Pendidikan di Indonesia, telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum. Pada tanggal 15 Juli 2013 telah diberlakukannya sistem pendidikan dengan menggunakan kurikulum 2013 dan telah diterapkan di 6.221 sekolah sejak Tahun pelajaran 2013/2014 dan di semua sekolah di seluruh tanah air pada Tahun Pelajaran 2014/2015. Akan tetapi, keputusan itu dicabut dengan ditandai penerbitan surat dari kementrian pendidikan dan kebudayaan RI nomor: 179342/MPK/KR/2014 tanggal 5 Desember 2014 yang berisi tentang menggentikan pelaksaaan kurikulum di sekolah- sekolah dan kembali menggunakan kurikulum 2006 serta tetap menerapkan kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah menerapkan sistem ini selama 3 semester.
Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran yang harus dipelajari oleh seluruh tingkat jenjang pendidikan di Indonesia. Bagi pengguna kurikulum 2013 atau kurikulum 2006 di tingkat SMA, bahasa dan sastra Indonesia masuk ke dalam mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional. Dengan demikan, materi dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia harus dikuasai oleh siswa agar lulus pada ujian tersebut.
Salah satu sumber materi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah surat kabar. Selain fungsi surat kabar untuk memberikan informasi bagi pembacanya, kelebihan surat kabar lainnya adalah terdapat banyak jenis berita yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran.
Seperti materi menganalisis struktur kata berimbuhan, surat kabar Pos Kota kolom Jakarta dapat dijadikan yang sebagai sumber belajar dalam materi tersebut. Sebelum memulai dan menjelaskan materi pelajaran, guru perlu membuat rencana pelaksanaan, agar kegiatan pembelajaran berlangsung secara terstruktur dan mampu dipahami siswa dengan baik.
Selain itu, penelitian ini mempunyai pengaruh dan kelebihan terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA, yaitu memudahkan dalam mencari bahan ajar. Karena koran merupakan salah satu media massa yang paing dekat degan kita karena mudah dijangkau, dengan menggunakan koran sebagai bahan ajar materi struktur kata imbuhan, siswa dapat mengetahui prefiks, infiks dan sufiks pembentuk nomina dalam surat kabar. Selain itu, siswa juga memperoleh informasi dari koran yang dijadikan sumber pembelajaran tersebut. Dengan demikian, berdasarkan kelebihan koran yang telah diutarakan, alangkah jika para pendidik menggunakan koran sebagai bahan ajar dan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah terlampir.
79
A.
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian bahwa prefiks, infiks dan sufiks pada koran Pos Kota kolom Jakarta edisi Januari 2016 adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan prefiks pembentuk nomina sebanyak 363, dengan rincian: penggunaan 352 prefiks pe-, dan sebelas prefiks se-.
2. Tidak ditemukan penggunaan infiks pembentuk nomina.
3. Penggunaan sufiks pembentuk nomina menduduki penggunaan afiks pembentuk nomina tertinggi yaitu sebanyak 438, dengan rincian: 409 sufiks –an, dua puluh tujuh sufiks –isasi, satu sufiks –isme, dan satu sufiks
–ir.
Implikasi penggunaan prefiks dan sufiks pembentuk nomina terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah, dapat diterapkan pada kelas XI yang menggunakan kurikulum 2013, dengan kompetensi inti memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan aktual, konseptual, prosuderal, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusian, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya memecahkan masalah dan kompentensi dasar menganalisis struktur kata, frasa, dan klausa serta dengan indikator siswa mampu menganalisis struktur kata berimbuhan. Dengan demikian, penelitian ini dapat dijadikan sumber materi untuk siswa dalam menganalisis struktur kata berimbuhan.
B.
Saran
Berdasarkan kesimpulan dan implementasi di atas, beberapa saran berikut dapat menjadi masukan bagi pihak-pihakk yang terkait, antara lain:
1. Saran untuk siswa, dalam membaca surat kabar hendaknya siswa memperhatikan penggunaan imbuhan terutama afiks pembentuk nomina, sehingga siswa mengetahui afiks pembentuk nomina yang digunakan dalam surat kaba, sehingga dapat membantu siswa dalam mengerhadapi materi tentang imbuhan.
