62 Sistem penunjang keputusan ini mempunyai implikasi yang sangat besar bagi pihak perusahaan, karena model yang dibangun merupakan representasi dari permasalahan yang ada di perusahaan. Dengan adanya sistem ini, perusahaan mempunyai alat bantu pengambilan kebijakan mengenai produk yang harus dikembangkan dan memaksimalkan pasar potensial yang merupakan tujuan penjualan produk berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan oleh para pakar. Keluaran hasil produk dari sistem diharapkan dapat disesuaikan dengan kapasitas sarana produksi dan SDM sehingga dapat tercapai produktivitas optimal dan keuntungan yang maksimal. Sementara pasar yang kurang potensial terhadap penjualan sutera alam sebaiknya ditindaklanjuti oleh Depatemen Perindustrian selaku pihak Pemerintah yang menangani produk-produk olahan industri, dengan mengalokasikan SDM yang potensial ke tempat lain atau memberikan pelatihan keterampilan tambahan kepada SDM pasar tersebut. Hal ini penting dilakukan agar industri pasar tersebut tidak kehilangan konsumen, tetap menjaga lapangan pekerjaan terbuka, dan perekonomian daerah tetap stabil.
Ketidakpuasan perusahaan terhadap plasma karena pasokan bahan baku berupa kokon, seringkali mempunyai kualitas yang tidak seperti apa yang diharapkan dan siklus pemeliharaannya yang sedikit lebih cepat. Oleh karena itu, dengan adanya sistem penunjang keputusan LETULET diharapkan perusahaan dapat menentukan strategi untuk pemilihan plasma yang akan dipercaya sebagai mitra perusahaan untuk pemelihara ulat. Plasma yang bermitra dengan perusahaan selama ini, hanya mengandalkan kesediaan atau kesanggupannya saja untuk membesarkan ulat. Sebaiknya untuk perbaikan ke depan, perusahaan juga harus menilai kelompok plasma tersebut berdasarkan alternatif-alternatif yang dihasilkan dari sistem penunjang keputusan ini. Perusahaan juga dapat memberikan kriteria-kriteria yang sebaiknya dimiliki oleh plasma berdasarkan alternatif yang dihasilkan sistem agar mereka menyadari bahwa untuk mendapatkan produk berkualitas, diperlukan lebih dari sekedar kesediaan memelihara, tetapi juga harus ditunjang dengan lokasi pemeliharaan, sarana dan prasarana yang memadai, jumlah anggota plasma, teknologi dan keuletan pemelihara dan kualitas kokon.
Dalam sebulan, biasanya para plasma dikunjungi oleh orang lapang dari kabupaten setempat, hanya untuk mengawasi pemeliharaan. Namun dengan aksi itu saja, dirasa belum cukup oleh para plasma, karena tidak ada ilmu yang diperoleh. Plasma yang belum mempunyai kriteria cukup untuk dijadikan mitra perusahaan, sebaiknya diberikan penyuluhan. Penyuluhan atau pelatihan telah dilakukan sebenarnya, namun hanya diberikan sekali dalam setahun. Pihak pemerintah yang bertanggung jawab mengenai agroindustri sutera alam, dalam hal ini diwakilkan oleh Badan Persuteraan Alam dari Departemen Kehutanan juga diharapkan dapat memberikan penyuluhan-penyuluhan yang sifatnya lebih intensif.
Implikasi lainnya yaitu perusahaan mampu mengukur kinerjanya selaku pemelihara dan prosesor utama dalam agroindustri sutera alam ini. Dengan adanya model pengukuran kinerja, perusahaan dapat menilai sendiri dimana faktor-faktor yang menjadi kekurangan dan harus diperbaiki serta mengetahui faktor-faktor yang menjadi kelebihan dan harus dipertahankan. Kinerja perusahaan yang baik dapat menjadi faktor kesuksesan dan kunci berkembangnya perusahaan. Informasi rantai pasok sutera alam yang disajikan juga dapat menjadi informasi bagi Departemen Perindustrian dan Departemen Kehutanan.
