BERDASARKAN TEMPAT PELAKSANAAN DI DESA JEBED SELATAN
1. Implementasi di Tempat Kerja
Pembangunan Kesehatan adalah bagian dari Pembangunan Nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang termasuk masyarakat pekerja (formal dan informal) agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, dengan pertimbangan seorang pekerja yang sehat dan produktif dapat meningkatkan ekonomi keluarga sehingga dapat mengurangi tingkat kemiskinan.
Berbicara tentang tempat kerja berarti berbicara juga tentang mata pencaharian.
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa Desa Jebed Selatan mayoritas penduduk mata pencahariannya adalah buruh tani dan petani. Dari 50 responden yang mata pencahariannya sebagai buruh tani dan petani sebesar 60 % atau 30 responden. Untuk lebih rinci seperti ditunjukkan pada Tabel 9.
Tabel 9 Komposisi Mata Pencaharian Responden No. Mata Pencaharian Jumlah
Responden Persentase
1 Buruh Tani 26 52 %
2 Petani 4 8 %
3 Kepala Dusun 5 10 %
4 Tukang Kayu 6 12 %
5 Buruh Pabrik 9 18 %
Jumlah 50 100 %
Sumber : Pengkaji, diolah, 2008
Dari hasil wawancara di lapangan, responden yang mata pencahariannya sebagai petani tergolong sebagai petani yang mempunyai lahan dan lahan tersebut digarap sendiri. Rata-rata lahan yang dimiliki dari empat petani adalah seperempat hektar. Berbicara tentang sektor pertanian, sudah pasti berbicara juga tentang penggunaan pestisida. Tingkat kesehatan petani sangat dipengaruhi oleh dampak dari penggunaan pestisida tersebut. Sangat perlu untuk mengkaji tingkat pemahaman petani terhadap pestisida sampai dampak terburuk apabila tubuh manusia terkontaminasi oleh pestisida. Dari hasil wawancara mendalam dengan Kepala Keluarga yang bekerja sebagai petani, 83,3 % atau 25 responden sudah memahami prosedur pemakaian pestisida mulai dari memberikan takaran sampai dengan penyemprotan dan sisanya 16,7 % atau 5 (lima) responden lebih baik menyewa orang lain untuk melakukan penakaran sampai penyemprotan. Alasan kelima responden tersebut sangat bervariasi, mulai dari takut salah dalam memberikan takaran, takut akan bahaya pestisida, lebih murah menyewa orang lain sampai tidak mempunyai alat penyemprot. Kutipan hasil wawancara kepada Bapak Trs., adalah berikut ini :
“Kulo sampun 15 tahun bertani, tapi ngantos sakniki kulo mboten nate nyemprot hama tiyambak, kulo luwih becik nyemo tiyang, masalahe luwih murah daripada kulo tumbas alat semprote tur kulo wedi mbokan salah nakar”
(“Saya sudah 15 tahun bertani, tetapi sampai dengan sekarang saya tidak pernah melakukan penyemprotan hama sendiri, saya lebih baik menyewa orang lain karena lebih murah daripada saya harus membeli alat semprot sendiri dan saya takut barangkali salah melakukan penakaran”)
Ironisnya dari 25 responden yang sudah melakukan prosedur dengan benar, hanya 20 % atau 5 (lima) responden yang menggunakan sarung tangan dan masker dalam melakukan penyemprotan dan sisanya 20 responden melakukan dengan telanjang tangan dan hidung.
Dampak yang dapat terjadi apabila dalam melakukan penyemprotan tidak menggunakan sarung tangan dan masker bisa terjadi keracunan pestisida. Karena jalan masuk pestisida bisa melalui kulit/ mata (dermal) dan pernafasan (inhalasi) yang dapat merusak hidung dan tenggorokan. Dampak terberat dari keracunan pestisida adalah gangguan reproduksi, kanker, kerusakan syaraf sampai dengan perubahan genetik. (Pusat Promkes Depkes RI 2005).
Pada tahun 2007, Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang pernah menyelenggarakan Penyuluhan Penjual dan Petani Pestisida dalam rangka Peningkatan Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya.
