Pengelolaan obat di rumah sakit merupakan salah satu manajemen rumah sakit yang penting, karena ketidakefisienan dalam pengelolaan akan memberikan efek negatif terhadap rumah sakit baik secara medis maupun ekonomi. Pengelolaan obat di rumah sakit bertujuan agar obat yang diperlukan tersedia setiap saat diperlukan, dalam jumlah yang cukup dan mutu yang terjamin. Pengelolaan obat meliputi tahap perencanaan, pengadaan, penyimpanan, distribusi dan penggunaan obat yang saling terkait satu sama lain. Prinsip penting dalam manajemen obat dirumah sakit agar tiap tahap dan kegiatan dapat berjalan secara dinamis dan saling mengisi. Ketidakterkaitan antar tahap akan membawa konsekuensi tidak efisiennya sistem suplai dan penggunaan yang ada. Untuk melihat gambaran keefisienan suatu sistem, maka dapat memanfaatkan indikator-indikator yang khas untuk sistem tersebut. Terdapat beberapa batasan-batasan indikator yaitu:
1.
Indikator merupakan ukuran untuk mengukur perubahan102.
Indikator merupakan jenis data berdasar sifat/gejala/keadaan yang dapat diukur dan diolah secara mudah dan cepat dengan tidak memerlukan data lain dalam pengukurannya103.
Indikator merupakan alat ukur kuantitatif yang dapat digunakan untuk monitoring, evaluasi, dan mengubah atau meningkatkan mutu pengelolaan obat di farmasi rumah sakit.6Indikator dapat digunakan untuk mengukur saat proses berlangsung maupun sesudah menjadi keluaran. Indikator yang baik harus mempunyai validitas, sensitivitas, dan spesifik. Indikator yang valid adalah indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat keadaan suatu pengelolaan, sehingga pengelolaan dapat ditingkatkan. Indikator yang sensitiv adalah indikator yang dapat menunjukkan semua kasus-kasus yang terjadi saat pengukuran baik pada tahap proses maupun tahap keluaran. Indikator yang spesifik adalah indikator yang dapat menunjukkan suatu kasus memang
benar-benar terjadi saat pengukuran dilakukan. Indikator sebagai alat ukur kuantitatif, diharapkan mampu memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Contoh indikator farmasi yang sudah dikembangkan:
1. Instrument Mengukur Kemampuan Rumah Sakit (MKRS)
Berdasarkan keputusan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, pada tahun 1992 diadakan penilaian penampilan kerja rumah sakit umum pemerintah dan swasta dalam rangka Hari Kesehatan Nasional tahun 1992. Untuk keperluan tersebut diatas maka diadakan pengukuran dengan instrument. Instrumen yang digunakan adalah instrument Mengukur Kemampuan Rumah Sakit yang telah disempurnakan (hasil kerjasama antara Direktorat Jenderal Pelayanan Medik dengan P4K Surabaya). Instrumen MKRS ini memuat penilaian penampilan kerja untuk kelompok-kelompok seperti tersebut dibawah ini:
a. Kelompok Manajemen Rumah Sakit (Penatalaksanaan Rumah Sakit)
b. Kelompok Pelayanan Medik
c. Kelompok Pelayanan Penunjang Medik
Masing-masing kelompok dibagi dalam unsur-unsur : ketenagaan, kemampuan, sarana fisik, peralatan, dan unsur prosedur kerja tetap. Instrumen yang digunakan untuk menilai farmasi rumah sakit termasuk dalam kelompok Pelayanan Penunjang Medik. Untuk unsur ketenagaan semua kelompok disatukan dalam kelompok Manajemen Rumah Sakit (Penatalaksanaan Rumah Sakit). Adapun instrumen yang berkaitan untuk menilai farmasi rumah sakit adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2 Instrumen Mengukur Kemampuan Rumah Sakit Unsur yang dinilai Indikator
1 2
Unsur jenis
pelayanan
1.
Mendistribusikan obat dan bahan: obat jadi/generik, bahan kimia, alat habis pakai, alat inventaris medis.2.
Meracik obat dan pembuatan serta penyediaan bahan: obat jadi, obat campuran, sediaan standar rumah sakit (formularium rumah sakit), sediaan steril 3. Penyimpanan obatUnsur yang dinilai Indikator
1 2
pemeriksaan sederhana mutu obat.
