• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Kinerja Sasaran Harapan Lama Sekolah (HLS)

BAB III CAPAIAN KINERJA PEMERINTAH

3.2. Capaian Kinerja PEMDA

3.2.1 Sasaran Meningkatnya Kualitas Pendidikan Untuk Semua …

3.2.1.2 Indikator Kinerja Sasaran Harapan Lama Sekolah (HLS)

Harapan lama sekolah didefinisikan sebagai lamanya sekolah yang dihitung berdasarkan tahun yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Harapan lama sekolah dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan diberbagai jenjang dan dihitung pada usia tujuh tahun ke atas. Angka harapan lama sekolah ideal setara sarjana strata-2 atau sekitar 18 tahun mengenyam pendidikan formal. Selama beberapa tahun terakhir, harapan lama sekolah di Kota Bontang mengalami peningkatan. Berikut disajikan capaian kinerja harapan lama sekolah beberapa tahun terakhir.

Tabel 3.6. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Harapan Lama Sekolah (HLS) Harapan Lama Sekolah

Tahun Target Realisasi Capaian Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi % 2016 12,77 tahun 12,77 tahun 100% 74,38% 25,62%

2017 12,82 tahun 12,79 tahun 99,77% 68,53% 31,24%

2018 12,86 tahun 12,88 tahun 100,15% 89,94% 10,06%

2019 12,91 tahun 12,89 tahun 99,84% 93,41% 6,43%

2020 12,86 tahun 13,03 tahun 101,32% 82,45% 18,87%

Capaian kinerja harapan lama sekolah di Kota Bontang tahun 2020 dibandingkan dengan target akhir RPJMD Kota Bontang 2016-2021 telah melampaui target yang telah ditetapkan. Berikut disajikan capaian kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan pada tabel di bawah ini.

3.7. Realisasi Indikator Kinerja Harapan Lama Sekolah terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Harapan Lama

Sekolah

Tahun 12,77 12,79 12,88 12,89 13,03 13

Capaian harapan lama sekolah Kota Bontang pada tahun 2020 berada di bawah Provinsi Kalimantan Timur sebesar 13,72 dan berada di atas rata-rata nasional 12,95.

Pada tahun 2020, harapan lama sekolah Kota Bontang mencapai 13,03 tahun.

Beberapa upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota Bontang untuk meningkatkan harapan lama sekolah adalah menerapkan sistem dan informasi manajemen pendidikan, melaksanakan pembinaan unit kesehatan sekolah, pemberian penghargaan bagi siswa/siswi, pendidik dan tenaga kependidikan yang berprestasi, menyediakan pakaian seragam sekolah dan perlengkapan lainnya.

3.2.2 Sasaran Meningkatknya Kualitas Kesehatan Untuk Semua

Sasaran meningkatnya kualitas pendidikan untuk semua memiliki 4 (empat) indikator kinerja sasaran. Indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas kesehatan untuk semua di Kota Bontang adalah dengan menghitung Angka Kematian Bayi, Angka kematian ibu, prevalensi balitas gizi kurang dan angka harapan hidup.

3.8. Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Meningkatnya Kualitas Kesehatan Untuk Semua

No Indikator Kinerja Satuan Tahun 2020

Target Realisasi % Capaian

1. Angka Kematian Bayi Rasio 7 13 53,84%

2. Angka kematian Ibu Rasio 123 103 119,41%

3. Prevalensi Balita Gizi Kurang

Persentase <2 10,56 55,57%

4. Angka Harapan Hidup Tahun 73,96 74,28 100,43%

Rata-rata Capaian 82,31%

3.2.2.1 Indikator Kinerja Sasaran Angka Kematian Bayi

Angka kematian bayi merupakan indikator yang penting untuk mencerminkan keadaan derajat kesehatan di suatu masyarakat, karena bayi yang baru lahir sangat sensitif terhadap keadaan kesehatan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya dan sangat erat kaitannya dengan derajat kesehatan orang tuanya. Peningkatan upaya yang dicapai dalam bidang pencegahan dan pemberantasan penyakit yang menjadi penyebab kematian bayi akan tercermin secara jelas dengan menurunnya angka kematian bayi.

