TINJAUAN PUSTAKA
B. Protein laten EBV dan fungsinya
2. Infeksi lisis
Di dalam sel limfosit B, setelah EBV berikatan dengan reseptor CD21,
maka EBV akan masuk ke dalam sel host dan akan mengalami penetrasi secara
komplit. Virus akan keluar dari sel yang mati dan akan menginfeksi sel yang lain.
Di dalam sel tersebut virus mengalami replikasi dan akan dihasilkan genom virus
dengan double strand yang linear, di mana sebelumnya genom virus berbentuk
sirkuler. Fase lisis ini ditandai oleh ekspresi dari transkripsi protein virus yaitu
salah satunya adalah viral capsid antigen (Damania, 2004).
2.7. Hubungan Infeksi Virus Epstein-Barr dengan Karsinoma Nasofaring
Walaupun telah diketahui adanya hubungan yang erat antara infeksi virus
Epsteinbarr dengan karsinoma nasofaring tetapi mekanisme hubungan ini sampai
saat ini belum jelas diketahui. Beberapa hipotesis mengatakan bahwa virus
epsteinbarr sebagai faktor penyebab, dimungkinkan karena kepekaan seseorang
atau adanya interaksi antara faktor lingkungan, genetik dan faktor lainnya yang
bekerja secara harmonis dan bersifat sinergis sehingga menimbulkan karsinoma
nasofaring.
Hubungan antara infeksi virus epsteinbarr dengan karsinoma nasofaring
diperkuat dengan meningkatnya konsentrasi antibodi anti EBV pada pasien
karsinoma nasofaring jenis IgG terhadap kapsid antigen dan antigen awal (Early
antigen). Juga terjadi peningkatan antibodi anti EBV jenis IgA terhadap kapsid
antigen dan antigen awal (Hwee-Ming et al, 1991). Pada serum penderita karsinoma nasofaring didapat reaksi IgG/IgA yang kuat terhadap produk-produk
setelah terjadi infeksi primer terhadap virus epsteinbarr pada suatu individu maka
sejumlah antibodi terhadap antigen virus diproduksi oleh tubuh (Servi et al, 2005). Dari hasil hampir semua penelitian menyebutkan bahwa karsinoma
nasofaring berhubungan dengan infeksi virus ebstein-barr yaitu karsinoma
nasofaring tipe 2 dan tipe 3 menurut pembagian dari WHO (Krisna, 2004).
Pertumbuhan sel menjadi ganas secara umum dapat dipengaruhi dan
dicetuskan oleh banyak faktor sepert virus, gen, bahan kimia dan faktor fisika.
Secara garis besar antigen tumor dalam kasus keganasan yang diinduksi oleh virus
DNA dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu antigen virus spesifik adalah
antigen yang timbul dari badan atau bagian dari virus itu sendiri dan antigen
bentuk baru (newly formed antigen) adalah antigen yang merupakan hasil
interaksi antara sifat virus dan sel tuan rumah (host).
Menurut sifat biologi virus penyebab tumor dibagi menjadi dua kelompok
utama yaitu virus DNA dan virus RNA. Akibat infeksi virus DNA dapat
menimbulkan beberapa kemungkinan yaitu : infeksi virus DNA tersebut terhadap
sel yang bersesuaian akan menyebabkan kematian sel tersebut dan menyebabkan
replikasi virus secara utuh, sedangkan infeksi virus terhadap sel yang tidak
bersesuaian akan menyebabkan dua kemungkinan yaitu kematian dari virus
sehingga sel kembali normal atau terjadi transformasi sel yaitu interaksi antara sel
dan virus akan menyebabkan perubahan sifat sel, perubahan metabolisme sel,
pertambahan laju pertumbuhan sel, pembentukan antigen baru yang sifatnya
berasal dari virus karena DNA virus berinteraksi dengan DNA sel sehingga terjadi
pada karsinoma nasofaring dihasilkan agent-agent yang merupakan anti apoptosis,
sehingga mencegah kematian sel dan mengakibatkan sel menjadi kanker
(James,2003)
2.8. Epidemiologi Infeksi Virus Epstein-Barr
Infeksi virus Epsteinbarr terhadap manusia mengakibatkan virus akan
tetap bertahan di dalam tubuh yang terinfeksi dan tidak menimbulkan sakit.