63
VI. SIMPULAN DAN SARAN
A. SIMPULAN
Salah satu solusi yang diharapkan dapat membantu perusahaan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada pada agroindustri sutera alam yaitu dengan membuat suatu sistem penunjang keputusan yang dapat membantu pengambil keputusan memilih berbagai alternatif keputusan berupa hasil pengolahan informasi-informasi yang diperoleh. Kebutuhan akan sistem penunjang keputusan tersebut diimplementasikan dalam suatu program Letulet. Sistem ini dilengkapi dengan model-model pemilihan yang merupakan representasi dari permasalahan yang ada di perusahaan. Model-model yang tersedia yaitu model pemilihan produk prospektif, model pemilihan pasar potensial, model pemilihan strategi plasma unggul, dan model pengukuran kinerja rantai pasok perusahaan.
Sistem ini juga membahas mengenai rantai pasokan pada produk sutera alam berupa aliran rantai pasok dan anggota rantai pasok. Anggota primer dari rantai pasokan ini terdiri atas pemasok, perusahaan inti, petani ulat, konsumen galeri serta penenun yang berfungsi sebagai konsumen juga. Struktur rantai pasokan sutera alam dibagi menjadi dua, yaitu rantai pasokan dengan perusahaan sebagai produsen murni produk (pemasok-perusahaan inti-konsumen) dan rantai pasokan dengan perusahaan dibantu petani sebagai produsen produk (pemasok-perusahaan inti-mitra plasma-perusahan inti-konsumen).
Hasil keluaran dari model pemilihan produk prospektif menghasilkan bahwa produk terbaik untuk diproduksi adalah kain sutera. Namun mengingat sarana dan prasarana serta sumberdaya manusia yang menanganinya masih terbatas, maka diharapkan perusahaan mampu menyesuaikannya sehingga dapat tercapai produktivitas optimal dan keuntungan yang maksimal. Sementara model pemilihan pasar potensial menyimpulkan bahwa pasar terbaik untuk memasarkan produk olahan sutera alam adalah pasar Garut. Hasil keluaran dari kedua model tersebut didasarkan pada hasil perhitungan MPE (Metode Perbandingan Eksponensial).
Model penentuan strategi pemilihan plasma unggul menghasilkan alternatif-alternatif yang dapat mewakili penilaian perusahaan inti terhadap plasma sebagai mitra perusahaan dalam memelihara ulat dan menghasilkan kokon. Alternatif-altenatif tersebut diperoleh melalui pembobotan dengan pendekatan AHP (Analytical Hierarchy Process) berdasarkan faktor-faktor kunci yang membuat suatu plasma unggul. Alternatif-alternatif tersebut jika diurutkan dari bobot yang paling besar yaitu memelihara ulat dan memproduksi kokon sesuai prosedur (0.350), memliki sarana dan prasarana yang memadai (0.256), mengikuti pelatihan-pelatihan (0.168), mempunyai lokasi yang baik (0.152), dan mempunyai jumlah anggota plasma yang efisien (0.074).
Model kinerja rantai pasok perusahaan diukur dengan menggunakan AHP yang dikombinasikan dengan SCOR. Pengukuran kinerja tersebut didasarkan hanya pada tiga aspek metrik kinerja yang mempunyai bobot tertinggi dari hasil AHP. Data aktual perusahaan mengenai produksi menjadi nilai input pada tabel pengukuran kinerja. Hasil yang diperoleh berdasarkan tabel pengukuran kinerja yaitu aspek kesesuaian dengan standar mutu mempunyai nilai cukup, sementara aspek siklus pemenuhan pesanan dan pemenuhan pesanan memiliki nilai baik. Keluaran rekomendasi dari sistem menunjukkan perbaikan pada aspek yang bernilai cukup, yaitu aspek kesesuaian dengan standar mutu.