Angka kematian bayi di Kota Bontang pada tahun 2020 sebesar 13 Per 1.000 kelahiran hidup dengan target 7 rasio per 1.000 kelahiran hidup atau sebanyak 53 kasus kematian

13.03

13.72 12.95

2020

Nasional Provinsi Kaltim Kota Bontang

bayi dari 3.886 kelahiran hidup. Adapun perhitungan angka kematian bayi dapat dilihat pada rumus di bawah ini.

π΄π‘›π‘”π‘˜π‘Ž πΎπ‘’π‘šπ‘Žπ‘‘π‘–π‘Žπ‘› π΅π‘Žπ‘¦π‘– (𝐴𝐾𝐡) = βˆ‘ πΎπ‘’π‘šπ‘Žπ‘‘π‘–π‘Žπ‘› π‘π‘Žπ‘¦π‘– 1 π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘›

βˆ‘ πΎπ‘’π‘™π‘Žβ„Žπ‘–π‘Ÿπ‘Žπ‘› β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘

Μ‡

π‘₯ 100%

= 53

3.886 π‘₯ 1000 = 13 π‘…π‘Žπ‘ π‘–π‘œ

Pada awal periode RPJMD sampai dengan tahun 2017 realisasi mengalami peningkatan namun pada periode ketiga RPJMD mengalami penurunan yang cukup signifikan sampai dengan tahun 2020 seperti yang disajikan pada tabel di bawah ini.

3.9. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi

Tahun Target Realisasi Capaian Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi 2016 11 Rasio 11,6 Rasio 94,83% 78,53% 16,3%

2017 10,20 Rasio 7,63 Rasio 133,68 % 100% 33,68%

2018 9,40 Rasio 10 Rasio 94 % 83,7% 10,3%

2019 8,6 Rasio 11 Rasio 78,18 % 69,71% 8,47%

2020 7 Rasio 13 Rasio 53,84% 92,88% -39,04%

Realisasi indikator kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan seperti pada tabel di bawah ini.

3.10. Realisasi Indikator Kinerja Angka Kematian Bayi terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Angka

Kematian Bayi

Rasio 11,6 7,63 10 11 13 7

Berdasarkan data tahun 2020, terdapat 53 kasus kematian bayi yang terlaporkan yang terdiri dari kematian neonatal (berumur 0-28 hari) sebanyak 44 kasus dan kematian post natal (berumur 29 hari – 11 bulan) sebanyak 9 kasus dari jumlah 3.886 kelahiran hidup yang disebabkan karena BBLR, asfiksia, penyakit bawaan (kelainan kongenital), pneumonia, kelainan saluran cerna dan lain-lain. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kesadaran ibu hamil, keluarga dan masyarakat terhadap resiko kematian bayi disamping pemenuhan sarana prasarana kegawatdaruratan neonatal yang sampai saat terbatas di

RSUD Taman Husada dan RS. Pupuk Kaltim yang memiliki ruang perawatan Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

3.2.2.2 Indikator Kinerja Sasaran Angka Kematian Ibu

Angka kematian ibu merupakan indikator utama yang digunakan secara internasional untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat. Angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2020 sebesar 103 rasio dengan capaian 119,41%

dari target 123 per 100.000 kelahiran hidup. Dimana pada tahun 2020 terdapat 4 kasus kematian ibu dari 3.886 bayi lahir hidup. Adapun jumlah angka kematian ibu dapat dihitung berdasarkan rumus di bawah ini.

π΄π‘›π‘”π‘˜π‘Ž πΎπ‘’π‘šπ‘Žπ‘‘π‘–π‘Žπ‘› 𝐼𝑏𝑒 (𝐴𝐾𝐼) = βˆ‘ πΎπ‘’π‘šπ‘Žπ‘‘π‘–π‘Žπ‘› 𝑖𝑏𝑒 1 π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘›

βˆ‘ πΎπ‘’π‘™π‘Žβ„Žπ‘–π‘Ÿπ‘Žπ‘› β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘

Μ‡

π‘₯ 100.000 = 4

3.886 π‘₯ 100.000 = 13 π‘…π‘Žπ‘ π‘–π‘œ

3.11. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Angka Kematian Ibu Angka Kematian Ibu

Tahun Target Realisasi Capaian Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi 2016 234 Rasio 110,9 Rasio 211 % 78,53% 132,47%

2017 197 Rasio 131,61 Rasio 149,68 % 94,56% 55,12%

2018 160 Rasio 77 Rasio 207,7 % 83,7% 124%

2019 123 Rasio 79 Rasio 155,69% 80,77% 74,92%

2020 123 Rasio 103 Rasio 119,41% 92,88% 26,53%

Realisasi indikator kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan seperti pada tabel di bawah ini.

3.12. Realisasi Indikator Kinerja Angka Kematian Ibu terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Angka

Kematian Ibu

Rasio 110,9 131,61 77 79 103 50

Upaya yang dilakukan untuk menekan kasus kematian ibu adalah pemberdayaan masyarakat secara dini bagi wanita usia subur (WUS) termasuk calon pasangan usia

pengantin dan remaja putri, penyetaraan standar pelayanan kesehatan pada ibu hamil, bersalin dan nifas di fasilitas kesehatan, dan pemenuhan sarana prasarana kegawatdaruratan obstetri, maternal dan neonatal yang sampai saat ini hanya 2 dari 5 Rumah Sakit yang memenuhi yaitu RSUD Taman Husada dan RS. Pupuk Kaltim (memiliki Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK)), selain itu penggerakan peningkatan kelas ibu hamil di kelurahan / puskesmas termasuk edukasi suami siaga.

3.2.2.3 Indikator Kinerja Sasaran Prevalensi Balitas Gizi Kurang

Pemenuhuan gizi anak sebaiknya diperhatikan sejak dini yaitu sejak dalam kandungan melalui makanan ibu hamil. Kekurangan gizi, terutama pada usia dini akan berdampak pada tumbuh kembang anak permisalan, tubuh menjadi kurus dan pendek.

Selain itu, juga berdampak pada rendahnya kemampuan kognitif anak dan kecerdasan anak, serta berpengaruh terhadap menurunnya produktivitas anak. Prevalensi balita gizi kurang di Kota Bontang pada tahun 2020 sebesar 10,56 persen dengan capaian 55,57 persen atau ada sebanyak 774 Balita dengan status gizi kurang dari 7.328 balita.

Perbandingan capaian kinerja prevalensi balita gizi kurang beberapa tahun terakhir disajikan pada tabel di bawah ini.

3.13. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Prevalensi Balita Gizi Kurang Prevalensi Balita Gizi Kurang

Tahun Target Realisasi Capaian Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi

2016 < 5 % 0,39 % 100% 82,33% 17,67%

2017 < 5 % 0,17 % 100% 97,78% 2,22%

2018 < 5 % 0,14 % 100% 96,45% 3,55%

2019 < 5 % 0,2 % 100% 98,94% 1,06%

2020 < 2 % 10,56 % 55,57% 92,88% -37,31

Realisasi indikator kinerja prevalensi balita gizi kurang seperti disajikan pada tabel di atas diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut.

π‘ƒπ‘Ÿπ‘’π‘£π‘Žπ‘™π‘’π‘›π‘ π‘– π΅π‘Žπ‘™π‘–π‘‘π‘Ž 𝐺𝑖𝑧𝑖 πΎπ‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” = βˆ‘ π‘π‘Žπ‘™π‘–π‘‘π‘Ž 𝑔𝑖𝑧𝑖 π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”

βˆ‘ π‘π‘Žπ‘™π‘–π‘‘π‘Ž

Μ‡

π‘₯ 100%

= 774

π‘₯ 100% = 10,56%

Realisasi indikator kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan seperti pada tabel di bawah ini.

