• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6. Manfaat Penelitian

2.1.3. Kinerja Pegawai Negeri Sipil

2.1.3.1. Indikator Kinerja

Secara umum indikator mempunyai fungsi untuk membangun dasar pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja organisasi atau unit kinerja. Mahsun (2006 : 71) mengemukakan bahwa :

Indikator kinerja sering disamakan dengan ukuran kinerja. Namun sebenaranya, meskipun keduanya merupakan kriteria pengukuran kinerja terdapat perbedaan makna. Indikator kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung yaitu hal-hal yang sifatnya hanya merupakan indikasi-indikasi kinerja, sehingga bentuknya cenderung kualitatif. Sedangkan, ukuran kinerja adalah criteria kinerja yang mengacu pada penilaian kinerja secara langsung, sehingga bentuknya lebih bersifat kuantitatif.

Selanjutnya indikator kinerja menurut Soedijarto yang dikutip Mangkunegara (2005 : 77) antara lain :

1. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan perkerjaan;

2. Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang pengguna dengan latar belakang kemampuan karakteristik lainnya; 3. Memiliki kemampuan yang memadai tentang berbagai hal yang

berkaitan dengan perkerjaan;

4. Memiliki pengatahuan yang memadai tentang berbagai media dan informasi denganberbagai potensinnya untung menunjang pencapaian tujuan perkerjaan;

5. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang teknik evaluasi pada khususnya dan sitemevaluasi pada umumnya;

6. Memiliki kemampuan inovatif; 7. Berkepribadian.

Adapun standar kinerja yang ada menurut T.R Mitchel yang dikutip Sedarmayanti (2013 : 51) adalah sebagai berikut:

1. Quality of Work, yaitu kualitas perkerjaan yang dihasilkan dapat memuaskan bagi penggunanya atau tidak, sehingga hal ini dijadikan sebagai standar kerja

2. Communication, yaitu pegawai mampu melakukan komunikasi yang baik antar pegawai atau dengan pimpinannya.

3. Promptnes, yaitu kecepatan berkeja yang diukur oleh tingkat waktu, sehingga pegawai dituntut untuk berkerja cepat dalam mencapai kepuasan dan peningkatan kerja.

4. Capability, yaitu kemampuan dalam berkerja yang semaksimal mungkin.

5. Initiative, yang setiap pegawai mampu menyelesaikan maslah perkerjaannya sendiri agar tdak terjadi kemandulan dalam perkerjaan. Oleh karena itu, kiranya penilaian kinerja sangat penting dalam kaitannya dengan tugas-tugas organisasi instansi pemerintah yang berorientasi kepada hasil dan yang paling utama adalah penetapan indikator. Indikator harus diciptakan untuk mampu memberitahukan banyak hal mengenai hasil kegiatan program. 2.1.3.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja

Dalam menilai kinerja organisasi tidak lepas dari faktor-faktor dari dalam

maupun yang ada disekeliling organisasi yang dapat mempengaruhi kinerja organisasi tersebut. Menurut Mahmudi (2006 : 83) : “Kinerja merupakan

suatu konstruk multidimensional yang mencakup banyak factor yang mempengaruhinya. Lebih lanjut Mahmudi (2006 : 84) menyatakan :

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah:

1. Faktor individu meliputi; pengetahuan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu

2. Faktor kepemimpian, meliputi; kualitas dalam meberikan dorongan, semangat, arahan dan dukungan yang diberikan pimpinan serta team leader.

3. Faktor tim, meliputi; kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesame anggota tim, keeratan dan kekompakan anggota tim.

4. Faktor sistem, meliputi; sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang diberikan olehorganisasi, proses organisasi atau kultur kinerja dalam oragnisasi

5. Faktor kontekstual, melipti; tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal organisasi.

Menurut Mangkunegara (2004 : 14) bahwa Kinerja dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:

1. Faktor individual yang terdiri dari a) kemampuan dan kehalian a. Latar Belakang

b. Demografi

2. Faktor Psikologis yang terdiri dari a. Persepsi

b. Attitude

c. Personality

d. Pembelajaran e. Motivasi

3. Faktor Organisasi yang terdiri dari a. Sumberdaya

b. Kemampuan c. Pengahargaan d. Struktur e. Job design

Sementara itu, definisi Dale yang dikutip Fahmi (2011 : 65) menyatakan :

“Ada 3 (tiga) penentu kinerja organisasi yaitu tingkat ketrampilan, tingkat upaya dan kondisi-kondisi eksternal. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa faktor

yang mempengaruhi kinerja organisasi dapat ditujukkan pada faktor sumber daya manusia, struktur organisasi dan komunikasi organisasi”.

Selanjutnya Hasibuan (2007 : 56) berpendapat bahwa :

Kinerja pegawai dapat dikatakan baik atau dapat dinilai dari beberapa hal, yaitu:

1. Kesetiaan; kinerja diukur dari kesetiaan pegawai terhadap tugas dan tanggung jawab

2. Prestasi kerja; hasil prestasi pegawai baik kualitas maupun kuantitas dapat menjadi tolak ukur terhadap kinerja.

3. Kedisiplinan; mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan melaksanakan instruksi yang diberikan, merupakan kedisiplinan pgawai yang dapat menjadi penilaian terhaap kinerja

4. Kreatifitas; kemampuan karyawan memberikan potensi yang dimiliki dan mengembangkan kreatifitas dalam melaksanakan pekerjaannya dapat berdaya guna dan berhasil guna.

5. Kerja sama; dinilai dari kesediaan pegawai dalam berkerja sama dan berpartisipasi dengan karyawan lain sehingga hasil perkerjaan semakin baik

6. Kecakapan; dalam menyelasaikan perkerjaan yang telah diberikan, kecakapan karyawan juga menjadi tolak ukur meningkatkan kinerja 7. Tanggung jawab; kinerja pegawai juga diukur dari kesediaan karyawan

dalam mempertanggung jawabkan hasil kerja.

Berkaitan dengan faktor-faktor di atas, lebih lanjut Sedarmayanti (2013 : 203) mengemukakan:

Standar kinerja yang baik memiliki kriteria sebagai berikut:

1. Dapat dicapai; sesuai dengan usaha yang dilakukan pada kondisi yang diharapkan.

2. Ekonomis; biaya rendah/wajar, dikaitkan dengan kegiatan yang dicakup. 3. Dapat diterapkan; sesuai kondisi yang ada.

4. Konsisten; akan membantu keseragaman komunikasi dan operasi keseluruhan fungsi organisasi.

5. Menyeluruh; mencakup semua aktivitas yang saling berkaitan.

6. Dapat dimengerti; diekspresikan dengan udah, jelas untuk menghindari kesalahan komunikasi/kekaburan, instruksi yang digunakan.

7. Dapat diukur; harus dapat dikomunikasikan dengan presisi.

8. Stabil; harus memiliki jangka waktu cukup untuk memprediksi dan menyediakan usaha yang akan dilakukan.

9. Dapat diadaptasi; harus didesain, sehingga elemen dapat ditambah, dirubah dan dibuat terkini tanpa melakukan perubahan seluruh struktur. 10.Legitimasi; secara resmi disetujui.

11.Seimbang; diterima sebagai dasar perbandingan oleh yang berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor dan standar kinerja di atas, maka sistem pengukuran kinerja akan dapat diperoleh informasi yang lebih bermakna dan bermanfaat serta dapat dipergunakan sebagai nilai tambah yang positif, untuk menciptakan sistem yang mampu mengukur kinerja dan keberhasilan organisasi.