• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE INFLUENCE OF SOME DECOMPOSERS IN THE ORGANIK FERTILIZER MANIFACTURES AND UTILIZATION OF THE COFFEE PLANT

113 Tabel 3. Persyaratan teknis minimal pupuk organik padat

THE INFLUENCE OF SOME DECOMPOSERS IN THE ORGANIK FERTILIZER MANIFACTURES AND UTILIZATION OF THE COFFEE PLANT

Putu Suratmini dan A.A.N.B. Sarmudadinata Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali

Jl.ByPass Ngurah Rai, Pesanggaran , Denpasar Email :[email protected]

ABSTRAK

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang diharapkan mampu meningkatkan nilai devisa ekspor Indonesia. Umumnya tanah-tanah di Indonesia berkadar bahan organik rendah bahkan di J a wa kandungannya kurang dari 1 %, sehingga pemupukan organik sangat diperlukan. Tujuan pengkajian adalah untuk mengetahui pengaruh dekomposer (MOL) dalam fermentasi pupuk organic dan pemanfaatan pupuk organik hasil fermentasinya pada pertanaman kopi. Pengkajian dilakukan di Desa Sanda,Tabanan tahun 2015. Pada pengkajian ini ada dua tahap kegiatan yaitu tahap I adalah proses pembuatan pupuk organik dari limbah ternak kambing dan Ada 4 perlakuan yang diberikan pada kotoran kambing yaitu :P1(tanpa fermentasi/kontrol), P2(fermentasi dengan MOL ganas (daun gamal + nasi basi), P3 (fermentasi dengan MOL buah busuk, P4 (fermentasi dengan Rumino bacillus (RB). Tahap II adalah pemberian pupuk hasil tahap I pada tanaman kopi sebanyak 40 pohon kopi yang telah berumur diatas 5 tahun dibagi dalam 4 perlakuan dengan 10 ulangan dan diberikan sebanyak 10 kg/pohon/tahun. Perlakuan yang diberikan yaitu: 1) K1 : pupuk kompos tanpa fermentasi, 2) K2 : pupuk kompos MOL ganas, 3) pupuk kompos MOL buah busuk dan 4) pupuk kompos RB. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Parameter yang diamati meliputi: (1) kadar NPK dari kompos, 2) produksi kopi gelondongan basah, kering matahari dan kering oven/pohon dan 3) produksi biji basah, biji kering matahari dan kering oven per pohon. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa Kompos hasil fermentasi dengan MOL ganas (P2) memberikan kandungan unsur hara makro (NPK) lebih tinggi dibandingkan desngan kontrol (P1) maupun dengan perlakuan P3 dan P4. Perlakuan K2 (pupuk kompos MOL ganas) memberikan berat kopi gelondongan basah 4,88%, berat biji basah 12.6%, dan berat biji kering oven 6.35% lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol (K1 = pupuk yang tidak difermentasi).

Kata kunci : dekomposer, pupuk organik, tanaman kopi

ABSTRACT

Coffee is one of the commodities that are expected to increase the foreign exchange value of Indonesian exports. Generally land in Indonesia has low levels of organic matter and in Java even less than 1%. So organic fertilizer is needed. The purpose of the assessment is to determine the role of decomposers (local microorganism) in the fermentation of goat manure (feces) and the utilization of result fermentation in coffee plant. The assessment was done at Sanda village, Tabanan 2015. In this assessment, there are two phases, namely Phase I activities is the process of making organic fertilizer from goat manure (feces) with some decomposer. There were four treatments were: 1) goat manure without fermentation, 2) goat manure fermented with MOL ganas (Gliricidia leaves + rotten rice), 3) goat manure fermented with MOL rotten fruit, 4) goat manure fermented with Rumino bacillus(RB). Phase II is the provision of fertilizer results of Phase I of the coffee plant as many as 40 coffee trees that have been over the age of 5 years were divided into 4 treatments with 10 replications and given as much as 10 kg / tree / year. The treatments were: 1) K1: compost without fermentation, 2) K2: compost with MOL ganas, 3) K3: compost with MOL rotten fruit and 4) K4: compost with Ruminobaciilus. The design used was a randomized block design (RBD). The parameters observed were: (1)the content NPK nutrient of compost, 2) the coffee production of wet logs, sun-dry and oven-dry/ tree and (2) the production of wet seed, sun dry and dry oven seed. The result showed that the content of NPK nutrients in organic fertilizer fermented with MOL ganas (P2) look higher compared to the control (P1) and the other treatment P3 and P4. Treatment K2 (fertilizer with MOL ganas) provide weight of wet logs cofee 4.88%, weight of wet seed 12.6% and weight of dry oven seed 6.35% higher compared to the control treatment (K1= fertilizer without fermentation).