3.14. Realisasi Indikator Kinerja Prevalensi Balita Gizi Kurang terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Prevalensi

Balita Gizi Kurang

% 0,39 0,17 0,14 0,2 10,56 <5

Faktor resiko yang mempengaruhi adalah kemiskinan, kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi, praktik pengasuhan anak yang kurang tepat dan/atau konsumsi makanan bergizi yang rendah. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK), edukasi bagi ibu hamil terkait manfaat zat besi/FE selama kehamilan, peningkatan pelayanan ANC pada fasilitas kesehatan sesuai standar dengan pembinaan oleh Dinas Kesehatan secara berkala, memaksimalkan pelayanan kelas ibu hamil, penyuluhan calon pengantin serta edukasi tentang pola asuh dan pola makan yang sesuai dengan usia balita. Selain itu di tahun 2020, Dinas Kesehatan bekerjasama dengan CSR melaksanakan program yang mendukung kegiatan penanganan stunting di Puskesmas Bontang Selatan 2 antara lain kegiatan kelas ibu dan balita, pemberian menu makanan 12 hari dengan menggunakan bahan pangan lokal dan mengenalkan dan mengajarkan orang tua balita bahwa makanan bergizi bukan makanan yang mahal.

3.2.2.4 Indikator Kinerja Sasaran Angka Harapan Hidup

Umur panjang dan hidup sehat digambarkan oleh angka harapan hidup. Angka harapan hidup merupakan rata-rata jumlah tahun kehidupan yang masih dijalani oleh seseorang yang berhasil mencapai umur tertentu. Angka harapan hidup juga merupakan salah satu dari tiga dimensi dasar Indeks Pembangunan Manusia selain pengetahuan dan standar hidup layak. Manfaat mengetahui angka harapan hidup adalah untuk menentukan tingkat kemakmuran penduduk dalam suatu daerah/Negara. Selama tiga tahun pertama periode RPJMD Kota Bontang tahun 2016, angka harapan hidup Kota Bontang (2016-2018) rata-rata mencapai 73 tahun dan telah melampaui realisasi nasional (71 tahun) walaupun belum mencapai target yang telah ditetapkan di dalam dokumen perencanaan.

Pada tahun 2019 dan tahun 2020, Kota Bontang telah melampaui target yang telah ditetapkan yaitu mencapai 74,18 dan 74,28 tahun. Capaian indikator kinerja Angka Harapan Hidup 5 tahun terakhir dapat dilihat seperti disajikan pada tabel di bawah ini.

3.15. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Angka Harapan Hidup Angka Harapan Hidup

Tahun Target Realisasi Capaian Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi

2016 73,94 th 73,69 th 99,6 % 0 % 99,6%

2017 73,94 th 73,71 th 99,69 % 87,05% 12,64%

2018 73,95 th 73,69 th 99,9 % 83,7% 16,2%

2019 73,95 th 74,18 th 100 % 88,15% 11,85%

2020 73,96 th 74,28 th 102,73% 97,63% 5,10%

Secara umum, angka harapan hidup di Kota Bontang dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2020, capaian kinerja bahkan telah melampaui target akhir RPJMD. Berikut disajikan realisasi kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 seperti pada tabel di bawah ini.

3.16. Realisasi Indikator Kinerja Angka Harapan Hidup terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Angka

Harapan Hidup

tahun 73,69 73,71 73,69 74,18 74,28 73,96

Capaian angka harapan hidup Kota Bontang pada tahun 2020 berada di bawah Provinsi Kalimantan Timur sebesar 74,33 dan berada di atas rata-rata nasional 73,40.

Pada tahun 2020, angka harapan hidup Kota Bontang mencapai 74,28 tahun.

3.2.3 Sasaran Meningkatnya Kesejahteraan Kehidupan Sosial

Salah satu aspek kesejahteraan sosial adalah kemampuan pemenuhuan kebutuhan dasar sosial masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhannya, masyarakat perlu bekerja.

Masyarakat yang dikategorikan umur produktif namun tidak bekerja meningkatkan angka 74.28

74.33 73.4

2020

Nasional Provinsi Kaltim Kota Bontang

kriminalitas adalah adanya ketimpangan kehidupan sosial dan ekonomi di masyarakat.

Ketimpangan kehidupan sosial dan ekonomi di masyarakat menjadikan angka kemiskinan dan pengangguran meningkat. Untuk mengukur peningkatan kesejahteraan kehidupan sosial ditetapkan dua indikator kinerja yakni tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran.