Penyuluhan yang diselenggarakan di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang dihadiri oleh perwakilan kelompok tani di Kecamatan Pemalang, Taman dan Petarukan. Dari Desa Jebed Selatan diwakili lima orang (Ketua Kelompok Tani). Dari hasil penyuluhan tersebut kemudian diinformasikan kepada petani lainnya. Hanya saja tidak adanya pengawasan atau monitoring dari pihak Dinas Kesehatan (minimal petugas dari Puskesmas Jebed) sehingga membuat para petani di Desa Jebed Selatan menjadi apatis. Bahkan dari hasil wawancara dengan responden di dapat informasi bahwa selama ini mereka tidak pernah mendapatkan keluhan apapun dari penggunaan pestisida tersebut. Hampir semua responden yang bekerja sebagai petani menjawab hal yang sama. Seperti kutipan wawancara dengan Bpk Rtm. yang secara kebetulan menjadi Ketua Kelompok Tani, berikut ini :
“Selama ini teman-teman sudah menjadi masa bodoh terhadap dampak pestisida bagi kesehatannya, bahkan mereka merasa sehat-sehat saja.
Saya sendiri sudah selalu mengatakan bahwa dampak tersebut tidak dirasakan sekarang tetapi akan dirasakan beberapa tahun kemudian.
Jadi memang secara keseluruhan teman-teman yang bekerja sebagai petani masih rendah sekali pengetahuannya terhadap dampak dari pestisida, terutama tentang kesehatan. Saya berharap pihak Dinas Kesehatan dapat menindak lanjuti hasil dari penyuluhan tersebut yaitu dengan melakukan pengawasan, mungkin bisa melalui petugas Puskesmas, jangan hanya penyuluhan saja dan setelah itu selesai.
Mungkin bisa dengan melakukan kerjasama antar Dinas, yaitu antara
Dinas Pertanian dan Dinas Kesehatan sehingga Bapak-Bapak dari penyuluh pertanian juga bisa melakukan pengawasan.”
Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa dengan rendahnya pengetahuan petani akan bahaya pestisida bagi tubuh manusia dan tidak adanya pengawasan atau monitoring dari Dinas Kesehatan, sangat berpengaruh terhadap perilaku hidup sehat seorang petani.
Kondisi yang sama juga dirasakan oleh responden yang bekerja sebagai buruh kayu. Perilaku hidup sehat tidak bisa terwujud karena rendahnya pengetahuan buruh kayu akan dampak dari serbuk kayu dan bisingnya alat pemotong kayu, padahal dampaknya sangat membahayakan fungsi paru-paru dan mengakibatkan gangguan pendengaran bagi buruh kayu. Hal tersebut disebabkan belum adanya sosialisasi yang sengaja diberikan oleh petugas Puskesmas tentang gangguan kesehatan yang ditimbulkan oleh serbuk kayu dan bisingnya alat pemotong kayu.
Dari hasil wawancara dengan responden yang bekerja sebagai buruh kayu yang berjumlah enam orang dapat diketahui informasi bahwa jawaban dari responden semuanya sama, yaitu belum pernah ada petugas Puskesmas yang secara sengaja memberikan sosialisasi tentang dampak dari serbuk kayu dan bisingnya alat pemotong kayu bagi kesehatan buruh kayu. Hanya saja secara tidak sengaja dari petugas Puskesmas memberikan anjuran untuk memakai masker dan penutup hidung ketika bekerja tetapi tidak memberikan penjelasan lebih dalam apa yang terjadi nantinya. Ketidaksengajaan tersebut terjadi ketika tempat responden bekerja sedang dilakukan peninjauan oleh tim dari Kabupaten terkait pengajuan Ijin Gangguan (HO) dan petugas Puskesmas masuk dalam anggota tim tersebut.
Yang disesalkan oleh responden adalah tidak adanya penjelasan informasi yang lebih mendalam tentang dampak yang ditimbulkan, seolah-olah anjuran tersebut hanya formalitas saja ketika dilakukan peninjauan.
Penyesalan responden dapat dilihat dari kutipan wawancara dengan Bpk Whn berikut ini :
“Sakderenge saking petugas Puskesmas mboten nate ngaturi sosialisasi Pak ? Nanging kulo nate ditegur petugas Puskesmas amargo mboten ngangge masker kaleh tutupe kuping. Pas kulo ditegur kebetulan enten peninjauan masalah Ijin Gangguan. Mungkin nek mboten enten
peninjauan, kulo mboten ditegur ? terus ngantos sakniki kulo mboten ngertos dampake lan kulo mboten enten masalah kaleh kesehatan kulo
?”
