HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Industri Asuransi Jiwa
Bisnis Asuransi Jiwa di Indonesia saat ini tumbuh cukup pesat, hal ini kemungkinan diakibatkan oleh perkembangan pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai arti dan manfaat asuransi tersebut. Dari sejumlah perusahaan yang beroperasi di Indonesia ada 10 perusahaan asuransi jiwa yang terbesar yaitu Tabel 4.2:
Tabel 4.2. Rangking Kepemilikan Polis (Juta Rupiah)
No Nama
Perusahaan
Asset Total Total Premi
Bruto Pangsa (%) 1 Asuransi AIG Liffo Life 2.727.868 1.228.290 18,14 2 AJ Bersama Bumi Putra 4.700.473 1.192.792 17,62 3 Asuransi Jiwasraya 1.977.745 807.103 11,92 4 Indolife Pensiontama 355.440 693.673 10,24 5 AJ Manulife Indonesia 1.640.616 449.523 6,64 6 AJ Sewu New York Indonesia 698.421 268.874 3,97 7 Asuransi AIA Indonesia 653.668 205.131 3,03 8 AJ Bringin jiwa Sejahtera 237.957 196.151 2,90 9 AJ Central Asia Raya 466.394 170.076 2,51 10 AJ Bumi Asih Jaya 273.045 149.062 2,20
Sumber: Biro Riset InfoBank, 2001.
Produk Asuransi Jiwa yang ditawarkan di pasar pada dasarnya terdiri atas tiga bentuk, yaitu Term Insurance, Whole Life Insurance dan Endowment Insurance,
di mana pruduk-produk ini dikategorikan sebagai produk tradisional. Jika dilihat dari laporan kegiatan perusahaan asuransi dapat dicatat bahwa asuransi term insurance masih mendominasi jumlah pertanggungan dengan pangsa pasar 56.08% dari total tertanggung, kemudian disusul oleh endowment insurance dengan pangsa pasar 27,18% dan produk-produk asuransi kesehatan serta asuransi kecelakaan diri sebesar 15,18% sedangkan produk asuransi Whole life hanya memiliki pangsa pasar jumlah tertanggung sebesar 0,82%.
4.4. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Medan
Untuk menggambarkan struktur perekonomian suatu wilayah sangat ditentukan oleh besarnya peranan sektor-sektor ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa. Sektor primer mencakup kegiatan pertanian, kehutanan, perikanan, serta pertambangan dan penggalian. Sektor sekunder meliputi industri pengolahan, listrik gas dan air minum serta bangunan. Sektor tertier meliputi perdagangan, hotel dan restoran, angkutan, jasa perusahaan, persewaan bangunan dan jasa lainnya.
Pembangunan ekonomi daerah dalam periode jangka panjang (mengikuti pertumbuhan PDRB), membawa perubahan mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi tradisional ke ekonomi modern yang didominasi oleh sektor-sektor non primer, khususnya industri pengolahan dengan increasing return to scale (relasi positif, antara pertumbuhan output dan pertumbuhan produktivitas) yang dinamis sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.
Ada kecenderungan, bahwa semakin tinggi laju pertumbuhan ekonomi membuat semakin cepat proses peningkatan pendapatan masyarakat per kapita, dan semakin cepat pula perubahan struktur ekonomi, dengan asumsi bahwa faktor-faktor penentu lain mendukung proses tersebut, seperti tenaga kerja, bahan baku, dan teknologi, relatif tetap.
Perubahan struktur ekonomi umumnya disebut transformasi struktural dan didefinisikan sebagai rangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan lainnya dalam komposisi permintaan agregat (produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi, seperti tenaga kerja dan modal) yang diperlukan guna mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Berdasarkan perbandingan peranan dan kontribusi antar lapangan usaha terhadap PDRB pada kondisi harga berlaku tahun 2005-2007 menunjukkan, pada tahun 2005 sektor tertier memberikan sumbangan sebesar 70,03 pesen, sektor sekunder sebesar 26,91 persen dan sektor primer sebesar 3,06 persen. Lapangan usaha dominan yaitu perdagangan, hotel dan restoran menyumbang sebesar 26,34 persen, sub sektor transportasi dan telekomunikasi sebesar 18,65 persen dan sub sektor industri pengolahan sebesar 16,58 persen.
Kontribusi tersebut tidak mengalami perubahan berarti bila dibandingkan dengan kondisi tahun 2006. Sektor tertier memberikan sumbangan sebesar 68,70 persen, sekunder sebesar 28,37 pesen dan primer sebesar 2,93 persen. Masing-masing lapangan usaha yang dominan yaitu perdagangan, hotel dan restoran sebesar 25,98
persen, sektor transportasi dan telekomunikasi sebesar 18,65 persen, industri jasa pengolahan sebesar 16,58 persen dan jasa keuangan 13,41 persen.
Demikian juga pada tahun 2007, sektor tertier mendominasi perekonomian Kota Medan, yaitu sebesar 69,21 persen, disusul sektor sekunder sebesar 27,93 persen dan sektor primer sebesar 2,86 persen. Masing-masing lapangan usaha yang dominan memberikan kontribusi sebesar 25,44 persen dari lapangan usaha perdagangan/hotel/ restoran, lapangan usaha transportasi telekomunikasi sebesar 19,02 persen dan lapangan usaha industri pengolahan sebesar 16,28 persen.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan prosesnya yang berkelanjutan merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi daerah. Karena penduduk mengalami peningkatan dan berarti pula kebutuhan ekonomi juga akan bertambah. Hal ini hanya bisa diperoleh melalui peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau sering disebut PDRB atas dasar harga konstan setiap tahun. Jadi dalam pengertian ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan PDRB atas dasar harga konstan.