Unsur sarana fisik 1. Ruang operasional: ruang apotik, ruang pengawasan mutu, ruang penyimpanan berbagai bahan kimia dan obat, ruang penerimaan dan penyerahan obat, ruang bahan dan alat, ruang dokumentasi.
2. Ruang administrasi: ruang administrasi/resep, ruang apoteker/staf, ruang perpustakaan/rapat.
3. Ruang penunjang: gudang, ruang tunggu, kamar mandi/WC, ruang tempat pembuangan bahan berbahaya.
Unsur peralatan 1. Alat pharmaceutical sederhana: alat meracik obat powder, alat meracik obat bentuk pil/kapsul, alat meracik bentuk larutan, alat meracik bentuk emulsi, alat meracik suppositoria, alat meracik salep sederhana, alat sterilisasi sederhana, alat menimbang bahan dan obat.
2. Alat penunjang: refrigerator, intercom, sound system.
Unsur prosedur kerja tetap
1. Prosedur kerja tetap administrasi:
a. Tatalaksana permintaan bahan, alat, dan obat dari unit UPF di rumah sakit
b. Tatalaksana permintaan bahan, alat dan obat dari pasien
c. Uraian tugas petugas
d. Tatalaksana permintaan bahan berbahaya/ narkotik
e. Pedoman tarif
2. Prosedur kerja tetap kefarmasian: protap meracik powder, protap membuat pil/kapsul, protap membuat larutan, protap membuat emulsi, protap membuat suppositoria, protap membuat salep.
Sumber: Pudjaningsih, D., Pengembangan Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat di
Farmasi Rumah Sakit. Magister Manajemen Rumah Sakit, UGM.
2.
Adapun instumen penilaian penampilan kerja rumah sakit umum yang digunakan dalam rangka Hari Kesehatan Nasional tahun 1994 khususnya untuk farmasi rumah sakit adalah sebagai berikut:Tabel 2.3 Instrumen Penilaian Penampilan Kerja Rumah Sakit Unsur yang dinilai Indikator
1 2
Perencanaan 1. Ada komite farmasi dan terapi dengan surat keputusan direktur
a. Tidak ada kegiatan
b. Rapat rutin 1 tahun kurang dari 4 kali c. Rapat rutin 1 tahun minimal 4 kali d. Telah membuat konsep formularium
e. Telah mempunyai pedoman diagnosa dan terapi serta formularium
Unsur yang dinilai Indikator
1 2
Penggunaan obat generik Akses pelayanan
Catatan farmasi/ gudang obat
2. Perencanaan obat tidak dibuat perencanaan
a. Dibuat 1 macam, yaitu berdasarkan kebutuhan sebenarnya dengan salah satu pola
b. Dibuat 1 macam, yaitu berdasarkan alokasi dana dan kebutuhan sebenarnya dengan salah satu pola yang ada
c. Dibuat 2 macam, yaitu berdasarkan alokasi dana dan berdasarkan kebutuhan sebenarnya dengan salah satu pola yaitu epidemiologi atau konsumsi d. Dibuat 2 macam, yaitu berdasarkan alokasi dana
dan berdasarkan kebutuhan sebenarnya dengan pola kombinasi
3.
Jumlah jenis obat generik, dibandingkan dengan seluruh obat yang ada di farmasi rumah sakit tahun lalu. (Bukti tertulis)4. Prosentase penulisan resep dengan generik, tahun lalu, sampling dari kumpulan resep tahun lalu. (Bukti tertulis)
5.
Prosentase resep yang dilayani di farmasi rumah sakit dari resep rawat jalan dan rawat inap. (Bukti tertulis) 6. Laporan pemakaian obata. Laporan obat generik
b. Laporan keseluruhan pemakaian obat
c. Laporan bulanan pemakaian obat untuk apotik d. Laporan bulanan pemakain obat untuk gudang e. Laporan pemakaian obat masing-masing poli/UGD 7. Visualisasi data di instalasi farmasi rumah sakit
a. Tidak ada data
b. Data penulisan obat generik
c. Data penulisan obat generik dibandingkan dengan obat yang ada
d. Data jumlah obat yang dilayani e. Data penggunaan anggaran
Sumber: Pudjaningsih, D., Pengembangan Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat di Farmasi
Rumah Sakit. Magister Manajemen Rumah Sakit, UGM.
