• Tidak ada hasil yang ditemukan

Infeksi Anak

Dalam dokumen Buku Co as GABUNGAN (Halaman 64-71)

1. Dengue Haemoragie Fever (DHF)

Infeksi virus yang bermanifestasi demam akut, disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi timbulnya rejatan dan menimbulkan kematian.

Klinis:

 Panas mendadak terus- menerus 2-7 hr tanpa sebab yang jelas.

 Manifestasi perdarahan

 Hepatomegali

 Kegagalan sirkulasi Laboratorium:

 Trombositopeni, At< 100.000  Haemokonsentrasi, Hct> 20% Diagnosa :

2 klinis dan 1 lab Gejala klinis lainnya:

 Flused

 Nyeri

 Kelemahan umum

Hasil lab. Lainnya:

 Leukopeni

 Plasma protein Penatalaksanaan:

 Hati- hati pada demam hari ke-4.

 Bagi dr umum jika ada pasien dengan tanda- tanda perdarahan spontan sebaiknya dirujuk ke RS.

 IVFD: jika muntah dan Hemokonsentrasi, dengan menggunakan RA (asering) atau RL

Ctt. Asetat di metabolisme diotot sehingga lebih baik penggunanannya dibanding laktat yang di metabolisme dihepar. BB(kg) tpm (makro) 10 10 11 11 12 12 13 dst 20 21-25 >40 25  Anti piretik : Paracetamol 10mg/kg/kali

(OttopanR sirup 120mg/5ml; drop 80mg/tts)

diberikan 3x atau Sprn Bayi: 3x¼- ½ tts

1-3 th: 3x½- 1 cth 3-6 th: 3x1-2 cth 6-12 th: 3x2cth

jika diperlukan dapat diulang setelah 4jam.

 Antibiotik

Ampicillin 50- 100mg/kg/hr terbagi 4 dosis

(Opicillin R sirup 125mg/5ml, kaplet 250mg) atau

 Observasi:

KU, VS, Tanda perdarahan. Lab. At, Hct

2. Demam Thypoid Diagnosa klinis atas dasar:

 Panas lebih dari 7 hari, pada minggu pertama meningkat secara gradue, siang hari normal, malam hari meningkat panas.

 Gangguan gastro intestinal: mual, muntah, diare, nyeri perut, konstipasi.

 Malaise, nyeri kepala, batuk.

 Gangguan kesadaran : apatis, somnolent, gelisah.

B. Pemeriksaan fisik:

 Lidah typoid (permukaan kotor, tepi hiperermis, kadang termor)

 Hepatomegali

 Spelomegali

 Nyeri tekan abdomen C. Pemeriksaan khusus

 Tes widal

Hasil Lab. Widal: (+) jika titer O > 1/160

Ctt. Pemeriksaan widal positif setelah akhir minggu pertama.

 Pemeriksaan Gaal kultur (diagnosa pasti). D. lab. Darah rutin:

 Anemia normositik- normokromik

 Leukopeni

 Trombositopeni  Limfositosis

 LED umumnya meningkat E. Pemeriksaan tinja

 Biakan tinja (+) pada minggu ke 2-3. Penatalaksanaan:

A. Umum

 Tirah- baring sampai 3 hari bebas panas.  Makanan yang diberikan makanan

saring-lunak yang tidak banyak serat, tidak banyak memperoduksi gas.

B. Khusus

 Etiologi:

a. Kloramfenicol 50mg/kg/hr (PalmicolR) dalam dosis terbagi 4. atau

b. Thiamfenicol 50mg/kg/hr (Opiphen

R) dalam dosis terbagi 4.atau

alterantif lain

c. Ampicillin 100mg/kg/hr(Opicillin R)

dalam dosis terbagi 4.  Simptomatik;

b. Jika stomatitis berikan Nistatin

(Candistin R oral drop ), dosis

Bayi :4x 1-2ml Anak :4x 1-4ml

Ctt. Tiap ml: 100.000IU, Pemakaian lebih dari 5.000.000 IU per hari dapat menimbulkan gangguan GIT.

3. Morbili

Penyakit akut yang disebabkan oleh virus Paroxymal.Virus ini terdapat dalam sekret nasopharing dan darah selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul bercak. Cara penularannya melalui droplet dan kontak.

Penyakit ini terbagi atas 3 stadium:  Stadium kataral (prodromal)

Berlangsung 4-5 hari disertai panas, malaise, batuk, fotofobi, konjungtivitis dan koriza.Dan terdapat tanda khas bercak koplik dimucosa buccal.