64
B. SARAN
Sistem perlu dibuat lebih dinamis agar dalam penggunaannya menjadi lebih mudah dengan menambahkan fasilitas untuk mengubah, baik menambah, mengurangi, mengedit, dan menghapus sehingga data dapat mengalami perubahan sesuai dengan keinginan pengguna. Kemudian, diperlukan penelitian lebih lanjut dalam pengukuran kinerja sehingga faktor penilaian tidak hanya berupa tiga aspek metrik kinerja, melainkan semua aspek. Selain itu, untuk perbaikan ke depannya, perlu dibuat database mengenai profil-profil mitra plasma secara lebih detail sehingga pengukuran kinerja dari para mitra plasma juga dapat dilakukan.
65
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Produksi Batik Terkendala Benang Sutera.
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/01/84952. [23 Juni 2010]
Anonim. 2011. Supply Chain Council Releases Supply Chain Operations Reference (SCOR) Model 10.0 in Logistic Week [23 Februari 2011].
Atmosoedarjo, S., J. Kartasubrata., M. Kaomini., W. Saleh., W., Moerdoko. 2000. Sutera Alam Indonesia. Yayasan Sarana Wana Jaya. Jakarta.
Aramyam, L.H.; Ondersteijn, C.J.M.; Kooten, O. van; Oude Lansink, A.G.J.M. 2006. Performance indicators in agri-food production chains. In: Quantifying the agri-food supply chain/Ondersteijn, dr.ir C.J.M., Wijnands, ir. J.H.M., Huirne, prof.dr.ir R.B.M., Kooten, van prof.dr. O., -Dordrecht : Springer/Kluwer, (Wageningen UR Frontis series 15) –p. 47-64. Dalam Alim Setiawan. 2008. Studi Peningkatan Kinerja Manajemen Rantai Pasok Dataran Tinggi Terpilih di Jawa Barat. Tesis – Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Balai Persuteraan Alam. 2010. Diakses dari www.dephut.go.id pada tanggal 30 Mei 2010.
Bolstroff, Peter, dan Robert Rosenbaum. 2003. Supply Chain Excellence: A Handbook for Dramatic Improvement Using the SCOR Model. AMACOM.
Chopra, S. dan P. Meindl. 2007. Supply Chain Management : Strategy, Planning, and Operation (3rd edition). Pearson Prentice Hall. New Jersey.
Daihani, D.U. 2001. Komputerisasi Pengambilan Keputusan. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta. Departemen Kehutanan, 2007. Pedoman teknis Pemeliharaan Ulat Sutera. Departemen kehutanan
Direktorat Jenderal rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Jakarta.
Eriyatno. 1999. Ilmu Sistem : Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. IPB Press. Bogor. Ervil, R., Suwignjo, P., Rusdiansyah, A. 2010. Pengembangan Model Pengukuran Kinerja Supply
Chain Berbasis Balanced Scorecard (Studi Kasus Pt. Semen Padang). Jurnal Teknik Industri ITS.
Fathansyah. 2004. Basis Data. Informatika. Bandung.
Gunasekaran, A., Patel, C. and Tirtiroglu, E. 2001. Performance measures and metriks in a supply chain environment. International Journal of Production and Operation Management Nomor 1 / 2 Volume 21:71-87.
Hafsah, M.J. 2000. Kemitraan Usaha : Konsepsi dan Strategi. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Hugos, M. 2006. Essential of Supply Chain Management, 2nd ed. : John Wiley & Sons Inc. New
Jersey.
Mangkusubroto, K. dan C. Trisnadi. 1987. Analisa Keputusan : Pendekatan Sistem Dalam Manajemen Usaha dan Proyek. Ganeca Exact, Bandung.
