BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
B. Penyajian Data dan Analisis
3. Implikasi Budi Luhur dalam Perkembangan LDII Jember
Hubungan politik dan agama tidak bisa dipisahkan. Dapat dikatakan bahwa politik berbuah dari hasil pemikiran agama, agar teciptanya kehidupan yang harmonis dan tentram dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hal ini ini disebabkan, pertama, seluruh aktifitas manusia, tidak terkecuali politik, harus dijiwai oleh ajaran-ajaran agama, disebabkan oleh fakta bahwa kegiatan manusia yang paling banyak membutuhkan legimitasi adalah bidang politik, dan hanya agamalah yang dipercayai mampu memberikan legimitasi yang paling meyakinkan karena sifat dan sumbernyta yang transcendent.
Agama secara hakiki berhubungan dengan politik kepercayaan agama dapat mempengaruhi hukum, perbuatan yang dianggap rakyat dosa. Sering kali agamalah yang memberi legimitasi kepada pemerintah. Agama sangat melekat dalam kehidupan masyarakat.
Sehingga kehadirannya tidak mungkin terasa dibidang poolitik. Sedikit
107 Malik,wawancara, Jember, 21 Mei 2016.
atau banyak, sejumlah pemerintah diseluruh dunia menggunakan agama untuk pemberi legitimasi pada kekuasaan politik.
Dalam kehidupan bernegara, bidang politik sangat diperlukan.
Namun ilmu yang berhubungan dengan politik tidak dapat dipisahkan dengan ilmu dan konsep agama yang telah ada. Pada agama ada suatu kalimat yang membuat dan merupakan konsep awal politik yaitu “ sesungguhnya Allah memerintahkan kepada manusia untuk berbuat adil dan kebijakan, memberikan kepadamu kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan108 jadi Allah Swt melarang perbuatan jelek, perbuatan jahat dan ketidak adilan. Ini dapat diartikan bahwa semua ilmu politik merupakan bentuk nyata dari penggunaan agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai contoh dalam ilmu politik terdapat pemilihan pemimpin berdasarkan demokrasi, konsep itu didapat dari ilmu agama yang tidak menginginkan adanya perpecahan para pejabat yang akan menyengsarakan rakyat.
Umat Islam harus terlibat dalam politik, di tanah air agar arah dan kebijakan politik di Indonesia memberikan manfaat bagi umat islam, LDII adalah organisasi kemasyarakatan yang independen yang tidak mengikatkan diri kepartai politik manapun. Adapun pada saat pemilu, tanpa mengurangi nilai demokrasi, aspirasi politik warga LDII disalurkan sesusi dengan keputusan Rapat Kerja Nasional
108Departemen agama republik Indonesia, Al Qur‟an dan terjemah, CV. Toha Putra, Semarang, 1989, 415.
83
(RAKERNAS) menjelang pemilu. LDII adalah Lembaga Dakwah tidak untuk dijadikan alat tawar menawar politik dari pihak manapun dan tetap menjaga Netralitas, LDII tidak GOLPUT, menerima dan menghormati seluruh hasil keputusan KPUD, memberi ucapan selamat kepada “PEMENANG” dan kepada calon yang “KALAH” tetap diadakan pendekatan, mengedepankan nilai-nilai yang luhur dalam proses PILKADA, Munas VI LDII 2005 merekomendasikan agar dukungan terhadap para calon diserahkan kepada “keputusan masing-masing pribadi warga ataupun simpatisan untuk mendukung sepenuhnya bagi pengurus atau warga LDII yang menjadi calon dalam PILKADA.109 Sementara itu ketua DPD LDII Jember, Drs H Sunardi MT menyatakan siap menyosialisasikan teknis pilpres dari KPU ini kepada semua warga LDII dan ormas mengambil sikap netral aktif, bagi LDII datang ke TPS bernilai ibadah, adapun pilihan diserahkan kepada masing-masing warga.110 Dan juga akan membantu segala program-program yang di canangkan pemerintah provinsi maupun kabupaten atau kota.111
b. Sebagai Pencitraan
Untuk memudahkan pemahaman tentang pencitraan, akan di uraikan citra dalam ilmu pemasyaran. Disana di uaraikan bahwa citra mempunyai peranan yang sangat penting terutama apabila dikaitkan dengan rencana pemasaran jangka panjang. Dengan citra yang baik.
