BAB III IMPLIKASI GERAKAN SEPARATIS DI THAILAND
3.2. Implikasi Gerakan Separatis Di Thailand Selatan Terhadap
3.2.3. Implikasi Dalam Bidang Ekonomi-Sosial
Konflik memang dapat menghasilkan berbagai spekulasi, namun dalam skala massif yang sulit dikendalikan, tentu dapat menimbulkan berbagai situasi tidak kondusif, kerugian dan korban jiwa misalnya. Dalam pemberitaan di Media Indonesia online bahwa gerakan separatis yang merebak di provinsi Yala, Pattani, Narathiwa, dan Songkhla sejak kembali memanas di tahun 2004, sedikitnya 4.800 orang tewas akibat konflik tersebut.88
Selain itu, kontak senjata dan serangan bom terus terjadi di Thailand Selatan yang diprakarsai oleh separatis. Di Distrik Ra Ngae, provinsi Narathiwat, sebanyak enam warga tewas akibat serangan bom. Sementara itu, bom kedua kembali menguncang dan melukai aparat saat mencoba menyelamatkan warga tersebut. Tidak hanya itu, di provinsi Yala, dilaporkan satu orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangkaian bom yang terjadi di wilayah tersebut. Hingga kini, konflik antara kaum separatis Muslim dan aparat telah memakan hampir 5.000 korban jiwa.89
87
Redaksi, Tajuk Rencana; PM Thaksin Bereaksi Cepat Atas Pergolakan di Thailand Selatan,
Kompas, Kamis, 08 Januari 2004. Hlm.4.
88Separatis Langgar Hak Asasi,
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/09/28/263448/75/19/Separatis-Langgar-Hak-Asasi. Diakses pada 15 November 2011.
89Serangan Bom di Thailand Tewaskan 6 Orang.
http://www.kbr68h.com/berita/internasional/14704-serangan-bom-di-thailand-tewaskan-6-orang. Diakses pada 15 November 2011.
Lebih lanjut, dilaporkan tujuh orang tewas dalam dua serangan bom di Thailand Selatan. Korban tewas sebagian besar adalah anggota pasukan keamanan Thailand. Selain itu, media Thailand juga melansir setidaknya enam belas orang terluka dari serangan yang diduga dilakukan separatis Thailand Selatan. Tiga tentara tewas di provinsi Yala, terkena ledakan bom saat di dalam kendaraan. Dua tentara lainnya terluka.90
Akibat serangkaian bom dan kontak senjata tersebut, kelompok hak asasi manusia Amnesti Internasional atau yang disingkat dengan AI, mengecam tindakan tidak berperikemanusiaan tersebut. AI pun berpendapat bahwa pemerintah Thailand tersebut harus bertanggujawab atas jatuhnya korban. Tidak
hanya itu, pihak AI pun menyatakan bahwa, ―(Kelompok separatis) telah
menyebarkan teror terhadap warga sipil. Ini merupakan kejahatan perang.‖91
90Konflik di Thailand Selatan Kembali Pecah, 7 Tewas.
http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/05/09/127849/Konflik-di-Thailand-Selatan-Kembali-Pecah-7-Tewas/ diakses pada 16 September 2011.
91Separatis Langgar Hak Asasi.
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/09/28/263448/75/19/Separatis-Langgar-Hak-Asasi. Diakses pada 15 November 2011.
48
SEPARATIS DI THAILAND SELATAN
Bagi negara Thailand, menyelesaikan gerakan separatis Thailand Selatan merupakan pekerjaan rumah yang menyita perhatian. Berbagai upaya coba ditempuh untuk mengatasi gerakan separatis yang kembali memanas di tahun tahun 2004. Bagi Malaysia sendiri, gerakan separatis di Thailand Selatan membuat pemerintahan Malaysia ini perihatin. Belum lagi terjadinya ketegangan dan saling kecam antara Malaysia dan Thailand.
