• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan di Sekolah

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2. Implementasi Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan di Sekolah

Implementasi adalah melaksanakan sesuatu atau aplikasi praktis dari

metode, prosedur atau tujuan yang diinginkan (Achmad Ridwan, Tt: 4).

Aplikasi berarti penerapan berupa tindakan yang dilakukan berdasarkan

perencanaan berisi metode dan prosedur untuk mencapai suatu tujuan yang

telah dirumuskan.

Oxford Advance Learner’s Dictionary (Oemar Hamalik, 2013: 237)

35

artinya penerapan sesuatu yang memberikan efek. Implementasi memberikan

efek atau pengaruh terhadap subyek dalam proses implementasi berupa

perubahan yang diharapkan sesuai dengang tujuan yang ingin dicapai.

Oemar Hamalik (2013: 238) mengemukakan bahwa implementasi

kurikulum dalam pendidikan mencakup tiga tahap kegiatan pokok, yaitu

sebagai berikut.

a. Perencanaan atau pengembangan program

Visi, misi dan tujuan mengembangkan implementasi dalam hal ini

pendidikan karakter peduli lingkungan diuraikan dalam tahap

perencanaan. Upaya tersebut mempertimbangkan metode, sarana

pencapaian yang digunakan, waktu, besar anggaran, personalia yang

terlibat dan sistem evaluasi. Perumusan kebijakan sekolah berwawasan

lingkungan merupakan tahap perencanaan atau pengembangan program

dalam implementasi pendidikan karakter peduli lingkungan.

b. Pelaksanaan

Tahap ini berupa proses atau praktik dari program yang telah

direncanakan. Pelaksanaan dilakukan oleh tim kerja yang terpadu

berdasarkan pembagian tugas yang telah dilakukan. Pelaksanaan

kurikulum terlihat dalam proses pelaksanaan pembelajaran berbasis

lingkungan yang didukung dengan pelaksanaan kegiatan lingkungan

berbasis partisipatif dan pengelolaan sarana pendukung ramah

lingkungan. Hasil dari pelaksanaan ini yaitu tercapainya tujuan-tujuan,

36

c. Evaluasi

Tahap ini bertujuan melihat dua hal, yaitu kontrol proses

pelaksanaan program sebagai fungsi perbaikan dan untuk melihat hasil

akhir yang dicapai. Hasil akhir merujuk pada keberhasilan pencapaian

indikator yang disusun dalam perencanaan. Evaluasi juga dapat

dilakukan untuk menganalisis faktor pendukung dan faktor penghambat

atau kendala selama proses implementasi, dalam hal ini impleemntasi

pendidikan karakter peduli lingkungan.

Pusat Kurikulum dan Perbukuan (2011: 14) juga mengemukakan bahwa

strategi pelaksanaan pendidikan karakter di satuan pendidikan merupakan

suatu kesatuan dari program manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah

yang terimplementasi dalam pengembangan, pelaksanaan dan evaluasi

kurikulum oleh setiap satuan pendidikan. E. Mulyasa (2013: 191-193)

menjabarkan pula bahwa secara garis besar, implementasi pendidikan

karakter di sekolah meliputi tiga fungsi manajerial yaitu sebagai berikut.

a. Perencanaan

Perencanaan merupakan fungsi sentral manajemen pendidikan

karakter untuk masa depan. Fungsi perencanaan menyangkut perumusan

kompeteni dasar, jenis karakter dan cara pengembangan karakter

tersebut. Perencanaan ini dituangkan dalam program sekolah yang

berkaitan dengan strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan.

Pengelolaan sumber daya, sumber dana dan sumber belajar untuk

37

siswa harus disusun secara jelas dan sistematis dalam fungsi perencanaan

ini.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan sering disebut implementasi, yaitu proses yang

memberikan kepastian bahwa program sekolah telah memiliki sumber

daya manusia dan sarana, serta prasarana yang diperlukan dalam

pelaksanaan, dapat mengembangkan karakter yang diinginkan yaitu

peduli lingkungan.

c. Pengendalian atau peniaian atau evaluasi

Fungsi ini bertujuan menjamin kinerja yang dicapai dari proses

agar sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah ditetapkan.

Pengendalian ini harus dilakukan secara terus menerus dan

berkesinambungan untuk memantau perkembangan karakter peserta

didik dengan menganalisis kendala yang ditemui apabila hasil evaluasi

menunjukkan belum maksimal.

Berdasarkan uraian pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan

bahwa implementasi merupakan aplikasi, penerapan atau pelaksanaan

perencanaan yang telah disusun untuk mencapai tujuan implementasi.

Implementasi pendidikan karakter peduli lingkungan meliputi tiga tahapan

pokok yaitu perencanaan atau pengembangan program, pelaksanaan atau

proses dan evaluasi.

