METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian
G. Indikator Kinerja
Indikator kinerja adalah target keberhasilan yang ditetapkan oleh guru. Dalam penelitian ini, indikator kinerjanya adalah sebagai berikut:
1. Guru terampil memanfaatkan media gambar dalam kegiatan pembelajaran berhitung.
2. Terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal.
3. 80% siswa kelas I SD Belang Wetan 02 Kecamatan Klaten Utara Kabupaten Klaten Tahun Ajaran 2013/2014 mampu memahami dan melaksanakan proses pembelajaran berhitung dengan menggunakan media gambar.
31 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN
Telah diketahui bahwa subyek penelitian berjumlah 21 responden. Penyebaran instrumen kepada responden dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Penyebaran dan pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri.
Tabel 2 : Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Responden Jenis Kelamin Jumlah
Laki - laki Perempuan
Siswa SD Negeri Belang Wetan 2 Klaten
13 8 21
Jumlah 13 8 21
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa 75% dari jumlah responden laki – laki. Sedangkan sisanya yaitu 25% dari responden perempuan.
Dalam proses pembelajaran berhitung yang memanfaatkan media gambar, antara siswa laki-laki dan perempuan tidak begitu berpengaruh dalam hal hasil pembelajarannya, karena masing-masing memiliki kelemahan dan kekurangan. Kemampuan siswa perempuan dalam hal membaca dan berbicara merupakan modal utama dalam menganalisis permasalahan yang berhubungan dengan soal cerita, sedangkan kemampuan siswa laki-laki dalam hal menghitung merupakan modal utama dalam mengerjakan soal cerita.
1. Deskripsi Data Tindakan I
Deskripsi hasil pembelajaran tindakan I adalah deskripsi hasil observasi pembelajaran dan hasil tes siswa berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti ditemukan beberapa hal diantaranya :
a) Suasana proses belajar mengajar aktif, siswa terlihat sungguh-sungguh dalam memperhatikan penjelasan guru.
b) Terjadi interaksi antara guru dan siswa, belum ada interaksi antara siswa dengan siswa.
32 c) Suasana dalam kelas agak gaduh.
d) Guru cenderung memperhatikan siswa yang pandai saja, sehingga kesempatan menjawab dan bertanya dikuasai oleh siswa yang pandai saja.
e) Siswa yang kurang pandai kurang mendapat perhatian. f) Hasil nilai pre test diperoleh rata-rata sebesar 49,52. g) Hasil nilai post test diperoleh rata-rata sebesar 55,23.
h) Siswa yang mendapat nilai > 60 berjumlah 13. Persentase ketuntasan individual (> 60) sebesar 13/21 x 100%= 62%.
Tabel 3 : Distribusi Frekuensi Data Hasil Penelitian Siklus I No. Rata-rata Pre
Test Rata-rata Post Test Indikator (Target) Tercapai Keterangan 1. 49,52 55,23 80% 62% Belum Berhasil Kesimpulan :
Sesuai dengan indikator (target) kinerja bahwa 80% siswa telah mengalami ketuntasan individual, maka pelaksanaan siklus I yang baru mencapai ketuntasan 62% dikatakan belum berhasil, sehingga perlu dilakukan siklus II.
2. Analisis dan Refleksi :
Berdasarkan analisis hasil tindakan I, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran pada tindakan I difokuskan pada siswa memahami langkah– langkah penyelesaian soal berhitung khususnya soal cerita tanpa menggunakan media gambar, sehingga pemahaman siswa tentang soal cerita kurang jelas.