147

PENDAHULUAN

Hingga saat ini, kopi masih menjadi komoditas andalan ekspor hasil pertanian Indonesia selain kelapa sawit, karet, dan kakao. Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang diharapkan mampu meningkatkan nilai devisa ekspor Indonesia (Mayrowani, 2013). Indonesia merupakan produsen utama kopi dunia dan menempati urutan ketiga penghasil kopi setelah Brazil dan Vietnam, dengan volume ekspor mencapai 10.620.000 kantung ( satu kantung berisi 60 kg) di tahun 2012. Brazil, Vietnam dan Indonesia adalah produsen utama kopi robusta di dunia. Luas perkebunan kopi di Indonesia adalah 1.240.000 ha yang terdiri dari 933.000 ha kopi robusta dan 307.000 ha kopi arabika (Wahyuni dan Kariada. 2015). Saat ini produksi kopi Indonesia telah mencapai 600 ribu ton pertahun dan lebih dari 80% berasal dari perkebunan rakyat. Luas perkebunan kopi di Indonesia yang dikelola oleh perusahaan besar hanya sekitar 47.000 ha, sedangkan luas perkebunan kopi rakyat mencapai 1,2 juta ha (BPS, 2014). Area kopi rakyat ini sebagian besar berada di lahan kering masam dengan produktivitas rendah.

Hasil penelitian Prayuginingsih et al.(2010) mendapatkan bahwa mutu dan produktivitas kopi rakyat umumnya rendah. Beberapa faktor penyebabnya antara lain: a) teknologi budidaya dan pengolahan pasca panen belum sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia; b) penurunan kesuburan dan kualitas tanah; c) lemahnya pengawasan kualitas di setiap tahap produksi sejak tanam, pengolahan hingga tata niaga kopi. Hal ini berakibat pada rendahnya pendapatan petani. Hasil pengamatan Kasno (2003) terhadap tanah pertanian baik lahan sawah maupun lahan kering diperoleh bahwa umumnya tanah-tanah di Indonesia berkadar bahan organik rendah bahkan di Jawa kandungannya < 1 % (Suriadikarta dan Simanungkalit, 2006). Untuk meningkatkan kadar bahan organic tanah satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah dengan pemupukan organik (pupuk kandang atau kompos). Bahan organik tanah menentukan sifat biologi, kimia dan fisika tanah yang pada akhirnya sangat menentukan daya dukung tanah terhadap tanaman (Mulyanto, 2004). Kurniaty et al. (2010) menyatakan penambahan bahan organik akan memberikan kondisi yang dapat membantu pergerakan air dan udara dalam media menjadi lebih baik. Kondisi ini juga akan mempengaruhi penyerapan unsur hara oleh tanaman.

