• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Tafakur dalam Pendidikan Islam

Bab IV : IMPLIKASI PEMIKIRAN IMAM AL-GHAZALI TENTANG

C. Implikasi Tafakur dalam Pendidikan Islam

Tafakur ( berfikir) dalam kaitannya dengan pendidikan merupakan

langkah yang paling penting untuk mewujudkan adanya keefektifan dan keefisienan dalam pendidikan, khususnya pendidikan islam yang merupakan pendidikan yang berdasarkan Al-Qur’an -Hadits. Dengan demikian sumber pokok untuk mengembangkan pendidikan tidak ada cara lain selain menggunakan akal untuk berfikir dan mendapatkan teori-teori yang mampu diimplementasikan dalam pendidikan islam, sehingga menghasilkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Dalam pendidikan islam terdapat berbagai factor yang mempengaruhi adanya keberhasilan dalam pembelajaran yang saling integral atau menyatu dan saling mempengaruhi dalam mewujudkan tujuan pendidikan islam yaitu membentuk manusia yang sempurna baik secara lahir maupun batih.

Dengan kaitan ini penulis hanya dapat mengambil satu diantara berbagai faktor dalam pembelajaran, yaitu mengenai keterlibatan berfikir dalam metode pembelajaran pendidikan islam. Oleh karena itu, penulis akan menguraikan yang berkenaan dengan factor metode pembelajaran yang sudah lazim digunakan:

a. Metode Ceramah

Metode ceramah ( lecturing ) adalah sebuah metode yang digunakan guru untuk menerangkan dan menjelaskan materi pelajaran dengan menggunakan lesan. Penggunaan bahasa lesan sangat

mempengaruhi adanya keberhasilan dalam pembelajaran, terlebih guru harus menggunakan bahasa yang mudah difahami oleh anak didik, sehingga anak didik mudah menerima, memahami serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pemakaian metode ceramah ini dapat pula menggunakan media pembelajaran yang berguna mempermudah pemahaman materi anak didik baik berupa gambar, sketsa, audio visual dan media yang lain. Oleh karena itu, guru dalam menggunakan metode ini harus mempunyai strategi dalam mengajarkan kepada anak yaitu dengan memikirkan langkah-langkahnya yang meliputi:

Pertama, Persiapan yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menjelaskan tentang tujuan pembelajaran yang akan disampaikan dan memikirkan kelebihan serta kelemahan metode ceramah. Dengan memikirkan hal itu, pendidik akan mempersiapkan sesuatunya apabila teijadi permasalahan, sehingga mudah untuk mencari solusinya.

Kedua, penyajian yang berkenaan dengan pokok-pokok masalah yang akan disampaikan. Dalam penyajian ini pendidik mulai mengaitkan berbagai aspek dalam kehidupan yang sesuai dengan pokok-pokok masalah yang diajarkan dengan refleksi dan analisis untuk mengetahui inter relasi dan menemukan akibat-akibatnya, sehingga anak mulai berfikir dan mengerti bagaimana cara menggabungkan pengalamannya dengan berbagai fenomena yang teijadi, hal itu akan mudah dilakukan peserta didik jika anak didik sudah mengetahui berbagai pengetahuan dan pengalaman dalam materi tersebut. Misalnya dalam al-qur’an surat al-

^ jV OjV

J

y

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang- orang yang berakal.48

Dengan melihat ayat diatas kita dapat memikirkan sesuatu yang terkandung dalam ayat itu, bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada dialam ini tidaklah sia-sia. Dengan memandang langit yang tidak ada tiangnya dan teraturnya benda-benda langit, komet, meteor yang tidak saling bertabrakan,kita akan terpana dan bertanya bagaimana Allah mengatur dan menyusunnya, sehingga dapat begitu sempurnanya. Dengan melihat benda-benda langit itu kita akan merasa hina dihadapan Allah dan mampu untuk melepaskan sifat sombong, riya’ dalam diri manusia. Begitu juga dengan melihat bumi yang kita tempati yang mampu menghasilkan pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanaman-tanaman dan buah- buahan yang mampu dimanfaatkan untuk kehidupan manusia, hal itu tidak dapat kita sadari kalau kita tidak berfikir dan merenung akan ciptaan Allah itu. Selanjutnya dalam pergantian malam dan siang memberikan manfaat yang luar biasa bagi makhluk Allah, hal itu dapat kita lihat pada aktifitas seseorang pada waktu pagi bumi terang karena terkena sinar matahari dimanfaatkan manusia untuk mencari rizki dalam rangka untuk

