V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
5.2. Implikasi Kebijakan
Pengembangan diversifikasi pangan local dapat dilakukan dengan strategi ebagai berikut: a). Memanfaatkan potensi lahan dan kebiasaan mengkonsumsi pangan lokal untuk mendukung penekanan diversifikasi pangan dalam UU Pangan dan dalam rangka mengantisipasi merebaknya rumah makan dengan pangan modern/ import dan b) Meningkatkan kebijakan produksi dan industri pangan lokal
107
dalam rangka mendukung penekanan diversifikasi pangan dalam UU dan agar mampu mengantisipasi merebaknya rumah makan dengan pangan modern/import.
Upaya tersebut diatas dapat djabarkan dalam bentuk program dan kegiatan dengan melakukan: a) Pemetaan luas lahan yang dapat digunakan untuk memproduksi pangan lokal di setiap daerah, b) Pemetaan produksi setiap pangan lokal di setiap daerah (kondisi eksisting) dan Pemetaan jenis pangan lokal yang pernah diproduksi namun saat ini sudah tidak ada lagi (musnah) di setiap daerah, c) Pemetaan jenis pangan lokal yang pernah dikonsumsi oleh masyarakat termasuk jenis pangan lokal yang pernah diproduksi namun saat ini sudah tidak ada lagi (musnah) di setiap daerah, d) Pemetaan industri pengolahan pangan lokal di tingkat rumahtangga, UKM, industri kecil, menengah dan besar di setiap daerah (jumlah industri per jenis, jenis dan jumlah bahan baku), e) Melakukan pendataan secara regular dan terstruktur berkelanjutan untuk setiap jenis pangan lokal di setiap daerah dan f) Kajian studi perubahan preferensi masyarakat terhadap pangan lokal dan pangan modern termasuk faktor pendukung dan kendalanya di setiap daerah. Selain itu upaya yang dilakukan adalah : a) Meningkatkan kapasitas produksi setiap pangan lokal di setiap daerah melalui peningkatan luas panen dan produktivitas, b) Promosi pangan lokal secara nasional, terstruktur dan berkelanjutan melalui berbagai media elektronik, massa, penyuluhan, ruang publik (hotel, bandara, stasiun kereta api, ruang publik lainnya), c) Pangan lokal menjadi snack utama dalam beragam kegiatan kenegaraan, keagamaan, upacara pernikahan, rapat-rapat, dan aktivitas lainnya, d) Mengembangkan outlet-outlet pangan lokal di setiap daerah termasuk di ruang publik seperti hotel, bandara, stasiun kereta api, ruang publik lainnya.
Upaya lainnya dilakukan dengan: 1) Penyusunan road map produksi dan agroindustri khusus untuk pengembangan pangan lokal sehingga akan diperoleh diversifikasi produksi dan diversifikasi pangan, 2) Kebijakan diversifikasi konsumsi pangan diiringi/sejalan dengan kebijakan produksi dan industri pengolahan, 3) Penguatan penerapan kebijakan diversifikasi pangan sampai tingkat daerah, 4) Pengembangan dan penguatan kebijakan produksi pangan lokal agar tersedia
108
aneka ragam jenis pangan lokal secara kontinyu dan sesuai dengan kebutuhan dengan mengalokasikan pendanaan secara proposional dan menjadikan pengembangan produksi pangan lokal juga menjadi urusan wajib selain beras, jagung, kedelai dan lainnya, 5) Pengembangan dan penguatan kebijakan industri pangan lokal di setiap daerah untuk industri rumahtangga, UKM, dan jenis industri lainnya, 6) Pengembangan teknologi pengolahan pangan lokal sehingga tersedia aneka produk pangan lokal dengan harga yang terjangkau dengan kualitas yang prima. Produk pangan lokal ini juga sesuai preferensi konsumen atau menjadi pendorong agar konsumen menyenangi produk tersebut. Pengembangan dan penguatan kebijakan produksi dan industri pangan dilakukan harus