• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS INTEGRASI SISTEM RESI GUDANG DAN PASAR

4.2 Implementasi Pasar Lelang

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Pembiayaan untuk mengoptimalkan SRG saat ini masih terbatas. Berdasarkan hasil temuan di lapang, terdapat koperasi yang mendapat hibah dari Kementerian Koperasi dan UMKM yang digunakan untuk modal awal pembelian gabah dari petani dan untuk biaya operasional gudang. Peran Dinas Perdagangan di daerah sendiri adalah berkontribusi untuk pembiayaan personel yang berfungsi untuk menjaga gudang

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dilihat bahwa implementasi SRG di daerah tidak dapat disamaratakan. Adanya komitmen dari pemerintah daerah merupakan suatu keharusan agar SRG dapat terimplementasi dengan baik. Selain itu pengelola gudang SRG dapat berperan secara aktif dalam melakukan pendekatan kepada pihak-pihak yang terkait seperti petani dan bank. Oleh sebab itu, pengelola gudang SRG memiliki fungsi bukan hanya mengelola gudang SRG tetapi juga sebagai tenaga pemasar gudang SRG.

4.2 Implementasi Pasar Lelang

Pasar lelang merupakan salah satu sarana perdagangan yang dibangun oleh pemerintah pusat sejak tahun 2004. Pada awal penyelenggaraannya, pasar lelang hanya dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagagan Provinsi. Pada tahun 2009 mulai terdapat penyelenggara pasar lelang komoditas yang berasal dari pihak swasta.

Setelah melewati satu dekade, kinerja pasar lelang tidak menunjukkan perkembangan yang baik, yang diukur dari transaksi pasar lelang komoditas. Selama periode 2004 – 2014, transaksi pasar lelang komoditas mengalami fluktuasi yang tidak stabil. Gambar 4.1 menunjukkan perkembangan transaksi pasar lelang komoditas.

48 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Gambar 4.1 Transaksi Pasar Lelang Komoditas Tahun 2004 - 2014 Sumber: Bappebti, 2015

Pada tahun 2014, Bappebti telah melakukan revitalisasi 5 pasar lelang, dengan harapan terjadi penguatan kelembagaan pasar lelang dimana pasar lelang menjadi lebih mandiri dan fokus berkembang. Namun, dari lima pasar lelang yang sudah terevitalisasi, hanya satu yang sudah berjalan dan melakukan inovasi dalam penyelenggaraannya, yaitu pasar lelang bali. Analisis ini hanya melakukan penelitian pada pasar lelang jawa barat dan pasar lelang jawa tengah untuk mengetahui permasalahan dalam penyelenggaraannya.

4.2.1 Implementasi Pasar Lelang Provinsi Jawa Barat

Pasar lelang Jawa Barat didirikan pada tahun 2002. Pada awal pendirian, pasar lelang komoditi agro dikelola oleh Dinas Indag Agro Pemprov Jawa Barat. Pada tahun 2009, pengelolaannya dialihkan ke Dinas Indag bidang perdagangan dan pada tahun 2013 mengalami revitalisasi. Pada saat revitalisasi, pengelolaan pasar lelang dialihkan dari

49 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Dinas Indag ke Koperasi Pasar Lelang Jawa Barat yang diketuai oleh Prof. Ronny S. Natawidjaja.

Komoditas yang diperjualbelikan di pasar lelang ini antara lain kopi, teh, gabah, beras, jahe dan gula semut. Meskipun banyak komoditas yang diperdagangkan, pengelola pasar lelang saat ini menfokuskan pada komoditas kopi dan teh. Komoditas ini dipilih karena komoditas kopi dan teh termasuk komoditas unggulan di Provinsi Jawa Barat.

Untuk menjadi peserta lelang, calon peserta lelang harus menjadi anggota peserta lelang. Anggota peserta pasar lelang memiliki kewajiban membayar iuran pokok sebesar Rp. 25.000 per bulan yang digunakan sebagai kebutuhan modal operasional lelang. Pasar lelang Jawa barat memiliki target transaksi Rp. 80 – 100 miliar per tahun atau Rp. 6 – 8 Miliar per bulan. Namun target ini tidak dapat tercapai karena sampai dengan periode Agustus 2015, nilai transaksi lelang belum mencapai 10% dari tahun 2014. Adapun lelang yang dilakukan pada Maret 2015 terjadi transaksi sebesar Rp. 1,2 M untuk komoditas Beras dan Kopi. Sedangkan untu lelang yang dilakukan pada bulan April 2015, tidak ada transaksi tang terjadi.

Selain itu juga, penyelenggaraan pasar lelang belum dilengkapi dengan lembaga kliring dan penjaminan sebagaimana dipersyaratkan dalam SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 650/MPP/KEP/10/2004. Tidak terdapatnya lembaga kliring ini menyebabkan banyaknya transaksi yang batal setelah lelang. Apabila penyelenggaraan pasar lelang telah dilengkapi dengan lembaga kliring dan penjaminan maka risiko gagal serah dan gagal bayar dapat dihindari sehingga dapat menambah kepercayaan para penjual dan pembeli.

