• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Kinerja Lingkungan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Indikator Kinerja Lingkungan

Metrik individual dapat diacu sebagai indikator lingkungan, beberapa indikator akan sama untuk beberapa perusahaan, seperti: regulasi gas buang ke udara, pembuangan ke badan air, atau penanganan limbah beracun. Indikator lainnya akan sangat unik untuk industri tertentu, seperti: penggunaan energi per giga-byte pada industri komputer; atau, jumlah ceceran minyak lepas pantai pada transportasi minyak mentah. Indikator lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) tipe pengukuran, yaitu: a) Pengukuran di akhir proses, dikenal sebagai indikator tertinggal; dan, b) Pengukuran dalam proses, disebut juga indikator utama. Hampir semua metrik program lingkungan menggunakan kedua tipe pengukuran (Global Environmental Management Initiative, 1998).

a. Indikator tertinggal (lagging indicator), merupakan tipe metrik yang paling sering dilaporkan. Indikator ini mengukur hasil dari praktek lingkungan atau operasional. Tipe data terdiri dari: ton limbah yang dihasilkan; jumlah denda dan pelanggaran, jumlah kecelakan atau hari kerja yang hilang; atau, jumlah kemasan yang diproduksi. Keuntungan menggunakan indikator tertinggal adalah kemudahannya untuk diidentifikasi dan dipahami, serta data tersebut sering dikumpulkan untuk kepentingan bisnis lainnya. Kekurangannya adalah adanya ketertinggalan fakta dikarenakan tidak mencerminkan situasi terkini sehingga tindakan korektif hanya bisa dilakukan setelah timbulnya biaya atau denda maupun penurunan kredibilitas di pemerintah atau masyarakat. Selain itu, indikator tertinggal tidak mengidentifikasi penyebab timbulnya biaya serta kekurangan yang terjadi, serta bagaimana pencegahannya. Sehingga tindakan

pencegahan kemungkinan akan dilakukan pada tahun berikutnya saat faktor-faktor yang berpengaruh kemungkinan sudah berubah.

b. Indikator utama (leading indicator), merupakan pengukuran pada tahap implementasi atau pengukuran yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Sebagai contoh: indikator utama yang digunakan adalah jumlah lingkungan internal atau audit kepatuhan kesehatan dan keselamatan yang dilakukan selama setahun, bukan jumlah denda dan pelanggaran. Keuntungan utama dari metrik ini adalah bahwa pembenahan dapat dilakukan sebelum kekurangan terjadi dan menurunkan kinerja. Sayangnya, indikator utama sulit untuk dikuantifikasi dan dievaluasi, serta hasilnya tidak ditujukan untuk beberapa stakeholder sehingga sulit untuk mengumpulkan dukungan.

Beberapa metode dan kerangka kerja telah ditentukan untuk memilih indikator kinerja lingkungan. Metode yang digunakan tergantung pada tujuan pengembangan, jenis produk, dan lingkungan sekitar. Termasuk didalamnya peraturan yang berlaku, masalah di kawasan, strategi bisnis, aspek lingkungan dari produk, pertimbangan letak geografis dan bersifat sementara, serta hal lainnya.

Terdapat beberapa metode untuk menentukan indikator kinerja lingkungan, Tabel 2. 1. akan memberikan gambaran tentang beberapa metode terkait dengan kerangka kerja yang dibentuk, karakteristik serta keuntungan dan kerugiannya (Heslouin et al., 2017).

Kegunaan indikator kinerja lingkungan dalam pengambilan kebijakan adalah:

1. Untuk memberikan informasi terhadap masalah lingkungan, dalam rangka untuk memungkinkan pembuat kebijakan untuk menilai keseriusan;

2. Untuk mendukung pengembangan kebijakan dan menetapkan prioritas, dengan mengidentifikasi faktor kunci yang menyebabkan kerusakan pada lingkungan;

dan,

3. Untuk memonitor dampak dari respon kebijakan.

Tabel 2. 1. Metode yang sering digunakan dalam penentuan indikator kinerja lingkungan

Metode Pemilihan Keterangan

Pendekatan (Berbasis Produk / Pertimbangan Pengguna) Model Pressure state

response

Menggunakan rangkaian sebab akibat dari dampak lingkungan untuk menentukan indikator kinerja

Pertimbangan pengguna

Menggunakan rangkaian sebab akibat dan usulan untuk memilih dari hasil identifikasi.

Model ini mempertimbangkan hubungan antar masing-masing indikator.

