• Tidak ada hasil yang ditemukan

Independensi Hakim dalam Mengadili dan

Dalam dokumen Indeks Negara Hukum Indonesia 2014 (Halaman 62-67)

A. Deskripsi Hasil Survei dan Dokumen

3. Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka

3.1. Independensi Hakim dalam Mengadili dan

Skor indikator pertama ini adalah 6,13: sebagai rerata skor dari subindikator independensi peradilan dalam proses persidangan

dengan nilai 6,72 dan subindikator independensi hakim dalam memutus perkara dengan nilai 5.53.

a. Independensi Hakim dalam Proses Persidangan

Laporan Tahunan Mahkamah Agung Tahun 2014 menyebut bahwa jumlah perkara PK yang diputus dalam jangka waktu 1-6 bulan sebanyak 2.248 perkara atau 71,08 persen. Sedangkan sisa perkara tahun 2014 sebanyak 4.425 perkara. Rasio sisa perkara dibandingkan dengan beban perkara tahun 2014 sebanyak 18.926 perkara (23,38%).

Jumlah sisa perkara tahun 2014 berkurang 31,02 persen dibandingkan tahun 2013 yang berjumlah 6.415 perkara. Nilai rasio sisa perkara tersebut berkurang 5,20 persen dari tahun sebelumnya (28,58 persen). Dengan demikian, jumlah sisa perkara maupun persentase sisa perkara mengalami penurunan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya, bahkan dalam sepanjang sejarah Mahkamah Agung RI.

Mahkamah Agung menyadari bahwa meskipun masing- masing pengadilan (baik tingkat pertama maupun tingkat banding) telah melaksanakan sistem manajemen perkara berbasis elektronik, namun pada kenyataannya penyelesaian perkara masih diselesaikan dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, Ketua MA menerbitkan Surat Edaran MA Nomor 2 Tahun 2014, yang meminta agar pengadilan tingkat pertama dapat menyelesaikan perkara paling lambat 5 bulan dan untuk pengadilan tingkat banding paling lambat 3 bulan, termasuk penyelesaian minutasi.

Kebijakan ini dapat dimaknai setidaknya pada dua hal: pertama, ternyata ketersediaan teknologi di pengadilan belum dimanfaatkan secara optimal apabila dihubungkan dengan masih cukup banyak perkara yang tidak terselesaian dengan waktu yang relatif cepat (di bawah 6 bulan). Kedua, kebijakan ini akan mendorong hakim untuk tidak berbelit-belit dan sesuai dengan jadwal persidangan yang ditentukan dalam menyelesaikan perkara.

Sistem manajemen perkara berbasis elektronik juga sebaiknya dimanfaatkan sebagai media informasi bagi publik, khususnya mengenai komposisi keanggotaan majelis hakim dan perkara yang ditanganinya. Keberadaan informasi tersebut akan meminimalisir

ketimpangan distribusi perkara dan mencegah terjadinya benturan kepentingan apabila salah satu pihak berperkara memiliki hubungan keluarga atau kekerabatan dengan salah satu anggota majelis hakim.

Sementara itu, Laporan Tahunan Mahkamah Konstitusi juga mencatat bahwa persentase jumlah perkara Pengujian Undang- Undang (PUU) dan Sengketa Kewenangan Lembaga Negara (SKLN) yang diputus, 62,26 persen (103.77 persen dari target yang ditetapkan). Sedangkan persentase jumlah perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum dan Pemilihan Umum Kepala Daerah (PHPU Pemilukada) yang diputus, 100 persen (100 persen dari target yang ditetapkan).

Diagram 3.13: Ketua Pengadilan atau Hakim Sudah Mendistribusikan Perkara Kepada Majelis Hakim Secara Adil dan Merata Sepanjang

Tahun 2014

Sedangkan hasil survei ahli menunjukan bahwa cukup banyak Ketua Pengadilan atau hakim yang ditunjuk telah mendistribusikan perkara kepada Majelis Hakim secara adil dan merata. Secara persentase, ahli yang menilai demikian sebesar 33 persen untuk sebagian besar hakim, dan 11 persen untuk seluruh hakim. Meski demikian skor survei terhadap distribusi perkara secara adil dan merata adalah yang paling kecil dibanding pertanyaan-pertanyaan lainnya, sebagaimana yang terlihat dari tabel 3.2.

Tabel 3.2: Skor Survei Subindikator Independensi Hakim dalam Proses Persidangan

No. Pertanyaan Skor Survei

1. Apakah Ketua Pengadilan atau Hakim yang ditunjuk

telah mendistribusikan perkara kepada Majelis Hakim secara adil dan merata sepanjang tahun 2014?