48Departemen Agama Republik Indonesia, Op.Cit., hal. 109

Im ro n a y a t : 190 A llah m e n je la sk a n d alam firm an -N y a te n ta n g pen cip taan lan g it dan bum i :

mempertahankan kehidupannya, serta menjadikan malamnya istirahat yang diberikan oleh Allah udara yang sejuk, gelap, dan terbebas dari kebisingan, sehingga tubuh manusia sehat kembali untuk dapat melakukan aktifitasnya.

Dalam ayat di atas pula Allah bahwa penciptaan langit dan bumi itu terdapat tanda-tandan bagi orang yang berakal yaitu akal-akal yang sempurna lagi memiliki kecerdasan, karena hanya orang yang cerdaslah dapat mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya masing-masing secara jelas dan gamblang. Lain halnya dengan orang-orang yang tuli dan bisu serta orang-orang yang tidak berakal tidak mampu membaca tanda-tanda yang Allah berikan.49

Ketiga, generalisasi yaitu dengan menggabungkan unsure-unsur yang sama dan yang berlainan untuk mendapatkan kesimpulan-kesimpulan mengenai pokok-pokok masalah yang dalam ayat tersebut mengandung berbagai ilmu untuk membuktikan dan menganalisinya seperti ilmu fisika, ilmu social dan ilmu biologi yang membantu adanya perluasan wawasan anak didik dan membantunya kearah pemikiran yang produktif, sehingga anak mengetahui inti dari pokok -pokok masalah yang diajarkan.

Keempat, setelah anak didik dapat berfikir tentang materi yang telah diajarkan dan mengetahui sebab akibatnya, anak didik akan menyimpulkan yang dapat digunakan dalam berbagai situasi, sehingga nyata makna kesimpulan itu.

49 Abui Fida Asma’il Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu K atsir Juz 4 .Sinar Baru Al-Gensindo, 2004, hal. 358

b. Metode Tanya jawab

Metode tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang

guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta didik tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca sambil memperhatikan pola berfikir diantara peserta.

Dalam proses pembelajaran metode tanya jawab pertanyaan bebas berasal dari siapapun baik dari anak didik maupun dari guru itu sendiri, sehingga guru dan anak didik menjadi obyek sekaligus subyek dalam pembelajaran. Dalam kaitan ini metode tanya jawab menggunakan komunikasi dua arah yaitu terdapat interaksi antara guru dan murid, dan murid dengan guru yang bertujuan untuk mengembangkan wawasan anak didik mengenai materi yang diajarkan serta menggali pengetahuan guru untuk dapat diketahui anak didik dan dapat pula dengan komunikasi multi arah yaitu sebuah komunikasi yang terjadi baik antara guru dengan anak didik maupun antara anak didik dengan anak didik.

Mengenai macam-macam pertanyaan terdapat tiga pertanyaan yaitu, pertanyaan awal pelajaran yaitu suatu pertanyaan yang dilakukan guru / murid dalam rangka untuk mengaitkan atau menghubungkan pengetahuan yang telah disampaikan, pertanyaan ditengah-tengah yaitu pertanyaan yang berlangsung pada waktu proses belajar mengajar untuk mendiskusikan bagian-bagian pelajaran dan menarik fakta baru,

pertanyaan akhir yaitu pertanyaan yang berfungsi untuk mengulang, menghubungkan dan menarik kesimpulan.50

Langkah-langkah dalam metode tanya jawab.

Pertama, guru menentukan tujuan pembelajaran yang akan disampaikan, kemudian melihat apakah terdapat kaitan antara pelajaran yang akan disampaikan dengan pelajaran sebelumnya. Dengan persiapan ini guru mulai membuat teknik untuk melakukan pertanyaan awal yang bertujuan menarik dan memancing siswa agar merespon pertanyaaan awal yang akan menimbulkan pertanyaan baru dari siswa. Untuk memakai metode ini guru harus mengetahui apakah materi yang akan diajarkan mengandung banyak permasalahan atau tidak, karena hal itu akan mempengaruhi keefektifan siswa dalam mengikuti pelajaran. Dalam pertanyaan yang dilontarkan hindarkan dari jawaban yang bersifat simple seperti ya / tidak, karena hal itu tidak akan merespon anak untuk mengembangkan intelegensinya.

