adalah bagian yang akan diteliti. Menurut Suharsimi Arikunto, variable adalah penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian atau penelitian. Dengan demikian variable merupakan bagian penting dari suatu penelitian, karena merupakan obyek penelitian atau menjadi titik perhatian penelitian ( Suharsimi Arikunto, 2003 : 91)
Berdasarkan pendapat di atas, maka dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu variable bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Implementasi Manajemen Variabel terikat adalah Mutu Pembelajaran.
D. Defenisi Operasional Variabel
1. manajemen adalah serangkaian kegiatan merencanakan, mengngorganisasikan, memotivasi, mengendalikan dan mengembangkan segala upaya di dalam mengatur dan mendayagunakn sumber daya manusian, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan organisasi.
2. manajemen adalah serangkaian kegiatan merencanakan, mengngorganisasikan, memotivasi, mengendalikan dan mengembangkan segala upaya di dalam mengatur dan mendayagunakan sumber daya manusian, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan orang tua yang tinggi.
E. Populasi dan Sampel
Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa “Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian”. (Suharsimi Arikunto, 2002 : 108), sedangkang menurut Sugiono populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek atau subyek yang mempunyai kualitas, dan karakteristik tertentu yang dikatakan oleh penulis untuk dipelajari dan ditaati kesimpulannya.( Sugiono, 1999 : 57-58)
Menurut Suharsimi Arikunto (2001 : 11) mengemukakan bahwa Populasi adalah jumlah keseluruhan objek penelitian, apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitian merupakan penelitian populasi studi atau penelitiannya juga disebut populasi studi sensus.
Setelah melihat populasi dan penelitian ini, maka langkah berikutnya adalah menentukan sampel. Penentuan sampel merupakan sebagian kecil yang diambil dari sebuah populasi penelitian. Jadi dalam penentuan penelitian tidak selamanya perlu meneliti secara keseluruhan populasi, karena hal tersebut membutuhkan dana, biaya dan anggaran yang relative banyak, memiliki waktu yang agak lama serta pertimbangan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti.
Sampel dalam pandangan Suharsimi Arikunto ( 1998 : 131) Sebagai bagian dari populasi yang diteliti, dan menyatakan pula bahwa : sampel adalah memilih sejumlah tertentu dari keseluruhan populasi yang akan dijadikan subjek penelitian, sampel yang diteliti nantinya akan mewakili seluruh populasi sebagai hasil untuk semua populasi penelitian itu menjadi sampel penelitian. Populasi dari sebuah penelitian itu kurang dari dan sedikit, maka penelitian tersebut dinamakan penelitian populasi dan populasi dari penelitian ini juga menjadi sampel penelitian.
Jadi populasi dan sampel yang penulis maksudkan dalam penelitian ini adalah keseluruhan guru dan Staf Tata Usaha di SMP Negeri 2 Manuju Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa.
Tabel 1
Keadaan Populasi dan Sampel
No Guru/Staf Tata Usaha Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Guru 18 20 38
2 Staf Tata Usaha 1 2 3
3 Kepala Sekolah 1 - 1
4 Wakil Kepala Sekolah 1 - 1
Jumlah 21 22 43
Sumber Data : TU SMP Negeri 2 Manuju Kabupaten Gowa
F. Instrumen Penelitian
Istrumen penelitian adalah alat yang di gunakan untuk mengumpulkan data lapangan.
1. Menurut Riduwan, (2004:104) mengemukakan bahwa “Pedoman observasi yaitu teknik pengumpulan data, dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke objek peneliti untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan”.
2. Menurut Emzir, ( 2010:50) mengemukakan bahwa “Pedoman wawancara yaitu proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan info dengan cara tanyajawab antara peneliti dengan informan”.
3. Menurut Suharsimi Arikunto (2006) mengemukakan bahwa “Pedoman angket yaitu daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memeberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna”.
4. Menurut Suharsimi Arikunto (2006:158) mengemukakan bahwa
“Catatan dokumentasi yaitu mencari dan mengumpulkan data
mengenai hal-hal yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah, dan agenda”.
G. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa cara
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa cara