seiring dengan kebijakan konsumsi pangan, sehingga percepatan diversifikasi pangan tidak hanya dari sisi konsumsi namun juga ketersediaan aneka produk pangan local yang sesuai selera konsumen dengan memperhatikan aspek harga pangan dan kualitas pangan. Promosi pangan lokal yang menyehatkan secara komprehensif, dilakukan secara terus menerus dengan memanfatkan berbagai media yang ada, sehingga pangan lokal akan mampu berdiri di rumah sendiri. Penciptaan pasar pangan lokal baik tingka nasional maupun tingkat wilayah. Penciptaan pasar pangan lokal disertai ketersediaan aneka produk pangan lokal yang mampu disandingkan dengan pangan produk modern/pangan import.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2009. Peraturan Presiden RI No. 22 tahun 2009 tentang Kebijakan percepatan penganekaragaman Konsumsi Pangan berbasis Sumberdaya Lokal. Jakarta
Ariani, M dan Ashari. 2003. Arah, Kendala dan Pentignya Diversifikasi Konsumsi Pangan di Indonesia. Forum Agro Ekonomi. Vol. 21, No. 2. Desember. Bogor. Ariani. 2010. Diversifikasi Konsumsi Pangan Pokok untuk Mendukung Swasembada Beras. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Hasil Penelitian Tanaman Serealia, 27-28 Juli 2010, di Makasar.
Baharsyah, S. 1994. Diversifikasi Pangan Melalui Product Development. Majalah Pangan No. 18, Vol. V. Jakarta.
109
Bradford, R.W., P.J. Duncan, and B. Tarcy. 2000. Simplified Strategic Planning: A No-Nonsense Guide for Busy People Who Want Result Fast!
www.quickmba.com/strategy/swot/
Badan Bimas Ketahanan Pangan.2003. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. Nomor 68 Tahun 2002 Tentang Ketahanan Pangan. Departemen Pertanian. Jakarta.
Badan Ketahanan Pangan. 2009. Peraturan menteri Pertanian : Gerakan percepatan penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal. Kementerian Pertanian. Jakarta
Cahyati,G.I. 2008. Analisis Faktor Sosial Ekonomi keluarga terhadap Keanekaragaman Konsumsi Pangan Berbasisi Agribisnisdi kab. Banyumas. Program Magister Agribisnis. Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Semarang
Hardinsyah dan Martianto, D. 2001. Pembangunan Ketahanan Pangan yang Berbasis Agribisnis dan Pemberdayaan Masyarakat. Makalah dalam Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat untuk Mencapai Ketahanan Pangan dan Pemulihan Ekonomi. Diselenggarakan oleh BBKP, Deptan.; PSKPG,IPB dan Agrindo Aneka Consult. Jakarta.
Badan Ketahanan pangan, 2009. Peraturan Menteri pertanian tentang Gerakan Percepatan penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasisi Sumberdaya Lokal. Kementerian Pertanian, Jakarta.
Kementerian Pertanian. 2009. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2009-2014. Jakarta.
Kementerian Pertanian. 2009. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2009-2014. Jakarta.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 2011. Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. Jakarta Kemenkes. 2011. Seribu Hari Untuk negeri. Dfat Panduan Gerakan Nasional Sadar
Gizi Menuju Indonesia Prima. (www.depkes.go.id, diunduh tanggal 10 April 2012)
Makmur, Mulyono. 2010. Kebijakan Umum Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan. Bahan disampaikan pada Workshop Dewan Ketahanan Pangan, 20-22 September. Jakarta
Pusat Penelitian Agro Ekonomi. 1989. Pola Konsumsi Pangan, Proporsi dan Ciri Rumah Tangga Dengan Konsumsi Energi Dibawah Standar Kebutuhan. Kerjasama Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Depkes. dengan PAE, Deptan. Bogor.
Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan. 2012. Potensi Sumberdaya Pangan Indonesia. BKP, kementerian Pertanian. Jakarta
110
Rachman, H.P.S. 2001. Kajian Pola Konsumsi dan Permintaan Pangan di Kawasan Timur Indonesia. Disertasi. Program Pascasarjana, IPB. Bogor.
Sadjad, S. 1996. Perubahan Struktur Pangan dalam Upaya Diversifikasi Keanekaragaman Sumber Pangan. Majalah Pangan, No. 25, Vol.VII.
Sayaka,B; H.Supriadi; M. Ariani; M. Siregar; A. Askin; E. Ariningsih dan B. Rahmanto. 2005. Analisis pengembangan Agroindustri Berbasis pangan Lokal dalam Meningkatkan Keanekaragaman pangan dan Pengembangan Ekonomi Pedesaan. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor. Sumaryanto. 2009. Diversifikasi Sebagai Salah Satu Pilar Ketahanan Pangan.
Makalah disajikan dalam Seminar Memperingati Hari Pangan Sedunia, Jakarta, 1 Oktober.
110
Lampiran 1. Skema Pemanfaatan Ubikayu Untuk Berbagai Produk Pangan
Ubikayu Ubikayu Segar Produk Antara Tepung Gaplek Tepung Kasava Tepung Tapioka Produk Makanan (keripik/kerupuk, tape, lemet, dll)
Produk Makanan (tiwul, kue kering, dll)
Produk Makanan (roti, mie, biskuit, dll)
Produk Makanan Tradisional (biji salak, kue lapis, kerupuk, dll)
Produk Makanan Modern (bubur susu instan, tepung bumbu,
biskuit/snack, meat product, dll)
Pati Ter- modifikasi - Pati Pragelatinisasi - Pati Teroksidasi - Pati Posfat - dll. Hidrolisat Pati - Dekstrin - Maltodekstrin - Sirup Glukosa
- High Fructose Syrup (HFS)
- Sorbitol - dll. Monosodium Glutamat (MSG) ( - Roti (Bakery) - Es krim - Meat product - Permen - dll. - Susu formula - Bubur susu instan - Minuman ringan - Saus - Permen - Jam/jelly - dll. Tepung Oyek Produk Makanan (nasi oyek, dll)
111
Lampiran 2. Skema Pemanfaatan Jagung Untuk Berbagai Produk Pangan
Jagung Baby Corn Jagung Muda Jagung Tua
Produk Makanan Tradisional (sayur, dll)
Baby corn dalam kaleng
Produk Makanan Tradisional (sayur, perkedel, puding, pudak, dll)
Jagung beku
Jagung dalam kaleng (whole kernel corn, sweet cream corn, dll) Produk Makanan Modern (sup instan, bubur bayi/tim instan, dll)
Biji Utuh
Pra Pengolahan
Grits (beras jagung)
Tepung Jagung
Bahan Baku Makanan (ready to cook)
Produk Ekstrusi (cheese balls, dll) Keripik Jagung (corn flakes, dll)
Produk Makanan (cake mix, snack, sereal, bubur susu, dll)
Produk Makanan (bihun, cake mix, cracker, biskuit, roti, saus, dll)
Pati Ter- modifikasi - Pati Pragelatinisasi - Pati Teroksidasi - Pati Posfat, dll. Hidrolisat Pati - Dekstrin - Maltodekstrin - Sirup Glukosa
- High Fructose Syrup (HFS)
- Sorbitol, dll. Monosodium Glutamat (MSG) - Roti (Bakery) - Es krim - Meat product = Permen, dll. - Susu formula - Bubur susu instan - Minuman ringan - Saus - Permen - Jam/jelly, dll. Pati Jagung Minyak goreng Margarin
Formulasi makanan (bakery, bubur susu instan, susuformula, dll) Minyak
112
Lampiran 3. Skema Pemanfaatan Sagu Untuk Berbagai Produk Pangan
Sagu Sagu Pati
Bahan Pangan Tepung Komposit Pati Ter- modifikasi Hidrolisat Pati Monosodium Glutamat (MSG)
Papeda, sagu lempeng, bagea, sagu mutiara, dll
Roti, pasta, biskuit/kue, kerupuk, dll - Pati Pragelatinisasi - Pati Teroksidasi - Pati Posfat - dll. - Dekstrin - Maltodekstrin - Sirup Glukosa
- High Fructose Syrup (HFS)
- Sorbitol - dll - Roti (bakery) - Es krim - Instant food - Permen - dll. - Susu formula - Bubur susu instan - Minuman ringan - Permen - Jam/jelly - dll.