Namun, hal ini juga yang menjadi hambatan bagi calon anggota pasar lelang yang akan melakukan transaksi di pasar lelang. Adanya lembaga kliring dan penjaminan – dalam hal ini PT. KBI – mengharuskan setiap peserta yang akan melakukan order pada saat lelang menyetorkan jaminan sebesar 10 persen dari total nilai transaksi. Menanggapi keberatan ini, maka penyelenggara kemudian menetapkan jaminan tetap

50 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

sebesar Rp. 5 juta bagi penjual dan pembeli. Koperasi pasar lelang menggunakan BNI sebagai bank penjamin. Apabila tercapai kesepakatan harga antara penjual dan pembeli maka penyelenggara melakukan pencatatan kesepakatan dan menerima fee dari pembeli dan penjual sebesar 1% dari nilai transaksi.

Dalam penyelenggaraan pasar lelang, koperasi pasar lelang Jawa Barat menghadapi kendala sebagai berikut:

a. Minimnya biaya operasional yang dimiliki oleh koperasi

Sebagai lembaga yang baru menyelenggarakan pasar lelang, koperasi pasar lelang memiliki dana yang terbatas untuk membiayai operasional pasar lelang seperti melakukan sosialisasi dan melakukan pendekatan kepada para penjual dan pembeli.

b. Belum terciptanya “trust” antara penjual, pembeli dan penyelenggara pasar lelang

Adanya trauma terjadinya gagal serah dan gagal bayar setelah dilakukan transaksi di pasar lelang membuat pasar lelang kehilangan kepercayaan dari penjual dan pembeli. Risiko gagal serah dihadapi oleh pembeli ketika barang yang diserahkan kualitasnya tidak sesuai dengan contoh yang diberikan pada saat lelang. Sedangkan risiko gagal bayar dihadapi oleh pembeli ketika pembeli melakukan wanprestasi dan membatalkan perjanjian jual beli secara sepihak. c. Mindset penjual dan pembeli bahwa lelang bukan merupakan suatu

kebutuhan

Adanya minset dari penjual maupun pembeli bahwa lelang bukanlah suatu kebutuhan karena baik penjual maupun pembeli telah memiliki rantai distribusi yang sudah terbangun selama bertahun-tahun. Rantai distribusi ini tidak dapat dipotong secara revolusioner, melainkan harus melalui suatu proses sosialisasi yang mengedepankan manfaat pasar lelang bagi para penjual dan pembeli.

d. Lokasi penyelenggaraan lelang yang berjauhan dengan sentra porduksi.

51 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Lokasi penyelenggaraan lelang terletak di ibukota provinsi Jawa Barat, sedangkan sentra-sentra produksi terletak di kabupaten/kota yang secara geografis berjauhan dengan lokasi penyelenggaraan lelang. Hal ini menimbulkan kerugian baik bagi penyelenggara lelang maupun peserta lelang. Peserta lelang akan menanggung biaya transportasi dan akomodasi untuk datang ke tempat lelang, sedangkan penyelenggara lelang juga menanggung biaya transportasi dan akomodasi untuk melakukan sosialisasi di sentra-sentra produksi. e. Keterikatan permodalan antara petani dengan tengkulak

Para petani/produsen belum sepenuhnya memahami pasar lelang, karena sebagian besar atau bahkan seluruh hasil panennya dimiliki oleh tengkulak yang telah memberikan pembiayaan pada masa awal proses produksi. Untuk itu sulit sekali bagi pasar lelang mengajak para petani menjadi peserta lelang dalam rangka mendapatkan harga yang wajar dan transparan, karena keterikatan ikatan modal antara petani dengan tengkulak yang kuat.

4.2.2 Implementasi Pasar Lelang Provinsi Jawa Tengah

Pasar Lelang Agro di Propinsi Jawa Tengah saat ini merupakan salah satu pasar lelang yang pengelolaannya dilakukan oleh Koperasi Pasar Lelang Agro Jawa Tengah sebagai bagian dari revitalisasi pasar lelang (PL) yang menjadi program bappebti. Sepanjang tahun 2015, PL Jawa Tengah telah melakukan lelang sebanyak 3 (tiga) kali dan diikuti oleh sekitar 250 peserta lelang dengan sistem cluster yang terdiri dari tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, buah dan sayur.

Sepanjang tahun 2015, penyelenggaraan PL di Jawa Tengah telah membukukan nilai transaksi sekitar Rp 9 miliar dengan pelaksanaan PL di Pati mencapai Rp 1,6 M, PL di Semarang mencapai Rp 5,7 M, dan PL di Karanganyar mencapai Rp 1,4 M. Nilai tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan yaitu sebesar Rp 80 M selama tahun 2015. Beberapa hal yang masih menjadi kendala pelaksanaan PL di Jawa Tengah antara lain

52 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

karena minimnya biaya operasional yang dimiliki oleh koperasi, rendahnya kepercayaan antara penjual dengan pembeli, lokasi pasar lelang yang relatif jauh dari sentra produksi, serta rendahnya motivasi pembeli untuk melakukan pembelian di PL.

Selain itu, masih belum tersedianya lembaga kliring dan penjaminan sebagaimana dipersyaratkan dalam SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 650/MPP/KEP/10/2004 juga merupakan hal mendasar yang harus dibenahi. Tidak terdapatnya lembaga kliring ini menyebabkan banyaknya transaksi yang batal setelah lelang. Apabila penyelenggaraan pasar lelang telah dilengkapi dengan lembaga kliring dan penjaminan maka risiko gagal serah dan gagal bayar dapat dihindari sehingga dapat menambah kepercayaan para penjual dan pembeli. Sejauh ini, pengelola PL memainkan peran aktif dalam memberikan penjaminan agar tidak terjadi gagal serah dan gagal bayar setelah pelaksanaan lelang.

Dokumen terkait