Berdasarkan observasi dari hasil pembelajaran tindakan, dan saran dari peneliti, beberapa hal yang harus diperhatikan pada tindakan selanjutnya adalah sebagai berikut :
a) Siswa diberi kesempatan lebih banyak lagi dalam menyelesaikan masalah - masalah dan diberi kesempatan bekerjasama dengan
33
teman lain dalam menyelesaikan masalahnya sehingga dominasi guru dalam menyelesaikan masalah dikurangi agar terjadi interaksi multi arah.
b) Digunakannya alat peraga khususnya media gambar yang dibuat seindah mungkin (diberi warna), agar lebih menarik siswa dan dikondisikan sedemikian rupa.
c) Perhatian guru atau peneliti hendaknya secara menyeluruh, sehingga tidak ada kesempatan siswa untuk bermain.
d) Membantu siswa untuk berani mengeluarkan ide-ide atau gagasan sehingga suasana belajar lebih efektif.
e) Suasana proses belajar mengajar terlihat lebih aktif, siswa terlihat senang dan sunguh-sungguh dalam memperhatikan penjelasan guru.
3. Deskripsi Data Tindakan II
Deskripsi hasil pembelajaran tindakan II adalah hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dan hasil tes siswa, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti ditemukan beberapa hal diantaranya :
a) Suasana proses belajar mengajar terlihat lebih aktif, siswa terlihat senang dan sunguh-sungguh dalam memperhatikan penjelasan peneliti.
b) Terjadi interaksi hampir multi arah yang merupakan interaksi optimal dalam proses belajar mengajar, belum ada interaksi antara siswa dengan siswa.
c) Suasana dalam kelas agak sedikit gaduh dan ramai dikarenakan aktifitas belajar pada siswa yang banyak mengomentari gambar-gambar yang dipakai peneliti untuk menjelaskan materi.
d) Dalam menggunakan media gambar, penggunaannya masih belum optimal.
e) Peneliti atau Guru sudah memperhatikan siswa secara menyeluruh sehingga kesempatan menjawab dan bertanya tidak dikuasai oleh
34
siswa yang pandai saja. Namun siswa yang kurang pandai belum mampu mengeluarkan pendapatnya, masih cenderung diam. f) Hasil nilai pre test diperoleh rata-rata sebesar 51,42.
g) Hasil nilai post test diperoleh rata-rata sebesar 59,04.
h) Siswa yang mendapat nilai > 60 berjumlah 15. Persentase ketuntasan individual (> 60) sebesar 15/21 x 100%= 72%.
Tabel 4 : Distribusi Frekuensi Data Hasil Penelitian Siklus II No. Rata-rata Pre Test Rata-rata Post Test Indikator (Target) Tercapai Keterangan 1. 51,42 59,04 80% 72% Belum Berhasil Kesimpulan :
Sesuai dengan indikator (target) kinerja bahwa 80% siswa telah mengalami ketuntasan individual, maka pelaksanaan siklus II yang baru mencapai ketuntasan 72% dikatakan belum berhasil, sehingga perlu dilakukan siklus III.
4. Analisis dan Refleksi :
Berdasarkan analisis hasil tindakan II, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada tindakan II difokuskan agar siswa memahami pelajaran berhitung khususnya soal cerita pada operasi bilangan (penjumlahan dan pengurangan) dengan memafaatkan media gambar. Tindakan pembelajaran sebagai upaya pemahaman siswa dengan pemanfaatan media gambar.
Berdasarkan observasi hasil pembelajaran tindakan II dan saran dari peneliti hal-hal yang harus diperhatikan pada tindakan selanjutnya adalah sebagai berikut :
a) Memberi kesempatan lebih banyak pada siswa untuk menyelesaikan suatu masalah.
35
c) Menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran untuk membantu proses berhitung.
d) Membantu memotivasi keberanian siswa untuk bertanya. 5. Deskripsi Data Tindakan III
Deskripsi hasil pembelajaran tindakan III adalah hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dan hasil tes siswa. Dari deskripsi tersebut ditemukan hal - hal sebagai berikut :
a) Suasana proses belajar mengajar semakin interaktif. Siswa terlihat antusias dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Siswa banyak yang berani bertanya dan mengeluarkan pendapat, bahkan antar siswa sudah saling memberi soal yang berhubungan dengan materi pembelajaran.