Implementasi pendidikan karakter dilakukan dengan mengembangkan

38

proses penciptaan budaya sekolah yang berbasis pendidikan karakter di SD

dapat dilakukan melalui empat cara sebagai berikut.

a. Pembiasaan keteladanan

Pembiasaan keteladanan adalah kegiatan dalam bentuk perilaku

sehari-hari yang tidak diprogramkan karena dilakukan tanpa mengenal

batasan ruang dan waktu. Keteladanan merupakan perilaku dan sikap guru

serta tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh

melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan

bagi peserta didik lain. Contoh pembiasaan keteladanan yang dapat

dilakukan oleh guru dan tenaga kependidikan dalam hal peduli lingkungan

diantaranya yaitu: guru dan tenaga kependidikan membuang sampah pada

tempatnya, turut serta kerja bakti membersihkan sekolah bersama siswa,

dan memungut sampah yang berserakan dan membuangnya di tempat

sampah.

b. Pembiasaan spontan

Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilakukan secara spontan atau

tanpa direncanakan saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan ketika

guru atau tenaga kependidikan mengetahui adanya perbuatan yang kuran

baik dari peserta didik yang harus dikoreksi pada saat itu juga. Contoh

pembiasaan spontan yang dapat dilakukan oleh guru dan tenaga

kependidikan di SD dalam hal peduli lingkungan yaitu: menyuruh siswa

memungut sampah yang dibuang sembarangan dan memberikan sanksi

39 c. Pembiasaan rutin

Pembiasaan rutin merupakan salah satu kegiatan pendidikan karakter

yang terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari di sekolah. Kegiatan ini

dilaksankan secara terus-menerus dan konsisten setiap saat. Contoh

pembiasaan rutin di sekolah dalam hal peduli lingkungan yaitu sebagai

berikut.

1) Lingkungan Sekolah Bersih

a) Membiasakan anak membuang sampah pada tempatnya.

b) Setiap akhir jam pelajaran siswa membersihkan kelas didampingi

guru kemudian membuang sampah kelas ke TPS.

c) Setiap hari Jumat pagi minggu ke dua dan ke empat siswa

melakukan Jumat Bersih.

d) Petugas kebersihan sekolah mengumpulkan sampah dari kelas,

kantor, dan yang di luar jangkauan siswa setelah semua siswa

pulang kemudian membuang sampah ke TPS SD.

e) Guru melaksanakan piket secara kelompok untuk memantau

kebersihan lingkungan sekolah.

f) Memungut sampah yang berserakan.

2) Lingkungan Kelas Bersih

a) Piket kelas secara berkelompok untuk membersihkan kelas,

dilaksanakan setiap pagi sebelum pembelajaran dan siang usai

40

b) Setiap hari usai pembelajaran, masing-masing siswa menata

bangku dan kursi supaya rapi.

c) Penanggung jawab lingkungan sekolah melakukan pengamatan

kebersihan lingkungan setiap minggu dan diumumkan pada saat

upacara hari Senin. Kelas bersih diberi penghargaan bendera

hijau, sementara kelas yang kotor diberi sanksi bendera merah.

Kelas yang lain dianggap cukup bersih.

d) Tidak mencoret atau merusak tembok, bangku, kursi, dan fasilitas

sekolah lainnya. Bagi yang mencoret atau merusak diberi sanksi

membersihkan atau mengecat ulang.

d. Pengkondisian

Pengkondisian dilakukan dengan menciptakan kondisi yang

mendukung demi keterlaksanaan pendidikan karakter. Misalnya, kondisi

toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan,

poster tentang pentingnya peduli lingkungan, dan kesehatan diri.

Strategi implementasi pendidikan karakter di sekolah menurut Zamroni

(2011: 175-177) adalah sebagai berikut.

a. Tujuan, sasaran dan target yang akan dicapai harus jelas dan konkret.

b. Harus ada kerjasama antara sekolah dengan orang tua siswa.

c. Semua guru harus sadar akan peran penting dan tanggung jawab dalam

keberhasilan melaksanakan dan mencapai tujuan pendidikan karakter.

d. Perlu adanya hidden curriculum yang merupakan instrumen yang amat penting dalam pengembangan karakter peserta didik.

41

e. Guru harus menekankan pada daya kritis dan kreatif, kerjasama, dan

keterampilan mengambil keputusan.

f. Kultur sekolah harus dimanfaatkan dalam pengembangan karakter peserta

didik.

g. Fase pendidikan karakter adalah proses pembiasaan dalam kehidupan

sehari-hari, khususnya di sekolah yang dapat dimonitor dan dikontrol oleh

kepala sekolah dan guru.

Kementerian Pendidikan Nasional (2010: 15-22) menjabarkan

implementasi pendidikan karakter bagi siswa dapat dilakukan melalui

kegiatan berikut.

a. Program Pengembangan Diri

1) Kegiatan Rutin Sekolah

Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik

secara terus menerus dan konsisten setiap saat.