109 Malik, Wawancara, Jember, 01 Mei 2016.
110 Nawa Winarti Putra,”KPU Yakin LDII Sebagai Solusi”,Radar Jember, 29 Juni 2014, 24.
111 Nawa Winarti Putra,”LDII Dukung Program Bupati”,Radar Jember, 27 Agustus 2013, 27.
Suatu produk akan mempunyai tempat dihati masyarakat, khususnya para pelanggan. Citra positif akan akan mendominasi minat beli, seperti masalah harga, produk bersaing, dan pelayanan. Jadi dengan citra yang telah terbangun, faktor harga sudah tidak menjadi masalah, bahkan sedikit mahal justru mencirikan keunggulan produk tersebut.
Demikian juga ancaman pesaing, hampir-hampir tidak mempengaruhi daya tarik suatu produk yang mempunyai citra unggul dimasyarakat.
Namaun jika yang dikehendaki pembangumnan jangka pendek dengan mengutamakan keuntungan sesaat, maka membangun citra tidak perlu dilakukan karena akan membuang-buang waktu, tenaga dan uang saja.
Itulah yang dimaksud pemasaran spekulasi yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak cerdas dan tidak punya wawasan kedepan.
Mengingat masalah citra ini menyangkut masalah persepsi, maka yang menjadi kuncinya adalah factor komunikasi. Sejauh mana masyarakat mempunyai persepsi seperti yang kita kehendaki, tergantung dari efektifitas komunikasi. Sedangkan efektifitas tersebut ditentukan oleh penyampaian pesan (komunikator), besar atau kecilnya ganguan dan keadaan penerima pesan itu sendiri (audien). Dalam kondisi yang ideal (komunikator dan komunikan harus kondusif) maka hasilnya akan maksimal. Artinya apa yang dikehendaki oleh komunikator dapat sampai ke audien secara maksimal. Tetapi perlu dipahami bahwa hal tersebut tidak selesai disitu saja. Kenyataan
85
dimasyarakat yaitu kesesuaian antara bukti dan janji, justru akan lebih menentukan baik atau buruknya citra.
Dengan demikian upaya membangun citra (iamge building) harus direncanakan secara matang dan koprehensif, termasuk pelibatan seluruh elemen yang ada tampa melihat jenjang hierarki. Hal ini perlu disadari dari awal, karena begitu upaya membangun citra bergulir, masyarakat secara tidak langsung akan menguji hakikat citra yang didengungkan. Begitu tidak ada kesesuaian antara bukti dan janji, maka sia-sialah upaya selanjutnya. Itulah pentinnya citra bagi keberhasilan pemasaran. Pada hakekatnya organisasi apapun mempunyai fungsi pemasaran, sehingga harus ada upaya sitematik untuk membangun citra apabila keberadaan organisasi direncanakan untuk jangka panjang. Tampa citra yang baik, sulit bagi organisasi tersebut untuk dapat diterima oleh masyarakat, walapun tujuannya baik.
Sebagai organisasi kemasyarakatan, Lembaga dakwah Islam Indonesia (LDII) yang didirikan tahun 1972 mempunyai tujuan yang sangat mulia yaitu meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berbudi luhur berdasarkan kitab suci Al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah Saw. Menyadari kesucian misi yang diemban dan untuk kiprah jangka panjangnya, LDII senan tiasa berupaya membangun cintra positif di tengah-tengah masyarakat.