99
Dari gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa peta potensi kesuksesan berada pada kuadran I, artinya adalah bahwa dengan dengan berbagai kelemahan dan tantangan yang ada, pengembangan diversifiksi pangan masih dapat dilakukan dengan cara mengelola kekuatan (S) dan peluang (O) yang ada untuk menekan sekecil mungkin tantangan (T) dan kelemahan (W) yang ada. Berdasarkan peta kekuatan tersebut, maka diusulkan strategi pencapaian tujuan yaitu bagaimana strategi yang dapat dilaksanakan. Strategi tersebut adalah seperti yang tertera pada Tabel 4.4.4. berikut ini.
Tabel 4.4.4. Nilai Keterkaitan antara Faktor Internal dan Eksternal Pengembangan Diversifikasi Pangan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Kekuatan (S) :
1 Potensi lahan dan kebiasaan mengkonsumsi pangan lokal 26.67 5 1.33 0 2 4 5 1 1 2 2 1 2 3 1 2.18 0.58 0.78 2 Ragam jenis pangan lokal 20.00 3 0.60 2 0 5 2 2 3 5 5 1 5 5 5 3.64 0.73 0.44 3 Ragam pengolahan pangan lokal 6.67 3 0.20 4 5 0 3 1 1 3 5 1 4 5 5 3.36 0.22 0.04
Kelemahan (W) :
4 Belum berkembangnya pasar pangan local secara nasional 13.33 3 0.40 5 2 3 0 5 5 2 1 1 2 5 5 3.27 0.44 0.17 5 Kebijakan produksi dan industri pangan lokal masih terbatas 26.67 4 1.07 1 2 1 5 0 2 3 5 1 1 4 1 2.36 0.63 0.67 6 Fungsi pangan lokal untuk kesehatan 6.67 3 0.20 1 3 1 5 2 0 1 5 1 1 4 4 2.55 0.17 0.03
Peluang (O) :
7 Adanya penekanan diversifikasi dalam UU Pangan No.18/2012 20.00 5 1.00 2 5 3 2 3 1 0 5 5 2 4 5 3.36 0.67 0.67 8 Adanya Perpres No.22/2009: Percepatan Diversifikasi pangan 6.67 5 0.33 2 5 5 1 5 5 5 0 4 4 1 5 3.82 0.25 0.08 9 Permintaan beras masih tinggi sebagai makanan pokok 6.67 3 0.20 1 1 1 1 1 1 5 4 0 1 1 1 1.64 0.11 0.02
Ancaman (T)
10 Merebaknya rumah makan menjual pangan modern/import 33.33 2 0.67 2 5 4 2 1 1 2 4 1 0 5 5 2.91 0.97 0.65 11 Perubahan konsumsi karbohidrat dominan beras 13.33 3 0.40 3 5 5 5 4 4 4 1 1 5 0 3 3.64 0.48 0.19 12 Peningkatan import terigu dan pangan lainnya 20.00 3 0.60 1 5 5 5 1 4 5 5 1 5 3 0 3.64 0.73 0.44 NRK NBK TNB Nilai Keterkaitan
100 Kuadran IV 0,11 Kuadran I 0,02 T=0,65 Kuadran III O=0,67 Kuadran II W=0,67
Gambar 4.1. Peta Kekuatan Faktor-faktor yang dapat Menentukan Kesuksesan Pengembangan Diversifikasi Pangan di Indonesia
Tabel 4.4.5. Formulasi Strategi Pengembangan Diversifikai Pangan Berdasarkan Evaluasi Faktor Internal- Eksternal
Faktor Internal
Faktor Eksternal
Kekuatan (S)
Potensi lahan dan kebiasaan mengkonsumsi pangan lokal
Kelemahan (W)
Kebijakan produksi dan industri pangan lokal masih terbatas
Peluang (O)
Adanya penekanan
diversifikasi pangan dalam UU Pangan No.18/2012
Manfaatkan potensi lahan dan kebiasaan
mengkonsumsi pangan lokal untuk mendukung
penekanan diversifikasi pangan dalam UU Pangan
Tingkatkan kebijakan produksi dan industri pangan lokal dalam rangka mendukung penekanan diversifikasi pangan dalam UU Pangan
Ancaman (T)