Sementara itu Pudjaningsih dari Magister Manjemen Rumah Sakit UGM menetapkan beberapa indikator efisiensi untuk pengelolaan obat di farmasi rumah sakit yang meliputi tahap perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan distribusi, yang digunakan peneliti untuk mengukur tahap-tahap proses pengelolaan obat, indikator-indikator itu yaitu sebagai berikut:
1. Perencanaan Obat
Beberapa indikator yang digunakan dalam perencanaan adalah:
a. Persentase dana
Data diperoleh dengan cara penelusuran data, yaitu dana yang tersedia, dan data kebutuhan dana secara keseluruhan berdasarkan
metode konsumsi, dikombinasi dengan epidemiologi, kemudian dihitung persentase dana yang tersedia pada IFRS dibanding kebutuhan yang sesungguhnya. Nilai standar persentase dana yang tersedia adalah ≥ 100%.
b. Penyimpangan perencanaan
Data yang digunakan adalah macam item obat, kemudian dihitung jumlah item obat dalam perencanaan dan jumlah item obat dalam kenyataan pakai. Nilai standar batas penyimpangan perencanaan adalah 20-30%.
2. Pengadaan Obat
Indikator-indikator dalam pengelolaan obat di rumah sakit antara lain: a. Frekuensi pengadaan tiap item obat
Frekuensi pengadaan tiap item obat setiap tahunnya dapat digolongkan menjadi 3 kategori yaitu frekuensi rendah (<12), sedang (12-24), dan tinggi (>24). Banyaknya obat dengan frekuensi sedang dan tinggi menunjukkan kemampuan IFRS dalam merespon perubahan kebutuhan obat dan melakukan pembelian obat dalam jumlah sesuai dengan kebutuhan saat itu. Pengadaan obat yang berulang juga menunjukkan bahwa yang tersedia di IFRS merupakan obat dengan perputaran cepat (fast moving). Banyaknya obat yang masuk kedalam jenis slow moving dapat berarti kerugian bagi rumah sakit. Cara analisisnya yaitu dengan mengambil secara acak sejumlah kartu stok dalam setahun, dicatat nama masing-masing obat, kemudian dilihat pada catatan pengadaan selama tahun tersebut.
b. Frekuensi kesalahan faktur
Kriteria kesalahan faktur pembelian yang digunakan adalah adanya ketidak cocokan jenis obat, jumlah obat dalam suatu item, atau jenis obat dalam faktur terhadap surat pesanan yang bersesuaian. Cara analisisnya adalah dengan mengambil secara acak sejumlah faktur pembelian dalam setahun, kemudian masing-masing faktur tersebut dicocokkan dengan surat pesanan. Ketidaksesuaian faktur dengan surat pesanan dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu:
1) Tidak ada stok, atau barang habis di PBF, jadi barang yang dipesan pada distributor atau PBF sedang mengalami kekosongan.
2) Stok barang yang tidak sesuai. Barang yang dipesan pada PBF isi dalam kemasannya tidak baik atau rusak sehingga barang tidak digunakan.
3) Reorder atau frekuensi pemesanan terlalu banyak, menyebabkan petugas bersangkutan tidak sempat untuk melakukan pembukuan dengan cermat.
c. Frekuensi tertundanya pembayaran oleh rumah sakit terhadap waktu yang telah disepakati
Tingkat frekuensi tertundanya pembayaran menunjukkan kurang baiknya manajemen keuangan pihak rumah sakit. Hal ini dapat menunjukkan kepercayaan pihak pemasok kepada rumah sakit sehingga potensial menyebabkan ketidaklancaran suplai obat dikemudian hari. Besarnya frekuensi tertundanya pembayaran IFRS terhadap waktu yang telah disepakati dapat mengakibatkan:
1) Hubungan antara IFRS dengan pemasok terganggu
Hubungan antara IFRS dengan pemasok perlu dijaga agar tetap baik, sehingga bila ada pengembalian obat yang kadaluarsa atau keluhan lain dapat segera ditanggapi, segera mendapat daftar baru bila ada kenaikan harga dan lancarnya kunjungan sales ke IFRS untuk menerima pesanan.