Infeksi virus Epsteinbarr hampir terjadi kira-kira 90% populasi di dunia..Biasanya
infeksi dari EBV ini sudah terjadi pada masa kanak-kanak. Penyebaran terutama
melalui transfer saliva, dan biasanya bila menimbulkan gejala dapat sembuh
dengan sendiri EBV-1 dan EBV-2 berbeda di dalam distribusi geografis. EBV-1
lebih sering menginfeksi populasi. Biasanya EBV-2 mendekati prevalensi EBV-1
di New Guinea, di daerah equator Afrika. Endemik Burkitt’s lymphoma yang
terjadi di equator Afrika disebabkan oleh EBV-2. Di Taiwan terjadinya karsinoma
nasofaring disebabkan 85% oleh EBV-1. Pasien dengan penurunan daya tahan
tubuh umumnya dijumpai EBV dengan dua subtype tersebut (Thomson, 2004).
Sebagian besar infeksi primer terjadi pada usia awal, penularannya terjadi
melalui air susu ibu atau air liur dan asimptomatik. Di negara maju infeksi
biasanya terjadi pada usia remaja atau dewasa awal dan pada 50% individu yang
terinfeksi timbul gejala klinis yang disebut infeksi mononukleosis (IM). Virus ini
berkembang biak di oropharing dan hampir semua individu yang seropositif
secara aktif menghasilkan virus di air liurnya. Seperti herpses virus yang lain,
2.9. Epidemiologi Karsinoma Nasofaring
Karsinoma nasofaring tersebar di seluruh dunia, di mana insidensi
tertinggi ditemukan pada etnis China yang tinggal di China Selatan, Hong Kong,
Taiwan, dan Singapura (Curran, 2006). Insidensi yang menengah terjadi pada
penduduk asli Afrika dan populasi mediteranian, penduduk asli dari Greenland
dan Alaska dan suku melayu dari Singapura dan Malaysia. Insiden yang rendah
ditemukan pada penduduk Amerika dan kulit putih di Eropa dan Jepang (Fachiroh
et al, 2004).
Di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah bagian selatan, KNF yang tidak
terdifferensiasi (undiferentiated) merupakan tumor yang paling banyak
ditemukan, dengan angka kejadian 6,2 pada laki–laki dan 4,6 pada wanita dengan
angka kejadian insidensinya 3,9 per 100.000 per tahun. Di Jogjakarta, karsinoma
nasopharing terdiri dari 21,8 % terjadi pada pria dan 7,9 % pada wanita (Fachiroh
et al, 2004).
Di Medan dilaporkan selama sepuluh tahun (1979-1989) di dapatkan 170
penderita karsinoma nasofaring baru atau 39,6% keganasan di bidang THT,
perbandingan laki-laki dan wanita 3:1, umur termuda 10 tahun dan umur tertua 70
Hal yang merupakan resiko timbulnya karsinoma nasofaring
1. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan non makanan yang diduga berperan dalam terjadinya
karsinoma nasofaring adalah debu, asap rokok, uap zat kimia, asap kayu bakar,
asap dupa (kemenyan), bahan bakar minyak, cat, vernis, bahan bakar kimia
lainnya, panas industri, panas solar yang terekspos dari luar. Selain itu juga dapat
disebabkan oleh inhalasi berbagai partikel termasuk senyawa formaldehid dan
senyawa hidrokarbon aromatik. Kebiasaan merokok aktif maupun pasif dan
mengkonsumsi alkohol juga disebutkan dapat mengakibatkan karsinoma
nasofaring (Amstrong et al, 2000). 2. Faktor Genetik (Ras dan Keturunan)
Banyak para ahli berpendapat bahwa karsinoma nasofaring ini
berhubungan dengan faktor genetik (keturunan dan ras). Insidensi karsinoma
nasofaring ini tinggi pada orang-orang di China Selatan, baik yang tinggal di
negaranya sendiri ataupun yang telah bermigrasi ke berbagai negara lain. Hal ini
juga dijumpai pada campuran keturunan China. Insidensi yang tinggi ini diduga
bahwa ada faktor genetik yang berperan, di mana pada penderita ini dijumpai
adanya assosiasi NPC dengan Histocompability Locus Antigen (HLA) kelas I dan
II (Hildesheim et al, 2002). Jadi individu yang memiliki HLA jenis ini bila terinfeksi dengan virus epsteinbarr cendrung mengakibatkan terjadinya karsinoma
BAB III