• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Keberhasilan

Dalam dokumen FAKHRIYAH ZULFADLIYANI (Halaman 68-0)

BAB III METODE PENELITIAN

H. Teknik Pengumpulan Data

I. Teknik Analisis Data dan Indikator Keberhasilan

2. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini terdiri dari dua macam yaitu indikator proses dan indikator hasil belajar. Indikator proses ditandai dengan peningkatan aktivitas dari siklus 1 ke siklus II dan berada pada kategori baik. Setelah di terapkan pendekatan Sains Teknologi Masysrakat (STM) maka secara perindividu mencapai KKM yang di tentukan sekolah yaitu 70 dan keberhasilan tercapai 80% secara klasikal.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

Pada hari rabu tanggal 30 april 2014 peneliti menemui kepala sekolah dan guru kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kab. Gowa untuk membicarakan rencana penelitian. Peneliti juga menyampaikan rencana pelaksanaan tes awal pada pertemuaan tersebut. Kepala sekolah memberikan izin kepada Peneliti untuk pelaksanaan penelitian. Dan mempersilahkan untuk berhubungan langsung dengan guru kelas V dalam menetapkan jadwal pelaksanaan tes awal dan rencana pelaksanaan tindakan penelitian. Dalam diskusi antara peneliti dan guru kelas V SD Inpres Mangasa 1, disepakati bahwa tes awal dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 3 mei 2014 mulai pukul 09.00 - 10.20 WITA. Tes awal diikuti oleh semua siswa yang berjumlah 35 orang. Pada pelaksanaan tes awal peneliti dibantu olah guru kelas dan 1 orang teman sejawat. Tes awal ini berisi materi daur air . Tes awal dapat dilihat pada lampiran 1.

Setelah tes awal dilaksanakan, maka berdasarkan hasil tes ditemukan masih terdapat siswa yang belum paham tentang materi daur air. Hasil tes awal dapat dilihat pada lampiran 1

Berdasarkan hasil tes dari 35 orang siswa yang menjadi subjek penelitian, diketahui bahwa masih banyak siswa yang belum mampu

53

mengerjakan soal materi daur air karena siswa belum mengerti maksud dari soal dan kurang faham dengan pembelajaran materi daur air. Melihat hal demikian, peneliti mulai melakukan penelitian tindak kelas pada hari senin 5 mei 2014 dengan tujuan untuk memecahkan masalah dan meingkatkan pemahaman serta hasil belajar siswa tentang materi daur air di kelas V

Penelitian tindakan kelas ini telah dilaksanakan pada murid kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa, dimana pelaksanaannya terdiri atas dua siklus. Pada setiap siklus terdiri atas empat tahap yaitu tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

Aktivitas dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini mengumpulkan data hasil penelitian berupa data aktivitas guru dan aktivitas belajar murid selama pembelajaran IPA melalui penerapan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat untuk meningkatkan hasil belajar murid di kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa serta data berupa nilai tes hasil belajar dengan melakukan tes tertulis pada akhir pelaksanaan setiap siklus.

1. Siklus I

a. Obervasi Aktifitas belajar

Pada tahap observasi siklus I tercatat sikap yang terjadi pada setiap murid terhadap pelajaran IPA. Sikap murid tersebut diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada setiap siklus. Lembar observasi tersebut untuk mengetahui perubahan sikap murid selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas.

Adapun distribusi frekuensi observasi aktifitas Murid pada siklus I mengenai pembelajaran IPA tentang materi Daur Air yang berdasarkan langkah – langkah pembelajaran sains dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat dapat dilihat pada tabel .4.1.

