BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4. Pembahasan Hasil Penelitian
4.4.1. Implikasi Penelitian
Dari hasil Uji F diperoleh nilai Fhitung sebesar 14,936 dengan Sig
0,000 < 0,05 yang artinya secara bersama-sama perubahan tiga variable bebas, yaitu Realisasi Pendapatan Asli Daerah (X1), Realisasi Anggaran
Belanja Modal (X2), dan Realisasi Anggaran Belanja Rutin (X3)
berpengaruh secara signifikan terhadap variable terikat, yaitu Pertumbuhan Ekonomi (Y).
4.4.2. Pengaruh Realisasi Anggaran Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Menurut UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah pasal 4 dan 5 menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan dan kegiatan/aktivitas kepemerintahan dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah didanai APBD yang bersumber dari pemerintahan daerah, meliputi pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah.
Secara teori, perubahan jumlah pajak yang mempresentasikan jumlah pendapatan atau penerimaan daerah mempunyai dampak terhadap permintaan agregat dari barang dan jasa di dalam perekonomian (Nanga, 2005: 90 dan 95). Pengertian permintaan agregat atau istilah lainnya adalah PDRB merupakan jumlah barang dan jasa akhir (final goods and services) yang dihasilkan di dalam perekonomian yang diminta pada berbagai tingkat harga (Nanga, 2005: 138). Sehingga permintaan agregat atau PDRB yang dihasilkan oleh suatu negara selama kurun waktu tertentu, biasanya 1 tahun, menunjukkan tahap pertumbuhan perekonomian suatu daerah (Nanga, 2005: 13).
Selain itu, menurut teori pengeluaran pemerintah yang didasarkan pada Hukum Wagner, menurut Musgrave, dinyatakan bahwa pengeluaran pemerintah bersifat relatif, sehingga hukum Wagner adalah “bila dalam perekonomian, pendapatan per kapita meningkat, secara relatif pengeluaran pemerintah pun akan meningkat”. Teori Wagner tersebut disempurnakan oleh Peacock dan Wiseman yang mengemukakan sebuah teori bahwa “perkembangan ekonomi menyebabkan pemungutan pajak yang semakin meningkat walaupun tarif pajak tidak berubah; dan meningkatnya penerimaan pajak menyebabkan pengeluaran pemerintah juga semakin meningkat. Oleh karena itu, dalam keadaan normal, meningkatnya GNP menyebabkan penerimaan pemerintah yang semakin besar, begitu juga dengan pengeluaran pemerintah menjadi semakin besar pula” (Mangkoesoebroto, 1993: 173).
Indikator kinerja perekonomian dan keberhasilan suatu daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah ditunjukkan dengan adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi/PDRB riil (Nanga, 2005: 13; Bastian, 2006: 342). Suatu daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang positif akan meningkatkan pendapatan daerah tersebut, dengan kata lain PAD merupakan ekses dari pertumbuhan ekonomi (Saragih, 2003: 55-58). Pertumbuhan PAD seharusnya sensitif terhadap kenaikan PDRB. Berdasarkan analisis elastisitas PAD terhadap PDRB yang dilakukan oleh Bappenas (2003) pada pemerintah propinsi di Indonesia, 12 propinsi (41,37%) mempunyai nilai elastisitas ≥ 1 (lebih atau sama dengan satu), hal ini menunjukkan bahwa setiap terjadi perubahan pada PDRB akan
memberikan dampak yang positif dan signifikan terhadap perubahan PAD (Adi, 2006: 6).
Temuan empiris Bappenas tersebut didukung oleh penelitian Yuliati (2001: 22) yang menyimpulkan bahwa PAD berpengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun, hasil penelitian ini bertolak belakang dengan uraian- uraian tersebut di atas, jika dilihat dari nilai koefisien regresi pada variabel realisasi anggaran pendapatan asli daerah bahwa realisasi anggaran pendapatan asli daerah cenderung memiliki pola hubungan yang negatif dengan pertumbuhan ekonomi, terbukti dari kurva berikut ini:
Gambar 4.5 di atas menunjukkan bahwa anggaran Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Jembrana tahun 2002 mengalami peningkatan, tetapi pertumbuhan ekonominya mengalami penurunan. Begitu juga dengan tahun 2006 dan 2008, anggaran Pendapatan Asli Daerah mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi pertumbuhan ekonominya malah turun. Turunnya pertumbuhan ekonomi dapat disebabkan karena perlambatan pertumbuhan sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor pengangkutan dan komunikasi yang cukup tinggi.