Dewasa ini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan produk pangan berkualitas dan semangat kembali ke alam maka permintaan produk pertanian organik semakin meningkat. Kopi sebagai salah satu aset produk Indonesia yang terkenal di dunia, sekarang ini banyak diusahakan atau diproduksi secara organik dan dikenal dengan kopi organik. (Winarni et al., 2013). Hal ini merupakan peluang yang sangat besar bagi petani kopi untuk memanfaatkan limbah ternak peliharaanya sebagai pupuk tanaman kopi. Petani di Desa Sanda Tabanan (lokasi pengkajian) umumnya selain menanam kopi juga memelihara ternak kambing, sehingga kotoran/feses kambing cukup berpotensi sebagai pupuk tanaman kopi. Petani memelihara kambing baik untuk dijual maupun untuk produksi susu dan limbah ternak yang dihasilkan dipakai untuk memupuk tanaman kopinya. Pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik, baik limbah padat maupun cair merupakan salah satu pengelolaan sumberdaya terbarukan (renewable resources), yang dapat meningkatkan kesuburan tanah baik secara fisik, kimia maupun biologis. Penambahan bahan organik kedalam tanah pada siklus usahatani selain berdampak positif terhadap kesububuran lahan juga berdampak terhadap efisiensi terhadap penggunaan input luar. Primavesi (1999) menambahkan bahwa dengan penambahan bahan organik, pertumbuhan serta distribusi akar menjadi lebih baik dan memberikan efek penyangga (buffering) terhadap kesuburan tanah, karena itu unsur-unsur hara yang terikat dalam tanah (khususnya P) akan menjadi lebih tersediabagi akar. Upaya ini sekaligus untuk menghemat penggunaan pupuk anorganik karena selain harganya cenderung mahal, penggunaan pupuk yang berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Pupuk organik mengandung unsur-unsur hara baik makro maupun mikro yang dibutuhkan oleh tumbuhan supaya dapat tumbuh dengan subur. Pupuk organik merupakan dekomposisi bahan-bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroba. Agar kotoran ternak lebih cepat bisa dimanfaatkan untuk pupuk atau kotoran ternak lebih cepat mengalami dekomposisi/perombakan, maka kotoran ternak perlu diproses terlebih dahulu melalui fermentasi dengan decomposer (mikroba deckomposer).

Berdasarkan hal tersebut pengkajian pembuatan pupuk organik dengan menggunakan mikroba decomposer dan pemanfaatannya pada tanaman kopi ini dilakukan. Tujuan pengkajian adalah untuk mengetahui pengaruh Mikro Organisme Lokal (MOL) dalam fermentasi kotoran kambing dan pemanfaatan hasil fermentasinya pada pertanaman kopi.

148

METODOLOGI

Pengkajian dilakukan di Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan tahun 2015. Lokasi ini termasuk dalam agroekosistem lahan kering, dataran tinggi beriklim basah. Pada pengkajian ini ada dua tahap kegiatan yang dilakukan yaitu:

Tahap I adalah proses pembuatan pupuk organik dari limbah padat (kotoran/feces) ternak kambing dengan beberapa decomposer. Tahap II adalah pemberian pupuk hasil tahap I pada tanaman kopi.

Kegiatan tahap I meliputi: pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan Mikro Organisme Lokal (MOL) pada kotoran (feses) kambing yang dilakukan melalui proses fermentasi secara an aerob selama 14 hari. Ada 4 perlakuan yang diberikan pada pembuatan pupuk organik dari kotoran kambing yaitu :

P1 : pembuatan pupuk organik dari kotoran kambing tanpa proses fermentasi. Kotoran kambing/feses kambing dibiarkan ditumpuk selama 3 bulan tanpa perlakuan apa-apa

P2 : pembuatan pupuk organik dari kotoran kambing dengan pemberian MOL ganas (daun gamal + nasi basi) atau kombinasi gamal dengan nasi basi. Adapun Bahan yang diperlukan didalam pembuatan MOL ganas ini meliputi : (1) 2 kg daun gamal, (2) 100 gram nasi basi, (3) 200 gram gula merah dan (4) 2 liter air beras. Bahan-bahan tersebut dicampur menjadi satu di dalam jirigen, kemudian didiamkan selama 14 hari. Setelah 14 hari bahan kemudian disaring dan disimpan. Untuk menjaga MOL agar tetap hidup perlu ditambahkan gula merah dan air beras setiap 1 minggu sekali. MOL yang telah jadi kemudian digunakan untuk menfermentasi bahan kotoran ternak selama 14 hari dengan cara ditutup dengan terpal atau plastik gelap.

P3: pembuatan pupuk organik dari kotoran kambing dengan pemberian MOL buah. Pembuatan MOL buah dibuat dari berbagai macam buah busuk (pepaya, pisang) sebanyak 2 kg ditambah 200 gram gula merah dan 2 liter air kelapa. Buah-buahan busuk di potong kecil kecil kemudian dicampur dengan bahan yang lain dan dimasukkan ke dalam jirigen. Dibiarkan selama 14 hari kemudian baru disaring dan dikemas. Untuk menjaga MOL agar tetap hidup setiap 1 minggu sekali ditambahkan gula merah dan air kelapa. MOL yang telah jadi kemudian digunakan untuk memfermentasi bahan kotoran ternak selama 14 hari dengan cara ditutup dengan terpal atau plastik gelap.