Marimin. 2004. Teknik Pengambilan Keputusan Kriteria Jamak dan Aplikasinya dalam Perumusan Kebijakan Strategi. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
. 2008. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Grasindo. Jakarta. Melynk, S.A., Stewart, D.M., dan Siwank, M. 2004. Metriks and performance measurement in
operations management : Dealing with metriks maze. Journal of Operation Management 22:209-217
Muhardika, B. A. 2009. Sistem Pendukung Keputusan Manajemen Rantai Pasokan Krisan dan Kedelai Edamame. [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
66 Nugroho, A. 2002. Analisis dan Perancangan Sistem Informasi dengan Metodologi Berorientasi
Objek. Jakarta.
Panggabean, Kriston. 2010. Pengembangan Model Perencanaan untuk Pendirian Agroindustri Sutera Alam. [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Pudjawan, I. N. 2005. Supply Chain Management. Guna Widya. Surabaya.
Purwaningrum, D.S. 2007. Pengruh Lama Waktu Mordan Tawas Terhadap Ketuaan Warna dan Kekuatan Tarik Kain Sutera dalam Proses Pewanaan dengan Zat Warna Daun Mangga pada Busana Pesta Anak. Skripsi - Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Semarang. Russell, R.S. 2006. Operations Management 5th ed. : John Wiley & Sons Inc. New Jersey.
Ryu, C.H. 2000. Panduan Teknis Persuteraan Alam Petunjuk Dasar Persuteraan Alam. PT. Indo Jado Sutera Pratama. Sukabumi.
Saaty, T.L. 1986. Decision Making for Leaders, The Analytical Hierarchy Process for Decisions in Complex World. Terjemahan Setiono, L. Dan K. Peniwati. 1993. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pimpinan. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta.
Saputro, Hendra. 2007. Pengertian Website, Web Hosting, dan Domain Name. http://www.baliorange.web.id/pengertianwebsite-webhosting-domainname.
Sargent, R. G. 2007. Verification and validation of simulation models. Dalam prosiding 2007 Winter Simulation Conference., ed. S. G. Henderson. B. Biller, M. H. Hsieh, J. Shortle, J. D. Tew, dan R. R. Barton, 124-136. Piscataway, New Jersey : IEEE.
Setiawan, Alim. 2009. Studi Peningkatan Kinerja Manajemen Rantai Pasok Sayuran Dataran Tinggi Terpilih di Jawa Barat. [Tesis]. Bogor. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Siagian, P. 1987. Penelitian Operasional. UI Press. Jakarta.
Sidarta, Lani. 1995. Pengantar Sistem Informasi Bisnis. PT Elex Media Komputindo. Jakarta Sudiyono, A. 2002. Pemasaran Pertanian. UMM Press. Yogyakarta.
Supply Chain Council. 2008. Supply Chain Operations Reference Model Version 8.0.
Suryadi, K. dan M. A. Ramdhani. 1998. Sistem Pendukung Keputusan. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Syamsi, I. 1995. Pengambilan Keputusan dan Sistem Informasi. Bumi Aksara. Jakarta.
Tarigan J. 2008. Strategi Pengembangan Agroindustri Sutera Alam Melalui Pendekatan Kluster. [Disertasi]. Bogor. Institut Pertanian Bogor.
Turban, E. 1990. Decision Support and Expert Sistem. McMillan Publishing Company. New York. Sahar, A. H. 2007. Analisis Kinerja Sistem Antrian pada Industri Pengolahan Fillet Ikan Beku (Studi
Kasus di PT. Global Tropical Seafood, Jawa Barat). [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Van der Vorst J. G. A. J, Zee van der DJ. 2006. A Modelling Framework for Analyzing Supply Chain Scenario : Application in Food Industry. Decision Science36:65-95.
Whitten, J.L., Kennie D. Bentley, dan Kevin C. Dittman. 2004. Sistem Analysis and Design Methods, 5th ed. MNHE. New York.
Wibowo, M. 1998. Sutera Alam. Serikultur : Ilmu Teknologi dan Industri. Eco Quality Services. Bandung.