Menurut pemimpin Thailand, Surajud, mengatakan bahwa kaum separatis Thailand
Selatan merupakan bagian dari gerakan regional. Ia pun menyatakan bahwa, ―kami tahu
ancaman ini bukan ancaman lokal saja tapi sudah menjadi ancaman global. Jadi bisa tidaknya ancaman ini diatasi, tergantung pada kerjasama berbagai negara. Kalau kita
tidak bekerjasama, kita tidak bisa mengatasinya.‖92
Mengenai kerjasama memang terletak pada pencapaian sasaran. Tujuan akhir yang kemudian dijabarkan ke dalam sasaran-sasaran kerjasama yang ditentukan oleh persamaan kepentingan yang fundamental dari masing-masing pihak yang melakukan kerjasama.93
Adapun sebagai bentuk upaya untuk mengakhiri gerakan separatis yakni dilakukan dengan saling kunjung antara kedua pemimpin berkuasa kedua negara tersebut. Adapun
92Perdana Menteri Thailand Ingin Mempercepat Kerjasama Regional
.
http://www.asiacalling.org/in/arsip/1133-thai-pm-calls-for-greater-regional-security-cooperation/ diakses pada 09 Agustus 2011.
93
R. Soeprapto. Hubungan Internasioanl: Sistem, Interaksi, Dan Perilaku. Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1997. Hlm. 181.
rangkaian peristiwa sejak konflik kembali memanas hingga terjadinya berbagai kesepakatan atau kunjungan yang melibatkan Thailand-Malaysia, dapat penulis jabarkan sebagai berikut:
1) Di tahun 2000-2004:
Gerakan separatis di Thailand Selatan sepanjang tahun 2000 hingga tahun 2004 terus terjadi, tercatat lebih dari 1843 insiden terjadi.94 Sedangkan hubungan antara Thailand-Malaysia pada tahun tersebut dapat dikatakan masih berjalan baik dan lancar. Hal ini ditandai dengan tidak adanya benturan atau kecaman dari kedua belah pihak.
2) Di tahun 2004:
Pada tanggal 4 Januari 2004 merupakan puncak konflik yang dilakukan oleh gerakan separatis. Hal ini ditandai dengan dicetuskannya kebangkitan Muslim-Melayu.95 Konflik terus terjadi tanpa dapat diatasi, akibat dari adanya kejadian ini berbagai dampak negatif dialami negara Thailand, misalnya jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda, menimbulkan instabilitas dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya (bab II).
3) Di tahun 2005:
Terjadi gelombang arus pengungsi besar-besaran penduduk Thailand ke Malaysia Utara akibat diberlakukannya status darurat militer oleh pemerintah Thailand pada Agustus tahun 2005 yang kemudian diperpanjang hingga bulan Oktober tahun
94Srisompob Jitpiromsri with Panyasak Sobhonvasu, Unpacking Thailand’s Southern Conflick;
The Poverty of Structural Explanations, Routledge: Critical Asian Studies 38:1 Tahun 2006. Hlm. 102.
95Jhon Funston, Thailand’s Southern Fires: The Malaysian Factor. Research of Pacific and Asian Studies (RSPAS). Canberra: Australian National University. Hlm. 55.
2005. Akibatnya, timbullah kekhawatiran dan ketakutan dari penduduk yang tinggal di wilayah Selatan.
Pemerintah Thailand telah mengeluarkan status darurat militer di tiga provinsi di wilayah Selatan yakni Pattani, Yala dan Narathiwat pada Agustus 2005. Kebijakan tersebut dapat memberlakukan banyak hal, misalnya penyadapan, penggeledahan dan penangkapan terhadap orang yang dicurigai dan mengacaukan situasi. Tidak hanya itu, pemerintahan Thailand mengeluarkan kebijakan seperti mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi para Muslim yang dituduh mendalangi serangan di Thailand Selatan.96
Akibat adanya eksodus penduduk Thailand ke wilayah Malaysia yang pada akhirnya menimbulkan perseteruan antara Thailand dan Malaysia. Hal ini terkait dengan perlindungan sementara yang diberikan Malaysia terhadap penduduk tersebut. Sejak saat itulah hubungan kedua negara mulai mengalami ketegangan hubungan diplomatik karena terjadi saling kecam dan tuduh antara kedua belah pihak. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya (bab III).
