• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek pada Mata Pelajaran Pembelajaran berbasis proyek dapat diterapkan pada semua bidang studi

H. Temuan Penelitian dan Keunggulan Pembelajaran Berbasis Proyek Penelitian yang dilakukan oleh Ruenglertpanyakul, Vicheanpant, Chanchaona,

I. Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek pada Mata Pelajaran Pembelajaran berbasis proyek dapat diterapkan pada semua bidang studi

(Santyasa, 2006: 12). Mata pelajaran produktif produksi audio video di SMK merupakan mata pelajaran yang berorientasi pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan untuk menghasilkan produk. Memaksimalkan penguasaan kompetensi dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran berbasis proyek. Model ini bila dikaji dari landasan konseptualnya sangat relevan dengan tuntutan kompetensi di SMK. Pembelajar SMK tidak hanya dituntut terampil

28 menguasai pengetahuan dan keahlian, juga harus mampu memecahkan masalah nyata yang berkaitan dengan dunia kerja. Proses pembelajaran di sekolah tidak cukup dengan memberikan pembelajar latihan membuat dan meniru produk yang sudah ada. Pembelajar perlu diberikan kesempatan untuk menciptakan dan menyelesaikan produk-produk kreatif inovatif yang memiliki nilai kebermanfaatan.

Beranjak pada landasan konseptual langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek. Berikut ini dijelaskan gambaran konkret implementasinya pada mata pelajaran produktif produksi audio video di SMK jurusan multimedia.

Kompetensi dasar (KD) yang akan dicapai pada mata pelajaran produksi audio video adalah “merancang dan mengedit video digital” dengan hasil akhir berupa video dengan kualitas standar. Untuk mencapai KD dirumuskan beberapa tujuan pembelajaran berikut ini.

1. Mengungkapkan ide yang akan divideokan

2. Menjelaskan komponen-komponen storyboard video 3. Mendesain storyboard untuk produksi video digital 4. Memberikan efek pada video

5. Memasukkan teks ke dalam video

6. Menggabungkan video digital track multiple sesuai dengan keperluan 7. Memberikan transisi pada penggabungan video

8. Memasukkan suara/musik ke dalam video 9. Menyimpan video digital ke dalam kepingan CD

KD dan tujuan pembelajaran di atas dituangkan dalam RPP. Guru dalam merancang RPP dapat berkolaborasi dengan siswa tentang kesepakatan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Selanjutnya, pelaksanaan pembelajaran mengikuti sintaks pembelajaran berbasis proyek yang dikembangkan oleh The George Lucas Educational Foundation.

a. Dimulai dengan Pertanyaan Esensial

Di awal pembelajaran berbasis proyek, guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan di atas. Motivasi belajar siswa juga perlu dibangkitkan dengan memberikan ilustrasi mengenai pentingnya rumusan tujuan

29 pembelajaran untuk dicapai. Berdasarkan hakikat model pembelajaran berbasis proyek, guru membentuk kelompok-kelompok heterogen yang beranggotakan 4-5 orang. Guru memberikan pertanyaan esensial yang berbunyi: apa yang mesti kalian hasilkan/produksi yang berdampak positif bagi masyarakat baik itu dunia kerja, dunia industri, sekolah, instansi pemerintah dan yang lainnya kaitannya dengan kompetensi merancang dan mengedit video digital? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut siswa dalam kelompok melakukan brainstorming. Curah pendapat ini akan membantu siswa untuk menemukan ide-ide orisinil. Dengan bantuan guru, beberapa ide yang sudah terkumpul selanjutnya dianalisis. Misalnya, dari hasil brainstorming terkumpul ide berupa : 1) pembuatan video iklan, pembuatan video profile, 3) pembuatan video documenter, dan lain sebagainya.

Upaya untuk memastikan bahwa topik proyek dapat memecahkan masalah dan memberi dampak bagi masyarakat perlu dilakukan investigasi. Siswa berinvestigasi untuk mengetahui tingkat daya guna atau kebutuhan produk yang akan dibuat. Siswa dapat mencari informasi di internet atau menjajagi secara langsung pihak-pihak yang berpeluang membutuhkan produk yang akan diproduksi. Selama berinvestigasi siswa harus selektif mencari masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat, dan itu memang perlu solusi yang berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari. Misalnya, hasil investigasi tim menemukan bahwa sekolah-sekolah belum memiliki profil sekolah, instansi pemerintah juga tidak memiliki profil digital hanya dalam bentuk tercetak saja, begitu juga dunia usaha/industri tidak memiliki iklan yang persuasif. Dari berbagai permasalahan yang ditemui, tim perlu mengkaji secara kritis proyek yang akan di ambil. Hal-hal yang dapat digunakan sebagai pertimbangan misalnya, tingkat kerumitan proyek, waktu yang diperlukan, kisaran biaya yang diperlukan, serta sumber daya lainnya. Siswa juga dapat meminta pertimbangan dari guru untuk memutuskan jenis proyek yang akan diambil dengan tetap mengacu pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Kerja sama antara siswa (tim) dengan dunia usaha/industri maupun instansi pemerintah sangat diperlukan untuk memastikan kevalidan data-data yang diperlukan selama pembuatan proyek.