P4: Pembuatan pupuk organik dari kotoran kambing dengan pemberian Rumino bacillus (RB).

Sebelum digunakan dalam proses fermentasi, dekomposer RB perlu diaktivasi terlebih dahulu dalam media air. Sebanyak 10 liter air bersih ditambahkan gula pasir dan pupuk urea sebanyak 0,5% kemudian diaduk hingga terlarut. Ke dalam larutan dimasukkan sebanyak 0,5% dekomposer RB kemudian didiamkan selama 30 menit. Larutan RB semprotkan secara merata pada feses kemudian difermentasi dengan menutup dengan terpal atau plastik selama 14 hari.

Sesudah 14 hari semua kotoran yang sudah difermentasi dibuka dan siap digunakan

Hasil kegiatan tahap I ini dan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap produktivitas tanaman, pupuk diaplikasikan pada tanaman kopi. Sebanyak 40 pohon kopi yang telah berumur diatas 5 tahun dibagi dalam 4 perlakuan atau masing perlakuan terdapat 10 tanaman sebagai ulangan :

K1 : Pohon kopi mendapat pupuk kompos tanpa fermentasi 10 kg/pohon/tahun K2 : Pohon kopi mendapat pupuk kompos MOL ganas 10 kg/pohon/tahun K3 : Pohon kopi mendapat pupuk kompos MOL buah busuk 10 kg/pohon/tahun K4 : Pohon kopi mendapat pupuk kompos RB 10 kg/pohon/tahun

Pemberian pupuk dilaksanakan dengan sistem lorak sekeliling tajuk tanaman dengan membuat lobang sedalam + 20 cm, kemudian pupuk dimasukkan ke dalam lubang dan sesudahnya lubang ditutup kembali dengan tanah. Waktu pemberian pupuk adalah menjelang akhir musim hujan yaitu bulan Pebruari-Maret 2015 dan panen dilakukan pada bulan Oktober-November 2015.

Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 10 ulangan. Pemberian pupuk 10 kg/pohon/tahun berdasarkan hasil pengkajian Guntoro (2012) yang mengatakan bahwa pupuk organik padat yang dibutuhkan tanaman kopi adalah 10 kg/pohon/tahun dan diberikan dua kali yaitu pada awal dan akhir musim penghujan. Parameter yang diamati meliputi : (1) produksi kopi gelondongan basah, kering matahari dan kering oven per pohon dan (2) produksi biji basah, biji kering matahari dan kering oven per pohon. Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian ini dianalisis dengan analisa sidik ragam (análisis varian), apabila pengujian sidik ragam menunjukkan pengaruh perbedaan yang nyata, maka pengujian dilanjutkan dengan uji jarak berganda dari Duncan.

149

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pupuk organik yang dihasilkan dari kegiatan tahap I yaitu fermentasi dengan berbagai dekomposer, kemudian digunakan untuk kegiatan tahap II yaitu :sebagai pupuk tanaman kopi sesuai dengan perlakuan. Untuk mengetahui kandungan unsur hara terutama unsur makro yang dikandung oleh masing-masing pupuk setelah fermentasi dilakukan pengambilan sampel sebanyak 200 gram pada masing-masing kompos untuk dianalisis di laboratorium.

Tabel 1. Kandungan unsur hara kotoran/feses kambing yang difermentasi dengan berbagai jenis dekomposer Peubah1) Perlakuan P1 P2 P3 P4 Bahan kering (%) 92,67 93,34 93,95 92,43 pH 8,1 7,8 7,9 4,5 KTK (cmol(+)/kg) 35,85 49,83 50,76 57,21 N total (%) 1,93 2,07 1,80 1,91 P2O5 (%) 1,10 1,34 1,13 0,99 K2O (%) 3,51 4,39 3,23 2,39 C Organik (%) 45,35 41,63 36,98 41,48 C/N ratio 23 20 21 22

Sumber : data primer (2015) Keterangan :

1)

hasil analisis laboratorium Balittanah Bogor

P1 : Feses kambing tanpa fermentasi (didiamkan selama 3 bulan) P2 : Feses kambing yang difermentasi MOL ganas (2 minggu) P3 : Feses kambing yang difermentasi MOL buah busuk (2 minggu) P4 : Feses kambing yang difermentasi MOL Rumino bacillus (2 minggu)

