MUHAMMAD AL- GHAZALI
C. Implikasi dan Konsekuensi Pemikiran Gazali terhadap Studi Hadis
Sekalipun loncatan berpikir Ghazali belum setinggi dengan loncatan berpikir para pemikir muslim Timur Tengah lainnya (terutama Mesir) seperti yang diperlihatkan oleh Hasan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid, tetapi juga tidak dapat dipungkiri bahwa dalam serangkaian pandangan dan pemikiran yang dibentuknya, khususnya tentang kritik hadis, Ghazali telah menyajikan suatu deskripsi pemikiran yang lebih terbuka, bebas dan inovatif.
Pandangan dan pemikirannya yang memberikan peluang bagi terbukanya suatu kajian kritik hadis yang bebas dan tidak terlalu terikat dengan norma-norma kritik hadis yang telah ada, patut diapresiasi, terutama apabila mengingat latar belakang budaya, pendidikan dan organisasi di mana Ghazali melakukan aktifitas. Dalam hubungannya dengan latar belakang kultural, Ghazali secara jelas dapat keluar dari kungkungan pemikiran tradisional budaya Arab. Sebagaimana diketahui pandangan tradisional entitas budaya Arab hampir sepenuhnya didominasi oleh a priori, dimana rekonstruksi fakta-fakta hanya diperkenankan sejauh tidak bertentangan dengan kebenaran-kebenaran“suci” yang telah dibangun oleh mazhab pemikiran sebelumnya.17
Dalam pandangan Ghazali, kritik hadis tidak mengenal batasan norma yang "tabu" untuk dilewati, sepanjang usaha tersebut dimaksudkan untuk menemukan kebenaran. Karenanya tidak ada keharusan yang memutlakkan sebuah kritik
17
Mohammed Arkoun,Arab Thought, a.b Yudian W. Asmin,Pemikiran Arab, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 23.
dilakukan dengan hanya berpegang pada batasan-batasan ‘ilm mustalah al-hadith
yang telah ada sebelumnya. Bagi Ghazali, kritik dapat saja dilakukan dengan metode dan pendekatan baru, dengan alat bantu ilmu modern dan atau temuan ilmu pengetahuan kontemporer.
Sekalipun belum semaju Arkoun dalam mengkaji teks-teks keagamaan dengan pendekatan linguistik modern, namun Ghazali telah berusaha membangun pemikirannya sendiri. Karena itu, menurut hemat penulis, sebagai individu yang hidup dan besar dalam suasana kultur budaya Arab yang cenderung determinis, Ghazali telah berusaha menangkap kenyataan dengan cara dan tipikalnya sendiri, khususnya dalam upayanya mengkaji dan mengkritisi hadis. Karena itu, Ghazali
telah membangun: "episteme" dan “discoursus”nya secara mandiri.18
Dengan melihat realitas pengkajian hadis yang dalam kenyataannya lebih bersifat sanad oriented dan terkadang hanya berputar sekitar laporan tentang ke-thiqahan seorang periwayat yang dilansir buku-buku hadis, dia mencoba memberikan warna dan alternatif lain dalam menelaah kesahihan hadis dengan cara yang lebih sederhana dan simpel, yaitu dengan menerapkan empat tolok ukur yang telah disebutkan pada Bab III.
Sistem dan penerapan metode yang sederhana dalam menelaah dan menganalisis kesahihan hadis seperti yang diterapkan oleh Ghazali tentunya memiliki pengaruh terhadap kajian hadis masa mendatang. Sekalipun tidak
18
Menurut Michel Foucault (w. 1984), "episteme" adalah usaha manusia yang hidup pada zamannya dalam mengkaji kenyataan yang ada dengan cara tertentu. Cara manusia menangkap kenyataan dengan jalan memandang, memahami dan membicarakannya dengan cara tertentu disebutnya sebagai "episteme' dan "discoursus". K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Perancis, (Jakarta: Gramedia, 1996), h. 311.
menafikan keberadaan mustalah hadith klasik yang tidak dapat disangkal penerapannya lebih rumit dibanding dengan cara yang ditempuh Ghazali. Pada saatnya nanti para pemerhati kajian hadis, tampaknya akan lebih tertarik menilai kesahihan matan hadis dengan cara yang sederhana dan praktis seperti yang digagas Ghazali.