3.17. Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Meningkatnya Kesejahteraan Kehidupan Sosial

No Indikator Kinerja Satuan Tahun 2020

Target Realisasi % Capaian 1. Tingkat Kemiskinan Persentase 4,50 4,38 102,73%

2. Tingkat Pengangguran Persentase 9,80 9,46 103,59%

Rata-rata Capaian 103,16%

3.2.3.1 Indikator Kinerja Sasaran Tingkat Kemiskinan

Tingkat ketimpangan distribusi pendapatan erat kaitannya dengan realisasi tingkat kemiskinan dalam suatu wilayah. Semakin timpang distribusi pendapatan, umumnya akan mencerminkan tingkat kemiskinan yang semakin tinggi. Secara absolut jumlah penduduk miskin Kota Bontang selama tahun 2015-2017 cenderung mengalami peningkatan. Hanya pada tahun 2017-2019 jumlah penduduk miskin mengalami penurunan. Turunnya jumlah penduduk miskin pada tahun 2019 tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi pada sektor non migas yang mulai membaik. Pertumbuhan sektor-sektor ekonomi yang cukup bergairah pada tahun tersebut terlihat berdampak pada perbaikan pendapatan masyarakat. Sebagai salah satu sasaran prioritas pembangunan, penanggulangan kemiskinan di Kota Bontang pada prinsipnya telah dilaksanakan secara lintas sektoral dan multi stakeholder. Penanggulangan kemiskinan tersebut telah mencakup aspek-aspek mendasar kesejahteraan sosial yang harus difasilitasi, yakni penanggulangan kemiskinan bidang pendidikan melalui program bebas biaya pendidikan, bantuan seragam dan pemberian skala prioritas untuk sekolah negeri, bidang kesahatan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan bagi penduduk miskin, sarana dasar melalui bantuan perbaikan perumahan layak, dan subsidi pangan melalui program Rastra. Pada aspek pemberdayaan ekonomi, pemerintah dan perusahaan secara rutin menyelenggarakan program-program pemberdayaan, pelatihan, fasilitasi sarana usaha dan bentuk-bentuk lainnya. Namun berdasarkan data pada tahun 2020, jumlah penduduk miskin di Kota Bontang mengalami peningkatan dari tahun 2019 yang semula 7,47 ribu menjadi 7,91 ribu atau bertambah sebanyak 440 orang (5,89%). Berdasarkan perhitungan BPS tingkat kemiskinan atau persentase penduduk miskin Kota Bontang pada tahun 2020

mencapai 4,38%, relatif mengalami peningkatan sebesar 0,16% dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 4,22%.

3.18. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Tingkat Kemiskinan Tingkat Kemiskinan

Tahun Target Realisasi Capaian Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi 2016 5,04 % 10,33 % 48,78 % 99,43 % -50,64 %

2017 4,83 % 5,18 % 93, 24 % 91,13 % 2,11 %

2018 4,62 % 4,67 % 98,92 % 81,31 % 17,61 %

2019 4,42 % 4,22 % 104,73 % 97% 7,73 %

2020 4,50 % 4,38 % 102,73 % 97,63 % 5,10 %

Realisasi indikator kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan seperti pada tabel di bawah ini.

3.19. Realisasi Indikator Kinerja Tingkat Kemiskinan terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Tingkat

Kemiskinan

% 10,33 5,18 4,67 4,22 4,38 4

Capaian kinerja tingkat kemiskinan Kota Bontang pada tahun 2020 berada di atas rata-rata Provinsi Kalimantan Timur sebesar 6,10 dan rata-rata nasional sebesar 9,78.

Pada tahun 2020, tingkat kemiskinan Kota Bontang mencapai 4,38 persen. Secara umum, jumlah penduduk miskin di Kota Bontang lebih rendah daripada provinsi kaltim dan nasional.