Dari hasil analisis terlihat bahwa fermentasi menggunakan dekomposer Rumino bacillus (P4) menghasilkan pupuk organik dengan pH asam (4,5), sedangkan dengan MOL ganas (P2) ataupun MOL buah (P3) menghasilkan pH agak basa/basa dan hampir sama dengan pH pupuk organik tanpa fermentasi (P1) (tabel 1). C/N ratio dari pupuk organik yang difermentasi dengan beberapa dekomposer dan pupuk organik yang tidak difermentasi berkisar dari 20-23. Jadi C/N ratio dari pupuk organik yang difermentasi dan yang tidak difermentasi tidak jauh berbeda.

Kandungan unsur hara NPK pada pupuk organik yang difermentasi dengan MOL ganas terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yan lain. kandungan N dan P pada pupuk organik yang difermentasi dengan MOL ganas (P2) lebih tinggi 7,25% dan 21.82% dibandingkan dengan pupuk tanpa fermentasi (P1), sedangkan kandungan N dan P pupuk organik yang difermentasi dengan RB (P4) dan MOL buah (P3) lebih rendah dibandingkan dengan pupuk tanpa fermentas (P1). Kandungan K pada pupuk organik yang difermentasi dengan MOL ganas (P2) lebih tinggi 25,14%, sedangkan kandungan K pada pupuk organik yang difermentasi dengan RB (P4) dan MOL buah (P3) lebih rendah dibandingkan dengan pupuk organik tanpa fermentasi (P1). Kandungan unsur hara NPK pupuk organik tanpa fermentasi (K1) tidak berbeda jauh dengan kandungan NPK pupuk yang difermentasi (K2) maupun K3 dan K4 akan tetapi pupuk tanpa fermentasi memerlukan waktu sampai 3 bulan baru bisa digunakan, sedangkan dengan fermentasi pupuk sudah siap digunakan kurun wkatu 2- 3 minggu.

Pemberian pupuk organik hasil kegiatan tahap I pada tanaman kopi menunjukkan bahwa tanaman kopi yang mendapat perlakuan K2 (kompos dengan MOL ganas) memiliki produksi kopi gelondongan basah tertinggi yakni sebesar 9840 gram/pohon atau 4,88% nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan K1(tabel 2). Sedangkan produksi kopi gelondongan basah antara perlakuan K3 dan K4 tidak berbeda nyata dengan perlakuan K1 (kontrol). Pada proses pengeringan melalui penjemuran dengan sinar matahari diperoleh produksi kopi gelondongan kering matahari juga paling tinggi pada perlakuan K2 dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Jika dirata-ratakan jumlah total kadar air kopi gelondongan pada semua perlakuan adalah sebesar 61,13%.

150

Tabel 2. Produktivitas tanaman kopi pada perlakuan pemupukan organik

Peubah1) Perlakuan

K1 K2 K3 K4

(kontrol) (MOL

ganas) (MOL buah) (RB)

Gelondongan basah 9381,8b 9840a 9433,4b 9516ab

Gelondongan kering matahari 4137,72b 4207,74a 4117,68 b 3930,11c

Gelondongan kering oven 700C 3642,59a 3675,24a 3679,03a 3454,31a

Biji Basah 4909,50c 5528,11a 4988,38c 5346,09b

Biji Kering matahari 2442,9a 2534.32a 2510,57a 2259,81a

Biji Kering oven 700C 2114,68b 2249,42a 2156,48ab 2175,36ab

Sumber: Data primer (2015)

Identik dengan produksi kopi gelondongan basah, produksi biji basah pada perlakuan K2 juga paling tinggi, yakni sebesar 5528,11 gram/pohon. Produksi K2 ini lebih tinggi 12,60% dibandingkan dengan perlakuan K1, lebih tinggi 10.82% dibandingkan dengan K3 dan lebih tinggi 3,41% dibandingkan dengan K4 dan berbeda nyata (P>0,05). Produksi biji kopi kering matahari paling tinggi pada perlakuan K2 akan tetapi hasil ini tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan yang lain. Berat kering oven biji kopi tertinggi juga terlihat pada perlakuan K2 yakni sebesar 2249,42 gram/pohon atau 6.35% nyata lebih tinggi (P>0,05) dibandingkan dengan perlakuan K1 (kontrol). Sedangkan berat kering oven biji kopi pada perlakuan K2 dan K4 menunjukkan perbedaan yang tidak nyata baik dengan perlakuan K3 maupun dengan kontrol (K1).