Upaya yang dilakukan, menyadari pentingnya citra di masyarakat, pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas)LDII tahun 1994 telah diputuskan prinsip-prinsip dakwah LDII melalui keputusan Rakernas Nomor 084/KEP/DPP LDII/IX/1994 tanggal 13 september 1994. Adapun prinsip tersebut mencangkup Landasan Pemikiran, Pandangan Dasar, dan Pokok Pokok Pedoman,yang kesemuanya merupakan kebijakan organisasi dan harus dijadikan pedoman bagi warga LDII baik dalam menyampaikan dakwah dengan ucapan (bil lisan) maupun dalam perilaku sehari-hari (bil-hal).112 Ketua MUI Jember Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar mengirim relawan LDII ke pelosok desa sebagai bentuk dakwah bil hal yang diberikan LDII kepada masyarakat di Dusun Mojan Kelurahan Bintoro Kecamatan Patrang untuk menebar daging.113 Setelah tebar daging puluhan relawan LDII Kabupaten Jember garap bedah rumah bersama warga secara gotong royong di Dusun Mojan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat duafa yang membutuhkan perbaikan rumah.114 Dan santunan kepada anak yatim piatu yang dilaksanakan setiap bulan ramadhan oleh Yayasan Khoirun Nisa‟ sekaligus menggagas Paud gratis.115
112 “Cinta Alam Indonesia Permata XXIV”, 23 Juli 2003, 13.
113 Akhmad Malik Efendi, “ MUI Kirim Relawan LDII Ke Pelosok Desa”, Radar Jember, 17 Oktober 2013, 26.
114Nawa Winarti Putra,”Puluhan Relawan LDII Garap Bedah Rumah”,Radar Jember, 10 Desember 2013, 30.
115 Nawa Winarti Putra,”LDII Santuni Anak Yatim Piatu”,Radar Jember, 14 Juli 2014, 28.
87
Selain itu ada 2 program ibadah yang dijalankan LDII kabupaten Jember yaitu ibadah mahdhah (ibadah yang murni hubungannya langsung antara hamba dengan Allah Swt ) dan ibadah ghoiru mahdhah (tidak murni semata hubungan dengan Allah Swt).116 Adapun beberapa contoh ibadah ghoiru mahdhah di antaranya yaitu pada tahun 2013 LDII dan MUI bekerja sama untuk penanaman ribuan pohon untuk dan pengobatan gratis di Dusun Mojan Kelurahan Bintoro Kecamatan Patrang sebagai gerakan menanam satu milyar pohon yang dicanangkan pemerintah117
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman suku, ras, adat istiadat dan agama maka perlunya kerukunan hidup untuk itu diperlukan situasi yang memungkinkan adanya dinamika sosial yang menuju kemajuan bersama tampa harus ada pertentangan, mengembangkan ukhuwah usaha bersama yang harus diwujudkan dan ditingkatkan. Di kabupaten Jember banyak konflik agama yang muncul maka perlu ditingkatkan seperti yang dilakukan Kantor Kementrian Agama (Kemenag) dan MUI cabang Jember. Kedua lembaga mengumpulkan sejumlah organisasi masyarakat di Kabupaten jember untuk berdialog untuk mendorong terciptanya kerukunan umat beragama di Jember.118 Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Lembaga
116 Sunardi, wawancara, Jember, 25 Januari 2016.
117 Akhmad Malik Efendi, “ LDII Bantu Hijaukan Jember”, Radar Jember, 15 Desember 2013, 30.
118 Akhmad Malik Efendi, “ Tingkatkan Ukhuwah Islamiyah”, Radar Jember, 27 November 2013, 38.
Dakwah Islam Inonesia (LDII) Jawa Timur di Jember melakukan penanaman pohon ukhuwah.119
c. Sebagai Pengembangan Diri menjadi Pemimpin yang Religius Sebuah organisasi yang telah memiliki visi, misi dan tujuan akan dihadapkan dengan bagaimana cara untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satunya pengembangan diri menjadi pemimimpin yang relegius, yaitu pemimpin yang memiliki akhlaqul karimah, memiliki kefahaman yang kuat (berilmu), memilki keterampilan.