Merebaknya rumah makan dengan pangan
modern/import
Manfaatkan potensi lahan dan kebiasaan
mengkonsumsi pangan lokal dalam rangka mengantisipasi merebaknya rumah makan dengan pangan modern/ import
Tingkatkan kebijakan produksi dan industri pangan lokal agar mampu mengantisipasi merebaknya rumah makan dengan pangan modern/import
101
4.5.2. Alternatif Kebijakan Untuk Pengembangan Program
Dari Tabel 4.4.4. dilakukan disusun atau formulasi strategi kebijakan operasional program dan kegiatan untuk mengembangkan diversifikasi pangan di Indonesia sebagai berikut :
a). Manfaatkan potensi lahan dan kebiasaan mengkonsumsi pangan lokal untuk mendukung penekanan diversifikasi pangan dalam UU Pangan
Upaya yang dilakukan untuk pengembangan diversifikasi pangan dilakukan dengan memanfaatkan potensi lahan dan kebiasaan mengkonsumsi pangan lokal di masyarakat, sebagai berikut:
1. Pemetaan luas lahan yang dapat digunakan untuk memproduksi pangan lokal di setiap daerah
2. Pemetaan produksi setiap pangan lokal di setiap daerah (kondisi eksisting) dan Pemetaan jenis pangan lokal yang pernah diproduksi namun saat ini sudah tidak ada lagi (musnah) di setiap daerah
3. Pemetaan jenis pangan lokal yang pernah dikonsumsi oleh masyarakat termasuk jenis pangan lokal yang pernah diproduksi namun saat ini sudah tidak ada lagi (musnah) di setiap daerah
4. Pemetaan industri pengolahan pangan lokal di tingkat rumahtangga, UKM, industri kecil, menengah dan besar di setiap daerah (jumlah industri per jenis, jenis dan jumlah bahan baku, dll)
5. Melakukan pendataan secara regular dan terstruktur berkelanjutan untuk setiap jenis pangan lokal di setiap daerah
6. Kajian studi perubahan preferensi masyarakat terhadap pangan lokal dan pangan modern termasuk faktor pendukung dan kendalanya di setiap daerah
b). Manfaatkan potensi lahan dan kebiasaan mengkonsumsi pangan lokal dalam rangka mengantisipasi merebaknya rumah makan dengan pangan modern/ import
102
1. Meningkatkan kapasitas produksi setiap pangan lokal di setiap daerah melalui peningkatan luas panen dan produktivitas
2. Promosi pangan lokal secara nasional, terstruktur dan berkelanjutan melalui berbagai media elektronik, massa, penyuluhan, ruang publik (hotel, bandara, stasiun kereta api, ruang publik lainnya)
3. Pangan lokal menjadi snack utama dalam beragam kegiatan kenegaraan, keagamaan, upacara pernikahan, rapat-rapat, dan aktivitas lainnya
4. Mengembangkan outlet-outlet pangan lokal di setiap daerah termasuk di ruang publik seperti hotel, bandara, stasiun kereta api, ruang publik lainnya c). Tingkatkan kebijakan produksi dan industri pangan lokal dalam rangka
mendukung penekanan diversifikasi pangan dalam UU Pangan Dalam pengembangan diversifikasi pangan perlu diperhatikan:
1. Penyusunan road map produksi dan agroindustri khusus untuk pengembangan pangan lokal sehingga akan diperoleh diversifikasi produksi dan diversifikasi pangan.