30 b. Merencanakan Proyek

Topik proyek yang sudah ditetapkan, selanjutnya tim membuat perencanaan secara kolaboratif antara guru dan siswa. Berkaitan dengan point a, misalkan siswa (salah satu tim) memilih untuk membuat profil sekolah, maka siswa harus membuat perencanaan yang komprehensif. Perencanaan tersebut menyangkut: 1) pemilihan konten atau materi yang akan dibuatkan profil, 2) urutan langkah-langkah mengerjakan profil, 3) pembagian kerja serta siapa yang mengerjakan, 4) perincian alat dan bahan yang diperlukan misalnya, komputer, printer, handycam, kamera photo, kertas, kepingan DVD, maupun cover box, 5) aturan mengerjakan proyek untuk mencegah terjadinya lepas tanggung jawab dari anggota tim, dan 6) perkiraan biaya yang diperlukan.

c. Membuat Jadwal

Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal penyelesaian proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: 1) membuat perkiraan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek, 2) membuat deadline penyelesaian proyek, dan 3) menetapkan waktu untuk mempublikasikan proyek. Setiap tim wajib membuat jadwal untuk menyelesaikan proyek. Jadwal ini menuntun langkah-langkah yang mesti dilakukan siswa setiap kali pertemuan mata pelajaran produksi audio video.

d. Memantau Siswa dan Kemajuan Proyek

Selama mengerjakan proyek guru bertanggungjawab untuk melakukan monitoring terhadap aktivitas siswa. Monitoring dilakukan untuk mengawasi kemajuan siswa selama menyelesaikan proyek. Guru menggunakan rubrik penilaian yang digunakan untuk mengukur kemajuan setiap siswa dan tim dalam menyelesaikan proyeknya. Monitoring juga dapat digunakan sebagai evaluasi formatif. Sambil menyelesaikan proyek guru juga menilai aktivitas dan kontribusi setiap siswa dalam tim.

Dalam kegiatan monitoring guru juga memotivasi dan memfasilitasi siswa apabila mengalami hambatan dalam menyelesaikan proyek. Misalnya, adanya teknik-teknik tertentu yang tidak dapat dikuasai dalam mengedit video. Guru berperan membantu siswa untuk menemukan dan menguasai keterampilan yang diperlukan.

31 Selama proses pengerjaan proyek, siswa sekaligus belajar cara membuat storyboard, memberikan efek pada video, memasukkan teks ke dalam video, menggabungkan video digital track multiple sesuai dengan keperluan, memberikan transisi pada penggabungan video, memasukkan suara/musik ke dalam video, dan menyimpan video digital ke dalam kepingan CD. Siswa dalam kelompok melakukan kerja sama saling membantu menguasai konsep dan keterampilan.

Difasilitasi oleh sumber belajar berupa modul ajar, multimedia, dan internet memberikan kemudahan kepada siswa untuk mempelajari cara-cara dalam pembuatan video. Pemilihan aktivitas belajar ini didasari oleh teori perkembangan kognitif Piaget bahwa siswa pada usia 11 tahun sampai dewasa sudah mampu berpikir abstrak, idealis, dan logis. Peran guru hanya membantu siswa ketika mengalami hambatan. Kegiatan pembelajaran ini sekaligus menggambarkan pencapaian tujuan pembelajaran.

e. Penilaian Proyek

Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian penguasaan kompetensi. Guru menilai produk yang dihasilkan dari proyek. Penilaian ini merupakan penilaian sumatif di mana proyek sudah menghasilkan produk final. Penilaian produk juga tidak hanya dilakukan oleh guru.

Berdasarkan investigasi di awal pembelajaran, guru dan siswa dapat merancang pameran dari produk-produk yang dihasilkan oleh masing-masing tim. Sekolah atau guru dan siswa dapat mengundang pihak-pihak sasaran pengguna dari produk yang dibuat. Misalnya, sekolah lain, instansi pemerintah, dunia usaha maupun dunia industri. Para ahli dalam bidang video juga perlu diundang. Para undangan pameran juga dilibatkan untuk menilai produk siswa. Penilaian ini akan membantu guru memutuskan kualitas produk yang diproduksi.

Penilaian antar siswa juga penting dilakukan. Siswa dalam satu tim saling menilai satu sama lain, ini dilakukan untuk menghindari kesenjangan antar anggota tim. Guru dalam hal ini membantu membuatkan rubrik penilaian yang akan digunakan siswa untuk menilai.

f. Evaluasi Pengalaman

Setelah melewati penilaian proyek, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi

32 dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini siswa diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek. Guru dan siswa mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran. Saran revisi dari para ahli dan pihak-pihak yang diundang dalam pameran dijadikan pijakan untuk merevisi produk yang dibuat. Kegiatan revisi ini akan dapat meningkat kualitas produk sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Refleksi juga menjadi bahan pertimbangan bagi guru untuk membenahi proses pembelajaran berikutnya.