Memiliki ahklakul karimah (berkelakuan baik atau budi luhur), Target pertama ini mensyaratkan, bahwa generasi penerus harus memiliki ahklak yang mulia, berbudi yang luhur sesuai tuntunan Allah dan Rasulallah Saw. Dengan memilki budi pekerti yang luhur kehadiran mereka akan diterima dengan penuh kebanggaan oleh lingkungannya. Baik di dalam maupun di kalangan masyarakat umum, Oleh karena itu pengembangan diri menjadi pemimpin yang relegius betul-betul sangat diperlukan.120
Terdapat tiga indikator utama yang harus dimiliki oleh seorang yang disebut profesional religius, yaitu:
1) Memahami Al-Qur‟ an dan Al-Hadis (sebagai dalil naqli) dan memahami hal-hal yang terkait keduniaan termasuk hukum kauniah (sebagai dalil aqli). Itu semua memungkinkan seorang pemimpin mampu menginternalisasi ajaran-ajaran yang terkandung
119 Akhmad Malik Efendi, “ MUI dan LDII jatim Tanam Pohon Ukhuwah”, Radar Jember, 25 Desember 2013, 29.
120 Budiono, Wawancara, Jember, 06 Mei 2016.
89
di dalamnya dan mengaktualisasikannya dalam segala kondisi.
Dengan demikian, dalam setiap pengambilan keputusan, akan selalu berlandaskan pada ilmu dan kebanaran.
2) Memiliki keterampilan profesi (hard skils) yang memungkinkannya mampu mampu membangun kehidupan dunianya secara halal, wajar, bertanggung jawab dan bermartabat.
Kemampuan keterampilan profesi akan menciptakan kemandirian pribadi yang akan membawa kepada independenis dan realistis dalam mengambil keputusan tanpa dipengaruhi oleh kepentingan lain.
3) Memiliki keterampilan intra dan interpersonal (soft skills) yang memungkinnya mampu membangun akhlaqui-karimah dan mempermudah membangun hubungan yang harmonis, rukun, kompak dengan orang lain dan lingkungannya. Pemimpin yang memiliki keteranpilan ini akan selalu melandaskan setiap langkah kebijakannya pada nilai-nilai kebenaran, keadilan dan moralitas untuk kemaslahatan umat manusia.
Secara diagram, sosok SDM atau pemimpin profesional religius tersebut dapat disajikan pada Gambar 1 di bawah ini.
Semua potensi itu akan terwujud baik manakala dalam diri seseorang terdapat cara pandang (paradigma) yang benar, dimana hal tersebut sebenarnya merupakan pekerjaan hati. Sabda Rasulullah Saw:
Profesional Religius
Memiliki Keterampilan Intra dan Interpersonal (soft-skill)
Memiliki Keterampilan Profesi (hard skill) Pemahaman Terhadap
Agama Islam
91
)
(
Bercerita kepada kami Abu Nu‟aim, Bercerita kepada kami Zakariya dari „A mir ia berkata: aku mendengar al-Nu‟ma n bin Basyi r, ia berkata: halal itu jelas, dan harom itu jelas, dan diantara perkara keduanya syubhat yang mana tidak diketahui kebanyakan manusia, barang siapa yang bertaqwa pada barang subhat maka ia bebas tanggungan bagi agama dan harga diri, barang siapa yang terjerumus pada barang subhat : maka dia seperti hayawan gembala yang digembala disekitar tempat berlindung, yang hamper terjerumus, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda yang artinya
“Ingatlah dan sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal dagimg, ketika segumpal daging tersebut baik, maka baik pula seliruh jasadnya dan ketika segumpal daging itu rusak, maka rusak pula seluruh jasad, ingatlah itu adalah qolbu (hati).”
Dari 3 (tiga) indikator tersebut diatas, dalam makalah ini akan dibahas indikator ke-3, yaitu memiliki keterampilan intra dan interpersonal (soft skills) yang sebagaimana dijelaskan diatas, diyakini merupakan 80% penentu kesuksesn seseorang.