b) Interaksi yang terjadi hampir multi arah yang merupakan interaksi optimal dalam proses belajar mengajar.
c) Kemampuan peneliti dalam menggunakan media gambar sudah maksimal.
d) Sebagian besar siswa terlihat aktif. Guru memberikan bantuan berupa penjelasan materi tersendiri terhadap siswa yang kurang pandai.
e) Hasil nilai pre test diperoleh rata-rata sebesar 70,52. f) Hasil nilai post test diperoleh rata-rata sebesar 84,80.
g) Siswa yang mendapat nilai > 60 berjumlah 21. Persentase ketuntasan individual (> 7,5) sebesar 21/21 x 100% = 100%.
Tabel 5 : Distribusi Frekuensi Data Hasil Penelitian Siklus III No. Rata-rata Pre
Test Rata-rata Post Test Indikator (Target) Tercapai Keterangan 1. 70,52 84,80 80% 100% Berhasil
36 Kesimpulan :
Sesuai dengan indikator (target) kinerja bahwa 80% siswa telah mengalami ketuntasan individual, maka pelaksanaan siklus III yang sudah mencapai ketuntasan 80% dikatakan berhasil, sehingga tidak perlu dilakukan siklus berikutnya.
6. Analisis dan Refleksi
Berdasarkan analisis hasil tindakan III, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada tindakan III difokuskan agar siswa memahami soal berhitung pada operasi bilangan (penjumlahan dan pengurangan) khususnya soal cerita dengan memanfaatkan media gambar. Tindakan pembelajaran sebagai upaya pemahaman siswa dengan penggunaan media gambar.
Berdasarkan observasi dari peneliti dan serangkaian pembelajaran tindakan III ditemukan beberapa hal sebagai berikut :
a) Guru telah berupaya memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus pertama dan kedua.
b) Suasana belajar lebih interaktif, siswa terihat lebih antusias dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
c) Interaktif yang terjadi multi arah, tidak hanya guru dengan siswa, tetapi juga antara siswa dengan siswa.
d) Kemampuan guru dalam menggunakan media gambar telah maksimal.
e) Guru telah berusaha agar siswa yang kurang pandai, berani bertanya dan mengeluarkan pendapat.
Berdasarkan hasil penelitian dan refleksi masing-masing siklus dapat ditarik kesimpulan bahwa indikator penelitian tindakan yang terdiri atas :
1) Guru terampil mengelola proses belajar mengajar berhitung dengan memanfaatkan media gambar
2) Terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa sehingga proses belajar mengajar dapat kondusif
37
3) 80% siswa kelas I SD Negeri 02 Belang Wetan mampu memahami dan melaksanakan proses pembelajaran berhitung dengan menggunakan media gambar, dapat terwujud.
Adapun untuk menggambarkan hasil perkembangan dari pelaksanaan siklus I sampai III dapat dilihat pada gambar grafik di bawah ini :
Gambar 1 : Perbandingan Nilai Pre Test dan Post Test Pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III.
Bertolak dari gambar di atas, maka dapat diketahui perolehan rata-ratanilai pre tes dan post test siswa, setiap siklus mengalami peningkatan yang cukup berarti. Meskipun siklus I dan II belum berhasil memenuhi indikator kinerja yangditargetkan.
Kesimpulan diatas dapat ditarik bahwa, Dengan pemanfaatan media gambar, maka pemahaman berhitung siswa kelas I SD Negeri 02 Belang Wetan Kabupaten Klaten Tahun Ajaran 20013/2014 dapat meningkat, dengan diindikasikan dari peningkatan hasil belajar berhitung tiap siklus di mana ada perbedaan yang cukup signifikan antara rata-rata nilai post test dan nilai pre test.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Siklus I Siklus II Siklus III
Pre Tes Post Tes
38
B. Kendala – Kendala Dalam Penggunaan Media Gambar
Kendala yang dihadapi peneliti dikelas I SD Negeri 02 Belang Wetan, sehubungan dengan penggunaan media gambar dalam pembelajaran berhitung adalah :
1) Tahap persiapan, terdiri atas penyiapan rencana pembelajaran dan penyiapan gambar.