Bagi penulis, pengaplikasian kritik hadis seperti pola yang dibangun Gazali (mengukur kesahihan matan berdasarkan kriteria-kriteria yang disebutkan sebelumnya) dapat dinyatakan sebagai suatu cara yang praktis, tetapi satu hal yang perlu diingat bahwa cara demikian jangan sampai dijadikan sebagai "harga mati" dan secara serta-merta membuang sistem yang telah ada.
Dengan demikian akan menghindarkan kita dari suatu sikap, yang di satu sisi membuang acuan lama yang dianggap telah mengalami proses ortodoksi, tetapi pada sisi yang lain kita membangun norma dan sistem yang secara tidak sadar kita "patenkan", dengan menganggap bahwa acuan yang datang kemudian lebih ilmiah dan mendekati kebenaran.
Berangkat dari pandangan tersebut, kiranya tidak satu pun para pemikir yang membangun suatu pemikiran dalam bidang agama khususnya, bertujuan untuk menjadikan pendapat dan pikirannya, sebagai pandangan yang baku dan paten. Dalam hal ini tidak terkecuali pada Ghazali, Arkoun dan Rahman. Melainkan apa yang mereka gagas, tentunya dimaksudkan sebagai upaya untuk membuka dan mendidik generasi setelahnya, tentang arti penting mengadakan telaah ulang atau menyoal kembali tanpa henti-hentinya berbagai model yang dapat digunakan untuk
menelusuri suatu kebenaran sesuai dengan kondisi yang dihadapi dalam setiap zaman dan waktu.
Oleh sebab itu, menurut penulis, Ghazali secara transparan telah mendorong perlunya pengkajian ulang terhadap hadis nabi, yang dapat dipandang sebagai usaha mengoptimalkan proses dinamisasi pemikiran Islam. Pentingnya memberikan corak baru dalam kajian hadis sangatlah beralasan, mengingat jarak waktu yang memisahkan alam kenyataan dewasa ini dengan masa ketika sebuah hadis muncul sudah sangat berbeda.
Tuntutan dan perubahan kehidupan pada era sekarang dengan lahirnya berbagai macam hasil dan temuan teknologi sebagai hasil loncatan berpikir manusia yang sangat maju, mengandaikan perlunya pengkajian ulang terhadap proses pembakuan hadis, tanpa harus mengikis nilai otentisitas dan nilai spiritualitas Islam yang terdapat dalam kitab suci Qur'an dan sunnah nabi. Jika kita merujuk kepada ungkapan yang selalu didengungkan oleh umat Islam, bahwa Islam adalah agama yang berlaku secara universal (al-Islam salih- li-kull zaman- wa makan-), dalam artian berlaku untuk setiap kurun masa dan keadaan, maka secara substansial formulasi tersebut mengisyaratkan tentang fleksibilitas ajaran Islam bukan sebaliknya (sistem yang kaku dan serba ketat).
Karena itu, bersikap kritis dalam memahami pesan hadis dengan jalan memperhatikan proses pergumulan hadis, hendaknya tidak diartikan sebagai upaya melemahkan titik-tumpu ajaran Islam. Tetapi justeru gerakan tersebut adalah usaha untuk memberikan ruang gerak yang lentur dan dinamis, sekaligus memberikan ruang gerak yang lebih leluasa terhadap pertumbuhan ajaran Islam pada masa-masa
selanjutnya, yang dapat dipastikan akan berhadapan dengan kenyataan yang lebih berat dan kompleks.
Lantaran pekat-kentalnya pemikiran terhadap hadis, maka wajar saja jika Maurice Bucaille mengatakan bahwa perbandingan studi kritis terhadap hadis adalah seperti halnya studi kritis terhadap Bible. Dalam pandangannya, Bible tidak bisa dibandingkan dengan Qur'an, tetapi hanya dapat dibandingkan dengan hadis. Intensifnya studi kritik terhadap Bible sehingga memungkinkan munculnya beragam teologi tanpa harus mengurangi inti ajaran Kristen tersendiri. Sedang studi kritis tentang hadis boleh dikata mengalami kemandekan. Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran yang berlebihan dari pihak peneliti jangan sampai menjadi tertuduh sebagai ingkar sunnah.19
Menyimpulkan sunnah sebagai patokan mati dalam beragama dengan mengabaikan unsur penalaran, menjadikan kita sulit untuk membedakan antara hadis yang bersifat mutlak yang bebas dari ikatan ruang dan waktu seperti hadis yang berhubungan dengan persoalan keimanan dan ibadah mahdhah, dengan hadis yang bernuansa temporal yang terkait dengan ruang dan waktu, seperti hadis yang mengatur hubungan antara sesama makhluk.
