BAB II IMPLEMENTASI PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA
E. Implementasi Penegakan Hukum Oleh Pemerintah
Penegakan hukum yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi perjudian adalah dengan cara membuat suatu Undang-Undang yaitu Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian. Dalam hal ini dapat kita lihat tentang isi dan sanksi pemidanaannya yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian sebagai berikut :
Pasal 1
Menyatakan semua tindak pidana perjudian sebagai kejahatan. Pasal 2
(1) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 303 Ayat (1) Kitab Undang- undang Hukum Pidana, dari Hukuman penjaara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak- banyaknya sembilan puluh ribu rupiah menjadi hukuman penjara selama-lamanya sepuluh tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh lima juta rupiah.
(2) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 Ayat (1) Kitab Undang- undang Hukum Pidana, dari hukuman kurungan selama-lamanya satu bulan atau denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah, menjadi hukuman penjara selama- lamanya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya sepuluh juta rupiah.
(3) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 Ayat (2) Kitab Undang- undang Hukum Pidana, dari hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah menjadi hukuman penjara selama- lamanya enam tahun atau denda sebanyak-banyaknya lima belas juta rupiah.
(4) Merubah sebutan Pasal 542 menjadi Pasal 303 bis.
Perubahan sanksi pidana dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian adalah bentuk aplikasi pemerintah dalam memberantas tindak pidana perjudian.
Dari pembahasan diatas maka apabila diaplikasikan dengan hasil penelitian yang telah penulis lakukan terhadap Putusan No. 534 / Pid.B / 2010 PN SURABAYA tentang perkara perjudian sepak bola yang ada di televise, maka didapat analisa penulis mengenai implementasi penegakan hukum perjudian sepak bola yang ada di televisi akan di uraikan dalam bab 2.2.
2.2. Analisa
Dalam Surat Tuntutan dengan No Perkara PDM 175/Ep.2/02/2010 ini Penuntut Umum membacakan penuntutannya pada hari Senin tanggal 08 Maret 2010 yang menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan terdakwa secara sah dan meyakinkan telah terbukti bersalah, maka penuntut umum mendakwa Yayan Hariyono Bin Gupuh Sasminto dengan Pasal Primair Pasal 303 (1) ke-2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan menuntut agar Yayan Hariyono Bin Gupuh Sasminto untuk dijatuhkan hukuman selama 5 (lima) bulan dikurangi selama terdakwa ditahan dengan perintah terdakwa tetap ditahan dan bulan dan membayar biaya perkara senilai Rp. 1.000,00 (seribu rupiah) juga Handpohone merk Nokia 1110 warna hitam putih dan enam lembar rekapan perjudian bola ini digunakan untuk melakukan tindak pidana tersebut dijadikan sebagai barang
bukti dan telah diajukan bukti-bukti berupa saksi dan terdakwa mengakuinya akan perbuatan dalam persidangan.
Berdasarkan hasil analisa pada kasus No. 534 / Pid.B / 2010 PN SURABAYA bahwa Yayan Hariyono Bin Gupuh Sasminto, umur 33 tahun, yang bertempat tinggal di kaliasin 10/20 Surabaya, Pekerjaan wiraswasta, agama islam, Kewarganegaraan Indonesia telah melakukan perbuatan pidana yaitu melakukan perjudian jenis bola, maka majelis hakim pada tanggal 17 Februari 2010 telah memutuskan perkara perjudian terhadap terdakwa Yayan Hariyono Bin Gupuh Sasminto dengan pidana penjara selama 4 bulan dan membayar biaya perkara senilai Rp. 1.000,00 (seribu rupiah).
Penerapan sanksi pidana terhadap terdakwa Yayan Hariyono Bin Gupuh Sasminto dalam perkara pidana perjudian sangat ringan sekali bila dibandingkan dengan ancaman pidana pada Pasal 303 (1) ke 2 dan Pasal 303 bis (1) ke 2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berbunyi. :
Pasal 303 (1) ke 2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Dengan hukuman penjara selama-lamanya 10 Tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua puluh lima juta rupiah dihukum barang siapa dengan tidak berhak :
“Dengan sengaja menawarkan atau memberikan kesempatan pada khalayak umum untuk permainan judi atau dengan sengaja turut serta dalam perusahaan untuk itu, biarpun ataupun tidak ada perjanjiannya atau caranya atau jugapun untuk memakai kesempatan itu“.
Hal ini dikarenakan hakim mempunyai beberapa pertimbangan yang menjadikan perkara terdakwa Yayan Hariyono Bin Gupuh Sasminto menjadi ringan. Pertimbangan-pertimbangan itu sebagai berikut :
1. Terdakwa Yayan Hariyono Bin Gupuh Sasminto telah mengakui terus terang apa yang telah dilakukannya didepan persidangan.
2. Terdakwa Yayan Hariyono Bin Gupuh Sasminto berlaku sopan didepan persidangan.
3. Dengan hukuman pidana 4 bulan diharapkan terdakwa Yayan Hariyono Bin Gupuh Sasminto sudah memberikan efek jera.
Menurut hasil wawancara dengan Haakim M. Sholeh SH. MH pada tanggal 12 Maret 2011, selain pertimbangan-pertimbangan tersebut, hakim juga memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan berdasarkan bukti-bukti dan keyakinannya sesuai dengan sistem pembuktian yang dianut dalam Hukum Acara Pidana kita. Dalam proses Hukum Acara Pidana di Indonesia, barang bukti memegang peranan yang sangat penting, dimana barang bukti dapat membuat terang tentang terjadinya suatu tindak pidana dan akhirnya akan digunakan sebagai bahan pembuktian, untuk menunjang keyakinan hakim atas kesalahan terdakwa sebagaimana yang didakwakan dan dituntut oleh jaksa penuntut umum di dalam surat dakwaan dan penuntutan di pengadilan.
Terdakwa juga terbukti dalam melakukan kejahatan tidak berdiri sendiri tetapi dilakukan bersama bandar yang bernama Antok yang bertempat tinggal di Jalan Kedondong Surabaya. Tugas terdakwa hanya sebagai pengepul yang kemudian hasilnya itu diserahkan pada Bandar yang bernama Antok. Hal ini terungkap dari keterangan terdakwa sendiri di depan persidangan. Hal ini juga menjadikan dasar hakim dalam memutus perkara kasus No. 534 / Pid.B / 2010 PN SURABAYA menjadi ringan.
Dalam putusan Pengadilan Negeri No. 534 / Pid.B / 2010 PN SURABAYA menurut penulis bahwa terdakwa Yayan Hariyono Bin Gupuh Sasminto memang pantas di hukum dengan pidana 4 bulan dikarenakan memang terdakwa Yayan Hariyono Bin Gupuh Sasminto bukan pelaku utama dalam perjudian bola ini, dia hanyalah bekerja terhadap Bandar Antok yang merupakan otak dari perjudian bola ini. Seharusnya Bandar yang bernama Antok ini yang di hukum semaksimal mungkin karena dia merupakan dalam otak perjudian bola ini.