4) Di tahun 2005-2007:
Rentang tahun 2005 hingga tahun 2007 keadaan konflik separatis di Thailand Selatan masih terus terjadi tanpa dapat diatasi meskipun pemerintah Thailand telah berupaya untuk mengatasinya. Hal ini terkait karena para separatis akan terus melakukan perlawanannya hingga mendapatkan otonomi atau kemerdekaan yang diinginkan. Sedangkan ketegangan hubungan diplomatik Thailand-Malaysia pun masih terjadi.
96
Wimpi Wibisono, Malaysia Khawatirkan Status Darurat Thailand Selatan, Republika, 9 Februari 2007.
5) Di tahun 2007-2009:
Kedua negara mulai menyadari akan pentingnya hubungan baik dan kerjasama untuk mengatasi gerakan separatis di Thailand Selatan. Hal ini ditandai dengan dimulainya berbagai kunjungan dan kesepakatan yang dilakukan Thiland-Malaysia untuk mengatasi gerakan separatis. Para pemimpin Malaysia dan Thailand dijadwalkan melakukan kunjungan yang belum pernah terjadi sebelumnya ke Thailand selatan yang bergolak. Najib Razak yang menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia dan Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva dari Thailand, berjuang untuk mengatasi gerakan separatis, berkunjung ke provinsi selatan Narathiwat.
Menurut Reuben Wong selaku pakar kebijakan luar negeri di Lembaga
Pengkajian Internasional Singapura mengatakan bahwa, ―Ini adalah kunjungan yang sangat simbolik…kedua pemimpin bersikap sama bahwa perlu adanya dialog dan
penyelesaian aksi kekerasan di sini.‖97
Antara Thailand dan Malaysia telah sepakat untuk meningkatkan kerjasama untuk mengatasi keresahan di wilayah Thailand Selatan. Sejak saat itu, kedua negara mulai mengadakan kesepakatan-kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan ketegangan.
a. 11 Februari 2007:
Badawi mengunjungi Thailand. Kedua negara sepakat untuk memperbaiki hubungan kerjasama ke arah yang lebih positif. Malaysia juga berusaha untuk memetakan dan mengorganisir konflik, keduanya pun sepakat bahwa kemiskinan faktor penyebab terjadinya pemberontakan.
97Pemimpin Malaysia-Thailand Lakukan Kunjungan Perdamaian
,
http://www.iannnews.com/news.php?kat=6&bid=102&PHPSESSID=3ba40125a0844f11d336dae 1ff284bd6. Diakses pada 28 September 2011.
b. April 2007:
Kunjungan balasan pun dilakukan oleh Thaksin ke Malaysia. Adapun kunjungan balasan tersebut ditujuakan sebagai upaya dalam memetakan atau menyelesaikan konflik.
c. 21 Agustus 2007:
Terjadi kesepakatan dengan lahirnya MoU On Education yang ditanda tangani oleh menteri pendidikan kedua negara yakni Prof. Dr. Wichit Srisa-an (Thailand) dan Datuk Sri Hishammuddin Tun Hussein (Malaysia).
Di mana kedua negara ini pada akhirnya menandatangi nota kesepahaman yakni Memorandum of Understanding On Educational Cooperation Between The Government of The Kingdom of Thailand and The Government of Malaysia.
MoU tersebut ditandatangani pada 21 Agustus 2007 di Putrajaya oleh menteri pendidikan kedua negara yakni Prof. Dr. Wichit Srisa-an (Thailand) dan Datuk Sri Hishammuddin Tun Hussein (Malaysia).