Dalam tahap inilah, Ghazali sangat menekankan untuk memperhatikan dan mengkaji hadis secara cermat, sehingga dapat dipisahkan antara hadis yang bersifat
19
M. Amin Abdullah, Studi Agama,... op. cit., h. 310; selanjutnya lihat juga Maurice Bucaille, Bibel, al-Qur'an dan Sains Modern, a.b Prof. Rasyidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), h. 17; Syaikh Muhammad al-Ghazali,Studi Kritis...op. cit., h. 193.
temporal dan yang bersifat mutlak. Ia juga menganalisis perbedaan antara media atau
wasilahyang berubah-ubah dengan tujuan hadis yang tetap.20
Dengan demikian aspek budaya sama sekali tidak bisa diabaikan dalam kajian hadis, sebab pertemuan Islam dengan wilayah baru yang memiliki ciri khas lokalnya sendiri-sendiri, tidak dapat disangkal menimbulkan proses akulturasi. Karenanya mengabaikan keterikatan antara satu budaya dengan budaya yang lain dalam memahami hadis adalah merupakan tindakan a historis yang sama sekali tidak ilmiah. Karena itulah himbauan kembali kepada Qur'an dan sunnah hendaknya dipahami hanya pada hal-hal yang bersifat keimanan (akidah) dan
persoalan-persoalan disekitar ‘ibadah mahdah.
Studi kritis terhadap hadis dalam kaitannya dengan upaya untuk tetap menjadikan pesan Islam sebagai agama yang salih li-kull zaman wa makan, mesti berjalan beriringan dengan usaha memahami nilai-nilai dan khazanah budaya yang terus tumbuh dalam arus deras perkembangan dunia yang semakin mengglobal. Kenyataan bahwa masa kini telah terjadi interkoneksi antara ragam budaya dan peradaban manusia membawa pengaruh terhadap perluasan, pengembangan dan peningkatan wawasan berpikir.
Untuk itu, sekalipun masih pada tahap yang sederhana, Ghazali telah menyumbangkan suatu tipikal kajian hadis yang lebih terbuka dengan mengakomodasi perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan modern. Hal ini ditunjukkan dengan telaahnya yang selalu memperhatikan aspek-aspek sosio kultural suatu permasalahan.
20
127
A. Kesimpulan
Setelah mengkaji dan menganalisis pemikiran Ghazali tentang kritik intern/ matan, sebagaimana yang telah diuraikan, dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu:
1. Kritik matan hadis, sebagai usaha para pakar hadis dalam menelaah dan mengkaji hadis, bertujuan untuk dapat memberikan kesimpulan tentang kualitas sebuah hadis. Disamping itu kritik matan juga dilakukan untuk memberikan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam matan hadis, secara proporsional dengan berbagai metode dan pendekatan yang dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya. Kajian dan penelitian matan sebagaimana kajian-kajian Islam lainnya juga memiliki arti penting, apalagi mengingat hadis oleh sebagian besar umat Islam diyakini sebagai salah satu sumber otoritatif.
2. Dalam kaitannya dengan tolak ukur kesahihan matan hadis, ada empat hal pokok yang menjadi ide fundamental dari pemikiran Ghazali, yaitu; (1) Matan hadis harus tidak bertentangan dengan kandungan pokok isi Qur'an (2) Tidak bertentangan dengan rasio dan logika yang sehat. (3) Tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat. (4) Dan yang terakhir, sebuah matan hadis tidak menyalahi fakta historis.
Sedangkan menyangkut kritik matan dalam kaitannya dengan upaya memperoleh makna hadis yang proporsional, maka menurut Ghazali
pengkajian hadis selayaknya memperhatikan faktor-faktor historis, sosiologis, antropologis guna menemukan konteks suatu hadis.
