• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

mbar 2.5. Contoh Peta Tiga Lokasi

2.7. Indeks Harga Konsumen

dengan M adalah banyaknya ramalan yang dilakukan, &L[6 adalah data sebenarnya dan &BL @ adalah data hasil ramalan pada l-langkah ke depan.

2.7. Indeks Harga Konsumen

2.7.1. Definisi Indeks Harga Konsumen

IHK merupakan indeks yang menggambarkan perubahan harga pada sekelompok barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga pada periode tertentu. BPS menggunakan IHK sebagai salah satu dasar penghitungan inflasi nasional dan regional. Untuk menjamin bahwa IHK menunjukkan perubahan harga yang secara tidak langsung juga mengindikasikan perubahan daya beli masyarakat, maka penghitungan IHK menggunakan paket komoditas tetap pada tahun dasar. Besaran paket komoditas barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga disusun dalam bentuk diagram timbang paket komoditas. Diagram timbang menunjukkan persentase nilai konsumsi tiap-tiap jenis barang/jasa terhadap total rata-rata pengeluaran rumah tangga disuatu kota.

Perkembangan kebutuhan barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat cukup pesat sejalan dengan perubahan yang dinamis kondisi sosial ekonomi

masyarakat, sehingga paket komoditas dan diagram timbang IHK diperbarui secara periodik. Dalam perkembangannya, penyusunan paket komoditas dan diagram timbang IHK telah beberapa kali mengalami perubahan baik metode penghitungan, cakupan kota, dan jumlah paket komoditas yang dihitung. Paket komoditas dan diagram timbang disusun berdasarkan hasil SBH yang dilaksanakan 5-10 tahun sekali. Pada tahun 2012, SBH dilaksanakan di 82 kota besar, dengan cakupan sampel mencapai 136.080 rumah tangga.

Pemilihan paket komoditas yang dimasukkan dalam paket komoditas dan diagram timbang IHK adalah:

a. Barang dan jasa yang pada umumnya dikonsumsi masyarakat di kota tersebut. Barang mewah yang dikonsumsi oleh sebagian kecil masyarakat tidak dimasukkan dalam paket komoditas.

b. Secara terus menerus tersedia dipasar dalam waktu yang lama dan proporsi nilai konsumsi tidak kurang dari 0,02 persen.

c. Barang dan jasa yang mempunyai persentase nilai konsumsi terhadap total konsumsi barang kurang dari 0,02 persen tetapi penting untuk keperluan hidup sehari-hari.

Berdasarkan hasil SBH 2012 diperoleh 7 kelompok barang dan jasa yang menjadi paket komoditas yaitu :

a. Kelompok bahan makanan,

b. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, c. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, d. Kelompok sandang,

e. Kelompok kesehatan, f. Kelompok pendidikan,

g. Kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan.

Untuk menghitung nilai IHK pada bulan berjalan dilakukan Survei Harga Konsumen (SHK). Konsep harga yang digunakan dalam penghitungan IHK adalah sejumlah uang yang dibayarkan konsumen untuk membeli barang dan jasa yang mereka beli. Perubahan harga barang masing-masing komoditi tidak sama, biasanya tergantung pada tingkat konsumsi, musiman, dan ada juga komoditas barang dan jasa yang dikendalikan atau disubsidi oleh pemerintah seperti BBM,

listrik, uang sekolah, tarif angkutan, tarif air, dan biaya jasa telepon. Kondisi ini menyebabkan cara pengumpulan data harga untuk setiap komoditas berbeda-beda. Harga yang frekuensi perubahannya tinggi dikumpulkan secara mingguan (bahkan untuk harga beras dikumpulkan harian). Harga komoditas lainnya dikumpulkan dua mingguan dan bulanan. Pengumpulan harga dapat dilakukan lebih cepat apabila ada fluktuasi perubahan harga yang tinggi, misalnya hari raya dan musim liburan.

Tempat pemantauan data harga konsumen adalah pasar tradisional, pasar swalayan, dan outlet. Pasar adalah tempat terjadinya transaksi jual beli antara pedagang dan pembeli. Pada pasar tradisional, masih ada proses tawar-menawar antara pedagang dengan pembeli. Sedangkan pada pasar modern, harganya sudah tetap misalnya menggunakan label harga sehingga tidak ada lagi proses tawar menawar. Berbeda dengan pasar, outlet adalah tempat yang menyediakan atau menjual barang-barang yang khusus atau berupa jasa. Contoh outlet adalah seperti toko bangunan, fastfood, rumah sakit, PLN, serta praktek dokter.

Pasar yang akan didata dipilih secara purposive dari pasar yang ada dengan kriteria sebagai berikut:

a. Pasar tersebut merupakan pasar yang dijadikan acuan harga bagi pasar-pasar disekitarnya,

b. Pasar yang relative besar,terletak didaerah kota, dan berbagai komoditi dapat ditemui,

c. Masyarakat banyak yang berbelanja disana, dan waktu keramaian berbelanja panjang.

Sedangkan responden dalam SHK adalah pedagang yang menjual barang dan jasa kebutuhan rumah tangga secara eceran. Responden yang terpilih merupakan pedagang yang mempunyai kriteria:

a. Pedagang yang mempunyai tempat yang tetap,

b. Pedagang yang mempunyai berbagai macam komoditi yang diperdagangkan, relatif besar sehingga menjamin kelangsungan pencacahan,

c. Banyak masyarakat yang berbelanja, mudah diwawancarai, jujur, dan bersahabat.