Tabel 4.1. Observasi Aktifitas murid pada siklus I

No Aktivitas Belajar Murid

Pertemuan

Ke - Persentase (%) 1 2 3

1 Kesiapan murid dalam mengikuti pembelajaran 15 20 23 55,14 2 Ketertiban murid dalam mengikuti pembelajaran 10 12 11 31,42 3 Kerjasama antar murid dalam kelompok 15 13 20 45,7 4 Keaktifan murid dalam mengikuti proses belajar

mengajar 15 20 21 53,34

5 Keterlibatan murid dalam mengikuti pembelajaran 12 11 15 36,2 6 Keberanian murid dalam mengemukakan

pendapat 5 10 7 20,94

7 Kemampuan murid dalam membangun konsep

baru yang sesuai dengan lingkungan setempat 5 10 15 28,57 8 Kemampuan murid dalam menganalisis masalah 5 6 9 19,06 9 Kemampuan murid dalam memecahkan masalah 6 8 10 22,86 10 Murid melakukan aksi nyata sesuai dengan

masalah yang didapat 15 17 27 56,2

Sumber : diolah dari lampiran 4

Berdasarkan data tabel diatas maka memberikan gambaran mengenai hasil observasi aktivitas belajar IPA dari 35 murid kelas V SD Inpres Mangasa 1 sebanyak 4 kali pertemuan pada siklus I. Dari data di atas dapat disimpulkan sikap murid dari siklus I adalah kesiapan murid dalam mengikuti pembelajaran Pada siklus I 55,14% atau berada dalam kategori baik. Ketertiban murid dalam

mengikuti pembelajaran31,42% atau berada dalam kategori Cukup, kerjasama antar murid dalam kelompok 45,7% atau berada dalam kategori Cukup,keaktifan murid dalam mengikuti proses belajar mengajar 53,34% atau berada dalam kategori Cukup, keterlibatan murid dalam mengikuti pembelajaran 36,2% atau berada dalam kategori Kurang, keberanian murid dalam mengemukakan pendapat 20,94% atau berada dalam kategori Kurang, kemampuan murid dalam membangun konsep baru yang sesuai dengan lingkungan setempat 28,57% atau berada dalam kategori Kurang, kemempuan murid dalam menganalisis masalah 19,06% atau berada dalam kategori Sangat Kurang, Kemampuan murid dalam memecahkan masalah 22,86% atau berada dalam kategori Kurang, Murid melakukan aksi nyata sesuai dengan masalah yang didapat 56,2% atau berada dalam kategori Baik. Adapun grafik dari aktivitas belajar murid pada siklus I dapat dilihat pada grafik 4.1 berikut ini :

Sumber : diolah dari lampiran 4

Gambar 4.1 : Grafik Persentase Hasil Observasi Aktivitas Belajar Murid Siklus I

Keterangan :

1. Kesiapan murid dalam mengikuti pembelajaran.

2. Ketertiban murid dalam mengikuti pembelajaran.

3. Kerjasama antar murid dalam kelompok.

4. Keaktifan murid dalam mengikuti proses pembelajaran.

5. Keterlibatan murid dalam mengikuti pembelajaran.

6. Keberanian murid dalam mengemukakan pendapat.

7. Kemampuan murid dalam membangun konsep baru yang sesuai dengan lingkungan setempat.

8. Kemempuan murid dalam menganalisis masalah 9. Kemampuan murid dalam memecahkan masalah

10. Murid melakukan aksi nyata sesuai dengan masalah yang didapat

b. Hasil Belajar

Pada siklus ini dilaksanakan tes hasil belajar pada hari sabtu 17 mei diperoleh data hasil belajar murid melalui lembar tes pada akhir siklus I. Pada siklus ini, diharapkan murid dapat menjelaskan pengertian daur air, proses daur air secara urut, mampu mengidentifikasi kegiatan manusia yang mempengaruhi daur air, serta memberikan contoh usaha pelestarian daur air, tindak penghematan air serta manfaat air bagi kehidupan. Hasil tes balajar murid siklus I dapat dilihat pada lampiran 10. Berdasarkan lampiran tersebut, maka analisis deskriptif skor hasil belajar IPA murid kelas V SD Inpres mangasa 1 setelah dilaksanakannya pembelajaran melalui penerapan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM), disajikan dalam tabel 4.2 berikut :

Adapun data skor hasil belajar murid secara kuantitatif berdasarkan hasil tes siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.2.Nilai Statistik Hasil Belajar IPA Siklus I

Sumber : diolah dari lampiran 8

=

= 60

Dari tabel diatas kita dapat melihat gambaran tentang kemampuan murid.