2) Kegiatan Spontan

Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilakukan secara spontan

oleh guru atau tenaga kependidikan lainnya ketika mengetahui adanya

perbuatan yang kurang baik yang tidak mencerminkan peduli

lingkungan dari peserta didik yang harus dikoreksi pada saat itu juga.

Apabila guru mengetahui adanya perilaku dan sikap yang kurang baik

maka pada saat itu juga guru harus melakukan koreksi sehingga

peserta didik tidak akan melakukan tindakan yang tidak baik itu.

42

Kegiatan spontan berlaku untuk perilaku dan sikap peserta didik yang

tidak baik dan yang baik sehingga perlu dipuji.

3) Keteladanan

Keteladanan adalah perilaku dan sikap guru atau tenaga

kependidikan yang lain dalam memberikan contoh tindakan-tindakan

yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik.

Jika guru dan tenaga kependidikan yang lain menghendaki agar

peserta didik berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai peduli

lingkungan, maka guru dan tenaga kependidikan yang lain adalah

orang yang pertama dan utama memberikan contoh berperilaku dan

bersikap sesuai dengan nilai-nilai itu. Misalnya, berpakaian rapi,

menjaga kebersihan, menghemat listrik dan air.

4) Pengkondisian

Untuk mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter peduli

lingkungan, maka sekolah harus dikondisikan sebagai pendukung

kegiatan tersebut. Sekolah harus mencerminkan kehidupan nilai-nilai

peduli lingkungan. Misalnya, toilet yang selalu bersih, bak sampah

ada di berbagai tempat dan selalu dibersihkan, sekolah terlihat rapi

dan alat belajar ditempatkan teratur.

b. Pengintegrasian dalam Pembelajaran

Pengembangan karakter peduli lingkungan dapat dilaksanakan dengan

mengintegrasikan nilai-nilai peduli lingkungan dalam setiap pokok

43

silabus dan RPP. Kemudian, proses pembelajaran peserta didik

dilaksanakan secara aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki

kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam

perilaku yang sesuai karakter peduli lingkungan. Guru juga berperan

memberikan bantuan kepada peserta didik, baik yang mengalami kesulitan

untuk menginternalisasi nilai maupun untuk menunjukkannya dalam

perilaku. Pengembangan proses pembelajaran berbasis karakter peduli

lingkungan dapat dilaksanakan di dalam kelas, kegiatan sekolah, maupun

di luar sekolah.

c. Budaya Sekolah

Budaya sekolah meliputi harapan, hubungan, kegiatan kurikuler,

kegiatan ekstrakurikuler, proses mengambil keputusan, kebijakan maupun

interaksi sosial antarkomponen di sekolah. Budaya sekolah adalah suasana

kehidupan sekolah tempat peserta didik berinteraksi dengan sesamanya,

guru dengan guru, pegawai administrasi dengan sesamanya, dan

antaranggota kelompok masyarakat sekolah juga mengenai penggunaan

fasilitas sekolah. Keteladanan, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab

merupakan beberapa nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah.

Strategi implementasi pendidikan karakter khususnya karakter peduli

lingkungan merupakan kebijakan sekolah yang disusun untuk

mengembangkan karakter peduli lingkungan bagi semua warga sekolah.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirangkum bahwa pendidikan

44

a. Keteladanan, yaitu perilaku tenaga kependidikan sehari-hari yang

menunjukkan sikap peduli lingkungan yang diharapkan siswa dapat

mencontoh perilaku tersebut.

b. Kebiasaan rutin, yaitu kegiatan berbasis yang telah diprogramkan sekolah

yang dilaksanakan secara terus-menerus dan konsisten.

c. Tindakan spontan, yaitu tindakan yang dilakukan tenaga kependidikan

tanpa diencanakan namun dilakukan saat melihat perilaku warga sekolah

yang tidak peduli lingkungan kemudian menegur pada saat itu juga.

d. Pengkondisian, yaitu kegiatan yang sengaja dikondisikan untuk

mendukung pelaksanaan pendidikan karakter peduli lingkungan.

e. Kerjasama dengan berbagai pihak, yaitu menjalin kerjasama dengan

orang tua siswa, lembaga pemerintah, dan masyarakat untuk turut

mendukung dan berkontribusi dalam memberikan pendidikan karakter

peduli lingkungan bagi siswa.

f. Pengintegrasian dalam pembelajaran, yaitu pengembangan karakter

peduli lingkungan melalui pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan,

proses pembelajaran yang aktif dan memberikan penegtahuan serta

keterampilan menjaga lingkungan bagi siswa.

g. Kegiatan ekstrakurikuler, yaitu pengembangan karakter peduli

lingkungan melalui kegiatan di luar pembeajaran di kelas yang

45

Dokumen terkait