2. Kebijakan diversifikasi konsumsi pangan diiringi/sejalan dengan kebijakan produksi dan industri pengolahan
3. Penguatan penerapan kebijakan diversifikasi pangan sampai tingkat daerah 4. Pengembangan dan penguatan kebijakan produksi pangan lokal agar tersedia
aneka ragam jenis pangan lokal secara kontinyu dan sesuai dengan kebutuhan dengan mengalokasikan pendanaan secara proposional dan menjadikan pengembangan produksi pangan lokal juga menjadi urusan wajib selain beras, jagung, kedelai dan lainnya
5. Pengembangan dan penguatan kebijakan industri pangan lokal di setiap daerah untuk industri rumahtangga, UKM, dan jenis industri lainnya
6. Pengembangan teknologi pengolahan pangan lokal sehingga tersedia aneka produk pangan lokal dengan harga yang terjangkau dengan kualitas yang prima. Produk pangan lokal ini juga sesuai preferensi konsumen atau menjadi pendorong agar konsumen menyenangi produk tersebut.
103
d). Tingkatkan kebijakan produksi dan industri pangan lokal agar mampu mengantisipasi merebaknya rumah makan dengan pangan modern/import Strategi yang dilakukan untuk pengembangan diversifikasi pangan juga melalui sebagai berikut:
1. Pengembangan dan penguatan kebijakan produksi dan industri pangan dilakukan harus seiring dengan kebijakan konsumsi pangan, sehingga percepatan diversifikasi pangan tidak hanya dari sisi konsumsi namun juga ketersediaan aneka produk pangan local yang sesuai selera konsumen dengan memperhatikan aspek harga pangan dan kualitas pangan.
2. Promosi pangan lokal yang menyehatkan secara komprehensif, dilakukan secara terus menerus dengan memanfatkan berbagai media yang ada, sehingga pangan lokal akan mampu berdiri di rumah sendiri.
3. Penciptaan pasar pangan lokal baik tingka nasional maupun tingkat wilayah. Penciptaan pasar pangan lokal disertai ketersediaan aneka produk pangan lokal yang mampu disandingkan dengan pangan produk modern/pangan import.
IV. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN KESIMPULAN
Potensi Produksi Pangan Lokal
Walaupun kebijakan produksi pangan local sangat tidak proposional dibandingkan dengan kebijakan produksi komoditas padi, namun potensi pangan local dilihat dari produksi, produktivitas masih menunjukkan perkembangan yang positip. Secara umum, Pulau Jawa sebagai sentra produksi tanaman pangan seperti beras, jagung, ubikayu dan ubijalar. Namun demikian dalam beberapa tahun terakhir perkembangan produksi, produktivitas dan luas panen di Pulau Jawa relatif stagnan. Sebagai gambaran, perkembangan produksi padi menunjukkan trend yang masih meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata 2,39 % per tahun. Pulau Jawa sebagai pemasok utama produksi padi nasional, pada tiga tahun terakhir pertumbuhan produksi sudah menunjukkan gejala leveling off .