Adapun isi dari MoU tersebut yakni mengenai pendidikan dalam segala sektor, diperuntukan bagi guru, murid, maupun institusi, pertukaran informasi, beasiswa, pertukaran pelajar, memberikan kurikulum Islamiyah, dan lain sebagainya. Hal ini juga demi peningkatan pendidikan secara menyeluruh khususnya di wilayah Thailand Selatan. Kesepakatan yang telah dibentuk tersebut hingga saat ini terus diupayakan agar seluruh penduduk dapat mengenyam pendidikan yang layak.
d. Senin, 8 Juni 2009:
Kedua negara sepakat untuk meningkatkan kerjasama mengatasi kekhawatiran di wilayah Thailand Selatan, hal ini dilakukan oleh Abhisit Vejjajiva (Thailand) dan Naib Razak (Malaysia). Kedua negara ini sepakat setelah melakukan pertemuan pada Senin, 8 Juni 2009 lalu. Hal ini merupakan kunjungan resmi yang pertama bagi Abhisit Vejjajiva (Thailand) ke Malaysia.98
Dalam pertemuan tersebut kedua negara sepakat untuk memberikan kesempatan kepada para pemuda untuk membantu mencapai kedamaian. Thailand dan Malaysia juga sepakat untuk bekerjasama di bawah naskah yang disebut dengan naskah tiga E, yakni pendidikan, pekerjaan, kewirausahaan. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa wilayah Thailand Selatan sangat tertinggal bila dibandingkan dengan wilayah lain di Thailand.99
e. Tahun 2009:
Diadakan pertemuan dalam rangka kerjasama bersama antara Thailand-Malaysia dan sekaligus diadakan siding komite strategi pembangunan daerah perbatasan bersama. Segala usaha untuk menciptakan keadaan yang aman pun selalu dilakukan oleh kedua negara, bahkan ketika terjadi ketegangan kedua negara pun berusaha untuk tetap melakukan upaya kerjasama. Hal ini sebagaimana diberitakan oleh Suara Merdeka, bahwa kedua negara sepakat
98
Malaysia-Thailand Kerja Sama Tangani Thai Selatan,
http://beritasore.com/2009/06/09/malaysia-thailand-kerja-sama-tangani-thai-selatan/diakses pada 14 Februari 2012.
99Jhon Funston, Malaysia and Thailand’s Southern Conflict: Reconciling Security and Ethnicity, Contemporary Southeast Asia: A Journal of International and Strategic Affairs, Vol. 32, No. 2. 2010. Hlm. 248.
untuk mengakhiri perang kata-kata dan ketegangan. Kesepakatan tersebut terjadi pasca mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad melakukan kunjungan dua hari
ke Thailand. Mahathir mengatakan bahwa, ―kami semua sepakat bahwa tidak
akan ada lagi diplomasi megafon. Sikap saling mencela tidak akan pernah
menyelesaikan masalah.‖100
Dalam pertemuannya tersebut, Mahathir bertemu dengan Thaksin pada Senin malam waktu setempat. Pada hari berikutnya Mahathir dijadwalkan bertemu dengan ketua Komisi Rekonsiliasi Nasional Thailand Anand Panyarachun. Mahathir pun memastikan bahwa perselisihan tersebut akan hilang. Bahkan sebelum pertemuan Thaksin pun menegaskan bahwa kedua negara memang saling membutuhkan satu sama lain, dan memandang bahwa kedua negara perlu mempererat kerja sama bilateral.
Pada kunjungan yang lain, Malaysia juga bersedia membantu Thailand untuk mengakhiri konflik tersebut. Pada saat itu, Menteri Luar Negeri Thailand Surapong Tovichakchaikul bertemu dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Anifah bin Haji Anam. Dalam pertemuannya, kedua petinggi negara tersebut membahas mengenai hubungan kerjasama kedua negara tersebut dan membahas mengenai penanganan pemberontakan di wilayah perbatasan. Dalam diskusinya, Surapong pun mengangkat isu mengenai draf perjanjian lintas batas yang pernah dibuat beberapa tahun silam akan sedang direvisi. Kesimpulannya bahwa
100
Thailand-Malaysia Berdamai, http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/23/int1.htm/ diakses pada 14 Februari 2012.
perjanjian yang baru nantinya dapat memfasilitasi dan mengatasi pergerakan warga di kedua perbatasan.