Adalah tugas kita bersama untuk membangun soft skill ini, sebagai kontribusi dan wujud kepedulian dalam membangun nilai publik yang positif (creating public value). Untuk membangun soft skill ini, mengacu pasa soft skill yang idealnya dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam ajaran Islam, setiap individu dituntut untuk bertanggung jawab terhadap segala yang dipimpinnya. Setiap individu adalah seorang pemimpin (ro‟in) sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
121 Al- Bukhari, Shahih Bukhari, jilid 1, 20
)
Bercerita kepada kami „Abdullah bin Maslamah dari Ma lik dari „Abdullah bin Dina r dari „Abdullah bin „Umar bawa Rasulullah SAW berkata“ingatlah masing-masing dari kalian adalah pengembala (pemimpin), dan masing-masing dari kalian akan ditanya (mempertanggung jawabkan) tentang apa yang digembalanya (dipimpinnya)”, adapun seorang amir mempunyai kewajiban atas manusia yaitu mengembala (pemimpin) mereka, dan dia akan di tanya (mempertanggung jawabkan) tentang mereka, dan seorang laki-laki pengembala (pemimpin) atas ahli rumahnya, dan dia akan ditanya(mempertanggung jawabkan) tentang mereka, dan seorang istri pengembala (pemimpin) atas rumah suami dan anaknya, dan dia akan ditanya (mempertanggung jawabkan) tentang mereka, dan seorang budak pengembala (pemimpin) atas harta majikannya, dan dia akan ditanya (mempertanggung jawabkan) tetang harta itu, maka kalian semuapengembala (pemimipin) dan kalian semua akan ditanya(mempertanggung jawabkan) tentang gembalaannya.
Penelusuran terhadap soft skill yang dimiliki oleh seorang pemimpin pada umumnya menekankan bahwa kompetensi untuk memengaruhi atau kemampuan memengaruhi lingkungan atau mengajak orang untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan adalah esensi kopetensi kepemimpinan.
122 Abu Daud, Sunan Abu Daud, Jilid 3, 1280.
93
Kepemimpinan = mengelola kualitas pribadi (self management) + mengelola kualitas hubungan dangan orang lain dan lingkungannya (managing others).
Meskipun varian kopetensi kepemimpinan cukup banyak seperti yang diuraikan diatas, namun jika dianalisis secara cermat sebenarnya secara garis besar soft skill yang menyebabkan menjadi pemimpin yang efektif dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian besar, yaitu:
kopetensi yang bersifat self-management dan kopetensi yang bersifat managing others. Self-management berkaitan dengan kemampuan seorang pemimpin dalam mengendalikan, memotivasi dan mengembangkan kapasitas dirinya. Sedangkan managing others lebih berkaitan dengan pathos atau peningkatan kemampuan dalam memengaruhi dan menjadi role model atau teladan termasuk hubungannya dengan lingkungan, sehingga mereka mampu memengaruhi dan menggerakkan orang lain sebagai dasar dalam membangun kerjasama dan kekompakan.
Sebagai kesimpulan, maka soft skill seorang pemimpin lebih diarahkan pada pembentukan pemimpin karismatik, yang berdasarkan sintesa dari kopetensi kepemimpinan yang telah diuraikan diatas dapat dirumuskan sebagai berikut:
Dua kemampuan untuk kata kelola self management dan managing others, harus dikuasai benar dan menjadi thabiat secara simultan (bersama). Akan tetapi jika dipertanyakan dari mana harus memulainya?, maka seorang pemimpin harus melatih diri dengan self
management (mengatur diri sendiri) terlebih dahulu.karena jangan berharap untuk mengatur orang lain, jika belum mampu mengatur diri sendiri.ini perlu latihan dengan membuat Goal Setting yang pernah disampaikan dalam makalah tersendiri tahun-tahun yang lalu.
Untuk operasionalisasi yang lebih kontekstual dangan lingkungan strategis seperti yang diuraikan pada bagian latar belakang, kemampuan mengelola kualitas pribadi (self management) dapat ditunjukkan dengan thabiat untuk berperilaku jujur, amanah, dan thabiat untuk bekerja secara sungguh-sungguh dan membiasakan diri menghemat penggunaan sumberdaya dalam bekerja. Thabiat-thabiat tersebut akan membentuk kemampuan untuk mengatur atau mengelola diri sendiri (me”managa”diri), baik dari sisi waktu, tujuan, cita-cita dan lain-lain, sehingga menjadi kebiasaan (habitual) yang selalu disiplin, tertib dan konsisten dalam mengatur diri sendiri. Sedangkan kemampuan mengelola kualitas hubungan dengan orang lain diindikasikan dengan thabiat untuk hidup bersama dengan orang lain, sekalipun dengan orang miskin sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh sahabat Nabi Muhammad Saw yaitu; Khalifaha Umar bin Khattab yang sangat peduli terhadap kaum dhuafa dan bahkan budak demi keutuhan dan solidaritasi komunitas Islam pada jamannnya. Untuk mewujudkan thabiat ini, individu perlu memiliki thabiat hidup yang luhur, bukan saja dalam lingkup internal tetapi juga eksternal organisasi. Masing-masing thabiat luhur ini diuraikan sebagai berikut:
95
1) Jujur adalah thabiat untuk bersikap dan berkata yang benar atau apa adanya meskipun dalam situasi yang sulit.