Skor rata-rata hasil belajar IPA murid kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa yang didasarkan pada siklus 1 adalah sebesar 60 dari skor ideal yang mungkin dicapai 100, skor tertinggi 90 dan skor terendah 30.

Apabila skor hasil belajar dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase pada tabel dan grafik di bawah ini Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil BelajarIPA

Murid Kelas V SD Inpres Mangasa 1 pada Siklus I.

No. Interval Skor Kualifikasi Frekuensi Persentase

1 0 – 39,9 Sangat kurang 3 8,57

Sumber : Diolah dari Lampiran 9

Berdasarkan tabel di atas, maka kategori hasil belajar IPA Murid Kelas V SD Inpres Mangasa 1dapat digambarkan dalam grafik batang di bawah ini:

Sumber : Diolah dari Lampiran ix

Gambar. 4.2: Grafik Batang Kategori Hasil Belajar Murid Siklus I Berdasarkan tabel dan grafik di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPA yang diperoleh murid setelah menerapkan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat pada siklus I mencapai nilai rata-rata 60 dan berada dalam kategori cukup.

Apabila hasil belajar murid pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus I

No. Skor Kategori Frekuensi % Keterangan

Sumber : diolah dari lampiran x 0

Tabel di atas menunjukkan bahwa pada siklus I, murid yang tuntas belajar hanya 9 murid dan yang tidak tuntas sebanyak 26 murid dari 35 murid, artinya masih banyak murid yang memerlukan perbaikan, dalam hal ini akan diusahakan pada pembelajaran siklus II. Adapun grafik ketuntasan belajar murid pada siklus I dapat dilihat pada grafik 4.2 sebagai berikut :

Sumber : diolah dari lampiran x

Gambar4.3 :Grafik Persentase Ketuntasan Belajar IPA Murid Kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa

c. Tahap refleksi

Pada siklus I proses pembelajaran diawali dengan pengenalan pembelajaran yang digunakan yaitu pendekatan Sains Teknologi Masyarakat.

Penggunaan pendekatan ini pada awalnya masih banyak murid yang kurang tertarik dengan ditandainya banyaknya murid yang melakukan aktifitas-aktifitas negatif seperti ribut, main-main, dan lain-lain.

0

Selama pelaksanaan tindakan refleksi dan analisis diperoleh hal – hal sebagai berikut:

1) Peneliti telah melaksanakan tugasnya dalam pembelajaran mulai dari menyampaikan tujuan pembelajaran, membimbing dan mengarahkan siswa bekerja secara individu maupun secara kelompok.

2) Guru mengamati semua kegiatan pembelajaran dan melakukan penilaian terhadap siswa mulai dari proses pembelajaran hingga akhir pembelajaran.

3) Pengunaan pendekatan yang digunakan guru yaitu pendekatan STM sangat menarik perhatian siswa karena pendekatan tersebut tidak pernah digunakan oleh guru sebelumnya.

4) Pelaksanaan proses pembelajaran masih ditemukan siswa yang belum secara aktif dalam kerja kelompok menyelesaikan soal-soal yang ada pada LKS hal ini disebabkan karena pembagian kelompok yang tidak berjalan secara maksimal karena tugas dan pekerjaan siswa didominasi oleh siswa yang berkemampuan tinggi sehingga siswa yang berkemampuan kurang terlihat kurang aktif.

5) Ada beberapa siswa yang diam atau membuat kegiatan lain saat pembelajaran berlangsung

6) Penggunaan media pembelajaran yang tidak maksimal sehingga kurangnya pemahaman siswa

7) Siswa belum memiliki keberanian mengemukakan ide atau pendapat baik dalam diskusi kelompok maupun dalam diskusi kelas

8) Waktu pembelajaran berlangsung lebih lama dari waktu yang direncanakan.