Kedua, dalam penyajian materi pelajaran guru harus menggunakan pertanyaan yang menimbulkan pertanyaan kembali dari siswa atau pernyataan baru baik dari siswa maupun dari guru itu sendiri, misalnya kata mengapa, bagaimana, dll. Dengan bertanyaan itu anak dapat memikirkan mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi serta mampu mencari alasan-alasannya dengan bantuan guru, yang disertai dengan fakta. Misalnya mempertanyakan tentang kekuatan dalam al-qur’an surat

( j iajVl J jUa& (>• o ' ffrhwal 6 ' VI j o^H

# 6 U a lu u V I ( l ^ V l j ^

Artinya : Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah (tembuslah), kamu tidak akan dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.51

Dalam ayat di atas pendidik dapat menjelaskan yang akan menimbulkan pertanyaan yaitu dengan menjelaskan selain Allah memberikan tanda -tanda bagi penciptaan langit dan bumi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, Allah juga memberikan kebebasan kepada manusia dalam mengembangkan pemikirannya dalam mencari rahasia ciptaan Allah. Dalam ayat diatas manusia diberikan kekuatan oleh Allah untuk dapat menembus atau melintasi penjuru langit dan bumi. Kekuatan bagi manusia adalah ketajaman berfikir dan kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dalam ayat tersebut tidak sekedar dianjurkan untuk digali dan dikembangkan oleh manusia yang beriman tetapi juga sebagai tantangan bagi semua manusia. Dengan penguasaan ilmu pengetahuan itu manusia dapat membuat pesawat, bahan bakar dan alat-alat lain untuk menyelidiki ciptaan Allah SWT.

Dengan demikian manusia diperintahkan untuk menggunakan akal pikirannya sebaik-baiknya dengan belajar, mengkaji dan memahami fenomena-fenomena baik tekstual maupun kontekstual. Dengan begitu

51 Departemen Agama Republik Indonesia, Op.Cit., hal.887

ar-ro h m an : 33, A lla h m e n je la sk a n d alam firm an -n y a ten tan g ilm u p engetahuan :

guru mempertanyakan kepada anak didik tentang ayat tersebut, kemudian anak mulai mengembangkan pertanyaan, sehingga menjadi komunikasi multi arah yang dapat merangsang keingintahuan anak didik.

Ketiga, menyimpulkan beberapa pertanyaan yang berhasil dijawab dan menganalisis apakah kesimpulan itu sesuai dengan teori yang ada atau tidak. Kemudian memberikan komentar dan alasan yang mudah diterima oleh anak didik.

Kelima, untuk pengaplikasiannya guru dengan murid melakukan experimen untuk mencari kebenarannya dan mendiskusikannya dengan orang-orang yang ahli yang akan menambah keyakinan anak terhadap kebenaran sesuatu,

c. Metode Demonstrasi

Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipakai untuk menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan suatu keija fisik atau pengoperasian peralatan barang atau benda. Metode demonstrasi digunakan untuk memberikan contoh pengajaran yang membutuhkan gerak fisik secara langsung, sehingga anak langsung bisa mengalami sendiri setelah melihat demontrasi tersebut.

Langkah-iangkah untuk menggunakan metode demonstrasi misalnya pelajaran shalat adalah :

Pertama persiapan yang perlu dipersiapkan guru adalah :

■ Guru menyusun tujuan pembelajaran dengan berbagai aspek yaitu aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik, sehingga diharapkan

peserta didik akan dapat melaksanakan kegiatan yang di demonstrasikan itu setelah pertemuan berakhir. Dalam aspek kognitif, pendidik memberikan tesk / bacaan shalat untuk dihafalkan disertai dengan artinya yang bertujuan memberikan pengetahuan tentang bacaan dalam shalat. Sedangkan dalam aspek afektif, guru menjelaskan tentang sesuatu yang terkandung dalam shalat yaitu menjelaskan dengan memberi makna kenapa kita berbaris, sujud, duduk dll. Sehingga anak dapat mengambil hikmah setelah pelajaran berakhir. Aspek psikomorik yaitu melakukan shalat dengan ketentuan yang telah diberikan dengan baik dan benar, sehingga mampu dilakukan pada shalat-shalat fardlu.

■ Menetapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan baik berupa orang, alat maupun media lainnya, hal itu perlu dilakukan untuk menyusun sistematika dalam pelaksanaan demonstrasi.

■ Mencoba terlebih dahulu demonstrasi itu agar tidak gagal pada saat tiba waktunya yaitu dengan melatih yang akan melakukan shalat atau orang yang shalatnya telah benar dan betul baik bacaan maupun gerakannya.

■ Dengan melihat waktu yang dibutuhkan serta mempertimbangkan waktunya mencukupi atau tidak.

Kedua penyajian antara lain :

■ Selama demonstrasi mempertanyakan kepada anak apakah anak-anak dapat mendengar keterangan-keterangan baik yang berupa bacaan shalat maupun gerakannya dengan jelas. Hal itu dilakukan supaya demontrasi tetap lancar dan tidak ada halangan serta anak akan memahami demontrsasi tersebut.

■ Kedudukan alat apakah sudah cukup baik, sehingga semua peserta didik dapat melihat dengan jelas.

■ Memperhatikan penggunaan alat bantu pengajaran lainnya, sesuai dengan luasan makna dan sisi dari demonstrasi.

Ketiga penutup yaitu : Menilai rencana untuk menilai untuk kemajuan murid. Seringkah perlu terlebih dahulu dilakukan diskusi- diskusi dan peserta didik mencobakan kembali atau mengadakan demonstrasi ulang untuk memperoleh kecekatan kembali

d. Metode Diskusi

Kata diskusi berasal dari bahasa Latin “ discussio, di-cutere,dis- cussum memecahkan dalam berbagai potongan, memperbincangkan keuntungan dan kerugiannya, bertukar pikiran, atau berdebat. Jadi diskusi adalah semacam pembicaraan bebas ( free talk ) yang diarahkan pada pemecahan masalah.52 Dalam pengertian yang umum diskusi adalah suatu proses yang melibatkan dua atau lebih individu yang berinteraksi seara verbal dan saling berhadapan muka mengenai suatu tujuan atau sasaran

32 Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, PT. Grafindo Persada, Jakarta, 1998, hal. 130

sudah tertentu melauli tukar menukar informasi ( information sharing ), mempertahankan pendapat ( se lf maintenance), atau pemecahan masalah ( problem solving ).53

Metode diskusi dalam pendidikan adalah suatu cara penyajian / penyampaian bahan pelajaran, dimana guru memberikan kesempatan kepada peserta didik / kelompok-kelompok peserta didik untuk mengadakan pembicaraan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas sesuatu masalah.54 Dengan kesempatan yang diberikan guru kepada muridnya untuk menyampaikan pendapatnya secara iimiyah dan mencari solusi pemecahan masalah akan meningkatkan daya berfikir anak didik, sehingga memudahkan anak didik menemukan dan mengambil kesimpulan secara tepat.

Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah: Pertama, persiapan yang dilakukan guru adalah :

• Mengemukakan permasalahan yang akan didiskusikan dan memberikan pengarahan seperlunya mengenai cara-cara pemecahannya, dan dapat pula pokok permasalahan ditentukan antara guru dan murid.

• Kemudian menentukan tugas masing-masing untuk efektifnya diskusi misalnya menentukan moderator dan notulen .

• Membentuk / membagi peserta diskusi kedalam beberapa kelompok

53 Ramayulis, Op.Cit., hal. 253 54 Ibid

Kedua penyajiannya, Guru membagi bahan yang akan didiskusikan kepada setiap kelompok untuk dibahas dalam tiap -tiap kelompok, setelah pembahasan setiap kelompok selesai, kemudian dipresentasikan untuk dibahas dalam antar kelompok untuk mencari kesimpulan dan solusinya. Dengan presentasi yang dilakukan setiap kelompok akan mempertajam pikiran yaitu untuk mencari penyelesaian berbagai masalah dalam kelompok tersebut yang dengan sendirinya peserta didik akan melihat dari berbagai aspek yang dibantu oleh guru sebagai pengarah adanya diskusi tersebtu.