67
68 Lampiran 1. Petunjuk instalasi dan penggunaan paket program Letulet melalui localhost
Instalasi program letulet membutuhkan seperangkat PC dengan speksifikasi minimal sebagai berikut : 1. Satu set Personal Computer (PC) atau laptop dengan prosesor Pentium III, RAM min. 128 MB.
2. Layar monitor 1024x 768 pixel. 3. CD-ROM.
4. Ruang kosong pada harddisk harus sebesar 10MB. 5. Sistem operasi Linux atau Windows.
6. PC telah terinstal web server dan database MySQL.
7. PC telah terinstal internet browser seperti Mozilla Firefox atau Internet Explorer.
Petunjuk Instalasi Program Letulet melalui localhot : 1. Masukkan CD Letulet ke dalam CD-ROM.
2. Copy file Letulet ke dalam drive C folder xampp/htdocs dan ganti nama folder dengan ‘letulet’.
3. Import database Letulet ke dalam database MySQL.
4. Setelah itu program dapat langsung digunakan melalui browser dengan alamat
http://localhot/letulet
5. Keluarkan CD dari CD-ROM dan simpan di tempat aman. 6. Selamat menggunakan program Letulet.
Menu Utama
Tampilan awal dari program Letulet disajikan dalam bentuk halamn utama website yg teridiri atas menu informasi dan menu penunjang keputusan, seperti gambar di bawah ini :
Pada halaman beranda, ditampilkan halaman penjelasan singkat mengenai definisi sutera, sejarah dan legenda sutera, jenis produk olahan sutera, Halaman services memuat halaman registrasi pengguna yang akan masuk ke dalam untuk mulai menggunakan sistem penunjang keputusan yang diaplikasikan pada model-model yang telah tersedia serta menampilkan bahasan singkat mengenai keempat model tersebut. Sementara pada halaman galeri dimuat beberapa foto yang dapat menggambarkan siklus budidaya ulat sutera hingga mencapai tahap produksi menjadi thrown silk.
69 Lampiran 2. Hasil Rekapan Kuisioner dengan Pakar
a. Model Pemilihan Produk Prospektif
Pakar : Drs. Wariso
Raw Silk Thrown Silk Kain
1 Potensi Produk di Pasaran 5 2 3 5
2 Ketersediaan Sarana Produksi 4 4 4 3
3 Ketersediaan SDM 3 4 3 2
4 Keuntungan (harga) 5 3 4 5
5 Nilai Tambah 5 4 4 5
Pakar : Prof. Dr. Drh. Clara M. Kusharto, M.Sc
Raw Silk Thrown Silk Kain
1 Potensi Produk di Pasaran 5 1 3 5
2 Ketersediaan Sarana Produksi 4 4 4 3
3 Ketersediaan SDM 3 4 3 3
4 Keuntungan (harga) 5 3 4 5
5 Nilai Tambah 5 4 4 5
Pakar : Dra. Lincah Andadari, M. Si
Raw Silk Thrown Silk Kain
1 Potensi Produk di Pasaran 4 4 3 5
2 Ketersediaan Sarana Produksi 4 4 4 3
3 Ketersediaan SDM 3 4 4 3
4 Keuntungan (harga) 5 3 4 5
5 Nilai Tambah 5 4 4 5
Hasil Keseluruhan
Raw Silk Thrown Silk Kain
1 Potensi Produk di Pasaran 5 2 3 5
2 Ketersediaan Sarana Produksi 4 4 4 3
3 Ketersediaan SDM 3 4 3 2
4 Keuntungan (harga) 5 3 4 5
5 Nilai Tambah 5 4 4 5
No Kriteria Bobot Alternatif
No Kriteria Bobot Alternatif
No Kriteria Bobot Alternatif
70 b. Model Pemilihan Pasar Potensial
Pakar : Bapak Rido
Garut Tasikmalaya Sukabumi