2) Tahap pelaksanaan, berhubungan dengan strategi belajar mengajar, interaksi, dan cara menggunakan media gambar. Kendala yang dialami siswa, terjadi ketika pertama kali menggunakan media gambar. Karena tidak terbiasa menggunakan media gambar, maka siswa masih tampak kebingungan.
3) Tahap evaluasi, terdiri atas ketercapaian tujuan dan ketepatan penggunaan media gambar.
C. PEMBAHASAN
Menurut Suryosubroto (1997: 19), menyatakan bahwa proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan, sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran. Sedangkan menurut Sukewi (1994:3), bahwa dalam proses belajar mengajar terdapat komponen-komponen yang saling terkait, yang meliputi tujuan pengajaran, guru dan peserta didik, bahan pelajaran, metode/strategi belajar mengajar, alat/media, sumber pelajaran, dan evaluasi.
Pernyataan diatas dapat disimpulkan, bahwa media pembelajaran adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah (Hamalik 1994:12).
Media yang digunakan dalam pembelajaran banyak ragamnya, salah satunya adalah Media Gambar. Cara penggunaannya adalah gambar harus disesuaikan dengan materi yang disajikan. Dengan media gambar guru dapat
39
menyampaikan materi dengan memperagakan langsung sehingga siswa akan lebih jelas dan memahami.
Penelitian ini telah membuktikan bahwa menggunakan media gambar dapat meningkatkan pemahaman berhitung siswa kelas I SD Negeri 02 Belang Wetan Kabupaten Klaten Tahun Ajaran 2013/2014. Peningkatan pemahaman siswa terbukti dengan hasil - hasil belajar siswa yang diindikasikan dari nilai-nilai pre test dan post test, dimana masing-masing siklus menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.
Sejalan dengan pendapat Piaget, bahwa siswa Sekolah Dasar yang rata-rata berusia antara 6 tahun sampai 12 tahun, berada pada tahap operasi konkret. Ciri utama anak pada usia ini adalah telah dapat memahami ide-ide, atau konsep yang bersifat abstrak, tetapi masih dipengaruhi oleh visual. Hal ini berarti peran peragaan sangat penting dalam memahami konsep matematika berhitung yang bersifat abstrak.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan Media Gambar dalam proses pembelajaran berhitung akan lebih memotivasi siswa dalam belajar, tidak lekas jenuh dan bosan. Media Gambar bukan hanya menjadikan siswa tertarik akan materi pelajaran yang dijelaskan guru, namun media gambar menjadi media pembelajaran yang mampu mengatasi perbedaan pemahaman antar pribadi siswa dan menyederhanakan kompleksitas materi.
Materi dalam pembelajaran berhitung yang komplek tersebut akan tersederhanakan. Hal tersebut akan menjadikan materi yang terdapat dalam pembelajaran berhitung akan dimengerti, lebih mudah dipahami dan setiap siswa akan memiliki konsep yang sama terhadap suatu materi yang diajarkan. Selebihnya penggunaan Media Gambar menjadikan proses pembelajaran lebih bermakna sejalan dengan pendekatan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.
Ditinjau dari segi keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, dengan menggunakan Media Gambar siswa lebih terlibat aktif, yaitu siswa menemukan konsep-konsep, menemukan pola dan struktur baru serta berpikir
40
konkret dalam mempelajari berhitung, sehingga pada akhirnya pemahaman siswa yang didapat relatif bertahan lama dan akan meningkat jika dibandingkan dengan siswa yang hanya menerima saja dari gurunya.