2) Amanah adalah thabiat untuk melaksanakan tugas secara efektif dan mempertanggungjawabkan sesuai kaidah-kaidah agama, etika, moralitas dan profesionalisme bidang pekerjaan.
3) Kerja keras sampai berhasil dan pola hidup hemat adalah thabiat untuk menunjukkan kesungguhan, keseriusan dan komitmen dalam pelaksanaan tugas dan thabiat efisien atau menghemat pemakaian sumberdaya tanpa mengurangi efektifitas tugas tersebut. Harus mengukur kemauan sesuai dengan kemampuan.
4) Rukun adalah thabiat berhati bersih, tidak berprasanggka jelek, saling mengasihi, saling menjaga, saling memperhatikan dan bantu membantu dalam kebaikan pada suatu komunikasi guna saling memperkuat.
5) Kompak adalah thabiat berempati, berkorban guna meleburkan diri dan menyatu dengan komunitas untuk mencapai tujuan bersama.
6) Kerjasama yang baik adalah thabiat bekerja dengan orang lain dalam suatu harmonis, sinergis dan komplementer (saling melengkapi) guna mewujudkan tujuan dan manfaat yang saling menguntungkan.
Secara konseptual, hubungan keenam soft skill dapat dilihat pada Gambar dibawah ini:
Kepemimpinan yang kuat dan efektif seperti dijelaskan diatas yang memiliki wawasan dan ilmu yang luas, berkemampuan mengembangkan diri dan berketerampilan yang tinggi, serta memiliki nilai-nilai moralitas yang baik dan benar, akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Dengan demikian tingkat partisipasi atau
Kopetensi Kepemimpinan
(Ro‟in) Pengelolaan Kualitas
Pribadi
Pengelolaan Kualitas Hubungan dengan Orang Lain dan Lingkungan
Kerjasama yang baik Kompak
Rukun Kerja keras dan hemat
Amanah Jujur (Siddiq)
97
keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara juga semakin tinggi, sehingga terwujud baldatun thayyibatun warobbun ghafur, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo.123salah satu bentuk pengembangan pemimimpin professional yang relegius Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Jember melakukan diklat bela negara di secara untuk menjadikan pemuda yang berilmu, berakhlaqul karimah dan mandiri.124
d. Sebagai Alat Perjuangan
Sekarang Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), telah berkembang dimana-mana, diseluruh penjuru dunia. Perkembangan pesat ini bukan isapan jempol semata, akan tetapi berkembangnya ini telah pula mendapatkan pengakuan umum. Sebagai contoh didalam ENSIKLOPEDI ISLAM, BUKU 2, Halaman 266-268 penerbit : PT ICHTIAR BARU VAN HOEVE, JAKARTA, telah mengungkapkan
“Menurut catatan departemen agama, pada tahun 1989 jamaahnya 30 juta orang. Majalah tempo pada tahun 2003 pernah mengungkap jumlah yang sama sebagai mana yang diungkapkan Ensiklopedi Islam tersebut.
Secara struktur kelembagaan, juga menunjukkaan bahwa organisasi LDII bukanlah organisasi kecil. Hal ini terlihat dari jumlah kepengurusan yang sudah ada di daerah sudah mencapai seluruh
123 “Cinta Alam Indonesia Permata XXXIII”, 23 Juli 2002, 1.