Ketiga,evaluasi dalam arti membacakan kembali hasilnya untuk dikoreksi sepenuhnya dan membuat dokumentasi untuk bahan pertimbangan dan perbaikan diskusi yang akan datang yang bertujuan untuk melihat kembali kekurangan yang perlu disempurnakan,

e. Metode Team Teaching ( Mengajar Beregu)

Team theching ialah suatu sistim yang mengajar dilakukan dua orang guru atau lebih dalam mengajar sejumlah peserta didik yang mempunyai perbedaan minat, kemampuan atau tingkat kelas.55

Untuk melakukan pengajaran yang lebih efektif dan efisien serta menanamkan keija sama dalam memperluas wawasan anak didik lebih tepat menggunakan metode ini. Karena dalam metode ini akan dapat dikembangkan peserta didik sesuai dengan potensinya.

Langkah-langkah dalam pembelajaran beregu

Pertama persiapan. Guru harus menjelaskan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran serta menjelaskan bahwa pembelajaran ini disajikan oleh beberapa orang.

Kedua penyajian, dalam penyajian yang harus dilakukan adalah: ■ Anggota tim memberikan keterangan atau informasi tentang bahan

pelajaran yang telah ditentukan sesuai kemampuan yang dimiliki peserta didik.

■ Pada waktu anggota menerangkan , anggota lain diperkenankan memberikan keterangan ( tambahan atau pengurangan) tentang materi tersebut. Hal ini perlu dilakukan karena antara tim satu dengan yang lain terdapat berbedaan baik dalam pengalaman maupun pengetahuan. ■ Setelang anggota tim pertama, kedua dan ketiga memberikan

tambahan dan pengurangan, maka anggota .tim pertama melanjutkan keterangannya. Jika terjadi pertentangan , maka dimungkinkan terjadi diskusi antar anggota tim.

■ Pemimpin tim menyajikan kesimpulan tentang isi bahan pelajaran. Ketiga penutup. Dalam penutup pelajar boleh menyalin dan bertanya serta memberikan tanggapan-tanggapan terhadapa isi pelajaran. Dalam penutup ini pula dapat dilakukan penilaian,

f. Metode Pemecahan Masalah

Metode pemecahan masalah adalah suatu cara penyajian pelajaran dengan mendorong peserta didik untuk mencari dan memecahakan masalah / persoalan dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran.

Dengan metode ini guru memberikan pelajaran bagaiman untuk memecahkan suatu masalah dengan cara-cara tertentu, sehingga anak didik mulai mampu untuk memcahkan masalahnya sendiri.

Langkah-langkah metode pemecahan masalah

Guru mempersiapkan bahan yang akan dibahas. Hendaklah guru mempersiapkan bahan yang memungkinkan peserta dapat memecahkan permasalahannya sendiri, hal itu disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa, sehingga anak tidak merasa bosan dan pesimis. Untuk mencari bahan guru dapat mengambil dari materi maupun gejala social yang banyak mengandung permasalahan, misalnya kenapa banyak teijadi kenakalan remaja, apa sebabnya dan bagaimaan menyelesaikannya.

Setelah guru mempersiapkan bahan, kemudian mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk membantu dalam penyelesaian masalah untuk dijadikan fakta yang kemudian akan dipercahkan bersama yaitu misalnya tentang data pendidikan remaja, data pendidikan orang tua, pergaulannya dll. Yang akan memberikan keterangan secara obyektif dan memungkinkan dicarai solusinya. Untuk menghasilkan data tersebut anak disuruh mencari baik dengan wawancara, angket maupun mengamati sendir.

Setelah data diperoleh guru memberikan gambaran teknih pemecahan masalah yang akan dilakukan peserta didik bersama kelompoknya masing-masing.Dalam mencari pemecahannya, anak didik mungkin bisa dan tidak bisa menyelsaikan masalah tersebut. Jika tidak

ditemukan pemecahannya maka anak disuruh berdiskusi mengapa tidak ditemukan dengan melakukan pemikiran baik secara induktif maupun deduktif.

Tahap yang terakhir adalah membuat kesimpulan tentang permasalahan tersebut dan mencatat penyelesaian dengan tertib untuk

BABY PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Nama lengkap Imam Ghazali adalah Abu Hamid Imam Al-Ghazali. Beliau dilahirkan di desa Ghazalen, dekat Tus, Iran Utara pada tahun 1058 M. ( 450 H) dan wafat dalam usia 55 tahun ( 1111 M / 505 H ). Pemikiran Al- Ghazali dalam pendidikan antara lain tentang tujuan pendidikan islam, metode, kurikulum, pendidik, anak didik.