 Stadium erupsi

Koriza dan batuk bertambah, makula eritema disertai menaiknya suhu badan. Macula muncul pertama kali dibelakang telinga, disusul lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah dan mencapai ekstremitas. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut mandibula. Kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit, mulut danGIT. Dapat pula dijumpai diare dan muntah.

 Stadium konvalensi

Erupsi meninggal hiperpigmentasi, suhu turun sampai normal.

Ctt. DD:

German measles: tidak ada bercak koplik, ada pembesaran kel. Suboccipital, servikal bag. postor, belakang telinga.

Eksantema subitum: Ruam muncul saat suhu badan menjadi normal.

Penatalaksaan:

a. Penderita rawat inap RS, jika;  KU lemah sekali

 Intake makan/cairan kurang atau banyak muntah/diare  Hipertermi, kejang  Ada komplikasi b. Medika mentosa:  Antipiretik (lihat DHF)  Mukolitik Bromhexin (MucosolvanR 4mg/5ml, 8mg/tab) Bayi: 2x1/2cth 2-6th: 2x1cth atau 2x1/2 tablet

7-12th: 3x1cth atau 3x1/2 tablet

 Antibiotik

Ampicillin 50- 100mg/kg/hr terbagi 4 dosis

(Opicillin R sirup 125mg/5ml, kaplet 250mg) atau

Eritromisin 30-50mg/kg/hr terbagi 4dosis

(ErysanbeR sirup 200/5ml, kaplet 250mg)

JIKA KONDISI BERAT DAPAT DIKOMBINASI

Kloramfenicol 50- 100mg/ kg/hr terbagi 3dosis

(ColmeR sirup 125 mg/ 5ml, kaplet 250mg) atau

Gentamisin 3-5mg/kg/hr (pyogenta injeksi 10mg/ml) ATAU DAPAT JUGA MENGGUNAKAN:

Cefotaxim 50-100mg/ kg/ hr I.V dibagi 2 dosis 4. Parottis epidemika

Penyakit kelenjar ludah akut yang sangat menular, dengan gejala khas pembesaran kelenjar ludah terutama parotis.

Gejala klinis:

1. Panas ringan sampai berat

2. Keluhan didareah parotis disertai pembesaran

3. Keluhan nyeri otot terutama leher, sakoit kepala dan rasa malas.

4. Kontak dengan penderita sebelumnya (masainkubasi 2-3 mgg)

5. KU bervariasi dari tampak aktif sampai sakit berat.

Penatalsanaan:

1. Istirahat yang baik dirumah 2. Makan- minum yang cukup.

3. Nasehat kemungkinan menularkan keanak lain.

4. Medika mentosa:

 Analgetik- antipiretik:

Anak> 6tahun: 250-500mg/kali max. 2gr/hr atau Paracetamol 10mg/kg/kali, dengan dosis 3x.

6. Difteri

Penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Coryne bacterium Difteriae. Sifatnya mudah menular dengan menyerang traktus respiratorius bagian atas, dengan tanda khas terbentuknya pseudomembran dan dilepaskannya endotoksin yang dapat menimbulkan gejala umum dan lokal .

Klasifikasi:

 Infeksi ringan

Pseudomemebran terbatas pada daerah hidung dan faucial dengan gejala nyeri telan.

Pseudomembaran menyebar lebih luas sampai dinding posterior pharing denga oedem ringan laring dengan pengobatan konservatif.

 Infeksi berat

Disertai gejal sumbatan jalan nafas yang berat. Yang hanya dapat diatasi dengan traekheostomi. Juga gejala komplikasi miokarditis, paralisis, ataupun nefritis dapat menyertainya.

Gejala klinis:

Masa tunas 2-7 hari. Gejala umum timbulnya berupa demam yang tidak begitu tinggi, lesu, pucat, nyeri kepala, dan anoreksia sehingga penderita tampak lemah sekali, gejala ini disertai denga gejala khas untuk setiap bagian yang terkena seperti pilek atau nyeri telan atau sesak nafas denga sertak dan stridor, sedangkan gejala akibat eksotoksin seperti miokarditis, paralisis jaringa syaraf atau nefritis.

Penatalaksanaan:

i. ADS pemberiannya satu kali saja dengan dosis:

 Difteri ringan :20.000IU (I.M)  Difteri sedang :40.000IU (I.M)  Difteri berat : 60.000IU (I.M)

ii. Penicillin procain dengan dosis 50.000-100.000U/kg/hr diberikan 1x perhari selama 10 hari. iii. Kortikosteroid hanya diberikan pada difteri

berat dan ada obstruksi jalan nafas oleh karena oedem laring.

iv. O2 : ½ -1 lt/mnt

v. Pemeriksaan EKG pada minggu ke-2, bila ada komplikasi terapi sesuai komplikasi. Apabila ada tanda- tanda obstruksi perlu dipikirkan untuk dilakukan tracheostomi.