104
Produksi jagung secara nasional meningkat dengan laju rata-rata 6.40 % per tahun. Pertumbuhan produksi jagung yang tinggi dan relatif stabil di Kalimantan diikuti dengan Sulawesi, sebaliknya pertumbuhan yang relatif kecil di Jawa dan Sumatera. Secara nasional produksi ubi kayu cenderung meningkat dengan laju pertumbuhan sekitar 3,36 % per tahun. Laju pertumbuhan produksi tertinggi terjadi di Sumatera dan Sulawesi. Produksi ubi kayu di Jawa mulai digantikan oleh produksi ubi kayu di Sumatera sejak tahun 2011, demikian pula produktivitas ubikayu di Sumatera lebih besar daripada di Jawa. Namun dari pangsa produksinya, Jawa masih merupakan sentra produksi ubi kayu, karena menyumbang rata-rata 51 % dari produksi nasional diikuti dengan Sumatera.
Produksi ubi jalar secara nasional juga meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata 2,09 % per tahun. Pada tahun 2000 total produksi ubi jalar Indonesia mencapai 1,83 juta ton, dan meningkat menjadi 2.30 juta ton pada tahun 2012. Pertumbuhan produksi terbesar terjadi di Maluku+Papua sebesar 5,90 % per tahun, tetapi pertumbuhan tersebut tidak stabil, karena standar deviasinya tinggi, yaitu 32,93 % per tahun. Pertumbuhan produksi ubi jalar yang kedua adalah Sulawesi dengan laju 3,66 % per tahun.
Secara umum perkembangan harga gabah (GKG), jagung (pipilan kering), ubi kayu (basah) dan ubi jalar (basah) selama periode 2011 sampai dengan bulan November 2013 dapat dikatakan stagnan, walaupun ada gejolak harga pada minggu-minggu tertentu. Mengingat bahwa data harga dikumpulkan pada tingkat produsen, maka lonjakan-lonjakan harga keempat komoditas tersebut diduga berkaitan erat dengan pola panennya. Umumnya lonjakan harga naik hanya berjalan dalam waktu singkat (mingguan), kemudian harga umumnya turun kembali pada tingkat normal.
Pola Konsumsi Pangan Lokal
Tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia yang diukur dengan pangsa pengeluaran pangan baik di perkotaan maupun di pedesaan semakin membaik. Namun kesejahteraan masyarakat kota lebih baik daripada masyarakat yang berada di pedesaan. Upaya peningkatan kesejahteraan terutama masyarakat pedesaan
105
harus mendapat prioritas, sehingga kesenjangan kesejahteraan di kedua wilayah secara bertahap dapat diperkecil.
Peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perubahan gaya hidup berdampak pada perubahan pola pengeluaran masyarakat. Kalau dahulu, pangsa pengeluaran rumahtangga paling besar adalah pada kelompok padi-padian, namun pada saat ini pangsa terbesar adalah kelompok makanan/minuman jadi. Sementara pola pengeluaran untuk kelompok pangan yang lain relatif sama dari tahun ke tahun. Perubahan ini menuntut pengembangan usaha di sektor makanan/minuman disesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat. Usaha makanan juga harus memperhatikan faktor keamanan pangan, sehingga perlunya pembinaan terutama bagi usaha rumahtangga dan kecil.
Pola konsumsi masyarakat sudah mengarah kepada pola konsumsi anjuran baik dari segi kebutuhan energi, protein, namun untuk keragaman konsumsi masih perlu ditingkatkan. Pangan dominan masih dari beras sebagai sumber energi dan protein.
Sementara pangan lokal seperti umbi-umbian, sagu menurun tingkat konsumsinya. Sebaliknya konsumsi terigu dan turunannya meningkat. Diantara pangan sumber protein hewani, konsumsi daging sapi mengalami penurunan selama 15 tahun terakhir. Demikian pula konsumsi gula pasir juga menurun, sebaliknya konsumsi minyak goreng terus meningkat.