Pemberian pupuk organik yang difermentasi dengan MOL ganas(K2) memberikan berat kopi gelondongan basah, berat biji basah dan berat biji kering oven yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan K1(kontrol) (pupuk organik kotoran kambing tanpa fermentasi). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh karena kandungan bahan dasar dari fermentor yang dipakai adalah tanaman jenis leguminosa (daun gamal) dimana kandungan proteinnya cukup tinggi sebagai sumber nitrogen mikroba. Begitu juga dengan penggunaan nasi busuk yang merupakan sumber karbohirat bagi mikroba sehingga proses dekomposisinya berjalan lebih baik. Dibandingkan dengan kontrol (K1), Berat kopi gelondongan basah, berat biji basah dan berat biji kering oven terlihat lebih tinggi pada K2 ( kompos dengan MOL ganas), hal ini disebabkan karena Kandungan unsur hara NPK pada kompos dengan Mol ganas (K2) lebih tinggi.

Ketiga unsur hara tersebut secara umum dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar. Pupuk N sangat penting untuk pertumbuhan vegetatif, pupuk P berperanan penting dalam pertumbuhan generatif dan pupuk K berperanan dalam menguatkan batang dan perakaran tanaman. Peranan unsur hara nitrogen, posfor dan kalium pada tanaman sangatlah penting karena dapat memacu pertumbuhan tanaman baik vegetatif maupun generatif. Nitrogen diperlukan untuk merangsang pertumbuhan vegetatif, meningkatkan kandungan klorofil daun memperbesar ukuran daun. Sedangkan unsur Posfor dan Kalium selain membantu pertumbuhan vegetatif juga membantu di dalam proses pembentukan dan pengisian biji. Setyorini et al. (2006) menyatakan pemberian pupuk organik memberikan pengaruh positif bagi perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga lebih ramah lingkungan, akan tetapi pemupukan organik bersifat slow release sehingga tersedia lebih lambat bagi tanaman dibandingkan pemupukan kimia. Hartatik dan Widowati (2006) menyatakan pemupukan organik berdampak positif terhadap peningkatan total mikroba, pelarut posfor, selulotik, rhizobia dan mikrobia lainnya. Selain itu pula dinyatakan proses biologi merupakan proses awal yang terjadi sebelum terjadinya proses fisik dan kimia pada lahan. Sejalan dengan itu hasil penelitian Rubiyo et al. (2006) mendapatkan bahwa pemberian kompos yang difermentasi dengan Rumino bacillus (RB) sebanyak 10 kg per pohon pada kopi robusta di Kabupaten Buleleng Bali, mampu meningkatkan produksi kopi sebanyak 63% dibandingkan dengan tanpa pemupukan.

Pupuk organic yang difermentasi dengan MOL ganas termasuk pupuk dengan Bahan bahan organik yang memiliki kandungan N (Nitrogen) tinggi dan C (Karbon) tinggi. Dimana N diperoleh dari tanaman gamal dan C diperoleh dari nasi busuk (karbohidrat tinggi). Menurut Firmansyah (2010), bahan organik yang digunakan untuk pupuk organik terbagi menjadi dua yaitu : 1) bahan organik yang memiliki kandungan N (Nitrogen) tinggi dan C (Karbon) tinggi, contohnya pupuk kandang, daun legume (gamal, lamtoro, kacang-kacangan) atau limbah rumah tangga, 2) bahan organik yang memiliki kandungan N (Nitrogen) rendah dan C (Karbon) tinggi, contohnya dedaunan yang gugur, jerami, serbuk gergaji. Pupuk organic hasil fermentasi dengan MOL ganas mempunyai pH 7.8 (agak basa). Menurut Hanafiah (2005) dengan pH netral sampai agak basa (pH 7-8) akan memberikan

151

dampak yang lebih baik pada tanah karena penyerapan unsur hara menjadi optimal. Pada pH dibawah 6,5 dapat terjadi defisiensi Ca, P dan Mg serta toksisitas B, Mn, Cu, Zn dan Fe. Sedangkan pada pH diatas 7.5 dapat terjadi defisiensi P,B, Fe, Mn, Cu, Zn, Ca, Mg juga toksisitas B dan MO.