Dalam pertemuannya itu, Surapong menyatakan siap untuk menjadi tuan rumah dalam Kerja sama Bersama ke-12 Thailand-Malaysia dan Sidang Ketiga Komite Strategi Pembangunan Daerah Perbatasan Bersama (JDS), adapun pertemuan tersebut rencanya akan diadakan pada akhir tahun 2009.101 Kedua pertemuan tersebut sebagai salah satu bentuk persiapan untuk pertemuan tahunan para pemimpin kedua negara dan Malaysia yang akan menjadi tuan rumahnya. Selain itu, Menteri Luar Negeri Thailand pun sudah dijadwalkan akan berkunjung ke Malaysia akhir Oktober di tahun yang sama.
Diadakannya kunjungan dan rencana kedua petinggi negara tersebut menunjukkan bahwa Thailand dan Malaysia saling membutuhkan satu sama lain. Ini juga sebagai upaya diplomasi Thailand-Malaysia untuk mengatasi gerakan separatis di Thailand Selatan. Esensi kunjungan tersebut setidaknya dapat memberikan kesempatan kepada kedua pemimpin untuk memperbarui hubungan personal, kenegaraan dan melakukan diskusi serta pertukaran pandangan dalam konteks memperkuat hubungan dekat dan meluaskan bidang kerjasama. Selama keputusan atau kesepakatan yang diambil itu tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, agar stabilitas keamanan kondusif dan hubungan baik kembali terjadi, maka boleh saja kedua negara melakukan kerjasama atau menjalan kebijakan luar negerinya.
101Malaysia Cooperates With Thailand On South Issues,
http://www.nationalmultimedia.com/2011/09/22/national/Malaysia-Cooperates-With-Thailand-On-South-Issues-30165865.html/diakses pada 30 Januari 2012.
4.2 Program Kerjasama Antara Thailand-Malaysia Dalam Mengatasi Gerakan Separatis Di Thailand Selatan
Bagi Malaysia dan Thailand hubungan baik untuk mengatasi gerakan separatis yang terjadi di Thailand Selatan menjadi kepentingan bersama yang harus segera direalisasikan. Oleh sebab itu, kedua negara sepakat untuk mengadakan hubungan baik dengan saling kunjung dan memetakan persoalan serta rumusan yang tepat dalam mengatasi gerakan separatis di Thailand Selatan. Adapun bentuk diplomasi atau berbagai kesepakatan yang dilakukan oleh Thailand dan Malaysia dalam mengatasi gerakan separatis di Thailand Selatan, sebagai berikut:
4.2.1. Membangun Ekonomi dan Memberantas Kemiskinan di Wilayah Perbatasan
Begitu banyak hal yang melatarbelakangi perseteruan yang terjadi di Thailand Selatan, khususnya wilayah yang terdiri dari provinsi Pattani, Yala, Narathiwat, Satun dan Songkhla. Dahulunya, Thailand Selatan merupakan wilayah independen yang memiliki peraturan sendiri. Sistem ekonomi mereka pun cenderung stabil. Mereka memiliki pemerintahan sendiri. Mereka pun mengelola keuangan sendiri dan lain sebagainya. Akan tetapi, kehidupan mereka seakan berubah ketika terjadi aneksasi di tahun 1902, di mana pada saat itu wilayah di selatan Thailand menjadi satu dengan kerajaan Thailand. Warga Thailand Selatan yang mayoritas adalah Muslim-Melayu harus menyatukan diri dengan warga kerajaan Thailand yang mayoritas beragama Buddha.
Tidak hanya itu, banyak peraturan dan kebijakan yang dirasakan merugikan warga di Thailand Selatan. Belum lagi pembagian ekonomi dan pembangunan yang tidak merata keberbagai wilayah. Tentu saja, warga di perbatasan Thailand Selatan bereaksi dengan menyuarakan untuk memberlakukan hak otonomi, bahkan hingga menginginkan pembentukan pemerintahan sendiri.