Sejalan dengan peningkatan PDRB dengan harga konstan tahun 2000 Kota Medan selama periode 2005-2007, pertumbuhan ekonomi Kota Medan selama periode yang sama, meningkat rata-rata di atas 7,77 persen. Pertumbuhan ekonomi yang dicapai, selain relatif tinggi juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup stabil.
Tabel 4.3. Laju Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2005 – 2007
Sektor/Lapangan Usaha 2005-2006 2006-2007
1. Pertanian 0,37 5,14
2. Pertambangan & Penggalian -6,05 -10,14
3. Industri Pengolahan 6,59 6,08
4. Listrik, Gas dan Air Bersih 5,39 -2,81
5. Kontruksi 11,01 6,43
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 6,15 5,94
7. Transportasi & Telekomunikasi 13,34 10,61
8. Keuangan & Jasa Perusahaan 5,08 12,81
9. Jasa-jasa 6,34 6,83
PDRB 7,76 7,78
Sumber: BPS Medan, 2007.
4.5. Perkembangan Pendidikan di Kota Medan
Salah satu sumber daya pembangunan adalah manusia, untuk dapat membentuk SDM yang handal diperlukan adanya peningkatan mutu pendidikan. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam mendukung proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di segala bidang kehidupan masyarakat. Kualitas sumber daya manusia sangat tergantung dari kualitas pendidikan yang pernah dikecapnya. Peningkatan kualitas sumber daya manusia sudah merupakan kebutuhan yang
mendesak untuk menghadapi tantangan era komputerisasi dan informasi yang semakin canggih.
Upaya peningkatan kecerdasan dan keterampilan penduduk melalui proses pendidikan sangat tergantung pada sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia yaitu biaya sekolah, gedung sekolah dan kualitas guru/tenaga pengajar. Kualitas dan kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan ini akan mempengaruhi keberhasilan siswa pada era kurikulum berbasis kompetensi ini. Informasi berikut akan menyajikan keadaan pendidikan di Kota Medan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai tingkat menengah atas.
Jika diambil rata-rata untuk semua jenjang pendidikan, rasio murid/guru di Propinsi Sumatera Utara tergolong relatif kecil yaitu 22 (dua puluh dua) murid per kelas. Angka yang relatif kecil ini akan memberi dampak positif bagi murid, yaitu dapat menyerap pelajaran dengan baik, karena guru dapat melaksanakan tugasnya lebih baik dalam proses belajar mengajar.
Sejenis penyegaran yang seharusnya diberikan pada guru, terutama yang mengajar ilmu pengetahuan yang sifatnya sangat mobile (berubah cepat). Hal ini diindikasi akan mengurangi tingkat kegagalan murid pada Ujian Akhir yang sifatnya Nasional (UAN), terutama untuk guru-guru SMU karena merupakan tahap akhir untuk memasuki jenjang pendidikan Akademi/Universitas. Angka partisipasi kasar SD diperoleh dengan membagi jumlah murid SD dengan penduduk berusia 7-12 tahun. Indikator ini digunakan untuk mengetahui besarnya tingkat partisipasi sekolah (kotor) penduduk pada jenjang pendidikan SD.
Penghitungan sederhana dengan membagi distribusi umur 5 tahunan menjadi umur tunggal yang berjumlah sama menghasilkan angka kasar penduduk yang berusia 7-12 tahun penduduk pada usia ini diperoleh sebanyak 46.550 orang sedangkan jumlah murid SD keseluruhan sebanyak 46.510 orang dari jumlah tersebut diperoleh angka partisipasi kasar SD sebesar 99,91% yang berarti sebesar 0,09% anak usia 7-12 tahun tidak duduk di bangku sekolah dasar. Angka partisipasi kasar SLTP diperoleh dengan membagi jumlah murid SLTP dengan penduduk usia 13-15 tahun. Indikator ini digunakan untuk mengetahui besarnya tingkat partisipasi sekolah (kotor) penduduk pada jenjang pendidikan SLTP. Hal ini juga mengungkapkan kemampuan pendidikan SLTP dalam menyerap penduduk usia 13-15 tahun. Perhitungan seperti di atas menghasilkan angka kasar 92,80 % yang berarti sebesar 7,20% penduduk usia SMP tidak duduk di bangku SMP, dengan jumlah murid SMP sebanyak 18.054 orang.
Dari seluruh SMU yang ada (termasuk SMU Filial dan Madrasah Aliyah) diperoleh data terdapat 31,24% yang mengambil jalur pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan. Hal ini menandakan minat murid dan orang tua sudah mengarah pada jenjang pendidikan yang siap pakai dan dapat berusaha secara mandiri.
Secara umum dapat dilihat salah satu faktor yang menyebabkan tidak terlaksananya pendidikan sebagaimana yang diinginkan adalah yang diakibatkan oleh kekurangan biaya, dimana biaya yang digunakan sudah relatif besar. Untuk mengatasi hal inilah perlunya pengertian dan manfaat Asuransi Pendidikan.
4.6. Hasil Analisis Data dan Pembahasan