3. Dalam prakteknya, secara eksplisit Ghazali dalam mengkaji dan menelaah hadis, langsung menerapkan empat tolak ukur di atas. Konsekuensi dari penerapan langsung tolak ukur tersebut, tanpa mengikut tahapan metodologis, adalah banyaknya hadis-hadis yang sanad-nya berkualitas (sahih) oleh Ghazali dinilai daif. Dengan demikian, akibat langsung dari cara ini, adalah disatu sisi seseorang dengan mudah dapat melakukan atau menetapkan kualitas sebuah hadis, karena sistem dan caranya yang sangat sederhana, tetapi kelemahannya adalah sangat rawan terhadap subyektivitas. Selain itu tingkat ketelitiannya (akurasinya) tidak akan seteliti bila kritik matan dilakukakn dengan melalui tahap–tahapan metodologis seperti yang telah disebutkan. Sementara itu, dalam kaitannya dengan sistem dan cara memahami hadis, dapat disimpulkan bahwa sistem berfikir Ghazali dalam mengkaji hadis untuk keperluan memahami pesan yang disampaikan oleh hadis selalu berupaya berpijak pada konteks permasalahan.
4. Jika melihat tolak ukur dan metode pendekatan yang digunakan Ghazali, pada prinsipnya apa yang ditawarkan bukanlah suatu hal yang baru. Terlepas dari hal tersebut, menurut penulis, usaha Ghazali tetap patut dihargai, sebab apa yang menjadi pemikirannya dan kemudian disosialisasikan dalam karya tulisnya, minimal untuk mengingatkan para pemerhati hadis terhadap pentingnya kritik matan, dan mendorong kita untuk melakukan hal yang
serupa. Hal ini akan sangat berarti, terutama bila mengingat, kajian hadis selama ini umumnya hanya berputar sekitar kajian sanad saja.
Oleh karena, itu telepas dari pro dan kontra terhadap pandangan dan pemikiran Ghazali dalam kritik matan, hendaknya pemikiran tersebut tidak dipahami sebagai usaha untuk mereduksi nilai hadis dan kritik hadis yang sebelumnya telah disusun oleh para ulama. Tetapi lebih bijak bila dilihat sebagai masukan bagi suatu proses menuju kearah penyempurnaan kritik matan khususnya dan kritik hadis secara umum. Beranjak dari kenyaaan tersebut, maka menurut penulis usaha untuk memodifikasi kritik matan, harus merupakan satu rangkaian usaha yang berkesinambungan, terutama bila mengingat kompleksitas nilai kehidupan yang dihadapi oleh ummat Islam dewasa ini. Untuk itu di samping sistem dan metodologi kriik matan yang telah ada, maka apa yang telah ada tersebut perlu terus dikembangkan dan dilengkapi. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan melibatkan para ilmuan dibidang lain. Melibatkan para ahli ilmu dibidang lain dalam kritik matan,
tampaknya hal tersebut menjadi suatu keniscayaan karena selama menyangkut isi dan muatan informasi hadis maka pemahaman dan kajiannya tidak akan sempurna bila hanya dikerjakan oleh para ahli hadis saja. Kajian matan menurut penulis penting untuk melibatkan para ahli tata bahasa Arab, sehingga persoalan-persoalan mengenai keaslian kata dalam riwayat bi al-qawl yang erat kaitannya dengan soal perkembangannya pada saat kata tersebut muncul dapat di lacak secara cermat. Demikian pula dalam riwayat bi al-ma’na penting diadakan pengkajian tentang pemilihan kata dan
kesesuaian isimatan hadis dengan peristiwa atau fakta historis yang menjadi sumber perumusan matan tersebut. Untuk yang terakhir ini perlu melibatkan para ahli sejarah bahasa. Pada kesimpilannya dapat dinyatakan, bahwa guna menuju kearah pengkajian matan yang lebih koprehensif, maka telaah terhadap matan hadis dan perumusan metodologinya hendaknya melibatkan ahli dari berbagai bidang kajian ilmu.
B. Saran-Saran
1. Untuk kajian-kajian selanjutnya terhadap pemikiran Ghazali, ada baiknya pemikiran tokoh ini dibandingkan dengan pemikiran tokoh lain, yang melakukan kajian sejenis. Hal ini penting untuk membedakan pemikiran-pemikirannya secara lebih luas dan komprehensif.
2. Merujuk kepada arti penting kritik matan, serta adanya kenyataan bahwa kajian hadis umumnya hanya berputar pada kajian sanad, maka menurut penulis upaya pengkajian dan penelitian hadis yang berkaitan dengan matan perlu mendapat perhatian yang lebih intensif.