Berdasarkan data-data PAD dan PDRB Kabupaten/Kota di Propinsi Bali, sebagian besar menunjukkan bahwa tingginya anggaran Pendapatan Asli Daerah, berdampak pada turunnya pertumbuhan ekonomi. Namun turunya pertumbuhan ekonomi tersebut tidaklah signifikan, dilihat dari hasil analisis regresi linier berganda terutama uji t, yaitu nilai thitung
pada variabel realisasi anggaran pendapatan asli daerah adalah -0,023 dengan tingkat signifikan lebih dari 5% yaitu sebesar 0,982 yang berarti realisasi anggaran pendapatan asli daerah secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Hasil ini sesuai dengan penelitian Hamzah (2007) yang menyimpulkan bahwa pendapatan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, malah studi yang lebih spesifik dilakukan Ardani, dkk (2009) bahwa secara statistic memberikan hasil penerimaan pajak tidak berpengaruh secara signifikan namun positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini dimungkinkan karena pajak bersifat kontraproduktif terhadap komponen pertumbuhan ekonomi, sehingga disinyalir penerimaan pajak tidak memberikan dampak terhadap peningkatan pertumbuhan
ekonomi secara langsung dalam jangka pendek, tetapi berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi secara tidak langsung namun dalam jangka panjang ketika diinvestasikan dalam pengeluaran anggaran belanja modal sebagai penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur public yang dapat membantu masyarakat dalam beraktivitas dan nantinya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, selain itu mengapa peneerimaan pajak tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dikarenakan pajak bersifat kontraproduktif, yang aritnya ketika pendapatan masyarakat digunakan untuk membayar pajak/pungutan yang dikenakan kepada masyarakat berdasarkan undang-undang, secara bersamaan di sisi lain kemampuan masyarakat untuk konsumsi akan menurun sehingga kondisi inilah yang disinyalir mengapa penerimaan pajak tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dari sini dapat dilihat kemungkinan bahwa pendapatan asli daerah yang didaperoleh dari pajak mengurangi kemampuan masyarakat untuk membelanjakan dananya di sector lain yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, misalnya untuk konsumsi dan investasi. Selain itu dapat dimungkinkan pula bahwa pendapatan asli daerah oleh pemerintah dalam hal ini sebagian besar hanya difokuskan untuk membiayai belanja modal dan rutin saja.
4.4.3. Pengaruh Realisasi Anggaran Belanja Modal terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan teori pertumbuhan ekonomi Kaum Klasik (Adam Smith, David Ricardo, Thomas Malthus, dan John Stuart Mill), pertumbuhan dan pembangunan ekonomi bersumber utama dari modal
(Suryana, 2000: 59). Sependapat dengan Ekonom Kaum Klasik, Walt
Whitman Rostow dalam bukunya “The Stages of Economic” (1960)
mengemukakan teori 5 tahapan proses pertumbuhan ekonomi untuk menuntut alur proses pertumbuhan atau pembangunan ekonomi suatu negara yang salah satu tahapannya untuk mencapai tahap lepas landas (take
off) adalah berlakunya kenaikan laju investsi/penanaman modal yang
produktif kurang lebih 5-10% dari pendapatan nasional atau produk nasional netto (Jhingan, 1990: 182; Suryana, 2000: 62). Selain itu, model pertumbuhan ekonomi Harrod Domar tentang Teori Pertumbuhan Mantap
(steady growth theory) adalah pengembangan analisis Keynes yang
menekankan atau memberikan peranan kunci tentang perlunya penanaman modal dalam proses penciptaan pertumbuhan ekonomi (Jhingan, 1990: 291; 2000: 66). Akumulasi modal merupakan keharusan bagi pembangunan ekonomi negara yang sedang berkembang untuk menjadi negara yang lebih maju, sehingga semakin besar modal yang tersedia maka akan mempercepat pembangunan ekonomi (Suryana, 2000: 72). Oleh karena itu Malthus berpendapat, untuk adanya perkembangan ekonomi diperlukan adanya kenaikan jumlah kapital untuk investasi yang terus menerus (Irawan dan Suparmoko, 2002: 27).