Kekurangan metode ini adalah tidak mempertimbangkan kawasan dan peraturan yang berlaku sehingga sulit untuk mengevaluasi rangkaian sebab akibat, sehingga sulit untuk dikembangkan.

Sasaran perbaikan lingkungan

Keuntungan:

- Implementasi indikator kinerja lingkungan pada proses pengembangan produk dengan mengumpulkan data dan megukur indikator kinerja lingkungan, melihat hasil kinerja dan menentukan langkah untuk meningkatkan kinerja

- Memilih indikator kinerja lingkungan untuk mencapai sasaran perbaikan lingkungan

- Database indikator kinerja lingkungan diklasifikasikan berdasarkan tahapan daur hidup, aspek lingkungan, dan tipe pengukuran

- Memilih indikator yang spesifik untuk perusahaan, tidak termasuk dalam database.

Kerugian:

Menentukan prioritas lingkungan dan sasaran termasuk pengetahuan sebelumnya tentang produk dan yang terkait dan pengembangan sasaran prioritas.

Pendekatan Berbasis Produk

Survey Ahli Keuntungan:

Pembobotan indikator oleh Ahli dibidang lingkungan, produk kawasan dan pihak lain untuk memilih indikator yang paling penting.

Kekurangan:

Berpotensi dipengaruhi oleh prioritas pribadi dari Ahli.

Pertimbangan Pengguna

Survey Perusahaan Hampir mendekati survey Ahli, namun didahului oleh analisis perusahaan dan terdapat tujuan lingkungan serta identifikasi pelaku secara strategis.

Pertimbangan Pengguna

Sistem pengelolaan lingkungan berbasis produk

Memilih indikator kinerja lingkungan berdasarkan 3 tingkatan: kawasan (indikator umum), perusahaaan (berdasarkan kebijakan lingkungan perusahaan), dan proyek/produk (terkait dengan implementasi eko-desain)

- Menghubungkan kinerja lingkungan dengan sasaran strategis perusahaan.

- Menggunakan metode yang biasa digunakan oleh perusahaan lain

Kerugian:

Tidak berhubungan dengan pengembangan produk.

Pendekatan Berbasis Produk

Pertimbangan stakeholder

Mengidentifikasi dampak lingkungan untuk menentukan indikator.

Keuntungan:

- Mengintegrasikan stakeholder pada pemilihan indikator kinerja lingkungan serta indikator harus dapat digunakan oleh stakeholder internal dan eksternal

Pertimbangan Pengguna

Sumber: Heslouin et al. (2017)

Indikator kinerja lingkungan merupakan alat yang berguna untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap permasalahan lingkungan. Strategi yang umum untuk menguatkan dukungan publik adalah penyediaan informasi pada kekuatan pendorong serta respon dampak dan kebijakan untuk mengukur kebijakan (Smeets dan Weterings, 1999).

ISO telah mengembangkan standar yang dapat digunakan sebagai pendekatan pro-aktif dalam mengelola lingkungan, yaitu ISO 14000 yang merupakan kumpulan standar untuk pengelolaan lingkungan untuk sector public dan swasta. ISO 14000 menggambarkan kesepakatan akan lingkungan yang baik dan dapat diimplementasikan oleh seluruh organisasi sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. ISO 14000 terdiri dari beberapa bagian, yaitu:

1. ISO 14001, digunakan sebagai kerangka dalam sistem manajemen lingkungan.

Telah diadopsi oleh 160 negara serta medorong pemerintah untuk turut serta dalam pengelolaan lingkungan.

2. ISO 14004 merupakan tambahan petunjuk dan penjelasan dari ISO 14001 3. ISO 14031, memberikan petunjuk bagi organisasi dalam rangka mengevaluasi

kinerja lingkungan

4. ISO 14020 merupakan kumpulan standar dengan pendekatan yang berbeda untuk pelabelan lingkungan dan keterangan, termasuk eko-label.

5. ISO 14040 memberikan pedoman standar untuk melakukan Life Cycle Assesment (LCA) sebagai alat untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi aspek

lingkungan dari produk dan layanan dari awal hingga akhir. Sehingga organisasi mendapatkan informasi tentang bagaimana mengurangi dampak lingkungan dari produk dan layanannya.

6. ISO 14064 merupakan standar yang digunakan untuk menghitung dan memverifikasi gas rumah kaca yang dilengkapi dengan persyaratan yang jelas dan dapat diverifikasi untuk mendukung organisasi dan proyek dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

7. ISO 14065 merupakan pelengkap dari 14064 dengan peruntukan yang lebih spesifik untuk mengakreditasi dan mengenalkan organisasi yang melakukan validasi dan verifikasi gas rumah kaca menggunakan ISO 14064 ataupun standar/spesifikasi lain yang lebih relevan.