Salah satu upaya yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Bontang untuk membantu masyarakat miskin adalah dengan Bantuan Sosial Tunai (BST) yaitu Bantuan berupa uang yang diberikan kepada keluarga miskin, tidak mampu, dan/atau rentan yang

4.38 6.1

9.78 2020

Nasional Provinsi Kaltim Kota Bontang

Bontang senilai Rp. 3.567.600.000 untuk 2.830 Rumah Tangga. Selain itu, Pemerintah juga membantu dengan pembagian sembako kepada masyarakat miskin. Untuk meningkatkan capaian kinerja tingkat kemiskinan dengan menurunkan jumlah masyarakat miskin maka Pemerintah telah melaksanakan rehabilitasi sosial bagi penyandang disabilitas, melaksanakan program keluarga harapan dan melaksanakan manajemen usaha bagi keluarga miskin.

3.2.3.2 Indikator Kinerja Sasaran Tingkat Pengangguran

Meningkatnya jumlah pengangguran berimplikasi pada tingkat kemiskinan di suatu daerah. Kota Bontang termasuk memiliki komposisi penduduk usia produktif tinggi sehingga menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Bontang dalam menyediakan lapangan kerja dan berpotensi pengangguran juga daya serap pasar tenaga kerja rendah.

Hingga tahun 2019 kelompok usia produktif (15-64) masih merupakan kelompok usia terbanyak mencapai 123.486 jiwa atau 69,48% dari total jumlah penduduk Kota Bontang dengan Rasio Beban Ketergantungan (RBK) sebesar 43,92. Rasio tersebut menunjukkan bahwa setiap 100 orang penduduk produktif mempunyai tanggungan sebanyak 44 orang yang belum atau sudah tidak produktif lagi. Sebagai kota dengan basis ekonomi sektor industri, permasalahan ketenagakerjaan tidak terlepas dari faktor terbatasnya penambahan lapangan kerja baru dibandingkan dengan pertumbuhan angkatan kerja. Hal inilah yang selama beberapa tahun terakhir berdampak pada relatif tingginya angka pengangguran bahkan lebih tinggi dari angka rata-rata provinsi dan nasional. Tingkat Pengangguran Kota Bontang pada tahun 2020 mencapai 9,46% mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar 9,19%. Sejak tahun 2016 indikator kinerja tingkat pengangguran mengalami peningkatan sampai dengan tahun 2017, mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2018 dan mengalami peningkatan pada tahun 2019 dan 2020. Hal ini juga tidak terlepas oleh adanya pandemi covid-19 sehingga beberapa sektor usaha mengurangi jumlah pegawainya dan banyak penduduk produktif yang di Putus Hubungan Kerja (PHK). Berikut disajikan perbandingan capaian kinerja tingkat pengangguran beberapa tahun terakhir.

3.20. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Tingkat Pengangguran Tingkat Pengangguran

Tahun Target Realisasi Capaian Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi 2016 12,9 % 12,18 % 94,42 % 99,97 % -5,55 % 2017 11,98 % 12,08 % 99,17 % 88,78 % 10,39 %

2019 10,14 % 9,19 % 110,33 % 97,37 % 12,96 %

2020 9,80 % 9,46 % 103,59% 83,19 % 20,40 %

Realisasi indikator kinerja tingkat pengangguran seperti disajikan pada tabel di atas diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut.

% π‘‡π‘–π‘›π‘”π‘˜π‘Žπ‘‘ π‘ƒπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘›π‘”π‘”π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘› = βˆ‘ π‘ƒπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘›π‘”π‘”π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›

βˆ‘ π΄π‘›π‘”π‘˜π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› πΎπ‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž

Μ‡

π‘₯ 100%

= 8.700

91.932 π‘₯ 100% = 9,46%

Realisasi kinerja sejak tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 dibandingkan dengan target akhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021 Kota Bontang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

3.21. Realisasi Indikator Kinerja Tingkat Pengangguran terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Tingkat

Pengangguran

% 12,18 12,08 12,44 9,19 9,46 8,3

Secara umum, jumlah pengangguran di Kota Bontang lebih tinggi dari jumlah pengangguran provinsi Kalimantan Timur dan nasional. Selain itu, capaian kinerja tingkat pengangguran Kota Bontang pada tahun 2020 berada di bawah rata-rata Provinsi Kalimantan Timur sebesar 6,88 dan rata-rata nasional sebesar 7,07. Pada tahun 2020, tingkat pengangguran Kota Bontang mencapai 9,46 persen.