Menurut model pembangunan tentang perkembangan pengeluaran pemerintah yang dikembangkan W.W. Rostow dengan menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah seiring tahap- tahap pembangunan ekonomi, pada tahap awal perkembangan ekonomi pemerintah membutuhkan investasi yang besar. Teori ini lebih dikenal
dengan teori “dorongan kuat” (big push theory) (Mangkoesoebroto, 1993: 170).
Teori pengeluaran yang dikemukakan oleh Adolf Wagner menyatakan bahwa pengeluaran dan kegiatan pemerintah yang semakin meningkat telah lama dirasakan, tendensi makin meningkatnya pengeluaran
pemerintah oleh Wagner dinamakan “Gesetz der wachsenden Ausdenhnung
den Staatstatigkeiten” atau hukum selalu makin meningkatnya kegitan-
kegitan negara (law of ever increasing state activities). Sehingga hukum
Wagner tersebut oleh R.A Musgrave disebut hukum “growing public
expenditure” atau hukum makin meningkatnya pengeluaran-pengeluaran
pemerintah (Soetrisno, 1984: 364). Selain itu, teori pengeluaran pemerintah lainnya yang dikemukakan oleh Peacock dan Wiseman menyatakan kaitannya bahwa meningkatnya penerimaan daerah menyebabkan meningkatnya pengeluaran pemerintah. Oleh karena itu, dalam keadaan normal, meningkatnya GNP menyebabkan penerimaan pemerintah yang semakin besar (Mengkoesoebroto, 1993: 173).
Penelitian Yuliati (2001: 22) menyimpulkan bahwa pengeluaran pembangunan mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun, hasil penelitian ini bertolak belakang dengan uraian- uraian tersebut di atas, jika dilihat dari nilai koefisien regresi pada variabel realisasi anggaran belanja modal bahwa realisasi anggaran belanja modal cenderung memiliki pola hubungan yang negatif dengan pertumbuhan ekonomi, terbukti dari kurva berikut ini:
Gambar 4.6 di atas menunjukkan bahwa anggaran belanja modal di Kabupaten Tabanan tahun 2002 mengalami peningkatan, tetapi pertumbuhan ekonominya mengalami penurunan. Begitu juga dengan tahun 2006 dan 2008, anggaran belanja modal mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi pertumbuhan ekonominya malah turun. Turunnya pertumbuhan ekonomi dapat disebabkan karena perlambatan pertumbuhan sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor pengangkutan dan komunikasi yang cukup tinggi.
Berdasarkan data-data anggaran belanja modal dan PDRB Kabupaten/Kota di Propinsi Bali, sebagian besar menunjukkan bahwa
tingginya anggaran Pendapatan Asli Daerah, berdampak pada turunnya pertumbuhan ekonomi. Namun turunya pertumbuhan ekonomi tersebut tidaklah signifikan, dilihat dari hasil analisis regresi linier berganda terutama uji t, yaitu nilai thitung pada variabel realisasi anggaran belanja
modal adalah -1,296 dengan tingkat signifikan lebih dari 5% yaitu sebesar 0,200 yang berarti realisasi anggaran belanja modal secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Hasil ini mendukung penelitian Hamzah (2007) bahwa pengeluaran/belanja (tanpa pengkategorian atas belanja pembangunan/ modal atau belanja rutin) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan Harianto dan Adi (2007) menyimpulkan bahwa belanja modal berpengaruh signifikan namun negative terhadap pertumbuhan ekonomi, bahkan secara spesifik penelitian ini mendukung studi yang diolakukan oleh Ardani, dkk (2009) bahwa belanja modal tidak berpengaruh secara signifikan (negative) terhadap pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, menurut Ardani (2009: 141) dalam penelitiannya bahwa dampak alokasi anggaran belanja modal pada tahun 2004 dan 2005 tidak nampak pada pertumbuhan ekonomi karena dipengaruhi factor makro, yaitu krisis global yang memperlambat pertumbuhan ekonomi negara (pada umumnya) dan pada daerah (pada khususnya) sehingga efek anggaran belanja modal kurang nampak, karena bersifat jangka panjang, sedangkan anggaran belanja rutin akan lebih memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi karena bersifat jangka pendek, contohnya anggaran subsidi, untuk melindungi daya beli masyarakat dari krisis global yang memberikan kontraksi negative pada pertumbuhan ekonomi.