2) Penundaan pemesanan order oleh pemasok
Penundaan pemesanan ini dapat mengganggu kelancaran dalam pelayanan pasien, karena dengan tertundanya pemesanan akan menyebabkan stok menjadi kosong sehingga kebutuhan pasien tidak dapat terpenuhi.
3. Penyimpanan Obat
a. Persentase kecocokan antara barang dengan kartu stok
Proses pencocokan harus dilakukan pada waktu yang sama untuk menghindari kekeliruan karena adanya barang yang keluar atau masuk (adanya transaksi). Apabila tidak dilakukan secara
bersamaan maka ketidakcocokan akan meningkat. Ketidakcocokan akan menyebabkan terganggunya perencanaan pembelian barang dan pelayanan terhadap pasien.
b. Turn Over Ratio (TOR)
TOR digunakan untuk mengetahui berapa kali perputaran modal dalam 1 tahun, selain itu dapat untuk menghitung efisiensi pengelolaan obat. Semakin tinggi TOR, semakin efisien persediaan obat. Apabila TOR rendah, bearti masih banyak stok obat yang belum terjual sehingga mengakibatkan obat menumpuk dan berpengaruh terhadap keuntungan. TOR adalah perbandingan antara omzet dalam 1 tahun dengan hasil stok opname pada akhir tahun. Standar umum TOR yang biasa digunakan yaitu 6-7 kali.
c. Sistem penataan gudang
Sistem penataan gudang bertujuan untuk menilai sistem penataan obat digudang.
d. Persentase nilai obat yang kadaluarsa atau rusak Persentase nilai obat yang kadaluarsa atau rusak masih dapat diterima jika nilainya dibawah 1%. Besarnya persentase nilai obat yang kadaluarsa atau rusak mencerminkan ketidaktepatan perencanaan dan/atau kurang baiknya sistem distribusi dan/atau kurangnya pengamatan mutu dalam penyimpanan, dan/atau perubahan pola penyakit atau pola peresepan oleh dokter.
e. Persentase stok mati
Stok mati adalah stok obat yang tidak digunakan selama 3 bulan atau selama 3 bulan tidak terdapat transaksi. Kerugian yang disebabkan akibat stok mati adalah perputaran uang yang tidak lancar, kerusakan obat akibat terlalu lama disimpan sehingga menyebabkan obat kadaluarsa.
f. Nilai stok akhir gudang
Untuk mengetahui nilai stok akhir obat, yaitu: 1) Stok berlebih
Adanya stok berlebih akan meningkatkan pemborosan dan kemungkinan obat mengalami kadaluarsa atau rusak dalam penyimpanan. Untuk mengantisipasi adanya obat melampaui
batas expire date, maka dilakukan distribusi berdasarkan sistem FIFO atau FEFO. Hal lain yang dapat dilakukan adalah upaya pengembalian obat kepada PBF atau menukar obat yang hampir tiba waktu kadaluarsanya dengan obat baru.
2) Stok kosong
Stok kosong adalah jumlah stok akhir obat sama dengan nol. Stok obat digudang mengalami kekosongan dalam persediaannya sehingga bila ada permintaan tidak bisa terpenuhi. Faktor-faktor penyebab terjadinya stok kosong antara lain:
(a) Tidak terdeteksinya obat yang hampir habis, hal ini terkait dengan ketelitian petugas dalam mencatat persediaan yang menipis.
(b)
Hanya ada persediaan yang kecil untuk obat-obat tertentu (slow moving), maka ketika habis tidak ada persediaan di gudang.(c)
Barang yang dipesan belum datang, hal ini terkait dengan waktu tunggu (lead time) dari PBF yang berbeda-beda.(d) PBF mengalami kekosongan, kadang-kadang hal ini terjadi karena PBF mengalami kekosongan pengiriman dari industri farmasi, yang mengakibatkan pesanan tidak dapat terpenuhi, akibatnya persediaan di IFRS juga kosong.
(e) Pemesanan ditunda oleh PBF, hal ini terjadi jika pembayaran/pelunasan utang ke PBF mengalami keterlambatan, biasanya PBF menunda pesanan IFRS sampai utang tersebut dilunasi, penundaan ini mengakibatkan IFRS mengalami stok kosong.