5.35

2. Apakah hakim telah memberikan kesempatan yang

sama kepada para pihak untuk menggunakan haknya dalam proses persidangan di sepanjang tahun 2014?

6.74

3. Apakah hakim dalam memeriksa perkara tidak

berbelit-belit dan sesuai dengan jadwal waktu persidangan yang telah ditentukan?

5.90

4. Apakah hakim telah menghindari konflik kepen-

tingan terhadap perkara dalam memeriksa dan mengadili perkara yang ditanganinya di sepanjang tahun 2014?

5.76

b. Independensi Hakim dalam Memutus Perkara

Tidak ada dokumen yang memadai sebagai dasar penilaian independensi hakim dalam memutus perkara. Bertumpu pada tiga kuesioner yang dapat dinilai, skor survei terkecil terdapat pada pertanyaan: “Apakah hakim telah terbebas dari pengaruh, tekanan, dan/atau intervensi dari pihak manapun dalam memutus perkaradi sepanjang tahun 2014?” Skor yang diperoleh dari pertanyaan ini adalah 5,07, dengan persentase terbesar pada sebagian kecil hakim telah terbebas dari pengaruh, tekanan, dan/atau intervensi dari pihak mana pun dalam memutus perkara (69 persen).

Diagram 3.14: Hakim Terbebas dari Pengaruh, Tekanan dan/atau Intervensi dari Pihak Manapun dalam Memutus Perkara Sepanjang

Sebagaimana diagram di atas, tergambar bahwa hanya 14 persen ahli yang meyakini bahwa sebagian besar hakim telah terbebas dari pengaruh, tekanan, dan/atau intervensi dari pihak mana pun. Artinya, hakim (masih) sangat rentan untuk dipengaruhi. Temuan tersebut seperti mengafirmasi teori Adams dan Allemeersch, bahwa pengadilan sebagai sebuah institusi menjadi tidak benar-benar independen karena kontrol eksternal yang dilakukan di atasnya.

Selain pertanyaan yang dapat diberikan skor, ahli juga diberikan beberapa pertanyaan untuk mengetahui pihak yang paling sering memengaruhi, menekan, dan/atau mengintervensi hakim dalam memutus perkara sepanjang tahun 2014.

Tabel 3. 3: Pihak yang Paling Sering Mempengaruhi Independensi Pengadilan

No. Pihak Sering Sangat sering

1. Pengusaha 50.00% 22.22%

2. Pihak Berperkara/Advokat 50.00% 19.44%

3. Pejabat pengadilan yang lebih tinggi 38.89% 5.56%

4. Anggota Dewan 38.89% 5.56%

5. Partai Politik 33.33% 5.56%

6. Pemerintah Pusat/Daerah 27.78% 11.11%

7. Organisasi Kemasyarakatan 27.78% 2.78%

8. Tokoh Masyarakat 19.44% 0%

Pengusaha dan advokat/pihak yang berperkara merupakan pihak-pihak yang secara tradisional paling sering memengaruhi hakim dalam menjatuhkan putusan. Selain itu, diurutan ke tiga ialah pejabat pengadilan yang lebih tinggi -bersamaan dengan anggota dewan. Hasil ini mengindikasikan bahwa hakim belum sepenuhnya lepas dari budaya senioritas. Keberlanjutan karir, penempatan tugas, dan kesempatan untuk mengikuti diklat seorang hakim relatif bergantung pada kebijakan yang diambil oleh pejabat pengadilan yang lebih senior, sehingga peluang untuk menyalahgunakan kewenangan yang dilakukan oleh senior atau atasan untuk mempengaruhi independensi hakim cukup terbuka.

Tabel 3. 4: Subindikator Independensi Hakim dalam Memutus Perkara

No. Pertanyaan Skor Survei

1. Apakah hakim telah mempertimbangkan keterangan

para pihak dan fakta persidangan dalam memutus perkara di sepanjang tahun 2014?

6.25

2. Apakah hakim telah memberikan kesempatan yang

sama kepada para pihak untuk menggunakan haknya dalam proses persidangan di sepanjang tahun 2014?

5.28

3. Apakah hakim telah terbebas dari pengaruh, tekan-

an, dan/atau intervensi dari pihak manapun dalam memutus perkaradi sepanjang tahun 2014?

5.07

3.2. Independensi Hakim Terkait dengan Manajemen Sumber Daya

Dalam dokumen Indeks Negara Hukum Indonesia 2014 (Halaman 62-67)

Dokumen terkait