Hal ini disebabkan karena siswa tidak terbiasa belajar dengan pendekatan STM. kebiasaan siswa selalu menunggu informasi dari guru.

Berdasarkan analisis dan refleksi di atas dan mengacu kepada kriteria sukses yang ditetapkan yaitu siswa secara klasikal belum mencapai 70% maka disimpulkan bahwa pembelajaran masih belum berhasil. Dengan demikian tujuan pembelajaran belum tercapai. Hal ini berarti bahwa pembelajaran tidak dapat dilanjutkan pada materi berikutnya. Oleh karena itu materi ini perlu diulang pada siklus yang ke II dengan beberapa penyempurnaan sebagai berikut:

a) Pembagian dalam satu kelompok terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah

b) Guru harus lebih memaksimalkan pengelolaan kelas.

c) Guru harus lebih memotifasi siswa agar tidak ragu-ragu dalam mengemukakan pendapat

d) Penggunaan media atau alat peraga lebih maksimal atau lebih baik lagi e) Guru hendaknya menggunakan waktu secara efisien

2. Siklus II

a. Hasil observasi Aktifitas belajar

Selama penelitian, selain terjadi peningkatan hasil belajar IPA pada siklus I dan siklus II tercatat sejumlah perubahan yang terjadi pada setiap murid terhadap pelajaran IPA. Perubahan tersebut diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada setiap siklus. Lembar observasi tersebut untuk

mengetahui perubahan sikap murid selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas.

Adapun distribusi frekuensi observasi aktifitas Murid pada siklus II mengenai pembelajaran IPA tentang materi Daur Air yang berdasarkan langkah – langkah pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat dapat diliha pada tabel .4.5 Tabel 4.5. Observasi Aktifitas murid pada siklus II

No Aktivitas Belajar Murid Pertemuan Ke - Persentase 1 2 3 (%)

1 Kesiapan murid dalam mengikuti pembelajaran 23 27 30 76,2 2 Ketertiban murid dalam mengikuti pembelajaran 25 30 30 80.94 3 Kerjasama antar murid dalam kelompok 20 25 35 76,2 4 Keaktifan murid dalam mengikuti proses belajar

mengajar 21 26 34 77,14

5 Keterlibatan murid dalam mengikuti pembelajaran 25 30 31 81,91 6 Keberanian murid dalam mengemukakan

pendapat 20 25 27 68,57

7 Kemampuan murid dalam membangun konsep

baru yang sesuai dengan lingkungan setempat 20 25 29 70,48 8 Kemampuan murid dalam menganalisis masalah 20 21 21 59,05 9 Kemampuan murid dalam memecahkan masalah 18 20 25 60 10 Murid melakukan aksi nyata sesuai dengan

masalah yang didapat 20 35 34 84,76

Sumber : diolah dari lampiran 4

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan murid dari siklus I kesiklus II adalah kesiapan murid dalam mengikuti pembelajaran 76,2% atau berada dalam kategori Baik. Ketertiban murid dalam mengikuti pembelajaran 80,94% atau berada dalam kategori Sangat Baik, kerjasama antar murid dalam kelompok 76,2% atau berada dalam kategori Sanagt Baik, keaktifan murid dalam

mengikuti proses belajar mengajar 77,14% atau berada dalam kategori Sangat Baik, keterlibatan murid dalam mengikuti pembelajaran 81,91% atau berada dalam kategori Sangat Baik, keberanian murid dalam mengemukakan pendapat 68,57% atau berada dalam kategori Baik, kemampuan murid dalam membangun konsep baru yang sesuai dengan lingkungan setempat 70,48% atau berada dalam kategori Baik, kemempuan murid dalam menganalisis masalah 59,05% atau berada dalam kategori Cukup, Kemampuan murid dalam memecahkan masalah 60% atau berada dalam Cukup, Murid melakukan aksi nyata sesuai dengan masalah yang didapat 84,76% atau berada dalam kategori Sangat Baik