124 Narto,”Menshos: Relegius LDII adalah Satu Bentuk Bela Negara,”Radar Jember, 30 Mei 2016, 10.
penjuru tanah air sebagaimana tertuang dalam buku Direktorari, edisi II, tahun 2002. Yang mengungkapkan diseluruh Indonesia terdapat 30 DPD propinsi. 245 DPD kabupaten atau kota, 1462 pimpinan Cabang Kecamatan dan 4500 PAC kelurahan atau desa besarnya organisasi LDII seperti ini tentunya perlu alat perjuangan untuk mengembangkannya, agar selalu eksis dan bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.
Organisasi LDII adalah organisasi yang cukup besar, maka mau tidak mau harus merasa besar, dan dalam mengelolanya juga harus professional, memenuhi segala aspek pengelolaan sebuah organisasi yang besar , seperti; administrasi yang tertib dan dapat dipertanggung jawabkan, SDM yang berkualitas dan professional, kaderisasi yang berkesinambungan, dan lain-lainnya. Pengelolaan secara sembarang dapat mengakibatkan tidak tercapainya fungsi dan tujuan organisasi, maka dari itu perlunya perjuangan untuk memajukannya.
Di dalam LDII penekanan perjungan lebih ditekankan pada pendekatan agama dengan mengemukakan pendekatan moral dan sanksi agama sebagai konsekuensi penyalagunaan wewenang. Dari sini tampa meninggalkan unsur keahlian, unsur pertanggung jawaban, unsur keterbukaan (tiga prinsip menejemen modern), didalam pengelolaan LDII lebih menekankan pada Enam Thobi‟at Luhur (rukun, kompak, kerja sama yang baik, jujur, amanah, mujhid-muzhid) dan menjadikannya sebagai pertimbangan pertama dalam pola
99
pengelolaan manajemen perjuangan organisasi LDII. Karena nuansa pengelolaannya adalah amal sholih, ibadah, mencari pahala, mencari surga sebagai mana dijelaskan dalam al-Qur‟an barang siapa beramal kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia beriman, niscaya Aku Allah akan menghidupkan dia (di dunia) dengan kehidupan yang baik dan aku akan membalas mereka ( di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari pada apaapa yang mereka amalkan.125 selain itu konsep budi luhur juga dijadikan sebagai gerakan moral LDII.126
e. Sebagai Taqiyah
Taqiyah terhadap orang-orang kafir dalam paradigma islam yaitu, menyembunyikan keyakinan dihadapan orang kafir itu dibenarkan, jika dalam kondisi darurat, maka hukumnya boleh.
Taqiyah didalam Islam merupakan rukhshoh (dispensasi) dalam kondisi darurat atau bahaya yaitu saat kondisi jiwanya terancam kemudian mengucapkan kalimat kufur. Seperti dalam firman Allah Swt:barang siapa yang kafir kepada Allah sesudahnya dia beriman kecuali orang yang kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa) akan tetapi orang yang melapangkan dadanya dalam kekafiran maka kemurkaan Allah akan menimpa kepadanya dan
125 Budiono, wawancara, Jember, 06 Mei 2016.
126 Sunardi , “ Enam Tabiat Luhur Sebagai Gerakan Moral LDII”, Radar Jember, 22 Januari 2014, 35.
baginya azab Allah yang besar.127Sedangkan budi luhur adalah bagian dari aklaqul karimah yang mencangkup sifat dan thabi‟at yang mulia yang mana harus dimiliki oleh tiap orang untuk dijadikan sikap hidup (karakter) yang harus dikedepankan ketika melakukan kehidupan bersama, maupun sebagai watak pribadi. Jadi budi luhur di LDII bukan sebagai taqiyah melainkan sebagai bagian dari aklaqul karimah yang harus diwujudkan dalam kehidupan bersama.128Budi luhur di LDII bukan sebagai taqiyah karena dasarnya Adalah hadis-hadis dari Rasulallah Saw, dan al-Qur‟an “dan sesungguhnya
engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.129 C. Pembahasan Temuan
Pembahasan temuan merupakan pembahasan tentang hasil yang telah diperoleh dari sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti. Berupa sebuah gagasan penelitian, antara kategori dan dimensi, posisi temuan-temuan sebelumnya, serta penafsiran dan penjelasan temuan yang diungkap dari lapangan.130
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dan sesuai dengan data-data yang telah diperoleh di lapangan, melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, maka telah ditemukan bahwa:
1. Dalil Dalam Konsep Budi Luhur Menurut Prespektif LDII
127 Departemen agama republik Indonesia, Al Qur‟an dan terjemah, CV. Toha Putra, Semarang, 1989, 416.
128Syukur, wawancara, Jember, 04 April 2016.
