Hendra Syamsir
Risiko industri perbankan Indonesia masih dalam kondisi “Normal”. Berdasarkan update data perbankan bulan Juli 2017, dan data pasar bulan Agustus 2017, angka BSI pada bulan Agustus 2017 mengalami penurunan sebesar 6 bps bila dibandingkan dengan angka BSI pada bulan Juli 2017, yaitu dari 99,40 menjadi 99,34.
Angka sementara Banking Stability Index (BSI) untuk periode Agustus 2017 mengalami penurunan sebesar 6 bps, yaitu dari 99,40 pada Juli 2017 menjadi 99,34. Penurunan yang terjadi pada BSI bulan Agustus didukung oleh penurunan yang terjadi pada Sub Indeks Market Pressure (MP) dan Sub Indeks Interbank Pressure (IP), sementara Sub Indeks Credit Pressure (CP) mengalami peningkatan. Sub Indeks MP mengalami penurunan sebesar 29 bps dari 100,19 pada bulan Juli 2017 menjadi 99,90 pada bulan Agustus 2017 dan Sub Indeks IP mengalami penurunan sebesar 88 bps dari 100,09 pada bulan Juni 2017 menjadi 99,21 pada bulan Juli 2017. Sebaliknya, Sub Indeks CP mengalami peningkatan sebesar 33 bps dari 98,85 pada Juni 2017 menjadi 99,19 pada Juli lalu. Angka BSI pada bulan Agustus 2017 yang berada pada level 99,34 menunjukkan risiko industri perbankan Indonesia berada pada kondisi “Normal”.
Sumber: LPS
Gambar 18. Banking Stability Index (BSI) dan Sub Indeks Credit Pressure (CP)
Pada bulan Juli 2017 rasio gross NPL mengalami sedikit peningkatan. Rasio gross NPL meningkat sebesar 4 bps dari 2,96 pada bulan Juni 2017 menjadi 3,00 pada bulan Juli 2017. Meskipun mengalami peningkatan, namun kekuatan modal perbankan masih cukup tinggi sehingga masih bisa digunakan untuk mengantisipasi risiko kenaikan gross NPL tersebut. Rasio permodalan perbankan pada bulan Juli 2017 tercatat sebesar 23,23%, meningkat 49 bps dari bulan Juni 2017 yang sebesar 22,74%. Angka gross NPL pada bulan Juli 2017 masih lebih baik jika dibandingkan dengan NPL pada periode yang sama di tahun 2016 yang mencapai angka 3,18%.
Di sisi likuiditas, LDR industri mengalami penurunan sebesar 11 bps dari 89,31% di bulan Juni 2017 menjadi 89,20% di bulan Juli 2017. Pada bulan Juli 2017, terjadi penurunan kredit MoM sebesar 0,47% dan DPK MoM sebesar 0,34%. Secara YoY, pertumbuhan kredit pada bulan Juli 2017 lebih baik
35
dibandingkan dengan pertumbuhan kredit yang terjadi pada bulan Juni 2017. Sebaliknya, pertumbuhan DPK secara YoY pada bulan Juli 2017 melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan DPK yang terjadi pada bulan Juni 2017. Pada bulan Juli 2017 kredit YoY mengalami pertumbuhan sebesar 7,85%, meningkat jika dibandingkan dengan bulan Juni 2017 yang sebesar 7,37%, sementara DPK YoY mengalami pertumbuhan sebesar 9,03% turun jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan Juni 2017 yang sebesar 9,63%.
Pada bulan Juli 2017, ROE perbankan mengalami penurunan. ROE menurun sebesar 13 bps dari 14,89% pada Juni 2017 menjadi 14,76% pada bulan Juli 2017. Penurunan yang terjadi pada ROE di bulan Juli 2017 sejalan dengan meningkatnya NPL pada periode yang sama. Meskipun mengalami penurunan, nilai ROE pada bulan Juli 2017 masih lebih baik jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2016 yang hanya menyentuh level 13,73%.