Adapun grafik dari aktivitas belajar murid pada siklus II dapat dilihat pada grafik 4.4 berikut ini :

Sumber : diolah dari lampiran iv Gambar 4.4 : Grafik Persentase Hasil Observasi Aktivitas Belajar Murid siklus II

Keterangan :

1. Kesiapan murid dalam mengikuti pembelajaran.

2. Ketertiban murid dalam mengikuti pembelajaran.

3. Kerjasama antar murid dalam kelompok.

4. Keaktifan murid dalam mengikuti proses pembelajaran.

5. Keterlibatan murid dalam mengikuti pembelajaran.

0

6. Keberanian murid dalam mengemukakan pendapat.

7. Kemampuan murid dalam membangun konsep baru yang sesuai dengan lingkungan setempat.

8. Kemempuan murid dalam menganalisis masalah 9. Kemampuan murid dalam memecahkan masalah

10. Murid melakukan aksi nyata sesuai dengan masalah yang didapat

b. Hasil Belajar

Nilai hasil tes IPA melalui pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) pada siklus II sesuai dengan data yang diperoleh dari tes akhir siklus II dengan hasil kuantitatif dipaparkan sebagai berikut:

Tabel 4.6Nilai Statistik Hasil Belajar IPA Siklus II

Statistik Nilai Statistik

Sumber : diolah dari lampiran viii

diperoleh distribusi frekuensi dan persentase pada tabel dan grafik di bawah ini:

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil Belajar IPAMurid Kelas IV SDI Mangasa 1 Pada Siklus II.

No. Interval Skor Kualifikasi Frekuensi Persentase

1 0 – 39 Sangat kurang 1 2,86

Sumber : Diolah dari Lampiran viii

Berdasarkan tabel di atas, maka kategori hasil belajar IPA murid kelas V SD Inpres Mangasa 1dapat digambarkan dalam grafik batang di bawah ini:

Sumber : Diolah dari Lampiran ix

Gambar 4.5:Grafik Batang Kategori Hasil Belajar Murid Siklus II

Berdasarkan tabel dan grafik di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPA pada siklus II mencapai nilai rata-rata 85,14 dan berada dalam kategori tinggi.

Apabila hasil belajar murid pada siklus II dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut:

0

Tabel 4.8 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus II

Sumber : diolah dari lampiran x

Tabel di atas menunjukkan bahwa pada siklus II, murid yang tuntas belajar semakin meningkat yaitu sebanyak 32 murid yang tuntas sedangkan yang tidak tuntas tinggal 3 dari 35 murid.

Adapun grafik ketuntasan belajar murid pada siklus II dapat dilihat pada grafik 4.5 sebagai berikut :

Sumber : diolah dari lampiran x

Gambar4.6 :Grafik Persentase Ketuntasan Belajar IPA Murid Kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa

Untuk melihat hasil belajar murid dalam setiap siklus tercatat pada tabel

Tabel 4.9Peningkatan Hasil Belajar Murid Pada Setiap Siklus

Sumber : diolah dari lampiran x

Berdasarkan tabel di atas dapat dikemukakan bahwa terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar IPA murid setelah diterapkan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat, dari kategori sedang pada siklus I dengan skor rata-rata 60 dan KKM 70 dengan skor tertinggi 90 meningkat pada siklus II dengan skor rata-rata 85,14 dan KKM 70 dengan skor tertinggi 100. Dalam tabel juga menunjukkan bahwa pada siklus ini ketuntasan dalam kegiatan belajar mengajar tercapai. Hal ini ditandai dengan jumlah murid yang mencapai ketuntasan belajar yang meningkat, yaitu dari 9 murid pada siklus I meningkat menjadi menjadi 32 murid pada siklus II.

c. Tahap refleksi

Setelah merefleksi hasil pelaksanaan siklus I, diperoleh suatu gambaran tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus II sebagai perbaikan dari tindakan yang dilakukan pada siklus I.