Beberapa upaya yang dilakukan untuk menekan jumlah pengangguran di Kota Bontang adalah dengan menyebarluaskan informasi pasar kerja, melaksanakan pelatihan peningkatan kualitas tenaga kerja, melaksanakan penyuluhan dan bimbingan jabatan

9.46 6.88

7.07 2020

Nasional Provinsi Kaltim Kota Bontang

pencari kerja, melaksanakan pameran pemberi kerja dan melaksanakan pembinaan serikat pekerja/serikat buruh.

3.2.4 Sasaran Terwujudnya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Transparan, Akuntabel dan Partisipatif

Penyelenggaraan pemerintahan ditujukan untuk memastikan bahwa kualitas pelayanan pemerintahan semakin efisien, efektif, transparan dan akuntabel. Sasaran Terwujudnya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Transparan, Akuntabel dan Partisipatif memiliki lima indikator kinerja sasaran seperti disajikan pada tabel berikut.

3.22. Realisasi Indikator Kinerja Sasaran

No Indikator Kinerja Satuan Tahun 2020

Target Realisasi % Capaian 1. Predikat Akuntabilitas Kinerja

Pemerintah

Nilai BB/70,10 B/67,66 96,51%

2. Nilai LPPD Nilai ST ST (3,6307) 100%

3. Indeks Kepuasan Masyarakat Indeks 83,97 84,59 100%

4. Indeks Reformasi Birokrasi Nilai B B 100%

5. Nilai Pemeringkatan e-Goverment Indonesia (PeGi)

Poin/Score - - -

Rata-rata Capaian 99,12%

3.2.4.1 Indikator Kinerja Sasaran Predikat Akuntabilitas Kinerja Pemerintah

Akuntabilitas kinerja merupakan perwujudan kewajiban Pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi pembangunan dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Pada Tahun 2020, hasil evaluasi belum diserahkan kepada Pemerintah Daerah sehingga masih menggunakan data pada tahun 2019. Pada tahun 2019, Inspektorat Daerah Provinsi Kalimantan Timur melalui surat nomor 700/2060/SAKIP-Kab-Kota/IX/2019 tanggal 15 November 2019 perihal Laporan Hasil Evaluasi atas Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP) Tahun 2019 pada Pemerintah Kota Bontang. Berikut disajikan capaian kinerja predikat akuntabilitas kinerja pemerintah beberapa tahun terakhir.

3.23. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Predikat Akuntabilitas Kinerja Pemerintah

Predikat Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Tahun Target Realisasi Capaian

Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi

2016 65,00/BB 64,74/B 99,6 % 99 % 0,6 %

2017 66,3/B 65,1/B 98,19 % 99,32 % -1,13 %

2018 66,25/B 65,81/B 99,33 % 82,60 % 16,73 %

2019 B 67,66/B 100 % 87,76 % 12,24 %

2020 70,10/BB 67,66/B 96,51 % 90,41 % 6,10 %

Realisasi indikator kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan seperti pada tabel di bawah ini.

3.24. Realisasi Indikator Kinerja Predikat Akuntabilitas Kinerja Pemerintah terhadap Target RPJMD

No Indikator Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Predikat

Akuntabilitas Kinerja Pemerintah

Nilai B B B B B BB

3.2.4.2 Indikator Kinerja Sasaran Nilai LPPD

Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) digunakan sebagai bahan Pemerintah dalam melaksanakan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan serta sebagai upaya pembinaan kepada Tim Kinerja Pemerintah Daerah. Pada tahun 2020 Pemerintah Kota Bontang telah menetapkan target Nilai LPPD adalah Sangat Tinggi dengan realisasi Sangat Tinggi (3,6307) dan capaian kinerja 100%. Perolehan Nilai LPPD tahun 2020 merupakan berdasarkan penilaian dari Provinsi Kalimantan Timur yang ditetapkan dengan Keputusan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 700/K.630/2020 tentang Penetapan Status dan Peringkat Sementara atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kabupaten dan Kota Se Kalimantan Timur Tahun 2019. Berdasarkan penilaian tersebut, Pemerintah Kota Bontang mendapatkan peringkat kedua di Provinsi Kalimantan Timur dengan Peringkat pertama Kota Samarinda. Berdasarkan data yang diperoleh, nilai LPPD kota Bontang sejak tahun 2016 telah memenuhi target Sangat Tinggi (ST) walaupun angka yang diperoleh tahun 2017 dan 2018 mengalami penurunan dari tahun 2016.