Aktivitas yang berkaitan dengan dunia nyata akan memudahkan siswa untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan. Siswa dilatih mengembangkan kreativitas dan dengan proyek nyata siswa sekaligus berlatih untuk menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan dunia nyata. Apabila model pembelajaran berbasis proyek dapat dilaksanakan dengan baik dan didukung oleh lingkungan sekolah maka niscaya lulusan SMK akan produktif menghasilkan produk-produk kreatif dan inovatif.

33 DAFTAR PUSTAKA

Buck Institute for Education. 2012. Project based learning for the 21st century.

Tersedia pada http://www.bie.org/about/what_is_pbl. (diakses tanggal 22 Mei 2012).

Capraro, R. M. & Slough, S. W. 2009. Project-based learning: An integrated science, technology, engineering, and mathematics (STEM) approach.

Texas: Sense Publishers.

Dantes, I N. 2008. Hakikat asesmen otentik sebagai penilaian proses dan produk dalam pembelajaran yang berbasis kompetensi. Makalah disampaikan pada in house training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara 22 Mei 2008 di Kuta.

Degeng, I W. S. 1997. Strategi pembelajaran: Mengorganisasi isi dengan model elaborasi. Malang: IKIP Malang.

Depdiknas. 2005. Peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2006. Peraturan menteri pendidikan nasional No. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan. Jakarta: Depdiknas.

Doppelt, Y. 2005. Assessment of project-based learning in a mechatronics context.

Journal of Technology Education Online. 16(2).

Erdem, E. 2012. Examination of the effects of project based learning approach on students’ attitudes towards chemistry and test anxiety. World Applied Sciences Journal.17(6). 764-769.

Eskrootchi, R. & Oskrochi, G. R. 2010. A study of the efficacy of project-based learning integrated with computer-based simulation-STELLA. Journal Educational Technology & Society, 13(1). 236–245.

Global SchoolNet, 2000. What is project based learning (PBL)? Tersedia pada http://www.gsn.org/web/pbl/whatis.htm (diakses tanggal 22 Mei 2012).

Gokhan Baş. 2011. Investigating the effects of project-based learning on students academic achievement and attitudes towards english lesson. The Online Journal of New Horizons in Education. 1(4). 1-15.

Gredler, M. E. B. 1991. Belajar dan membelajarkan. Jakarta: CV Rajawali.

Johnson, E. B. 2011. Contextual teaching & learning: Menjadikan kegiatan belajar-mengajar mengasyikkan dan bermakna. Bandung: Kaifa.

Korkidis. 2009. Can project-based learning (PBL) as a formative instruction/assessment approach be used to successfully teach physic?

Tersedia pada http://ged550.wikispaces.com (diakses tanggal 22 Mei 2012).

34 Maxwell, N.L., Bellisimo, Y. & Mergendoller, J. 1999. Problem-based learning:

Modifying the medical school model for teaching high school economics.

Tersedia pada http://www.bie.org (diakses tanggal 20 Mei 2012).

Mayer, R. E. 2008. Learning and instruction. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Ruenglertpanyakul, Vicheanpant, Chanchaona, Nantawisarakul. 2012. The project based learning for develop student’s literacy and working skill in rural school. European Journal of Social Sciences.27(4). 518-531.

Santyasa, I W. 2006. Pembelajaran inovatif: Model kolaboratif, basis proyek, dan orientasi NOS. Makalah disajikan dalam seminar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Semarapura Tanggal 27 Desember 2006, di Semarapura.

Santyasa, I W. 2011. Pembelajaran inovatif. Singaraja: Undiksha.

Seels, B. B. & Rita, C. R. 1994. Teknologi pembelajaran definisi dan kawasannya.

Jakarta: LPTK.

SRI International, Menlo Park, 2009. The power of project learning with thinkquest. Menlo Park: Education Foundation.

Summers & Dickinson. 2012. A longitudinal investigation of project–based instruction and student achievement in high school social studies. The Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. 6(1). 82-103.

Susanti, E. & Muchtar, Z. 2008. Pendekatan project based learning untuk pembelajaran kimia koloid di SMA. Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains ISSN: 1907-7157.

The George Lucas Educational Foundation. 2005. Instructional module project based learning. Tersedia pada http://www.edutopia.org/modules/

PBL/whatpbl.php. (diakses tanggal 20 Mei 2012).

Thomas, J.W. 2000. A Review of research on project-based learning. California:

The Autodesk Foundation.

Vicheanpant & Ruenglertpanyakul. 2012. Attitude about project-based learning and lecture based for develop communication skill. European Journal of Social Sciences. 28(4). 465-472.

Widiyatmoko, A. 2012. Pembelajaran berbasis proyek untuk mengembangkan alat peraga IPA dengan memanfaatkan bahan bekas pakai. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia. 1(1). 51-56.

Winkel, W.S. 2005. Psikologi pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

Wiradinata, T. & Thahjono, L. M. 2008. Peer assessment system pada perkuliahan dengan metode project based learning di universitas ciputra. Jurnal Teknologi

& Manajemen Informatika. 6(9). 178-184.

Dokumen terkait