Berdasarkan hasil penelitian dan uraian di atas, menunjukkan bahwa penggunaan media gambar dalam proses pembelajaran berhitung terbukti untuk meningkatkan pemahaman berhitung pada siswa kelas I di SD Negeri 02 Belang Wetan Klaten. Namun demikian, keberhasilan penggunaan media gambar sesuai dengan indikator kinerja yang ditetapkan memerlukan pentahapan siklus selama tiga kali.
Lamanya siklus penelitian untuk dapat mencapai target yang ditetapkan sesuai indikator kinerja disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :
1. Guru masih terbiasa dengan pola pembelajaran lama, yang menempatkan metode ceramah sebagai satu-satunya metode andalan yang tiap hari digunakan guru untuk memperjelas materi.
2. Guru tidak terbiasa menggunakan media pengajaran, khususnya media gambar dalam pelajaran berhitung.
3. Siswa terbiasa dengan pola pembelajaran yang teacher centered, sehingga penggunaan media gambar tidak dapat dioptimalkan dalam waktu yang relatif cepat.
4. Materi pelajaran berhitung membutuhkan pemahaman dan pemikiran yang teliti, sehingga memerlukan latihan-latihan rutin dalam memahami suatu materi.
41 BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan, cara meningkatkan pemahaman berhitung pada mata pelajaran matematika kelas 1 SD Negeri Belang Wetan II Klaten yaitu dengan menggunakan media gambar yang menarik siswa dan dilakukan sendiri oleh siswa. Hal tersebut diindikasikan dari pencapaian target pada siklus I yang tanpa menggunakan media gambar rata-rata pre test 50,52; post test 56,23; siklus II dengan media gambar rata-rata pre test 52,42; post test 60,04; siklus III juga dengan media gambar rata-rata pre test 70,52; post test 84,80 dan sesuai dengan indikator kinerja, yakni 80% siswa mampu mencapai hasil belajar berhitung > 60.
B. SARAN
Berdasarkan simpulan di atas, dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut :
1. Guru dapat senantiasa menggunakan media pembelajaran, khususnya media gambar dalam proses belajar mengajar berhitung yang dirancang sesuai dengan materi pelajaran yang dibahas sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam menerima pelajaran berhitung.
2. Guru diharapkan tidak monoton dalam menyampaikan materi pelajaran agar siswa tidak jenuh dalam memahami pelajaran berhitung.
3. Siswa hendaknya tidak takut atau malu untuk menanyakan tentang materi pelajaran yang belum dapat dipahami.
42
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman, Mulyono. (2003). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Depdikbud dan Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
Depdikbud. (1992). Petunjuk Pengajaran Berhitung Kelas I, II, III SD. Jakarta : P2MSDK.
Depdikbud. (1993). Kurikulum Pendidikan Dasar I. Jakarta : Proyek Peningkatan Mutu SD, TK, dan SLB.
Hamalik. (1994). Media Pendidikan. Bandung : Citra Aditya Bakti.
Hudoyo, Herman. (1998). Mengajar Belajar matematika. Jakarta : Depdikbud dan P2LPTK.
Muhajir, Noeng. (1997). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
Bagian Keempat : Analisis dan Refleksi. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Paimin. (1998). Strategi Belajar Matematika. Jakarta : Rineka Cipta. Rahadi, Aristo. (2003). Media Pembelajaran. Jakarta : Depdiknas.
Rahadi, Aristo. (2003). Media Pembelajaran. Jakarta : Dikjen Dikti Depdikbud. Rohani, Ahmad. (1997). Media Instruksional Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta. Ruseffendi,ET. (1989). Dasar-Dasar Matematika Modern dan Komputer Untuk
Guru. Bandung : Tarsito.
Sadiman, Arif. (1996). Media Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Soelarko. (1980). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Depdikbud.
Sudjana. (2001). Media Pengajaran. Jakarta : Sinar Baru Algensindo.
Sukewi. (1994). Proses Belajar Mengajar. Semarang : IKIP Semarang Press. Suminarsih. (2004). Strategi Pembelajaran Matematika. Semarang : LPMP Jawa
43
Suryosubroto. (1997). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.
44
45