2.7.2. Penghitungan Indeks Harga Konsumen dan Inflasi

Nilai IHK diperoleh melalui perbandingan nilai konsumsi pada suatu periode berjalan dengan nilai konsumsi pada tahun dasar hasil SBH terakhir (Rosidi, Riduan, dan Sugiharto, 2005). Nilai konsumsi adalah jumlah nilai yang dikeluarkan oleh rumah tangga untuk memperoleh suatu komoditas untuk dikonsumsi. Nilai konsumsi suatu komoditi merupakan perkalian harga komoditias dengan kuantitas (banyaknya) yang dikonsumsi. Formula yang digunakan untuk menghitung IHK masing-masing kota adalah berdasarkan formula Laspeyres dengan modifikasi sebagai berikut:

mþ =ƒ , ( , T ( , k, ƒ T k, k, 2.76 dengan :

- mþ = Indeks harga konsumen periode ke-t - , = Harga jenis barang ke-g, periode ke-t - ( , = Harga jenis barang ke-g, periode ke-(t-1)

- ( , k, = Nilai konsumsi jenis barang ke-g, periode ke-(t-1) - k, k, = Nilai konsumsi jenis barang ke-g pada tahun dasar - ² = Jenis barang paket komoditas

Indeks Harga Konsumen merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menghitung tingkat inflasi. BPS menghitung angka inflasi dengan membandingkan antar bulan atau inflasi bulan ke bulan (month to month), bulan yang sama pada tahun ke-A dengan tahun ke-(A-1) atau inflasi tahun ke tahun (year on year) dan inflasi tahun kalender dengan membandingkan IHK bulan tahun ke-A terhadap bulan desember tahun ke-(A-1). Formula inflasi bulan ke bulan sebagai berikut:

mA @ DŸ Z@ A = ëmþ fZ@ A − mþ fZ@ A mþ fZ@ A (

Formula inflasi tahun ke tahun (y on y) sebagai berikut:

mA @ DŸ A ¸ = ë ` 6 L C L ¸ − mþ ` 6 L C L ¸(

` 6 L C L ¸( ì× 100% 2.78

Dan formula inflasi tahun kalender sebagai berikut:

mA @ DŸ @EA Eظ = ë ` 6 L C L ¸ − mþ # " C L ¸(

# " C L ¸( ì×100% 2.79

2.7.3. Penghitungan IHK di Kalimantan

Penghitungan IHK di Kalimantan dilakukan pada 9 (Sembilan) kota meliputi Pontianak, Singkawang, Sampit, Palangkaraya, Tanjung, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, dan Tarakan. Kota Singkawang dan Tarakan masuk dalam penghitungan kota inflasi sejak tahun 2008, sedangkan Kota Tanjung tahun 2014.

Tabel 2.5.Penimbang Kota, Jumlah Jenis Barang/jasa, dan Rata-rata Nilai Konsumsi Rumah Tangga Per Bulan Kota-kota di Kalimantan Hasil SBH 2012

No Nama Kota Penimbang Kota Inflasi Terhadap Inflasi Nasional (persen) Jumlah Jenis Barang dan Jasa Rata-Rata Nilai Konsumsi Rumah Tangga per bulan

(Rupiah) 1 Samarinda 1,43 386 5.668.102,32 2 Banjarmasin 1,38 376 4.819.849,55 3 Balikpapan 1,10 386 5.505.871,22 4 Pontianak 1,05 376 5.263.191,98 5 Palangkaraya 0,46 349 5.221.135,66 6 Tarakan 0,37 339 4.853.739,50 7 Sampit 0,25 338 4.726.489,43 8 Singkawang 0,23 311 4.432.167,49 9 Tanjung 0,11 312 4.819.849,55

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013

Hasil SBH 2012 seperti terlihat pada Tabel 2.5 menunjukkan bahwa andil inflasi terbesar terhadap inflasi nasional pada kota-kota di Kalimantan adalah

Kota Samarinda yaitu sebesar 1,43 persen, sedangkan yang terendah adalah Kota Tanjung sebesar 0,11 persen. Sedangkan rata-rata nilai konsumsi rumah tangga hasil SBH 2012 di Kalimantan yang tertinggi adalah Kota Samarinda sebesar Rp 5.668.102,32 per bulan dan yang terendah adalah Kota Singkawang sebesar Rp 4.432.167,49. Kota dengan kelompok empat besar berkontribusi lebih dari 1 (satu) persen terhadap angka inflasi nasional adalah Kota Samarinda, Banjarmasin, Balikpapan dan Pontianak.

Cakupan komoditas yang akan disurvei setiap bulan untuk menyusun IHK masing-masing kota juga berbeda. Kota inflasi di Kalimantan dengan jumlah cakupan komoditas barang dan jasa yang tertinggi hasil SBH adalah Samarinda dan Balikpapan sebanyak 386 komoditas, Banjarmasin dan Pontianak sebanyak 376 komoditas, sedangkan yang terendah adalah Kota Singkawang sebanyak 311 jenis.

Dengan memperhatikan andil inflasi dan jumlah cakupan komoditas barang dan jasa dalam penghitungan IHK, maka dalam penelitian ini kota yang digunakan untuk lokasi penelitian adalah Pontianak, Balikpapan, Banjarmasin, dan Samarinda. Ke empat kota juga terdapat kantor perwakilan Bank Indonesia sehingga tersedia data jumlah uang beredar yang akan digunakan dalam analisis lebih lanjut.