BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Indikator Kepuasan Kerja
Menurut Rowland dan Rowland (1997), fungsi manajer dalam
meningkatkan kepuasan kerja staf didasarkan pada faktor-faktor motivasi, yang
meliputi :
1.
Keinginan untuk peningkatan;
2.
Percaya bahwa gaji yang didapatkan sudah mencukupi;
3.
Memiliki kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang
diperlukan;
4.
Umpan balik;
5.
Kesempatan untuk mencoba;
6.
Instrumen penampilan untuk promosi, kerja sama, dan peningkatan
penghasilan.
Penelitian dari Spector (1997), menyatakan bahwa kepuasan kerja
berhubungan dengan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya dan berkaitan
dengan berbagai aspek yang terdapat dalam pekerjaan tersebut yang meliputi :
gaji, promosi, supervisi, tunjangan, imbalan, prosedur kerja, rekan kerja, ciri
pekerjaan dan komunikasi.
Menurut Luthans (2006), lima aspek yang terdapat dalam kepuasan
kerja, antara lain :
1.
Pekerjaan itu sendiri (Work It self). Setiap pekerjaan memerlukan suatu
keterampilan tertentu sesuai dengan bidang nya masing-masing. Sukar
tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya
dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan meningkatkan
atau mengurangi kepuasan kerja.
2.
Atasan (Supervision), atasan yang baik berarti mau menghargai
pekerjaan bawahannya. Bagi bawahan, atasan bisa dianggap sebagai
figur ayah/ibu/teman dan sekaligus atasannya.
3.
Teman sekerja (Workers), Merupakan faktor yang berhubungan dengan
hubungan antara pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai lain,
baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya.
4.
Promosi (Promotion),Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada
tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karier selama
bekerja.
5.
Gaji/Upah (Pay), Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup
pegawai yang dianggap layak atau tidak.
Menurut Sunarto (2004) ada beberapa faktor yang mendorong kepuasan
kerja karyawan, antara lain:
Kebanyakan Karyawan menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi
mereka kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka
dan menawarkan tugas, kebebasan dan umpan balik mengenai betapa baik
mereka mengerjakan. Karakteristik ini membuat kerja secara mental
menantang. Pekerjaan yang terlalu kurang menantang menciptakan kebosanan,
tetapi terlalu banyak menantang menciptaka
kondisi tantangan yang sedang, kebanyakan karyawan akan mengalamai
kesenangan dan kepuasan.
2.
Ganjaran yang pantas.
Para karyawan menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang
mereka persepsikan sebagai adil,dan segaris dengan pengharapan mereka.
Pemberian upah yang baik didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat
keterampilan
akan dihasilkan kepuasan. tidak semua orang mengejar uang.
Banyak orang bersedia menerima baik uang yang lebih kecil untuk
bekerja dalam lokasi yang lebih diinginkan atau dalam pekerjaan yang kurang
menuntut atau mempunyai keleluasaan yang lebih besar dalam kerja yang
mereka lakukan dan jam-jam kerja. Tetapi kunci yang manakutkan upah dengan
kepuasan bukanlah jumlah mutlak yang dibayarkan; yang lebih penting adalah
persepsi keadilan.
Karyawan akan berusaha mendapatkan kebijakan dan praktik promosi
yang lebih banyak, dan status sosial yang ditingkatkan. Oleh karena itu
individu-individu yang mempersepsikan bahwa keputusan promosi dibuat
dalam cara yang adil (fair and just) kemungkinan besar akan mengalami
kepuasan dari pekerjaan mereka.
3.
Kondisi kerja yang mendukung
Karyawan peduli akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi
maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas. Studi-studi memperagakan
bahwa karyawan lebih menyukai keadaan sekitar fisik yang tidak berbahaya
atau merepotkan. Temperatur (suhu), cahaya, kebisingan, dan faktor lingkungan
lain seharusnya tidak esktrim.
4.
Rekan kerja yang mendukung
Orang-orang mendapatkan lebih daripada sekedar uang atau prestasi
yang berwujud dari dalam kerja. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga
mengisi kebutuhan akan sosial. Oleh karena itu bila mempunyai rekan sekerja
yang ramah dan menyenangkan dapat menciptakan kepuasan kerja yang
meningkat. Tetapi Perilaku atasan juga merupakan determinan utama dari
kepuasan.
5.
Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan
Pada dasarnya orang yang tipe kepribadiannya kongruen (sama) dengan
pekerjaan yang mereka pilih akan memiliki bakat dan kemampuan yang tepat
untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka. Dengan demikian akan lebih
besar kemungkinan untuk berhasil pada pekerjaan tersebut, dan kondisi ini,
memberi peluang yang lebih besar untuk mencapai kepuasan yang tinggi dari
dalam pekerjaan mereka.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Hasibuan
(2001), adalah sebagai berikut:
a. Balas jasa yang adil dan layak
b. Penempatan yang tepat sesuai keahlian
c. Berat ringannya pekerjaan
d. Suasana dan lingkungan pekerjaan
e. Peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan
f. Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya
g. Sifat pekerjaan monoton atau tidak
Menurut Rivai (2008), kepuasan kerja pada dasarnya merupakan
security feeling (rasa aman) dan dapat ditinjau dari beberapa segi, antara lain :
a.
Segi sosial ekonomi (gaji dan jaminan sosial)
b.
Segi
sosial psikologi : kesempatan untuk maju, kesempatan untuk
mendapatkan penghargaan, berhubungan dengan masalah pengawasan,
berhubungan dengan pergaulan antara karyawan dengan karyawan dan
antara karyawan dengan atasannya.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan kepuasan kerja seseorang adalah :
kedudukan, pangkat dan jabatan, umur, jaminan finansial dan sosial serta mutu
pengawasan.
Menurut Sulistiyani dan Rosidah (2009), kepuasan kerja dipengaruhi
oleh kerangka referensi sosial, dimana kepuasan atau ketidakpuasan secara
individual pegawai secara subyektif berasal dari kesimpulan yang berdasarkan
perbandingan antara apa yang diterima pegawai dari pekerjaan yang dilakukan
dengan apa yang diharapkan, diinginkan atau difikirkan oleh seseorang.
Kepuasan kerja dalam pekerjaan adalah kepuasan kerja yang dinikmati
dalam pekerjaan dengan memperoleh pujian hasil kerja, penempatan,
perlakuan, peralatan dan suasana lingkungan kerja yang baik. Karyawan yang
lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam pekerjaan akan lebih
mengutamakan pekerjaannya dari pada balas jasa walaupun balas jasa itu
penting.
Kepuasan diluar pekerjaan adalah kepuasan kerja karyawan yang
dinikmati diluar pekerjaan dengan besarnya balas jasa yang akan diterima dari
hasil kerjanya, agar dia dapat membeli kebutuhan-kebutuhannya. Karyawan
yang lebih suka menikmati kepuasannya diluar pekerjaan lebih mempersoalkan
balas jasa dari pada pelaksanaan tugas-tugasnya.
Kepuasan kerja kombinasi dalam dan luar pekerjaan adalah kepuasan
kerja yang dicerminkan oleh sikap emosional yang seimbang antara balas jasa
dengan pelaksanaan pekerjaannya. Karyawan yang lebih menikmati kepuasan
kerja kombinasi dalam dan luar pekerjaan akan merasa puas jika hasil kerja dan
balas jasanya dirasa adil dan layak.
Kepuasan kerja mengandung arti yang sangat penting, baik dari sisi
pekerja maupun perusahaan serta bagi masyarakat secara umum. Oleh karena
itu menciptakan keadaan yang bernilai positif dalam lingkungan kerja suatu
perusahaan mutlak merupakan kewajiban dari setiap jajaran pimpinan
perusahaan.
Kepuasan kerja pada tingkat tertentu dapat mencegah karyawan untuk
mencari pekerjaan diperusahaan lain. Apabila karyawan di perusahaan tersebut
mendapatkan kepuasan, karyawan cenderung akan bertahan pada perusahaan
walaupun tidak semua aspek-aspek yang mempengaruhi kepuasan kerja
terpenuhi. Karyawan yang memperoleh kepuasan dari perusahaannya akan
memiliki rasa keterikatan atau komitmen lebih besar terhadap perusahaan
dibanding karyawan yang tidak puas.
Tolak ukur tingkat kepuasan yang mutlak tidak ada, karena setiap
individu pegawai berbeda standar kepuasannya. Indikator kepuasan kerja ini
dapat diukur dengan kedisiplinan, moral kerja, dan perputaran tenaga kerja
yang kecil, maka secara relatif kepuasan kerja pegawai baik tetapi sebaliknya
jika kedisiplinan, moral kerja dan perputaran tenaga kerja yang
besar, maka
kepuasan kerja pegawai pada perusahaan dinilai kurang.
Dalam dokumen
Pengaruh Motivasi Terhadap Kepuasan Kerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Islam Malahayati Medan Tahun 2013
(Halaman 44-51)