1 Potensi Pasar 5 5 4 3
2 Kemudahan Menjangkau Pasar 4 3 2 4 3 Ketersediaan Sarana dan Prasarana 3 4 4 2
4 Penawaran Harga 5 3 3 3
5 Biaya Distribusi 4 4 4 3
Pakar : Prof. Dr. Drh. Clara M. Kusharto, M.Sc
Garut Tasikmalaya Sukabumi
1 Potensi Pasar 4 5 5 1
2 Kemudahan Menjangkau Pasar 4 4 3 4 3 Ketersediaan Sarana dan Prasarana 3 4 4 2
4 Penawaran Harga 5 3 3 3
5 Biaya Distribusi 4 4 4 5
Pakar : Dra. Lincah Andadari, M. Si
Garut Tasikmalaya Sukabumi
1 Potensi Pasar 4 5 4 2
2 Kemudahan Menjangkau Pasar 3 4 4 5 3 Ketersediaan Sarana dan Prasarana 3 5 5 1
4 Penawaran Harga 5 4 4 3
5 Biaya Distribusi 4 4 3 5
Hasil Keseluruhan
Garut Tasikmalaya Sukabumi
1 Potensi Pasar 4 5 5 2
2 Kemudahan Menjangkau Pasar 4 4 3 4 3 Ketersediaan Sarana dan Prasarana 3 4 4 2
4 Penawaran Harga 5 3 3 2
5 Biaya Distribusi 4 4 4 5
Bobot Alternatif
No Kriteria Bobot Alternatif
Bobot Alternatif
No Kriteria Bobot Alternatif
No Kriteria
71
KUISIONER
Penggunaan Analytical Hierarchy process (AHP) untuk
PENENTUAN STRATEGI PEMILIHAN PLASMA UNGGUL
Hasil pengisian kuisioner ini akan digunakan untuk keperluan memenuhi tugas
akhir (skripsi) oleh Kusuma Ratih (F34062004) di Departemen Teknologi Industri
Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Nama Responden :
Jabatan :
Tanggal Pengisian :
Tandatangan :
72
PETUNJUK PENGISIAN KUISIONER
I. Umum
1. Isi kolom indentitas yang terdapat di halaman depan kuisioner.
2. Berikan penilaian terhadap Hirarki Penentuan Strategi Pemilihan Plasma
Unggul dengan cara mengisi Lembar Penilaian.
3. Penilaian yang dilakukan dengan membandingkan tingkat kepentingan atau
peran komponen-komponen dalam 1 level hirarki yang berkaitan dengan
komponen-komponen level sebelumnya menggunakan Skala Penilaian yang
terdapat pada petunjuk bagian II.
4. Lembar Penilaian berisi penjelasan masing-masing elemen yang
diperbandingkan, pertanyaan, dan kolom-kolom untuk menuliskan hasil
penilaian.
5. Penilaian dilakukan dengan mengisi titik-titik pada kolom yang telah
disediakan.
II. Skala Penilaian
Skala yang digunakan adalah 1, 3, 5, 7, dan 9 serta 2, 4, 6, dan 8 untuk penilaian
diantara skala tersebut. Apabila hasil penilaian menunjukkan sebaliknya maka
yang digunakan adalah 1, ½, 1/3, ... dan 1/9. Contoh penerapannya adalah
sebagai berikut:
• Jika A sama pentingnya dengan B 1
• Jika A sedikit lebih penting daripada B 3
Jika sebaliknya (B sedikit lebih penting daripada A)
1/3
• Jika A jelas lebih penting daripada B 5
Jika sebaliknya (B jelas lebih penting daripada A)
1/5
• Jika A sangat lebih penting daripada B 7
Jika sebaliknya (B sangat lebih penting daripada A)
1/7
• Jika A mutlak lebih penting daripada B 9
Jika sebaliknya (B mutlak lebih penting daripada A)
1/9
• Nilai skala 2, 4, 6, 8 atau ½, ¼, 1/6, 1/8 diberikan apabila terdapat sedikit saja
perbedaan dengan patokan tersebut di atas.
73