Pada siklus II terlihat peningkatan dalam proses belajar mengajar. Hal ini terlihat dari keberanian murid untuk bertanya tentang hal-hal yang kurang dipahami dan keberanian murid mengemukakan idea tau pendapat baik dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas, keaktifan mereka untuk memberi

tanggapan terhadap suatu pertanyaan yang diajukan oleh guru. Selain itu, murid yang melakukan aktivitas lain saat pembelajaran berlangsung juga semakin berkurang.

Penampilan tiap kelompok semakin kompak dan baik. Murid mulai berani tampil berbicara di depan teman-tamannya. Kepercayaan diri murid meningkat, sehingga mereka memperlihatkan performance yang lebih baik.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa pada siklus II, antusias dalam mengikuti pelajaran IPA semakin meningkat karena adanya pembelajaran yang melibatkan lansung murid dalam mengkaji hal-hal yang terjadi. Selain itu

keaktifan murid dalam kelompoknya terlihat jelas.

B. PEMBAHASAN 1. Aktifitas belajar

Berdasarkan tinjauan refleksi siklus I dan Siklus II yang telah diuraiakan di atas maka hal tersebut dapat dilihat perbandingan peningkatan aktivitas belajar murid dari siklus I ke siklus II pada tabel 4.10 berikut ini :

Tabel 4.10 Perbandingan Persentase Hasil Observasi Aktivitas Belajar Murid pada Siklus I dan Siklus II

No. Aspek yang Diamati Persentase

Siklus I Siklus II 1. Kesiapan murid dalam mengikuti pembelajaran 55,14 76,2 2. Ketertiban murid dalam mengikuti pembelajaran 31,42 80.94 3. Kerjasama antar murid dalam kelompok 45,7 76,2

4. Keaktifan murid dalam mengikuti proses belajar

mengajar 53,34 77,14

5. Keterlibatan murid dalam mengikuti

pembelajaran 36,2 81,91

6. Keberanian murid dalam mengemukakan

pendapat 20,94 68,57

7.

Kemampuan murid dalam membangun konsep

baru yang sesuai dengan lingkungan setempat 28,57 70,48 8 Kemampuan murid dalam menganalisis masalah 19,06 59,05

9 Kemampuan murid dalam memecahkan masalah 22,86 60

10

Murid melakukan aksi nyata sesuai dengan

masalah yang didapat 56,2 84,76

Sumber : diolah dari lampiran iv

Pada tabel 4.10 dapat diuraikan bahwa kesiapan murid dalam mengikuti pembelajaran pada siklus I sebesar 55,14% meningkat menjadi 76,2% pada siklus II, keterlibatan murid dalam mengikuti pembelajaran 31,42% meningkat menjadi 80,94%. Kerjasama antar murid dalam kelompok 45,7% meningkat menjadi 76,2%, keaktifan murid dalam mengikuti proses belajar mengajar 53,34% meningkat menjadi 77,14%, keterlibatan murid dalam mengikuti pembelajaran 36,2% meningkat menjadi 81,91%, keberanian murid dalam mengemukakan pendapat 20,94% meningkat menjadi 68,57%. Kemampuan murid dalam membengun konsep baru yang sesuai dengan lingkungan setempat 28,57%

meningkat menjadi 70,48%. Kemampuan murid menganalisis masalah 19,06% meningkat menjadi 59,05%. Kemampuan murid dalam memecahkan masalah 22,86% meningkat menjadi 60%. Murid melakukan aksi nyata sesuai dengan masalah yang didapat 56,2% meningkat menjadi 84,76%.

Adapun grafik perbandingan aktivitas belajar murid dari siklus I dan Siklus II yang dapat dilihat pada grafik 4.7 Berikut :

Sumber : Diolah dari lampiran iv

Gambar 4.7 : Grafik Perbandingan Aktivitas Belajar Murid pada Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan grafik tersebut diatas peningkatan aktifitas belajar pada tiap siklus disimpulkan bahwa peningkatan aktivitas murid menjadikan pembelajaran dengan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat lebih bermakna dan berkesan bagi murid. Pembelajaran dengan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat ini dipilih karena dapat meningkatkan hasil belajar murid serta dapat memberikan kesempatan kepada semua murid dari semua tingkat kemampuan murid untuk berperan dalam menyumbangkan poin bagi kelompoknya sehingga pada akhinya dapat meningkatkan hasil belajarnya. Hal ini dimaksudkan agar semua murid memandang pelajaran IPA sebagai pelajaran yang menyenangkan.