4. Distribusi
Indikator-indikator distribusi obat yaitu:
a. Rata-rata waktu yng digunakan untuk melayani resep sampai ketangan pasien, bertujuan untuk mengetahui tingkat kecepatan pelayanan apotek rumah sakit.
b. Persentase obat yang diserahkan, bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan IFRS menyediakan obat yang diresepkan.
c.
Persentase obat yang dilabeli dengan benar, bertujuan untuk mengetahui penguasaan peracik (dispenser) tentang informasi pokok yang harus ditulis dalam etiket.d. Persentase resep yang tidak bisa dilayani, bertujuan untuk mengetahui cakupan pelayanan farmasi rumah sakit. Sedangkan untuk mengukur situasi pengelolaan pada tahap penggunaan telah ditetapkan WHO dalam beberapa indikator, yaitu:
1. Jumlah rata-rata obat tiap resep
Tujuannya untuk mengukur derajat polifarmasi. Biasanya kombinasi obat dihitung sebagai 1 obat. Perhitungan dilakukan dengan membagi jumlah total produk obat yang diresepkan dengan jumlah resep yang disurvei.
2. Persentase obat generik yang diresepkan
Tujuannya untuk mengukur kecenderungan peresepan obat generik.
3. Persentase antibiotik yang diresepkan
Indikator peresepan resep dengan antibiotik digunakan untuk mengukur penggunaan antibiotik secara berlebihan karena penggunaan antibiotik secara berlebihan merupakan salah satu bentuk ketidakrasionalan peresepan. Rata-rata persentase penulisan resep dengan antibiotik di Indonesia adalah sebesar 43%.
4. Persentase injeksi yang diresepkan
Tujuannya untuk mengukur penggunaan injeksi yang berlebihan. Dalam hal ini, imunisasi biasanya tidak dimasukkan dalam perhitungan.
5. Persentase obat yang diresepkan dari daftar
obat esensial atau formularium
Tujuannya untuk mengukur derajat kesesuaian praktek dengan kebijaksanaan obat nasional yang diindikasikan dengan peresepan dari daftar obat esensial atau formularium. Sebelumnya rumah sakit harus mempunyai kopi daftar obat esensial nasional atau formularium sehingga dapat dijadikan acuan dalam penulisan resep.
Tabel 2.4 Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat
Tahap Macam Indikator Tujuan Cara Menghitung
1 2 3 4
A. Perencanaan
B. Pengadaan
C. Penyimpanan
1. Persentase dana yang tersedia dengan keseluruhan dana yang sesungguhnya dibutuhkan
2. Perbandingan antara jumlah item obat yang ada dalam perencanaan dengan jumlah item obat dalam kenyataan pemakaian
1. F
rekuensi pengadaan tiap item obat.
2. F rekuensi kesalahan faktur
3.
F rekuensi tertundanya pembayaran oleh rumah sakit terhadap waktu yang disepakati1.
Kecocokan antara barang dengan kartu stok 2. Turn Over Ratio 3. Sistem penataan gudang1.
Untuk mengetahui seberapa jauh persediaan dana memberikan dana kepada farmasi 2. Untuk mengetahui seberapa ketepatan perkiraan dalam perencanaan 1. Untuk mengetahui berapa kali obat-obat tersebut dipesan tiap bulannya.2.
Untuk mengetahui berapa kali petugas melakukan kesalahan 3. Untuk mengetahui kualitas pembayaran rumah sakit1.
Untuk mengetahui ketelitian petugas gudang 2. Untuk mengetahui berapa kali perputaran modal dalam satu tahun 3. Untuk menilai sistem penataan obat digudang, standar 1. Hitun g: A : Dana yang tersedia. B : Kebutuhan berdasar metode konsumsi, epidemiologi Persentase = A/B x 100% 2. Hitun g :C : Jumlah item obat dalam perencanaan D : Jumlah item obat dalam kenyataan pemakaian
Hitung C : D
1. Ambil 30 kartu stok obat, diamati berapa kali obat dipesan tiap tahun 2. Ambil surat pesanan selama 3 bulan, kemudian cocokkan dengan nota pengiriman fakturnya.
3.
Amb il daftar hutang, cocokkan dengan daftar pembayarannya1.