7. Pertusis

Penyakit infeksai akut yang ditandai dengan batuk ngikil spasmodik disebabkan oleh bordetella pertusis dengan lesi biasanya terdapat pada bronchus dan brinchiolus tetapi mungkin juga terdapat perubahan pada mucosa trachea, laring, nasopharing.

Gejala klinis:

Masa tunas 7-14 hari. Penyakit ini terbagi atas 3 stadium:  Stadium kataralis

Lamanya 1-2 minggu. Pada permulaan hanya batuk- batuk ringan, terutama pada malam hari. Gejala lainnya ialah pilek, serak, dan anoreksia. Stadium ini menyerupai influenza.

Lamanya 2-4 minggu. Pada akhir minngu batuk bertambah berat dan t4erjadi paroksismal berupa batuk yang khas. Penderita tampak berkeringat, pembuluh darah leher dan muka melebar. Penderita tambpak gelisah dengan muka sianotik. Kadang- kadang tampak pula perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis oleh mingkatnya tekanan waktu serangan batuk.

 Stadium konvalensi

Lamanya kira-kira 2 minggu sampai sembuh. Pada minggu keempat jumlah dan berat serangan batuk berkurang, juga muntah berkurang, nafsu makan pun timbul kembali.

Penatalaksanaan:

 Antibiotik: Eritromisin 50mg/kg/hr

(ErysanbeR sirup 200/5ml, kaplet 250mg)

dikombinasi dengan

Kloramfenicol 50- 100mg/ kg/hr terbagi 3dosis (ColmeR

sirup 125 mg/ 5ml, kaplet 250mg) atau

 Mukolitik: Bromhexin (MucosolvanR 4mg/5ml, 8mg/tab) Bayi: 2x1/2cth 2-6th: 2x1cth atau 2x1/2 tablet 7-12th: 3x1cth atau 3x1/2 tablet.  Ekspektoran: Gliseril guaiakolat:

Anak> 6tahun :50-100 mg tiap 2- 6jam (max. 600mg)

 Antitusif:

Dekstrometofan Hbr :1mg/kg/hr, dibagi 3-4x  Sedatif: ( kalau perlu saja)

Phenobarbital (luminal R) 3-5 mg/kg/hr dibagi 3 dosis.

8. Teranus

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Clostridium tetani, bakteri gram positif yang terdapat ditanah, kotoran manusia, kotoran hewan terutama kuda.

Gejala klinis:

Masa tunas 5-14 hari, dalam waktu 48 jam penyakit ini:  Trismus

 Kaku kuduk sampai opistonus  Kejang tonik

 Risus sardonicus

 Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri kepala, nyeri anggota badan sering merupakan gejala dini.

 Spasme Yang khas yaitu badan kaku dengan opistonus, ekstremitas inferior dalam keadaan

ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat, anak tetap sadar. Spasme mula- malu intermiten diselingi periode relaksasi, kemudian disertai rasa nyeri.

 Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernafasan laring. Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot uretra.

 Panas biasanya tidak begitu tinggi

 Lekositosis ringan dan kadang- kadang terjadi peningkatan tekanan intra kranial.

Pencegahan:

 Mencegah terjadinya luka  Perawatan luika adekuat

 Pemberian ATS (anti tetanus serum) Pada beberapa jam sesudah luka, umumnya diberikan 1500U I.M (skin tes terlebih dahulu).

Penatalaksanaan:

 Untuk dr umum sebaiknya dirujuk ke RS.  Berantas kejang :

1. Diazepam 0,1-0,2 mg/ kg/x I.V diberikan 4-6x/hr

2. Phenobarbital, dosis awal: anak<1th: 50mg, anak >1th: 75mg. dilanjutkan dengan 5mg/ kg/ hr dibagi 6 dosis.

Ctt. Untuk menghindari kejang, penderita dirawat di ruangan yang tenang, tidak terlalu terang dan tidak menyilaukan serta hindari rangsangan.

 Pemberian ATS 20.000  Perawatan luka:

Bersihkan, kalau perlu debridement, buang benda asing, biarkan luka terbuka.

 Antibiotik:

Penicillin G 100.000U/ kg/ 6jam, selama 10 hari. Atau

Tetrasiklin 25- 50 mg/kg /hr (mx.2gr/ hr) dibagi 3-4 dosis.

Ctt. Anak yang pernah menderita tetanus dan belum pernah vaksin tetanus, juga harus divaksin, satu bula setelah sembuh.

Dalam dokumen Buku Co as GABUNGAN (Halaman 64-71)

Dokumen terkait