• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teoritis

2.1.5 Sosial Ekonomi

2.1.5.2 Indikator Sosial Ekonomi

Terdapat beberapa indikator sosial ekonomi yang menentukan kondisi sosial ekonomi suatu masyarakat dapat dikatakan rendah, sedang dan tinggi, yaitu:

1. Pendapatan atau Penghasilan

Pendapatan akan mempengaruhi status sosial seseorang, terutama akan ditemui dalam masyarakat yang materialis dan tradisional yang menghargai status sosial ekonomi yang tinggi terhadap kekayaan. Menurut Sumardi dan Evers (1982:20) menyebutkan bahwa “pendapatan atau penghasilan adalah seluruh penerimaan baik berupa barang maupun uang baik dari pihak lain maupun dari hasil sendiri, dengan jalan dinilai dengan sejumlah uang atau harga yang berlaku saat itu”. Uang atau barang tidak langsung kita terima sebagai pendapatan tanpa kita melakukan suatu pekerjaan baik itu berupa jasa ataupun produksi.

Pendapatan ini digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari demi kelangsungan hidup. Oleh karena itu, setiap orang harus bekerja demi kelangsungan hidupnya dan tanggung jawabnya seperti istri dan anak-anaknya.

Pendapatan dapat diartikan sebagai hasil yang diterima seseorang karena orang itu bekerja dan hasilnya bisa berupa uang atau barang. Pendapatan orang tua adalah hasil yang diterima orang tua dari hasil bekerja, baik dari pekerjaan pokok maupun

pekerjaan sampingan yang berupa uang atau barang yang dinilai dengan uang.

Sedangkan pendapatan keluarga adalah semua hasil yang diterima seluruh anggota keluarga dari bekerja baik dari pekerjaan pokok maupun pekerajaan sampingan berupa uang atau barang yang dapat di nilai dengan uang. Menurut Badan Pusat Statistik (2013), tingkat pendapatan dapat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:

1. Golongan sangat tinggi : lebih dari Rp.3.500.000 per bulan.

2. Golongan tinggi : Rp.2.500.000 s/d Rp.3.500.000 per bulan.

3. Golongan sedang : Rp.1.500.000 s/d Rp.2.400.000 per bulan.

4. Golongan rendah : kurang dari Rp.1.500.000 per bulan.

a. Pendapatan Keluarga

Tingkat pendapatan adalah jumlah penerimaan berupa uang atau barang yang dihasilkan oleh segenap orang yang merupakan balas jasa untuk faktor-faktor produksi. Ada 3 sumber penerimaan rumah tangga yaitu:

1. Pendapatan dari gaji dan upah yaitu balas jasa terhadap kesediaan orang menjadi tenaga kerja

2. Pendapatan dari asset produktif yaitu asset yang memberikan pemasukan atas balas jasa penggunaanya

3. Pendapatan dari pemerintah atau penerimaan transfer adalah pendapatan yang di terima bukan sebagai balas jasa atau input yang di berikan

Pendapatan dibedakan menjadi tiga yaitu:

1. Pendapatan pokok

Pendapatan pokok yaitu pendapatan yang tiap bulan diharapkan diterima, pendapatan ini diperoleh dari pekerjaan utama yang bersifat rutin.

2. Pendapatan sampingan

Pendapatan sampingan yaitu pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan di luar pekerjaan pokok, maka tidak semua orang mempunyai pendapatan sampingan.

3. Pendapatan lain-lain

Pendapatan lain-lain yaitu pendapatan yang berasal dari pemberian pihak lain, baik bentuk barang maupun bentuk uang, pendapatan bukan dari usaha.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan keluarga oleh Sumardi dan Evers (1982:98-100) adalah:

1. Pekerjaan

Pekerjaan akan berpengaruh langsung terhadap pendapatan, apakah jauh dari pekerjaan tersebut dalam lahan basah, dalam arti lahan basah yang bisa cepat mendapatkan uang atau dalam lahan yang kurang untuk memperoleh uang yang biasa disebut lahan kering.