Dari sini dapat dilihat kemungkinan bahwa belanja modal tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi karena krisis global yang sedang terjadi pada masa periode penelitian sehingga perekonomian global memang sedang lesu, di samping itu bahwa kepercayaan dunia internasional terhadap keamanan di Bali sedang mengalami krisis pula sebagai dampak persitiwa ledakan bom teroris, sehingga gairah turis potensial juga semakin enggan untuk membelanjakan uangnya berwisata di Bali, padahal pariwisata merupakan penyokong terbesar perekonomian di Bali saat ini.
4.4.4. Pengaruh Realisasi Anggaran Belanja Rutin terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan teori pertumbuhan ekonomi bahwa pada tahap awal pemerintah lebih ditekankan pengeluarannya di bidang barang modal, padahal di sisi lain membutuhkan penggerak untuk barang modal dalam rangka mewujudkan pelayanan publik, yaitu tenaga kerja. Tenaga kerja di pemerintahan yang dimaksud adalah pegawai negeri sipil atau PNS, hal ini mengindikasikan bahwa realisasi anggaran belanja rutin, berupa dana yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan kegiatan kepemerintahan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, menurut Hukum Wagner yang berbunyi “kegiatan pemerintah selalu meningkat, baik kegiatan rutin yang terprogram maupun yang tidak, akan memiliki pengaruh pada laju pertumbuhan ekonomi (Mangkoesoebroto, 1993: 173; Soetrisno, 1984: 364). Peningkatan kegiatan pemerintah ini dalam rangka meningkatkan pelayanan publik kepada masyarakat. Teori tersebut didukung oleh penelitian Kurniawan (2008)
yang menyimpulkan bahwa realisasi anggaran belanja rutin berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Hasil penelitian ini sependapat dengan uraian-uraian tersebut di atas, jika dilihat dari nilai koefisien regresi pada variabel realisasi anggaran belanja rutin bahwa realisasi anggaran belanja rutin cenderung memiliki pola hubungan yang positif dengan pertumbuhan ekonomi, terbukti dari kurva berikut ini:
Gambar 4.7: Kurva Belanja Rutin dan Pertumbuhan Ekonomi (Gianyar)
Gambar 4.7 di atas menunjukkan bahwa anggaran belanja rutin di Kabupaten Gianyar tahun 2002 mengalami peningkatan, dan
pertumbuhan ekonominya mengalami peningkatan. Begitu juga dengan tahun 2004, 2005, 2007 dan 2008, anggaran belanja rutin mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, dan pertumbuhan ekonominya meningkat.
Berdasarkan data-data anggaran belanja rutin dan PDRB Kabupaten/Kota di Propinsi Bali, sebagian besar menunjukkan bahwa tingginya anggaran belanja rutin, berdampak pada naiknya pertumbuhan ekonomi, dan kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut signifikan, dilihat dari hasil analisis regresi linier berganda terutama uji t, yaitu nilai thitung
pada variabel realisasi anggaran belanja modal adalah 5,806 dengan tingkat signifikan kurang dari 5% yaitu sebesar 0,000 yang berarti realisasi anggaran belanja rutin secara parsial berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.