• Tidak ada hasil yang ditemukan

Independensi institusional disebut juga sebagai political atau goal independence, karena dalam independensi ini berarti status lembaga pengawas yang secara mendasar terpisah dari eksekutif atau pemerintah, bebas dari pengaruh legislatif atau parlemen, bebas untuk merumuskan tujuan/sasaran akhir dari kebijakannya tanpa pengaruh dari lembaga politik dan atau pemerintah (Sulistyandari, 2012: 182-183).

Independensi institusional pada OJK dapat dilihat dalam Pasal 4 UU OJK yang menetapkan bahwa tujuan OJK dibentuk agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan: (a) terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel; (b) mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil; dan (c) mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.

commit to user

Untuk melaksanakan tujuan tersebut OJK mempunyai fungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan (Pasal 5 UU OJK), dan tugas pengaturan dan pengawas OJK terhadap: (a) kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan; (b) kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal; dan (c) kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan lainnya (Pasal 6 UU OJK).

Dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan untuk mencapai tujuan tersebut OJK berkoordinasi dan bekerjasama dengan lembaga lain. Di bidang perbankan OJK berkoordinasi dengan BI (Pasal 39, 40, 41 ayat (2) dan 43 UU OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) (Pasal 41 ayat (1), 42 dan 43 UU OJK). Perlu disinkronisasikan antara UU OJK dengan UU BI (Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang kemudian diubah lagi dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009), Undang-Undang Perbankan (Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan), dan Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan (Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004) khususnya yang berkaitan dengan tugas pengaturan dan pengawasan perbankan yaitu Pasal 24-35 Undang Bank Indonesia, Pasal 29-37B Undang-Undang Perbankan dan Pasal 21 Undang-Undang-Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan, karena berkaitan dengan tugas pengawasan perbankan khususnya yang berkaitan dengan bank gagal. Pemerintah melalui Menteri Keuangan dalam Komite Koordinasi (Menurut Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan istilahnya menjadi Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan) oleh Undang-Undang Lembaga Penjamin

commit to user

Simpanan diberi kewenangan untuk ikut campur tangan dalam fungsi pengawasan perbankan yang menurut Undang-Undang Bank Indonesia dan Undang-Undang Perbankan menjadi otoritas BI dengan alasan memelihara stabilitas sistem perbankan. Oleh karena itu ketika tugas pengawasan perbankan oleh BI kemudian dilakukan oleh OJK, maka ketika terjadi bank gagal penyelesaiannya jangan sampai terjadi campur tangan pemerintah karena hal tersebut akan menjadikan OJK tidak independen secara institusional dalam tugas pengawasan perbankan (Pasal 41 UU OJK jo. Pasal 37 UU Perbankan jo. Pasal 21 UU LPS) (Sulistyandari, 2012: 184).

Mencermati independensi institusional pada diri OJK, bila dibandingkan dengan independensi institusional pada diri BI melalui Undang-Undang Bank Indonesia dapat dilihat dalam Pasal 4 UU BI yang menyebutkan bahwa BI adalah Bank Sentral Republik Indonesia.

BI adalah lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan Pemerintah dan atau pihak-pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam UU BI ini. Secara struktural kedudukan BI tidak berada di bawah atau di dalam Kabinet Pemerintah, namun mempunyai kedudukan sejajar dengan Pemerintah (Nindyo Pramono, 2010:2). Selanjutnya UU BI menyebutkan bahwa tujuan BI adalah untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, BI mempunyai tugas:

a. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;

b. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; dan c. Mengatur dan mengawasi bank (Pasal 7, 8 UU BI).