Melihat hal tersebut, Malaysia menaruh perhatian mendalam terhadap konflik di wilayah utaranya ini. Awalnya memang, berbagai bentuk simpati dan bantuan Malaysia kerap ditolak oleh pemerintah Thailand, bahkan sempat dipandang sinis oleh Thailand karena Malaysia dianggap terlalu mencampuri urusan dalam negeri Gajah Putih ini. Akan tetapi, dilain kesempatan rupanya Thailand mulai menyadari bahwa konflik internal tersebut tidak dapat diredamnya sendiri, melainkan butuh bantuan dari pihak lain yakni negara tetangga, Malaysia.
Dalam hal ini antara Malaysia dan Thailand sepakat untuk memetakan rangkaian upaya untuk mengakhiri gerakan separatis. Salah satu hal yang disepakati dalam pertemuan kedua negara bertetangga itu, yakni mengenai upaya sosial ekonomi dan pemberantasan kemiskinan. Hal ini sebagaimana diungkap oleh Menteri Luar Negeri Malaysia Syed Hamid Albar yang mengatakan bahwa krisis di wilayah mayoritas Muslim di negeri mayoritas Budha tidak terkait ke
Budha telah hidup dengan damai di sana sebelumnya. Di sana ada perasaan teralienasi, ditinggal dan problem sosio-ekonomi.‖102
Konflik dapat terjadi akibat adanya kemiskinan. Kemiskinan ini selanjutnya memicu sejumlah (potensi) kerawanan sosial. Oleh karena itulah maka kesejahteraan yang baik diasumsikan dapat mengeliminir konflik. Bentuknya dapat dilakukan dengan melakukan penyediaan lapangan pekerjaan dan gaji yang mencukupi. Dengan gaji yang mencukupi orang merasa aman.103
Malaysia mengatakan kemiskinan yang melanda muslim di Thailand Selatan menjadi pemicu ketegangan di wilayah tersebut. Perdana Menteri Thailand, Abdullah Ahmad Badawi, menyatakan pihaknya akan bekerjasama
dengan Thailand untuk mengatasi masalah tersebut. ―Kemiskinan dan tingkat
ekonomi yang rendah di wilayah selatan menjadi salah satu pemicu terjadinya
masalah keamanan,‖ katanya di Bangkok.104
Selain itu, Badawi pun mengatakan bila telah terwujud stabilitas di wilayah selatan, maka akan terwujud pula kegiatan ekonomi yang semakin ramai. Ini akan menjadi muslim di wilayah selatan memiliki tingkat ekonomi dan kesejahteraan yang lebih baik. Jika stabilitas dan kesejahteraan telah terwujud, maka perdamaian yang berkelanjutan akan pula hadir di wilayah ini.105
102Thailand-Malaysia Petakan Atasi Ketegangan di Thailand Selatan
.
Dalam http://www.tempo.co.id/hg/luarnegeri/2007/03/23/brk,2007032396136,id.html. Diakses pada 28 September 2011.
103
Jamil, M. Mukhsin, Mengelola Konflik Membangun Damai: Teori, Strategi dan Implementasi Resolusi Konflik. Semarang: Walisongo Mediation Centre (WMC). 2007. Hlm. 40.
104Malaysia: Kemiskinan Picu Pergolakan di Thailand Selatan.
Pada http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.pp?id=A3851_0_0_M. Diakses pada 16 September 2011. Baca lebih lanjut pada Republika online, 13 Februari 2007.
105
Oleh sebab itu, dalam setiap kesempatan kedua negara bertetangga tersebut membicarakan formula yang tepat demi mewujudkan kesejahteraan di selatan. Bentuk pemerataan dan berbagai pendekatan sosial-ekonomi coba untuk dicanangkan agar pembangunan dapat dirasakan merata kesejumlah titik di bumi Thailand.