8. ISO 14063 merupakan pedoman dan contoh komunikasi lingkungan yang dapat membantu organisasi untuk membuat hubungan yang penting dengan pemangku kepentingan eksternal.

9. ISO Guide 64 memberikan pedoman untuk Menangani aspek lingkungan dalam standar produk.

Penentuan indikator kinerja lingkungan pada konsep siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act), berhubungan dengan manajemen pengelolaan lingkungan yang berhubungan dengan ISO 14001 (ISO Central Secretariat, 2009). Penentuan terhadap indikator yang digunakan dalam pengukuran kinerja lingkungan dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut (International Organization for Standardization, 2013):

a. Mengidentifikasi kegiatan, produk dan layanan organisasi, aspek lingkungan spesifik dan signifikansi relatif yang terkait dengannya, dan potensi dampak yang terkait dengan aspek lingkungan yang signifikan;

b. Menggunakan informasi tentang kondisi lingkungan untuk mengidentifikasi aktivitas, produk dan layanan organisasi yang mungkin berdampak pada kondisi tertentu;

c. Menganalisis data organisasi yang ada mengenai masukan material, energi, pembuangan, limbah dan emisi dan mengevaluasi data ini dalam hal risiko;

d. Mengidentifikasi pandangan pihak yang berkepentingan dan menggunakan informasi ini untuk membantu membangun aspek lingkungan organisasi yang signifikan;

e. Mengidentifikasi kegiatan organisasi yang tunduk pada peraturan lingkungan atau persyaratan lainnya, yang datanya mungkin telah dikumpulkan oleh organisasi;

f. Pertimbangan disain, pengembangan, pembuatan, distribusi, servis, penggunaan, penggunaan kembali, daur ulang dan pembuangan produk-produk organisasi, dan dampak lingkungannya yang terkait; dan,

g. Mengidentifikasi kegiatan organisasi yang memiliki biaya dan manfaat lingkungan yang paling signifikan, termasuk kegiatan atau proses outsourcing.

ISO juga memberikan panduan dalam menentukan indikator lingkungan yang memberikan informasi tentang kondisi lingkungan secara local, regional, nasional atau global, sepanjang tahun atau pada peristiwa tertentu. Indikator lingkungan bukan hasil pengukuran langsung terhadap dampak lingkungan, namun memberikan informasi yang berguna pada lingkungan akibat perubahan aktivitas organisasi, produk dan layanan. Indikator lingkungan dapat disusun untuk kategori lingkungan (misal: udara, air, tanah, flora, fauna, manusia dan estetika, serta warisan budaya termasuk indikator khusus untuk keanekaragaman hayati atau jasa lingkungan). Indikator lingkungan melengkapi organisasi dengan keadaan lingkungan guna mendukung hal-hal berikut ini:

1. Membuat dasar untuk mengukur perubahan;

2. Identifikasi dan pengelolaan dari aspek lingkungan yang signifikan;

3. Memperkirakan kelayakan dari sasaran kinerja lingkungan;

4. Memilih indikator kinerja lingkungan;

5. Menentukan perubahan lingkungan selama ini dan hubungannya dengan program lingkungan yang sedang berjalan;

6. Melakukan penelusuran terhadap hubungan antara kondisi lingkungan serta kegiatan, produk dan layanan organisasi; serta,

7. Menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan.

Pembuatan dan penerapan indikator lingkungan seringkali berfungsi secara lokal, regional, pemerintahan tingkat nasional atau internasional, lembaga swadaya masyarakat, serta institusi riset dan ilmiah, daripada fungsi dari organisasi perusahaan secara individual. Namun, organisasi dapat mengidentifikasi hubungan antara aktivitas dan kondisi dari beberapa komponen lingkungan yang dapat dipilih untuk menyusun indikator untuk membantu dalam mengevaluasi kinerja lingkungan yang tepat menurut kemampuan, kepentingan dan kebutuhan organisasi. Organisasi yang telah mengidentifikasi kondisi spesifik lingkungan yang merupakan akibat langsung dari aktivitas, produk dan layanannya, dapat memilih indikator kinerja lingkungan (pada skala manajemen atau operasional) yang menghubungkan upaya manajemen dan kinerja operasional dalam rangka perubahan kondisi lingkungan.

Dokumen terkait