2. Tafakur ( berfikir ) adalah mempertimbangkan dengan akal mengenai segala sesuatu, sehingga dapat diambil manfaat yang berupa ilmu pengetahuan untuk mengembangkan ataupun mencari langkah yang efektif yang bertujuan untuk menghindarkan bahaya dan mengatasi sesulitan demi kelancaran dalam kehidupan. Adapun Buah atau hasil dari tafakur adalah ilmu pengetahuan yang akan memberikan kontribusi dalam pemikiran, sehingga ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan baik dan sesuai dengan perkembangan zaman. Keutamaan tafakur yaitu dengan bertafakur mengetahui ke Maha Kuasaan Allah dan ke-Maha Besaran-Nya yaitu dengan mengambil ibarat yang terkandung dalam ciptaan-Nya. Penjelasan mengenai jalan-jalan berfikir yaitu memikirkan sesuatu yang berupa perbuatan taat, perbuatan maksiyat, sesuatu yang membinasakan dan sesuatu yang menyelamatkan

3. Tafakur dalam keterlibatannya dalam pendidikan islam dapat memberikan wawasan kepada guru untuk mengembangkan pikirannya dalam berbagai aspek baik tujuan pendidikan, kurikulum, m eto d e(^ Tafakur khusus yang berkaitan dengan metode yaitu untuk mendapatkan metode yang sesuai dengan tujuan pendidikan dengan mengembangkan pemikiran anak didik diantaranya metode ceramah, metode Tanya jawab, metode diskusi, metode team teaching dan metode demontrasi

B. SARAN-SARAN

Dengan berbagai uraian diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa penggunaan akal sangatlah penting, karena hal itu akan membawa kemajuan bagi tatanan kehidupan manusia dan mengetahui untuk apa dan bagaimana kita hidup di dunia serta memperlakukan peran masing-masing. Maka pada kesempatan ini penulis memberikan saran semoga dapat memberikan kontribusi.

1. Kepala sekolah dapat menggunakan pemikirannya untuk mempertimbangkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan sekolahnya yang berorientasi kepada makna dan potensi anak didiknya serta memberikan kebebasan kepada guru untuk memilih metode sesuai dengan keahliaannya.

2. Pendidik , dalam pembelajaran guru hendaklah menggunakan metode yang mampu memberikan bekas dan tidak mudah dilupakan anak didik

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah , Saleh, Abdurrahman, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan A l- Q u r’an, Rineka Cipta, Jakarta, 1994.

Achmadi, Islam Paradigma Ilm u Pendidikan, Aditya Media, Semarang, 1992 Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4 , Darul Kitab Al-islami, Surabaya

Ali, Noer, Herry, Azaz-azaz Pendidikan Islam, CV. Diponegoro, Bandung, 1988. Al-Wafa, Abu, Al-Ghanimi Al-Taftazani, S u fi D a ri Zaman ke Zaman, Pustaka,

Bandung, 1985.

Anshori, Shaefuddin, Endang, H., M.A J lm u Filsafat dan Agama, Pt. Bina Ilmu, Surabaya, 1987.

_______________________ ., Wawasan Islam, Gema Insani Prees, Jakarta, 2004. A rief, Armai, Pengantar Ilm u dan M etodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pers,

Jakarta, 2002.

Bakker, Anton, et.al., Metodologi Peneitian Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1990.

Daib Hawwa , Sa’id bin Muhammad, Mensucikan jiw a : Konsep Tazkiyatun Nafs Terpadu, Robbani Press, Jakarta, 2001.

Departeman Agama Republik Indonesia, A l-Q u rfan dan Terjemahanya, PT. Kumudasmoro Grafindo Semarang, 1994.

Departemen Pendidikan Nasional , Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 2002.

Hadi, Sutrisno, Metodoogi Reseach jilid /, Yayasan Penerbitan Psikologi, Yogyakarta, 1981.

Husein, Zaid, al- Hamid , M ukhtashar ihya’ Ulumuddin, Pustaka Amani, Jakarta. 1995.

Ibnu Katsir, Isma’il, Abui Fida , Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 .Sinar Baru Al-

Dokumen terkait