2. Saran untuk guru, sebagai seorang pengajar seharusnya memaksimalkan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dengan memperhatikan empat aspek keterampilan berbahasan serta menggunakan banyak sumber dalam mengajar, karena ilmu pengetahuan tidak hanya bersumber dari buku. 3. Saran untuk pembaca, tidak hanya informasi yang bisa pembaca dapatkan
dari surat kabar, tetapi penggunaan prefiks dan sufiks pembentuk nomina yang benar.
Selain tiga saran yang telah dipaparkan di atas, penelitian ini mempunyai pengaruh dan kelebihan terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA, yaitu memudahkan dalam mencari bahan ajar. Karena koran merupakan salah satu media massa yang paing dekat degan kita karena mudah dijangkau, dengan menggunakan koran sebagai bahan ajar materi struktur kata imbuhan, siswa dapat mengetahui prefiks, infiks dan sufiks pembentuk nomina dalam surat kabar. Selain itu, siswa juga memperoleh informasi dari koran yang dijadikan sumber pembelajaran tersebut. Dengan demikian, berdasarkan kelebihan koran yang telah diutarakan, alangkah jika para pendidik menggunakan koran sebagai bahan ajar dan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah terlampir.
Ali, Muhammad. Metodologi dan Aplikasi Riset Pendidikan. Bandung: Pustaka Cendikia Utama, 2010.
Alwasilah, A. Chaedar. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa, 1993. Anwar, Rosihan. Bahasa Jurnalistik dan Komposisi. Yogyakarta: Penerbit Media
Abadi, 2004.
Barus, Sedia Willing. Jurnalistik Petunjuk Teknis Menulis Berita. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010.
Chaer, Abdul. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta, 2015.
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Farkhan, Muhammad. An Introduction To Linguistics. Jakarta: UIN JAKARTA PRESS, 2006.
Freeman, David E., and Freeman, Yvonne S. Essential Linguistics. Portsmouth: United States of America on Acid-Free Paper, 2004.
Kridalaksana, Harimurti. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia, 2009.
____________________. Kelas Kata Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia, 1986.
____________________. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Utama, Edisi Kedua, 1996.
Kuncoro, Mudrajad. Mahir Menulis Kiat Jitu Menulis Artikel Opini, Kolom & Resensi Buku. Jakarta: Penerbit Earlangga, 2009.
Lieber, Rochelle. Introducting Morphology. New York: Cambridge University Press, 2010.
Mahsun. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.
Muhtadi, Asep Saeful. Jurnalistik Pendekatan Teori & Praktik. Ciputat: PT Logos Wacana Ilmu, 1999.
_______________. Pengantar Linguistik Umum Bidang Morfologi Seri B. Flores: Penerbit Nusa Indah, 1977.
Ramlan, M. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: PH. CV Karyono, 1980.
Santana , Septian K . Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.
Sarwoko, Tri Adi. Inilah Bahasa Indonesia Jurnalistik. Yogyakarta: CV ANDI OFFSET, 2007.
Setiati, Eni. Ragam Jurnalistik Baru dalam Pemberitaan. Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2005.
Suhaemin., dan Nasrullah, Ruli. Bahasa Jurnalistik. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009.
Suryawati, Indah. Jurnalistik Suatu Pengantar. Bogor: Ghalia Indonesia, 2011. Syamsuddin, AR., dan Damaianti, Vismaia S. Metode Penelitian Pendidikan
Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006.
Tarigan, Henry Guntur. Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa, 2009.
Verhaar, J.W. M. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1982.
Yunus, Syarifudin. Jurnalistik Terapan. Bogor: Ghalia Indonesia, 2010.
Zuhriah, Nurul. Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007.
orang tuanya terhadap pendidikan di yayasan Attaqwa membuat wanita kelahiran Bekasi ini menuntaskan pendidikannya di TK 01 Attaqwa Pusat, melanjutkan di Madrasah Ibtidaiyah 03 Attaqwa dan Madrasah Ibtidaiyah 02 Attaqwa Puteri dan meneruskan pendidikan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Attaqwa 01 Puteri Pusat, Bekasi Utara.
Selanjutnya, pada tahun 2011 anak perempuan dari pasangan H. Mukhtar Murikh dan Hj. Mursanih ini melanjutkan pendidikannya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain mengikuti kegiatan akademik di kampus, ia juga pernah aktif di organisasi intra dan ekstra kampus, seperti HMJ PBSI dan HMI. Motto hidupnya adalah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain, dan menjadi guru salah satu cara agar bermanfaat bagi orang lain.