Ambil 30 kartu stok obat (A) cocokkan dengan barang yang ada (B), apakah A = B atau A≠ B
2. Omzet 1 tahun = A, Hasil stok opname 1 tahun = B, TOR = A/B
1
2
adalah FIFO dan FEFO
3
stok secara acak (X), cocokkan dengan keadaan barang dalam no batch, tanggal kadaluarsa dan tanggal pembelian, dicatat berapa yang tidak cocok (Y), hitung berapa persen yang tidak cocok = Y/X x 100%
D. Distribusi
E. Penggunaan
4. Persentase nilai obat yang kadaluarsa dan atau rusak
5. Persentase stok mati
6.
Persentase nilai stok akhir obat1. Rata-rata waktu yang digunakan untuk melayani resep sampai ketangan pasien
2. Perse ntase obat yang diserahkan
3. Perse ntase obat yang diberi label dengan benar
4. Perse ntase resep yang tidak bisa dilayani
1.
Jumlah item obat perlembar resep 4. Untuk mengetahui besarnya kerugian rumah sakit 5. Untuk mengetahui item obat selama tiga bulan tidak terpakai 6. Untuk mengetahui nilai stok akhir digudang 1. Un tuk mengetahui tingkat kecepatan pelayanan apotik rumah sakit 2. Un tuk mengetahui sejauh mana kemampuan IFRS menyediakan obat yang diresepkan 3. Un tuk mengetahui penguasaan dispenser tentang informasi pokok yang harus ditulis pada etiket 4. Un tuk mengetahui cakupan pelayanan farmasi rumah sakit1.
U4. Dari catatan obat yang kadaluarsa dalam 1 tahun, hitung nilainya = X, nilai stok opname = Y, kerugian = X/Y x 100%
5.
Jumlah item obat yang tidak terpakai dalam 3 bulan (X), jumlah item obat yang ada stoknya (Y)6.
Nilai persediaan stok akhir (X), nilai total persediaan (Y), Z = X/Y x 100%1. Ambil 30 pasien rawat jalan dan rawat inap, catat waktu resep masuk keapotek (B), catat waktu selesai diterima pasien (A),
X = ∑ A-B/30 2. Ambil
100 lembar resep perbulan, Catat total jumlah item obat yang diserahkan kepada pasien (X), catat jumlah item obat yang diresepkan (Y), Z = X/Y x 100%
3. Ambil 30 pasien, hitung jumlah obat dengan etiket yang paling tdak dilabeli dengan nama pasien dan aturan pakai (X), Hitung jumlah total obat yang diberikan kepada pasien (Y), Z = X/Y x 100% 4. Ambil
sampel 10 hari, hitung jumlah resep yang diberikan pada pasien rawat jalan (M), hitung jumlah resep yang dilayani farmasi hari yang sama (N). S = M – N / M x 100% 1. Ambil 100 lembar resep tiap bulannya (Y), hitung jumlah obat yang diperoleh dari 100
ntuk mengukur derajat poli farmasi lembar resep (X), rata-rata = X/Y 1 2 3 4
2.
Persentase resep dengan obat generik 3. Persentase resep dengan antibiotika 4. Persentase resep injeksi 5. Persentase resep dengan obat didalam DOEN/formularium 2.Untuk mengukur kecenderungan meresepkan obat generik 3. Untuk mengukur penggunaan antobiotika secara berlebihan 4. Untuk mengukur penggunaan injeksi secara berlebihan 5. Untuk mengukur tingkat kepatuhan dokter terhadap DOEN/ formularium 2. Ambil 100 lembar resep obat tiap bulan, hitung jumlah obat dalam nama generik (X), hitung jumlah total obat (Y)Z = X/Y x 100% 3. Ambil
100 lembar resep obat tiap bulan, X = Jumlah pasien yang menerima antibiotika, Y = jumlah total resep. Z = X/Y x 100% 4. Ambil 100 lembar resep obat tiap bulan, X = jumlah pasien yang menerima suntikan injeksi, Y = jumlah total resep, Z = X/Y x 100% 5. X =
jumlah obat yang sesuai DOEN/ formularium, Y = total jumlah obat.
Z = X/Y x 100%
Sumber: Pudjaningsih, D., Pengembangan Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat di Farmasi Rumah