KESIMPULAN

1. Kompos hasil fermentasi dengan MOL ganas (K2) memberikan kandungan unsur hara makro (NPK) lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (kompos tanpa fermentasi) maupun dengan perlakuan kompos hasil fermentasi dengan MOL buah dan kompos dengan RB (Rumino bacillus) 2. Kompos hasil fermentasi dengan MOL ganas (K2) memberikan berat kopi gelondongan basah ,

berat biji basah dan berat biji kering oven lebih tinggi 4.88%, 12.6% dan 6.35% dibandingkan dengan perlakuan kontrol (kompos tanpa fermentasi)

.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2014. St atistik Indonesia. B adan Pusat Statistik, Jakarta.

Guntoro, S. 2012. Meramu pakan ternak dari limbah perkebunan. Agromedia Pustaka. Jakarta. Hanafiah, K.A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Hartatik, W., dan L.R. Widowati. 2006. Pupuk Kandang. Dalam: Simanungkalit, R.D.M., Suriadikarta, D.A., Saraswati, R., Setyorini, D., Hartatik, W, editor. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Bogor: 2006. Balai Penelitian Sumberdaya Lahan Pertanian. Hal. 59-82. Kasno, A., D. Setyorini, dan Nurjaya. 2003. Status C-organik lahan sawah di Indonesia. Buku

II. Agustian et al., (Eds.) Prosiding Kongres Nasional VIII HITI. Kearifan Pendayagunaan Sumberdaya Tanah sebagai Aset Utama Peningkatan Kemampuan Pembangunan Daerah. Padang, 21-23 Juli 2003, pp. 480-495.

Kurniaty, R., B. Budiman dan M. Suartana. 2010. Pengaruh Media dan Naungan Terhadap Mutu Bibit Suren (Toona sureni MERR.). Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 7 (2): 77 – 83.

Mayrowani, H. 2013. Kebijakan penyediaan teknologi pasca panen kopi dan masalah pengembangannya. Forum Peneltian Agro Ekonomi 31(1): 31-49.

Mulyanto, B. 2004. Pengelolaan bahan organik tanah untuk mendukung kelestarian pertanian di lahan basah. Prosiding Simposium Nasional Pertanian Organik Keterpaduan Teknik Pertanian Tradisional dan Inovatif. Fakultas Pertanian IPB dan Asia Network of Organik Recycling, Bogor 30 November 2004

Primavesi, A.M. 1999. More rice with good soil fertility management . Leisa15 (3 dan 4):50

R u b i y o , S u h a r y a n t o d a n S . G u n t o r o . 2 0 0 6 . P e n g k a j i a n s y s t e m u s a h a t a n i k o p i r o b u s t a , i n t e g r a s i d e n g a n t e r n a k k a m b i n g d i B a l i . M a k a l a h s y m p o s i u m k o p i . 2 0 0 6 . S u r a b a y a , 2 - 3 A g u s t u s 2 0 0 6 . P u s a t P e n e l i t i a n k o p i d a n K a k a o I n d o n e s i a

Setyorini, D., Saraswati, R. Dan E.K. Anwar. 2006. Kompos. Dalam: Simanungkalit, R.D.M., Suriadikarta, D.A., Saraswati, R., Setyorini, D., Hartatik, W, editor. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Bogor: Balai Penelitian Sumberdaya Lahan Pertanian. Hal. 11-40.

Suriadikarta, D.A., dan R.D.M. Simanungkalit. 2006. Pendahuluan. Dalam: Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Simanungkalit et al. (Eds.). Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, pp. 1-10.

Wahyuni, M.A. dan K. Kariada. 2015. Analisa penetapan harga pokok pemasaran kopi arabika kawasan MPIG kintamani kabupaten bangle. Bunga Rampai model Pengembangan Pertanian Perdesaan berbasis Inovasi. Balai pengkajian Teknologi Pertanian Bali, Badan penelitian dan Penngembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. hal 131-138. Winarni,E., Rita Dwi Ratnani, Indah Riwayati. 2013. Pengaruh jenis pupuk organic terhadap

152