Yang dimaksud dengan pekerjaan/jabatan basah ialah pekerjaan pada kantor/instansi yang bernaung di bawah departemen keuangan, perdagangan, kejaksaan, kesehatan, perhubungan, dan pertahanan keamanan. Sedangkan pekerjaan yang dianggap kering ialah pekerjaan kantor/instansi yang bernaung di bawah departemen-departemen pendidikan dan kebudayaan, agama, tenaga kerja, social, penerangan, dalam negeri, luar negeri, industry dan biro pusat statistik

2. Pendidikan

Tingkat pendidikan akan berpengaruh pula pada pendapatan. Dalam jenis pekerjaan yang sama, yeng memerlukan pikiran untuk mempekerjakannya,

tentunya orang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih cepat untuk menyelesaikan pekerjaannya dibandingkan orang yang berpendidikan rendah. Hal demikian tentunya akan berpengaruh pada penghasilan.

3. Jumlah anggota keluarga

Jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadap perolehan pendapatan keluarga. Semakin banyak anggota keluarga yang bekerja semakin banyak pula pendapatan yang diperoleh keluarga, namun akan terjadi sebaliknya bila yang bekerja sedikit sedang upah yang diterima sedikit, sedangkan jumlah tanggungan banyak tentunya akan memberatkan.

Besar kecilnya tingkat pendapatan akan berpengaruh pada kelangsungan pendidikan anak, karena pendidikan membutuhkan biaya. Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin besar biaya pendidikannya. Pendapatan seorang antara yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda sesuai dengan pekerjaan, pendidikan dan jumlah anggota keluarganya.

2. Perumahan atau Pemilikan Kekayaan

Rumah adalah tempat untuk melepaskan lelah, tempat bergaul, dan membina rasa kekeluargaan diantara anggota keluarga, tempat berlindung keluarga dan menyimpan barang berharga, dan rumah juga sebagi status lambang sosial. Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga (Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1992).

Menurut WHO (World Health Organization), rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaaan sosialnya baik untuk kesehatan keluarga dan individu. (Komisi WHO Mengenai kesehatan dan Lingkungan,

2001)

Menurut America Public Health Associstion (APHA) rumah dikatakan sehat, apabila:

a. Memenuhi kebutuhan fisik dasar seperti temperatur lebih rendah dari udara di luar rumah, penerangan yang memadai, pentilasi yang nyaman, dan jauh dari kebisingan.

b. Memenuhi kebutuhan kejiwaan.

c. Melindungi penghuninya dari penularan penyakit menular yaitu memiliki penyediaan air bersih, sarana pembuangan sampah, dan saluran pembuangan air limbah yang saniter dan memenuhi syarat kesehatan.

Kekayaan dapat diartikan sebagai pemilikan barang-barang yang bersifat ekonomis atau yang memiliki nilai jual dan sebagai salah satu factor yang melatarbelakangi pelapisan sosial ekonomi dalam kehidupan bermasyarakat.

Kekayaan keluarga dapat dilihat dari besar kecilnya rumah, perhiasan yang dipakai, fasilitas dalam kehidupannya, dan juga harta yang tak terlihat seperti tabungan atau investasi modal.

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan /atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Tabungan yang di maksud dalam penelitian ini adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsikan. Jadi disimpan dan akan digunakan di masa yang akan datang. Pendapatan merupakan faktor utama yang terpenting untuk menentukan konsumsi dan tabungan. Keluarga-keluarga yang tidak mampu akan membelanjakan sebagian besar bahkan seluruh

pendapatannya untuk keperluan hidupnya. Individu yang berpendapatan tinggi akan melakukan tabungan lebih besar daripada individu yang berpendapatan rendah.

Semakin besar rumahnya dan semakin banyak pendapatan yang ditabung semakin tinggi pula tingkat kekayaan seseorang, begitu juga sebaliknya. Bentuk kekayaan yang biasanya dimiliki seseorang berupa kendaraan bermotor baik itu motor maupun mobil, barang elektronik, barang-barang berharga seperti emas dan berlian, deposito, dan perahu.

3. Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Pada dasarnya pengertian pendidikan menurut Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, keceradasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Menurut Ki Hajar Dewantara yang tak lain adalah Bapak Pendidikan Nasional Indonesia menjelaskan tentang pengertian pendidikan, yaitu tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak adapun maksudnya, yang berarti menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses bimbingan, pembelajaran untuk menuju kedewasaan dan memilki bekal hidup dalam masyarakat yang berguna untuk dirinya sendiri dan orang lain.

4. Kesehatan

Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992, kesehatan merupakan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis. Dimana hal tersebut didukung dengan upaya untuk dapat memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat

Kesehatan setiap anggota keluarga merupakan syarat penting untuk dapat bekerja secara produktif, sehingga menghasilkan pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kesehatan keluarga tidak dapat dipisahkan dari ketahanan pangan keluarga. Keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kesehatan keluarga juga dipengaruhi faktor lain yaitu, pelayanan kesehatan dan perubahan lingkungan.

5. Sandang dan Pangan

Sandang adalah pakaian manusia. Pakaian menjadi kebutuhan primer pertama walaupun manusia tidak bisa hidup tanpa pakaian, tetapi karena manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat sehingga pakaian adalah hal yang paling penting. Sedangkan pangan adalah sumber makanan bagi manusia dan merupakan kebutuhan primer. Pangan meliputi pekerjaan dan hal-hal yang dilakukan yang tujuan menghasilkan pangan bagi kehidupan. Manusia hidup dalam

mayarakat dan membutuhkan pekerjaan dalam menghasilkan kebutuhannya sehari-hari.

6. Interaksi Sosial

Interaksi sosial merupakan faktor utama dalam kehidupan sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan timbal balik antarindividu, antarkelompok manusia, maupun antara orang dengan kelompok manusia. Bentuk interaksi sosial adalah akomodasi, kerja sama, persaingan dan pertikaian. Apabila dua orang atau lebih bertemu akan menjadi interaksi sosial. Interaksi sosial tersebut bisa dalam situasi persahabatan ataupun permusuhan, bisa dengan tutur kata, jabat tangan, bahsa isyarat, atau tanpa kontak fisik. Bahkan, hanya dengan bau keringat sudah terjadi interaksi sosial karena telah mengubah perasaan atau saraf orang yang bersangkutan untuk menentukan tindakan.

Menurut Murniati (dalam nalsal 2020) menyatakan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, seorang manusia merupakan makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia pasti membutuhkan bantuan dari individu atau kelompok lain, oleh karena itu kita sebagai manusia sebenarnya melakukan interaksi social dengan tujuan utama untuk bertahan hidup. Interaksi social antar keluarga, antar kelompok maupun antar masyarakat merupakan factor terpenting dalam membina hubungan interaksi social yang baik dengan sesama. Kegiatan berelasi dengan orang lain atau kegiatan hubungan antar keluarga merupakan kegiatan yang tidak boleh diabaikan.

Interaksi sosial hanya dapat berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi dari kedua belah pihak. Interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila menusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem sarafnya sebagai akibat hubungan yang dimaksud.

Ciri-ciri sebuah interaksi sosial adalah sebagai berikut :

a. Pelakunya lebih dari satu orang.

b. Adanya komunikasi antarpelaku melalui kontak sosial.

c. Mempunyai maksud dan tujuan, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan pelaku.

d. Ada dimensi waktu yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung.

Syarat terjadinya sosial adalah adanya kontak sosial (social contact) dan komunikasi. Kontak sosial berasal dari kata con atau cun artinya bersama-sama, dan tango yang artinya menyentuh. Namun, kontak sosial tidak hanya secara harafiah bersentuhan badan, tetapi bisa lewat bicara melalui telepon, telegram, surat, radio, dan sebagainya.

Kontak dapat bersifat primer dan sekunder. Kontak primer terjadi apabila ada kontak langsung dengan cara berbicara, jabat tangan, tersenyum, dan sebagainya. Kontak sekunder terjadi dengan perantara. Kontak sekunder langsung, misalnya melalui telepon, radio, TV dan sebagainya.

Dokumen terkait