3. Beragamnya tolak ukur kesahihan matan yang dirumuskan oleh pakar hadis, membuka peluang terhadap kajian baru, untuk mensistematisasikan dan merumuskan tolok ukur baru dengan mengakomodasi sejumlah tolak ukur yang telah ada.
4. Kritik matan hadis seperti telah dikatakan sebelumnya memiliki nilai penting sebagaimana kajian-kajian ke- Islaman lainnya. Oleh karena itu, hendaknya tidak dipahami sebatas upaya memisahkan antara hadis yang berkualitas
sahih dengan daif, tetapi lebih luas dari itu, juga sebagai upaya untuk memahami makna dan pesan hadis, dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan,.sehingga pesan hadis tetap mampu mengakomodasi perubahan dan perkembangan zaman.
Abdullah, M. Amin, Studi Agama Normativitas atau Historisitas, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1996.
Abdurrahman, Dudung,Metodologi Penelitian Sejarah, Yogyakarta, Logos, 1999 Abu Zauhw, Muhammad Muhammad. al-Hadith wa al-Muhaddithun, Mesir,
Mitba'ah Mishr, t.th.
Abdullah, Taufiq dan Karim, M. Rusli, (ed.) Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar,Yogyakarta, Tiara Wacana, 1991.
Adlabi, Salahuddin Bin Ahmad,Manhaj Naqd Matn, Beirut, Dar al-Afaq al-Jadidah, 1983.
Arkoun, Muhammad, Arab Tought, a.b. Yudian W. Asmin, Pemikiran Arab, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1996.
Al-'Asqalani, Ahmad ibn Ali ibn Hajar,Fath al-Bari, jilid III, Beirut, Dar al-Fikr
Kitab al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Beirut, Dar al Fikri, 1978. _____Tahdhib al-Tahdhib, India: Majlis Da'irat al-Ma'arif al-Nizamiyah, t.th. Al-Amidi, Saif al-Din,al-Ihkam fi Usul al-Ahkam, Maktabah Wahbah, tth.
Anton Bakker, Achad Charis Zubair. Metodologi Penelitian Filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 1994.
Azamy, Muhammad Mustafa. Studies in Early Hadith Literature, Washington, Indianapolis, 1978.
Al-Bagdadi, Abu Bakar Ahmad bin 'Ali Sabit al-Khatib, Kifayah fi 'Ilmi al-Riwayah, Mesir Maktabah al-Sa'adah, 1972.
Bertens, K., Filsafat Barat Abad XX, Perancis, Jakarta, Gramedia, 1996.
Al-Bukhary, Abu Abd Allah Muhammad ibn Ismail. Al-Jami' Sahih (Sahih al-Bukhari), Beirut, Dar al-Fikr, t.th.
Ghazali, Muhammad. Sunnah Nabawiyah; Baina Ahl Fiqh wa Ahl al-Hadith,Kairo, Dar al-Shuruk, Cet.I, 1989.
_____Fiqh Shirah, Dar al Kutub. t.th.
_____Humum al-Da'iah,a.b. Muhammad Djamaluddin, Keprihatinan Seorang Juru Da'wah, Bandung, Mizan, Cet. III, th. 1991.
_____Kaifa Nata 'amal ma'a al-Qur'an,a.b. Drs. Masykur Hakim, M.A., Berdialog dengan Al-Qur'an, Bandung, Mizan, Cet. III, 1997.
_____ Mi'ah Sual 'an Islam, a.b. Mohammad Tohir, Al-Ghazali Menjawab Soal Islam Abad 20,Bandung, Mizan, 1991.
Ibn. al-Jauzi, Abu Farj 'Abd. al-Rahman, bin 'Ali, Kitab al-Mawdu'at, juz. I, Beirut, Dar al-Fikr, 1983.
Ismail, Muhammad Syuhudi, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah,Djakarta, Bulan Bintang, 1995. _____ Hadis Nabi Yang Tekstual & Kontekstual, Telaah Ma'anil Hadis, Djakarta,
Bulan Bintang, 1994.
_____Metodologi Penelitian Hadis, Djakarta, Bulan Bintang, 1992. _____Pengantar Ilmu Hadis, Bandung, Angkasa, 1987.
Al-Jabiri, Muhammad 'Abid, Bunyat al-'Aql al-'Arabi, Beirut, Markaz al-Thaqafah, 1991.