Suku bunga kredit mengalami penurunan untuk semua jenis kredit. Pada bulan Juli 2017 suku bunga kredit untuk modal kerja mengalami penurunan sebesar 1 bps dari 11,12% pada bulan Juni 2017 menjadi 11,11%. Suku bunga kredit untuk investasi mengalami penurunan sebesar 3 bps dari 11,00% di bulan Juni 2017 menjadi 10,97% di bulan Juli 2017. Suku bunga untuk kredit investasi mengalami penurunan sebesar 7 bps dari 13,21% di bulan Juni 2017 menjadi 13,14% pada bulan Juli 2017.
Data Juli 2017 menunjukkan terjadi penurunan di sisi penempatan dana antar bank riil, yaitu dari Rp 146,7 Triliun pada Juni 2017 lalu menjadi Rp 110,6 Triliun. Sementara, JIBOR O/N mengalami penurunan sebesar 26 bps, yaitu dari 4,36% pada bulan Juli 2017 menjadi 4,10% pada bulan Agustus 2017.
Sumber: LPS
Gambar 19. Sub Indeks Interbank Pressure (IP) dan Market Pressure (MP)
Pada akhir bulan Agustus 2017, Sub Indeks MP mengalami penurunan. Penurunan ini dipicu oleh perbaikan performa dua Sub Indeks MP, yaitu imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sementara Sub Indeks MP lainnya, yaitu kurs tengah rupiah terhadap dolar AS kembali mengalami depresiasi. Pada bulan Agustus 2017 ini kurs tengah rupiah terdepresiasi sebesar 0,21% dari 13.323 di bulan Juli 2017 menjadi 13.351 di bulan Agustus 2017.
36
Imbal hasil obligasi pemerintah untuk tenor 10 tahun pada bulan Agustus 2017 mengalami penurunan sebesar 26 bps dari 6,95% pada akhir Juli 2017 menjadi 6,69% pada akhir Agustus lalu. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia untuk tenor 10 tahun sepanjang tahun ini telah menjadi penurunan yang tertinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Meskipun mengalami penurunan yang tinggi, namun tingkat imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia untuk tenor 10 tahun masih menjadi yang paling tinggi di antara imbal hasil obligasi pemerintah di negara lainnya dengan tenor yang sama. Bagi Indonesia, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah unuk tenor 10 tahun di tahun 2017 ini tidak terlepas dari meningkatnya
sovereign credit rating Indonesia menjadi BBB-/A-3 dengan outlook stabil dan peringkat
“Investment Grade” yang diberikan oleh Standard & Poor's (S&P).
Sementara itu, IHSG pada penutupan di akhir Agustus 2017 mencapai 5.864,06 atau meningkat 23,12 poin dari posisi penutupan bulan Juli 2017. Pada penutupan perdagangan akhir Agustus lalu, transaksi perdagangan tercatat Rp6,55 triliun dari 10,5 miliar lembar saham diperdagangkan. Meskipun secara MoM IHSG mengalami peningkatan, namun jika dilihat secara
daily IHSG pada tanggal 31 Agustus 2017 ditutup melemah 8,4 poin atau 0,14% dengan total net sell asing mencapai Rp234,25 Miliar.
37
KOORDINATOR
Fauzi Ichsan, Didik Madiyono
Moch. Doddy Ariefianto, Hendra Syamsir, Seno Agung Kuncoro
Ahmad Subhan, Seto Wardono, Dienda Siti Rufaedah
ANALIS
Laporan Perekonomian dan Perbankan ini dipublikasikan dalam rangka pelaksanaan fungsi Lembaga Penjamin Simpanan untuk turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan. Tujuan penerbitan laporan ini adalah untuk meningkatkan wawasan dan kewaspadaan publik terhadap berbagai potensi risiko perekonomian dan sistem keuangan ke depan. Laporan Perekonomian dan Perbankan ini memuat hasil monitoring dan analisis Lembaga Penjamin Simpanan mengenai perkembangan ekonomi makro, pasar keuangan, perbankan, industri, dan indeks stabilitas perbankan
Pendapat / Saran / Komentar dapat ditujukan kepada : Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan Direktorat Penjaminan dan Manajemen Risiko Equity Tower lantai 39
Sudirman Central Business District (SCBD) Lot 9 Jalan Jend. Sudirman Kav. 52-53
Jakarta 12190
Telp : +62 21 515 1000 ext 340 Email : [email protected]
Website : www.lps.go.id