UU BI juga menyebutkan bahwa pihak lain dilarang melakukan segala campur tangan terhadap pelaksanaan tugas BI, dan BI wajib menolak atau mengabaikan segala bentuk campur tangan dari pihak manapun dalam melaksanakan tugasnya (Pasal 9). Mengenai tugas BI selain diatur di dalam UU BI, diatur pula dalam Undang-Undang Perbankan khususnya yang berkaitan dengan tugas pengaturan dan

commit to user

pengawasan (Bab V Pasal 29-37B) dan UU LPS karena Pasal 37B UU Perbankan merupakan dasar hukum eksistensi UU LPS. Penjelasan umum UU LPS mengatakan bahwa dengan pengaturan mengenai LPS diharapkan kepercayaan masyarakat akan diperoleh, ada kepastian hukum dalam pengaturan dan pengawasan bank serta penjaminan simpanan nasabah untuk meningkatkan kelangsungan usaha bank yang sehat. Berkaitan dengan tugas pengawasan perbankan khususnya yang berkaitan dengan bank gagal, Pasal 21 UU LPS menyatakan bahwa LPS melakukan penanganan bank gagal yang berdampak sistemik setelah Komite Koordinasi menyerahkan penanganannya kepada LPS. Komite Koordinasi adalah komite yang beranggotakan Menteri Keuangan, LPP, BI dan LPS. Artinya Pemerintah melalui Menteri Keuangan oleh UU LPS diberi kewenangan untuk ikut campur tangan dalam fungsi pengawasan perbankan yang menurut UU BI dan UU Perbankan menjadi otoritas BI dengan alasan memelihara stabilitas sistem perbankan. Ketentuan UU LPS tersebut pernah dilaksanakan ketika terjadi krisis global tahun 2008 terhadap Bank Century dan ternyata kebijakan pemerintah (Menteri Keuangan) dipermasalahkan oleh DPR dan berujung politis pada kemunduran Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, namun secara hukum seharusnya permasalahan itu masih berjalan. Artinya dengan masih adanya campur tangan Pemerintah, maka BI belum dapat melaksanakan independensinya dalam tugasnya untuk mengawasi perbankan (Sulistyandari, 2012:129).

Berbeda halnya jika maksud dari adanya campur tangan Pemerintah yang merupakan tujuan untuk mekanisme kerjasama, koordinasi dan sinkronisasi yang konkrit antara otoritas moneter dan otoritas fiskal. Hal tersebut dapat dilihat dalam pengaturan Pasal 43 ayat (1) huruf a UU BI yang berbunyi, “Rapat Dewan Gubernur diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam sebulan untuk menetapkan kebijakan umum di bidang moneter yang dapat dihadiri oleh seorang menteri atau lebih yang mewakili Pemerintah dengan hak

commit to user

bicara tanpa hak suara”. Dengan adanya pembatasan hak suara, maka menteri atau pejabat Pemerintah yang hadir tidak dapat mempengaruhi keputusan BI dalam menetapkan kebijakannya. Namun, rapat telah mempertimbangkan faktor-faktor lain di luar moneter sehingga keputusan yang diambil tidak akan bertentangan dengan kebijakan sektor fiskal dan riil. Pengaturan ini menurut Penulis tidak diakomodasikan ketika terjadi kasus Bank Century karena dalam implementasinya menggunakan pengaturan dalam UU LPS untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, sehingga secara tidak langsung sangat terlihat bahwa BI sebagai otoritas perbankan belum dapat melaksanakan independensinya dengan mengikuti kebijakan Pemerintah.

Mencermati analisis dari independensi institusional yang ada pada BI dan OJK, pada intinya BI dan OJK sama-sama lembaga yang terpisah dari kekuasaan eksekutif (Pemerintah) dan kekuasaan legislatif (parlemen) yang berpegang pada independensi dengan tidak diperkenankannya adanya campur tangan dari Pemerintah dan pihak lain untuk melaksanakan tugasnya sebagai otoritas pengawas perbankan.

Untuk mendapatkan independensi yang kuat seiring dengan pengalihan pengawasan perbankan dari BI ke OJK memang harus disinkronisasikan antara Undang-Undang Perbankan, Undang-Undang Bank Indonesia dan Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan khususnya terkait dengan pengaturan dan pengawasan perbankan.

Diharapkan dengan independensi yang diberikan kepada OJK tidak menjadikan kedudukan OJK sebagai negara di dalam negara dan harus tetap tunduk pada sistem hukum yang berlaku.