(“Sebelumnya dari petugas Puskesmas belum pernah memberikan sosialisasi Pak ? Tapi saya pernah ditegur petugas Puskesmas karena tidak memakai masker dan tutup telinga. Ketika saya ditegur kebetulan ada peninjauan masalah Ijin Gangguan. Mungkin kalau tidak ada peninjauan, saya tidak ditegur ? terus sampai sekarang saya juga belum tahu dampaknya dan saya juga tidak ada masalah dengan kesehatan saya ?”)
Apabila menengok peristiwa-peristiwa di Indonesia terkait K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), bahwa buruh sama sekali tidak mempunyai kekuatan di hadapan pihak perusahaan. Posisi buruh selalu saja sebagai korban, mulai dari pembayaran honor yang terlambat, PHK sampai dengan kecelakaan kerja. Hal tersebut juga dirasakan oleh sembilan responden yang bekerja sebagai buruh pabrik tekstil. Dari hasil wawancara dengan responden di dapat informasi bahwa tidak adanya pengawasan (monitoring dan evaluasi) dari Dinas terkait (Dinas Kesehatan, Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan) setelah memberikan penyuluhan tentang K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dan tidak adanya komitmen dari pihak perusahaan tentang pelaksanaan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
Terkait pemberian penyuluhan tentang K3, dari sembilan responden memberikan jawaban yang sama bahwa penyuluhan pernah dilaksanakan di tempat kerja mereka bahkan pernah juga ada mahasiswa yang melakukan penelitian tentang K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja); hanya saja tidak ada tindak lanjut dari pihak perusahaan. Berdasarkan informasi yang diterima dari responden, penyuluhan tersebut hanya sebatas formalitas saja. Hal tersebut dikarenakan tidak ada upaya pengawasan dari Dinas terkait. Ekploitasi tenaga masih saja dirasakan oleh buruh pabrik, dengan posisi berdiri buruh pabrik harus bekerja selama delapan jam dan waktu istirahat hanya setengah jam dengan makanan seadanya tanpa suplemen tambahan. Tidak adanya upaya promotif dan upaya preventif yang dilakukan oleh poliklinik pabrik, yang dilakukan masih saja upaya kuratif (mengobati) yaitu apabila ada buruh yang pingsan atau pusing kepalanya hanya diberikan obat dan istirahat sebentar lalu bekerja lagi. Dengan kondisi seperti itu, seolah-olah dari pihak perusahaan tidak menanggapi anjuran yang diberikan oleh Dinas terkait,
yaitu mulai memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif).
Berikut kutipan wawancara dari salah satu responden (Bpk. Wwn) :
“Kalo berbicara tentang K3 buruh selalu menjadi sasaran utama tetapi dari pihak perusahaan sama sekali tidak ada perhatian, contoh waktu istirahat hanya diberikan setengah jam, padahal kita harus berdiri selama 12 jam terus kita juga tidak diberi alat pelindung telinga padahal kondisi pabrik sangat bising dan tidak adanya makanan tambahan atau suplemen untuk buruh. Poster tentang K3 hanya sebagai penghias aja Pak ?”
Dari implementasi Promosi Kesehatan di tempat kerja dapat disimpulkan bahwa penyuluhan tentang Promosi Kesehatan seperti dampak pestisida, dampak serbuk kayu dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) pernah dilakukan. Akan tetapi tidak ada upaya pengawasan melalui monitoring dan evaluasi dari Dinas terkait sehingga pola kerja lama yang tidak memperhatikan aspek kesehatan bisa dilakukan kembali. Kondisi seperti itu seharusnya tidak terjadi karena nantinya akan menghambat perwujudan perilaku sehat sehingga bisa berdampak negatif pada perwujudan perilaku sehat di tingkat rumah tangga. Apabila seorang Kepala Keluarga tidak mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan selama bekerja dan ketika kembali ke rumah tidak ada manfaat yang bisa diberikan atau di informasikan kepada isteri dan anak-anaknya, sehingga tidak ada pengaruh yang besar dari implementasi Promosi Kesehatan di tempat kerja terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tingkat rumah tangga.