Malaysia pun berjanji akan memberikan dukungan penuh kepada Thailand untuk menindak separatis di wilayah perbatasan kedua negara. Pernyataan itu ia ungkapkan setelah mengadakan pertemuan dengan mitranya (Senin, 12/4), Perdana Menteri Thailand. Pertemuan itu pun atas inisiatif Thaksin. Dalam pertemuan tersebut kedua negara juga sepakat untuk memilih pembangunan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan di kawasan terpencil dan berpenghasilan rendah di Thailand, khususnya di wilayah kelompok Muslim sepanjang perbasatan Malaysia. Itu merupakan elemen penting dari strategis jangka panjang untuk mengurangi masalah separatis di Thailand Selatan.106
Untuk merealisasikan hal tersebut, Badawi pun mengatakan bahwa nota kesepahaman tentang pembangunan ekonomi di daerah perbatasan ditandatangani segera baik itu di Kuala Lumpur atau di Bangkok. Dalam hal strategi pembangunan, Thaksin pun mengatakan bahwa aspek penting dalam menghadapi bersama tantangan ini adalah strategi pembangunan terpadu di
daerah perbatasan. ―Pertemuan dengan Abdullah telah dilakukan dengan semua keterusterangan sebagai yang biasa dilakukan di antara teman dalam suasana
106
Redaksi, Malaysia Dukung Thailand Untuk Menindak Separatis, Kompas, Selasa 13 April 2004. Hlm 2.
ramah-tamah dan pengertian yang sangat baik,‖ tuturnya. ―Kami memiliki
analisa yang sama tentang keadaan kompleks penyebab masalah dan obat yang dibutuhkan untuk menghadapinya,‖ lanjutnya.107
4.2.2. Menjaga Stabilitas Wilayah Perbatasan Antar Kedua Negara
Jarak geografis antara Thailand dan Malaysia yang relatif dekat menyebabkan wilayah perbatasan kedua negara ini rentan untuk dimasuki oleh para separatis Thailand Selatan. Jika demikian tentu dapat menimbulkan banyak implikasi. Dilain pihak, perbatasan merupakan wilayah yang sangat krusial dan memegang peranan penting bagi sebuah negara. Perbatasan juga merupakan garda depan negara. Oleh sebab itu, perbatasan setiap negara harus dijaga ketat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengenai konflik yang terjadi dan sehubungan dengan stabilitas wilayah perbatasan, maka dua negara yakni Thailand dan Malaysia sepakat melakukan kerjasama untuk meningkatkan stabilitas diperbatasan. Malaysia meningkatkan keamanan di perbatasan dengan Thailand. Hal itu terkait pengetatan masuknya sepeda motor Thailand setelah seorang pejabat perbatasan Malaysia diserang oleh kelompok penyelundup bahan bakar minyak.108
Pengamanan di wilayah perbatasan akan ditingkatkan guna mencegah separatis di pedalaman Thailand Selatan dengan mudah menyebrangi perbatasan. Thailand maupun Malaysia sepakat untuk selalu meningkatkan dan memperketat wilayah perbatasan. Setidaknya, demikianlah pendapat yang dikemukakan oleh
107Ibid
.
108Tentara Malaysia di Perbatasan Thailand Diserang
. Dalam http://www.tempo.co.id/ hg/luarnegeri/2007/01/10/brk,20070110-90990,id.html. diakses pada 16 September 2011.
Menteri Pertahanan Thailand Jendral Thammarak Isarangura Na Ayutthaya. Ia pun menyatakan bahwa pemerintah telah merencanakan pengaturan pengamanan yang lebih ketat di sepanjang perbatasan Thailand-Malaysia guna mengatasi masalah tersebut. Pengaturan itu meliputi pembuatan bangunan atau perintang,
yang kuat disepanjang daerah perbatasan di wilayah Thailand. ―Pemerintah
Thailand akan meningkatkan pengaturan pengamanan di sepanjang perbatasan Thailand-Malaysia dan kami percaya akan memperoleh kerjasama yang baik dari
Kuala Lumpur seperti biasa bagi tindakan baru tersebut,‖ katanya.109
Pihak Thailand yang diwakili oleh Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, pada Senin 16 Februari 2004, mengatakan akan membangun pagar sepanjang 650 km pada perbatasannya. Adapun tujuan dibangunnya tembok tersebut untuk menghentikan militan melarikan diri setelah menyerang pasukan Thailand. Dikatakan juga bahwa militer akan membangun pagar tersebut disepanjang rute pelarian yang dicurigai dilewati oleh para pemberontak.110