129Juremi, wawancara, Jember, 01 Maret 2016.
130Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 77
101
Dalil-dalil dalam konsep budi luhur menurut prespektif LDII merupakan bagian dari akhlak Islam yang dikonsep menjadi enam bagian (rukun, kompak, kerja sama yang baik, jujur, amanat dan mujhid-muzhid) atau lebih dikenal dengan enam thobi‟at luhur. Rukun adalah suatu sifat atau thabi‟at pribadi seseorang yang tidak mempunyai uneg-uneg, perasangka jelek, dengli, srei, iri hati kepada sesamanaya. Saling mengasihi, serta batu membantu dalam kebaikan, tolong menolong, kuat memperkuat, saling mendo‟akan yang baik, bersikap ramah terhadap sesama (wajah ajer), kompak adalah bersama-sama melakukan kegitan yang telah di putuskan sebagai amrin jami‟in dan kegiatan-kegiatan lain yang di lakukan dengan giat, senang gembira, seia sekata, sak iyek saeko proyo, kerok batok tatar wijen, holobis kuntul baris, kerja sama yang baik adalah sikap yang saling peduli, saling mendukung, saling melancarkan, tidak jegal menjegal, tidak jatuh menjatuhkan, tidak rugi merugikan, dan tidak fitnah memfitnah, jujur adalah sikap pribadi orang yang apabila berkata benar, tidak dusta, tidak menipu, polos (apa adanya), amanah berarti bisa dipercaya, dan menjaga kepercayaan itu, tidak berkhianat ( tidak merusak kepercayaan) dan menyapaikan hak kepada yang hak menerimanya, mujhid-muzhid adalah sikap peribadi yang mencerminkan senng bekerja keras, semangat, penuh motifasi, untuk mencapai keberhasilan dan kurup. Juga sikap yang mengutamakan kesederhanaan, hemat, dan menhindar dari perbutan yang tidak ada manfaatnya. Seseorang bisa dikatakan hidup mujhid, apa bila dalam kehidupan sehari-hari kerjanya giat, semangat, berhasil serta kurup sesuai
dengan jenis kerjanya tersebut. selanjutnya orang dikatakan muzhid apabila dididalam kehidupan sehari-harinya mengatur penghasilan dengan pola hidup hemat, gemi setiti seng ngati-ati (hemat, cermat hati-hati) tidak boros dapat mengukur kemauan dengan kemapuan.
Semua dalil yang digunakan dalam enam thobi‟at luhur mereka ambil dari al-Qur‟an dan al-Hadis, mereka juga menganggap memperaktekkan budi luhur sama halnya dengan menetapi ibadah kepada Allah Swt. konsep budi luhur sendiri mereka menjadikan karakter bagi tiap-tiap warga, baik dilakukan di lingkungan sendiri maupun di lingkungan non LDII.
2. Implementasi dan Implikasi Konsep Budi Luhur LDII Jember
Setelah peneliti menganalisis data dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, implementasi konsep budi luhur LDII jember dalam penerapan mereka bagi menjadi beberapa bagian di antaranya:
a. Budi luhur pada diri sendiri
b. Budi luhur pada lingkungan keluarga c. Budi luhur pada lingkungan warga LDII
d. Budi luhur terhadap masyarakat dan lingkungan e. Budi luhur pada tataran berbangsa dan bernegara
Penerapan budi luhur mereka terapkan pada diri sendiri dan lingkungan keluarga bertujuan agar konsep budi luhur itu tertanam pada individu masing-masing warga LDII sehingga untuk selanjutnya lebih mudah melakukan praktek budi luhur, karena sudah jadi kebiasaan, sehingga pada tataran yang lebih luas seperti lingkungan masyarakat juga sudah menjadi kebiasaan.