0

2. Hasil Belajar Murid

a. Perbandingan nilai statistik kedua Siklus

Tabel 4.11 : Perbandingan nilai Statistik Siklus I dan Siklus II

Statistik Nilai Statistik

Sumber : diolah dari lampiran viii

Adapun grafik perbandingan Nilai Statistik dari siklus I dan Siklus II yang dapat dilihat pada grafik 4.8 Berikut :

Sumber : diolah dari lampiran viii

Gambar 4.8 :GrafikPerbandingan nilai Statistik Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan grafik tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa revisi tindakan yang diambil pada siklus II dalam proses pembelajaran melalui pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) terbukti efektif.

Hasil belajar telah meningkat, dimana motivasi murid dalam menjawab soal-soal serta menganalisis soal yang diberikan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki murid sudah teratasi, dimana tingkat kemampuan murid khususnya pada soal tes tersebut meningkat.

b. Perbandingan Kategori Hasil Belajar kedua Siklus

Tabel di bawah ini memperlihatkan perbandingan peningkatan hasil belajar murid dari siklus I ke siklus II dalam pengelompokan lima kategori menurut Pendapat Elfanany ( 2013 : 85).

Tabel 4.12 Perbandingan kategori Hasil Belajar IPA Konsep Daur air Murid Kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa Siklus I dan Siklus II

No. Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) S I S II S I S II 1 0 – 39,9 Sangat kurang 3 1 8,57 2,86

2 40 – 54,9 Kurang 9 0 25,71 0,00

3 55 – 69,9 Cukup 14 2 40 5,71

4 70 – 84,5 Baik 4 9 11,43 25,71

5 85 – 100 Sangat Baik 5 23 14,29 65,71

Sumber : Diolah dari lampiran ix

Adapun grafik perbandingan tes hasil belajar dari siklus I dan Siklus II yang dapat dilihat pada grafik 4.9 Berikut :

Sumber : Diolah dari lampiran ix

Gambar 4.9 : Grafik Perbandingan Kategori Hasil Tes Belajar IPA Murid Kelas V SD Inpres Mangasa 1 kabupaten Gowa pada Siklus I dan Siklus II

Pada grafik di atas dapat dikemukakan bahwa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan hasil belajar murid pada pembelajaran IPA dalam penerapan pendekatan STM dengan materi Daur Air. Peningkatan hasil belajar menjadikan pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) lebih bermakna dan berkesan bagi murid. Pembelajaran pendekatan STM ini dipilih karena dapat meningkatkan hasil belajar murid serta dapat memberikan kesempatan kepada semua murid dari semua tingkat kemampuan murid untuk berperan dalam menkaji hal-hal yang terjadi serta dapat menyumbangkan poin bagi kelompoknya sehingga pada akhinya dapat meningkatkan hasil belajarnya.

Pada grafik di atas dapat dikemukakan bahwa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan hasil belajar murid pada pembelajaran IPA dalam penerapan pendekatan STM dengan materi Daur Air. Peningkatan hasil belajar menjadikan pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) lebih bermakna dan berkesan bagi murid. Pembelajaran pendekatan STM ini dipilih karena dapat meningkatkan hasil belajar murid serta dapat memberikan kesempatan kepada semua murid dari semua tingkat kemampuan murid untuk berperan dalam menkaji hal-hal yang terjadi serta dapat menyumbangkan poin bagi kelompoknya sehingga pada akhinya dapat meningkatkan hasil belajarnya.

Dalam dokumen FAKHRIYAH ZULFADLIYANI (Halaman 68-0)

Dokumen terkait