_____Bunyat al-'Aql al-'Arabi, Beirut, Markaz al-thaqafa al-Arabi, 1993.
_____Iskaliyat al-Fikri al-Arabi al-Ma'asir, Beirut, Markaz Dirasah Wahbah al-'Arabiy, 1989.
_____Takwin al-Aql al-Arabi, Beirut: Markaz al-Thaqafah al-Arabiy, 1993.
al-Jawabi, Muhammad Tahir, Juhud al-Muhaddithun fi Naqd al-Hadith, Muassasat 'Abd. al-Karim, tth.
al-Khatib, Muhammad 'Ajjaj. al-Sunnah Qabl al-Tadwin, Kairo: Maktabah Wahbah, 1963.
_____Usul al-Hadith: Ulumuh wa Mustalahuh,Beirut, Dar al-Fikr, 1975. Khallaf, 'Abd al-Wahhab, Ilm Usul Fiqh, Kwait, Dar al-Kalam, 1983 Kuntowijoyo,Pengantar Ilmu Sejarah,Yogyakarta,Bentang Budaya,1995
Leaman, Oliver, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, a.b. M. Amin Abdullah,Pengantar Filsafat Islam, Jakarta, Rajawali Press, 1989.
al-Nasa'i, Abu 'Abd Rahman Ahmad bin Shu'aib,Sunan al-Nasa'i, di sharah oleh al-Shuyuti dan catatan kaki oleh al-Sindi, Beirut, Dar al-Fikri, 1980.
Nasution, Harun (ed.), Perkembangan Modern Dalam Islam, Djakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1985.
Al-Naisaburi, Abu 'Abd Allah al-Hakim,al-Mustadrak al-Sahihain fi al-Hadith,Jilid I, Beirut, Dar al Fikr, 1978.
Al-Nawawi, Abu Zakariyah Yahya bin Sharaf, Taqrib Nawawi Fan Usul al-Hadith,Kairo, 'Abd al-Rahman Muhammad, tth.
Noeng, Muhajir,Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta, Rake Sarasin,1998 Qardhawi, Yusuf. Kaifa Nata 'amal ma'a al-Sunnah al-Nabawiyah: Ma'alim wa
Dawabit, Virginia, Ma'had al-'Alami al-Fikri al-Islami , 1993.
_____al-Madkhal li al-Dirasat al-Sunnah al-Nabawiyah, a.b. A. Najinilah, Kajian Kritis Pemahaman Hadis, Djakarta, Islamuna Press, 1994.
_____Shaikh Muhammad al-Ghazali Kama Araftuh, a.b. Surya Darma, LC, Syaikh Muhammad al-Ghazali Yang Saya Kenal, Jakarta, Rabbani Pers, 1999.
al-Qushairi, Abu Husain Muslim bin al-Hajjaj, Sahih Muslim, Beirut, Dar al-Fikr, tth.
Rahman, Fazlur, Islamic Methodology in History, Karachi, Central Institute of Islamic Research, 1985
.
al-Ramahurmuzy, al-Hasan ibn Abd al-Rahman. Muhaddith Fasil Bayn al-Rawi wa al-Wa'i, naskah diteliti dan diberi notasi oleh Muhammad 'Ajjaj al-Khatib, Beirut, Dar al Fikr, 1971.
Al-Razy, Abu Muhammad ibn 'Abd al-Rahman Aby Hatim, Kitab Jarh wa al-Ta'dil, Hayderabad, Majlis Da'irat al-Ma'arif, 1952.
Al-Siba'i, Mustafa, al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tashri' 'l-Islami, Dar al-Qawmiyyah, 1966.
Al-Suyuthy, Jalal al-Din 'Abd al-Rahman ibn Aby Bakr, Tadrib al-Rawy fi Sharh
Al-Tahhan, Mahmud. Taysir Musthalah al-Hadith, Beirut, Dar al-Qur'an al-Karim, 1979.
Ash-Shiddiqie, T.M. Hasbi,Sejarah Ilmu Hadis, Jakarta, Bulan Bintang, 1993. Shihab, Muhammad Quraish, Membumikan al-Qur'an (Fungsi dan Peran Wahyu
dalam Masyarakat), Bandung, Mizan, 1992.
Weisss, Bernard,The Search for God's Law ; Islamic Juris-prudence in the Writings of Shayf al-Din al-Amidi, Salt Lake City ; University of Utah Press, 1992. Wensinck, A.J. al-Mu'jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadith al-Nabawi, Leiden: E.J.