Peningkatan yang cukup signifikan terjadi ditahun 2019 dan tahun 2020. Berikut disajikan

3.25. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Nilai LPPD Nilai LPPD

Tahun Target Realisasi Capaian Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi

2016 ST 3,2775/ST 100 % 76,63 % 23,37 %

2017 ST 3,2736/ST 100 % 97,42 % 2,58 %

2018 ST 3,2736/ST 100 % 85,80 % 14, 2 %

2019 ST 3,4701/ST 100 % 87,55 % 12,45 %

2020 ST 3,6307/ST 100 % 97,81 % 2,19 %

Realisasi indikator kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan seperti pada tabel di bawah ini.

3.26. Realisasi Indikator Kinerja Nilai LPPD terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Nilai

LPPD

Nilai ST ST ST ST ST ST

3.2.4.3 Indikator Kinerja Sasaran Indeks Kepuasan Masyarakat

Target yang ditetapkan untuk indikator kinerja Indeks Kepuasan Masyarakat Tahun 2020 adalah 83,97 dengan realisasi sebesar 84,59 dan capaian kinerja 100%.

Sejak tahun 2016 capaian kinerja Indeks Kepuasan Masyarakat mengalami peningkatan yang cukup signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik oleh Pemerintah Kota Bontang sudah mampu mengeksekusi rencana tindak lanjut hasil keluhan publik pada tahun 2019 secara optimal. Capaian kinerja Indeks Kepuasan Masyarakat Kota Bontang 2020 diperoleh dari survei kepuasan masyarakat pada 53 Perangkat Daerah dan unit kerja lainnya. Berikut disajikan pencapaian selama beberapa tahun terakhir.

3.27. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Indeks Kepuasan Masyarakat Indeks Kepuasan Masyarakat

Tahun Target Realisasi Capaian Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi

2016 85,21/skor 79,43/skor 93,22 % 0 % -

2017 80,23/skor 75,36/skor 93,93 % 98,48 % -4,55 % 2018 81,48/skor 79,77/skor 97,90 % 93,26 % 4,64 %

2019 82,72/skor 84,08/skor 100 % 93,74 % 6,26 % 2020 83,97/skor 84,59/skor 100 % 85,71 % 14,29 %

Realisasi indikator kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan seperti pada tabel di bawah ini.

3.28. Realisasi Indikator Kinerja Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Indeks

Kepuasan Masyarakat

Skor 79,43 75,36 79,77 84,08 84,59 85,21

Realisasi Indeks Kepuasan Masyarakat Kota Bontang tahun 2020 seperti disajikan pada tabel di atas diperoleh dari akumulasi penilaian pada 53 Perangkat Daerah/unit kerja yang ditetapkan sebelumnya untuk dilakukan penilaian oleh pihak ketiga yang dianggap mampu dan telah dilaksanakan survei oleh Pemerintah Kota Bontang untuk melaksanakan Survei Kepuasan Masyarakat pada 53 Perangkat Daerah/unit kerja yang telah ditetapkan. Adapun 53 Perangkat Daerah/unit kerja ditetapkan berdasarkan pertimbangan sebagai berikut.

a. Perangkat Daerah/Unit kerja tersebut merupakan kebutuhan yang mendasar serta paling berpengaruh bagi masyarakat atau stakeholders, dan seluruh masyarakat atau stakeholders memerlukan pelayanan yang terbaik di sektor ini;

a. Perangkat Daerah/Unit kerja tersebut merupakan kebutuhan yang mendasar serta paling berpengaruh bagi masyarakat atau stakeholders, dan seluruh masyarakat atau stakeholders memerlukan pelayanan yang terbaik di sektor ini;