Walaupun telah ada Perpres untuk percepatan diversifikasi pangan, namun implementasinya mengalami hambatan. Perpres ini seolah-olah menjadi mandate dari Kementerian Pertanian, sementara institusi yang lainnya kurang mendukung hal tersebut. Banyak kebijakan pangan yang justru paradox dengan kebijakan diversifikasi konsumsi pangan, seperti adanya kebijakan raskin, kebijakan produksi beras yang dominan dan mengabaikan produksi pangan local, dan lainnya.
Industri Pengolahan dan Produk Pangan Lokal
Dari sisi makro, kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan PDB lebih rendah dibandingkan kontribusi sector industry total. Kontribusi sector pertanian hanya berkisar antara 13,7 % - 15,3 %, sedangkan kontribusi sector industry
106
hampir dua kali lipatnya (23,9 % - 27,8%). Akan tetapi kontribusi sector industry cenderung menurun sedangkan kontribusi sector pertanian masih relatif bertahan bahkan cenderung naik selama periode 2007-2012.
Industi pangan merupakan salah satu dari dua cabang industry yang relatif dominan dan subsector industry pangan tetap tumbuh positif meskipun dengan laju relatif lambat. Namun terdapat gejala de-industrialisasi yang diindikasikan oleh kecenderungan penurunan pencapaian kapasitas pasang industry dan jumlah unit usaha industry besar dan sedang cenderung menurun. Salah satu cabang industry yang masih terus tumbuh adalah industry pangan (makanan dan minuman) terutama pada industry skala besar saja.
Produk industry juga telah cukup beragam (variatif) karena pada setiap kelompok/jenis industry dapat dihasillkan beberapa jenis produk. Preferensi konsumen produk industry pangan cukup dinamis dan variatif yang tercermin dari relatif tingginya product differentiation dari industry pangan. Namun pengembangan industry pengolahan pangan lokal, khususnya pangan pengganti beras, dalam skala sedang dan besar relatif sedikit. Industry pangan lokal lebih banyak dilakukan dalam skala kecil, mikro dan rumahtangga.
Dari sisi konsumsi, permintaan (pasar) produk industry pangan lokal relatif belum berkembang karena umumnya masih sebagai “makanan selingan” atau “makanan ringan” saja, sehingga kuantitas maupun frekuensi pembeliannya juga relatif “sedikit”. Pola permintaan pangan lokal relatif bervariasi antar wilayah, golongan, maupun jenis produk pangan lokal olahan. Tidak semua produk pangan lokal mendapat respon pasar yang sama.
Keragaman potensi sumberdaya pangan di Indonesia memungkinkan pengembangan industry pengolah pangan lokal yang bervariasi dalam jenis/produk, skala, teknologi, maupun segmen pasar. Keragaman tersebut tidak saja menguntungkan konsumen karena pilihan produk menjadi lebih banyak, tetapi juga menguntungkan produsen pangan lokal karena tanpa disadari memperoleh fleksibilitas dalam mengatur dan menentukan jenis dan pola produksi. Seperti di Gunung Kidul (DIY) dan Pacitan (Jatim) banyak industry pangan olahan berbahan
107
baku ubikayu. Di NTT ada jagung bose dan pepeda (sagu), dan di Jabar terdapat industry umbi-umbian (umbi garut, umbi cilembu).
IMPLIKASI KEBIJAKAN
Pengembangan diversifikasi pangan local dapat dilakukan dengan strategi ebagai berikut: a). Memanfaatkan potensi lahan dan kebiasaan mengkonsumsi pangan lokal untuk mendukung penekanan diversifikasi pangan dalam UU Pangan dan dalam rangka mengantisipasi merebaknya rumah makan dengan pangan modern/ import dan b) Meningkatkan kebijakan produksi dan industri pangan lokal dalam rangka mendukung penekanan diversifikasi pangan dalam UU dan agar mampu mengantisipasi merebaknya rumah makan dengan pangan modern/import.